Meningkatkan Kunjungan Perpustakaan di Era Informasi Praktis Sosial Media: Strategi Manajerial SMAN 1 Parigi
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Farabi; Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Farabi; Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama Al Farabi
Abstrak
Sosial media memiliki peran signifikan terhadap perpustakaan dengan menawarkan mudahnya akses terhadap sebuah informasi. Namun faktanya, tidak sedikit dari pengguna sosial media justru menelan mentah-mentah sebuah informasi dari sosial media sehingga berdampak pada menurunnya minat membaca buku cetak yang juga mengakibatkan menurunnya kunjungan ke perpustakaan. Hal ini juga dirasakan oleh SMAN 1 Parigi dan menjadi tantangan tersendiri bagi pihak perpustakaan untuk mengembalikan eksistensi nya sebagai salah satu pengelola informasi. Tujuan penelitian ini untuk menemukan usaha yang dikerjakan manajerial perpustakaan SMAN 1 Parigi dalam mengembalikan eksistensi perpustakaan sehingga mengalami lonjakan kunjungan ke perpustakaannya. Menggunakan metode penelitian kualitatif dan studi literatur yang bersifat deskriptif serta wawancara dengan narasumber terkait isu ini, peneliti menemukan bahwa kebijakan pihak sekolah seperti pengalokasian dana khusus perpustakaan. Pemahaman mendalam terkait sosial media oleh kepala perpustakaan dan pustakawan juga merupakan faktor kunci untuk meningkatkan kunjungan ke perpustakaan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dan seminar. Tidak hanya itu, integritas pustakawan dalam memaksimalkan seluruh potensi yang ada juga menjadi faktor penentu mengapa SMAN 1 Parigi mengalami lonjakan kunjungan ke perpustakaannya. Kata kunci: Strategi Manajerial; Kunjungan Perpustakaan;
Abstract
Virtual entertainment assumes a huge part in libraries by offering simple admittance to data. Yet, as a matter of fact, a large number of the clients of online entertainment really swallow data from web-based entertainment, bringing about a reduction in interest in perusing printed books which likewise brings about a diminishing in visits to the library. This was likewise felt by SMAN 1 Parigi and turned into a test for the library to reestablish its presence as one of the data directors. The motivation behind this study is to figure out what methodologies are completed by the library administrative of SMAN 1 Parigi in reestablishing the presence of the library with the goal that it encounters a flood in visits to the library. Involving subjective exploration techniques and expressive writing concentrates as well as meetings with asset people connected with this issue, the scientist found that school approaches, for example, designating unique library reserves. Top to bottom comprehension of online entertainment by the top of the library and custodians is likewise a vital element to build visits to the library by going to preparation stages and classes. Not just that, the uprightness of the custodians in boosting all suitable potential is likewise a deciding variable why SMAN 1 Parigi encountered a flood in visits to its library.
Keywords:
Managerial Strategy
· Library Visits
· Social Media
Introduction
Dalam bidang perpustakaan, kunjungan bisa diartikan sebagai upaya untuk menambah pengetahuan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar. Arti dari “kunjungan” sendiri dapat beragam tergantung pada situasinya. Secara umum, kunjungan bisa diartikan sebagai tindakan seseorang pergi atau hadir ke suatu tempat dengan berbagai maksud. Mengunjungi perpustakaan juga dapat dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk menyelesaikan tugas kuliah atau sekolah. Di samping itu, perpustakaan juga dapat dikunjungi untuk keperluan penelitian atau pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam konteks pendidikan, kehadiran di perpustakaan dapat memberikan dampak positif terhadap pencapaian akademis siswa.1 Oleh karena itu, kegiatan mengunjungi perpustakaan memiliki signifikansi yang besar dalam meningkatkan literasi masyarakat dan pencapaian belajar siswa. Seiring dengan itu, perkembangan teknologi membawa perubahan signifikan, termasuk di sektor perpustakaan dengan adanya media online. Secara umum, media online dapat digambarkan sebagai situs yang berfungsi sebagai panggung online untuk interaksi sosial, pertukaran informasi, dan pembentukan hubungan antara individu di seluruh dunia. Semua bentuk media dan alat komunikasi yang disajikan melalui asosiasi web, seperti email, situs, jurnal web, hiburan virtual, organisasi informal, dan aplikasi kunjungan, termasuk dalam lingkup media online. Informasi merupakan kebutuhan esensial bagi perkembangan