Kembali
16
1
2024 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 20 · 2 ISSN 2477-0361

Kompetensi pustakawan dalam publikasi karya tulis ilmiah di Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah

Universitas Ahmad Dahlan; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Pendahuluan. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan eksistensi pustakawan dapat melalui publikasi Karya Tulis Ilmiah (KTI). Tujuan penelitian untuk mengetahui kompetensi pustakawan dalam publikasi KTI di Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah Koordinator Wilayah Daerah Istimewa YogyakartaJawa Tengah Selatan (FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan). Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan informan berjumlah 15 orang yang dipilih melalui snowball sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji validitas data menggunakan triangulasi teknik. Hasil dan Pembahasan. Kemampuan pustakawan di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan dalam publikasi KTI dilatarbelakangi adanya kompetensi publikasi KTI dengan urutan motif, karakter, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan. Dampak dari kompetensi publikasi KTI mendorong pustakawan untuk produktif menghasilkan publikasi KTI yang akan meningkatkan branding kepustakawan. Kesimpulan dan Saran. Pustakawan yang memiliki karakter konsisten akan menghasilkan publikasi KTI berkualitas. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari keterampilan komunikasi dan penguasaan teknik penulisan KTI. Adapun saran dalam penelitian ini adanya pembentukan program kepenulisan secara regular yang dapat memfasilitasi pustakawan dalam berkarya.

Abstract

Introduction. Efforts made to increase the competencies of librarians can be made through the publication of scientific writing. The research aims to determine the competence of librarians in the publication of scientific writing at the Muhammadiyah 'Aisyiyah Higher Education Library Forum Regional Coordinator for the Special Region of Yogyakarta-South Central Java (FPPTMA Regional Coordinator DIY-South Java). Research methods. This study used a qualitative method, with informants 15 people with snowball sampling. Data collection used observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis techniques use data condensation, data presentation, and drawing conclusions. To test the validity of the data, we used triangulation techniques. Results and Discussion. Librarians' ability to publish scientific writing is based on their competencies in motive, character, self-concept, knowledge, and skills. The impact of scientific writing publication competency encourages librarians to be productive in producing scientific writing publications which will increase librarian branding. Conclusion and recommendations. Librarians who have consistent character will produce quality scientific writing. It cannot be separated from communication skills and mastery of scientific writing techniques. This research suggests establishing a regular writing program that can facilitate librarians in their work.
Keywords: librarian competency · scientific writing publications · librarian scientific writing · FPPTMA · DIY Coordinator of South Java

Introduction

A. PENDAHULUAN Publikasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) merupakan wujud dari pengembangan profesi pustakawan. Pustakawan dapat meningkatkan keterampilan menulis KTI dengan cara berlatih secara teratur, mengasah kemampuan berfikir, dan menambah wawasan ilmu pengetahuan. Menulis KTI bukanlah suatu aktifitas yang dapat dilakukan secara spontanitas. Keberhasilan pustakawan dalam penulisan KTI ditentukan oleh kompetensi yang dimilikinya. Saat ini, publikasi KTI para pustakawan mudah ditemukan salah satunya melalui search engine google scholar. Google scholar tidak hanya menampung publikasi KTI pustakawan Aparatur Sipil Negara (ASN), namun dapat juga untuk mengakses publikasi KTI pustakawan NonASN. Pustakawan Non-ASN yang dimaksud dalam hal ini pustakawan Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) yang tergabung dalam Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (FPPTMA). FPPTMA terdiri dari 113 perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Upaya yang dilakukan untuk mensukseskan tujuan forum yakni dengan membentuk pengurus pimpinan pusat dan Koordinasi Wilayah (Korwil). Korwil di FPPTMA terbagi menjadi 11 wilayah. Tujuan dari pembentukan korwil di FPPTMA supaya koordinasi dan komunikasi lebih lancar dan maksimal. Satu di antara 