Analisis Metode User Education di Perpustakaan Perguruan Tinggi
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metodemetode yang dinilai paling efektif dalam pelaksanaan user education. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kuantitatif dengan analisis deskriptif yang dilakukan dengan pembagian kuisioner pada 35 mahasiswa program studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2017. Agar user education dapat tersampaikan dengan baik, maka perpustakaan perlu untuk menentukan metode apa saja yang efektif sebagai sarana penyebaran materi user education tersebut. Hasil yang diperoleh berdasarkan survey yang telah dilaksanakan adalah bahwa metode user education yang dinilai paling efektif untuk digunakan di perpustakaan perguruan tinggi adalah metode library tour atau wisata perpustakaan
Abstract
This study aims to determine which methods are considered to be the most effective in implementing user education. The method used in this study is quantitative with descriptive analysis carried out by distributing questionnaires to students of the Library and Information Science study program at the University of Education of Indonesia (UPI) class of 2017. In order for user education to be conveyed properly, the library needs to determine what methods are used effective to distributing the user education material. The results obtained based on the survey that had been carried out were that the user education method that was considered the most effective for use in college libraries was the library tour method.
Keywords:
Library
· University
· User Education
Introduction
Perpustakaan memiliki banyak sekali sarana dan fasilitas yang perlu dikenalkan kepada pemustaka agar pelayanan yang telah disediakan tersebut dapat digunakan secara maksimal. Pengertian pemustaka menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan 20071 adalah pengguna perpustakaan baik perseorangan, sekelompok orang, masyarakat atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas dan juga layanan perpustakaan. Hal-hal yang perlu dipahami pemustaka di perpustakaan adalah peraturan perpustakaan, sarana, fasilitas elektronik dan non elektronik, pemaparan mengenai temu balik informasi, dan masih banyak lagi. Kemudian era digital juga banyak merubah sistem perpustakaan dari manual ke mesin yang membuat banyaknya fasilitas pelayanan mandiri dimana pemustaka harus dapat mengoperasikan suatu fasilitas sendiri. Perpustakaan perguruan tinggi memiliki berbagai jenis koleksi digital yang jika ingin dimaksimalkan, maka pemustaka perlu memahami teknis pencarian dan penggunaannya. User education merupakan salah satu program yang dilaksanakan oleh perpustakaan agar pemustaka dapat lebih memahami seluruh pelayanan juga fasilitas yang telah disediakan perpustakaan. Menurut Purwaningsih fasilitas perpustakaan adalah segala hal yang berfungsi untuk digunakan juga dinikmati oleh pemustaka2 . User education dapat disebut juga sebagai pendidikan pengguna, pendidikan pemustaka, edukasi pengguna, atau pendidikan pemustaka. Fungsi dari user education adalah untuk mendidik, memberi pemahaman, pembelajaran atau edukasi terhadap pengguna atau pemustaka di perpustakaan. Berdasarkan definisi dari user education di atas, maka dapat diketahui bahwa proses user education ini banyak melibatkan kegiatan komunikasi. Bakhtiar mengemukakan bahwa komunikasi adalah proses pemberian atau pertukaran informasi yang dilakukan oleh komunikator pada komunikan sehingga keduanya memiliki persepsi yang sama terhadap informasi yang diberikan3 . Komunikasi pada penyampaian materi user education perlu untuk dikomunikasikan dengan baik agar pemustaka tidak salah dalam memberikan persepsi juga pemahaman ketentuan yang telah dibangun oleh perpustakaan. Bakhtiar juga mengemukakan bahwa komunikasi dapat memberikan beberapa pengaruh yaitu adanya perubahan sikap, perubahan pendapat, perubahan perilaku dan perubahan sosial. Penyampaian user education yang baik dapat memicu perubahan-perubahan tersebut pada arah yang juga baik pada pemustakanya. Oleh karena itu terdapat beberapa faktor keberhasilan dari kegiatan user education berdasarkan teori komunikasi di atas. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. Meningkatnya pemahaman pemustaka terkait perpustakaan. Pemustaka dapat lebih memahami apa fungsi perpustakaan di perguruan tinggi, kapan saja pemustaka dapat berkunjung, peraturan apa saja yang harus dipatuhi di perpustakaan dan sebagainya. 2. Pemustaka menjadi lebih terampil dalam melakukan pencarian informasi. Banyaknya jenis koleksi di perpustakaan membuat pemustaka harus memahami bagaimana cara penelusuran informasinya baik koleksi digital maupun non digital. 3. Mengetahui dan memahami cara menggunakan fasilitas perpustakaan. Banyak fasilitas yang menggunakan prinsip layanan mandiri dimana pemustaka harus bisa mengoperasikan suatu fasilitas secara mandiri. Ketika bisa menggunakan fasilitas tersebut secara mandiri, maka user education dapat dianggap berhasil. 4. Pemustaka lebih tertarik untuk berkunjung ke perpustakaan. Jika dapat memanfaatkan pelayanan perpustakaan dengan baik, minat kunjung pemustaka pun akan meningkat. Menurut Saifullah minat kunjung perpustakaan adalah suatu kecenderungan atau keinginan pemustaka untuk melakukan kunjungan ke perpustakaan4 . Jika minat kunjung perpustakaan meningkat, maka otomatis perpustakaan telah berhasil menjalankan fungsi-fungsinya sebagai sebuah lembaga informasi. Keberhasilan user education di perguruan tinggi merupakan tujuan yang diharapkan oleh setiap perpustakaan perguruan tinggi sebagai penyelenggara program user education. Keberhasilan kegiatan user education berpengaruh pada kepuasan pemustaka. Jika pemustaka dapat menggunakan fasilitas, sarana, maupun layanan yang ada secara maksimal, maka semakin banyak sumber daya perpustakaan yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka dan semakin banyak kebutuhan informasi pemustaka yang terpenuhi. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara program user education salah satunya adalah agaimana cara melakukan penyampaian materi secara efektif. Berdasarkan model komunikasi Laswell yang dikutip oleh Kurniawan, terdapat beberapa tahapan agar suatu kegiatan komunikasi dapat berjalan secara efektif dikaitkan dengan pelaksanaan user education yaitu: a. Who - Siapa orang yang akan memberikan materi? b. Say What – Apa materi yang akan disampaikan? c. In Which Channel – Media apa yang akan digunakan dalam penyampaian materi? d. To Whom – Kepada siapa materi akan disampaikan? e. With What Effect – Perubahan apa yang akan terjadi jika materi telah disampaikan?5Seluruh aspek penting dalam pelaksanaan user education tersebut saling berkaitan satu sama lain, dan perlu dipahami oleh penyelenggara user education. Perpustakaan perlu untuk mengetahui bagaimana agar materi-materi yang ada pada user education ini dapat disampaikan secara sesuai dan tidak ada miskomunikasi di dalamnya karena teknik penyampaian yang tidak sesuai akan membuat kegiatan user education menjadi tidak efektif dan materi pun tidak akan sampai seluruhnya pada mahasiswa. Jika hal ini terjadi, maka user education hanya akan menjadi kegiatan formalitas saja tanpa adanya materi yang tersampaikan pada pemustaka. Untuk itu pustakawan yang memberikan user education perlu untuk mengetahui dan memahami metode-metode user education yang tepat bagi pemustakanya. Setelah mengetahui pentingnya user education, maka perpustakaan perlu untuk mengetahui bagaimana agar materimateri yang ada pada user education ini dapat disampaikan secara sesuai dan tidak ada miskomunikasi di dalamnya karena teknik penyampaian yang tidak sesuai akan membuat kegiatan user education menjadi tidak efektif dan materi pun tidak akan sampai seluruhnya pada mahasiswa. Jika hal ini terjadi, maka user education hanya akan menjadi kegiatan formalitas saja dimana pemustaka hanya harus mengikuti kegiatan tersebut tanpa mengetahui makna dan juga informasi yang ada di