Kembali
16
1
2022 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan Vol 10 · 2 ISSN 2477-5320

Peran Perpustakaan Rosella Genematrik dalam Meningkatkan Literasi Anak-Anak di Wilayah Pontianak Utara

Universitas Tanjungpura; Universitas Tanjungpura; Universitas Tanjungpura

Abstrak

Budaya literasi saat ini tengah digalakkan secara besarbesaran karena potensinya dalam membangun kualitas bangsa. Budaya literasi perlu digalakkan sejak dini karena melalui adanya proses pembiasaan. Literasi tidak tumbuh dengan sendirinya, namun perlu adanya dukungan seperti adanya prasarana seperti perpustakaan. Perpustakaan merupakan salah satu prasarana yang menyediakan sumber informasi kepada pemustaka, oleh sebab itu ada peran yang dijalankan perpustakaan dalam mendukung kegiatan peningkatan literasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Perpustakaan Rosella Genematrik, kendala serta upaya peningkatan efisiensi dan efektifitas penanganan masalah literasi pada anak di wilayah Pontianak Utara, khususnya Kelurahan Siantan Tengah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara mendalam kepada 6 informan, serta dokumentasi. Teknik analisis data dimulai dengan reduksi data, dilanjutkan dengan penyajian data, terakhir dilakukan penarikan kesimpulan. Uji validitas data yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan Perpustakaan Rosella Genematrik berperan sebagai sumber informasi, lembaga pendidikan non-formal, serta sebagai fasilitator, mediator dan motivator. Peran perpustakaan dalam meningkatkan literasi anak belum sepenuhnya terwujud karena beberapa kendala seperti SDM, kurangnya sarana, dan perhatian serta minat masyarakat sekitar. Upaya yang dilakukan untuk mengentaskan masalah yang ada adalah dengan memberikan kenyamanan dan kepuasan dalam mencari informasi yang mereka butuhkan serta melakukan promosi kepada masyarakat setempat.

Abstract

The culture of literacy is currently being promoted massively because of its potential in building the quality of the nation. Literacy does not grow by itself, it needs support such as libraries that provides sources of information, therefore there is a role carried out by libraries in supporting literacy. The purpose of this study is to determine the role of the Rosella Genematrik Library, obstacles, efforts to hdanling literacy problems in children in the North Pontianak, especially in Siantan Tengah. The research used qualitative methods with data collection techniques such as observations dan in-depth interviews with 6 informants, dan documentation. Data analysis techniques using reduction, presentation, dan then drawing conclusions. Data validity tests using triangulation. The results showed that the Rosella Genematrik Library acts as a source of information, a non- formal educational institution, as well as a facilitator, mediator dan motivator. The role of libraries in improving children’s literacy has not been fully realized due to several obstacles such as human resources, insufficient medium, dan the attention dan interest of the surrounding community. The efforts made to alleviate the existing problems are to provide comfort dan satisfaction in finding the information they need dan promoting them to the local community.