11 korwil yang pustakawannya memiliki beragam prestasi adalah Korwil DIY-Jateng Selatan. Prestasi yang telah dihasilkan oleh para pustakawan di korwil ini, di antaranya: pustakawan berprestasi (tingkat nasional, daerah, maupun tingkat universitas), kemampuan publikasi KTI (buku ilmiah, bunga rampai, jurnal, maupun prosiding) skala nasional maupun internasional, aktif sebagai presenter dalam kegiatan konferensi nasional dan internasional, dan kemampuan sebagai narasumber di events kepustakawanan. Kepustakawanan di Indonesia akan semakin maju dan berkembang jika para pustakawan mampu adaptif dan lincah dalam menjalankan profesi pustakawan ini. Ciri Sumber Daya Manusia (SDM) super agile: pertama, kemampuan untuk bekerjasama dengan siapapun. Kedua, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan se-ekstrim apapun. Ketiga, kemampuan untuk tetap berprestasi dan menghasilkan dalam kondisi apapun. Keempat, kemampuan untuk bertahan dalam tekanan mental apapun. Kelima, kemampuan untuk memahami dan mempelajari hal baru dengan cepat (Junaedi, 2019). Implementasinya kepustakawanan tidak lagi stuck dan berjalan secara konvensional. Sebaliknya, kepustakawanan sudah mengalami perkembangan menuju ke dalam penyediaan informasi bahan pustaka secara tepat dan akurat dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi bagi para pengguna perpustakaan (Putra, 2017). Sama halnya yang terjadi di korwil ini, meskipun sampai tahun 2021 belum ada perpustakaan yang menerapkan jabatan fungsional (jabfung) namun para pustakawannya aktif melakukan publikasi KTI. Publikasi KTI yang terindeks google scholar selama tahun 2018-2021 terbagi menjadi empat jenis yakni Buku (B), Bunga Rampai (R), Jurnal (J), dan Prosiding (P) (Pujiastuti, 2023). Peluang pustakawan untuk mengembangkan kompetensi KTI sangat terbuka, mengingat dalam keseharian di tempat kerja berhadapan dengan beragam informasi. Pustakawan dapat memulai dengan menuliskan peristiwa yang terjadi pada setiap titik layanan perpustakaan secara sederhana. Meskipun demikian, pada kenyataanya masih banyak pustakawan yang belum mau menulis dikarenakan berbagai alasan seperti rutinitas layanan yang padat, kurangnya waktu untuk menulis, bahkan ada yang beralasan tidak bisa menulis sekalipun belum pernah dicoba (Hardiningtyas, 2016). Aktivitas menulis KTI merupakan hal yang harus dikuasai oleh seorang pustakawan di era ini. Kemampuan menulis KTI akan terus terasah seiring dengan proses kreativitas yang dilakukan oleh pustakawan. Upaya untuk menumbuhkan semangat untuk menulis KTI setiap pustakawan beragam. Ada yang dengan cara bergaul sesama pustakawan yang telah memiliki pengalaman menulis ataupun melalui bacaan/buku-buku terkait dengan aktivitas menulis (Istiana, 2015). Kendala yang dihadapi yakni keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran pustakawan untuk menuangkan ide maupun gagasan ke dalam sebuah tulisan karena sudah terjebak ke dalam pekerjaan rutinitas teknis harian. Jurnal ilmiah ataupun KTI dalam bentuk kompilasi/bunga rampai bidang perpustakaan dimanfaatkan sebagai wadah publikasi ilmiah pustakawan (Novianto, 2020). Publikasi Pustakawan FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan selama tahun 2018-2021 mengalami peningkatan. Total publikasi KTI selama empat tahun dalam grafik 1 berjumlah 97 publikasi. Publikasi paling banyak dilakukan oleh pustakawan Korwil DIY-Jateng Selatan melalui Jurnal (J) sebanyak 59 buah, Bunga Rampai (R) sebanyak 25 buah, Prosiding (P) sebanyak 13 buah, dan Buku Ilmiah (B) berjumlah 0 buah. Keterampilan menulis KTI tidak akan dikuasai hanya dengan memahami teori melainkan harus disertai dengan latihan dan praktek yang teratur. Pustakawan dapat mengimbangi dengan banyak membaca, mendengarkan dengan seksama, dan banyak berlatih menulis (Abdan, 2018). Perpustakaan anggota Korwil DIY-Jateng Selatan yang sudah aktif melakukan publikasi sebanyak 60%. Adapun rincian keaktifan berdasarkan instansi sebagai berikut: Perpustakaan UNIMMA 35 publikasi, Perpustakaan UMY 35 publikasi, Perpustakaan UNISA 18 publikasi, Perpustakaan UMP 4 publikasi, Perpustakaan UNIMUGO 3 publikasi, dan Perpustakaan UAD 2 publikasi. Publikasi KTI tersebut lahir dari para pustakawan yang memiliki kompetensi. Kompetensi adalah kemampuan, pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai perilaku serta karakteristik pustakawan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan secara optimal (Suwarno, 2020). Berdasarkan saran penelitian Farida (2016) pustakawan diharapkan lebih produktif