Kembali
16
1
2014 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 10 · 1 ISSN 2477-0361

Persepsi Mahasiswa Terhadap Komunikasi non Verbal Perpustakaan STIKES Aisyiyah Yogyakarta

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan 'Aisyiyah Yogyakarta

Abstract

Developments in information technology have an impact on librarian non-verbal communication in providing their library services. Many verbal communication is not effective because the communicator does not use non- verbal communication well . It also occurs in STIKES Aisyiyah Yogyakarta , which encourages authors to conduct research deskripstif . Sampling was done randomly , by 10.5 % from 2471 people, which is 260 students. Caputo opinion is used to determine the perceptions of students in non-verbal communication can be shown with five things , namely : 1. Facial expressions and eye contact when communicating , 2. Expressions hand , 3. Expressions position , 4. Voice expression , and 5. Expressions physical appearance . The results showed that students' perceptions of librarian non-verbal communication in STIKES Aisyiyah Yogyakarta is " not good ", indicated by the value of 2.98 ( scale 1-4 ) , so it needs to be an effort to improve it.
Keywords: perception · non-verbal communication · librarians · STIKES Aisyiyah Yogyakarta

Introduction

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi telah mempengaruhi perpustakaan. Penerapan teknologi maju di perpustakaan dapat mengurangi kualitas komunikasi antara pustakawan dengan pemustaka. Kemajuan teknologi scharusnya dapat menjadi media untuk meningkatkan kemampuan komunikasi pustakawan dengan pemustaka sebagai konsumennya. Kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu hal penting dalam memberikan layanan informasi. Segala aktifitas di perpustakaan berkaitan erat dengan kemampuan berkomunikasi, baik antar pustakawan, pimpinan, dan pemustaka. Kemampuan berkomunikasi yang baik menjadi andalan utama pustakawan dalam menghadapi berbagai karakter pemustaka. Kemampuan berkomunikasi pustakawan akan dirasakan oleh pemustaka dalam kegiatan layanan perpustakaan, sebab dalam kegiatan layanan. Menurut Soeatminah, 1992:129, pelayanan merupakan ujung tombak perpustakaan. Pada bagian pelayanan ini hubungan langsung antara pemustaka dengan penyedia jasa. Sulistyo-Basuki (1992:202) mengatakan bahwa sikap anggota dan kelompok pemakai terhadap mformul. pengalaman pemakai, dan lain merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku pemakai terhadap pemanfaatan perpustakaan. Sikap pemakai dapat berupa persepsi mereka terhadap pelayanan sirkulasi yang diterimanya. Komunikasi verbal tidak efektif karena komunikator tidak menggunakan komunikasi non verbal dengan baik dalam waktu bersamaan. Melalui komunikasi non verbal, orang bisa mengambil pesan atau perasaan orang, seperti rasa senang, benci, cinta, kangen dan sebagainya. Penerapan komunikasi non verbal dalam layanan di Perpustakaan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta kurang baik. Contoh: pada saat menjawab pertanyaan pemustaka, pustakawan menjawab dengan nada datar, sambil mengerjakan tugas lain, dan tidak memandang orang yang diajak bicara. Ada pustakawan yang hanya memfokuskan pada aspek berbicara, namun tanpa ekspresi lainnya. Hal ini mengakibatkan komunikasi terlihat dingin, kaku, dan kurang komunikatif. Penampilan pustakawan kurang menarik, wajah kurang berseri, dan kurang menyenangkan. Masih banyak permasalahan pustakawan yang belum mampu menerapkan komunikasi non verbal dalam layanan di perpustakaan. Permasalahan tersebut tidak terjadi apabila pustakawan telah memahami tentang komunikasi non verbal dan mampu menerapkannya kepada pemustaka. 2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap komunikasi non verbal pustakawan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta. 3. Subjek, Objek, Populasi, dan Sampel Penelitian Subjek penelitian mahasiswa, dengan objek penelitian “persepsi mahasiswa terhadap komunikasi non verbal pustakawan STIKES'Aisyiyah Yogyakarta”. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang tidak perlu merumuskan hipotesisnya (Arikunto, 2002:28). Pengambilan sampel dilakukan dengan acak. Menurut (Arikunto, 2002:112) kalau populasinya besar, maka sampel bisa diambil antara 10-15 %. Sampel yang dipilih sebesar 10,5 % dari 2471 orang yaitu 260 mahasiswa (pembulatan). 4. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini bersifat tunggal, yaitu persepsi mahasiswa terhadap komunikasi non verbal Pustakawan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta. Untuk mengetahui persepsi mahasiswa menggunakan pendapat Caputo, 1984: 73, bahwa komunikasi non verbal dapat ditunjukkan dengan lima hal, yaitu: 1. ekspresi wajah dan kontak mata saat berkomunikasi, 2. gesture/ekspresi tangan, 3. ekspresi posisi, 4. ekspresi suara, dan 5. ekspresi penampilan fisik. Sub variabel-sub variabel tersebut kemudian akan dijabarkan menjadi indikator-indikator, yang nantinya digunakan sebagai pertanyaan dalam kuesioner. 