Kembali
16
1
2022 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 18 · 1 ISSN 2477-0361

Dampak kualitas ruang pada personal space pengguna di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Universitas Airlangga; Universitas Airlangga

Abstrak

Pendahuluan. Dalam menilai kualitas ruang tidak cukup hanya dengan melihat, namun juga harus merasakannya. Sama halnya dengan personal space. Personal space merupakan batas ruang yang mengelilingi manusia dan tidak terlihat karena sifatnya melindungi dari penginvasian personal space oleh orang lain. Penelitian ini membahas apakah kualitas ruang dapat memberikan dampak pada personal space pengguna. Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 pengguna di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur dengan kriteria tertentu. Data Analisis. Data primer dikonversi menjadi data interval melalui metode transformasi MSI kemudian diuji menggunakan uji validitas, reliabilitas, regresi linier sederhana dan uji-t. Hasil dan Pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas ruang secara simultan atau secara bersama sama dapat memberikan dampak pada personal space pengguna, namun kekuatan dampak kualitas ruang terhadap personal space bersifat lemah. Kesimpulan dan Saran. Kualitas ruang yang tidak ideal dapat membuat personal space pengguna perpustakaan terganggu. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk merancang ruang perpustakaan sesuai kebutuhan penggunanya.

Abstract

Introduction. Examining the value of quality space is not simple, as we not only need to see the design, but also need to feel it, particularly personal space in libraries. This article aims to examine the quality of space that may affect the user's personal space. Methodology. This study used a quantitavie approach, purposive sampling technique, with a total sample of 100 users at the Office of Library and Archive East Java with certain criteria. Data Analysis. The primary data was converted to interval data by using MSI transformation method and tested by using validity, reliability, simple linear regression and t-test. Results and Discussion. The results show that the quality of space simultaneously have an impact on the users' personal space, however, the strength of the impact of space quality on personal space is weak. Conculsion. Quality of space that is not ideal may disturb the personal space of library users. This research may become a reference in designing library space based on user needs.
Keywords: quality of space · interactive · personal space · situational factor · library

Introduction

A. PENDAHULUAN Perpustakaan umum merupakan tempat pusat informasi yang dapat digunakan oleh semua lapisan masyarakat. Menurut UndangUndang RI Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosialekonomi. Sebagai pengguna perpustakaan, belajar dan mencari informasi dengan nyaman dan aman adalah tujuan utama. Tujuan utama ini akan bergeser ketika dihadapkan dengan situasi yang membutuhkan personal space, seperti jarak antar pengguna atau dengan furnitur perpustakaan. Peletakkan tempat duduk sangat berpengaruh dalam pemilihan tempat duduk. Menurut Sari & Pramitasari (2019) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa pengguna perpustakaan memiliki pola dalam pemilihan tempat duduk, seperti pada pengguna individu akan memilih tempat duduk yang berada di sudut meja tepat disamping jendela. Posisi ini menguntungkan pengguna karena lebih privat dan dapat melihat sekelilingnya sehingga keadaan personal space terlindungi. Sedangkan untuk pengguna kelompok, mereka cenderung memilih tempat duduk berkelompok agar tetap dekat dengan teman-temannya. Posisi ini menguntungkan personal space pengguna kelompok karena merasa aman berada di dekat orang yang dikenal. Hal tersebut menunjukkan bahwa personal space pengguna perpustakaan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan karena pola tempat duduk yang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna dapat memberi dampak kepada personal space pengguna. Personal space merupakan salah satu kebutuhan ruang yang dimiliki oleh setiap individu. Kebutuhan ini bersifat psikososial yang artinya telah dirancang melalui sebuah analisa perilaku yang dilihat melalui segi psikologis dan sosial manusia. Tidak semua individu menyadari ukuran personal space. Ketidaksadaran akan adanya personal space dapat mengakibatkan berbagai dampak pada diri individu, salah satunya adalah emosi yang tidak stabil (Aziraj & Ćeranić, 2013). Ketidaksadaran tersebut dapat dirasakan oleh pemilik personal space karena kurangnya kemampuan untuk menetapkan batasan personal saat berinteraksi atau berkegiatan sehingga dapat menimbulkan terjadinya invasi personal space. Invasi personal space ini tidak hanya dapat dilakukan antar individu melainkan juga dapat dilakukan oleh lingkungan. Ruang sebagai salah satu bentuk lingkungan untuk manusia beraktivitas