mempublikasikan KTI populernya dan meningkatkan motivasi menulis supaya tidak hanya didasarkan pada pemenuhan Angka Kredit (AK) namun karena dorongan yang muncul dari diri pustakawan. Permasalahan yang dihadapi pustakawan dalam menghasilkan KTI terkait konseptual, kultural dan struktural menyebabkan pustakawan PTKIN tidak produktif (Suwarno, 2020). Susilawati (2018) mengungkapkan terdapat pengaruh antara budaya organisasi dan produktivitas KTI terhadap sistem kenaikan Jabatan Fungsional (jabfung) pustakawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sebesar 61,9%. Berdasarkan ketiga literatur tersebut, terdapat keterkaitan antara produktivitas publikasi KTI pustakawan dengan jabfung pustakawan ASN. Fokus penelitian dalam kajian ini mengenai kompetensi yang dimiliki pustakawan Non-ASN yang selama tahun 20182021 instansinya di FPPTMA Korwil DIYJateng Selatan belum ada yang menerapkan jabfung namun pustakawan aktif melakukan publikasi KTI. Kompetensi publikasi KTI yang dimiliki pustakawan inilah yang mendasari peneliti tertarik untuk mengkaji fenomena ini menggunakan lima karakteristik kompetensi yang terdiri dari motif, karakter, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan (Sutrisno, 2023). Pertimbangan menggunakan karakteristik kompetensi dikarenakan informasi mengenai kompetensi pustakawan dalam publikasi KTI dapat dilihat secara detail meliputi soft skill dan hard skill. Tujuan penelitian untuk mengetahui kompetensi pustakawan dalam publikasi KTI di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan. Kompetensi publikasi KTI pustakawan dapat mendorong pustakawan produktif dalam melakukan publikasi KTI meskipun belum memiliki jabfung. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para pustakawan untuk meningkatkan kompetensi berbagi informasi mengenai pengembangan kepustakawanan memulai publikasi KTI. B. TINJAUAN PUSTAKA Kompetensi memiliki makna kemampuan yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan dengan didasari oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam menyelesaikan suatu pekerjaan berdasarkan standar performa yang sudah ditetapkan (Kementrian Ketenagakerjaan, 2019). –Kompetensi merupakan karakteristik yang mendasari orang dan menunjukkan cara berperilaku atau berpikir, menggeneralisasikan situasi, dan bertahan untuk jangka waktu yang cukup lama (Sutrisno, 2023). Pembagian kompetensi terdiri dari lima karakteristik. Pertama, motif merupakan dorongan secara konsisten dari seseorang untuk berfikir sehingga melakukan tindakan demi mencapai sebuah tujuan. Unsur ini yang akan mendorong, mengarahkan dan memilih perilaku menuju tindakan atau tujuan tertentu dan menjauh dari yang lain. Kedua, karakter merupakan karakteristik fisik dan responrespon konsisten terhadap situasi atau informasi yang mengakar pada diri seseorang. Ketiga, konsep diri dapat diartikan sebagai gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya. Keempat, pengetahuan adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu. Pengetahuan merupakan kompetensi yang kompleks. Kelima, keterampilan adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik secara fisik maupun mental (Lasa Hs, 2017). Pustakawan memiliki makna seseorang yang memiliki keahlian dan keterampilan di bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang diperoleh melalui pendidikan formal maupun non formal dan memiliki sikap pengembangan diri memberikan pelayanan profesional kepada masyarakat (Mustika, 2017). Keprofesionalan pustakawan merupakan sebuah pekerjaan dengan dilandasi pengetahuan secara formal diajarkan dalam pendidikan ilmu pengetahuan (librarianship) agar dapat menunjukkan gagasan-gagasan besar, khususnya yang berkaitan dengan tradisi pustaka (Mukhlis & Nashihuddin, 2020). Tradisi pustaka dapat beragam bentuknya, satu diantaranya berbentuk KTI. KTI digunakan untuk mengemukakan kebenaran melalui metode yang sistematis, metodologis, dan konsisten. KTI memiliki fungsi. Pertama, fungsi pendidikan yang memberikan pengalaman terkait kepenulisan. Kedua, fungsi penelitian sebagai sarana untuk menerapkan prosedur ilmiah dan mempraktikkannya. Ketiga, fungsi fungsional sebagai alat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tambahan bahan pustaka, dan kepentingan praktis di lapangan dalam disiplin ilmu tertentu (Juniarti, 2020). Tradisi pustaka di era modern ini akan berjalan lancar jika pustakawan tidak sebatas menguasai kompetensi tradisional seperti, klasifikasi, katalogisasi, pengadaan koleksi dan sebagainya. Sebaliknya, pustakawan harus memiliki