dalamnya. Perpustakaan perlu memahami metode-metode yang sesuai agar materi-materi ini bisa sampai dan dapat dipahami sebaik-baiknya. Penggunaan metode yang tepat untuk user education dinilai sebagai sesuatu yang penting. Pemahaman pemustaka terhadap materi user education yang diberikan akan berpengaruh pada praktiknya di lapangan. Hal ini berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya perpustakaan yang maksimal. Jika pemustaka tidak memahami bagaimana cara menggunakan fasilitas, sarana, dan layanan yang disediakan perpustakaan, maka sumber daya yang sudah disediakan akan menjadi tidak terpakai. Hal ini akan berpengaruh pada citra perpustakaan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat metode yang paling efektif digunakan dalam kegiatan user education. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan analisis deskriptif, dimana cara memperoleh data penelitian adalah dengan menyebarkan angket atau kuisioner pada 35 Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2017
Discussion
1. Definisi, Tujuan dan Penerapan User Education User Education merupakan kegiatan pengenalan perpustakaan kepada pemustaka agar dalam pemanfaatannya menjadi lebih efektif dan juga efisien. Terdapat beberapa definisi lain dari user education, diantaranya adalah menurut Tucker yang mendefinisikan user education sebagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan juga memperkuat seni liberal juga untuk membantu aspek penelitian bibliografi pada pendidikan sarjana.6 Allard dkk mengemukakan bahwa user education berkaitan dengan kegiatan tanya jawab terkait sebuah referensi, mengajari pemustaka tentang cara menggunakan katalog daring juga membantu pemustaka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan di perpustakaan. Beragamnya layanan perpustakaan tersebut membuat pemustaka membutuhkan bantuan pustakawan, terutama dalam literasi informasi. Hal ini dapat membuat pemustaka dapat menggunakan layanan secara mandiri.7 Kemudian menurut Sari dan Rusmono, user education adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memberdayakan pemustaka dalam melakukan akses pada sumber daya informasi yang disediakan oleh perpustakaan.8 Berdasarkan gambaran-gambaran mengenai user education di atas, dapat disimpulkan bahwa user education merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh perpustakaan dengan tujuan membantu pemustaka terkait melakukan akses pada kebutuhan informasinya. Perpustakaan juga perlu memahami keberagaman masyarakat khususnya sivitas akademika kampusnya, baik berdasarkan sifat atau kebutuhan. Hal ini perlu diantisipasi agar pelayanan yang dilaksanakan dapat dilakukan secara maksimal. Kegiatan user education diharapkan dapat membantu perpustakaan agar bisa mewujudkan hal tersebut karena secara tidak langsung pemanfaatan perpustakaan yang maksimal akan membuat perpustakaan sebagai sebuah lembaga informasi sukses dalam melaksanakan fungsifungsi, tugas dan juga perannya di masyarakat. Terdapat beberapa fungsi perpustakaan menurut Surachman: - Sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar - Sebagai pusat penelitian - Sebagai pusat membaca buku - Sebagai pusat belajar mandiri bagi siswa Priyanto juga mengemukakan hal yang sama. Ia berpendapat bahwa perpustakaan memiliki peran yang sangat sentral utamanya dalam pertumbuhan aktivitas pendidikan10. Salah satu jenis perpustakaan yang perlu untuk mengadakan program user education adalah perpustakaan perguruan tinggi. Menurut Berawi perpustakaan perguruan tinggi adalah sarana yang berfungsi untuk menunjang kegiatan sivitas akademik sebuah perguruan tinggi11. Sivitas akademika pada perpustakaan perguruan tinggi termasuk di dalamnya adalah mahasiswa dan juga dosen. Kegiatan dari sivitas akademika tersebut dapat berupa kegiatan belajar mengajar maupun penelitian. Namun walaupun berada pada lingkungan yang sama, tingkat pemahaman pemustaka memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dari segi sifat bawaan maupun pengalaman. Hal