Kembali
16
1
2015 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 11 · 1 ISSN 2477-0361

Analisis Sitiran Karya Ilmiah Pustakawan Indonesia pada Jurnal Visi Pustaka Tahun 2008-2013

Universitas Gadjah Mada

Abstract

The study aims: (1) to discover the scientific papersof librarians in the journal of Visi Pustaka published in 2008-2013, (2) to know the percentage of use of the scientific papersof librarians in the Jorm of either articles or books, (3) to know the relevance and use of the title in the articlesand scientific papers cited in Visi Pustaka (4) to know the currency of the scientific papersof librarians cited in Visi Pustaka published in 2008-2013. The study was descriptive, using Visi Pustaka published in 2008-2013 as a subject, and scientific paperswritten by librarians cited in Visi Pustaka as an object. Data were obtained through documentation and analyzed using citation analysis. The result of the study showed: (1) there were 204 titles of scientific paperscited in Visi Pustaka, consisting of 78 titles in the form of textbooks and 126 in the form of articles. Out of 204 scientific papers, 109 were written by librarians comprising 31 titles in the form of textbooks and 78 titles in the form articles; (2)frequencyof book citationwas 11 times (5.39%) written by Sulistyo-Basuki, 10 (4.90%) by Lasa Hs, 8 (3.92%) by Putu Laxman Pendit, 8 (3.92%) by Abdul Rahman Saleh and Sutarno NS, 4 (1.96%) by Sihabbudin Qalyubi, 3 (1.47%) by Soeatminah and Wahyu Supriyanto, 2 (0.98%) by Towa P. Hamakonda and Pawit M Yusup and 1 (0.49%) by others. Meanwhile in terms 0f articles 14 times (6.86%) were written by Sulistyo-Basuki, 8 (3.92%) by Sri Purnomowati, 5 (2.45%) by Putu Laxman Pendit, 3 (1,47%) by 6 librarians namely Arif Surachman, Sri Hartinah, Hernandono, Neneng Komariah, Ida Fajar Priyanto, and Yaniasih, 2 (0.98%) by 12 librarians and 1 (0.49%) by 57 others; (3)there was relevance between subject of the title of the scientific papers and the title of the articles in Visi Pustaka publised in 2008-2013 whereby most of the cited works were used to support a study and some others were used as a reference (theoretical approach);(4) as many as 166 cited works (81.37%) were current publications and 38 cited works (18.63) were not current.
Keywords: citation analysis · librarians · scientific papers

Introduction

Salah satu kegiatan pustakawan menurut Kepmenpan No. 132 tahun 2002 yaitu pengembangan profesi yang diantaranya membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Sementara itu bobot nilai angka kredit kegiatan membuat karya ilmiah berkisar 2-12,5 sesuai tingkatannya seperti dimuat dalam PerKa perpusnas RI No 2 Tahun 2008. Visi Pustaka sebagai salah satu publikasi yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), merupakan publikasi yang memuat artikel atau tulisan para pustakawan di Indonesia maupun pemerhati perpustakaan dari dalam maupun luar negeri. Tidak menutup kemungkinan artikel yang dimuat pada publikasi tersebut dirujuk oleh penulis lain, demikian pula sebaliknya penulis artikel pada Visi Pustaka juga merujuk dokumen lain di luar publikasi tersebut. Beberapa alasan seseorang merujuk dokumen Iain, diantaranya adalah: memberi penghormatan kepada penulis di bidangnya, identifikasi metodologi atau pendekatan teori, sebagai latar belakang atau bacaan bagi penulis yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai topik yang ditulis. Koreksi karya sendiri atau karya orang Lain yang telah diterbitkan sebelumnya, memperkuat suatu temuan, dan sebagai panduan bagi mereka yang ingin mendalami topik tulisan yang dirujuk (Garfield, dalam Hartinah, 2002). Dokumen atau literatur literatur yang merujuk pada sebuah artikel kemudian dikumpulkan menjadi satu dan disebut dengan daftar pustaka, kepustakaan, bibliografi, atau referensi dan sebagainya. Pada setiap penerbitan Visi Pustaka disertakan pula ketentuan atau petunjuk bagi penulis, diantaranya penulisan “daftar pustaka”, hal ini menunjukkan bahwa daftar pustaka dibutuhkan dan memiliki peran dalam membuat sebuah artikel. Berkaitan dengan peranan tersebut, pertanyaan yang diajukan pada kajian ini adalah: bagaimana pemanfaatan karya ilmiah pustakawan yang dirujuk artikel-artikel yang dimuat Visi Pustaka periode 2008-2013. Penulisan karya ilmiah tidak dapat melepaskan diri dari keharusan menggunakan berbagai sumber literatur bahan pustaka sebagai kutipan atau sitiran. Bahan pustaka itu digunakan untuk mendukung uraian penulisan, analisa atau sekurang-kurangnya dirangkaikan dengan buah pikiran peneliti menjadi suatu bangunan uraian teoritis. Biasanya sumber literatur yang dikutip atau .disitir dicantumkan pada daftar pustaka/daftar referensi setiap karya ilmiah atau dalam suatu terbitan. Sitiran digunakan peneliti sebagai sandaran ilmiah untuk mengurangi objektivitas sehingga tingkat subjektivitasnya tinggi dan meningkatkan kualitas karya ilmiahnya. Dalam kajian informasi terhadap daftar kepustakaan salah satunya dikenal dengan analisis sitiran (citation analysis). Analisis sitiran digunakan untuk mengukur pengaruh intelektual keilmuan dari pengarang yang disitir, karena beberapa studi sitiran literatur digunakan untuk mengetahui karakteristik komunikasi ilmu pengetahuan dan banyak aspek kualitatif dari penelitian dan publikasi. Pembahasan kajian sitasi menjelaskan bagaimana sebuah dokumen disitasi di dokumen lain karena dokumen yang disitasi itu menyediakan informasi yang relevan terhadap riset yang sedang dilakukan, misalnya dalam hal metode penelitian, landasan pemikiran, dan sebagainya. Sitasi dapat dilakukan sebagian ataupun menyeluruh, apabila diasumsikan bahwa semua sitasi bersifat serupa dalam hal sumbangannya kepada artikel pensitasi, maka ada beberapa kecenderungan yang dapat diperoleh: 1. Semakin sering sebuah dokumen dikutip, maka semakin besar dokumen itu memberi kontribusi informasi, dan semakin besar pengaruhnya pada penelitian yang sedang diinformasikan di dalam dokumen hasil sitasi. Ukuran dari pengaruh atau dampak (impact) ini adalah jumlah sitasi. 2. Berapa kali sebuah dokumen disitasi dalam satu rentang waktu tertentu menunjukkan berapa banyak informasi di dalam dokumen tersebut berguna untuk sebuah riset. Jika frekuensinya menurun, maka dokumen tersebut semakin tidak relevan, sampai akhirnya menjadi usang (obsolete). Rumusan masalah dalam kajian ini adalah: a. Apa sajakah publikasi karya ilmiah pustakawan yang dimanfaatkan dalam artikel Visi Pustaka? b. Berapa persentase pemanfaatan masing masing publikasi karya ilmiah pustakawan dalam Visi Pustaka? c. Apakah ada kesesuaian antara subjek judul publikasi karya ilmiah pustakawan dengan judul artikel yang disitir pada Visi Pustaka, dan apa manfaatnya dalam artikel yang