Mediatisasi Budaya: Dokumentasi Tari Klasik Golek Ayun-Ayun oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa atau disingkat YPBSM yakni organisasi seni tari klasik Yogyakarta. Komunitas YPBSM melestarikan budaya tarian klasik sejak dahulu melalui berbagai macam tarian yang diselenggarakan, salah satunya tari Golek Ayun-Ayun yakni tarian untuk menyambut tamu. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui proses dokumentasi tari klasik Golek Ayun-Ayun oleh YPBSM. Teori yang digunakan adalah mediatisasi dan dokumentasi. Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilangsungkan melalui metode observasi, wawancara, serta dokumentasi. uji keabsahan data dengan melakukan uji kredibilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa melakukan pendokumentasian budaya tari klasik, khususnya Tari Golek Ayun-Ayun melalui proses merekam dan mengelola. Kegiatan merekam didahului dengan mengumpulkan informasi kemudian mencatat data yang diperoleh sebagai bahan pembuatan video dan buku ajar. Kegiatan mengelola terdiri dari menghimpun dokumen dengan melakukan penyebarluasan informasi di media sosial. Dalam penyimpanan hasil dokumentasi, dikemas dalam bentuk media visual, audio visual dan buku panduan pembelajaran. Terakhir melestarikan dokumen berupa pemisahan dan perawatan media audio-visual.
Abstract
Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa, abbreviated as YPBSM, is a Yogyakarta classical dance arts organization. The YPBSM community preserves classical dance culture from ancient times through various kinds of dances, one of which is the Golek Ayun-Ayun dance, a dance to welcome guests. The aim of this research is to determine the documentation process of the classical dance Golek Ayun-Ayun by YPBSM. The theories used are mediatization and documentation. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach. Data collection techniques in this research were carried out through observation, interviews, and documentation methods. The validity of the data was tested by conducting a credibility test. The results of this research show that Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa documents classical dance culture, especially the Golek AyunAyun Dance, through a recording and managing process. Recording activities are preceded by collecting information and then recording the data obtained as material for making videos and textbooks. Managing activities consist of collecting documents by disseminating information on social media. When storing documentation results, they are packaged in the form of visual, audio-visual media, and learning guidebooks. Lastly, preserving documents in the form of separating and caring for audio-visual media.
Keywords:
Mediatization
· cultural documentation
· Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa
· Golek Ayun-Ayun Dance
Introduction
Indonesia memiliki keberagaman seni dan budaya yang tidak terhitung dan tersebar dari Sabang hingga Merauke. Beragamnya seni dan budaya disebabkan oleh kondisi geografis dan ciri dari daerah asal seni budaya itu sendiri. Keanekaragaman seni dan budaya seringkali menjadi sarana untuk menarasikan nilai-nilai luhur yang kemudian dilestarikan dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Seni tari merupakan bentuk penyajian gerak tubuh yang indah dan ritmis untuk mengungkapkan perasaan jiwa manusia. Pada gerakan tari selalu diiringi musik untuk mengatur tempo gerakan penari sehingga dapat menyampaikan pesan pada tarian yang dimaksud. Salah satu jenis seni tari di Indonesia adalah tari klasik gaya Yogyakarta. Tari klasik yakni tarian tradisional yang lahir serta dibesarkan di lingkungan keraton serta diwariskan turun temurun. Penciptaan corak tari gaya baru dilakukan oleh Kasunanan Surakarta yang kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh Kesultanan Yogyakarta, sehingga tari klasik gaya Yogyakarta dinamai sebagai Joged Mataram. Tari klasik gaya Yogyakarta merupakan tarian yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I yang kaya akan makna dan memiliki aturan tertentu.1 Dapat dikatakan bahwa organisasi tari klasik gaya Yogyakarta pada mulanya tidak ada dalam sejarah tari Yogyakarta. Pada saat itu, pertunjukan tari keraton hanya dilakukan di dalam keraton, serta tarian tersebut bukan sembarang tarian, hanya dipentaskan guna kepentingan keraton. Sekitar tahun 1918, tari klasik gaya Yogyakarta dapat dipelajari di luar keraton atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono.2 Tari klasik yang mulanya hanya diperuntukkan untuk ditonton kaum bangsawan, kemudian berkembang ke luar istana sehingga masyarakat luas dapat turut serta menonton dan menikmatinya. Dari sana kemudian munculah organisasi kesenian rakyat, khususnya pada seni tari di kabupatenkabupaten dan di daerah pinggiran Yogyakarta. Dengan keadaan yang demikian, munculah organisasi yang melakukan pelestarian budaya dalam bidang seni tari klasik di Yogyakarta.3 Pesatnya perkembangan zaman yang diiringi kemajuan di bidang teknologi menjadi faktor utama penyebab lunturnya nilainilai budaya pada masyarakat. Warisan seni dan budaya mulai terkikis dan ditinggalkan oleh masyarakat dan digantikan dengan budaya baru dari luar yang lebih modern. Kendati demikian, masih terdapat anggota masyarakat yang membentuk suatu organisasi yang berupaya dalam mempertahankan serta melestarikan seni budaya agar dapat terus dinikmati dan diteruskan oleh generasi penerus. Salah satu organisasi masyarakat yang melakukan pelestarian budaya adalah YBPSM, atau Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa, yakni singkatannya. Mardawa Budaya yang berdiri pada tahun 1962 yakni cikal bakal keberadaan YPBSM. Keinginan masyarakat guna itu meningkat pada tahun 1976, serta sebuah platform yang dikenal selaku Pamulangan Beksa Ngayogyakarta ditambahkan ke dalam proyek tersebut. Yayasan Pamulangan Beksa Mardawa Budaya terbentuk ketika nama kedua organisasi tersebut digabungkan pada tahun 1992. Namun pada akhirnya, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) terpilih selaku nama pada tahun 1998. YPBSM yakni komunitas maupun asosiasi yang bergerak