sangatlah perlu diperhatikan kualitasnya karena manusia saling berinteraksi dan mempengaruhi dengan waktu maupun ruang (Hantono & Pramitasari, 2018). Kualitas ruang yang tidak memenuhi kebutuhan penggunanya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan aman bagi pengguna, terlebih dalam ruang perpustakaan. Perencanaan kualitas ruang perpustakaan perlu dilakukan secara hati-hati serta mempertimbangkan aspek fungsional dan aspek psikologi penggunanya (Suwarno, 2011). Aspek fungsional yang berarti bahwa penataan ruangan mampu mendukung kegiatan perpustakaan, baik kegiatan pustakawan maupun pengguna. Namun dalam menentukan kualitas ruang tidak hanya dapat ditentukan melalui aspek fungsional saja, tetapi juga dapat ditentukan secara spesifik, seperti kriteria kualitas (criteria of quality) yang telah dikembangkan oleh Mcdonald (2006) yaitu functional, adaptable, accessible, varied, interactive, conductive, environmentally suitable, safe and secure, efficient dan suitable for information technology. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hidayatullah & Haripradianto (2018) dan Wicaksana & Handajani (2018) pada ruang perpustakaan universitas, yang menyatakan bahwa selain aspek psikologis terdapat aspek lain yang dapat memberi dampak pada personal space individu yaitu tatanan furnitur seperti kursi atau ukuran meja. Jarak antar kursi pada meja baca yang tidak sesuai dapat memberi dampak pada pembentukkan personal space pengguna. Berdasarkan pemaparan di atas, kualitas ruang dan personal space merupakan dua hal penting yang perlu diperhatikan ketika merancang bangunan perpustakaan. Kualitas ruang yang tidak sesuai dengan pengguna dapat memberikan dampak pada personal space pengguna yang ukurannya berbeda-beda. Penelitian tentang dampak kualitas ruang pada personal space sebelumnya pernah dilakukan oleh Agriza (2012) dan Hanom et al. (2019). Hasil dari kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas ruang dapat memberikan dampak pada personal space pengguna, namun terdapat perbedaan hasil antara kedua penelitian tersebut. Menurut Agriza (2012), ukuran personal space pengguna berbeda-beda karena dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dan kualitas ruang. Kedua faktor tersebut mengakibatkan suatu jarak tertentu antar pengguna, sehingga dalam keadaan tertentu faktor tersebut dapat mengkondisikan personal space pengguna untuk mengecil atau membesar. Sedangkan menurut Hanom et al. (2019), ukuran personal space pengguna berbeda-beda karena dipengaruhi oleh kualitas ruang dan keramaian (crowding). Setiap individu memiliki personal space yang berbeda-beda, sehingga hal tersebut menimbulkan minat untuk mengkaji lebih dalam bagaimana pengaruh kualitas ruang terhadap personal space pengguna. Kedua penelitian tersebut menggunakan lokasi stasiun, halte dan koridor fakultas sebagai lokasi penelitian yang mana menurut Hantono & Pramitasari (2018) ketiga tempat tersebut termasuk ke dalam spektrum daerah semi publik perkotaan, yang diawasi oleh pemerintah atau institusi dengan akses masuk sesuai kebutuhan penggunanya, sehingga penelitian ini menggunakan perpustakaan yang mana termasuk juga kedalam spektrum yang sama. Perpustakaan yang dijadikan lokasi adalah perpustakaan umum daerah yang menjadi pedoman bagi seluruh perpustakaan kota/kabupaten yang ada di provinsi tersebut yaitu Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Timur. Perpustakaan daerah memiliki peran yang penting, yaitu sebagai penanggung jawab atas pengembangan perpustakaan umum di seluruh provinsi sekaligus sebagai pedoman bagi perpustakaan kota/kabupaten di provinsi tersebut. Menurut Putri (2015) Dinas Perpustakaan Provinsi Jawa Timur telah melakukan beberapa kali tindakan redesain, namun masih terdapat kekurangan seperti pada aspek interiornya. Hal tersebut diperkuat dengan hasil observasi di mana terdapat ketidakseimbangan antara tersedianya tempat duduk untuk pengguna individu dan pengguna kelompok dan jarak antar tempat duduk yang mana dapat memengaruhi personal space. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dalam pengembangan kualitas ruang dengan lebih memperhatikan personal space pengguna B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Kualitas Ruang Kualitas ruang merupakan penilaian baik atau buruknya sebuah ruang atau bangunan. Mcdonald (2006) menilai kualitas ruang pada perpustakaan berdasarkan sepuluh faktor yang disebut sebagai criteria of quality. Kriteria ini dikembangkan melalui tinjauan teori dan praktik perencanaan dan desain ruang perpustakaan. Berikut sepuluh kriteria kualitas tersebut, yaitu; [1] functional atau fungsional, adalah ruang yang dapat berfungsi dengan baik, mudah dialih fungsikan serta ekonomis untuk dioperasikan. Ruang yang fungsional juga harus dapat merespon perubahan kebutuhan penggunanya di masa depan serta dapat mendukung kinerja perpustakaan secara keseluruhan