kemampuan kompetensi jaringan. Kompetensi tersebut merupakan keahlian dan ketrampilan seseorang dalam memanfaatkan jaringan. Kemampuan pustakawan untuk mengakses, mengumpulkan, dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas mereka (Aini & Istiana, 2018). Kompetensi menulis pustakawan merupakan bentuk kecakapan pustakawan dalam menginformasikan, mendokumentasikan, dan mengkomunikasikan informasi yang ia miliki. Kecakapan mengolah informasi dan menyebarluaskan inilah yang dapat dijadikan para pustakawan dalam mengolah kata sekaligus merangkainya menjadi sebuah karya tulis yang dapat bermanfaat lebih luas (Hardiningtyas, 2016). Informasi yang tertuang dalam tulisan dapat menginspirasi para pembaca, tidak menutup kemungkinan ilmu yang ada di dalamnya akan diadopsi dan dimodifikasi untuk pengembangan kepustakawanan. Dikutip dari Nashihuddin (2017), informasi yang tertuang di dalam KTI melalui beberapa macam bentuk publikasi. Pertama, buku ilmiah yang memiliki ciri diantaranya dikeluarkan oleh badan usaha atau lembaga penerbitan, memiliki Internasional Standard Book Number (ISBN), melewati proses editorial, dan paling sedikit 49 halaman. Kedua, bunga rampai memiliki ciri diataranya dikeluarkan oleh badan usaha atau lembaga penerbitan, memiliki ISBN, melewati proses editorial. Ketiga, majalah ilmiah/jurnal memiliki ciri diantaranya frekuensi penerbitan minimal dua kali dalam setahun, memiliki Internasional Standard Serial Number (ISSN), memiliki mitra berstari minimal empat orang, diterbitkan secara teratur minimal dua kali dalam setahun, bertiras yang setiap kali penerbitan berjumlah minimal 300 eksemplar, dan minimal lima artikel utama. Keempat, prosiding dengan ciri di antaranya mencantumkan tema dan institusi, memiliki ISSN: seminar berkala; ISBN tidak berkala, dan memiliki minimal dua editor. Publikasi KTI memberikan peluang kepada pustakawan untuk mengeluarkan ide, gagasan, dan inovasinya. Inovasi ini juga merupakan bentuk adaptifnya seorang pustakawan terhadap profesi yang sedang dijalani sekaligus menjadi media sharing knowledge kepustakawanan. KTI menggunakan metode ilmiah di dalam membahas permasalahan, menyajikan kajiannya menggunakan bahasa baku dan tata tulis ilmiah. KTI juga menggunakan prinsipprinsip keilmuan yang lain seperti: bersifat objektif, logis, empiris (berdasarkan fakta), sistematis, lugas, jelas, dan konsisten (Wijaya & Prasetyadi, 2020). Publikasi KTI yang dihasilkan oleh pustakawan memiliki dampak positif. Pertama, kontribusi dalam bidang kepustakawanan. Pustakawan dapat berbagi pengalaman dan ilmu melalui tulisan yang dipublikasikan. Kemampuan pustakawan dalam mengemas informasi dapat menginspirasi dan memotivasi pustakawan lainnya turut serta mengembangkan layanan perpustakaannya. Para pustakawan dapat bertukar ide dan gagasan kepustakawan melalui KTI. Ide dan gagasan yang dihasilkan oleh sebuah perpustakaan dapat diadopsi dan dikembangkan oleh perpustakaan lainnya sehingga proses sharing knowledge-nya lebih maksimal. Kedua, meningkatkan citra kepustakawanan. Pustakawan yang terampil dalam publikasi KTI secara tidak langsung sedang membuat new branding bagi profesi pustakawan. Pustakawan tidak lagi terbatas kepada pekerjaan teknis melainkan mampu menjadi patner informasi bagi para pemustakanya. KTI yang dihasilkan oleh pustakawan dapat mengubah citra pustakawan yang selama ini terbentuk. Pustakawan dapat mempengaruhi pikiran para pembaca melalui konten yang tertera dalam KTI. Ketiga, pengembangan karier pustakawan. Karier pustakawan lebih mudah terbuka dengan adanya pustakawan yang kreatif dan inovatif. Ia mampu mengkreasikan ide dan menghidupkan perpustakaan menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas maupun inovasi pustakawan akan lebih cepat menyebar salah satunya melalui KTI. Khazanah keilmuan kepustakawan yang terhimpun dalam KTI akan mendorong karier pustakawan, sehingga lebih dikenal dan mampu bersaing dengan profesi lainnya. Keempat, meningkatnya eksistensi pustakawan. Pustakawan yang aktif melakukan publikasi KTI memiliki makna sedang berupaya meningkatkan eksistensi pustakawan. KTI bidang perpustakaan perlu dikembangkan untuk menunjang terciptanya atmosfir yang kondusif dalam pengembangan profesionalisme pustakawan. KTI yang dipublikasikan ataupun disimpan di perpustakaan akan menjadi prasasti bahwa pustakawan tersebut pernah hadir dan berkarya. Hal ini menjadi sejarah bagi generasi selanjutnya. Eksistensi pustakawan dapat terukir dalam sejarah melalui publikasi KTI yang telah dihasilkan (Novianto, 2020).