dalam bidang seni tari klasik Jawa di Yogyakarta. Bentuk kegiatan yang dilakukan oleh YPBSM adalah pembelajaran dan pelatihan gerakan tarian. KRT Sasmintadipura yang kemudian dikenal selaku Rama Sas yakni pendiri organisasi tersebut. Alm. Rama Sas terkenal dengan kiprahnya selaku guru, koreografer, serta empu tari keraton Yogyakarta. Ia memainkan peran penting dalam melestarikan tradisi tari klasik gaya Yogyakarta serta mengadaptasinya ke era modern tanpa meninggalkan standar tari. Rama Sas yakni sang maestro tari klasik gaya Yogyakarta serta pejuang tari klasik yang mendedikasikan hidupnya guna mengejar passion-nya, tari klasik. Rama Sas berhasil menciptakan ratusan tarian klasik gaya Yogyakarta hingga akhir hayatnya. Sehingga Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa ingin meneruskan perjuangan serta cita-cita dari pendiri organisasi.4 YPBSM telah melakukan beberapa penyusunan mengenai tari klasik Yogyakarta beserta dengan komposisi lagu dan musik pengiring tarinya, baik untuk bahan ajar maupun pentas pagelaran. Bahkan sudah dikasetkan yang bisa digunakan oleh masyarakat umum. Salah satu tarian yang didokumentasikan adalah tari Golek Ayun-Ayun. Tari Golek Ayun-Ayun yakni tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan langsung oleh pemilik Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa yakni Alm. Rama Sasmintadipura pada tahun 1976. Filosofi dari tari tersebut yakni menggambarkan seorang gadis remaja yang menjadi dewasa serta senang mendekorasi dirinya sendiri. Saat menerima tamu kehormatan, tarian Golek Ayun-Ayun sering ditampilkan. Tari Golek Ayun-Ayun yakni variasi dari beksan (tarian) selaku tarian tunggal, namun dalam pengenalan tari Golek Ayun juga dapat digerakkan dalam kelompok enam hingga delapan seniman dengan menangani kreasi serta desain lantai. Tari Golek Ayun-ayun merupakan tari yang sering dipertunjukkan karena banyaknya permintaan untuk mengisi suatu kegiatan baik formal maupun non-formal5 . Berkaitan dengan hal tersebut, sebuah tarian yakni hasil dari sebuah budaya sering kali memuat aturan yang tidak dapat dilanggar, melibatkan aktor yang berpengaruh dan partisipasi terhadapnya dipandang sebagai sebuah kehormatan. Pada awalnya sebuah tarian klasik dipandang sebagai sesuatu yang sakral yang mengarah pada aktivitas keagamaan. Sedangkan media sebagai sesuatu yang sekuler mengarah pada perangkat dan proses transmisi informasi. Hal ini dapat menyebabkan gangguan bagi sebuah tradisi yang dapat menghilangkan kesakralannya. Media justru menjadi elemen yang seringkali memvalidasi dan semakin memperkuat signifikansi sebuah tradisi.6 Begitupula dengan Tari Golek Ayun-ayun bahwa aturan yang awalnya sacral hanya milik kraton kemudian berkembang di luar lingkungan keraton. Suatu pendekatan teoritik yang bisa digunakan untuk memahami konteks budaya dalam media adalah teori mediatisasi. Dalam teori ini menjelaskan bahwa media bukanlah sesuatu yang berada di luar masyarakat namun menjadi bagian dari jalinan masyarakat itu sendiri.7 Media dan institusi social dalam masyarakat telah terintergrasi maka media memberikan pengaruh dan terlibat secara aktif dalam transformasi sosio kultural termasuk praktik kesenian. Tari Golek Ayun-ayun merupakan kesenian yang termediatisasi yakni bentuk komunikasi simbolik dengan pola tertentu yang mampu melibatkan seseorang atau komunitas tertentu ke dalam dunia yang sarat-media melalui performa tertentu.8 Mediatisasi merupakan proses transformasi budaya dan sosial yang diakibatkan oleh perubahan media.9 Dalam masyarakat modern, mediatisasi menunjukkan beberapa hubungan dalam proses dokumentasi. Sebagaimana media menjadi saluran utama untuk mendokumentasikan peristiwa, berita, dan pengalaman. Pemberitaan media elektronik, cetak, dan digital menjadi sumber utama untuk merekam dan menyebarkan informasi, menciptakan jejak dokumentasi yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Media berperan penting dalam mediatisasi identitas dan budaya. Dokumentasi yang ditemukan dalam media menunjukkan bagaimana individu dan kelompok membuat dan menampilkan identitas mereka, dan bagaimana budaya direkam dan disebarkan melalui berbagai jenis media. Proses dokumentasi semakin terintegrasi dengan lingkungan media sebagai akibat dari mediatisasi yang terus berkembang, sehingga membentuk cara kita dalam menyajikan, menyimpan, dan mengakses informasi. Dalam konteks ini, interaksi antara dokumentasi dan media saling mempengaruhi satu sama lain dan membentuk dinamika kompleks dalam cara realitas direpresentasikan dan disajikan. Dokumentasi merupakan salah satu cara untuk melakukan pelestarian seni budaya. Dalam upaya menyediakan sumber daya informasi, dokumentasi penting dilakukan untuk memenuhi kebutuhan literatur.10 Dokumentasi merupakan kegiatan dari pengumpulan, pencatatan, hingga perekaman data atas suatu peristiwa sehingga dilakukan pengolahan dan penelusuran lanjut dari yang telah didapatkan. Proses pembangunan dokumentasi dan informasi dapat dilakukan secara kolaboratif sehingga dapat terwujud bentuk pangkalan data informasi yang baik dan benar. Diharapkan pendokumentasian seni budaya dapat berperan sebagai sumber informasi bagi publik dan menjadi bahan pustaka dalam upaya menjaga dan melestarikan kekayaan budaya. Seni tari merupakan seni sesaat yang membutuhkan dokumentasi dalam merekam seluruh gerakan secara menyeluruh dengan baik. Sehingga suatu saat apabila ingin melihat kembali hasil dari karya yang dilakukan sebelumnya, dokumentasi dapat ditemukan dan dilihat kembali. Pendokumentasian dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan budaya agar tidak punah tergerus oleh perkembangan zaman. Selain itu, dokumentasi dapat dijadikan sebagai media dalam mengembangkan kegiatan yang berkaitan pelestarian seni dan budaya Pemilihan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa sebagai objek penelitian dikarenakan banyak faktor. Salah satu faktor utama yaitu Yayasan tersebut masih memiliki keterkaitan dan hubungan dengan keraton. Banyak guru beserta murid dari Yayasan tersebut yang menjadi penari dan abdi dalem di keraton. Bahkan pendiri Yayasan