5. Metode Penelitian dan Analisis Data diperoleh dari kuesioner yang dikumpulkan dan diolah, untuk dianalisis sesuai dengan data yang dibutuhkan. Analisis data yang digunakan secara deskriptif kuantitatif, yang disajikan dalam teknik tabulasi, dengan rumus: Nilai rerata komuniksi non verbal = Nilai yang didapat Jumlah Responden. Hasilnya dalam skala Likert, menurut Riduan dan Akdon (2006:16) skala Likert bisa digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sckelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Nilai jawaban skala Likert yang akan diperoleh yaitu: 4, untuk hasil jawaban sangat baik, 3, untuk hasil jawaban baik, 2, untuk hasil jawaban tidak baik, dan 1, untuk hasil Jjawaban sangat tidak baik. B. LANDASANTEORI 1. Persepsi Persepsi adalah tanggapan langsung dari sesuatu; proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (Depdikbud, 2002: 863). Menurut Chaplin (2002:358), persepsi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah suatu pendapat atau tanggapan terhadap sesuatu hal setelah melalui suatu proses. 2. Pemakai Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan sebagai lembaga penyedia jasa informasi selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakainya. Pemakai perpustakaan adalah individu yang dapat berdiri sendiri atau kelompok kecil ataupun besar yang semuanya mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi yang berbeda-beda dari masing-masing pengguna itu (Wortman dalam Prasetya, 2002). Menurut Undang-Undang Perpustakaan No.43 Tahun 2007: 3, pemakai mempunyai istilah yang sama dengan pemustaka, yaitu pengguna perpustakaan, baik perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Pemakai yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada mahasiswa di STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta. 3. Konsep Komunikasi 3.1. Pengertian Komunikasi Pengertian komunikasi menurut Webster's New Colleglate Dictionary edisi tahun 1977 dalam Sendjaja, (2010:1.10), yaitu: proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku. Banyak pengertian komunikasi dari para ahli, sehingga Sendjaja, (2010:1.12) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi dalam diri seseorang atau di antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu. 3.2. Prinsip Dasar Komunikasi Proses komunikasi menurut Sendjaya, (2010:2.2) sedikitnya melibatkan empat komponen sebagai berikut: 1. sumber pengirim/komunikator, yaitu seseorang atau sekelompok orang atau suatu organisasi/institusi yang mengambil inisiatif menyanpaikan pesan, 2. pesan, berupa lambang atau tanda seperti katan-kata tertulis atau secara lisan, gambar, angka, atau gesture, 3. saluran, yaitu sesuatu yang digunakan sebagai alat penyampai pesan, misalnya telpon, radio, TV, HP, majalah, koran, dll, 4. penerima/komunikan, yakni seseorang atau sekelompok orang yang dijadikan sebagai penerima pesan. Komponen komunikasi di atas diperlukan dalam melakukan komunikasi, baik secara verbal, menggunakan bahasa dalam pembicaraan ataupun dalam komunikasi non verbal, yaitu komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata. 4. Komunikasi Verbal dan Non Verbal Undang-Undang Perpustakaan No.43 Tahun 2007: 3 menyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Kompetensi berasal dari kata dasar kompeten, yang menurut Depdikbud, (2002: 585), kompeten berarti cakap atau mengetahui, berkuasa untuk memutuskan atau menentukan sesuatu. Sedangkan kompetensi adalah kewenangan untuk memutuskan sesuatu. Menurut Kismiyati, 2013 kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan karakteristik pribadi yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan pada suatu pekerjaan. Menurut UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan : pasal 1 (10), kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek . pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. B Seperti yang tercantum dalam Rancangan Peraturan Pemerintah RI Tahun 2009, yang terdapat dalam pasal 22 ayat 1, disebutkan bahwa putakawan harus memiliki kompetensi profesional dan kompetensi personal. Salah satu kompetensi personal yang harus dimiliki pustakawan adalah keterampilan berkomunikasi (Sudarsono, 2006: 151). Salah satu jenis komunikasi yaitu komunikasi interpersonal, yang merupakan jalinan hubungan interaktif antara dua orang atau lebih, dimana individu mencoba menginterpretasikan makna yang menyangkut diri sendiri, diri orang lain, dan hubungan yang terjadi (Nasir, dkk, 2009: 38). Dalam menjalin komunikasi interpersonal, diperlukan kemampuan seseorang dalam menciptakan sebuah simbol yang dapat diartikan oleh orang lain yang akan terlihat dalam komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. 5. Komunikasi Verbal Pustakawan Jenis komunikasi yang biasa digunakan pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemustaka adalah komunikasi verbal, yaitu komunikasi dengan menggunakan bahasa dalam berbicara. Melalui bahasa, orang akan menginterpretasikan kata-kata secara verbal, sehingga bahasa didefinisikan sebagai sebuah seperangkat kata yang telah disusun secara berstruktur sehingga menjadi himpunan kalimat yang mengandung arti (Cangara H 2006 dalam Nasir, dkk: 149, 2009). Melalui bahasa, seseorang juga mampu mengungkapkan sebuah ide, kesan, dan respon emosional dengan tujuan agar tercipta ikatanikatan dalam kehidupan manusia, serta mempelajari sekeliling kita dalam memahami lingkungan melalui proses interaksi. 