ini menyebabkan program user education yang diberikan kepada pemustaka perpustakaan perguruan tinggi harus menggunakan metode yang tepat bagi pemustaka secara keseluruhan. Perpustakaan perguruan tinggi memiliki fasilitas dan pelayanan yang berbeda dengan perpustakaan sekolah sehingga pelajar yang berasal dari sekolah menengah perlu memahami kembali mengenai teknik dan strategi penggunaan pelayanan perpustakaan. Almah mengemukakan hal ini berfungsi agar pemanfaatan fasilitas perpustakaan dapat lebih tepat guna, efektif juga efisien12. Kualitas dan kuantitas dari perpustakaan perguruan tinggi pun memiliki perbedaan dengan perpustakaan sekolah dari segi koleksi dimana peprustakaan perguruan tinggi biasanya menyediakan koleksi digital. Menurut Saifuddin, koleksi-koleksi tersebut dapat berupa e-book, e-journal, publikasi hasil penelitian, juga publikasi tugas akhir seperti skripsi, tesis dan juga disertasi13. Tepat guna di sini adalah bagaimana seluruh pelayanan yang ada dapat digunakan secara sesuai sehingga tidak adanya waktu yang terbuang karena ketidaktahuan. Tepat guna juga berfungsi untuk meminimalisir kesalahan ketika menggunakan suatu fasilitas. Secara tidak langsung, penggunaan fasilitas yang tepat guna akan membuat pemustaka terhindar dari permasalahan-permasalahan yang lebih besar. Kemudian, Wardani, Rusmana, dan Yanto mengemukakan bahwa adanya user education juga bertujuan agar mahasiswa (khususnya mahasiswa baru) dapat melakukan studi sebaik-baiknya dengan memanfaatkan perpustakaan14. Hal ini akan memuat fungsifungsi perpustakaan seperti edukasi, sarana penelitian, atau rekreasi dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Buwana juga mengemukakan bahwa terdapat beberapa fungsi atau tujuan dari adanya user education yaitu sebagai berikut: 1. Membantu mahasiswa agar lebih mengenal perpustakaan. User education berisi materi-materi mengenai bagaimana pemanfaatan suatu perpustakaan. Sehingga mahasiswa secara tidak langsung akan menjadi lebih mengetahui bagaimana keadaan atau fungsi perpustakaan yang sebenarnya. 2. Membantu mahasiswa agar bisa memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Perpustakaan, khususnya dalam hal ini perpustakaan perguruan tinggi, memiliki fasilitas dan juga pelayanan yang lebih beragam daripada perpustakaan sekolah, sehingga mahasiswa perlu diperkenalkan kembali mengenai layanan-layanan tersebut. 3. Mahasiswa dapat melakukan penelusuran informasi di perpustakaan dengan baik dan benar. Pemanfaatan layanan secara baik dan benar akan lebih mempermudah dan mengefektifkan layanan juga menghindari timbulnya permasalahan yang lebih besar.15 Setelah mengetahui tujuan-tujuan dari user education kita juga perlu memahami mengapa kegiatan ini menjadi penting dan dibutuhkan di perpustakaan. Musa mengungkapkan beberapa alasan mengapa user education perlu untuk dilaksanakan: a. Untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Perpustakaan merupakan sebuah sarana pembelajaran seumur hidup, penggunaannya tak lekang oleh waktu walaupun koleksi di dalamya sudah berusia puluhan tahun. Semua ilmu yang termuat di perpustakaan tersebut penting sebagai bahan pembelajaran dan dapat membantu menopang pendidikan dari waktu ke waktu. b. Mendidik pemustaka menjadi lebih tertib dan bertanggung jawab. Pemustaka dapat menjadi lebih tertib, teratur dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya jika ia memiliki dasar-dasar pengetahuan, khususnya dalam hal mengenai pemanfaatan fasilitas dan layanan perpustakaan. c. Memaksimalkan kekayaan perpustakaan sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Koleksi perpustakaan di perguruan tinggi memiliki sifat yang lebih heterogen, terutama dengan banyaknya koleksi-koleksi yang dapat menunjang penelitian bagi civitas akademika yang ada di dalamnya. Jika memahami hal tersebut termasuk bagaimana cara melakukan temu balik dan penelusuran informasi dan koleksi, maka kekayaan perpustakaan ini dapat lebih maksimal penggunaannya16. Handari mengemukakan bahwa secara khusus tujuan adanya kegiatan user education bagi perguruan tinggi adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, kesenian juga kebudayaan yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi17. 