tersebut merupakan empu tari di keraton Yogyakarta. YPBSM juga memiliki struktur yang sistematis dalam mengelola organisasi tari tersebut, sehingga menghasilkan dokumentasi terkait budaya seni tari klasik Yogyakarta. Peran YPBSM dalam mengembangkan budaya yaitu sumber pembelajaran tari klasik gaya Yogyakarta, karawitan, olah tembang, serta olah vokal macapat. YBPSM secara rutin menjadi tujuan guna menjaring seni tari serta karawitan dari berbagai daerah di Indonesia dan juga mancanegara. Berdasarkan latar belakang tersebut tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dokumentasi Tari Golek AyunAyun yang dilakukan oleh YPBSM. Metode penelitian yang dipakai pada penelitian ini yakni kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang mengumpulkan dan memberikan hasil data deskriptif dalam eksplorasi perilaku individu atau kelompok dan fenomena sosial dengan menggambarkan lebih mendalam yang didapatkan dari narasi berupa pertanyaan lisan maupun tertulis sehingga mampu menginterpretasikan melalui uraian kalimat.11 Penelitian kualitatif yakni penelitian yang dipakai guna mengkaji fenomena manusia serta sosial, sehingga pada akhirnya penulis hendak melaporkan atas hasil pengkajian sesuai laporan analisa data yang didapatkannya dari lapangan dan mendeskripsikan dalam laporan penelitian secara rinci. Penelitian kualitatif berdasarkan kondisi alam yang menekankan signifikansi serta nilai dan memahami interaksi sosial dengan memastikan kebenaran data. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan pendekatan yang mengidentifikasi pertanyaan yang menjadi topik penelitian. Pertanyaan penelitian menjadi kunci dalam membuktikan fenomena yang sedang diamati. Pengumpulan data pada penelitian ini dilangsungkan melalui upaya observasi, wawancara, serta dokumentasi. Observasi merupakan metode teknik pengumpulan suatu data yang memiliki karakteristik spesifik dibandingkan dengan teknik lainnya. Observasi merupakan kegiatan pengamatan dalam langsung mengumpulkan data guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan guna memecahkan masalah yang akan dibahas pada penelitian. Hasil observasi berupa pengamatan tempat, objek, aktivitas yang dilakukan, peristiwa, hingga suasana tertentu. Pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh gambaran dan kejadian berdasarkan kenyataan dan kebenaran yang akan diteliti. Wawancara dalam penelitian kualitatif yakni teknik pengumpulan data yang sering digunakan pada penelitian dengan melakukan interaksi komunikasi atau pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan topik penelitian antara pewawancara dengan narasumber penelitian. Teknik wawancara yang dilangsungkan atas pengkajian ini dilangsungkan melalui wawancara terstruktur. Pada wawancara ini penulis sudah memahami atas data yang hendak didapat dan menggunakan instrumen sebagai pedoman dalam melakukan wawancara. Wawancara ini dilakukan juga dengan alat bantu perekam suara sebagai pengumpul data hasil tanya jawab. Dokumentasi merupakan sarana dalam memudahkan pengkaji atas pengambilan data melalui melakukan kegiatan foto dan video tanpa mengganggu objek dan suasana saat dilakukan penelitian.12 Dokumentasi ini nantinya akan bermanfaat sebagai alat bukti dalam mengetahui kebenaran yang dilakukan saat penelitian. Penelitian ini dilakukan di sanggar tari atau ndalem Pujokusuman, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardaya yang berada di Jl. Dipokusuman No. 309, Keparakan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penulis mengambil waktu penelitian pada rentang tanggal NovemberDesember 2022. Dalam memeriksa keabsahan data terhadap penelitian ada empat jenis pada uji keabsahan data yang meliputi uji kepercayaan (credibility), keteralihan (transferbility), kebergantungan (depandibility), dan kepastian (confirmability).13 Berdasarkan uji keabsahan data yang telah disebutkan, dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik kredibilitas data. Teknik kreadibilitas data berfungsi untuk melakukan penelitian yang sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan dan mencapai derajat kepercayaan pada hasil penelitian dengan pembuktian yang dilakukan oleh peneliti. Dalam pemeriksaan data penulis menggunakan uji keabsahan data, yaitu triangulasi. Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan data untuk menemukan lebih banyak perspektif data sebagai pembanding terhadap data yang telah ditemukan. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber data yang mana penulis melakukan pencocokan informasi yang telah diperoleh dengan sumber lain untuk memperoleh data yang sama. Penulis membagi tahapan penelitian menjadi tahap akhir, tahap pelaksanaan, serta tahap persiapan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan rencana penelitian serta referensi yang relevan dimasukkan dalam tahap persiapan selaku dokumen. Catatan tentang kegiatan di studio YBPSM, dokumen terkait yang digunakan guna membuat izin penelitian, serta tinjauan literatur yakni sumber informasi ini. Pemahaman yang komprehensif tentang subjek di tangan dapat diperoleh dengan melakukan tinjauan literatur. Penulis mulai melakukan wawancara guna mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan penelitian selama tahap implementasi, observasi, dan dokumentasi. Dalam tahap ini, peneliti melakukan wawancara informal kepada narasumber. Narasumber yang menjadi subjek dari penelitian ini yaitu Ketua Umum dan guru tari dari Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa. Dalam tahap observasi, peneliti melakukan explanatory description, yaitu penelitian yang menggambarkan atau mendeskripsikan fenomena lebih mendalam. Penulis berkunjung langsung ke sanggar tari dan melihat proses pembelajaran dalam kegiatan di YPBSM. Dalam tahap dokumentasi, penulis mencari pendokumentasian tari klasik yang dilakukan oleh YPBSM atas aktivitas tersebut. Konfirmasi temuan dari lapangan (konfirmasi temuan dari studi kasus) yakni langkah terakhir. Keakuratan sumber data kemudian dikonfirmasi atau diperiksa ulang. Pertanyaan ini diajukan ke topik penelitian oleh penulis, yang kemudian menerapkannya pada tinjauan pustaka.
