Potret analisis difusi inovasi dalam publikasi artikel ilmiah di Lentera Pustaka
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Pendahuluan. Keterkaitan antara difusi inovasi dan publikasi artikel ilmiah, merujuk pada proses komunikasi ilmiah melalui media yang merekam berbagai hasil pengetahuan. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui bagaimana tahapan adopsi inovasi dari publikasi artikel ilmiah di Lentera Pustaka. Metode penelitian. Metode penelitian kualitatif dengan jenis data deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari editor in chief dan pengguna Lentera Pustaka. Data analisis. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil dan Pembahasan. Inovasi atau ide baru dari artikel yang telah diadopsi dan diimplementasikan, merupakan poin kunci yang dapat mengkonfirmasi model difusi inovasi di Lentera Pustaka. Tahapan adopsi inovasi dari artikel ilmiah bermula dari hasil temuan para inovator yang telah dipublikasikan, sehingga tahapan adopsi yang dilakukan oleh adopter menghasilkan pengetahuan baru yang terbentuk dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Kesimpulan dan Saran. Tahapan adopsi inovasi artikel di Lentera Pustaka meliputi pengetahuan, persuasi, pengambilan keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Dewan redaksi Lentera Pustaka dapat melibatkan pengguna dengan melakukan survei terkait dengan minat topik penelitian yang perlu dipublikasikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa artikel dalam jurnal ilmiah menjadi solusi bagi permasalahan ilmiah yang dijawab melalui adopsi inovasi.
Abstract
Introduction. The relationship between the diffusion of innovation and the scientific publication is in the process of scientific communication through media that records previous knowledge from research. The purpose of this study is to show stages of innovation adoption from the articles in one academic journal namely Lentera Pustaka. Data Collection Methods. This study used qualitative research approach with descriptive analysis. Data collection techniques were conducted through observations, interviews, and document study. Informants were selected using a purposive sampling technique. Data Analysis. We analysed the data by reducing, presenting, and drawing conclusions or verification. Results and Discussion. Innovations or new ideas from articles that have been adopted and implemented, are key points. The stage of adopting innovations from scientific articles starts from the published findings, then the adopters produce new knowledge from pre-existing knowledge. Conclusion. The stages of adoption of article innovation in Lentera Pustaka include knowledge, persuasion, decision making, implementation, and confirmation. The editorial board of Lentera Pustaka can ask eaders to participate in the survey related to the interests of proposed research topics. This research shows that articles in scientific journals can be a solution to scientific problems.
Keywords:
innovation diffusion
· publication
· innovations adoption
· electronic journal
Introduction
A. PENDAHULUAN Difusi inovasi merupakan proses penyebaran serapan ide-ide baru melalui komunikasi dengan memanfaatkan media, yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dalam penelitian ini, difusi inovasi akan diteliti dalam konteks publikasi artikel ilmiah. Keterkaitan antara difusi inovasi dan publikasi artikel ilmiah, merujuk pada proses komunikasi ilmiah melalui media yang merekam berbagai hasil pengetahuan yang telah diteliti sebelumnya (Martignago & Juliani, 2019). Peralihan media cetak ke tatanan media elektronik, menjadikan publikasi artikel ilmiah pada akhirnya bergantung pada website (Nashihuddin & Aulianto, 2017). Menurut SCImago Lab (Scimago Lab, 2022)sebagai website yang melaporkan terkait data jumlah publikasi artikel ilmiah dengan rincian data meliputi, H index 259, documents 212.806, citations 1.054.947, dan citations per document 4,96. Data-data tersebut, merupakan hasil akumulasi artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh jurnal cetak hingga jurnal elektronik di seluruh Indonesia sejak tahun 1996 sampai 2020. Merujuk pada data yang ditampilkan oleh SCImago Lab, bahwa publikasi artikel ilmiah di Indonesia diprakarsai oleh jurnal elektronik yang diterbitkan oleh pendidikan tinggi. Salah satu jurnal elektronik telah terindeks oleh SINTA (Science and Technology index), ialah Lentera Pustaka yang diterbitkan oleh tim redaksi dari Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. Lentera Pustaka merupakan jurnal elektronik OJS (Open Journal System), yang memungkinkan khalayak dapat membaca, mengunduh, menyalin, mendistribusikan, mencetak, mencari, dan menautkan link atau keyword ke teks lengkap dari seluruh konten ilmiah yang dipublikasikan (Yudhanto & Nashihuddin, 2017). Artikel-artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka merupakan kontribusi nyata dari Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro dalam menyebarkan inovasi atau ide-ide baru dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan (Aditya, 2021). Hal yang menjadi ketertarikan untuk meneliti Lentera Pustaka, merujuk pada lembaga pengindeks jurnal elektronik yang masih tergolong bereputasi rendah dengan