individu dan lingkungan sosial, serta memiliki peran krusial dalam ketahanan nasional.2 a. Memahami Hiburan Berbasis Web Media sosial, yang disingkat menjadi medsos, merupakan perpaduan dua kata, yaitu media (perangkat, metode korespondensi, delegasi, penghubung) dan sosial (menyinggung masyarakat atau cara individu bekerja sama). Kaplan dan Haenlein mengkarakterisasi media berbasis web sebagai aplikasi berbasis web yang memberdayakan penciptaan dan perdagangan konten yang dibuat oleh kliennya. Menurut Mayfield, hiburan berbasis web dapat dikategorikan sebagai kumpulan media berbasis internet yang memiliki kualitas seperti dukungan, transparansi, diskusi, area lokal, dan keterhubungan.3 Dibandingkan dengan media biasa, hiburan berbasis web mempunyai manfaat, seperti kemudahan, membuat kerjasama lebih luas, jangkauan global, kemampuan untuk berbagi data secara terus menerus, dan memiliki pilihan untuk mengukur kecukupan data melalui reaksi yang muncul. Hiburan virtual telah memengaruhi hubungan antar manusia, dan keuntungannya sangat bergantung pada cara pemanfaatannya. Hiburan online memiliki kualitas yang membedakannya dari media biasa, seperti yang dipahami oleh Mayfield. Karakteristik tersebut mencakup kemampuan pengguna untuk berinteraksi langsung dengan konten, mengontrol data platform, dan meningkatkan nilai konten yang diakses. Media sosial juga ditandai dengan desentralisasi, transparansi, dan penggunaan teknologi yang terus berkembang tanpa terikat pada struktur sebelumnya. Bagi pustakawan dengan semangat kewirausahaan, media sosial menjadi sangat penting, tidak hanya untuk kepentingan terkait dengan perpustakaan, tetapi juga untuk membangun jaringan dan memperluas wawasan. Media sosial dapat digunakan untuk mempromosikan perpustakaan secara virtual, membangun jejaring, dan berbagi informasi terkait bisnis. Kesempatan menyampaikan melalui hiburan virtual diatur dalam Pasal 28F UUD 1945 yang menjamin hak setiap orang untuk menyampaikan dan memperoleh data. Namun, dampak dari kebebasan ini juga mencakup risiko kejahatan, seperti penipuan online, penyalahgunaan mastercard, taruhan berbasis web, penggambaran karakter yang keliru, peretasan akun, dan penyitaan situs.4 Media sosial sangat penting bagi perpustakaan dalam era online, karena membantu dalam pemasaran, promosi, dan membangun jejaring. Pustakawan dapat memanfaatkannya untuk mempromosikan perpustakaan, berbagi informasi, dan berinteraksi dengan pemustaka. Konten hiburan berbasis web mungkin mencakup Situs, Facebook, Rekaman digital, saluran RSS, Twitter, YouTube, Instagram, dan Wiki. Berdasarkan informasi penelitian dari Asosiasi Penyedia Akses Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada periode 2022-2023. Angka ini meningkat 2,67% dibandingkan periode sebelumnya yang jumlah klien webnya mencapai 210,03 juta orang. Dari segi populasi, jumlah pengguna internet setara dengan 78,19% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 275,77 juta jiwa. Farhani Ali, Indah Maulidah dan Yana Suryana Pemanfaatan hiburan virtual di Indonesia sendiri mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sesuai Informasi Laporan, pada tahun 2023, jumlah total klien hiburan online akan menghubungi 167 juta orang. Dari angka ini, 153 juta adalah klien yang berusia di atas 18 tahun, mewakili sekitar 79,5% populasi absolut. Selain itu, sebanyak 78,5% klien web tampaknya dinilai memiliki sekitar satu akun hiburan virtual.5 Proyeksi ini menunjukkan pola vertikal yang mungkin akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Ini dapat ditemukan pada Gambar 1. Gambar 1. Pengguna Sosial Media di Indonesia 2017-2023 Sumber: (Data Good Stats, 2023) Berdasarkan laporan Statista, pada tahun 2017, klien hiburan online di Indonesia hanya mewakili 47,03% dari total populasi. Namun, data menunjukkan bahwa angka ini akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2023, mencapai total 76,04% klien. YouTube menduduki posisi sebagai hiburan virtual paling terkenal di Indonesia, dengan total klien mencapai 139 juta pada pertengahan tahun 2023. Facebook berada di posisi kedua dengan 119,9 juta klien. Namun terjadi penurunan 10 juta pelanggan dari tahun 2022, yaitu sebesar 7,7%.6 Salah satu panggung hiburan berbasis web yang mengalami perkembangan pesat adalah LinkedIn. Hiburan virtual ini mencatatkan peningkatan 3 juta klien atau sekitar 15% dari tahun sebelumnya, tepatnya tahun 2022. Namun efek negatifnya adalah faktor literasi yang rendah dan budaya berbagi informasi secara gegabah dapat memicu penyebaran hoaks. Pengguna internet di Indonesia lebih memilih konten media sosial, hiburan, dan berita. Aplikasi