Discussion
Beberapa tahun terakhir ini teori mediatisasi tumbuh secara pesat. Peran media dalam masyarakat menunjukkan bagaimana media masuk dan mempengaruhi berbagai hal seperti kehidupan budaya dan politik. Mediasi menitikberatkan pada media dan bagaimana terjadi interaksi dan komunikasi melalui media tersebut. Sementara mediatisasi lebih memperhatikan pengaruh media terhadap khalayak, melihat begaimana khalayak menjadi sangat merasa ketergantungan kepada media dan melihat bahwa masyarakat selalu dibanjiri dengan keanekaragaman media. Mediatisasi sudah banyak diterapkan dalam berbagai bidang terkait kenyataan bahwa semuanya telah termediasi dengan teknologi baru, artinya tidak ada bagian dari dunia dan tidak ada aktivitas manusia yang tidak tersentuh oleh media baru. Dalam masyarakat modern, mediatisasi menunjukkan beberapa hubungan dalam proses dokumentasi.14 Pengertian dokumentasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa dokumentasi merupakan pemilihan, pemrosesan, dan penyimpanan informasi terkait pengetahuan serta pengumpulan bukti serta informasi seperti gambar, kutipan, kliping koran, serta referensi lainnya. Dokumentasi dalam budaya lokal perlu dilakukan sebagai upaya dalam melestarikan konteks budaya yang dimiliki. Apabila tidak dilakukan pendokumentasian pada budaya, maka generasi penerus tidak akan mengetahui perkembangan budaya pada daerahnya sendiri maupun daerah lainnya. Salah satu fungsi dokumentasi pada budaya yaitu sebagai bukti untuk dilakukan pengamatan yang berupa perkembangan maupun perbedaan budaya dari waktu ke waktu. Dokumentasi terdiri dari dua proses yaitu merekam dan mengelola15. Merekam merupakan kegiatan merekam pengetahuan yang belum terekam dari sebuah pemikiran, proses kerja, peristiwa dan pengetahuan. Mengelola adalah menghimpun pengethuan yang sudah terekam berupa tulisan, suara citra objek analog dan digital. Integrasi dari kedua kegiatan ini menjadi media untuk temu kembali informasi. Proses merekam berawal dari mengumpulkan informasi kemudian mencatatnya. Kemudian dilanjutkan dengan proses mengelola melalui kegiatan menghimpun, menyimpan dan melestarikan dokumen. Kegiatan menghimpun adalah mengumpulkan pengetahuan yang sudah ataupun belum tercipta. Kegiatan penyimpanan adalah pengorganisasian informasi dengan cara pelabelan supaya dapat digunakan dalam temu kembali informasi. Terakhir, pelestarian dokumen merupakan pengawetan dan perbaikan dokumen. Pada penelitian ini, penulis membatasi dan memfokuskan penelitian hanya pada dokumentasi proses pengajaran tari klasik Golek Ayun-Ayun. Penelitian mengenai dokumentasi budaya pernah dilakukan sebelumnya oleh Fara Feranisa dkk dengan judul “Rancang Bangun Bibliografi Beranotasi Debus Banten”. Tujuan dari penelitian tersebut yakni guna mengkaji struktur pada kesenian Debus pada proses pembuatan rancangan bibliografi menggunakan langkahlangkah kegiatan pendokumentasian menggunakan teori Sulistyo Basuki. Hasil pada penelitian yang telah dilakukan adalah dokumen klasifikasi bibliografi Debus Banten menggunakan DDC 23 dan AACR2.16 Adapun perbedaan atas pengkajian yang dilangsungkan atas pengkaji melalui pengkajian yang telah disebutkan adalah teori yang dipakai pada proses dokumentasi yang dilakukan. Tabel 1. Perbedaan teori penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan penulis Teori Sulistyo Basuki Teori Soedarsono 1. Menemukan lokasi dokumen atas beragam sumber, baik sumber yang terbit maupun sumber yang tidak terbit melalui penelusuran literatur 1. Merekam pengetahuan dari sebuah pemikiran, proses kerja, serta peristiwa yang belum terekam 2. Abstraksi dokumen pada literatur terbaru 2. Mengelola dengan menghimpun pengetahuan yang telah terekam berupa tulisan, gambar, maupun suara 3. Klasifikasi dokumen dan abstrak bagi pemakai 4. Mengindeks dokumen 5. Merekam untuk disebarluaskan 1. Tentang Tari Golek Ayun-Ayun Tari Golek merupakan tari klasik gaya Yogyakarta yang memiliki beberapa macam seperti golek Asmarandana Bawaraga, Asmara Kenya Tinembe, Lambangsari, Jangkung Kuning dan AyunAyun. Tari Golek Ayun-Ayun sendiri diciptakan pada tahun 1976 oleh pendiri dari organisasi seni tari klasik di Yogyakarta, YPBSM yaitu K.R.T. Sasmintadipura atau biasa dipanggil Rama Sas. Beliau merupakan seorang ahli dalam seni tari klasik Yogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, IX dan X. Tari Golek AyunAyun memiliki nama asli Golek Nawang Asmara, yang artinya jatuh cinta. Dalam kendhangan atau iringan menggunakan kendhang pada tarian ini, Rama Sas menggunakan gending Ladrang AyunAyun dengan menyesuaikan gerakan pada tari ini. Selain itu, beliau juga melekatkan nama gending Ladrang Ayun-Ayun sebagai nama tari sehingga disebut tari Golek Ayun-Ayun.17 Tarian ini biasanya dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan. Kata “golek” berasal dari Bahasa Jawa yang memiliki makna “mencari”. Istilah tersebut bertujuan untuk menemukan jati diri seorang remaja yang sedang bertumbuh. Tari Golek Ayun-ayun memiliki makna seorang gadis Jawa yang memasuki fase beranjak dewasa yang sedang mencari jati dirinya dan semangat dalam berdandan atau merias wajah6 . Tari Golek Ayun-ayun ditampilkan dengan mengenakan pakaian adat Jawa diantaranya; a. Jarik (kain dengan motif batik yang menutupi tubuh bagian bawah), b. Stagen (kain persegi panjang untuk memasang pikolo), rompi beludru dan sampur (kain) yang diikat di pinggang, c. Aksesoris berupa gelang, gelang bahu, kalung, subang (perhiasan dari perunggu), d. Ceplok jebehan (hiasan bunga dari kain saten), e. Jamang (penutup kepala bulu), f. Sinyong (rambut diikat disanggul rambut) dan cunduk yang disematkan pada rambut, g. Menthul (perhiasan berbentuk bunga). Tarian Golek Ayun-Ayun dibawakan secara berkelompok, biasanya terdiri dari penari dalam jumlah ganjil. Tarian Golek Ayun Ayun ini berlangsung sekitar 12 menit. Secara umum, Tari Golek Ayun Ayun ini memiliki tiga bagian utama dalam gerak tarinya, yaitu: a. Maju Beksan Tari Golek Ayun-Ayun diawali dengan gerak persembahan untuk menunjukkan rasa hormat pada raja, petinggi keraton, dan tamu yang