Peran Baru Pustakawan dalam Implementasi serta Penguasaan Teknologi Informasi di Perpustakaan
Universitas Sebelas Maret
Abstract
The purpose of this paper is to examine the role of librarians in the implementation of new information technology and the importance of mastery of information technology for librarians. Data collected through content analysis approach (content analysis) to research and journals related to the role of librarians and information technology, as well as the methods of scientific observation. Content analysis is a research method used to determine the conclusion of a text. The new role of a librarian is an expert in the field of information technology that supports information, including programming languages networking, webmaster and computer technicians. This expertise makes the library does not rely on other experts, but can overcome the common problems in the field of information technology, because basically mastery of technology and language is a necessary condition for any profession.
Keywords:
information technology
· the role of the librarian
· librarian expertise
Introduction
A. PENDAHULUAN Dalam era modern ini, peran teknologi dalam meningkatkan kehidupan masyarakat sangat besar sekali. Teknologi informasi telah menjadi bagian dari kelangsungan kehidupan manusia yang tak terpisahkan, Teknologi telah berkembang pesat serta memberikan kemudahan serta efisiensi waktu dalam membantu kinerja manusia, perkembangan teknologi telah diprediksi akan jauh melebihi ekspektasi karena di berbagai aspek kegiatan manusia menjadi tergantung dan sangat membutuhkan teknologi dalam pelaksanaannya, sehingga memicu para Ilmuwan terus mengembangkan teknologi bagi manusia. : Perkembangan information communication technology (ICT) yang cepat telah membuat masyarakat dapat mengakses informasi secara cepat, sekat-sekat informasi secara perlahan akan menghilang oleh sifat dasar individu yang ingin mengetahui lebih jauh apa aktivitas informasi di sekitarnya. Perkembangan TI memungkinkan Setiap orang dapat mengakses sumber informasi dimanapun di dunia ini, hal ini tentu membawa Konsekuensi tersendiri yaitu masyarakat menjadi kritis dan tanggap terhadap hal-hal yang berkembang dan menjadikan informasi sebagai suatu kebutuhan. Kebutuhan akan teknologi informasi dan komunikasi dalam aktivitas sosial merupakan suatu hal yang pokok, pengembangannya dianggap sebagai solusi dari berbagai keterbatasan atau permasalahan yang ada, sehingga eksistensi ICT dalam memberikan kontribusi terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidak dapat dipungkiri. Seperti yang kita ketahui bahwa di era serba modern seperti saat ini, peran teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari tentunya sangat berpengaruh. Hal ini tidak terlepas dari aktivitas kita yang sering kali ditunjang dengan teknologi informasi itu sendiri yang mampu menjawab tuntutan pekerjaan yang lebih cepat, mudah, murah, dan efisien. Perkembangan informasi yang cepat menyebabkan informasi perlu dikelola dengan suatu sistem tertentu yang memanfaatkan ICT dalam manajemennya. Perpustakaan sebagai pusat "informasi dalam perkembangan dihadapkan aplikasi ICT dalam mengelola informasi. Pengelolaan informasi dengan ICT memungkinkan informasi dapat dikelola dengan baik dan menunjang penelusuran informasi dengan mengaplikasikan ICT dalam kinerjanya. Sebagai pusat informasi, perpustakaan saat ini banyak mengadopsi teknologi informasi yang cukup canggih untuk fungsi manajemen, schingga aktivitas penelusuran informasi menjadi lebih cepat dan tepat. Namun, kecanggihan teknologi informasi saat ini memberikan tantangan tersendiri di kalangan pustakawan, karena sebagian besar pustakawan hanya bertindak sebagai pengguna sehingga kurang memahami secara teknis proses aplikasinya. Beberapa periode tahun lalu aktivitas teknologi informasi di perpustakaan masih dipegang oleh orang-orang di luar bidang perpustakan yang sesuai dengan bidangnya yaitu praktisi teknologi informasi. Hal ini karena ilmu perpustakaan yang diperoleh saat itu hanya khusus pengelolaan informasi dan sedikit sekali pada aplikasi teknologi. Namun saat ini perpustakaan dihadapkan pada kebutuhan akan teknologi informasi cukup besar dan selalu update. Otomatis karena kebutuhan tersebut tidak dapat mengandalkan lagi stafF IT di bidangnya untuk menghandle sistem yang tertanam di perpustakaan. Hal ini terjadi setelah sistem berjalan maka pekerjaan dianggap selesai dan staf TI akan melepas seluruh tanggung jawabnya pada pustakawan. Sesungguhnya tidak semua pustakawan siap untuk menerima beban tersebut, aplikasi IT di perpustakaan selalu berkembang. Penggunaan TI sehari-hari mungkin menemui berbagai permasalahan sistem yang berupa wupdate, Bug maupun error dalam penggunaan. Pada kasus tersebut perpustakaan membutuhkan praktisi TI