ciriciri, relatif tidak selektif untuk terindeks, dan tidak memerlukan perangkat analisis sitasi, serta pemeringkatan jurnal. Contoh lembaga pengindeks bereputasi rendah, adalah GARUDA, Google Scholar, SINTA, Dimensions, BASE, dan Crossref (Widodo et al., 2017). Rendahnya golongan reputasi lembaga pengindeks tersebut, mengacu pada bobot yang diberikan, yaitu sebesar satu. Bobot tersebut diperoleh melalui analisis kinerja lembaga pengindeks yang berhubungan dengan dampak publikasi (Lukman et al., 2019). Golongan reputasi lembaga pengindeks pada jurnal elektronik merupakan tolok ukur dalam menentukan kualitas persebaran inovasi melalui publikasi artikel ilmiah yang didistribusikan secara online kepada khalayak. Jurnal elektronik berperan untuk mengimplementasikan aktualisasi seorang peneliti dalam mengembangkan kajian ilmu pengetahuan tertentu (Ansor, 2017). Lentera Pustaka, memiliki ruang lingkup ilmiah dengan fokus kajian, ilmu perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Penerbitan jurnal elektronik tersebut, mengacu pada visi Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, agar menjadi program studi riset yang unggul di tingkat nasional pada tahun 2025. Publikasi artikel ilmiah pada Lentera Pustaka, dimaksudkan untuk menyebarkan inovasi yang berkualitas melalui pelayanan akses global artikel-artikel ilmiah, yang dapat memberikan pengaruh pola pikir yang kuat bagi khalayak. Penelitian ini memiliki potensi dalam mengeksplorasi setiap unsur atau atribut yang mampu melengkapi pelaksanaan difusi inovasi, sehingga dapat berkontribusi secara maksimal guna menambah keberagaman penelitian terkait topik difusi inovasi dalam konteks publikasi artikel ilmiah. Lembaga-lembaga pengindeks, seperti GARUDA (Garba Rujukan Digital), SINTA (Science and Technology index), dan Google Scholar mencatat, bahwa belum ada publikasi terkait dengan kajian proses difusi inovasi dalam konteks publikasi artikel ilmiah di bidang Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan di Indonesia. Celah inilah yang kemudian diteliti serta dianalisis dalam kajian ini. Hal yang menjadikan penelitian ini penting mengarah pada ketersediaan berbagai artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka dalam mendukung proses difusi inovasi dengan menganalisis aspek tahapan adopsi inovasi. Difusi inovasi yang direalisasikan melalui publikasi artikel ilmiah secara mutlak dibutuhkan oleh perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan bidang Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi. Berdasarkan pada latar belakang, dan permasalahan yang telah dikemukakan maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini bagaimana potret analisis difusi inovasi dalam publikasi artikel ilmiah di Lentera Pustaka?. Penting untuk melihat bagaimana potret difusi inovasi dalam suatu jurnal ilmiah, hal ini dilakukan untuk menunjukkan kebermanfaatan artikel yang dipublikasi oleh suatu jurnal ilmiah. B. TINJAUAN PUSTAKA Publikasi Artikel Ilmiah Aktivitas publikasi artikel ilmiah, menjadi kriteria utama dalam menilai konsistensi seorang peneliti dan menjadi prioritas utama dalam bidang akademik (Castro-Ceacero & Ion, 2019). Menurut Link & Scott (2021) publikasi artikel ilmiah merujuk pada keluaran inovasi yang menawarkan pembaharuan pengetahuan secara sistematis dengan memanfaatkan saluran utama sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan tersebut. Pendapat lain dikemukakan oleh Himanen et al. (2019) bahwa pada dasarnya pengetahuan baru dapat berkembang dan dibangun dari praktik publikasi ilmiah. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa publikasi merupakan bagian integral dari proses penelitian, yang dikemas secara modern dalam bentuk artikel ilmiah. Publikasi merupakan istilah yang pertama kali muncul pada tahun 1570, yang dikembangkan sebagai bentuk dari proses produksi penyebaran informasi ilmiah (Purwadi & Irwansyah, 2020). Dalam kajian ilmiah, publikasi merupakan kegiatan penerbitan yang bersifat wajib bagi keberlangsungan ilmu pengetahuan dan teknologi (Birkle et al., 2020). Konsep publikasi artikel ilmiah pertama kali dikemukakan oleh Chen et al. (2013), yang menyatakan dalam praktik publikasi artikel ilmiah hal yang perlu diterapkan, ialah ketepatan waktu publikasi. Implementasi publikasi artikel ilmiah berbasis elektronik, memerlukan adanya platform yang dapat mendukung proses publikasi yang transparan, agar meminimalisir berbagai kerugian dan permasalahan yang mungkin terjadi selama proses publikasi dilaksanakan. Menurut Lin (2021) platform yang dapat mendukung proses publikasi artikel ilmiah berbasis elektronik, ialah jurnal elektronik dengan sistem open access. Akses yang mudah dan bersifat terbuka memberikan kemudahan untuk melakukan studi literatur guna mengembangkan kembali penelitiannya. Difusi Inovasi dalam Publikasi Artikel Ilmiah Difusi dicirikan sebagai proses penularan yang diprakarsai oleh media massa dengan melibatkan komunikasi di dalamnya (Perdana et al., 2021), sementara inovasi didefinisikan sebagai tahap awal atau cikal bakal dari munculnya konstruksi pengetahuan baru (O'Callaghan et al., 2020) Difusi inovasi dimaknai sebagai model persebaran yang terfokus pada kegiatan adopsi inovasi untuk merepresentasikan konsep