datang. Gerak sembahan ini juga secara implisit mewakili ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. b. Inti Beksan Bagian inti dari tarian Golek Ayun Ayun menampilkan ragam gerakan tarian yang luwes dan ceria, layaknya seorang gadis yang sedang merias wajah dan mempercantik fotonya sendiri, sehingga membuatnya tampil lebih cantik dan menarik. Ada beberapa gerakan inti, antara lain berkaca (ngilo), berhias (tasikan), dan hiasan sanggul tambahan (trap cundhuk). Selain itu juga terdapat beberapa gerakan untuk menempatkan mahkota (atrap jamang) serta mengencangkan ikat pinggang (atrap slepe). c. Mundur Beksan Posisi terakhir dari tarian Golek Ayun-Ayun adalah bagian akhir pertunjukan yang menggunakan gerakan berjalan (kapangkapang) kemudian meminta penonton untuk berpamitan, selanjutnya penutupan yakni melalui gerakan sila panggung maupun postur duduk melalui postur persembahan.18 Dalam Tari Golek Ayun-Ayun ini, gamelan Jawa klasik yang mengiringi gending Landrang Ayun-ayun menjadikan tarian menjadi sempurna dan anggun untuk pertunjukan yang menggambarkan remaja Jawa. 2. Dokumentasi Tari Golek Ayun-Ayun oleh Yayasan Pamulang Beksa Sasminta Mardawa Yayasan Pamulang Beksa Sasminta Mardawa yang merupakan organisasi seni tari klasik Yogyakarta melakukan pemanfaatan multimedia dalam pengelolaan dan perlindungan terhadap budaya seni tari klasik Yogyakarta. Multimedia merupakan sarana atau alat yang terdiri dari seni, suara, gambar, teks dan video yang dikelola teknologi komputer agar bisa menyampaikan informasi dan dikontrol secara interaktif. Dalam melakukan preservasi terhadap budaya tersebut menghasilkan dokumen. Berikut adalah proses dokumentasi Tari Golek Ayun-Ayun yang dilakukan oleh YBSM. Tabel 2. Hasil yang diperoleh dari dokumentasi kegiatan oleh YPBSM No Teori Temuan (Hasil) 1 Merekam a. Mengumpulkan informasi dilakukan oleh YPBSM sebelum kegiatan berlangsung b. Mencatat data yang diperoleh sebagai bahan pembuatan video, buku ajar gerakan tari 2 Mengelola a. Menghimpun dilakukan YPBSM dengan penyebaran informasi di media sosial b. Menyimpan tulisan hasil pembuatan bahan ajar, foto dan video c. Melestarikan dokumen berupa pemisahan dan perawatan media audiovisual Kegiatan dokumentasi mencangkup dua aktivitas yakni merekam dan mengelola.19 Dalam melakukan dokumentasi pelatihan Tari Golek Ayun-Ayun, YPBSM melakukan proses sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh organisasi tersebut. Proses pertama adalah merekam, yakni merekam proses informasi yang belum tercatat atau terekam dari suatu konsep pemikiran, proses kerja, serta kejadian aktual dan pengetahuan. YPBSM melakukan beberapa proses kegiatan merekam yaitu dengan mengumpulkan informasi kemudian mencatat. Mengumpulkan informasi dilakukan oleh YPBSM sebelum kegiatan berlangsung. Pada tahap persiapan YPBSM melakukan pengawalan dalam melaksanakan kegiatan dokumentasi melalui kegiatan yang dilakukan terlebih dahulu di sanggar. YPBSM memberikan panduan buku bahan ajar untuk guru dan murid di organisasi tersebut agar bisa membantu dalam melaksanakan kegiatan dan menggelar kegiatan tari. Buku panduan yang diberikan berisi tata cara gerakan tari. Para murid mempelajari gerakan-gerakan tersebut tidak hanya melalui buku namun juga melalui guru di YPBSM. Para guru mengajarkan tiap-tiap gerakan dengan lantunan musik di sanggar YPBSM. Untuk menyiapkan penari yang berkualitas maka kegiatan latihan tari diselenggarakan pada hari Senin s.d. Jumat dimulai pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB. Adapun hal lain yang dilakukan YPBSM dalam persiapan merekam yaitu menyiapkan properti seperti: a. Atribut dan kostum tari Penari melakukan persiapan dalam pemakaian kostum tari dan atribut yang dibutuhkan untuk tari. Penari memakai riasan sesuai dengan tarian yang ditarikan. Kostum tari telah disediakan oleh YPBSM dan atribut tari lainnya juga telah ada di sanggar. b. Musik Tari dan Sound System Pengadaan pentas dan kelas memerlukan musik untuk mengiringin tarian. Musik yang disediakan untuk pementasan diiringi langsung dengan alat musik gamelan yang dimainkan juga oleh anggota YPBSM. Sedangkan musik dalam kelas tari dimainkan melalui kaset yang berisi audio suara musik tari menggunakan sound system yang ada milik yayasan. c. Kamera Perekaman yang dilakukan YPBSM membutuhkan kamera untuk menangkap seluruh kegiatan. Kamera berfungsi untuk menangkap seluruh momen pada saat kegiatan berlangsung. Kamera yang digunakan dalam perekaman menggunakan kamera DSLR. d. Tripod Penggunaan tripod dalam proses dokumentasi dihubungkan dengan penggunaan kamera. Tripod berfungsi sebagai penyanggah kamera agar menjadi tegak dan tidak mudah gerak saat pengambilan gambar dan video. Tripod digunakan untuk menahan kamera agar gambar dan video yang dihasilkan terlihat jernih dan stabil. Setelah terkumpul informasi maka dilakukan proses pencatatan ke dalam tulisan. Tulisan tersebut dijadikan patokan dalam pembuatan video tari Golek Ayun-ayun mulai dari pengambilan gambar sampai penyebarluasan video. Segala hal yang telah dipersiapkan oleh YPBSM dilaksanakan dengan penuh kehatihatian. YPBSM melaksanakan kegiatan rutin kelas tari di sanggar. Selama kelas tari berlangsung, YPBSM juga melakukan perekaman dalam beberapa gerakan tari selama latihan. Hal ini dilakukan YPBSM untuk memperbanyak dokumen visual dalam proses pengeditan video tari. Pelaksanaan kelas tari secara rutin akan mempersiapkan kelancaran bagi para penari untuk mengadakan pagelaran pentas tari. YPBSM memiliki program agar dilakukannya pengadaan uji terhadap tiap murid dalam pengadaan pagelaran tari. Pentas uji siswa diselenggarakan setiap 6 bulan sekali dengan tujuan agar siswa mempunyai pengalaman pentas lengkap dengan rias dan busana untuk setiap materi yang di ujikan. Selain itu juga ada kegiatan rutin yang bernama “Selasa Legen” atau pentas tari yang diadakan setiap malam selasa Legi. Gambar 1. Dokumentasi Latihan Tari Golek Ayun-Ayun Proses persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan YPBSM akan menghasilkan sebuah dokumentasi berupa video yang telah