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Pengambilan sampling dalam kajian ini menggunakan teknik snowball sampling yang memiliki makna pengambilan sampel sumber data yang awalnya sedikit menjadi besar dengan pertimbangan data awal yang dimiliki belum dapat menjawab pertanyaan penelitian (Sugiyono, 2019). Berlatar belakang hal tersebut, upaya yang dilakukan selanjutnya yakni menambah sumber data sehingga didapatkan sumber informasi yang lengkap, pasti, dan jenuh. Informan dalam kajian ini adalah pustakawan di FPPTMA Korwil DIYJateng Selatan. Kriteria informan dalam penelitian ini adalah pustakawan yang berada di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan yang sudah aktif melakukan publikasi KTI. KTI para informan sudah terindeks google scholar. Upaya lain untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian, maka informan diperluas kepada pustakawan di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan yang belum pernah sama sekali melakukan publikasi KTI namun memiliki background pendidikan ilmu perpustakaan (S1), dan lebih dari 5 tahun bekerja di perpustakaan. Total informan ada 15 orang yang tersebar dari daerah DIY, Magelang, Gombong, dan Purwokerto. Upaya yang dilakukan untuk melindungi data informan yakni dengan cara memberikan kode/inisial dari nama informan. Teknik pengumpulan data dalam kajian ini melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Pertama, obeservasi yang dilakukan dalam kajian ini adalah observasi terfokus yang sudah dipersempit, dan difokuskan pada aspek publikasi KTI pustakawan di Korwil DIY-Jateng Selatan. Kedua, jenis wawancara yang dilakukan dalam kajian ini adalah wawancara semi tersetruktur atau wawancara mendalam yang bertujuan untuk menemukan permasalahan lebih terbuka dan para informan dapat dimintai pendapat beserta ide-idenya (Sugiyono, 2019). Ketiga, dokumentasi seperti KTI pustakawan (20182021), prestasi pustakawan (2018-2021), catatan dan rekaman selama wawancara. Data mengenai kompetensi pustakawan dalam publikasi KTI di Korwil DIY-Jateng Selatan selanjutnya dianalisis menggunakan model interaktif Miles et al. (2014) yakni kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pertama, kondensasi data dalam penelitian meliputi merangkum hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi berdasarkan pertanyaan penelitian. Kedua, penyajian data yang digunakan untuk memudahkan dalam memahami fenomena yang sedang terjadi. Bentuk penyajian data dalam kajian ini berupa teks naratif, tabel, dan grafik. Ketiga, penarikan kesimpulan yang digunakan untuk menjamin keabsahan dan objektifitas data, sehingga kesimpulan terakhir dapat dipertanggung jawabkan. Uji kredibilitas data dalam kajian ini menggunakan triangulasi yakni dengan cara menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Kajian ini menggunakan triangulasi teknik dengan cara menggabungkan obeservasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama terkait kompetensi pustakawan dalam publikasi KTI di FPPTMA Korwil DIYJateng Selatan, sehingga didapatkan data yang valid.

Result & Discussion

Kompetensi merupakan kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas dengan berbekal pengetahuan, keterampilan, dan kemauan kuat yang berasal dari dalam diri seseorang. Hal yang sama juga di bidang perpustakaan. Upaya untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya, maka pustakawan wajib diikutsertakan dalam pelatihan fungsional dan pelatihan teknis di bidang kepustakawanan. Kompetensi inilah yang akan mendorong terciptanya publikasi KTI berkualitas. Kualitas publikasi KTI yang dimiliki oleh Pustakawan FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan dilatarbelakangi adanya kompetensi yang sudah dimiliki. Meskipun belum ada jabfung, namun pustakawan di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan aktif melakukan publikasi KTI. Melalui KTI, pustakawan dapat bertukar informasi, media study tiru, bahkan dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan branding kepustakawanan. KTI tersebut dapat diakses secara terbuka dan mudah untuk disebarluaskan. Adapun jabaran kerakteristik terkait kompetensi publikasi pustakawan dalam publikasi KTI sebagai berikut: 1. Motif Pustakawan dalam Publikasi Karya Tulis Ilmiah Motif merupakan dorongan secara konsisten dari seseorang untuk berfikir, sehingga melakukan tindakan demi mencapai sebuah tujuan. Kemauan yang tumbuh dalam diri Pustakawan di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan untuk melakukan publikasi KTI didasari pada pemahaman bahwa menulis merupakan media sharing informasi, mengembangkan gagasan, serta menangkap berbagai fenomena baru yang terjadi di ranah kepustakawanan. Melalui KTI, aktualisasi diri pustakawan dapat difasilitasi sekaligus kompetensi ini menjadi pembeda dengan tenaga kependidikan lainnya yang ada di instansinya. Dalam kajian ini, motif pustakawan melakukan publikasi KTI dibagi menjadi dua, yakni: a. Motif Internal Motif internal dari Pustakawan FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan dalam publikasi KTI terbagi menjadi dua yakni untuk kepentingan diri mereka. Pertama, passion menulis KTI. Kedua, kebutuhan berbagi pengalaman/pengetahuan yang dimiliki. Ketiga, tumbuhnya kesadaran untuk aktif memproduksi informasi yang bermanfaat. Keempat, terbukanya peluang untuk meningkatkan karier pustakawan melalui publikasi. Adapun pemantik publikasi yang hadir dari diri pustakawan untuk kepentingan luar dari diri mereka terdiri dari keinginan untuk berkontribusi aktif terhadap instansinya melalui hasil kajian yang menduduki urutan pertama. Kedua, kebutuhan untuk meningkatkan branding instansi. Ketiga, keinginan untuk meningkatkan citra pustakawan dengan banyaknya literatur yang membahas mengenai kepustakawanan. Keempat, keinginan untuk lebih diperhatikan oleh pimpinan melalui publikasi KTI yang dihasilkan pustakawan. b. Motif Eksternal Apresiasi dari instansi memberikan dampak terhadap konsistensi para pustakawan dalam publikasi KTI. Jenis apresiasi dari enam instansi dalam kajian ini tidak sama. Pertama, apresiasi dengan nominal tertentu ketika berhasil melakukan publikasi jurnal. Kedua, apresiasi ketika publikasi di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Ketiga, apresiasi dengan cara memberikan biaya full kepada pustakawan yang berhasil lolos presentasi Call For Papers (CFP) di luar kota maupun luar pulau. 2. Karakter Pustakawan terhadap Publikasi Karya Tulis Ilmiah Karakter merupakan watak yang membuat seseorang berperilaku atau merespon tertentu (Lasa Hs, 2017). Terdapat fenomena aktifnya para pustakawan di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan dalam publikasi KTI meskipun di tahun 2018-2021 belum ada satupun perpustakaan di forum tersebut yang menerapkan jabfung pustakawan. Berikut karakter yang dimiliki oleh pustakawan dalam kajian ini: a. Konsisten Cara yang ditempuh oleh para pustakawan supaya konsisten melakukan publikasi KTI dengan menggali sumber ide yang berpotensi untuk dijadikan bahan tulisan. Pertama, permasalahan keseharian di perpustakaan. Kegiatan ini meliputi membaca masalah yang terjadi di perpustakaan, menguraikan masalah dengan alur yang sistematis untuk mendapatkan solusi, dan membahasakan rangkaian proses tersebut ke dalam tulisan ilmiah. Kedua, membaca referensi terbaru kepustakawanan. Selain mendapatkan informasi yang sedang tren, membaca referensi terbaru juga memberikan peluang supaya informan tidak terjebak dalam tema yang monoton. Novelty dalam kepenulisan juga memegang peranan yang penting. b. Produktif Terdapat berbagai hal yang memantik para pustakawan tetap produktif menghasilkan publikasi. Pertama, keinginan untuk menempa skill menulis. Kegigihan dan tidak putus asa terhadap proses menulis merupakan bentuk produktifnya seorang pustakawan. Kedua, eksistensi diri seorang pustakawan. Melalui publikasi KTI, seorang pustakawan akan lebih dikenal di kalangan profesinya maupun masyarakat luas. Ketiga, mendokumentasikan argumen terkait kepustakawanan. Hal ini sekaligus menjadi dokumentasi jejak abadi karya yang dapat bermanfaat bagi generasi selanjutnya sehingga potongan sejarah peradaban tetap terjaga. 3. Konsep Diri Pustakawan dalam Publikasi Karya Tulis Ilmiah Konsep diri merupakan sikap yang dimiliki oleh pustakawan dalam proses pembuatan publikasi KTI. Keberhasilan para pustakawan dalam proses ini tidak lepas dari soft skill yang dimiliki. Soft skill berkaitan dengan keterampilan yang dimiliki seseorang dalam berhubungan dengan orang lain serta keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri sehingga dapat mengembangkan produktifitas kerja secara maksimal (Abidin, 2020). Konsep diri pustakawan dalam keberhasilannya melakukan publikasi KTI terdiri dari faktor berikut ini: a. Gigih Berdasarkan penuturan para pustakawan, menulis bukanlah perkara yang sederhana mengingat ada rangkaian panjang sebelum tulisan tersebut siap untuk dipublikasikan. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperlancar hal tersebut yakni dapat dengan cara memperbanyak membaca dan berlatih menulis. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi para pustakawan untuk tetap berkomitmen menyelesaikan tulisan. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh para pustakawan dalam menjaga ide menulis tetap fresh. Pertama, berhenti sejenak dalam menulis. Cooling down dan evaluasi bagian mana yang menjadi penghambat dalam menulis. Kedua, membaca ulang referensi terkait. Hal ini sekaligus sebagai pemecah kebekuan ide tulisan. Semakin banyak membaca referensi terkait tema tulisan, maka semakin besar potensi untuk mendapatkan inspirasi ide-ide untuk tulisan. Dalam keseharian, pustakawan lebih sering menggunakan hard competency seperti klasifikasi, membuat katalog, membuat indeks, membuat abstrak, melayani pemustaka, melakukan penelusuran informasi, dan sebagainya. Publikasi KTI membutuhkan soft competency seperti kemampuan manajerial, memimpin, komunikasi, dan membangun hubungan dengan orang lain (Hasan, 2018). Ketika pustakawan mengalami kehabisan ide dalam menyelesaikan KTI, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, mengunci ide-ide pokok KTI ke dalam outline tulisan. Kedua, berdiskusi dengan rekan sejawat. Harapannya dengan adanya diskusi, ide-ide baru dapat bermunculan sehingga permasalahan segera teratasi. b. Komitmen Mayoritas pustakawan dalam penelitian ini bekerja di divisi layanan pemustaka, yang erat kaitannya dengan waktu yang dimiliki untuk menuangkan ide dan gagasan melalui publikasi KTI. Diperlukan strategi job desk-nya tetap berjalan lancar namun tetap bisa menulis. Pertama, menyisihkan waktu khusus untuk menulis selama di jam kerja, semisal di sela-sela jam istirahat. Kedua, mengalokasikan waktu menulis saat di rumah. Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi, jika dilakukan sambil melakukan pekerjaan teknis di perpustakaan maka hasilnya tidak akan maksimal di keduanya. Ketika pustakawan dihadapkan pada tupoksi dan mood menulis KTI di waktu yang bersamaan, maka informan lebih memilih memprioritaskan tupoksi untuk dikerjakan terlebih dahulu. 4. Pengetahuan Pustakawan dalam Publikasi Karya Tulis Ilmiah Pengetahuan tidak hanya sebatas text book yang hanya bisa didapatkan di perpustakaan, ataupun di acara kepustakawanan yang diselenggarakan secara onsite. Saat ini pengetahuan lebih mudah untuk ditemukembalikan. Hal ini memberikan kesempatan bagi para pustakawan untuk mudah menggali pengetahuan kepenulisan seperti mencari topik kajian terbaru, mencari sumber referensi terkait, menggali data, bahkan pustakawan dapat dengan mudah untuk melihat kajian yang sudah lampau. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan dampak perubahan terhadap model transfer pengetahuan. Jika dahulu harus bertatap muka langsung, saat ini pengetahuan dapat diperoleh melalui berbagai macam aplikasi diskusi secara online. Sebagai contoh adalah webinar nasional maupun internasional melalui zoom, konferensi nasional maupun internasional melalui zoom, grup kepustakawan atau komunitas melalui whatsapp, konten di youtube, dan sebagainya. Berikut beberapa sumber pengetahuan yang digunakan pustakawan dalam pengembangan publikasi KTI: a. Lembaga Formal Ada beberapa cara yang digunakan para pustakawan untuk menambah pengetahuan kepenulisan KTI. Pertama, pelatihan. Kedua, diklat. Ketiga, seminar. Ketiga kegiatan tersebut menambah pengetahuan sekaligus meningkatkan keterampilan, produktifitas, hingga prestasi pustakawan. Sudut pandang pustakawan yang rutin mengupdate pengetahuan akan lebih luas, karena adanya proses transfer pengetahuan. Pustakawan dapat mengurai permasalahan kepenulisan melalui pengetahuan yang dimilikinya. Saat ini kegiatan pengembangan pengetahuan tidak terbatas dalam bentuk onsite namun berkembang dalam bentuk online. Hal ini semakin memudahkan pustakawan dalam menambah pengetahuan karena tidak harus datang secara fisik ke tempat penyelenggaraan kegiatan. b. Aplikasi di Internet Cara lain yang dapat ditempuh oleh para pustakawan dalam kajian ini untuk mengembangkan pengetahuan yakni dengan memanfaatkan aplikasi di internet. Pertama, Whatsapp. Saat ini banyak tersedia grup kepustakawan di Whatsapp. Hal ini memudahkan pustakawan untuk terhubung dengan komunitas kepenulisan maupun komunitas kepustakawanan. Kebaruan informasi lebih mudah cepat tersebar sehingga dapat memantik ide baru untuk menulis KTI. Kedua, Mailing List organisasi kepustakawanan yang berpotensi memberikan informasi terbaru terkait tren penelitian yang sedang terjadi. Ketiga, aplikasi Vosviewer yang memiliki fungsi untuk memetakan jaringan bibliometrik publikasi maupun untuk mengisi gap penelitian, sehingga dapat ditemukan novelty penelitian. 5. Keterampilan Pustakawan dalam Publikasi Karya Tulis Ilmiah Kegiatan ini meliputi berpikir analitik (memproses pengetahuan dan data, menentukan sebab dan akibat, mengatur data dan rencana) serta berpikir konseptual (mengenali pola dalam data yang kompleks). Jenis publikasi KTI dalam kajian ini terdiri dari buku ilmiah, bunga rampai, jurnal, dan prosiding. Prosiding paling berbeda di antara ketiga publikasi yang lain dikarenakan prosiding merupakan kumpulan artikel ilmiah hasil dari persentasi pada acara seminar, konferensi, atau pertemuan ilmiah lainnya yang diterbitkan oleh lembaga yang mengadakan konferensi tersebut (Dwiyantoro & Junandi, 2019). Berikut keterampilan yang dibutuhkan pustakawan dalam proses publikasi KTI: a. Keterampilan Komunikasi Kegiatan publikasi KTI tidak dapat dipisahkan dari proses komunikasi. Meskipun konteks menulis, namun keterampilan komunikasi memiliki peran penting dalam kesusksesan publikasi KTI. Pertama, digunakan untuk mencari koneksi atau relasi. Keberhasilan komunikasi ditandai adanya feedback dari komunikan. Para pustakawan melakukan diskusi dengan teman sejawat secara online maupun offline, melalui jalur pribadi maupun grup. Kedua, menggali ide kajian kepenulisan. Dampak dari keberhasilan pustakawan dalam berkomunikasi yakni tumbuhnya ide baru maupun tambahan sumber informasi