hiburan berbasis web telah menjadi bagian penting dari telepon seluler, dan perpustakaan dapat memanfaatkannya untuk mempromosikan keunggulan dan keunikan perpustakaan. Kesadaran eksistensial bahwa “Perpustakaan bermedia sosial, maka Pustakawan ada” menunjukkan pentingnya peran pustakawan dalam menggunakan media sosial untuk mempertahankan eksistensi perpustakaan. Dalam konteks ini, pustakawan dapat memperlihatkan keunggulan perpustakaan, mengabadikan momen terbaik, dan berinteraksi dengan pemustaka melalui berbagai platform media sosial. Hal ini dapat memperkuat hubungan antara perpustakaan dan komunitasnya, mempromosikan literasi, dan menciptakan kehadiran yang positif di dunia maya. b. Pengaruh Sosial Media Kemunculan “om telolet om” yang sempat menjadi sensasi web di internet menimbulkan keanehan yang luar biasa. Meskipun awalnya hanya terkait dengan bus yang membunyikan klakson, namun jika dicermati secara spiritual, viralitas “telolet” dapat memberikan pesan positif. Di balik klakson tersebut, terdapat makna bahwa bagi seseorang yang tersesat dalam perjalanan hidupnya, “telolet” digunakan sebagai panggilan untuk mengingatkan dan mengarahkan agar jalannya menjadi benar.7 Namun dalam pemanfaatan hiburan virtual, terdapat dampak buruknya, terutama bagi umat Islam yang terkadang terlalu terpesona dengan hiburan berbasis web sehingga urusan percintaan menjadi tertunda. Citra masyarakat umum yang semakin kabur dalam beramal demi kelangsungan hidup pasca kematian ternyata memang benar adanya. Mereka lebih cenderung terlibat dalam dunia hiburan online, meskipun faktanya kebenaran datanya masih terlalu jauh. Perspektif individu yang baru-baru ini mengintip makalah, artikel sensasional, atau buku di tempat terbuka kini telah berubah menjadi individu yang mengintip karena sedang membaca pesan di ponsel, tablet, dan berbagai gadget praktis lainnya. Misalnya, ketika seruan untuk memohon kepada Tuhan dikumandangkan, banyak orang yang tidak segera berdoa, namun masih sibuk membuka situasi dengan beberapa aplikasi hiburan virtual. Karyawan, termasuk kustodian, juga mungkin mengalami penurunan efisiensi dan eksekusi karena mereka sibuk dengan pesan-pesan dari berbagai grup WhatsApp yang mereka ikuti. Secara umum, dampak hiburan online dapat dibagi menjadi positif dan negatif. Dampak positifnya antara lain berkembangnya organisasi antar perpustakaan, memperluas kemampuan kurator dalam menggunakan media baru, mendekatkan data dari berbagai perpustakaan, menjadi wahana penyebaran data mutakhir, dan menjadi sarana korespondensi antar individu kustodian dan antar pemegang buku. dan klien. Di sisi negatifnya, kehadiran media sosial dalam gawai pustakawan dapat menyebabkan kecenderungan untuk terus memeriksa notifikasi setiap waktu. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, merenggangkan relasi sosial, mengurangi privasi, menurunkan kinerja dan produktivitas, serta menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada mata. Selain itu, penggunaan smartphone juga dapat memunculkan gangguan psikologis seperti social anxiety disorder, obsessive compulsive disorder (ODC), dan fear of missing out. 8 Dalam konteks perpustakaan, penggunaan hiburan online harus dipertimbangkan secara hati-hati agar pelaksanaannya dapat dilakukan dengan baik. Bila digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi alat efektif untuk memperluas jejaring dan mempromosikan layanan perpustakaan. Namun, perlu juga dihindari dampak negatif yang dapat merugikan kesehatan dan kinerja pustakawan. Oleh karena itu, kesadaran akan dampak media sosial perlu ditingkatkan, dan pustakawan serta pemustaka seharusnya menggunakan media sosial dengan bijak tanpa mengesampingkan urusan keagamaan dan tugas-tugas lainnya. Melalui jaringan berbasis web, data dapat diakses oleh siapa saja tanpa dibatasi oleh kenyataan. Pilihan untuk mendapatkan data dipandang sebagai kebebasan mendasar, sedangkan penerimaan terhadap data publik merupakan ciri mendasar dari mayoritas kekuasaan yang menyatakan kekuasaan individu untuk mencapai keberhasilan penyelenggaraan negara.9 Perpustakaan dipandang sebagai pintu masuk informasi, dan pemegang buku berperan sebagai penjaga pintu masuk informasi tersebut. Pengaruh periode komputerisasi pada perpustakaan dan pengunjungnya telah mencapai gagasan interaksi interpersonal, yaitu pemanfaatan atau pengaturan komunitas atau asosiasi informal. Organisasi interpersonal ini digunakan untuk korespondensi terkomputerisasi setelah periode inovasi telepon seluler era kedua (2G), termasuk tahapan yang berbeda tanpa penundaan. Selain bertukar informasi, masyarakat juga dapat berbagi