disunting/diedit. Video merupakan urutan banyaknya gambar atau kejadian yang dapat memberikan gambaran suatu informasi. Dokumentasi video berisi kombinasi suara dan gambar yang bergerak. Video banyak diminati orang karena lebih menarik dan efektif dalam penyampaian informasi secara langsung. YPBSM menghasilkan dokumen berupa video yang berisi potonganpotongan cuplikan tiap gerakan tari yang dipentaskan atau ditarikan oleh murid dan guru YPBSM. Produk dokumentasi YPBSM berupa video yang mana tahap selanjutnya adalah mengelola produk tersebut. Kegiatan mengelola merupakan pengumpulan informasi yang telah terekam dalam bentuk tulisan, suara citra objek analog dan digital. Terdapat caracara tersendiri dalam mengelola sebuah dokumen. Sebagaimana pemahaman mengenai Personal Information Management yang merupakan pengetahuan mengenai kegiatan seseorang agar bisa memperoleh, memelihara, menyimpan, mengambil, menggunakan, serta mendistribusikan informasi yang diperlukan guna mencapai serta memenuhi tujuan atau kebutuhan hidup.20 Tahap pertama yang dilakukan YPBSM dalam kegiatan mengelola adalah menghimpun. Penghimpunan disini berarti penyebaran informasi yang dituangkan dalam bentuk foto dan audio visual ke dalam media sosial. Hasil dari rekaman yang telah dilakukan oleh YPBSM akan dikelola dan diedit melalui aplikasi edit video. Pengeditan dilakukan oleh pihak YPBSM bagian dokumentasi. Setelah diedit, video tersebut akan dipublikasikan melalui akun media sosial milik YPBSM. Pengelolaan media sosial menjadi salah satu cara dalam menyebarkan informasi yang cepat tentang kebudayaan. YPBSM memiliki akun Youtube yang dijadikan tempat untuk mengunggah video tari. Sedangkan YPBSM menggunakan Instagram untuk mengunggah hasil-hasil foto. Foto adalah hasil gambar yang diabadikan menggunakan kamera. Foto tidak menghasilkan suara dan gambar yang bergerak. YPBSM melakukan pengambilan foto pada pagelaran dan kegiatan kelas rutinan yang diadakan. Selain melakukan publikasi foto, YPBSM juga menerbitkan buku panduan untuk bahan ajar kepada murid tentang gerakan-gerakan tari. Buku panduan berisi gambar dan tulisan. Tulisan merupakan kumpulan huruf yang berkombinasi membentuk suatu kata, frasa atau kalimat. Penggunaan tulisan dalam buku panduan merupakan pemanfaatan dalam menggunakan media agar mudah dikendalikan dan dikelola penyimpanannya. Tulisan di buku panduan dipergunakan untuk menjelaskan maksud dari gambar yang tercantum di buku tersebut. Dalam buku panduan terdapat gambar yang diartikan sebagai bentuk visual dalam menyampaikan informasi. Gambar dianggap lebih mempermudah untuk dipelajari dibanding hanya teks. Gambar 2. Publikasi Pada Channel Youtube YPBSM Tahap kedua yang dilakukan adalah penyimpanan data. Proses penyimpanan data dilakukan untuk perlindungan dokumen yang dihasilkan oleh YPBSM. Laptop digunakan untuk mengolah beberapa hasil gambar dan video dengan menggunakan aplikasi. Dalam pendokumentasian hasil dokumen disimpan ke dalam tulisan pada buku panduan dan draf dari buku panduanpun disimpan dalam laptop. Sedangkan dokumen audio-visual disimpan ke dalam kaset video atau media Digital Video Disc (DVD) dan hardisk laptop yang diurutkan sesuai nama dokumen. Hal ini dilakukan agar memudahkan proses temu kembali informasi yang disimpan. Pada proses pengunggahan foto maupun video pada media sosial, dokumen secara otomatis akan tersimpan pada media pengunggahnya dan tersimpan pula pada media sosial tersebut. Tahap ketiga adalah pelestarian dokumen. YPBSM melakukan preservasi digital terhadap dokumen yang dihasilkan mereka. Preservasi digital merupakan tahapan dalam pengarsipan, penyimpanan dan melakukan back up data agar informasi dapat digunakan kapanpun. Preservasi digital merupakan serangkaian kegiatan mengelola agar informasi digital dapat diakses dalam jangka panjang.21 YPBSM melakukan perawatan informasi berbentuk audio visual dengan melakukan back up pada laptop dan media sosial. Sementara perawatan pada DVD dengan membungkus dengan cover supaya DVD tidak mudah tergores. Bagan 1. Model proses dokumentasi budaya di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa YPBSM merupakan komunitas yang bergerak dalam bidang seni tari klasik Jawa di Yogyakarta. Keberadaan komunitas tari menjadi salah satu unsur pendukung yang dapat mempertahankan eksistensi tari tersebut. Komunitas tari yang berkumpul dan melakukan kegiatan pada suatu tempat yang disebut sanggar tari. Di tempat tersebut para pelaku seni berkumpul, berlatih, dan berdiskusi seputar tarian yang mereka tekuni. Selain itu, merekapun mengatur dan mempersiapkan strategi. Sanggar merupakan salah satu lembaga pelatihan yang masuk dalam jenis pendidikan nonformal. Kegiatan di sanggar mencakup seluruh proses belajar mulai dari pengenalan, pembelajaran, penciptaan, serta adanya evaluasi. Beberapa pelaku kesenian tradisonal yang masih eksis pada umumnya memiliki sanggar.22 KRT Sasmintadipura sang maestro tari klasik gaya Yogyakarta serta pendiri YPBSM telah berhasil menghidupkan sanggar tari klasik selama 60 tahun lebih. Rama Sas memainkan peran penting dalam melestarikan tradisi tari klasik gaya Yogyakarta serta mengadaptasinya ke era modern tanpa meninggalkan standar tari klasik. Kata klasik dalam budaya Jawa digunakan untuk menunjukkan pada kesenian di lingkungan keraton. Klasik di Indonesia berarti rumit, mempunyai standar tinggi dan bentuk. Sedangkan klasik secara etimologi dari Belanda dan Inggris mengandung gagasan tentang Yunani dan Romawi Kuno sebagai kesenian istana yang sudah mencapai puncaknya. Hal tersebut erat kaitannya dengan gagasan tentang identitas istana, masa lalu, dan suatu pandangan tentang bentuk yang ideal.23 Seni tari klasik merupakan tari yang kental dengan aturan dan batasan formal yang ditetapkan oleh nilai-nilai kehidupan dalam keraton. Hubungan tari klasik dengan keraton merupakan sebuah simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Tari klasik lahir dan berkembang di lingkungan keraton yang mana telah mencapai kristalisasi estetik yang tinggi. Ciri khas tari klasik tentunya mempunyai koreografi yang