dalam memberikan layanan secara maksimal. Oleh karena itu, perancangannya membutuhkan pertimbangan dari berbagai aspek, seperti aspek pengguna, teknologi serta koleksi perpustakaan. Hal penting dalam merencanakan ruang perpustakaan adalah pengguna, karena dapat berinteraksi dengan koleksi, teknologi informasi dan layanan perpustakaan; [2] adaptable atau mudah beradaptasi, adalah ruangan yang fleksibel dan mudah dialihfungsikan. Menciptakan ruang yang memiliki fleksibilitas jangka panjang dapat lebih ekonomis dalam hal pendanaan. Oleh karena itu, penting untuk membangun ruang perpustakaan yang memiliki fleksibilitas tinggi karena dapat dengan mudah diubah menyesuaikan kebutuhan pengguna, seperti menata ulang furnitur, rak (shelving) dan peralatan (equipment). Perubahan di masa depan tidak dapat diprediksi dan dihindari, terutama perubahan teknologi informasi, struktur organisasi dan perilaku pengguna; [3] accessible atau dapat diakses, adalah ruang perpustakaan yang mudah diakses dan dapat mendorong serta mengundang orang untuk mengunjungi perpustakaan untuk memanfaatkan layanan yang telah disediakan. Akses yang mudah dan jelas membantu perpustakaan mudah ditemukan oleh pengguna, pengguna disabilitas maupun staf perpustakaan. Selain itu, akses yang mudah juga dibutuhkan untuk koleksi dan ruangan, agar pengguna dapat dengan mudah mencari informasi dan ruang secara mandiri, seperti adanya tanda (sign) yang dapat dilihat dan didengar, sistem keamanan (seperti kontrol akses, kartu masuk dan sistem lainnya), koleksi, furnitur dan peralatan lainnya; [4] varied atau bervariasi, adalah ruang perpustakaan yang bervariasi karena menyesuaikan lingkungan belajar dengan perilaku dan gaya belajar pengguna. Kemajuan teknologi informasi dapat mengubah preferensi pengguna. Sebagian pengguna menyukai lingkungan belajar sosial yang 'aktif' dan sebagian yang lain menyukai lingkungan belajar yang tenang dengan privasi akustik dan visual, seperti pembagian meja, rak buku, dan lain-lain. Ruang diskusi, ruang seminar, ruang baca hingga furnitur untuk pengguna individu/kelompok merupakan contoh dari variasi ruang perpustakaan; [5] interactive atau interaktif, adalah ruang yang terorganisir dengan baik agar dapat menghubungkan pengguna dengan layanan. Merancang ruang perpustakaan yang interaktif, diperlukan keseimbangan yang tepat antara ruang dengan pengguna, layanan, koleksi dan teknologi informasi; [6] conductive atau kondusif, adalah ruang yang dapat menciptakan suasana kondusif. Suasana yang kondusif dapat membantu pengguna untuk mendapatkan inspirasi dan motivasi dalam belajar. Faktor ini berkaitan dengan tata letak perabot dan pengaturan suara agar pengguna merasa nyaman dan tidak terganggu dengan suara-suara dari luar ruangan, karena meskipun banyak pengguna individu yang menyukai ruang belajar kelompok, tetapi ada beberapa pengguna yang menginginkan suasana yang kondusif dan tenang; [7] environmentally suitable atau sesuai lingkungan, adalah ruang yang suhu, kelembaban, dan tingkat polusi perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dari segi pengguna maupun teknologi informasi. Saat ini sirkulasi udara yang alami seperti jendela menjadi solusi yang terjangkau dan ramah lingkungan. Pencahayaan yang alami dari matahari atau buatan dari lampu, harus memadai baik untuk bahan pustaka, pengguna maupun teknologi informasi agar memiliki efek yang kuat dalam menciptakan ruang belajar yang nyaman dan bermanfaat. [8] safe and secure atau aman dan nyaman, adalah ruangan yang aman dan nyaman terkait dengan bangunan, penggunanya, koleksi, peralatan, dan data. Rasa aman dan nyaman tidak hanya dirasakan oleh pengguna namun juga staf perpustakaan, bahan pustaka, fasilitas, sarana dan prasarana. Pengguna membutuhkan tempat yang ramah, aman, nyaman yang dapat memenuhi kebutuhan mereka, karena mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan; [9] efficient atau efisien, adalah ruang perpustakaan yang pengelolaannya seefisien dan se-ekonomis mungkin dari segi manajemen dan ruang. Faktor ini dapat diterapkan dalam pemanfaatan tata ruang yang tepat agar dapat menciptakan efisiensi jarak dan waktu, menyeleksi koleksi yang jarang digunakan, penggunaan energi listrik dengan bijak, dan melakukan kerjasama dengan perpustakaan lain; [10] suitable for information technology atau sesuai untuk teknologi informasi, adalah ruang perpustakaan yang perencanaannya sesuai dengan kecanggihan teknologi informasi. Perlunya mempertimbangkan perubahan di masa depan, di mana pengguna telah terbiasa menggunakan teknologi digital, sehingga menyebabkan transisi dalam penggunaan ruang. Teknologi baru telah membangkitkan eksistensi perpustakaan, sehingga perpustakaan perlu melakukan perbaikan fasilitas yang ada dan melakukan pengembangan baru. Perencanaan yang efektif bergantung pada kebijaksanaan dan pengalaman dari para ahli bidangnya, seperti pustakawan, arsitek, ahli bidang TIK dan lainlain. 