Keywords: Literacy · library role · reading culture

Introduction

Literasi saat ini sedang digalakkan secara masif untuk membudaya di masyarakat. Banyak pihak berupaya mendorong dan memfasilitasi masyarakat dengan program-program yang bertujuan untuk menumbuhkan literasi. Hal tersebut dikarenakan literasi memiliki peran penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Kemampuan literasi yang dimiliki dapat berpengaruh terhadap keberhasilan hidup seseorang dan sangat penting untuk mendukung kompetensi-kompetensi yang dimiliki1 . Kemampuan literasi dapat membantu seseorang dalam memahami informasi serta dapat membantu mereka dalam hal memilah informasi2 dalam mendukung keberhasilan pencapaian hidup sehingga dapat menambah kualitas diri. Memiliki SDM berkualitas berarti memiliki daya saing yang tinggi pula sehingga cita-cita Indonesia menjadi negara maju dapat lebih mudah dicapai. Secara sempit, literasi sering diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis karena menurut istilah literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” yang berarti orang belajar. Literasi juga didefinisikan sebagai sebagai kapasitas yang dimiliki seseorang untuk menggunakan secara maksimal potensinya untuk mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis3 . Artinya literasi dimulai dengan aktivitas membaca. Sehingga untuk membudayakan literasi harus dimulai dengan minat baca yang tinggi. Sayangnya, minat baca masyarakat Indonesia masih berada di bawah rata-rata. Dikutip dari Kompas.com4 , Indonesia menduduki peringkat dua terendah dari penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan literasi membaca, sains dan matematika. PISA (Programme for International Students Assesment), menempatkan Indonesia pada urutan lima paling rendah yaitu peringkat 72 dari total 77 negara yang dinilai. Nilai yang didapatkan Indonesia juga berada di bawah rata-rata, hanya mendapat skor 371 dari total ratarata 487 negara. Sebelumnya, hasil survei yang dilakukan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2016 juga memperoleh kesimpulan yang sama bahwa literasi di Indonesia masih sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001% yang berarti dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki kegemaran membaca5 . Minat membaca erat kaitannya dengan kemampuan literasi karena dari membaca seseorang dapat memahami informasi. Ketika informasi dapat dipahami, informasi tersebut menjadi pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dapat digunakan dalam menghadapi permasalahan sehari-hari6 . Semakin seseorang sering membaca, semakin luas pula pengetahuannya. Sehingga minat membaca sangat penting untuk mulai ditumbuhkan jika ingin literasi membudaya di masyarakat. Akan tetapi menumbuhkan minat membaca dalam masyarakat khususnya masyarakat Indonesia bukanlah persoalan mudah. Hal tersebut dikarenakan karakter masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dengan budaya lisan daripada budaya tulis7 . Selain kondisi tersebut, kegiatan literasi tidak dapat terwujud bila tak didukung dengan sarana dan prasarana serta SDM yang memadai. Sehingga diperlukan adanya perpustakaan sebagai prasarana untuk mewujudkan kegiatan literasi yang berkesinambungan8 . Perpustakaan merupakan salah satu prasarana pendukung kegiatan literasi yang di dalamnya juga terdapat sarana dan SDM untuk mendukung kegiatan tersebut. Perpustakaan sering disebut sebagai sentra informasi bagi masyarakat karena perpustakaan bertugas menghimpun, mengelola dan menyajikan informasi dalam bentuk koleksi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat9 . Perpustakaan ada untuk mendukung tercapainya budaya literasi dengan menyediakan koleksi-koleksi serta layanan yang dapat menunjang kebutuhan informasi masyarakat10. Perpustakaan, sebagai fasilitas pembelajaran masyarakat yang menyediakan fasilitas informasi memainkan peran penting dalam mendukung kemajuan literasi masyarakat. Perpustakaan Rosella Genematrik merupakan perpustakaan umum binaan PLN (Perusahaan Listrik Negara) Kalimantan Barat. Perpustakaan Rosella Genematrik pada mulanya merupakan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang didirikan atas inisiatif Lembaga Rosella. Inisiatif tersebut muncul dilatarbelakangi oleh hasil RKPD Kota Pontianak tahun 2014 yang menyatakan bahwa tempat penyelenggaraan kegiatan pendukung literasi masih sangat sedikit dan dibawah rata-rata (Mangenda et al., 2020). Pengelola TBM Rosella Genematrik menyadari bahwa masyarakat sangat membutuhkan perpustakaan untuk menambah wawasan pengetahuan dan membudayakan minat membaca serta literasi. Pada tahun 2019, atas peranannya sebagai salah satu sarana pendukung kegiatan literasi warga sekitar dan berkat bantuan Corporate Social Responsibility According (CSR) PLN Kalimantan Barat, TBM Rosella Genematrik berubah bentuk menjadi perpustakaan umum bernama Perpustakaan Rosella Genematrik. Pada tahun 2021, melalui program pemerintahan sesuai dengan keputusan Lurah Siantan Tengah tentang pembentukan Perpustakaan Rosella Genematrik No: 01/KSG/Tahun 2021 Perpustakaan Rosella Genematrik Resmi menjadi binaan Lurah Siantan Tengah. Penelitian mengenai peran perpustakaan dalam kegiatan literasi telah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Turnadi11 misalnya membahas perpustakaan sebagai salah satu prasarana penting yang harus dikembangkan untuk mendukung agenda membudayakan literasi di masyarakat. Turnadi12 mengungkapkan, dengan banyaknya manfaat yang didapat dari literasi, perpustakaan sudah seharusnya memiliki kemampuan untuk memaknai perannya dalam menumbuhkan budaya literasi dengan mempertegas fungsi perpustakaan. Ketika perpustakaan sudah melaksanakan fungsinya dengan baik dan masyarakat merasa mendapat dukungan untuk menerapkan literasi dengan prasarana dan sarana yang mumpuni, selanjutnya dapat tercipta sebuah kondisi masyarakat yang menjadikan kegiatan literasi sebagai kebutuhan dalam kesehariannya. Ketika kondisi tersebut sudah tercapai dan literasi sudah membudaya menjadi bagian dari gaya hidup, maka masyarakat pembelajar yang haus akan informasi dan pengetahuan dapat tercapai. Sehingga Indonesia siap menjadi bangsa yang maju dan mempunyai peradapan yang tinggi. Penelitian lain yang juga membahas mengenai peranan perpustakaan juga dilakukan oleh Rivantus13 yang meneliti tentang peran perpustakaan keliling dalam meningkatkan minat baca masyarakat di Kabupaten Tabanan. Penelitian tersebut mengkaji peran perpustakaan keliling ke dalam tiga aspek yaitu fasilitator, mediator dan motivator. Peran perpustakaan keliling sebagai fasilitator adalah memfasilitasi melalui koleksi perpustakaan yang dapat dipinjam secara gratis. Koleksi yang dipinjam dapat menjadi media pembelajaran sehingga dapat memenuhi perannya sebagai mediator. Kemudian dengan adanya perpustakaan keliling dapat memotivasi masyarakat untuk meningkatkan budaya membaca. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Adinda14 yang meneliti peran perpustakaan sekolah dalam menumbuhkan minat baca di sekolah dasar. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa perpustakaan sekolah dasar memiliki peran yang besar dalam pembentukan minat baca siswa. Hal tersebut karena sekolah dasar merupakan lingkungan yang berperan dalam pembentukan karakter setelah keluarga sehingga minat baca harus digalakkan sejak dini untuk anak-anak. Disitulah peran perpustakaan sebagai fasilitator dapat terlihat. Perpustakaan sekolah dasar sebagai fasilitator dalam menumbuhkan minat baca siswa dilakukan dengan beberapa program seperti read aloud, baca saharisalambar, dan bedah buku. Hasil penelitian di atas menggambarkan bahwa keberadaan perpustakaan memiliki peran dalam menumbuhkan minat baca dan literasi dengan menjalankan program- program tertentu. Begitu pula dengan Perpustakaan Rosella Genematrik yang menjadi objek penelitian ini. Setelah melakukan observasi dan melihat langsung pengelolaan Perpustakaan Rosella Genematrik dengan berbagai kendala yang ada, peneliti memiliki ketertarikan untuk meneliti sejauh mana peranan Perpustakaan Rosella Genematrik dalam meningkatkan literasi anak-anak yang menjadi salah satu sasaran perpustakaan binaan ini berdiri. Jika penelitian terdahulu menyoroti peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca pemustaka secara keseluruhan15, maka penelitian ini hanya berfokus pada pemustaka anak-anak. Pemustaka anak-anak juga menjadi objek utama pada penelitian sebelumnya16, namun terdapat perbedaan dari jenis perpustakaan. Jika penelitian terdahulu meneliti peran perpustakaan sekolah yang merupakan perpustakaan yang telah menjadi standarisasi untuk meningkatkan literasi siswa sekolah dasar, maka pada penelitian ini jenis perpustakaannya adalah perpustakaan umum yang pemustakanya lebih beragam serta masih memiliki banyak keterbatasan karena pengelolaan dan sumber dana yang masih sangat terbatas. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan peran Perpustakaan Rosella Genematrik dan kendala serta upayanya dalam meningkatkan literasi anak-anak di wilayah Pontianak Utara. Pembiasaan literasi harus dimulai pada usia muda karena akan membiasakan anak-anak dengan literasi dan akan merangsang imajinasi dan kapasitas mereka untuk berkomunikasi secara efektif, memungkinkan mereka untuk menyadari potensi mereka dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial di masa depan. Literasi merupakan bagian dari pengembangan kemampuan linguistik anak, yang harus dirangsang sejak dini17. Sebelum menjadikan literasi sebagai budaya dalam masyarakat, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah pembiasaan diri sejak dini. Penyebab rendahnya minat baca anak salah satunya karena kesulitan akses terhadap sumber bacaan. Semangat baca yang tinggi tidak akan berarti tanpa adanya sumber bacaan yang bisa dibaca sehingga minat pun akan berkurang18. Berdasarkan pengamatan, perpustakaan Rosella Genematrik sebagai fasilitator, mediator maupun motivator belum memenuhi tingkat literasi anak. Melalui hal ini, perpustakaan Rosella Genematrik menarik untuk diteliti lebih lanjut agar bisa menerapkan peran perpustakaan yang dapat membantu peningkatan literasi pada anak dengan memperkaya pengetahuan, mendukung pendidikan anak dan menjadikan perpustakaan sebagai media dalam memberikan informasi dalam bentuk pendidikan non formal. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi, wawancara mendalam dengan 6 informan terpilih dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan melakukan reduksi data terhadap data yang dianggap tidak relevan dengan permasalahan penelitian, kemudian dilakukan penyajian data, dan terakhir penyusunan kesimpulan19. Pemeriksaan keabsahan data temuan hasil penelitian ini menggunakan metode triangulasi.

Discussion

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui proses penelitian, maka hasil dan pembahasan disajikan berdasarkan peran apa saja yang telah dilakukan oleh Perpustakaan Rosella Genematrik dalam meningkatkan literasi anak-anak di wilayah Pontianak Selatan dilihat dari teori yang dicetuskan oleh Sutarno20 mengenai peran perpustakaan serta upaya yang dilakukan dalam mengoptimalkan peran tersebut. 1. Perpustakaan Rosella Genematrik dalam Meningkatkan Literasi Anak-anak di Wilayah Pontianak Selatan a. Peran Perpustakaan Rosella Genematrik dalam Menyediakan Sumber Informasi Perpustakaan memiliki peran yang krusial dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat untuk menunjang aktivitas seharihari. Pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat ini diwujudkan dengan disediakannya koleksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pengadaan koleksi di perpustakaan pada umumnya berdasarkan pada kebutuhan pemustaka yang dapat dijangkau oleh perpustakaan sehingga koleksi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien21. Sebagai contoh, perpustakaan umum yang terletak di daerah pesisir yang memiliki warga mayoritas bekerja sebagai nelayan, maka koleksi yang tepat untuk diadakan adalah koleksi yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Koleksi yang demikian dapat membantu dalam menyelesaikan permasalahan pada aktivitas sehari-hari warga sekitar. Pada akhirnya pemanfaatan koleksi menjadi maksimal karena koleksi-koleksi yang disediakan relevan dengan keadaan masyarakat sekitar yang menjadi pemustaka. Perpustakaan Rosella Genematrik merupakan perpustakaan umum yang pada awalnya didirikan dalam bentuk Taman Baca Masyarakat (TBM) sebagai salah satu prasarana dalam rangka