6. Komunikasi Non Verbal Pustakawan Sendjaya, (2010: 5.1) memberikan pengertian komunikasi non verbal sebagai “pesan-pesan yang diekspresikan secara sengaja atau tidak sengaja melalui gerakan/tindakan/perilaku atau suara-suara atau vokal yang berbeda dengan penggunaan katakata dalam bahasa komunikasi verbal”. Secara singkat Nasir, dkk, (2009: 151) mengartikan komunikasi non verbal sebagai proses pemindahan atau penyampaian pesan tanpa menggunakan katakata. Adapun fungsi penyampaian kode non verbal adalah: 1. meyakinkan apa yang diucapkan (repetition), 2. menunjukkan perasaan atau emosi yang tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata (substitution), 3. menunjukkan jati diri, sehingga orang bisa mengenalnya (identity), 4. menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna dalam berkomunikasi (Nasir, dkk,2009: 151). Seorang pakar komunikasi, Albert Mahrabian (1981) dalam bukunya yang berjudul Silent Massage: Implicit Communication of Emotions and Attitudes dalam Sendjaja, 2010: 5.1, menegaskan bahwa makna dari setiap pesan komunikasi mencakup: 7% berupa pernyataan verbal, 3896 bentuk vokal, dan 55% merupakan ekspresi wajah. Ekspresi wajah termasuk salah satu bentuk komunikasi non verbal, sebab bentuk komunikasi non verbal juga bisa berupa gesture (ekspresi tangan, kaki, dan tubuh), ekspresi postur (sikap duduk dan berdiri saat berkomunikasi), ekspresi posisi, ekspresi suara, dan penampilan fisik. Pustakawan harus memperhatikan komunikasi non verbal pada saat berkomunikasi dengan orang lain, terlebih saat melakukan komunikasi dengan pemustaka. Bentuk komunikasi non verbal yang dapat diterapkan oleh pustakawan, menggunakan pendapat dari Sendjaja, (2010: 5.23), yang menyebutkan bahwa ada 5 dimensi dalam komunikasi non verbal, yaitu: 1) komunikasi tubuh/gesture komunikasi ruang/posisi, 2) komunikasi ruang, 3) diam, 4) paralanguange, yang mencakup volume suara, ritme, resonansi, rintihan, mengaduh, suarasuara “uhh..eee..engg, dll, dan 5) tinggi rendah suara, serta komunikasi temporal waktu. Mengubah perilaku komunikasi non verbal lebih sulit dari pada mengubah perilaku komunikasi verbal, sebab komunikasi non verbal sering tidak kita sadari. Caputo, (1984: 121) berpendapat bahwa komunikasi non verbal pustakawan sangat diperlukan sebab akan mencerminkan asertifitas pustakawan. Pendapat tersebut lebih spesifik untuk aplikasi komunikasi non verbal di perpustakaan, sehingga penulis lebih memilihnya sebagai instrumen yang digunakan untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap komunikasi non verbal pustakawan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta. Lima dimensi komunikasi non verbal tersebut sebagai berikut: 1. Ekspresi Wajah Ekspresi wajah pustakawan dapat terlihat saat berkomunikasi dengan pemustaka yang mencakup ekspresi muka, kontak mata, gerakan alis, atau penggabungan dari berbagai isyarat seperti tersenyum, mengernyitkan kening, menggigit bibir, mengunyah, dan lain-lain. Masing-masing mempunyai arti tersendiri, yang akan mempengaruhi komunikasi verbal yang disampaikan. Ekspresi wajah yang tenang, murah senyum, kontak mata dengan pemustaka, anggukan kepala, menunjukkan perilaku komunikasi non verbal. 2. Gesture/Ekspresi Tangan . Ekspresi ini meliputi gerakan tangan, jabat tangan, dan sentuhan. Menurut Caputo, 1984: 125, cara tangan kita bergerak dan memberikan isyarat dapat mendukung atau justru menghambat pesan verbal yang disampaikan. Oleh karena itu perlu diperhatikan gerakan tangan atau sentuhan yang membuat orang lain nyaman dan meningkatkan komunikasi yang sedang berlangsung. 3. Ekspresi Posisi Ekspresi posisi meliputi postur dan jarak ketika berkomunikasi. Cara kita bergerak dan memberikan isyarat, juga dapat mendukung atau justru menghambat pesan verbal yang disampaikan. Posisi dan jarak ketika berkomunikasi harus diperhatikan untuk mewujudkan komunikasi yang efektif. 4. Ekspresi Suara Ekspresi Suara meliputi nada suara, intonasi, kecepatan berbicara, jeda di antara kata (ritme), volume suara, dan tetap melakukan kontak mata saat jeda dalam berbicara. Ekspresi suara akan mendukung terciptanya komunikasi yang baik. 5. Ekspresi Penampilan Ekspresi Penampilan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, yang dapat dilihat dari pilihan baju yang dikenakan, bagaimana mengatur ruang kerja dan furnitur kantor, lingkungan fisik yang terlihat, dan sarana prasaranya. Tabel di bawah ini akan menjelaskan tentang pentingnya kemampuan komunikasi non verbal bagi pustakawan (Caputo, 1984: 139). Tabel 1 Bahasa Tubuh dalam Komunikasi Non verbal 7. Persepsi Mahasiswa Terhadap Komunikasi Non Verbal Pustakawan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta Tulisan ini akan menguraikan persepsi mahasiswa terhadap komunikasi non verbal pustakawan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta. Unsurunsur pembentuk perilaku komunikasi non verbal pustakawan dalam penelitian ini digunakan sebagai sub variabel penelitian. Masing-masing elemen dari unsur komunikasi non verbal akan diuraikan lebih lanjut sebagai indikator-indikator yang digunakan dalam pertanyaan kuesioner kepada mahasiswa.