substantif pengetahuan modern. Adopsi inovasi dalam proses difusi didominasi oleh ide-ide dalam bidang teknologi sebagai instrumen yang dapat meminimalisir ketidakpastian dalam perkembangan pengetahuan. Menurut Larsen (2003) terdapat lima tahapan yang mendasari konsep proses difusi inovasi. Tahap pertama, yaitu pengetahuan atau knowledge, identik dengan proses penyebaran pesan yang mengandung informasi baru. Tahap kedua, persuasi atau persuasion mempengaruhi calon adopter secara afektif yang berdampak pada aktivitas mental. Calon adopter akan mendalami apakah inovasi yang muncul dapat memberikan manfaat atau tidak. Tahap ketiga, pengambilan keputusan atau decision, calon adopter dapat menentukan pilihan apakah akan mengadopsi inovasi tersebut atau tidak dengan melibatkan aktivitas calon adopter. Tahap keempat, implementasi atau implementation proses yang dialami setiap calon adopter berbeda-beda karena bergantung pada situasi terkait dengan kegunaan atau kebutuhan inovasi yang akan diadopsi. Tahap kelima, konfirmasi atau confirmation adalah keputusan akhir yang dijadikan sebagai pedoman untuk menerima atau menolak adanya inovasi, setelah melalui keputusan sebelumnya. Kelima tahapan tersebut, mengklaim bahwa difusi inovasi adalah presentasi teori yang paling komprehensif dalam meyakinkan calon adopter.
Method
Pemilihan metode kualitatif dalam penelitian ini menekankan pada analisis setiap tahapan adopsi inovasi dari artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka, sehingga mampu menguraikan dan memaparkan setiap tahapan adopsi inovasi yang dilalui oleh adopter. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah jenis data kualitatif yang bersifat deskriptif, sedangkan untuk sumber data digunakan sumber data primer dan sekunder. Sumber (1) data primer diperoleh dari hasil wawancara, sementara untuk sumber (2) data sekunder, mengacu pada observasi dan studi dokumen. Informan dalam penelitian ini berasal dari berbagai sivitas akademik mulai dari mahasiswa, dosen, pustakawan, dan seluruh unit kepengurusan di perguruan tinggi yang diperoleh melalui purposive sampling. Kriteria yang mendasari proses pemilihan informan didasarkan kepada para pengguna yang telah membaca, atau mengunduh, dan atau mensitasi artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka. Hasilnya diperoleh tujuh belas informan melalui pencarian dengan memanfaatkan fitur profil pada google scholar untuk meninjau setiap artikel yang telah dibaca atau dikutip. Fitur ini menampilkan data terkait dengan banyaknya pengguna yang mengutip setiap artikel ilmiah milik Lentera Pustaka untuk dijadikan sebagai literatur atau referensi dalam melakukan penulisan karya ilmiah yang dipublikasikan ke berbagai jurnal elektronik lainnya. Menurut Herdiansyah (2019) proses penentuan informan dalam penelitian kualitatif, berpedoman pada subjek penelitian yang menjadi fokus dalam kegiatan pengumpulan data. Informan memiliki hubungan yang erat dengan proses rekrutmen. Hal tersebut dikarenakan, tujuan dari penelitian kualitatif yang berupaya untuk mendapatkan informasi mendalam dari objek yang diteliti. Pada umumnya, subjek dalam penelitian kualitatif berperan sebagai instrumen kunci dalam pelaksanaan penelitian tersebut. Proses rekrutmen dalam penelitian ini, dilakukan melalui beberapa tahapan. Penelitian dimulai dengan menghubungi editor in chief dan mendata para informan pengguna Lentera Pustaka. Daftar pengguna yang diperoleh dari pendataan melalui google forms dijadikan sebagai kerangka informan atau pedoman untuk menentukan dan memilih informan. Para informan tersebut, selanjutnya dihubungi secara personal melalui e-mail dan whatsApp. Setelah mendapatkan respon dari para informan, dilakukan konfirmasi terkait dengan objek yang diteliti, selain itu dipastikan kesediaan para informan untuk terlibat dalam penelitian. Metode pengambilan data menggunakan (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) studi dokumen. Wawancara dilaksanakan secara virtual melalui telepon dengan editor in chief dan pengguna Lentera Pustaka. Wawancara dalam penelitian mengggunakan metode tidak terstruktur, dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada informan berhubungan dengan tahapan yang dilalui dalam proses adopsi inovasi dari artikel ilmiah di Lentera Pustaka. Observasi dilakukan dengan mengamati judul dan menganalisis sitasi dari setiap artikel-artikel ilmiah yang dipublikasikan Lentera Pustaka. Studi dokumen dilakukan dengan memanfaatkan dokumen publik yang terhimpun di dalam website milik Lentera Pustaka. Penelitian ini menggunakan model analisis data mengalir (flow chart analysis) yang dikembangkan oleh Samsu (2021) yang terdiri dari tiga aktivitas, yaitu (1) reduksi data dengan merangkum dan memastikan data yang diolah telah melibatkan objek penelitian secara keseluruhan, serta mengabstraksikan data yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan editor in chief dan pengguna; (2) penyajian data berupaya untuk mengklasifikasikan, dan menyajikan data subpokok permasalahan terkait dengan proses difusi inovasi dalam publikasi artikel; (3) penarikan simpulan atau verifikasi yang dapat menjawab dan memecahkan permasalahan terkait dengan proses difusi inovasi dalam publikasi artikel.