menumbuhkan minat baca masyarakat khususnya di kelurahan Siantan Tengah. Namun demikian Perpustakaan Rosella Genematrik juga dijadikan salah satu pendukung program-program yang dikembangkan oleh Lembaga Rosella. Adapun program yang dimaksud salah satunya adalah program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Program pendidikan ini merupakan program yang paling diperhatikan oleh Lembaga Rosella. Selain itu lokasi PAUD yang menyatu dengan Perpustakaan Rosella Genematrik juga menjadi salah satu faktor mengapa perpustakaan tersebut lebih banyak dimanfaatkan oleh pemustaka anak-anak. Pengadaan koleksi di Perpustakaan Rosella Genematrik disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka yang sering memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Sehingga koleksi-koleksi yang disediakan di perpustakaan banyak koleksi khusus untuk anak-anak. Anak-anak PAUD dibebaskan untuk mencari koleksi untuk dibaca dan dipinjam. Melihat kondisi yang demikian, dapat dikatakan bahwa peran Perpustakaan Rosella Genematrik dalam menyediakan sumber informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan literasi anak-anak sudah ada, serta pemanfaatannya pun telah dilakukan. b. Peran Perpustakaan Rosella Genematrik sebagai Lembaga Pendidikan Non Formal Perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi mungkin hanya dapat diakses oleh siswa dan mahasiswa lembaga yang menaungi perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi saja. Hal ini dikarenakan adanya kepentingan tertentu seperti adanya tujuan pelestarian koleksi agar tetap dalam kondisi yang baik atau mungkin terbatasnya koleksi dengan tema tertentu sehingga koleksi tersebut pemanfaatannya hanya pada anggota lembaga tersebut, yang dalam konteks ini adalah siswa dan mahasiswa. Kondisi tersebut tidak berlaku pada perpustakaan umum yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memberdakan latar belakang, agama, suku, status pendidikan ataupun sosial dan sebagainya22. Koleksi yang disediakan pun beragam sehingga lebih banyak dimanfaatkan oleh berbagai jenis pemustaka. Perpustakaan inilah yang dapat memenuhi perannya sebagai lembaga pendidikan non-formal. Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan non-formal berdasar pada pemanfaatan perpustakaan yang tidak hanya diperuntukkan bagi yang mengenyam pendidikan formal saja, namun juga untuk masyarakat secara umum23. Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan non-formal merupakan istilah yang sangat tepat dikarenakan tujuan utama perpustakaan adalah menjadi prasarana yang dapat menumbuhkan minat baca, literasi dan pembentukan pembelajaran sepanjang hayat bagi siapapun di golongan masyarakat. Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan non-formal dapat diartikan sebagai tempat menggali informasi dan pengetahuan lewat sumber informasi yang tersedia tanpa perlu terikat dalam suatu pendidikan formal24. Tidak hanya melalui koleksi, namun juga melalui program-program yang dirancang oleh perpustakaan dalam rangka memenuhi fungsinya yang juga sebagai pusat pelatihan keterampilan untuk menambah kualitas diri pemustaka. Peran perpustakaan Rosella Genematrik sebagai Lembaga Pendidikan non-formal dapat dilihat dari program yang ada. Perpustakaan Rosella Genematrik menggalakan program bank sampah sebagai salah satu program dalam mendukung peranannya sebagai Lembaga Pendidikan non-formal. Sampah yang dikumpulkan di bank sampah tidak hanya didiamkan saja melainkan diolah sedemikian rupa menjadi kerajinan tangan sehingga menjadi produk baru yang dimanfaatkan kembali. Pengelolaan sampah menjadi kerajinan ini sering diterapkan pada pemustaka anak-anak dengan tujuan dapat meningkatkan kreativitas anak-anak dan membuat mereka menyadari bahwa perpustakaan tidak hanya tempat untuk membaca buku saja, namun tempat yang menyenangkan untuk bermain, menambah pengetahuan dan melakukan praktik terhadap pengetahuan tersebut. Tidak hanya bank sampah saja, melainkan ada program Posyandu, BKB (bina keluarga balita) yang dimana ibuibu harus baca-baca buku, belajar bagaimana cara pengasuhan dan cara merawat anak. Kemudian juga ada BKL (bina keluarga lansia) bagaimana