untuk selalu mengawal operasionalnya. Permasalahannya tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga atau sumber daya manusia yang memadai. Hampir semua perpustakaan terbatas dalam hal dana dan sdm. Untuk itu kompetensi pustakawan harus ditingkatkan mengikuti kebutuhan dengan cara memasukkan keilmuan teknologi informasi sebagai bagian dari skill yang wajib dimiliki oleh pustakawan. Berdasarkan uraian di atas, timbul suatu pemikiran bahwa keilmuan teknologi informasi saat ini merupakan syarat wajib yang harus dimiliki oleh pustakawan. Untuk itu perlu dibuat sebuah kajian keilmuan bidang teknologi informasi bagi pustakawan agar mampu exist tanpa harus tergantung pada tenaga lain seperti teknisi teknologi informasi. i A. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: bagaimanakah peran baru pustakawan dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan? Pada karya ini hanya dibatasi pada lingkup peran pustakawan dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan. B. Tujuan Dan Manfaat Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran baru pustakawan dalam implementasi teknologi informasi dan memberikan masukan untuk pustakawan mengenai pentingnya penguasaan teknologi informasi untuk pustakawan. Sedangkan manfaat penelitian ini adalah sebagai kajian terhadap peran baru pustakawan dalam kaitannya dengan implementasi teknologi informasi di perpustakaan, pustakawan hendaknya mempunyai keahlian secara mutlak di bidang ilmu perpustakaan serta teknologi informasi. C. Landasan teori Berbagai peneliti bidang kepustakawanan dan ilmu perpustakaan mengemukakan berbagai pendapat, diantaranya: Menurut Latham (2000) dan Anwar Nath (2007) setiap pustakawan seharusnya familier dengan kemampuan komputer yang meliputi Word Processing, Spreadsheet, Database, bahkan kemampuan yang lebih spesifik seperti Install Software komputer serta jaringan. Saunders-McMaster (1997) mengatakan bahwa pustakawan juga sebagai webmaster harus mempunyai pengetahuan tentang aplikasi HTML (Hypertext Markup Language), tables, browsers, graphic placement, CGI (Common Gateway Interface) programming, UNIX and Java Berdasarkan berbagai teori di atas dapat disimpulkan bahwa pustakawan seharusnya menguasai berbagai aplikasi teknologi informasi baik berupa aplikasi perpustakaan maupun teknologi terapan yang dalam sehari-hari dijumpai seperti perbaikan komputer yang mencakup hardware, software maupun jaringan. Teknologi informasi saat ini memegang peranan penting dalam menunjang layanan perpustakaan. Berbagai aplikasi terapan di perpustakaan dibakukan untuk menunjang kemudahan dalam memberikan layanan. Menurut Abdul Kadir (2003) secara garis besar peranan Tl adalah: a. TI menggantikan peran manusia, di mana TI melakukan otomasi terhadap suatu tugas atau proses. b. Teknologi memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan informasi terhadap suatu tugas atau proses. c. TI berperan dalam restrukturisasi terhadap peran manusia. Teknologi berperan dalam melakukan perubahan-perubahan terhadap sekumpulan tugas atau proses.
Method
Pengkajian peran baru pustakawan dalam implementasi teknologi informasi dan pentingnya penguasaan teknologi informasi untuk pustakawan dilaksanakan pada bulan Januari 2014. Pengumpulan data dilakukan melalui pendekatan analisis isi (content analysis) terhadap penelitian serta jurnal yang berkaitan dengan peran pustakawan dan teknologi informasi, serta dengan metode pengamatan ilmiah. Analisis isi merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui simpulan dari sebuah teks. Atau dengan kata lain, analisis isi merupakan metode penelitian yang ingin mengungkap gagasan penulis yang termanifestasi maupun yang laten. Analisis isi adalah suatu teknik untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih, dengan memperhatikan konteksnya. Model analisis isi bukan hanya mengetahui bagaimana isi teks berita, tetapi bagaimana pesan itu disampaikan hingga bisa melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks. Pengamatan ilmiah adalah proses sistematik dari pencatatan pola-pola perilaku manusia, objek, dan peristiwa tanpa bertanya atau berkomunikasi dengan mereka. Metode ini merupakan kegiatan yang dilakukan sendiri oleh pengamat, tanpa mesti mengikutsertakan partisipasi langsung objek pengamatan. Pengamatan merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan, manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakan yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir, dengan pengamatan manusia dapat menghasilkan suatu pengetahuan. Secara umum dapat juga dipahami, bahwa pengamatan adalah hasil tanggapan dari indera terutama mata terhadap objek tertentu sehingga menimbulkan kesan pada rasio (nalar) tentang pengertian. Indera merupakan salah satu alat untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.