menyetirnya? d. Bagaimana kemutakhiran publikasi ilmiah pustakawan yang dimanfaatkan dalam Visi Pustaka? Beberapa kajian analisis penggunaan literatur untuk rujukan yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Febriani (2015), Irianti (2013), Junandi (2010), Hasugian (2008), dan Istiana (2007). Mereka mengkaji penggunaan literatur pada karya-karya ilmiah berupa laporan penelitian, tesis dan disertasi. Sementara kajian penggunaan literatur pada jurnal antara lain dilakukan oleh Parlina (2012) pada jurnal kedokteran perguruan tinggi, dan Kurniawan (2012) pada Jurnal Fihris Sedangkan asumsi dasar kajian ini, adalah bahwa semua publikasi ilmiah pustakawan yang dimanfaatkan dalam artikel Visi Pustaka benar benar dimanfaatkan oleh penulis, baik dalam bentuk buku atau artikel. Pengertian “dimanfaatkan” maksudnya adalah bahwa publikasi ilmiah pustakawan yang disitir dan tercantum dalam daftar pustaka artikel dimanfaatkan dalam mendukung publikasi ilmiah tersebut . . Fungsi Jurnal dalam Penelitian Sesuai dengan Keputusan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) No.81/Kep/H.10/1983 tentang — Tata Tertib Publikasi, jurnal adalah majalah yang memuat informasi mengenai hasil kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam majalah ini berisi kumpulan pengetahuan baru, pengamatan empiris dan pengembangan gagasan atau usulan. Juga dijelaskan bahwa aplikasi ini berfungsi sebagai media komunikasi yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan karena memuat informasi terbaru. Bagi para ilmuwan, media ini dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidangnya, dan sekaligus sebagai wadah bagi mereka untuk melaporkan hasil penemuan- serta buah pikirannya. Sementara itu menurut Sulistyo-Basuki (2002), jurnal merupakan: (a) media paling penting dalam komunikasi ilmiah, (b) merupakan pengetahuan publik, dan (c) arsip umum yang dapat dibaca oleh siapa saja. Peningkatan kuantitas literatur ilmiah serta kemudahan memperoleh informasi sangat menunjang perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan terus meningkatkan produktivitas ilmuwan dalam melakukan penelitian, percobaan dan inovasi. Meningkatnya produktivitas karya ilmiah yang dihasilkan ilmuwan akan mendorong terbitnya media komunikasi ilmiah yang mengkomunikasikan hasil kegiatan ilmiah, dari seorang ilmuwan dengan ilmuwan lain pada masanya maupun masa sebelum dan sesudahnya. Media komunikasi yang dimaksud dapat berupa buku atau majalah ilmiah. Komunikasi ilmiah yang dilakukan secara intensif seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dapat meningkatkan kerjasama antar ilmuwan dalam menghasilkan karya bersama. Karya bersama dua orang atau lebih yang menghasilkan karya bersama disebut kolaborasi. Kajian kolaborasi merupakan salah satu dari metode bibliometrika, yang bertujuan memberikan gambaran tentang cara mengukur dan menganalisa proses komunikasi terekam. Komunikasi informasi pada perguruan tinggi yang dilakukan, merupakan serangkaian komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah adalah sebuah sistem di mana penelitian dan kegiatan ilmiah lain yang dilakukan, ditulis, dievaluasi kualitasnya, disebarkan kepada komunitas ilmiah lain, dan dipertahankan untuk kepentingan masa yang akan datang. Komunikasi ilmiah formal dilakukan dengan melalui media-media penerbitan berkala, seperti jurnal