Conclusion

SIMPULAN 1. Persepsi mahasiswa terhadap dimensi ekspresi penampilan wajah pustakawan belum baik, dengan nilai 2.90 (skala 1-4). 2. Persepsi mahasiswa terhadap dimensi ekspresi penampilan tangan pustakawan mendekati baik, dengan nilai 2.99 (skala 1-4). 3. Persepsi mahasiswa terhadap dimensi ekspresi posisi/postur pustakawan mendekati baik, dengannilai 2.97 (skala 1-4). 4. Persepsi mahasiswa terhadap dimensi ekspresi penampilan suara pustakawan sudah baik, dengan nilai 3.01 (skala 1-4). 5. Persepsi mahasiswa terhadap dimensi ekspresi penampilan fisik pustakawan sudah baik, dengan nilai 3.04 (skala 1-4). 6. Sebagian besar persepsi mahasiswa “belum baik” terhadap komunikasi non verbal pustakawan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta, dengan nilai rerata sebesar 2,98 (skala 1-4), namun sudah mendekati nilai baik. SARAN 1. Pustakawan perlu meningkatkan kualitas komunikasi kepada pemustaka terutama komunikasi non verbal. 2. Perlu meningkatkan dimensi kualitas ? komunikasi non verbal yang didukung oleh komunikasi verbal guna memberikan layanan yang berkualitas