Result & Discussion
Hasil penelitian yang disajikan berasal dari data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui proses wawancara mendalam dengan editor in chief dan para informan, observasi, serta studi dokumen. Data-data tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan metode analisis data yang telah ditentukan. Kemudian data diolah hingga diperoleh hasil sebagai berikut: Tahapan Adopsi Inovasi dalam Konteks Difusi Inovasi pada Artikel Ilmiah di Lentera Pustaka Pelaksanaan difusi inovasi adalah sebuah proyek terpenting untuk mendukung kemajuan media komunikasi berbasis digital khususnya jurnal elektronik dengan menjamin kualitas inovasi atau ide-ide baru yang dipublikasikan dalam wujud artikel ilmiah. Inovasi yang disebarkan secara global akan mendapatkan pengakuan dari setiap adopter apabila inovasi tersebut dapat membantu mengatasi masalah atau kebingungan ilmiah yang sedang dihadapi adopter melalui adanya tahapan adopsi inovasi (Wehn & Montalvo, 2018). Tahapan adopsi inovasi dalam penelitian ini akan diulas secara konseptual melalui eksplorasi yang berfokus pada artikel-artikel ilmiah milik Lentera Pustaka. Secara empiris ide baru dan inovasi ilmiah yang diadopsi oleh adopter dapat membantu konseptualisasi pemikiran adopter. Inovasi atau ide-ide baru tersebut dapat dikonsepkan sebagai sumber perubahan yang saling berkelanjutan dan berhubungan bagi adopter, apabila telah melalui tahapan-tahapan adopsi inovasi dalam konteks difusi inovasi. Keberlanjutan dari proses identifikasi transmisi pengetahuan selanjutnya akan diulas dalam analisis difusi inovasi yang menyerukan adopsi inovasi ilmiah. Analisis difusi inovasi dalam penelitian ini diulas secara konseptual melalui eksplorasi yang berfokus pada artikelartikel ilmiah di Lentera Pustaka. Difusi inovasi yang terjadi di jurnal elektronik tersebut turut melibatkan konsep informasi sebagai awal mula penelitian ilmiah dimulai hingga pada akhirnya dipublikasikan dan memiliki nilai intelektualitas. Nilai intelektualitas yang terkandung dalam artikel ilmiah khususnya di Lentera Pustaka, menghadirkan inovasi atau ide-ide baru sebagai alternatif metode atau cara untuk mengatasi permasalahan. Ide baru dan inovasi ilmiah yang diadopsi oleh adopter, secara empiris dapat membantu konseptualisasi pemikiran adopter. Inovasi atau ide-ide baru tersebut dapat dikonsepkan sebagai sumber perubahan yang saling berkelanjutan dan berhubungan bagi adopter, apabila telah melalui tahapan-tahapan adopsi inovasi dalam konteks difusi inovasi. Ide baru dan inovasi ilmiah yang diadopsi oleh adopter berasal dari tulisan artikel yang diperoleh melalui analisis teoretis yang dilengkapi dengan adanya data pendukung. Atikel ilmiah yang telah dipublikasikan mampu menjadi sumber perubahan yang didukung dengan adanya peranan dari Lentera Pustaka sebagai saluran komunikasi berupa jurnal berbasis online yang merealisasikan penyaluran inovasi tersebut kepada adopter. Penyaluran inovasi tersebut bersamaan dengan adanya seleksi inovasi yang dilalui oleh adopter pada tahapan-tahapan adopsi inovasi ilmiah. Pengetahuan yang telah ditulis oleh inovator merupakan bahan referensi yang berpartisipasi dalam penulisan temuan penelitian selanjutnya. Konsep dalam analisis tahapan adopsi inovasi ini, menggarisbawahi terkait dengan proses eksplorasi suatu inovasi yang tercipta hingga pada akhirnya digunakan oleh adopter. Adopter menggunakan inovasi yang ada dalam konteks untuk memberikan solusi atau jawaban yang bersifat ilmiah, sehingga inovasi yang diciptakan menentukan kinerja difusi inovasi di Lentera Pustaka. Sumber Inovasi pada Tahapan Pengetahuan dalam Adopsi Inovasi di Lentera Pustaka Temuan yang diperoleh ketika menganalisis tahapan adopsi inovasi di Lentera Pustaka, bersinggungan dengan pengetahuan yang berasal dari hasil tulisan yang disampaikan secara eksplisit oleh para penulis selaku inovator melalui artikel ilmiah yang dipublikasikan. Perkembangan berbagai ilmu sosial dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang pelayanan di lingkup perpustakaan, informasi, dan perkembangan metode-metode