Result & Discussion
1. Peran Pustakawan di Era Teknologi Informasi Pada dasarnya peran pustakawan sangat banyak dan luas, peran pustakawan tradisional sejak dulu hanya berkisar di dalam perpustakaan yang meliputi pekerjaan rutin yang ada di perpustakaan, belum menyentuh aspek teknologi atau yang lebih luas. Akibatnya pustakawan menjadi “gaptek” teknologi informasi terutama aplikasi. Jadi pustakawan hanya berperan sebagai user aplikasi atau dengan kata lain operator tanpa memahami sistem yang berjalan di komputer. Berbeda halnya dengan saat ini kegiatan pustakawan menyentuh semua bidang ilmu yang ada melalui layanannya sehingga peran pustakawan juga berkembang seiring perkembangan ilmu dan teknologi. Selain peran sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan juga mempunyai peran lain, Fourie's mengemukakan peran lain seorang pustakawan sebagai berikut: penerbitan negosiator mengajar menasehati meneliti manajemen arsip scanning lingkungan identifikasi aktif celah pasar baru, dan FEMme penelitian tindakan. a0 OB Berbagai peran yang dikemukakan Fourie's dapat dilihat bahwa peran tersebut belum menyentuh aspek teknologi informasi, padahal saat ini teknologi informasi memegang peranan pokok dalam dunia perpustakaan, terlebih dengan adanya transformasi Digital Library menjadikan kebutuhan akan kemampuan teknologi informasi menjadi sangat penting, karena dalam keseharian akan bekerja dengan software aplikasi, website, metadata serta hal teknis seperti perbaikan komputer. Berbagai topik kegiatan perpustakaan yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi informasi diantaranya : a. “Sirkulasi, Kegiatan sirkulasi yaitu peminjaman dan pengembalian koleksi, setelah mendapat sentuhan teknologi dengan adanya aplikasi software seperti senayan, anthem light, dan lain-lain, pekerjaan menjadi lebih ringan. Proses manual dengan metode pencatatan dan kartu peminjaman menjadi sistem scan barcode, atau bahkan lebih maju lagi dengan penerapan Radio-frequency identification (RFID), otomatis akan meningkatkan kinerja perpustakaan dalam memberikan layanan. b. Laporan; Berbagai fitur dalam aplikasi teknologi informasi memungkinkan dihasilkan statistik data yang penting yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk manajemen. c. OPAC; Kegiatan penelusuran informasi di perpustakaan menjadi suatu hal yang mudah dengan adanya online public acces catalogue atau katalog online, sehingga cukup dengan kata kunci judul atau pengarang maka koleksi yang dikehendaki cepat diketahui statusnya atau keberadaannya. d. Pengolahan; Adanya fitur pengolahan, berdampak efisiensi pada waktu mengolah bahan pustaka sehingga informasi secara cepat tersaji ke pemustaka. Dengan adanya dukungan teknologi informasi maka waktu untuk mengerjakan pekerjaan rutin seperti membuat katalog, label dan pencatatan menjadi berkurang karena ketika menggunakan aplikasi, maka sekali input data koleksi maka akan dihasilkan secara otomatis label beserta barcode identitas sehingga pustakawan tinggal mencetaknya. e. Pendaftaran Anggota; Keanggotaan perpustakaan akan tertata dengan rapi dengan adanya aplikasi karena dapat dipantau dari berbagai laporan keanggotaan. Selain itu pendaftaran anggota akan secara otomatis menghasilkan kartu anggota yang tinggal mencetak sehingga memudahkan pustakawan dalam memberikan layanan kepada anggota. 