2. Kebutuhan Pemustaka pada User Education User education hendaknya menjadi salah satu agenda wajib dari setiap perpustakaan. Alam mengemukakan jika hal tersebut didasarkan pada beberapa aspek penting, diantaranya adalah sarana dan prasarana yang berada di perpustakaan merupakan investasi yang besar dan juga berharga, terutama di perguruan tinggi18. Perpustakaan telah menggunakan anggaran yang cukup besar untuk mendapatkan segala layanan yang akan diberikan kepada pemustaka termasuk di dalamnya pembelian mesin-mesin khusus, melanggan jurnal internasional, pembelian sarana dan prasarana yang dapat melengkapi perpustakaan dan sebagainya. Terdapat beberapa materi pada kegiatan user education yang perlu untuk diketahui oleh pemustaka menurut Rangkuti, yaitu peraturan dan tata tertib, sistem layanan, sistem keanggotaan, sistem pengolahan, akses temu balik informasi, dan sarana temu balik informasi19. Materi-materi ini tentu telah disesuaikan dengan standar-standar yang ada di perpustakaan perguruan tinggi dan dapat membantu pemustaka dalam melaksanakan kegiatannya di perpustakaan. Pada saat ini, perguruan tinggi sedang berlomba-lomba untuk menjadi universitas kelas dunia (world class university)20. Salah satu aspek yang dapat menunjang tercapainya perguruan tinggi kelas dunia yaitu dari segi kualitas penelitian dan kualitas pembelajaran dalam perkuliahan. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan tersedianya fasilitas perpustakaan modern yang berbasis teknologi informasi, sumbersumber informasi yang lengkap, layanan prima, serta pustawakan yang profesional. Fasilitas perpustakaan yang modern serta pelayanan perpustakaan yang disajikan tidak ada artinya bila tidak ada pemustaka yang memanfaatkannya. Untuk itu pemustaka perlu untuk diberikan pengetahuan bagaimana menggunakan fasilitas perpustakaan yang ada. Berdasarkan fakta tersebut, maka perpustakaan perlu untuk meningkatkan pemanfaatan fasilitas yang ada guna memaksimalkan pelayanan. Untuk perpustakaan perguruan tinggi tentu mengharapkan sivitas akademikanya (terutama mahasiswa) dapat menjadi pihak yang paling memahami bagaimana cara melakukan pemanfaatan perpustakaan. Kemudian pemustaka tentunya memerlukan ‘bekal’ dan pemahaman sebelum dapat menggunakan fasilitas dan layanan yang ada di perpustakaan terutama jika pemustaka baru pertama kali melakukan kunjungan. Pemustaka yang bersifat heterogen tentunya memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda sehingga perpustakaan perlu untuk mengkomunikasikan sebaik mungkin terkait pelayanan yang ada di perpustakaan agar tidak terjadi miskomunikasi atau bahkan diskomunikasi. Dengan adanya hal ini, maka sebelum melaksanakan user education perpustakaan perlu mengetahui dan memahami bagaimana strategi maupun teknik yang tepat untuk memberikan bimbingan kepada pemustakanya. 3. Metode-metode User Education Setiap perpustakaan tentu memiliki strategi tersendiri dalam melaksanakan user education. Metode yang digunakan pun beragam untuk menambah keefektifan penyampaian materi kepada pemustaka. Menurut Rangkuti, terdapat tingkatan-tingkatan pada kegiatan user education, yakni sebagai berikut: - Orientasi (pengenalan perpustakaan) - User education pada tingkatan tertentu - User education pada tingkatan pasca sarjana - User education dengan menggunakan homepage atau layanan daring21 Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan jika terdapat beberapa jenis user education, terdapat materi orienstasi, materi untuk tingkatan-tingkatan tertentu seperti siswa mahasiswa, atau masyarakat umum, materi untuk tingkat pasca sarjana dan materi yang disampaikan melalui layanan daring. Pelaksanaan materi-materi user education tersebut, Trinanda dan Marlini mengemukakan terdapat dua jenis metode