penelitian pusdokinfo (Pusat Dokumentasi dan Informasi) menjadi trend penelitian yang dilakukan oleh inovator selaku penulis artikel guna menanggapi isu yang terjadi saat ini. Artikel yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka, kemudian dipandang sebagai literatur teoretis yang dapat merepresentasikan pemikiran ilmiah para inovator. Hasil analisis tahapan pengetahuan turut didukung dengan pernyataan informan, yang menyampaikan bahwa: “Sejauh ini inovasi yang tertuang di Lentera Pustaka berasal dari masalah yang timbul di masyarakat, dan selanjutnya ditindaklanjuti atau diterapkan dalam tulisan gagasan baru.” (P10, wawancara, 27 Februari 2022). “Ya, saya mendapatkan ide tambahan untuk referensi artikel yang saya buat juga untuk diterbitkan ke jurnal.” (P3, wawancara, 10 Februari 2022) “Iya, karena setiap saya menelusur dan membaca artikel di jurnal tersebut, selalu muncul ide baru sebagai sumber inspirasi dalam mengerjakan tugas suatu mata kuliah.” (P5, wawancara, 15 Februari 2022) “Ada beberapa, dari baca-baca artikelnya jadi dapat wawasan dan ilmu baru yang dibahas di jurnal itu.” (P10, wawancara, 22 Februari 2022) Analisis tahapan pengetahuan menyatakan bahwa, setiap artikel Ilmiah pada Lentera Pustaka mempublikasikan dan menunjukkan adanya wawasan baru berupa inovasi ilmiah yang kemudian dapat diadopsi secara bebas dan gratis oleh adopter. Tindak lanjut dari analisis tahapan adopsi inovasi, selanjutnya ditinjau dari ajakan yang dikomunikasikan oleh adopter satu ke adopter lainnya. Tahapan pengetahuan dalam proses adopsi inovasi, memotivasi para adopter untuk menindaklanjuti seluruh tahapan secara sistematis dan menegaskan adanya keterkaitan antara tahapan pengetahuan dengan tahapantahapan adopsi inovasi berikutnya. Perekomendasian Artikel Ilmiah oleh Adopter pada Tahapan Persuasi dalam Adopsi Inovasi di Lentera Pustaka Kolaborasi dari berbagai pengetahuan yang diteliti merupakan sumber inspirasi bagi para adopter untuk menentukan dan mengadopsi ide baru atau inovasi ilmiah. Para adopter selaku pengguna Lentera Pustaka tentunya memberikan pengaruh secara afektif, melalui pembentukan persepsi. Persepsi tersebut dideteksi melalui pernyataan yang dituturkan oleh informan atau adopter terkait tindakan perekomendasian adopsi artikel ilmiah di Lentera Pustaka. Fokus analisis ini mengarah pada rekomendasi adopsi inovasi dari artikel yang dilakukan dengan adanya komunikasi dari satu adopter ke adopter lainnya, namun analisis perekomendasian ini menunjukkan hasil yang kurang maksimal. “Kalau teman yang di luar Undip belum, karena topik pembahasan Lentera Pustaka masih seputar ilmu perpustakaan.” (P10, wawancara, 22 Februari 2022) “Saya tidak merekomendasikan artikel ini ke teman saya secara spesifik, namun jika mengkomunikasikan kepada rekan memang pernah, seperti “coba cari di Lentera Pustaka” begitu.” (P11, wawancara, 28 Februari 2022) “Jika memang topiknya menarik dan relevan akan saya share kepada rekanrekan.” (P14, P10, wawancara, 02 Maret 2022) Komunikasi antar adopter dikenal dengan istilah persuasi yang dianalisis melalui perekomendasian artikel yang diadopsi dengan harapan inovasi yang ditulis inovator menyebar lebih cepat dan menunjukkan signifikansi adopsi. Kenyataan lapangan menunjukkan bahwa kegiatan persuasi belum sepenuhnya dilaksanakan oleh adopter dikarenakan proses adopsi yang masih berdasarkan kebutuhan inovasi dari masing-masing pembaca. Latar belakang ini mengacu pada ada atau tidaknya topik yang relevan dengan kebutuhan ide baru dan inovasi para adopter saat itu, sehingga untuk memastikan hal tersebut adopter terlebih dahulu membaca apa yang telah dituliskan inovator dari abstrak artikel yang hendak diadopsi. Urgensi dari apa yang telah ditulis inovator tertera pada rumusan masalah yang menjadi pertimbangan adopter ketika hendak mensitasi artikel tersebut. Artikel yang telah memenuhi pertimbangan dari masing-masing adopter selanjutnya diimplementasikan untuk memperkuat opini adopter agar terintegrasi secara teoritis. Pengambilan Keputusan melalui Implementasi Inovasi dan Konfirmasi dalam Adopsi