2. Personal Space Setiap makhluk hidup memiliki batasan ruang yang memisahkannya dari lingkungan luar. Batasan ruang tersebut tercipta karena adanya kebutuhan ruang yang dikendalikan oleh perasaan psikologis individu, salah satunya adalah personal space. Seringkali orang tidak menyadari personal space miliknya tersebut sebelum benar-benar membutuhkannya. Menurut Aziraj & Ćeranić (2013) penelitian mengenai personal space pertama kali diperkenalkan oleh Hediger di tahun 1950 yang saat itu melakukan studi eksperimental dengan mengamati perilaku hewan yang menghasilkan temuan bahwa hewan menunjukkan keteraturan dalam menjaga jarak dengan hewan lainnya. Jarak tersebut tergantung pada usia hewan, ukuran tubuh, jenis kelamin, dan sejumlah faktor lainnya. Kemudian di tahun 1959, Sommer melanjutkan penelitian dari Hediger dengan melakukan pengamatan tentang personal space terhadap manusia (individu). Personal space merupakan batas ruang yang semu dan mengelilingi individu karena bersifat melindungi individu dari rasa tidak nyaman Iskandar (2012). Personal space memiliki sifat yang dinamis atau berubah-ubah dapat membesar atau mengecil tergantung faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga setiap individu memiliki personal space yang berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut adalah: · faktor situasional adalah faktor situasi dan kondisi individu yang dapat memengaruhi ukuran personal space, seperti ketertarikan, kesamaan, dan jenis interaksi. Ketertarikan (attraction) biasanya menjadi salah satu penyebab dua orang atau lebih berinteraksi. Sebuah persepsi dapat menciptakan rasa ketertarikan seseorang dengan yang lain. Namun hubungan antara afeksi (perasaan) dan personal space lebih kompleks dan tergantung juga pada jenis kelamin individu yang berinteraksi. Jika individu semakin tertarik dengan orang atau lingkungan, personal space dapat mengecil yang semula membangun jarak sosial menjadi jarak personal, hingga menjadi jarak intim. Kesamaan (similarity) juga menjadi salah satu penyebab dua orang atau lebih berinteraksi. Interaksi akan lebih mudah jika individu memiliki kesamaan seperti dirinya, entah dalam hal hobi/kesukaan, pekerjaan dan sebagainya. Kesamaan yang dimiliki antar individu dapat memberikan rasa nyaman, karena salah satu fungsi personal space adalah protection, yang artinya melindungi dari ancaman atau gangguan. Faktor kesamaan dapat meminimalisir kecemasan karena invasi personal space. Jenis interaksi merupakan salah satu faktor individu berinteraksi. Jenis interaksi yang dimaksud adalah kualitas dari interaksi tersebut. Jenis interaksi yang menarik atau tidak menarik dapat memengaruhi personal space individu yang terlibat. Terdapat empat tipe jenis interaksi berdasarkan jarak, yaitu; [1] jarak intim, jaraknya berkisar dari 0 – 45 cm. Dalam jarak intim individu akan menerima sinyal sensorik tambahan seperti aroma atau suhu tubuh dari lawan interaksinya. Jarak ini biasanya digunakan untuk orang yang memiliki hubungan yang sangat dekat, seperti suami/istri, anak-orang tua, kekasih, selain itu orang asing yang diperbolehkan masuk biasanya adalah dokter-suster, atlet fisik, dan lain-lain. [2] jarak personal, jaraknya berkisar antara 45 – 120 cm. Dalam jarak personal, indera penciuman individu mulai memudar dan lebih memilih komunikasi verbal daripada sentuhan fisik. Jarak ini merupakan jarak yang umum untuk interaksi santai dengan teman dekat atau interaksi setiap hari dengan partner kerja. [3] jarak sosial, jaraknya berkisar 120 – 360 cm. Dalam jarak sosial juga menggunakan komunasi verbal. Jarak ini biasanya digunakan dalam interaksi formal, seperti dosen dan mahasiswa dan lain-lain. [4] jarak publik. Jaraknya berkisar lebih dari 360 cm. Dalam jarak publik, interaksi antar individu tidak melibatkan sinyal sensorik dan tidak ada visual yang spesifik karena jarak yang jauh. Jarak ini digunakan untuk komunikasi jarak jauh atau interaksi dengan orang banyak seperti penyanyi di panggung atau tokoh yang dihormati. · faktor perbedaan individual adalah yang berasal dari perbedaan karakteristik individu, meliputi kepribadian individu, jenis kelamin, usia, dan budaya/suku. Kepribadian individu, orang kepribadian ekstrovert akan berbeda dengan orang yang berkepribadian introvert dalam menggunakan personal space, karena orang yang memiliki kepribadian ekstrovert memiliki kecenderungan untuk lebih dekat dalam berinteraksi, sehingga terkesan mudah bergaul. Sementara itu, kepribadian introvert membutuhkan personal space yang lebih luas dalam berinteraksi. Jenis kelamin, menurut Sorokowska et al. (2017) terdapat perbedaan antara pria dan wanita ketika berinteraksi. Wanita ketika berinteraksi dengan sesamanya akan mengambil jarak yang lebih dekat. Sebaliknya, pria ketika berinteraksi dengan sesamanya akan mengambil jarak yang lebih jauh. Usia, orang dewasa cenderung