ilmiah. Garvey, dalam Communication the Essence of Science, Pergamon Press, 1989 (Darmono, 1996:3) menyatakan bahwa komunikasi ilmiah melalui jurnal ilmiah merupakan hal yang amat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui jurnal ilmiah, temuan baru dari peneliti dan ilmuwan dikomunikasikan ke masyarakat, guna mendapat tanggapan, dikembangkan dan disempurnakan oleh ilmuwan lain, sehingga kesempurnaan dan kebenaran ilmunya menjadi lebih baik. Jika ditarik lebih jauh, kehadiran berbagai jurnal ilmiah dalam masyarakat akademik juga merupakan investasi jangka panjang untuk memacu meningkatkan sumber daya manusia. Setiap penerbitan jurnal mempunyai kekuatan ganda, yaitu sebagai dokumentasi ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebagai sarana penyebaran. Menurut Sulistyo-Basuki (1995: 35-36) sebagai sebuah sistem komunikasi, maka komunikasi ilmiah formal memiliki keuntungan sebagai berikut: 1. Komunikasi formal bersifat terbuka sehingga kehadirannya lebih besar; 2. Penyebaran informasi relatif lebih luas dan lebih murah daripada komunikasi informal; 3. Informasi yang disimpan melalui komunikasi formal lebih permanen, menjadi arsip umum” dan lebih mudah ditemukan; 4. Informasi yang disebarkan sudah melalui pemeriksaan reviewer majalah, karenanya sudah disesuaikan dengan standar disiplin ilmu yang bersangkutan. Demikian pula dengan cara penyajiannya termasuk penulisan arti dan daftar kepustakaan, sudah disesuaikan dengan pedoman yang berlaku untuk pembaca tertentu; 5. Komunikasi formal cenderung mengarah pada kepentingan pembaca luas. Sedangkan kerugian komunikasi formal adalah seperti: 1. Usia informasi yang disebarkan melalui komunikasi formal umumnya lebih tua daripada informasi yang disebarkan melalui komunikasi informal. Hal ini terjadi karena frekuensi penerbitan majalah tidaksama, adanya waktu tunggu untuk diterbitkan, dan redaksi harus menunggu naskah yang masuk; 2. Seringkali terjadi pengulangan inti makalah walaupun judulnya berbeda dan majalah yang memuatnya pun berlainan. Analisis Sitiran Analisis sitiran adalah kajian terhadap sejumlah sitiran atau rujukan yang terdapat dalam karya tulis ilmiah tertentu (Zulaikha, 2002:41). Sedangkan menurut Hartinah (2002) analisis sitiran adalah penyelidikan melalui data sitiran dari suatu dokumen, baik dokumen yang disitir maupun dokumen yang menyitir. Adapun hal-hal yang diselidiki antara lain: pengarang, subjek, tahun terbit, dan sumber dokumen (jurnal, buku, dan jenis lain). Menurut Sulistyo-Basuki (1994: 177), analisis sitiran adalah analisis pada kepustakaan. Pada awalnya kajian berupa frekuensi sitiran, bahasa, tahun, jenis terbitan, dan pada saat ini berkembang pada kajian terhadap hubungan antara satu majalah dengan majalah lainnya, kajian terhadap ukuran sentralitas antara satu majalah dengan majalah lain, penelitian paro hidup bidang ilmu serta jaringan yang terbentuk akibat sitiran. Beberapa alasan mengapa para ilmuwan selalu menyitir berbagai macam literatur dalam rangka penulisan karya mereka. Garfield (dalam Hartinah, 2002) mengemukakan bahwa seseorang penulis mensitir penulis lain karena: 1. Memberikan penghormatan kepada penulis atau karya di bidangnya. 2. Mengidentifikasi metodologi atau pendekatan teori. 3. Memberi latar belakang atau bacaan bagi mereka yang ingin mengetahui lebih lanjut topik yang sudah ditulis. 