2. PekanBaru pustakawan Seiring dengan perkembangan teknologi dan dunia perpustakaan maka peran baru pustakawan yaitu penguasaan secara menyeluruh bidang teknologi informasi. Selama ini ilmu perpustakaan belum begitu berkaitan secara total dengan teknologi informasi, sehingga pustakawan kurang menguasai secara menyeluruh. Beberapa pustakawan saat ini juga menjadi ahli teknologi informasi aplikasi yang diperoleh dari otodidak atau pengembangan secara mandiri. Sebagai contoh pengembang software Slim Senayan serta komunitas yang mengkaji hampir di tiap wilayah kota-kota di Indonesia. Hal ini secara tidak langsung mengedukasi kepada pemerhati pustakawan serta pustakawan akan pentingnya kemampuan teknologi informasi, karena tanpa kemampuan TI maka aktivitas penelusuran informasi akan lambat dan tidak bisa mengikuti kebutuhan pemustaka. Pola pembinaan teknologi informasi untuk pustakawan harus dimulai dari dasar atau ada program khusus yang menyertai library science untuk pelatihan di bidang teknologi informasi di tempat kuliah. Dasar di sini berarti bahwa pada awal semester perkuliahan atau pelatihan, kemampuan TI harus sudah ada target dan dapat diukur untuk menghasilkan lulusan dengan kemampuan merata. Audison. (2003) berpendapat bahwa program akademik modern di Library information Science harus bertujuan untuk menciptakan "pustakawan lengkap", Sementara Fourie (2004) menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada hal-hal teknis Ilmu Perpustakaan, seperti penciptaan dari perpustakaan digital, tetapi juga harus berorientasi pada pengembangan survival dan keterampilan afektif. Mengenai sisi pendidikan dari masalah Missingham (2006) menunjukkan bahwa dalam prosedur lingkungan modern dan praktek dalam pendidikan harus konvergensi dengan yang ditémukan dalam lingkungan kerja yang sebenarnya. Menurut Audunson (2003) bahwa pendidikan menciptakan “pustakawan lengkap” yang berarti pustakawan yang mempunyai kemampuan mutlak di bidang library science ditambah dengan penguasaan teknologi informasi. Ketika seorang pustakawan “lengkap” terjun dalam dunia kerja maka tidak menemui hambatan yang berarti. Kajian library science juga mencakup teknologi informasi. Jadi peran baru seorang pustakawan yaitu sebagai ahli di bidang teknologi informasi yang mendukung informasi, diantaranya bahasa pemrograman, jaringan, webmaster serta teknisi komputer. Keahlian ini membuat perpustakaan tidak bergantung pada ahli lain namun dapat mengatasi permasalahan umum di bidang teknologi informasi, karena pada dasarnya penguasaan teknologi dan bahasa merupakan syarat mutlak untuk setiap profesi Sedangkan menurut Arok Mary (2012) pustakawan harus mengembangkan diri dengan tujuan agar: a. Mampu membantu siswa untuk mencari, mengakses dan mengevaluasi informasi secara efektif dan efisien. b. Mengambil keputusan yang lebih baik di hari ke hari kerja. c. Mempunyai kontribusi terhadap pertumbuhan dan pengembangan lembaga. d. Update pengetahuan dan keterampilan dan penggunaan optimal teknologi mereka sendiri. e. Untuk memberikan nilai tambah layanan perpustakaan. f. Memahami dan melakukan riset mereka sendiri. g. Bertahan di dunia yang kompetitif
Conclusion
Kesimpulan : a. Peran baru seorang pustakawan saat ini adalah selain sebagai ahli di bidang informasi juga ahli di bidang teknologinya, sehingga pustakawan saat ini selain menguasai ilmu perpustakaan juga harus menguasai teknologi informasi secara keseluruhan untuk mendukung penelusuran informasi b. Teknologi informasi yang harus dikuasai pustakawan diantaranya aplikasi perpustakaan, programming, webmaster serta teknisi komputer. Dengan kombinasi keahlian tersebut pustakawan mampu mempunyai peran baru sebagai ahli informasi serta teknologi informasi. Saran a. Kemampuan Teknologi informasi yang diperoleh selama mempelajari ilmu perpustakaan memang sedikit, namun calon pustakawan harus menempuh cara lain diantaranya otodidak atau mengikuti pelatihan pelatihan di bidang teknologi informasi sehingga meningkatkan skill pustakawan . b. Lembaga pendidikan atau institusi perpustakaan dapat berperan dalam mendukung peningkatan kemampuan teknologi informasi pustakawan dengan menyelenggarakan pelatihan secara rutin kepada pustakawan serta calon pustakawan, sehingga ada upaya upgrade skills.