Inovasi di Lentera Pustaka Perspektif terkait dengan tahapan persuasi pada hasil analisis di sub-subbab sebelumnya identik dengan tahapan pengambilan keputusan. Pada tahapan ini, dianalisis hal-hal yang dipertimbangkan oleh adopter sebelum mengadopsi inovasi dan ide-ide baru yang terkandung dalam artikel-artikel ilmiah di Lentera Pustaka hingga pada akhirnya memperoleh suatu keputusan. Berkenaan dengan hal yang telah disampaikan sebelumnya pada analisis tahapan pengetahuan dan persuasi, tahapan pengambilan keputusan turut memiliki keterkaitan yang didasarkan pada kebutuhan dan aktivitas masing-masing adopter. Para adopter menyampaikan, bahwa relevansi topik yang dikaji oleh Lentera Pustaka saat ini belum sepenuhnya mendominasi kebutuhan ide atau inovasi ilmiah sebagai urgensi dari difusi inovasi secara global, meskipun judul yang dikaji menarik hal tersebut belum sepenuhnya menjadi daya tarik bagi para adopter untuk membaca, dan mengadopsi artikel-artikel yang dipublikasikan oleh jurnal tersebut. “Karena saya juga menerbitkan artikel di Lentera Pustaka, jadi saya harus mengetahui format dan mempunyai beberapa referensi dari Lentera Pustaka yang berkaitan dengan topik judul artikel yang akan saya ajukan.” (P3, wawancara, 10 Februari 2022) “Pertimbangan terbesarnya adalah relevansi artikel dengan kebutuhan ide saya, sehingga apabila artikel tersebut menyuguhkan inovasi yang dibutuhkan, saya akan mengutip dan menggunakan artikel tersebut.” (P5, wawancara, 15 Februari 2022) “Dilihat dari judul dan topik-topiknya, karena beberapa artikel di Lentera Pustaka judulnya sudah bagus dan menarik.” (P12, wawancara, 22 Februari 2022) Rumusan masalah dan abstrak yang tercantum di dalam artikel menjadi hal pokok yang mendasari para adopter untuk mengadopsi ide dan inovasi di dalamnya. Para adopter yang telah memutuskan ketetapan adopsi inovasi dari artikel yang dipilih, selanjutnya ditindaklanjuti dengan tahapan implementasi. Pada tahapan ini, adopter menerapkan ide dan inovasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Tahapan ini sangat bergantung dengan pengetahuan dan kemampuan kreativitas adopter dalam memecahkan permasalahan ilmiah. Berdasarkan dari hasil analisis tersebut, tahapan ini merupakan metode promosi alternatif dari pihak ilmuwan selaku inovator yang mendukung kegiatan adopsi ide dan inovasi ilmiah para adopter. Secara dinamis ide dan inovasi ilmiah yang diadopsi oleh adopter, selanjutnya diimplementasikan guna mendukung dan membentuk kompetensi adopter dalam menyelesaikan tugas. Para adopter kemudian melakukan redudansi atau duplikasi inovasi melalui kegiatan sitasi ide yang disampaikan oleh inovator atau pihak penulis artikel. Penduplikasian tersebut ialah sistem interpretatif yang menjadi bagian dari tahapan konfirmasi pada adopsi inovasi yang memberikan makna bagi lingkungan adopter atau pihak pengguna Lentera Pustaka. Tahapan konfirmasi dalam penelitian ini, menyatakan bahwa topik artikel yang diadopsi pada tahap implementasi inovasi belum sepenuhnya dapat dikatakan relevan. Meskipun produk-produk ilmiah yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka menunjukkan adanya kemungkinan keterbaruan yang diperoleh melalui suatu penemuan oleh para inovator hingga pada akhirnya menjadi inovasi ilmiah yang diadopsi oleh adopter. Produk-produk ilmiah pada Lentera Pustaka turut berpartisipasi dalam realisasi konsep persebaran inovasi melalui media jurnal open access berbasis elektronik. Bukti ketergunaan artikel ilmiah di Lentera Pustaka dapat ditinjau dari adanya artikel ilmiah yang ditulis oleh pengguna dan dipublikasikan pada jurnal elektronik lainnya. Adanya artikel ilmiah pada Lentera Pustaka yang disitasi atau dikutip oleh penggunanya adalah salah satu bentuk konfirmasi pada tahapan adopsi inovasi. Artikel ilmiah di Lentera Pustaka yang berjudul “Community of Practitioners: Solusi Alternatif berbagi Pengetahuan antar Pustakawan” ditulis oleh Supriyadi dan terbit di Lentera Pustaka pada tahun 2017. Artikel tersebut disitasi oleh salah seorang informan untuk mendukung metode penelitiannya, kemudian dipublikasikan