informasi, pengalaman, dan mengikuti aktivitas menggunakan aplikasi hiburan berbasis web. Penggunaan smartphone meningkat memungkinkan pengunjung perpustakaan untuk beraktivitas di sosial media. Meskipun dapat menjadi sarana positif untuk berdiskusi dan berbagi informasi yang konstruktif, terdapat pula risiko berita palsu dan berkurangnya minat baca. Faktor yang menyebabkan menurunnya keinginan membaca siswa di Indonesia karena kemampuan pemahaman dan kurangnya kecenderungan pemahaman. Namun, penggunaan media sosial juga berdampak pada menurunnya minat membaca buku cetak di Indonesia karena banyak dari siswa merasa informasi yang mereka butuhkan sudah cukup diperoleh dari media sosial. Selain itu, kurangnya akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas juga menjadi faktor utama yang menyebabkan menurunnya minat baca anak-anak di Indonesia. Pada dasarnya unsur-unsur tersebut dapat diurutkan menjadi variabel dalam dan faktor luar. Beberapa faktor dalam yang mempengaruhi rendahnya minat membaca siswa di Indonesia antara lain kemampuan membaca.10 Siswa mungkin memiliki kemampuan pemahaman yang kurang memadai, sehingga membuat mereka kesulitan memahami buku atau membaca materi yang diberikan di sekolah. Lalu kurangnya kebiasaan membaca yang mana siswa mungkin tidak memiliki kebiasaan yang baik dalam membaca, yang menyebabkan mereka untuk merasa tidak tertarik dalam membaca. Selain itu, siswa mungkin mengalami kesulitan dalam memperoleh buku atau membaca materi yang mereka butuhkan, sehingga membuat mereka merasa tidak tertarik untuk membaca. Variabel luar yang menyebabkan rendahnya minat baca siswa di Indonesia antara lain: a) iklim sekolah yang kurang kuat, b) fungsi perpustakaan yang kurang optimal, c) terbatasnya buku/materi pemahaman, d) keluarga yang kurang mampu kurang mantap, dan e ) Dampak menatap TV dan memanfaatkan ponsel. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan upaya-upaya seperti memperluas aksesibilitas membaca bukubuku yang menggugah keinginan siswa, melakukan promosi dan penggunaan media sosial untuk meningkatkan minat berkunjung siswa di perpustakaan, dan mengenalkan perpustakaan sejak dini. Selain itu, upaya harus dilakukan untuk lebih mengembangkan keterampilan pemahaman dan kecenderungan pemahaman siswa. Pustakawan, sebagai pengelola informasi, memiliki peran penting dalam mengendalikan penyebaran informasi palsu dan berkurangnya minat baca siswa sehingga bisa bedampak terhadap kunjungan ke perpustakaan itu sendiri, baik dalam hal kebijakan maupun programnya. Mengacu pada teori manajemen kontingensi yang dikembangkan oleh Fred Fiedler (1967) yang menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan bergantung pada kesesuaian antara gaya kepemimpinan dan situasi.11 Berdasarkan teori tersebut, baik kepala perpustakaan atau pustakawan harus memiliki keunggulan kompetensi dan terus memperbarui pengetahuan tentang perubahan teknologi informasi dalam menghadapi persaingan yang semakin kompetitif. Kajian ini menggunakan teknik kualitatif dan studi literatur yang deskriptif. Teknik deskriptif merupakan suatu teknik yang bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh mengenai situasi sesuai realitas yang ada di lembaga yang ditinjau. Penulisan ini mengambil bentuk deskriptif, yang mencerminkan kondisi yang dibandingkan dengan kebenaran yang sudah ada atau keadaan yang hampir tidak ada kendali. Eksplorasi ini dilakukan sesuai kondisi di SMAN 1 Parigi. Spesialis juga telah dengan jelas mengenali subjek pemeriksaan dan siapa yang akan melibatkan metodologi dalam mengumpulkan data yang diharapkan. Maksud dari pemeriksaan yang tidak salah lagi ini adalah untuk memberikan gambaran yang tepat atau sesuai dengan kenyataan yang ada. Informasi yang digunakan dalam penulisan ini meliputi pertemuan dan persepsi salah satu lembaga pendidikan favorit di Kabupaten Pangandaran, yaitu SMAN 1 Parigi.12 Pendekatan ini, peneliti langsung berhubungan dengan lapangan untuk memperhatikan peristiwa yang terjadi. Dalam kaitannya dengan pengujian subjektif, diperlukan adanya keterkaitan antara ilmuwan dan sumber informasi. Menggunakan kacamata teori dan dengan metode penelitian tersebut, tulisan ini akan membahas sejumlah aspek terkait investigasi peneliti dari mulai pengertian media social serta peran konten creator sebagai penyampai informasi, serta menemukan strategi yang dilakukan pustakawan SMAN 1 Parigi dalam meningkatkan minat baca siswa yang mengakibatkan melonjaknya kunjungan terhadap perpustakaan bahkan sampai kurangnya koleksi buku bacaan walaupun di tengah gempuran informasi praktis yang merupakan dampak dari perkembangan media sosial.