paten serta perbendaharaan gerak yang telah terpola. Bentuk tata laku pada koreografi tari golek ayun-ayun diawali dan diakhiri dengan gerak sembahan. Secara tidak langsung gerakan ini bermakna ucapan syukur kepada Tuhan, sikap hormat kepada raja, dan sikap hormat kepada sesama. Hal ini juga merefleksikan sikap sopan santun, toleransi dan meghargai orang lain. Selanjutnya bentuk pola lantai dengan mempertimbangkan arah hadap penari sehingga sultan atau tempat duduk sultan menjadi fokus. Akan tetapi jika dilakukan di luar keraton arah hadap penari cenderung situasional. Makna yang terkandung dalam tari golek ayun-ayun adalah pencarian jati diri seorang gadis yang terlihat dari gugusan gerak yang menggambarkan orang berhias diri dan berbusana. Tak sekedar meniru orang yang sedang berbusana tari golek ayun-ayun juga menyimbolkan penghormatan kepada tamu.24 Tari golek ayun-ayun merupakan tarian yang terkenal dan secara resmi menjadi materi ajar di Kridha Mardawa kraton Yogyakarta. Dengan segala symbol dan kesakralannya tarian ini awalnya hanya diperuntukkan keluarga keraton saja. Akan tetapi saat ini, tari golek ayun-ayun sudah di ajarkan di luar keraton yaitu di sangar tari ataupun lembaga sekolah formal. YPBSM melakukan pembelajaran dan pelatihan gerakan tari. Yayasan ini juga memfasilitasi dan mendiseminasikan tari golek ayun-ayun pada masyarakat umum di luar istana. Melalui pendokumantasian tari golek ayun-ayun, masyarakat mengetahui, menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. YPBSM mendokumentasikan tari golek ayun-ayun dengan dua kegiatan yaitu merekam dan mengelola. Merekam, tim YPBSM membuka relasi dengan masyarakat untuk mengenalkan tari golek ayun-ayun. Mereka mengumpulkan informasi dari literatur dan catatan sejarah proses penciptaan tari golek ayun-ayun. Dikutip dari website YPBSM, yayasan ini didirikan dengan tujuan: 1. Mendidik generasi muda dalam bidang kesenian khususnya tari klasik dan karawitan gaya Yogyakarta dengan maksud menanamkan rasa cinta terhadap seni budaya bangsa sendiri. 2. Mengembangakan dan melestarikan budaya khususnya tari klasik dan karawitan gaya Yogyakarta dengan tujuan dapat meneruskan nilai-nilai budaya adiluhung kepada generasi penerus. 3. Membantu program pemerintah dalam bidang kepariwisataan.25 Wujud partisipasi masyarakat yang diberikan kepada YPSM bukan hanya berupa apresiasi saja melainkan sebuah rasa saling memiliki untuk turut melestarikan budaya bangsa. Meskipun YPBSM berorientasi pada tarian klasik namun, setiap karya yang dihasilkan bersifat dinamis, selalu mengikuti perkembangan zaman. Dalam proses mengumpulkan informasi ini tentu saja didukung oleh pengalaman yang sudah puluhan tahun mengembangkan seni tari klasik. Setelah tim YPBSM mengumpulkan informasi kemudian dicatat. Catatan digunakan untuk panduan dalam membuat media audio visual tari Golek Ayun-Ayun. Tim yang melakukan dokumentasi mempunyai panduan dalam merekam dan membuat audio-video kegiatan. Hal tersebut terlihat bahwa YPBSM telah menggunakan beberapa media baru diantaranya smartphone, laptop, internet, Youtube, dan Instagram. Dalam keseluruhan aktivitas manusia pasti tersentuh oleh media baru.26 Teknologi media telah merasuk dan mempengaruhi berbagai kegiatan terlebih pada proses dokumentasi. Mediatisasi dan dokumentasi seperti dua hal yang saling berkaitan. Mediatisasi berkaitan erat dengan berbagai bidang yang telah termediasi dengan teknologi baru. YPBSM menggunakan smartphone dan laptop dalam mengolah hasil perekaman berupa foto dan audio-video. Begitu pula pencatatan berupa buku dan media ajar. Laptop dan smartphone sebagai media baru tentunya memudahkan penggunanya dalam berselancar informasi secara online. Hal ini tentu saja berbeda dengan kemudahan yang didapatkan melalui komputer dan telepon seluler generasi sebelumnya. Dalam penerapan dalam dokumentasi, penggunaan laptop dan smartphone meliputi segala bentuk informasi dalam proses dokumentasi, mengirimkan pesan melalui berbagai platform, mengunggah maupun mengunduh hasil dokumentasi, mengedit produk dokumentasi hingga mencadangkan dokumen. Akan tetapi keseluruhan aktivitas tersebut bisa terlaksana jika tersambung dengan internet. Dengan demikian proses dokumentasi bisa dikatakan sudah termediatisasi dengan internet. Fenomena ini berdampak pada kultur perilaku manusia dalam mengakses informasi. Mediatisasinya terletak pada perubahan relasi atau interaksi social sehingga mengubah cara berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama. Dalam proses dokumentasi tentunya memanfaatkan teknologi computer yang dinamakan digital storytelling. Dimana proses penyampaian pesan melalui teknologi ini dapat dijadikan sebagai pesan dari aktivitas komunikasi. Digital storytelling melahirkan budaya visual, selain juga menyediakan tools untuk mengirimkan pesan berupa pengetahuan.27 Produk dokumentasi berupa foto dan video pertunjukan tari Golek AyunAyun diunggah oleh YPBSM melalui platform Youtube dan Instagram. Youtube merupakan platform video online yang populer saat ini. Pengguna dapat mengakses database video raksasa dengan jutaan video yang dapat diakses secara gratis. Youtube merupakan platform streaming yang paling sering digunakan. Selain dapat menikmati beragam video, pengguna youtube juga dapat mengunggah video serta melakukan siaran langsung. Hal inilah yang dilakukan oleh YPBSM untuk menjangkau lebih banyak penonton dan penikmat seni tari klasik. Melalui youtube YPBSM menayangkan pentas tari Golek Ayun-Ayun secara langsung atau live streaming. YPBSM juga mengunggah proses latihan tari yang dilakukan di sanggar serta pementasan tari Golek Ayun-Ayun ketika tampil di suatu acara. Hal ini menjadi nilai tambah untuk melestarikan kesenian tari klasik karena dapat menjangkau penonton dari seluruh dunia. Sedangkan pada platform Instagram digunakan untuk mengunggah produk dokumentasi berupa foto, flyer kegiatan sanggar serta cuplikan pementasan tari klasik. Kedua platform media sosial ini dilengkapi tools untuk mengirim pesan sehingga para pengguna dan YPBSM bisa saling berkomunikasi secara maya. Informasi