membutuhkan personal space yang lebih besar daripada anak-anak. Hal tersebut dikarenakan perkembangan konsep diri belum berkembang dengan baik, namun seiring berjalannya waktu, konsep diri akan terus berkembang, dan individu akan mulai menyadari eksistensi dari personal space dan akan digunakan dengan siapakah dalam berinteraksi. Budaya, setiap masyarakat memiliki tata krama dalam berinteraksi, terlebih lagi di Indonesia yang memiliki berbagai suku dan budaya. Tata krama saat berinteraksi dengan individu yang berbeda usia dapat menentukan ukuran personal space dalam berinteraksi. · faktor fisikal ruang adalah faktor yang berasal dari keadaan fisik sebuah ruangan, seperti tinggi rendahnya ceiling (langitlangit) bangunan, luas-sempitnya bangunan, hingga posisi duduk dalam bangunan. Terdapat beberapa fitur arsitektur dapat memengaruhi ukuran personal space. Tinggi rendahnya langitlangit (ceiling) sebuah bangunan dapat mempengaruhi jarak individu dalam berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut terjadi karena arus udara yang ada di dalam ruangan. Bangunan yang rendah menimbulkan sirkulasi udara menjadi lebih terbatas, dan temperatur ruangan menjadi panas dibandingan bangunan yang tinggi. Sama halnya dengan luas sempitnya ruangan dapat memengaruhi personal space individu saat berinteraksi. Ruangan yang sempit membuat individu merasakan keterbatasan untuk menggunakan personal space sehingga ukuran personal space otomatis mengecil, sedangkan ruang yang luas membuat individu merasa leluasa untuk bergerak dan nyaman. Posisi duduk yang berada di tengah ruangan dapat menjadi pusat perhatian orang lain, sehingga personal space menjadi terbatas. Sementara itu, posisi duduk yang berada di pojok ruangan, personal space pengguna akan membesar karena merasa tidak berbagi ruang dengan orang lain.

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatif. Pendekatan eksplanatif adalah penelitian non-eksperimen karena menjelaskan hubungan kausal. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab-akibat, di mana terdapat variabel independen dan variabel dependen (Sugiyono, 2015). Populasi dalam penelitian ini yaitu pengguna perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan kriteria tertentu. Adapun kriteria yang ditentukan yaitu, responden pernah mengunjungi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur secara langsung sebelum adanya pandemi COVID-19 (sebelum bulan Maret 2020), responden pernah melakukan kunjungan lebih dari 3 kali, responden mengunjungi perpustakaan dan memanfaatkan layanan perpustakaan minimal 30 menit. Pengambilan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara online yaitu melalui sosial media seperti Instagram, WhatsApp, Twitter hingga Facebook. Hal tersebut dilakukan karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung untuk dilakukannya penyebaran kuesioner secara langsung ke perpustakaan. Uji hipotesis menggunakan rumus uji t. Uji t (test t) dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Yuliara, 2016). Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. H0: kualitas ruang tidak berdampak pada personal space pengguna pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur 2. H1: kualitas ruang berdampak pada personal space pengguna pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup yang mana telah berisi 82 pernyataan dan jawaban, sehingga responden dapat menjawabnya secara langsung. Jawaban dibagi menjadi 5 (lima), yaitu sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), netral (N), setuju (S), dan Sangat Setuju (SS). Data yang telah diperoleh dari kuesioner masih berbentuk data ordinal, sehingga diperlukannya transformasi data agar dapat menjadi data interval. Transformasi yang digunakan adalah Transformasi MSI (Method of Succive Interval) melalui Ms. Excel. Tujuan dari transformasi MSI adalah mengubah proporsi kumulatif setiap peubah pada kategori sehingga dapat menjadi nilai kurva normal bakunya (Ningsih & Dukalang, 2019). Setelah proses transformasi data, kemudian diuji menggunakan uji validitas dan reliabilitas untuk menghindari keraguan dari keabsahan penelitian dan. Setelah dinyatakan valid dan reliabel maka dilakukan uji asumsi klasik. Tujuannya adalah untuk menguji kecocokan data sebelum diuji lebih lanjut. Uji Asumsi Klasik yang digunakan adalah Uji Normalitas menggunakan rumus One-Sample Kolmogorov Smirnov (KS) dengan taraf signifikansi sebesar 5%. Tahap selanjutnya, penelitian ini dianalisis menggunakan Analisis Regresi Linear Sederhana untuk mengetahui hubungan variabel dependen dan independen, Uji Koefisien Determinasi (R2) untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya dan Uji t (t test) untuk menguji hipotesis penelitian. Proses coding dan tabulating hasil kuesioner menggunakan program Ms. Excel, sedangkan pengolahan data dan uji dihitung melalui program SPSS (Statistical Package Social Science) versi 22.