pengasuhan orang lansia. Bahkan tidak hanya untuk anak-anak saja yang dapat meminjam koleksi tersebut, orang tua atau masyarakat umum bebas meminjam koleksi yang dibutuhkan. c. Peran Perpustakaan Rosella Genematrik sebagai Fasilitator, Mediator dan Motivator Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator dan motivator. Perpustakaan sebagai fasilitator artinya perpustakaan berperan sebagai perantara dalam menghubungkan pemustaka dengan prasarana perpustakaan. Peran ini dimaksudkan memenuhi tanggung jawab perpustakaan sebagai penghubung sumber informasi dengan pemustaka25. Didirikannya Perpustakaan Rosella Genematrik dengan segala fasilitas yang ada sudah memenuhi perannya sebagai fasilitator dalam meningkatkan literasi anakanak. Namun demikian tak dapat dipungkiri dalam penerapannya masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki agar pemanfaatan perpustakaan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Perpustakaan sebagai mediator artinya perpustakaan dapat membantu mempertemukan pemustaka dengan sumber informasi yang menjadi kebutuhannya dan diharapkan ada untuk dimanfaatkan26. Selain itu, sebagai mediator, perpustakaan memiliki tugas menjadi penghubung antara pemustaka dengan stakeholder dalam menyampaikan harapan mereka terkait bagaimana perpustakaan yang mereka harapkan kedepannya. Sebagai mediator, Perpustakaan Rosella Genematrik telah menjadi penghubung antara sumber informasi dengan pemustaka yang dapat dilihat dari koleksi yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak sebagai sumber informasi. Selain itu, sebagai mediator dengan Lembaga Rosella, perpustakaan senantiasa menjadi penghubung dalam penyampaian harapan kondisi perpustakaan yang dapat dikembangkan di masa depan. Sebagai motivator, perpustakaan memiliki peran untuk memotivasi pemustaka dalam memanfaatkan perpustakaan sebagai prasarana kegiatan literasi melalui program- program inovatif yang mereka laksanakan. Peran perpustakaan sebagai motivator dapat ditunjukkan melalui kegiatan-kegiatan yang diagendakan perpustakaan yang dapat berupa sosialisasi ataupun kegiatan publikasi yang bertujuan untuk menarik pemustaka memanfaatkan koleksi perpustakaan sehingga dapat meningkatkan minat membaca27. Sayangnya, di Perpustakaan Rosella Genematrik tidak ada program-program yang secara khusus ditujukan untuk memotivasi pemustaka anak-anak dalam meningkatkan kemampuan literasi mereka. 2. Kendala dan Upaya Perpustakaan Rosella Genematrik dalam Meningkatkan Literasi Anak-anak Tak dapat dielakkan pada setiap pengelolaan perpustakaan pasti masih ada kendala yang belum dapat dihindari, baik itu dari internal perpustakaan itu sendiri maupun berasal dari eksternal yang berhubungan dengan pemustakanya. Perpustakaan Rosella Genematrik sebagai perpustakaan umum binaan mengalami kondisi yang sama. Sebagai perpustakaan umum binaan yang didirikan oleh sekelompok masyarakat, perpustakaan ini mengalami kendala utama dari segi sarana dan prasarana. Meskipun koleksi yang disediakan dapat memenuhi kebutuhan pemustaka anakanak dalam membiasakan mereka untuk menumbuhkan minat baca dan membudayakan literasi, koleksi tersebut nyatanya masih dibilang cukup sedikit. Koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Rosella Genematrik hanya sekitar 866 yang tersedia dalam format cetak dan terbagi kedalam beberapa jenis bacaan termasuk bacaan untuk anak-anak. Jumlah tersebut masih dibawah Standar Nasional Perpustakaan (SNP) untuk perpustakaan umum di tingkat desa/ kelurahan yang mempunyai standar jumlah koleksi paling sedikit yaitu 1000 koleksi28. Selain permasalahan mengenai koleksi yang disediakan, untuk ukuran perpustakaan umum tingkat desa/kelurahan, sarana dan prasarana yang tersedia di Perpustakaan Rosella Genematrik masih sangat minim sekali. Menurut Standar Nasional Perpustakaan29, bangunan perpustakaan umum tingkat desa/kelurahan sekurangkurangnya memiliki luas 56m2 . Sedangkan Perpustakaan Rosella Genematrik hanya memiliki luas bangunan 50m2 yang dibagi menjadi area koleksi, area baca dan area staf. Area baca hanya memiliki fasilitas berupa meja baca berjumlah 9 buah dan kursi sebanyak 24 buah. Sarana