4. Mengoreksi karya sendiri atau karya orang lain. 5. Memberikan kritik terhadap karya yang telah terbit sebelumnya. Memperkuat klaim suatu temuan. Sebagai panduan bagi penulis lain yang akan mendalami topik tulisan yang disitir. =y Kemutakhiran Literatur Kemutakhiran informasi untuk setiap bidang ilmu berbeda. Namun yang sering menjadi masalah adalah tidak semua jurnal tercetak dapat segera dimanfaatkan oleh pengguna setelah diterbitkan, kecuali jika perpustakaan melanggan sendiri jurnal tersebut. Jurnal baru harus melalui beberapa tahapan pengolahan,selanjutnya setelah berada di ruang layanan, pengguna perlu menelusuri nya terlebih dahulu melalui indeks, katalog atau sarana referensi lainnya untuk dapat memanfaatkannya. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi maka jarak, ruang, dan waktu menjadi hampir tidak ada batasan. Pola perilaku pengguna perpustakaan dalam mencari informasi perlu mengikuti perubahan tersebut dan perpustakaan harus siap jika diperlukan, Perpustakaan harus terhubung ke jaringan internet karena banyak informasi yang dapat dicari di internet, salah satunya adalah jurnal elektronis. Ketersediaan informasi mutakhir sangat dibutuhkan oleh peneliti untuk mendukung kegiatan penelitian. Dibandingkan dengan buku/monograf, jurnal ilmiah memuat informasi yang lebih mutakhir karena berisi artikel-artikel .hasil penelitian terbaru dan aktual. Pembanding penelitian seharusnya lebih- mutakhir, sehingga peneliti sebaiknya menyitir artikel jurnal terbaru sesuai dengan bidang ilmunya. Pada dasarnya kemutakhiran literatur yang dirujuk dalam suatu karya tulis ilmiah mencerminkan kekinian (actuality) informasi dari karya tulis tersebut (Hermanto, 2004:1). Menurut Pedoman Terbitan Berkala Ilmiah Tahun 2014, dinyatakan bahwa kemutakhiran referensi (pustaka acuan) merupakan salah satu aspek substansial dalam penilaian akreditasi jurnal ilmiah. Dalam instrumen ini ditegaskan bahwa kemutakhiran referensi tersebut dengan melihat proporsi terbitan sepuluh tahun terakhir. . Meskipun kualitas sebuah karya ilmiah atau penelitian tidak terkait langsung dengan kemutakhiran literatur yang dirujuk, namun literatur-literatur terbaru yang digunakan sebagai rujukan diharapkan akan membuka cakrawala baru dalam pembahasan hasil penelitian. Dengan demikian penggunaan literatur yang sudah tidak mutakhir (out of date) sebagai rujukan dapat diterima sepanjang data atau informasi yang dimiliki relevan dengan topik tersebut, atau belum ada literatur baru yang lebih baik atau lebih lengkap dari literatur tersebut (Hermanto, 2004:3). Menurut Mikailov (dalam Herlina, 1995:36), penggunaan literatur yang relatif tidak mutakhir sebagai rujukan dikarenakan adanya kekhususan informasi, misalnya mengenai publikasi orisinil yang menjadi syarat konsep atau ide serta metodologi. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemutakhiran informasi tidak menjadi syarat mutlak seorang peneliti dalam merujuk informasi, sepanjang informasi yang dirujuk sesuai atau relevan dengan subjek yang merujuk, meskipun informasi tersebut tidak mutakhir dan belum ada informasi yang baru dan lengkap dari literatur tersebut. Kajian menggunakan pedoman mengukur kemutakhiran informasi yang digunakan pada Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah yang menegaskan bahwa kemutakhiran referensi dengan melihat proporsi terbitan sepuluh tahun terakhir.