Result & Discussion

Responden dalam penelitian ini adalah pengguna Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur yang telah memenuhi karakteristik sejumlah 100 responden. Data tersebut diidentifikasikan menjadi beberapa kategori, yaitu: asal domisili responden, jenis kelamin, usia dan tahun terakhir berkunjung ke perpustakaan. Pada kategori asal domilisi, hasil data menunjukkan bahwa pengguna perpustakaan berdomisili dari berbagai kota yang ada di Jawa Timur. Mayoritas pengguna yang menjadi responden adalah pengguna asal Surabaya dengan total 40% responden, kemudian pengguna asal Sidoarjo sebanyak 12% responden dan pengguna asal Mojokerto sebanyak 12% responden. Sisanya adalah pengguna yang berasal dari kota-kota lain seperti Gresik (5%), Jombang (4%), dan lainlain. Pada kategori jenis kelamin, hasil menunjukkan bahwa pengguna perpustakaan yang menjadi responden adalah mayoritas perempuan sebanyak 79% responden, sedangkan sisanya adalah pengguna laki-laki sebanyak 21% responden. Pada kategori usia, hasil menunjukkan bahwa usia pengguna perpustakaan yang menjadi responden adalah mayoritas usia 20 – 30 tahun sebanyak 61% responden, sedangkan sisanya adalah pengguna berusia kurang dari 20 tahun sebanyak 37% responden, 31 – 40 tahun sebanyak 1% responden dan lebih dari 40 tahun sebanyak 1% responden. Pada kategori tahun terakhir responden berkunjung, hasil kuesioner menunjukkan bahwa pengguna terakhir berkunjung ke perpustakaan pada tahun 2016 hingga 2020. Mayoritas yang menjadi responden adalah pengguna yang terakhir mengunjungi perpustakaan pada tahun 2020 yaitu sebanyak 56% responden, sedangkan pada tahun 2019 sebanyak 34% responden. Sisanya adalah pengguna terakhir berkunjung pada tahun 2018 sebanyak 3% responden, tahun 2017 sebanyak 6% responden, dan tahun 2016 sebanyak 1% responden. a) Kualitas ruang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Kualitas ruang merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah bangunan. Lingkungan yang baik dapat meningkatkan produktivitas pengguna dan sebaliknya lingkungan yang buruk dapat menurunkan produktivitas pengguna. Oleh karena itu, perlu diperhatikan kualitas ruang dalam sebuah bangunan dengan memperhatikan sepuluh faktor menurut Mcdonald (2006) meliputi functional, adaptable, accessible, varied, interactive, conductive, enviromentally suitable, safe and secure, efficient, dan suitable for information technology. Kesepuluh faktor tersebut telah disusun menjadi beberapa indikator yang dijabarkan melalui 62 pernyataan dalam kuesioner. Tabel 1 memperlihatkan hasil pengolahan data pada kualitas ruang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan Tabel 1, kualitas ruang yang dimiliki oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menunjukkan total mean skor sebesar 3,79. Faktor interactive merupakan faktor yang mendapatkan mean skor tertinggi yaitu sebesar 4,17 yang mana termasuk kedalam kategori baik. Pemanfaatan pilar-pilar peyangga merupakan salah satu bentuk interactive. Pilarpilar tersebut tidak dibiarkan kosong, melainkan dimanfaatkan untuk memberikan informasi mengenai koleksi terbaru. Rak display tersebut tidak hanya berisi koleksi terbaru namun juga koleksi langka yang tidak memiliki banyak eksemplar. Pemanfaatan pilar tersebut juga dapat menambah estetika ruang perpustakaan. Selain itu, OPAC atau katalog online merupakan salah satu bentuk media interactive yang berfungsi sebagai alat bantu penelusuran koleksi perpustakaan. OPAC menyediakan kemampuan penelusuran baru yaitu dengan menggunakan kata kunci atau boolean logic yang dapat memudahkan pengguna menemukan jenis subjek atau koleksi yang mereka butuhkan. Faktor kualitas ruang yang mendapatkan mean skor terendah adalah faktor adaptable. Faktor ini mendapatkan mean skor sebesar 3,3 yang mana termasuk ke dalam kategori sedang. Tanggapan yang mendominasi kelima pernyataan tersebut adalah netral, yang artinya bahwa pengguna tidak menyetujui atau tidak menolak pernyataan bahwa ruang perpustakaan sudah adaptable. Hal tersebut menunjukkan bahwa menurut pengguna ruang perpustakaan masih perlu ditingkatkan lagi dari segi adaptable, namun berdasarkan observasi dan teori, kondisi ruang perpustakaan sudah adaptable karena furnitur atau peralatannya semi permanen, kecuali sekat pada setiap ruangan yang permanen. Furnitur yang digunakan tidak bersifat permanen sehingga pihak