Discussion
a. Etika Bermedia Sosial Menjaga perkataan tidak hanya terkait dengan tindakan fisik, tetapi juga melibatkan penggunaan kata-kata melalui media sosial. Peneliti mengajak para pustakawan untuk selalu mengingat prinsip “Salamatul insan fii hifdzil lisan,” yang menegaskan bahwa keamanan seseorang terkait dengan pengendalian kata-kata. Baik itu tambal sulam, tuduhan, hoax, mendapatkan atau menyebarkan data, mengarang situasi, pesan singkat, tweet, mengirimkan gambar emoji atau artikulasi diri, dan semacamnya. Hal yang mesti diperhatikan adalah melakukan konfirmasi dan pemeriksaan teliti terlebih dahulu (tabayyun) sebelum mempercayai atau menyebarkan data. Seperti yang dirujuk dalam QS. Al Hujurot : 6, “Jika datang kepadamu orang fasik dengan informasi maka periksalah dengan teliti.” Menghindari keyakinan tanpa dasar dan sebaiknya menahan diri, baik itu fakta maupun prasangka (zhan), karena “prasangka tidak memberikan kebenaran sedikit pun” (QS. An-Najm: 28). Penting untuk tidak menghakimi sesuatu yang belum jelas kebenarannya (prejudice), karena hal ini bisa berujung pada fitnah dan konsekuensi negatif lainnya. Penting untuk berbicara dengan kata-kata yang bagus atau lebih baik diam, serta tidak sembarangan mendapatkan atau menyebarkan suatu hal. Sikap dalam berbagi informasi harus diperhatikan, seperti mencantumkan sumber dengan jelas dan menghindari klaim sebagai pendapat pribadi. Menjaga privasi juga penting dengan tidak memberikan data diri secara sembarangan di media sosial. Konten yang bersifat SARA harus disaring dan tidak boleh dibicarakan atau disebarluaskan. Hindari berkomentar dengan nada kebencian, provokasi, atau kebensian di akun orang lain untuk menghindari pelanggaran UU ITE. Penting juga untuk menghilangkan informasi palsu tanpa menghambat kebebasan berpendapat. Dalam grup WhatsApp, fokuslah pada silaturahim, amar ma’ruf nahi munkar, dan peningkatan pengetahuan dengan menghormati pendapat orang lain melalui pemahaman latar belakang, penerimaan tipe kepribadian, penggunaan bahasa yang tepat, dan penghargaan terhadap diversitas pendapat. Tidak hanya itu, peran konten kreator sebagai penyampai informasi haruslah bijak juga dalam bermedia sosial. Memastikan informasi yang diberikan valid serta terpercaya juga termasuk kedalam dua faktor penting yang mesti di perhatikan seorang konten kreator. Video short Youtube atau di berbagai platform lain misalnya, alangkah lebih bijaknya ketika konten kreator mencantumkan sumber referensi dari video atau konten tersebut. Bisa berupa mencantumkan link konten versi full nya atau sumbersumber rujukan untuk menguatkan informasi, disamping akan memilih dan memilah sebuah informasi.13 Penerapan media sosial di perpustakaan dapat menjadi alat komunikasi pemustaka dan promosi layanan perpustakaan. Dalam konteks ini, penting bagi pustakawan untuk berperan aktif dalam pengelolaan dan promosi, memastikan aplikasi media sosial yang digunakan sesuai dengan tujuan dan memberikan manfaat efektif. b. Faktor-Faktor yang Mendorong Melonjaknya Kunjungan Siswa ke Perpustakaan SMAN 1 Parigi Berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan, melonjaknya kunjungan siswa ke perpustakaan SMAN 1 Parigi dapat diurai melalui beberapa faktor. Adanya keterlibatan faktor internal dan eksternal memiliki peran signifikan dalam membentuk dan meningkatkan minat siswa untuk secara aktif mengunjungi perpustakaan sekolah. Dengan memahami kombinasi faktor tersebut, perpustakaan SMAN 1 Parigi mampu menciptakan lingkungan yang merangsang minat siswa untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang inspiratif dan mendukung perkembangan literasi mereka. 1) Faktor Internal Faktor-faktor internal yang memberikan dorongan positif terhadap kunjungan siswa ke perpustakaan meliputi siswa yang memiliki motivasi tinggi untuk berkunjung, pengaruh internet yang lebih terkontrol sehingga siswa lebih mudah untuk meresapi atmosfer perpustakaan, dorongan dan motivasi yang berasal dari diri sendiri, serta dukungan dan dorongan positif dari orangtua. Seiring dengan hal ini, Muhammad Yusuf menyatakan faktor internal memainkan peran kunci membentuk minat siswa untuk mengunjungi perpustakaan.14 2) Faktor Eksternal Adapun faktor-faktor eksternal yang turut andil dalam melonjaknya kunjungan siswa ke perpustakaan SMAN 1 Parigi melibatkan aspek lingkungan termasuk strategi manajerial perpustakaan. Faktor-faktor ini mencakup peningkatan pencahayaan dan ventilasi di sekitar perpustakaan, menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung pertukaran udara dalam ruangan perpustakaan. Selain itu, peran orangtua juga menjadi faktor eksternal yang positif, di