akses layanan perpustakaan dan informasi berupa katalog koleksi pun tidak dimiliki oleh Perpustakaan Rosella Genematrik. Padahal katalog koleksi dalah standar minimal yang ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional untuk dimiliki perpustakaan umum tingkat desa/kelurahan. Gambar 1. Ruang Baca Perpustakaan Rosella Genematrik Kurangnya kuantitas dan kualitas SDM yang melakukan pengelolaan pada perpustakaan ini juga menjadi kendala. Dikatakan demikian karena pengelolaan program-program yang seharusnya dapat membantu menumbuhkan literasi anak-anak belum dapat dikembangkan karena kualitas SDM yang memang berasal dari orang awam yang tidak memiliki dasar pendidikan sebagai pustakawan. Kendala lain juga berasal dari eksternal perpustakaan seperti kurangnya dukungan dari masyarakat sekitar dan kemauan untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Tidak banyak upaya yang dilakukan oleh Perpustakaan Rosella Genematrik untuk menghadapi banyaknya kendala yang ada serta upaya penyediaan sarana dan prasarana karena kurangnya dana yang dimiliki. Meskipun demikian, Perpustakaan Rosella Genematrik melakukan upaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan literasi anak-anak yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Upaya yang dilakukan antara lain membangun kenyamanan anak-anak yang memanfaatkan perpustakaan dengan melakukan pelayanan yang baik untuk membantu mereka mengakses informasi yang dibutuhkan serta melakukan promosi yang umumnya dilakukan melalui mulut ke mulut (Word of Mouth) mengenai perpustakaan Rosella Genematrik yang dilakukan di berbagai kegiatan yang dilaksanakan Lembaga Rosella. Word of Mouth dinilai memiliki dampak besar terhadap pemasaran produk/jasa daripada aktivitas pemasaran lainnya karena dinilai lebih meyakinkan daripada aktivitas pemasaran yang bersifat komersial30. Word of Mouth cocok untuk dilakukan dalam mempromosikan perpustakaan karena perpustakaan melayankan jasa dan produknya berupa koleksi tanpa ada tujuan komersial. Selain itu, komunikasi pemasaran Word of Mouth paling murah karena tidak memerlukan biaya sehingga cocok untuk perpustakaan yang sifatnya masih merintis seperti Perpustakaan Rosella Genematrik.

Conclusion

Penelitian ini dilakukan pada Perpustakaan Umum Rosella Genematrik yang beralamat di Jl. Selat Sumba. No. 84 Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara Kota Pontianak. Penelitian ini diperuntukkan khusus untuk anak-anak dan masyarakat umum mengenai peran perpustakaan. Peran Perpustakaan Rosella Genematrik dalam meningkatkan literasi anak-anak yaitu: (1) perpustakaan berperan dalam menyediakan sumber informasi, dalam hal ini Perpustakaan Rosella Genematrik melakukan penyediaan koleksi-koleksi yang banyak dimanfaatkan oleh anakanak; (2) perpustakaan berperan sebagai lembaga Pendidikan nonformal, dalam hal ini Perpustakaan Rosella Genematrik mempunyai program yang mendukung program tersebut yaitu program bank sampah dan menjadikannya sebagai kerajinan. Hal ini dilakukan untuk membuat anak-anak menyadari bahwa perpustakaan dapat menjadi tempat yang mungkin tidak didapatkan di sekolah; (3) perpustakaan berperan sebagai fasilitator, mediator dan motivator, dalam hal ini Perpustakaan Rosella Genematrik telah melakukan perannya sebagai fasilitator dan mediator dengan mempertemukan sumber informasi dengan pemustaka, namun sebagai motivator Perpustakaan Rosella Genematrik tidak memiliki program yang dapat memotivasi pemustaka untuk meningkatkan kemampuan literasi mereka yang mendukung perannya ini. Kendala yang dihadapi Perpustakaan Rosella Genematrik antara lain mengalami kendala dalam penyediaan sarana dan prasarana karena kurangnya dana yang dimiliki. Selain itu kendala yang juga muncul adalah faktor SDM yang tidak memiliki kualifikasi sebagai pustakawan, kurangnya antusiasme dan dukungan masyarakat. Upaya yang dilakukan oleh Perpustakaan Rosella Genematrik yaitu membangun kenyamanan anak- anak yang melakukan pemanfaatan perpustakaan dengan melakukan pelayanan sebaik mungkin serta melakukan promosi perpustakaan dengan metode mouth to mouth promotion agar pemanfaatannya menjadi lebih luas dan optimal.