atau cara penyampaian yang dapat dilakukan, yaitu metode ceramah dan wisata perpustakaan (library tour)22. Namun dengan mempertimbangkan perkembangan zaman dan teknologi pada saat ini, maka penyampaian materi user education juga dapat melalui platform digital. Metode-metode tersebut akan dijabarkan sebagai berikut: a. Metode Ceramah Metode ini dilakukan dengan cara memberikan pemaparan materi kepada pemustaka dengan bantuan media tertentu atau alat peraga. Alat yang digunakan dapat berupa buku panduan (booklet), contoh koleksi yang memiliki nomor panggil, materi pada power point, dan dapat berupa alat lainnya. Materi tentang perpustakaan yang diberikan adalah berupa pengenalan perpustakaan, tujuan, fungsi, koleksi-koleksi, tata letak ruangan, penelusuran koleksi dan temu balik informasi, dan sebagainya. Materi yang disampaikan bersifat fleksibel tergantung pada kebijakan perpustakaan perguruan tinggi yang melaksanakan kegiatan tersebut. Metode ceramah dapat dilaksanakan di gedung perpustakaan atau sosialisasi ke kelas-kelas. b. Metode Library Tour (Wisata Perpustakaan) Metode ini dilakukan dengan cara mengajak pemustaka untuk berkeliling pada tiap ruangan juga layanan yang ada di perpustakaan dengan dibimbing oleh seorang pustakawan. Pada metode ini pustakawan dapat melakukan bimbingan dari sejak pemustaka masuk ke dalam gedung perpustakaan sambil memberikan pengetahuan mengenai tata cara atau syarat masuk ke perpustakaan. Pustakawan juga dapat memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan layanan juga cara melakukan pencarian dan peminjaman koleksi kepada pemustaka secara langsung. c. Metode Daring Pada metode ini pustakawan dapat memanfaatkan layananlayanan daring untuk memberi pematerian kepada pemustaka. Pada saat ini sudah banyak perpustakaan yang memanfaatkan layanan daring untuk memberikan informasi terkait perpustakaan. Banyaknya fitur yang dapat digunakan secara daring, maka metode ini tidak hanya dimanfaatkan untuk pemberian informasi terkait pelayanan dan informasi koleksi saja, namun juga pemberian literasi informasi atau user education kepada pemustaka. Terdapat beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara program user education berkaitan dengan tahapan komunikasi efektif menurut Laswell23, yaitu: - Who - Siapa orang yang akan memberikan materi? Pada kegiatan user education, materi diberikan oleh pustakawan. Seluruh jenis metode yang digunakan baik metode ceramah, library tour, maupun daring, pematerian umumnya selalu diberikan oleh pustakawan. - Say What – Apa materi yang akan disampaikan? Materi yang diberikan adalah mengenai user education di perpustakaan perguruan tinggi. User education memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan pengetahuan mengenai perpustakaan kepada pemustaka, dengan demikian materi yang disampaikan pada metode-metode user education akan sama.- In Which Channel – Media apa yang akan digunakan dalam penyampaian materi? Media yang digunakan pada kegiatan user education dapat berbeda-beda sesuai metode yang digunakan. Pada metode ceramah, media yang umum digunakan adalah power point. Media yang digunakan pada metode library tour adalah seluruh sumber daya perpustakaan yang ada karena metode ini dilaksanakan dengan mengajak pemustaka melihat langsung fasilitas, sarana dan layanan yang ada. Sedangkan metode daring umumnya menggunakan media telekonverensi agar dapat melakukan komunikasi dengan banyak pengguna sekaligus. - To Whom – Kepada siapa materi akan disampaikan? Sasaran dari penyampaian materi user education adalah masyarakat umum khususnya dalam hal ini sivitas akademika perguruan tinggi. - With What Effect – Perubahan apa yang akan terjadi jika materi telah disampaikan? Perubahan yang diharapkan ketika materi user education telah disampaikan adalah pemustaka dapat memahami seluruh peraturan, tata tertib, penggunaan layanan mandiri, pengetahuan temu balik informasi, pemahaman mengenai jenis koleksi dan hal-hal terkait lainnya yang ada di perpustakaan. 