di jurnal elektronik Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa, Universitas Negeri Semarang. Penjelasan terkait bagan tahapan adopsi inovasi yang dikembangkan, bermula dari hasil temuan para inovator selaku penulis yang mempublikasikan tulisannya di Lentera Pustaka. Tahapan-tahapan ini merupakan runtutan yang saling bersinergi dalam membantu adopter untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban yang ditanggung. Pengetahuan yang ditulis inovator yang telah terjamin kredibilitasnya, kemudian dikomunikasikan oleh para adopter. Komunikasi ini berlaku bagi seluruh pembaca artikel di Lentera Pustaka. Kondisi tersebut hanya dapat terjadi apabila ada kecocokan atau relevansi terkait topik yang dikaji, sedangkan topik yang tidak menunjukkan adanya kecocokan atau relevansi antar adopter tidak perlu dikomunikasikan atau direkomendasikan ke adopter lain. Tahapan lanjutan yang terdapat dalam proses adopsi inovasi, yaitu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini mengarah pada diimplementasikan atau tidak dimplementasikannya inovasi yang telah dipilih sebelumnya. Adopter yang tidak mengimplementasikan inovasi yang ditawarkan dapat kembali mencari dan membaca artikelartikel ilmiah di Lentera Pustaka lainnya. Tahapan implementasi mengisyaratkan ada atau tidaknya inovasi yang diterapkan. Para adopter yang mengimplementasikan inovasi dari artikel yang telah dipilih menandakan adopter tersebut telah mengkonfirmasi atau menggunakan salah satu artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka. Tahapan konfirmasi ini ditandai dengan tindakan adopsi inovasi ilmiah atau sitasi artikel oleh adopter. Berdasarkan pada hasil analisis di subsubbab sebelumnya, dan hasil wawancara bersama para informan selaku adopter dalam penelitian ini, hal yang dapat dianalisis yaitu berkenaan dengan kompleksitas dan keberlanjutan difusi inovasi yang mengarah pada tahapan adopsi inovasi ilmiah (pengetahuan, persuasi, pengambilan keputusan, implementasi, dan konfirmasi). Inovasi atau ide baru dari artikel yang telah diadopsi dan diimplementasikan, merupakan poin kunci yang dapat mengkonfirmasi model difusi inovasi dalam publikasi artikel ilmiah di Lentera Pustaka. Pernyataan seluruh analisis yang disampaikan, didukung dengan adanya teori yang dikemukan oleh Carreiro (2019) bahwa tahapan-tahapan dalam konteks difusi inovasi merupakan uraian yang mengurutkan serangkaian proses adopsi inovasi secara teratur. Teori lain dituturkan oleh Kohli & Melville (2019) menurutnya tahapan adopsi inovasi dari artikel ilmiah bermula dari hasil temuan para inovator yang telah dipublikasikan, sehingga tahapan adopsi yang dilakukan oleh adopter menghasilkan pengetahuan baru yang terbentuk dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Tulisan para inovator dikemas dalam format artikel ilmiah yang diperuntukkan bagi pembaca Lentera Pustaka sebagai sumber ide baru atau inovasi ilmiah. Para pembaca atau adopter yang hendak mengadopsi inovasi dari artikel-artikel ilmiah di Lentera Pustaka melibatkan proses transfer pengetahuan yang dianalisis melalui tahapan adopsi inovasi ilmiah dalam konteks difusi atau persebaran inovasi. Tahapan-tahapan ini merupakan runtutan yang saling bersinergi dalam membantu adopter untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban yang ditanggung. Menurut bagan yang telah dikembangkan, tahapan ini diawali dengan adanya pengetahuan yang ditulis para inovator yang telah terjamin kredibilitasnya. Kredibilitas tersebut dijamin oleh para dewan redaksi melalui proses peer-review sebagai salah satu bentuk seleksi terhadap artikel ilmiah yang akan dipublikasikan Lentera Pustaka. Pengetahuan yang dipublikasikan menuliskan ide-ide baru dalam bidang pelayanan perpustakaan, ilmu informasi, dan kebaruan terkait metode penelitian pusdokinfo melalui berbagai pendekatan. Pengetahuan ilmiah tersebut, kemudian dikomunikasikan oleh para adopter. Komunikasi ini berlaku bagi seluruh pembaca artikel di Lentera Pustaka. Kondisi tersebut hanya dapat terjadi apabila ada kecocokan atau relevansi terkait topik yang dikaji, sedangkan