pengelola mudah merubahnya. Perubahan yang terjadi pada perpustakaan akan terus menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna yang dilayani. Adaptable juga berkaitan dengan fleksibilitas. Mencapai tingkat fleksibilitas yang tinggi sangatlah penting agar penggunaan ruang dapat dengan mudah diubah dengan resiko seminimal mungkin, hanya dengan menata ulang furnitur, rak dan perabotan/peralatan lainnya. Ruang perpustakaan yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan pengguna merupakan poin penting dalam merancang dan mengembangkan ruang perpustakaan yang ada (Istiana, 2015). b) Personal space pengguna Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur Personal space dapat dirasakan ketika individu merasa tidak nyaman karena beberapa hal. Iskandar (2012) membagi tiga faktor yang dapat mempengaruhi personal space yaitu faktor situasional, faktor perbedaan individu, dan faktor fisikal ruang. Ketiga faktor tersebut telah disusun menjadi beberapa indikator dan menghasilkan 20 pernyataan dalam kuesioner. Tabel 2 memperlihatkan kategori personal space responden di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil olah data kuesioner, personal space pengguna Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur menunjukkan total mean skor sebesar 3,8 yang mana termasuk ke dalam kategori baik. Faktor yang mendapatkan mean skor tertinggi adalah faktor situasional. Faktor situasional mendapatkan mean skor sebesar 4,01 yang mana termasuk kedalam kategori baik. Faktor situasional merupakan faktor keadaan situasi dan kondisi individu yang dapat memengaruhi ukuran personal space. Situasi yang terkendali dan sesuai dengan apa yang diinginkan individu akan membuat individu menjadi aman dan nyaman, sebaliknya jika individu menghadapi situasi di mana tidak seperti apa yang diharapkan akan membuat stres dan tidak nyaman (Hanom et al., 2019). Pernyataan yang memiliki mean skor tertinggi sebesar 4,35 adalah “saya tertarik dengan ruangan tersebut karena saya merasa nyaman dan aman” yang berarti sebagian besar pengguna telah menyadari situasi dan kondisi yang diinginkan ketika mengunjungi perpustakaan, oleh karena itu pengguna mengutamakan rasa nyaman dan aman ketika berada di perpustakaan. Pada pernyataan tentang faktor perbedaan individual mendapatkan total mean skor terendah yaitu sebesar 3,51 yang termasuk kedalam kategori baik. Faktor ini membahas tentang perbedaan individu secara fisik maupun kepribadian. Perbedaan antar individu dapat menentukan pola perilaku seseorang seperti mengatur besar kecilnya space yang diperlukan untuk melindungi diri terhadap invasi personal space, sehingga faktor ini memiliki peran yang besar pada personal space. Hasil dari total mean skor rendah, namun masih dalam kategori baik. Hal tersebut menunjukkan jika pengguna perpustakaan memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap faktor perbedaan individual yang meliputi kepribadian individu, jenis kelamin, usia, dan budaya/suku. c) Dampak kualitas ruang pada personal space pengguna Untuk mengetahui seberapa besar dampak kualitas ruang pada personal space dilakukan beberapa pengujian terhadap data primer, seperti uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, uji regresi linear sederhana, uji koefisien determinasi hingga Uji t. Pada hasil rtabel dengan 100 nilai N adalah sebesar 0,195. Pada hasil yang dihasilkan melalui output SPSS terlihat bahwa rhitung yang dihasilkan pada semua item pertanyaan melebihi rtabel yang dihasilkan. Maka, dapat diketahui bahwa semua item pertanyaan bersifat valid. Hasil pengujian realibilitas menggunakan Cronbach's Alpha yang di mana apabila angka yang dihasilkan > 0,6 maka dapat diketahui semua item pertanyaan bersifat reliabel. Dapat terlihat bahwa, nilai yang dihasilkan pada output diatas sebesar 0,945 yang di mana > 0,6 maka dapat diketahui bahwa seluruh item pertanyaan bersifat reliabel atau konsisten. Pada tahap uji asumsi klasik, uji yang digunakan adalah uji normalitas dengan mengunakan One-Sample Kolmogorov Smirnov. Untuk pengambilan keputusan didasarkan dengan hasil signifikansi yang dihasillkan, dapat terlihat bahwa nilai signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,200 yang di mana hal tersebut lebih besar dari signifikansi 5%, maka dapat diketahui bahwa data berdistribusi normal. Selanjutnya, pada tahap uji regresi linear sederhana, hasil output berdasarkan nilai signifikansi apabila hasil tersebut < 0,05 maka terdapat pengaruh antara variabel X dengan variabel Y. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai signifikansi yang dihasilkan sebesar 0,000 yang di mana < 0,05. Maka dari itu, dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh antara item hasil pernyataan kualitas ruang terhadap hasil item pernyataan personal space pada penelitian. Rumus dari uji koefisien determinasi adalah KD = R2 x 100%. Hasil diperoleh nilai R2 sebesar 0,209 yang berarti menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kualitas ruang terhadap ruang persoal sebesar 20,9% dan sisanya 79,1% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak disebutkan dalam penelitian ini. Uji t dilakukan untuk menguji ada tidaknya dampak kualitas ruang pada personal space. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai uji t sebesar 5.089 sedangkan ttabel diperoleh dari (df = N-k-1 = 98, dengan taraf signifikansi sebesar 0,05) sehingga ttabel sebesar 1,984. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 5.089 >1,984 maka artinya H0 ditolak sehingga terdapat dampak antara kualitas ruang pada personal space pengguna. Sehingga nilai thitung > ttabel atau 5.089 >1,984 maka dapat diketahui bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang artinya kualitas ruang berdampak pada personal space penggunanya dan kekuatan pengaruhnya sebesar 0,209 atau 20,9%. Berdasarkan hasil temuan di atas menunjukkan bahwa kualitas ruang memiliki dampak pada personal space, namun dampaknya kecil, karena 79,1% disebabkan oleh hal lain yang tidak disebutkan dalam penelitian ini. Rendahnya hasil uji dampak kualitas ruang pada personal space tersebut didukung oleh penelitian dari Hanom et al. (2019) yang sebagian besar responden merasa personal space-nya terganggu dengan variabel crowding daripada kualitas ruang. Dalam hal ini, ada kecenderungan bahwa sebagian pengguna yang menjadi responden tidak menyadari kebutuhan personal space-nya. Hal ini dibuktikan dalam variabel personal space faktor perbedaan individual, karena sebagian besar pengguna menjawab netral pada setiap pernyataan. Selain itu, kecenderungan yang lain adalah pengguna merasa bahwa tidak ada yang perlu ditingkatkan lagi perihal kualitas ruang perpustakaan. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih oleh pihak perpustakaan maupun pengguna terkait kualitas ruang dan personal space untuk meningkatkan kualitas dan kesadaran akan pentingnya personal space bagi setiap manusia. Pada bidang perpustakaan, belum banyak dilakukan penelitian mengenai dampak kualitas ruang pada personal space. Berkaitan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sari & Pramitasari (2019), bahwa personal space dapat memberikan pengaruh pada perilaku pemilihan tempat duduk bagi pengguna. Pengguna yang datang berkelompok akan sangat nyaman ketika duduk bersama dengan kelompoknya karena memiliki kesamaan individu, sedangkan pengguna individu akan sangat nyaman ketika duduk dengan jarak yang aman dengan pengguna lainnya. Psikologis manusia dapat dipengaruhi oleh kualitas ruang melalui berbagai aspek, karena setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam menerima, memahami dan merespon personal space (Mahmoud, 2017).

Conclusion

Personal space merupakan salah satu kebutuhan ruang individu yang mengelilingi tubuh individu meskipun tidak dapat dilihat namun bersifat melindungi individu dari invasi individu lain. Setiap manusia memiliki ukuran personal space yang berbeda-beda karena sifatnya yang dinamis. Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data di atas, memberikan kesimpulan bahwa kualitas ruang pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dapat memberikan dampak pada personal space penggunanya, namun kekuatan dari dampak kualitas ruang terhadap personal space bersifat lemah karena terdapat faktor lain yang tidak disebutkan dalam penelitian ini yang dapat memberikan dampak lebih kuat kepada personal space pengguna. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bawah kualitas ruang perpustakaan yang dimiliki oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur sudah termasuk kategori baik, namun memerlukan peningkatan pada faktor adaptable terutama pada indikator fleksibilitas ruang sehingga dapat meminimalisir risiko invasi personal space pengguna oleh individu lain.