mana orangtua terlibat aktif merangsang hasrat untuk membaca pada anak sejak dini. c. Sarana untuk Meningkatkan Minat Berkunjung Siswa di SMAN 1 Parigi Standar Nasional Perpustakaan (SNP) menetapkan kriteria minimal untuk penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan.15 Dalam konteks sarana perpustakaan di SMAN 1 Parigi, terdapat berbagai fasilitas yang telah disediakan, seperti AC, komputer, rak koleksi, lemari, TV, proyektor, wi-fi, fasilitas baca pengunjung, fasilitas petugas termasuk kepala perpustakaan, lemari majalah, lemari koran, lemari alat peraga serta mainan edukasi, tempat sampah, jam dinding, alas karpet, dan papan informasi, bai kitu tata tertib perpustakaan maupun struktur organisasi perpustakaan. Untuk rincian lebih lanjut, dapat dilihat Gambar 2. Gambar 2. Sarana dan Prasarana Perpustakaan SMAN 1 Parigi Sumber: (Data Hasil Penelitian, 2023) Hal ini sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan (SNP) yang disarankan. SNP ini mencakup beberapa perspektif, termasuk kantor perpustakaan dan kerangka kerja. Misalnya dalam Standar Nasional Perpustakaan SMA/MA disebutkan bahwa perpustakaan yang ideal adalah yang dilengkapi dengan kantor dan landasan sesuai dengan norma, baik sebagai kantor, misalnya rak, meja pemahaman, tempat duduk pemahaman, inventaris. lemari, lembar pengumuman, tabel alur, majalah dinding. , atau gadget penglihatan dan suara. Selain itu, SNP juga mencakup norma koleksi perpustakaan, prinsip penyelenggaraan perpustakaan, pedoman pegawai perpustakaan, norma pelaksanaan, dan pedoman pengurus. Menyinggung UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengatur bahwa masing-masing koordinator perpustakaan wajib melengkapi kantor dan yayasan sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan.16 Hal ini menunjukkan bahwa undang-undang tersebut mendorong adanya fasilitas baik untuk perpustakaan, sesuai standar yang ditetapkan. Meskipun SMAN 1 Parigi telah menyediakan fasilitas dasar, pustakawan tetap perlu mempertimbangkan penambahan sarana guna meningkatkan minat berkunjung siswa ke perpustakaan sesuai dengan kebutuhan sekolah. d. Tantangan Pustakawan di Era Digital Dalam konteks perkembangan perpustakaan pada era saat ini, kebutuhan akan tenaga yang memiliki keahlian di bidang perpustakaan semakin mendesak. Tenaga perpustakaan diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan tradisional terkait dengan pengelolaan koleksi dan pelayanan perpustakaan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan teknis yang terus berkembang serta memiliki pemikiran progresif terkait pengembangan ke depan. Menurut Dickson dan Holley, pustakawan tidak hanya diharapkan untuk memiliki kecakapan teknis, tetapi juga diinginkan untuk bersifat bersikap proaktif dalam organisasi informal dan mengambil bagian secara efektif dalam proses tersebut.17 Organisasi interpersonal, sebagai bagian penting dari sosial media, memainkan peran krusial dalam era digital ini. Jejaring sosial tidak hanya digunakan untuk bersosialisasi secara pribadi, tetapi juga merupakan alat efektif untuk berinteraksi dalam berbagai konteks, seperti pertemanan, bisnis, aksi demonstrasi, dan banyak lagi. Oleh karena itu, pustakawan dituntut untuk memiliki literasi media digital yang kuat dan terkini terkait dengan media baru agar dapat menghadapi tuntutan kompleks dari lingkungan yang terus berubah ini. Dengan demikian, kehadiran pustakawan yang memiliki kombinasi keterampilan tradisional, keahlian teknis, serta literasi media digital menjadi suatu keharusan untuk menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang dalam mengembangkan perpustakaan pada masa kini. Gambar 3. Inklusi Media Online Sumber: (Data Hasil Penelitian, 2023) Penjelasan: Ilustrasi tersebut mengindikasikan sebagian besar proporsi terdapat pada media online. Lebih lanjut, media online mencakup variasi, salah satunya adalah website atau situs web. Setelah itu, media sosial terintegrasi sebagai bagian dari media online dan website, dan pada tahap akhir, ada sebagian media sosial yang dikenal sebagai jejaring sosial.18 Perpustakaan diharapkan menjadi sumber informasi yang sehat dan mendidik, dengan pustakawan membuat keputusan yang didukung oleh data, analisis, dan fakta agar lebih akurat. Pustakawan yang berasal dari generasi tua mungkin mengalami kesulitan beradaptasi dengan media sosial karena perubahan teknologi dalam lingkungan perpustakaan. Oleh karena itu, tantangan untuk bangkit dan menghadapi perubahan ini harus diatasi bersama. Literasi informasi dan kehati-hatian dalam berinteraksi dengan media sosial menjadi kunci utama. Pustakawan perlu mengajarkan kepada pemustaka untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami berita sebelum menyebarkan atau mempercayainya. Penting untuk tidak terjebak dalam peran sebagai pihak yang menyebarkan informasi tanpa pertimbangan, karena hal ini dapat dimanfaatkan oleh pihak yang hanya mencari keuntungan pribadi. Media online, karena kemajuan dalam teknologi, memainkan peran penting dalam perpustakaan. Pustakawan diharapkan dapat memanfaatkannya secara maksimal, tetapi juga perlu memperhatikan saran agar tidak menimbulkan masalah. Pustakawan harus bijak dan profesional, menjadi teladan literasi informasi, dan cerdas dalam menggunakan media sosial. Meskipun media online memiliki dampak yang signifikan dalam membangun perpustakaan yang maju, pekerjaan penting lainnya adalah terkait dengan pelatihan staf perpustakaan. Pustakawan perlu memberikan garis besar perpustakaan tingkat lanjut, menunjukkan cara memanfaatkan perpustakaan yang terkomputerisasi, menyajikan hal-hal penting yang ada, dan menyarankan perpustakaan tingkat Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, pengelola harus memiliki kemampuan yang lebih baik dan terus memperbarui wawasan mereka tentang perubahan dalam inovasi data. Menyinggung kemungkinan hipotesis eksekutif yang dibuat oleh Fred Fiedler pada tahun 1967, ia membedakan tiga faktor mendasar yang mempengaruhi kesesuaian keadaan dan keefektifan pemimpin. Hubungan antara pimpinan dan bawahan menjadi point pertama karena mencerminkan tingkat kepercayaan dan keyakinan tim terhadap pemimpinnya. Situasi menjadi lebih menguntungkan jika seorang pemimpin memiliki hubungan yang baik dengan anggota timnya dan dipercayai. Faktor kedua adalah struktur tugas, yang merujuk pada jenis tugas yang diharapkan dilakukan oleh para pengikut. Tugas yang jelas dan terstruktur cenderung menciptakan situasi yang lebih menguntungkan bagi keberhasilan kepemimpinan. Pemimpin dapat lebih efektif dalam menghadapi tugas yang terstruktur dengan jelas. Faktor ketiga adalah kekuatan posisi pemimpin, yang mengacu pada seberapa kuat atau lemahnya kekuasaan posisi seorang pemimpin. Pemimpin dengan kekuatan posisi yang kuat cenderung berada dalam situasi yang lebih menguntungkan. Kekuatan posisi mencakup kontrol atas sumber daya, pengaruh dalam pengambilan keputusan, dan otoritas terkait jabatan. Teori ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak dapat diukur secara mutlak, tetapi harus dipertimbangkan dalam konteks situasional.20 Kesesuaian antara gaya kepemimpinan dan karakteristik situasi tertentu yang akan menentukan keberhasilan kepemimpinan. Dalam hal ini, pustakawan sebagai pemimpin perpustakaan perlu menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka dengan situasi yang dihadapi untuk mencapai keefektifan yang optimal. Kolaborasi lintas profesi dapat membantu, termasuk dengan pakar teknologi yang mumpuni. Sosialisasi cara memilah berita yang benar melalui media menjadi kunci untuk melawan penyebaran hoax. Pustakawan perlu membentengi diri dari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, menjunjung tinggi etika bermedia sosial, dan mengedepankan konsep “Iman dan Ines (Internet Aman dan Internet Sehat)” sebagai solusi terhadap pengaruh buruk bersosial dalam dunia maya. Lebih jelasnya, dapat dilihat dari berbagai upaya yang dilakukan pustakawan SMAN 1 Parigi dalam meningkatkan kunjungan siswa ke perpustakaannya sehingga dapat dikatakan bahwa strategi dan upaya pustakawan tersebut efektif dan juga efisien. e. Upaya Meningkatkan Kunjungan Siswa ke Perpustakaan Salah satu lembaga pendidikan ternama di daerah Pangandaran, SMAN 1 Parigi juga pernah mengalami penurunan kunjungan perpustakaan yang signifikan, hal ini terjadi sekitar tahun 2017 sampai 2020 disebabkan kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan sekolah sedang memfokuskan anggaran untuk kebutuhan yang lain, seperti penambahan lab komputer, lab kimia, ruang kelas, gedung olahraga, dan sarana prasarana yang lainnya karena misi nya untuk menjadi salah satu lembaga pendidikan yang unggul khususnya di Kabupaten Pangandaran.21 Pandemi Covid-19 juga pastinya berdampak terhadap kunjungan ke perpustakaan SMAN 1 Parigi, menyebabkan siswa tidak bisa datang ke sekolah sehingga informasi yang di dapatkan cukup dari handphone nya masing-masing dan tentu kunjungan ke perpustakaan pun akan berkurang.22 Oleh karena itu, atas usulan dari kepala perpustakaan, pustakawan, dan semua pihak yang bersangkutan kepada kepala sekolah pada awal tahun ajaran 2021/2022, pihak sekolah memfokuskan anggaran untuk melengkapi sarana prasarana perpustakaan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dimulai dari pengadaan akses