topik yang tidak menunjukkan adanya kecocokan atau relevansi antar adopter tidak perlu dikomunikasikan atau direkomendasikan ke adopter lain. Tahapan lanjutan yang terdapat dalam proses adopsi inovasi, yaitu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini mengarah pada diimplementasikan atau tidak inovasi yang telah dipilih sebelumnya. Inovasi yang diimplementasikan atau diterima oleh adopter dapat diadopsi guna memenuhi kebutuhan inovasi yang harus dipenuhi saat itu. Para adopter yang tidak mengimplementasikan inovasi yang ditawarkan dapat kembali mencari dan membaca artikel-artikel ilmiah di Lentera Pustaka lainnya. Tahapan implementasi ini mengisyaratkan ada atau tidaknya inovasi yang diterapkan. Para adopter yang mengimplementasikan inovasi dari artikel yang telah dipilih menandakan adopter tersebut telah mengkonfirmasi atau menggunakan salah satu artikel ilmiah yang dipublikasikan oleh Lentera Pustaka. Tahapan konfirmasi ini ditandai dengan tindakan adopsi inovasi ilmiah atau sitasi artikel oleh adopter. Kelima tahapan ini, telah membuktikan inovasi yang terdapat dalam artikel ilmiah di jurnal elektronik Lentera Pustaka berhasil diadopsi oleh adopter guna meminimalisir ketidakpastian ilmiah. Secara substantif, inovasi yang diadopsi atau artikel yang disitasi oleh adopter jika ditinjau dalam konteks difusi inovasi merupakan sistem relasional yang mengkombinasikan berbagai kajian topik pengetahuan. Tahapan-tahapan yang telah ditetapkan dalam proses adopsi inovasi ilmiah dari artikel di Lentera Pustaka, merupakan model multi tahap yang mentransmisikan inovasi ilmiah sebagai investasi pengetahuan. Dalam penelitian ini, Lentera Pustaka berperan sebagai fitur struktural yang memainkan peran kunci dalam pengenalan penyebaran inovasi melalui publikasi artikel ilmiah. Praktik berbasis OJS (Open Journal System) dari jurnal elektronik tersebut, menjadi fokus eksplorasi terkait dengan adopsi inovasi dari artikel-artikel ilmiah yang dipublikasikan. Pengenalan dan pembahasan terkait elemen pelaksana difusi inovasi, karakteristik inovasi ilmiah yang diadopsi, serta tahapan adopsi inovasi ilmiah merupakan pendorong dinamika model difusi inovasi dari artikel-artikel ilmiah di Lentera Pustaka. Peran dari Lentera Pustaka dan para dewan redaksi sebagai agen perubahan merupakan bentuk sinergi yang menjamin pelaksanaan difusi inovasi ilmiah. Pelaksanaan difusi inovasi dalam jurnal elektronik tersebut mengacu pada persebaran ide baru serta inovasi yang berprinsip pada pengamatan empiris yang dilakukan oleh para inovator untuk selanjutnya disalurkan kepada calon adopter. Menurut Currie & Spyridonidis (2019) difusi inovasi berupaya untuk memahami ide atau inovasi yang menyebar ke khalayak umum dari waktu ke waktu. Konsep yang digunakan untuk memahami proses difusi inovasi meliputi elemen, karakteristik, dan tahapan yang saling terorganisir. Secara teoretis konsep-konsep tersebut membuktikan bahwa proses pelaksanaan difusi dan adopsi inovasi dapat mendominasi perubahan pemikiran para adopter. Perubahan pemikiran adopter ini terjadi melalui adanya modifikasi atau duplikasi dari hasil temuan yang diteliti oleh inovator dan telah dikemas dalam wujud artikel ilmiah.
Conclusion
Berdasarkan hasil temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa proses adopsi inovasi dalam konteks difusi inovasi pada publikasi artikel ilmiah di jurnal elektronik Lentera Pustaka dilatarbelakangi oleh tahapan adopsi inovasi yang terdiri dari pengetahuan, persuasi, pengambilan keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Tahapan implementasi dan konfirmasi menjadi tahapan yang krusial bagi adopter dalam mengatasi permasalahan pemikiran yang bersifat ilmiah. Kedua tahapan ini menjadi bukti bahwa proses transfer pengetahuan tersebut telah dilaksanakan dan inovasi atau ide baru yang diadopsi adalah literatur yang relevan dengan kebutuhan inovasi ilmiah adopter, sehingga dapat dipastikan secara totalitas tahapan adopsi inovasi yang dituliskan dalam penelitian ini telah menjawab proses difusi inovasi dalam publikasi artikel ilmiah di Lentera Pustaka.