4. Pembahasan Analisis Metode-metode User Education di Perpustakaan Perguruan Tinggi Untuk mengetahui metode-metode user education yang efektif bagi pemustaka perpustakaan perguruan tinggi, telah dilakukan survey kepada 35 mahasiswa program studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2017 terkait analisis metode efektif user education di perpustakaan perguruan tinggi. Berdasarkan jawaban yang ada, dapat disimpulkan pemahaman mahasiswa program studi perpustakaan terkait kegiatan user education adalah kegiatan pengenalan seluk beluk perpustakaan termasuk didalamnya mengenai fasilitas, peraturan, pelayanan agar pemustaka dapat menggunakan, menjalankan, dan memanfaatkan hal-hal tersebut secara mandiri. Mahasiswa baru pasti mengalami pematerian mengenai user education. Oleh karena itu 35 mahasiswa program studi Perpustakaan dan Sains Informasi angkatan 2017 pun telah melaksanakan kegiatan tersebut. Metode yang digunakan pada saat itu adalah metode ceramah/presentasi yang dilanjutkan dengan sesi diskusi juga library tour, atau melakukan kegiatan mengelilingi perpustakaan untuk dikenalkan dengan fasilitas-fasilitas yang ada secara langsung secara berkelompok dan didampingi oleh pustakawan yang bertugas memberikan penjelasan terkait sarana dan prasarana di perpustakaan. Berdasarkan kuisioner yang dibagikan terdapat hasil presentase terkait keefektifan dari metode user education yang telah dilaksanakan yang digambarkan pada grafik berikut. Grafik 1 Keefektifan Metode User Education dengan Metode Ceramah & Library Tour. Sumber: Konstruksi Penulis Berdasarkan grafik 1 tersebut dapat dilihat bahwa untuk indikator keefektifan metode user education dengan metode ceramah dan library tour terdapat sebanyak 28,6% responden menyatakan bahwa metode ceramah dan library tour pada kegiatan user education sudah efektif. Kemudian sebesar 62,9% responden menganggap cukup efektif, 5,7% responden menganggap kurang efektif dan sebanyak 2,9% responden menganggap metode ini tidak efektif. Kemudian berdasarkan grafik 1 tersebut juga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa program studi Perpustakaan dan Sains Informasi menganggap metode user education dengan ceramah dan library tour sudah cukup efektif. Hal ini disebabkan mahasiswa merasa dapat gambaran yang lebih jelas dengan melihat atau mencoba secara langsung fasilitas dan layanan yang ada di perpustakaan dibandingkan dengan hanya mendengarkan atau melihat melalui media presentasi. Perpaduan atau kombinasi dua metode ini membuat pelaksanaan user education menjadi lebih efektif karena keduanya saling menutupi kekurangan satu sama lain dengan masing-masing metode memberikan kelebihannya masing-masing. Kemudian terdapat pula tanggapan terkait metode user education yang dianggap efektif yang terlihat pada grafik berikut. Grafik 2 Metode yang Dinilai Efektif untuk Pelaksanaan User Education. Sumber: Konstruksi Penulis Berdasarkan grafik 2 tersebut dapat disimpulkan bahwa urutan metode yang dianggap paling efektif dalam pelaksanaan user education secara berurutan adalah sebagai berikut.a. Library tour (dinyatakan oleh 88,6% responden) Metode library tour atau wisata perpustakaan memiliki tingkat keefektifan yang paling tinggi diantara opsi metode user education lainnya. Hal ini dikarenakan pemustaka dapat lebih banyak memahami seluk beluk perpustakaan ketika dapat melihat atau mencoba layanan secara langsung karena pada hakikatnya banyak layanan-layanan perpustakaan yang bersifat mandiri atau perlu dioperasikan oleh pemustaka secara langsung. b. Media sosial (dinyatakan oleh 65,7% responden) Metode ini dinilai cukup efektif dikarenakan tidak memakan banyak waktu dan ruang pada pelaksanaannya. Pemahaman mengenai segala hal di perpustakaan dapat diakses kapan saja dan dimana saja tanpa batasan waktu juga kendala perjalanan. Pada media sosial, user education dapat dimuat dalam bentuk multimedia seperti teks, gambar, video, infografis dan sebagainya. c. Presentasi (dinyatakan