yang menunjang tulisan para informan. Ketiga, public speaking. Keterampilan ini digunakan pustakawan dalam menunjang presentasi KTI. Penguasaan teknik public speaking mengantarkan informan dalam keberhasilan menyampaikan materi KTI kepada para audiensnya. b. Keterampilan Teknis Penulisan Ilmiah Berdasarkan hasil wawancara dengan para pustakawan, terdapat fenomena bahwa hampir sebagian besar pustakawan pernah mengalami kendala dalam proses penulisan KTI. Upaya untuk memperlancar proses pembuatan KTI, diperlukan keterampilan teknis penulisan ilmiah. Pertama, penguasaan teori. Teori adalah pemikiran rasional dan kumpulan pengalaman yang terbukti secara empiris dan konsisten sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan fenomena. Kedua, metodologi penelitian yang diartikan sebagai langkah ilmiah untuk menghasilkan data valid, reliable dan objektif (Sugiyono, 2019). Ketiga, tata tulis yang terdiri dari pembuatan outline. Hal sederhana ini sangat membantu pustakawan dalam mengunci ide tulisan sehingga tetap fokus, dan tidak melebar. Berdasarkan hasil temuan dan wawancara menunjukkan bahwa motif merupakan karakteristik yang paling kuat dalam pengembangan kompetensi publikasi KTI. Urutan selanjutnya adalah karakter, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan. Motif terbagi menjadi dua yakni internal dan eksternal. Motif internal terbagi dua. Pertama, motif pustakawan untuk dirinya seperti passion, berbagi pengalaman, memproduksi informasi, dan meningkatkan jenjang karier. Kedua, motif pustakawan untuk diluar dirinya seperti berkontribusi aktif terhadap instansi, meningkatkan branding instansi, meningkatkan citra pustakawan, dan keinginan diperhatikan pimpinan. Motif eksternal terdiri dari apresiasi pimpinan, yang terbagi menjadi tiga yakni apresiasi dalam bentuk nominal uang untuk jurnal, dalam bentuk nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang berkaitan dengan gaji berkala, dan dalam bentuk pembiyaan full ketika lolos CFP. Hasil penemuan sebelumnya disebutkan bahwa penulisan KTI pustakawan selalu berkaitan dengan jabfung. Pustakawan diharapkan lebih produktif mempublikasikan KTI populernya dan meningkatkan motivasi menulis supaya tidak hanya didasarkan pada pemenuhan Angka Kredit (AK) namun karena dorongan yang muncul dari diri pustakawan (Farida, 2016). Tahun 2018 terdapat penelitian yang mengungkap bahwa terdapat pengaruh antara budaya organisasi dan produktivitas KTI terhadap sistem kenaikan jabfung pustakawan sebesar 61,9% –(Susilawati, 2018). Kegiatan publikasi ilmiah yang dilaksanakan oleh pustakawan mampu berkontribusi terhadap citra profesi pustakawan, pengembangan karir jabfung pustakawan dan transformasi ilmu pengetahuan bidang kepustakawanan (Novianto, 2020). Sebaliknya temuan ini berlawanan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Publikasi KTI pustakawan di FPPTMA Korwil DIYJateng Selatan didorong oleh kompetensi yang dimilikinya meskipun dalam kurun waktu 20182021 belum ada instansi di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan yang memberlakukan aturan jabfung. Pustakawan di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan dalam melakukan publikasi KTI didorong oleh kompetensi publikasi KTI yang dimilik (intern), bukan karena adanya jabfung pustakawan (ekstern). Penelitian ini masih terbatas, dapat disempurnakan dari sisi metodologinya menggunakan mix method dengan pertimbangan data dapat diperoleh lebih valid dan obyektif. Saran untuk peneliti selanjutnya dapat mengeksplorasi dari sisi demografi dari Korwil lain yang ada di FPPTMA seperti Korwil Jawa Timur yang pustakawannya juga aktif melakukan publikasi KTI. Harapannya dapat memperoleh gambaran yang lebih luas terkait publikasi KTI di lingkup di FPPTMA.

Conclusion

Kompetensi pustakawan dalam publikasi KTI di FPPTMA Korwil DIY-Jateng Selatan dilatarbelakangi oleh adanya dorongan kuat yang berasal dari dalam maupun luar pustakawan. Pustakawan yang memiliki karakter konsisten dan produktif akan menghasilkan publikasi KTI yang berkualitas. KTI merupakan wujud dari bentuk kegigihan dan komitmen pustakawan untuk mengembangkan karier pustakawan. Upaya yang dilakukan oleh pustakawan dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan melalui lembaga formal maupun non-formal dengan cara mengakses sumber informasi yang ada di internet. Keberhasilan publikasi KTI ini tidak dapat dipisahkan dari keterampilan komunikasi pustakawan dan penguasaan teknik penulisan KTI. Karya yang berkualitas akan hadir dari pustakawan yang memiliki kompetensi. Kompetensi inilah yang menjadi pembeda antara satu pustakawan dengan pustakawan yang lain. Terlebih pekerjaan pustakawan erat kaitannya dengan informasi, hal ini semakin membulatkan tekad untuk terus melakukan publikasi supaya terhindar dari terjebaknya rutinitas harian. Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, peneliti memberikan saran untuk pembuatan program kegiatan kepenulisan secara regular yang dapat memfasilitasi pustakawan dalam berkarya.