internet dalam hal ini pemasangan jaringan Wi-Fi, peralihan dari kipas angin menjadi AC, penambahan koleksi buku yang lebih beragam bukan hanya jenis buku mata pelajaran, pemasangan karpet di perpustakaan, penambahan mainan edukasi seperti rubik, hingga membuat sebuah akun instagram resmi perpustakaan SMAN 1 Parigi yang nantinya pihak perpustakaan bisa mengabadikan momen-momen di perpustakaan nya, namun juga dari pihak siswa bisa lebih mudah mendapatkan akses ke perpustakaan.23 Pustakawan di SMAN 1 Parigi juga berusaha meningkatkan minat siswa untuk mengunjungi perpustakaan dengan melaksanakan program-program tertentu. Hasil wawancara dengan pustakawan mengungkapkan bahwa upaya ini melibatkan kegiatan seperti menonton bersama setiap Jumat pagi, sesi mendongeng pada setiap Selasa pagi, dan penambahan koleksi buku baru di pertengahan semester. Siswa diperbolehkan untuk bersantai ketika jam istirahat, bermain, dan aktifitas-aktifitas lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran diperbolehkan untuk menggunakan ruangan perpustakaan. Manajerial perpustakaan SMAN 1 Parigi sangat mengutamakan kebebasan berekspresi siswa. Hal ini tidak lepas dari tujuan pihak sekolah untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang nyaman, menyenangkan, namun sekaligus menenangkan, agar siswa yang datang ke perpustakaan bisa merasa seperti di rumah sendiri. Hartono berpesan, kemajuan adalah cara untuk menarik minat mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan. Upaya khusus yang dilakukan antara lain dengan menyebarkan brosur tentang perpustakaan kepada mahasiswa, mengajak mereka menonton film tentang perpustakaan, serta menceritakan tujuan dan manfaat perpustakaan.24 Kesamaan antara strategi yang digunakan di SMAN 1 Parigi dalam hal promosi, yaitu menonton bersama, mendongeng, dan penambahan koleksi buku baru. Selain itu, dalam acara nonton bareng tersebut, para pengurus SMAN 1 Parigi menunjukkan semangatnya dengan memutar dua jenis film, yakni film edukasi dan narasi anak muda. Hal ini sesuai dengan pemikiran Hartono yang menekankan bahwa dengan menayangkan film atau rekaman tentang perpustakaan dapat memberikan manfaat bagi siswa, terutama ketika ada kunjungan. Sementara itu, latihan bercerita dianggap sebagai media khusus yang biasa disebut dengan narasi, menurut pandangan Hartono. Kegiatan ini dilakukan untuk mengajak siswa memanfaatkan koleksi perpustakaan melalui pengalaman mendengarkan cerita. Pengembangan koleksi dan perluasan buku baru di SMAN 1 Parigi dilakukan setiap pertengahan semester untuk menarik minat siswa. Hartono memahami bahwa pengembangan koleksi perpustakaan merupakan siklus efektif yang mencakup berbagai aktivitas seperti pemilihan bahan, penilaian koleksi, identifikasi kebutuhan, dan pengaturan kerja sama. Oleh karena itu, pemilihan koleksi harus dilakukan secara cermat dan terencana agar tujuan perpustakaan dapat tercapai. Upaya nyata yang dilakukan SMAN 1 Parigi dengan memahami faktor-faktor dan memanfaatkan semua sarana yang ada seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perpustakaan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga dan meningkatkan minat siswa dalam berkunjung ke perpustakaan, menciptakan suasana yang nyaman, dan memotivasi siswa untuk mengeksplorasi sumber daya literasi yang tersedia di perpustakaan sekolah.25
Conclusion
SMAN 1 Parigi merupakan salah satu lembaga pendidikan favorit di Kabupaten Pangandaran. Tantangan bagi manajerial perpustakaan SMAN 1 Parigi untuk meningkatkan kunjungan ke perpustakaan. Hal ini tidak bisa lepas dari faktor internal dan eksternal, baik itu sosial media ataupun kebijakan dari pihak lembaga sendiri. Namun semua itu berubah pada tahun ajaran 2021/2022 ketika pihak sekolah menerapkan kebijakan baru untuk perpustakaannya yang mana kebebasan berekspresi siswa di perpustakaan sangat ditekankan. Hal ini juga tidak bisa lepas dari pemahaman kepala perpustakaan dan pustakawan SMAN 1 Parigi terhadap dampak dan etika bermedia sosial serta faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ke perpustakaan. Dalam usaha memaksimalkan seluruh potensi, baik itu sarana dan prasarana, mengikuti berbagai pelatihan, dan kerja sama seluruh pihak sekolah, SMAN 1 Parigi berhasil meningkatkan kunjungan ke perpustakaan yang signifikan bahkan sampai kekurangan koleksi buku. Artikel ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi lembaga pendidikan lain untuk lebih peka terhadap perpustakaan masing-masing. Selain itu dapat sebagai bahan komprehensif baik itu bagi peneliti selanjutnya atau pembaca untuk menambah wawasan pengetahuan yang lebih holistik terkait isu kunjungan ke perpustakaan.