oleh 54,3% responden) Metode presentasi merupakan metode yang paling umum untuk digunakan. Pada metode ini, pustakawan akan memerlukan bantuan alat atau media lain sebagai pendukung kegiatan user education seperti penggunaan buku panduan (booklet) atau media presentasi. d. Booklet (dinyatakan oleh 42,9% responden) Penggunaan booklet atau buku panduan kurang lebih dapat membantu dalam metode user education yang lain sebagai alat tambahan. Namun untuk digunakan sepenuhnya dalam kegiatan user education, penggunaan booklet dinilai kurang efektif. e. Sosialisasi Kelas (dinyatakan oleh 25,7% responden) Metode ini dinilai kurang efektif karena akan memakan waktu lebih untuk pustakawan karena harus berpindah-pindah pada berbagai lokasi. Kegiatan user education dinilai lebih efektif jika langsung dilaksanakan di perpustakaan. f. Lainnya (dinyatakan oleh 5,7% responden) Mahasiswa program studi Perpustakaan dan Sains Informasi menilai masih ada metode-metode lainnya yang mungkin akan efektif untuk digunakan pada kegiatan user education. Baik sebuah metode yang dilaksanakan secara utuh atau untuk dikolaborasikan dengan metode lainnya. Oleh sebab itu, metode yang dianggap paling efektif untuk kegiatan user education adalah dengan melaksanakan library tour atau melakukan wisata perpustakaan dimana pustakawan membimbing mahasiswa dalam mengenalkan secara langsung fasilitas-fasilitas yang ada di perpustakaan. Pelaksanaan library tour adalah dengan mengajak mahasiswa berkeliling area perpustakaan dari mulai pintu masuk hingga ruangan-ruangan khusus yang menyediakan berbagai jenis layanan dan koleksi. Pada tiap layanan yang berbeda, pustakawan akan memaparkan mengenai jenis dan cara penggunaan layanan. Umumnya pemustaka juga akan diperkenankan untuk bertanya jika terdapat materi yang kurang dipahami. Adanya pengamatan yang dilakukan secara langsung dan diskusi antara pustakawan dan pemustaka membuat metode ini menjadi efektif untuk dilaksanakan. Materi yang disediakan akan sampai pada pemustaka dan keingintahuan dan pertanyaan pemustaka mengenai perpustakaan akan terjawab. Dari 88,6% responden yang memilih metode library tour, beberapa narasumber menjelaskan metode ini dianggap efektif dibandingkan dengan metode ceramah atau metode lainnya dikarenakan mahasiswa dapat lebih memahami peraturan atau cara kerja fasilitas perpustakaan dengan melihat dan merasakannya secara langsung. Ketika melaksanakan library tour pustakawan disarankan untuk menemani pemustaka berkeliling yang kemudian memperkenalkan fasilitas-fasilitas satu persatu. Pemustaka diperkenankan bertanya jika ada yang kurang dipahami dan juga diperkenankan untuk mencoba fasilitas tersebut secara langsung. Hal ini akan membuat pemustaka lebih mengingat apa yang telah dijelaskan dan memahami tata cara penggunaan fasilitas yang ada dengan baik dan benar.
Conclusion
Perpustakaan memerlukan pemahaman mengenai cara penyampaian materi user education yang tepat dengan mempertimbangkan metode-metode yang ada dan mencari yang paling efektif diantara seluruh metode tersebut. Pemahaman pemustaka terhadap kegiatan user education secara tidak langsung akan berpengaruh ketika pemustaka menggunakan layanan perpustakaan secara mandiri. Jika tidak memahami materi user education yang telah disampaikan, pemustaka memiliki kemungkinan tidak akan dapat menggunakan layanan, fasilitas dan juga sarana di perpustakaan secara maksimal. Hasil analisis metode user education di perpustakaan perguruan tinggi mengungkapkan bahwa metode library tour merupakan metode yang dinilai paling efektif dalam pelaksanaan user education di perpustakaan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan dengan melakukan library tour, pemustaka dapat melihat dan mencoba secara langsung fasilitas dan juga layanan yang ada di perpustakaan. Kemudian dengan melakukan praktik maka mahasiswa akan dapat lebih memahami tata cara pemanfaatan dan juga penggunaan dari fasilitas atau layanan perpustakaan yang tersedia tersebut.