Method

Kajian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif, dengan maksud mengetahui publikasi ilmiah pustakawan yang dimanfaatkan (disitir), persentase pemanfaatan publikasi ilmiah pustakawan yang disitir pada artikel Jurnal Visi Pustaka. Pada kajian ini metode pengumpulan data yang dipergunakan, yaitu metode dokumentasi. Metode dokumentasi, karena pada penelitian ini data diperoleh dari daftar pustaka atau sitiran dalam artikel ilmiah yang dimuat pada artikel Jurnal Visi Pustaka. Selanjutnya langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut: a) Mengumpulkan semua edisi dan volume Visi Pustaka tahun 2008-2013, dengan mendownload di http://www.pnri.go.id/MajalahOnline.aspx. b) Memeriksa setiap Volume dan Nomor majalah yang telah dikumpulkan. c) Memeriksa dan mengumpulkan judul artikel dan daftar pustaka. d) Setelah data terkumpul, selanjutnya dibuatkan lembar kerja dalam bentuk tabel dengan menggunakan Microsoft Excel. Untuk keperluan tersebut dibuat lembar kerja yang memuat lima kolom meliputi: (1) kolom nomor urut, (2) kolom Nama Pustakawan, (3) kolom judul buku/artikel yang disitir, (4) kolom jenis artikel yang dibagi menjadi dua kolom yaitu buku dan artikel, dan (5) tahun terbit. €) Membuat tabel yang terdiri atas empat kolom, yaitu (1) kolom nomor urut, (2) kolom pustakawan yang kelompok buku dan artikel, (3) kolom frekuensi disitir, (4) kolom persentase disitir. f) Membuat tabel yang terdiri atas tiga kolom, meliputi: (1) kolom nomor urut, (2) kolom judul buku dan artikel yang disitir, (3) kolom tahun terbit Setelah data terkumpul kemudian penulis melakukan kegiatan analisis data yang terdiri beberapa tahap: a. Melakukan koreksi terhadap instrumen yang telah diisi pada lembar kerja (Microsoft Excel). b. Mengelompokkan data publikasi ilmiah pustakawan berdasarkan jenis buku atau artikel, dan tahun terbit. c. Mencatat semua judul buku dan artikel yang tercantum pada daftar pustaka dalam artikel majalah. d. Hasil penentuan peringkat tersebut kemudian dilakukan penghitungan persentase dan disajikan dalam bentuk tabel. e. Kemudian masing-masing tabel dilakukan analisis secara deskriptif. f. Merangking semua judul publikasi .ilmiah pustakawan pada poin (d) berdasarkan tahun terbitan untuk mengetahui kemutakhiran publikasi ilmiah pustakawan yang disitir dalam Visi Pustaka. g. Kemutakhiran publikasi ilmiah pustakawan adalah dengan melihat proporsi sepuluh tahun terakhir publikasi ilmiah pustakawan yang disitir dalam Visi Pustaka. Semua perhitungan persentase menggunakan rumus dari Kerlinger (1990:246) sebagai berikut: Persentase = proporsi x 1000 Keterangan: Proporsi merupakan pecahan yang Pembilangnya adalah satu di antara dua frekuensi atau lebih. Penyebutnya adalah seluruh frekuensi

Result & Discussion