yang dikemas dan disebarluaskan melalui media social terbukti bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Bentuk mediatisasi disini terlihat adanya perubahan relasi social sehingga mengubah cara berkomunikasi dan interaksi antar pemilik dan pengguna. Mediatisasi dibedakan menjadi dua yaitu langsung dan tidak langsung. Langsung merujuk pada aktivitas yang semula tidak termediasi berubah menjadi termediasi, aktivitasnyapun ditampilkan melalui interaksi dengan mediumnya. Sedangkan tidak langsung berarti sebuah aktivitas semakin terpengaruh oleh bentuk, isi, dan organisasinya dengan mekanisme yang mediagenic.28 Dalam kasus dokumentasi ini mediatisasi yang terjadi secara langsung. Dulu produk rekaman hanya berupa kaset pita tetapi saat ini roduk rekaman yang telah dihasilkan kemudian dihimpun dan disimpan dalam komputer. Dokumen hasil rekaman tersebut juga dibuat file cadangan untuk mengantisipasi ketika tidak bisa diakses karena dokumen tersebut hilang atau terkena virus. Selain itu dokumen juga diunggah ke dalam media sosial yang tentunya berhubungan dengan internet. Media sosial sebagai mediumnya sehingga pengguna bisa menentukan sumber informasi mana yang akan digunakan. Dari sini terlihat perilaku pengguna sudah berubah. Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa telah melakukan pendokumentasian guna kegiatan seni tari klasik sejak tahun 2013 yang berawal dari tulisan blogspot. Namun proses dokumentasi yang dilakukan oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa tidak seluruhnya dilaksanakan sesuai dengan rencana yayasan. Adapun kendala yang dialami YPBSM dalam melakukan pendokumentasian antara lain : 1. Kurangnya pengetahuan SDM mengenai tata cara melakukan dokumentasi Dalam wawancara yang telah dilakukan, Bapak Alin mengatakan “Kalau untuk pembuatan dokumentasinya itu kita saat ini terbatas ya mbak SDM-nya, karena beberapa orang biasanya ngrangkep. Istilahnya yang selo bisa ngrangkep untuk dokumentasi kegiatan, jadi nggak ada tim khususnya. Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa memiliki kepengurusan dalam mengatur dan menjalankan organisasi seni tari klasik tersebut. Pengurus yang bertugas memiliki ketrampilan yang sesuai pada bidangnya masing-masing. Namun dalam pelaksanaan dokumentasi, pihak yang bertugas dalam melakukan perekaman belum sepenuhnya mengetahui tata cara penangkapan gambar dan video. Teknik pengambilan gambar yang dilakukan masih terlihat sederhana belum bervariasi. 2. Kurangnya pemanfaatan fasilitas pendukung dalam proses dokumentasi Yayasan ini telah menyediakan fasilitas berupa kamera, tripod, sound system untuk melakukan proses dokumentasi. Namun sayangnya fasilitas tersebut kurang dimanfaatkan dikarenakan kurangnya SDM yang mengurusi dokumentasi. 3. Kurangnya keaktifan dalam mengelola hasil dokumentasi di bidang publikasi Dalam wawancara yang telah dilakukan, Bapak Alin mengatakan “Dalam hal dokumentasi yang dilakukan Yayasan ini sudah dimulai sejak tahun 2016, mbak. Salah satunya yaitu upload di IG Yayasan. Nah mbak bisa buka di IG namanya sasminta_ mardawa. Kisaran tahun 2016-2019 kami aktif di sosial media mbak. Tapi di tahun 2019 keatas memang kurang aktif lagi dikarenakan pandemi ya saat itu.”30 Publikasi yang dilakukan oleh pihak YPBSM masih dianggap pasif dan kurang aktif. Akun sosial media yang dimiliki YPBSM belum sepenuhnya dikelola dengan baik oleh adminnya. Setiap kelas tari yang diselenggarakan tidak selalu didokumentasikan di akun media sosial. Namun, akun instagram sering memberikan promosi untuk membuka kesempatan orang-orang bergabung dengan YPBSM. 4. Minimnya kesadaran dari pihak yayasan dalam pengolahan hasil dokumentasi untuk kebutuhan berkelanjutan Pengelola oleh pihak YPBSM belum menjalankan seluruh kegiatan untuk preservasi dokumen tentang budaya tari klasik Yogyakarta tersebut. Hal ini dapat dilihat melalui kegiatan YPBSM yang tidak terlalu sering merawat dan membersihkan arsipan foto-foto beserta dokumen lainnya yang bersifat penting untuk kedepannya. Pengurus YPBSM masih kurang kesadaran untuk merawat dengan optimal hasil dokumentasi yang telah dilakukannya. Di kepengurusannya tidak ada staff khusus untuk mengelola informasi dan dokumentasi yang dihasilkan oleh YPBSM. Berdasarkan kendala yang dialami oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa dalam hal pendokumentasian kegiatan seni, Yayasan akan membentuk tim dokumentasi dan tim kreatif dengan memanfaatkan SDM yang ada atau melakukan pencarian SDM untuk bergabung menjadi bagian dari yayasan. Tim dokumentasi dan tim kreatif ini nantinya dapat menghasilkan hasil dokumentasi yang akan dipublikasi pada akun sosial media YPBSM sehingga dapat menambah informasi terkait kegiatan seni tari. Selain itu dapat menjadi bagian dari promosi yayasan untuk menarik peminat dalam melestarikan tari klasik.
Conclusion
Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa merupakan komunitas/organisasi yang bergerak di bidang seni tari klasik gaya Yogyakarta. Yayasan ini telah melakukan dokumentasi budaya tari Golek Ayun-Ayun. Dalam proses pendokumentasian, mereka melakukan perekaman dan pengelolaan. Kegiatan merekam didahului dengan mengumpulkan informasi kemudian mencatat data yang diperoleh sebagai bahan pembuatan video dan buku ajar. Hasil dari kegiatan ini terciptanya dokumentasi berupa tertulis dalam bentuk buku panduan yang praktis dan rekaman audio-visual dalam bentuk video Kegiatan mengelola terdiri dari menghimpun dokumen dengan melakukan penyebarluasan informasi di media sosial yakni Instagram dan Youtube. Dalam penyimpanan hasil dokumentasi, dikemas dalam bentuk media visual, audio visual dan buku panduan pembelajaran. Terakhir melestarikan dokumen berupa pemisahan dan perawatan media audio-visual. Dokumentasi dan mediatisasi merupakan dua hal yang saling berkaitan. Mediatisasi berkaitan erat dengan berbagai bidang yang telah termediasi dengan teknologi baru. Bentuk mediatisasi dalam kegiatan dokumentasi ini terlihat adanya perubahan relasi social sehingga mengubah cara berkomunikasi dan interaksi antar pemilik dan pengguna.