Berdasarkan hasil perhitungan data diperoleh sebanyak 204 judul publikasi ilmiah pustakawan baik bentuk buku dan artikel yang telah dimanfaatkan atau disitir dalam Visi Pustaka 2008-2013. Apabila ditinjau dari prosentase jenis yaitu bentuk buku dimanfaatkan atau disitir sebanyak 78 atau 38,24% dan dalam bentuk artikel sebanyak 126 atau 61,76%. Berdasarkan analisis data dari 78 judul buku yang telah dimanfaatkan dalam penulisan artikel, ada 31 orang pustakawan yang karya ilmiahnya diman-fatkan. Hasil perhitungan menunjukkan terdapat 10 pustakawan yang karya ilmiahnya disitir sebanyak 2-11 (0,98-5,39%), sedangkan 20 pustakawan yang lain disitir 1 (0,49%). Hal tersebut menunjukkan bahwa publikasi ilmiah pustakawan dalam bentuk buku telah memberikan manfaat dan kontribusi dalam penulisan artikel Visi Pustaka 2008-2013 sebesar 78 judul (38,24%). Tabel 1 Frekuensi pemanfaatan publikasi ilmiah pustakawan dalam bentuk buku No Pustakawan ‘g::‘:"" Prosentase 1 Sulistyo-Basuki 1" 5.3%% 2 LasaHs 10 4.90% 3 Pendit, Putu Laxman 8 3.92% 4 — Saleh, Abdul Rahman 7 3.43% 5 SutamoNS. 7 343% 6 — Qalyubi, Sihabbudin 4 1.96% 7 Soeatminah 3 147% 8 Supriyanto, Wahyu dan 3 147% Ahmad Muhsin 9 TowaP. Hamakonda 2 0.98% dan J.N.B. Tairas 10 Yusup, PawitM. 2 0.98% 11 Darmawan, Rahman 1 0.49% dan Zuffikar Zen 12 Darmono 1 049% 29 Wijayanti, Luki 1 049% 30 Yulia, Yuyu dan 1 0.49% B Mustafa 31 Zen, Zulfikar 1 049% Jumlah 78 38,24% Sumber Data Primer yang diolah, 2015. Hasil perhitungan juga memperoleh data yaitu sebanyak 126 judul publikasi karya ilmiah pustakawan dalam bentuk artikel dimanfaatkan dalam penulisan artikel Visi ‘Pustaka sebesar 61,76%. Hasil analisis data dari 126 judul tersebut merupakan hasil publikasi dari 78 pustakawan, selanjutnya terdapat sebanyak 21 pustakawan karya ilmiahnya memperoleh sitiran 2-14 (0,98-6,86%) dan 57 pustakawan yang lain disitir 1 (0,49%). Tabel 2 Frekuensi pemanfaatan publikasi ilmiah pustakawan dalam bentuk artikel No Pustakawan ‘g‘;‘rl:: Prosentase 1 Sulistyo-Basuki 14 6.86% 2 Pumomowat, Sri 8 392% 3 Pendit, Putu Laxman 5 245% 4 — Arf Surachman 3 147% 5 Hartinah, Sri 3 147% 6 — Hermandono 3 147196 7— Komariah, Neneng 3 147% 8 Priyanto, Ida Fejar 3 147% 9 Yaniashetal. 3 147% 10 Achmad 2 0.98% 1 AiLRF. 2 0.98% 12 — Andriaty, Etty 2 0.98% 76 — Yamini, Rachmi 1 0.4%% 77 Yudha Prawira, Donni 1 0.4%% 78 — Zulaikha, Sri Rohyanti 1 0.4%% Jumlah 126 61,76% Sumber Data Primer yang diolah, 2015. Kesesuaian antara Subjek Judul Artikel dengan Judul Artikel Publikasi Ilmiah Pustakawan yang Disitir Hasil kajian pemanfaatan publikasi ilmiah pustakawan dalam penulisan artikel Jurnal Visi Pustaka, secara keseluruhan menunjukkan adanya relevansi antara subjek judul publikasi ilmiah pustakawan dengan judul artikel yang disitir dalam jurnal Visi Pustaka. Hal ini diperkuat dengan adanya kesesuaian antara subjek artikel dengan judul artikel rujukan yang disitir. Telaah ke dalam isi artikel diketahui bahwa sebagian besar rujukan tersebut cenderung lebih banyak dimanfaatkan dalam hal pendekatan teori dan diskusi hasil kajian terutama untuk memperkuat hasil temuannya. Berdasarkan hasil kajian dari ke 204 judul publikasi ilmiah pustakawan baik dalam bentuk buku maupun artikel, telah dimanfaatkan dalam Jurnal Visi Pustaka sebagian besar sebagai pendukung hasil kajian (diskusi hasil kajian) dan sebagian kecil sebagai bahan bacaan (pendekatan teori). Kemutakhiran Publikasi Ilmiah Pustakawan yang Disitir Seperti telah dikemukakan pada landasan teori, bahwa kemutakhiran literatur yang dirujuk dalam suatu karya tulis ilmiah mencerminkan kekinian (actuality) informasi dari karya tulis tersebut (Hermanto, 2002:1). Pada kajian ini untuk menentukan kemutakhiran literatur publikasi karya ilmiah pustakawan yang disitir dalam Jurnal Visi Pustaka, berpedoman pada Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah 2014. Pada pedoman adalah kemutakhiran bahan pustaka yang dipergunakan sebagai rujukan dan kemutakhiran bahan pustaka yang dipergunakan dengan melihat proporsi terbit sepuluh tahun terakhir. Tabel 3 Kemutakhiran Publikasi Karya Ilmiah Pustakawan yang Disitir No. Kemutakhiran Jumlah Prosentase (Tahun) Sitiran (%) 1 0-2 17 8.33% 2 3-4 36 17.65% 3 5-6 59 28.92% 4 7-8 35 17.16% 5 9-10 19 9.31% 6 11-15 18 8.82% 7 16-20 9 441% 8 21-25 441% 9 26-30 0.98% 10 >30 0 0.00% Jumlah 204 100% Sumber Data primer yang diolah, 2015. Berdasarkan pedoman tersebut, hasil analisis data diperoleh bahwa ada 109 pustakawan yang publikasi karya ilmiahnya baik dalam bentuk buku dan artikel yang telah dimanfaatkan atau disitir dalam Jurnal Visi Pustaka 2008-2013 sebanyak 204. Apabila ditinjau dari kemutakhirannya yaitu sebesar 81,37% publikasi karya ilmiah pustakawan atau setara dengan 166 sitiran termasuk dalam kategori mutakhir (sepuluh tahun terakhir) yang terdiri atas 0 s/d 2 tahun sebanyak 17 artikel (8,33%), 3 s/d 4 tahun sebanyak 36 artikel (17,65%), 5 s/d 6 tahun sebanyak 59 artikel (28,92%), 7 s/d 8 tahun sebanyak 35 artikel (17,16%) dan 9 s/d 10 tahun sebanyak 19 artikel (9,31%). Publikasi ilmiah pustakawan sebesar 18,63% atau setara dengan 38 sitiran termasuk dalam kategori tidak mutakhir (lebih dari sepuluh tahun terakhir) yang terdiri 11 s/d 15 tahun sebanyak 18 artikel (8,82%), 16 s/d 20 tahun sebanyak 9 artikel (4,41%), 21 s/d 25 tahun sebanyak 9 artikel (4,41%), 26 s/d 30 tahun sebanyak 2 artikel (0,98%) dan lebih 30 tahun sebanyak tidak ada (0%).

Conclusion

Berdasarkan hasil kajian yang telah terurai di atas diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut: a. Di dalam Jurnal Visi Pustaka 2008-2013, telah dimanfaatkan publikasi karya ilmiah pustakawan sebanyak 103 judul. b. Persentase pustakawan yang publikasi ilmiahnya dimanfaatkan pada Jumal Visi . Secara deskriptif — hasil Pustaka, peringkat pertama diperoleh Sulistyo-Basuki dengan perolehan sitiran sebanyak 25 sitiran yang terdiri dari 11 buku dan 14 artikel atau (12,25%). Sedangkan rangking terendah diterima oleh 126 pustakawan, dimana masing-masing memperoleh satu kali sitiran (0,49%). . Terdapat sebanyak 126 judul publikasi ilmiah pustakawan yang telah dimanfaatkan dalam Jumal Visi Pustaka 2008-2013 dan ke 126 publikasi ilmiah pustakawan tersebut, ada kesesuaian antara subjek judul artikel dengan judul artikel yang disitir dalam Jumal Visi Pustaka 2008-2013. Publikasi ilmiah pustakawan yang disitir tersebut sebagian besar dimanfaatkan sebagai pendukung hasil kajian (diskusi hasil kajian) dan sebagian kecil sebagai bahan bacaan (pendekatan teori). penelitian menunjukkan bahwa kemutakhiran publikasi karya ilmiah pustakawan yang telah dimanfaatkan dalam Jurnal Visi Pustaka 2008-2013, adalah 81,37% termasuk kategori mutakhir (sepuluh tahun terakhir) setara dengan 166 sitiran dan 18,63% tidak termasuk dalam kategori mutakhir (lebih dari sepuluh tahun terakhir) setara dengan 38 sitiran.