Kembali
16
1
2024 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan Vol 12 · 2 ISSN 2477-5320

Menelaah Pilar-Pilar Program Pelatihan Literasi Informasi Berbasis Online : Dampak Pandemi Covid 19 (Studi Kasus di Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan)

Universitas Ahmad Dahlan

Abstrak

Pandemi Covid-19 memberikan pengaruh terhadap perubahan bentuk program yang ada di perpustakaan, salah satunya pelatihan literasi informasi yang semula dilakukan secara tatap muka berubah menjadi berbasis online. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui program literasi informasi berbasis online, tantangan yang dihadapi pustakawan serta respon pemustaka terhadap program pelatihan literasi informasi berbasis online di Perpustakaan UAD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan dalam penelitian terdiri dari 1 Ka.Ur Literasi Informasi & Promosi, 3 pustakawan yang menjadi pemateri, serta 100 peserta pelatihan di bulan Oktober 2023. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis data menggunakan konsepsi Huberman: kondensasi data, penyajian data, dan simpulan atau verifikasi. Uji kredibilitas data dalam kajian ini menggunakan triangulasi. Program pelatihan LI berbasis online di Perpustakaan UAD lebih efektif dan efisien membutuhkan tiga pilar yakni pengorganisasian, interpretasi, dan pelaksanaan. Meskipun demikian terdapat tantangan teknis dan non-teknis. Meningkatnya respon pemustaka terhadap program ini, terlihat dari meningkatnya jumlah peserta, viewer dan subscriber Youtube Perpustakaan UAD.

Abstract

The Covid-19 pandemic has impacted the changes in the form of library programs, one of which is information literacy training that was originally conducted face-to-face and became online-based. This study aims to find out the onlinebased information literacy program, the challenges faced by librarians as well as the response of users to the online-based information literacy training program at the UAD Library. This research uses qualitative methods. Informants in the study consist of 1 Leader of Information Literacy & Promotion, 3 librarians who are materialists, and 100 training participants in October 2023. Data collection techniques are done through observation, documentation, and interviews. Data analysis using Huberman’s conception: data condensation, data presentation, and conclusion or verification. Test the credibility of the data in this study using triangulation. The online-based LI training program at the UAD Library is more effective and efficient and requires three pillars, namely organization, interpretation, and implementation. However, there are technical and non-technical challenges. The increase in the response of readers to this program can be seen from the rise in the number of participants, viewers, and YouTube subscribers of the UAD Library.
Keywords: library programs · online literacy training · pandemic impact

Introduction

Awal Maret tahun 2020 masyarakat Indonesia resah dengan menyebarnya Coronavirus (Covid-19). Keadaan ini melatarbelakangi masyarakat untuk stay at home dan mengganti aktivitas hariannya menjadi berbentuk online. Hal serupa terjadi di Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Terbatasnya mobilitas ini memantik kreativitasan para pustakawan untuk tetap melayani pemustaka menemukan informasi valid dalam menunjang kebutuhan perkuliahan. Pemustaka yang dilayani saat ini termasuk dalam generasi Z yang ramah dengan teknologi dan multitasking1 . Generasi ini disebut juga sebagai iGeneration. iGeneration memiliki durasi paling lama dalam menggunakan internet dibanding generasi lainnya sebesar yakni 35% atau dapat dijabarkan bahwa lebih dari enam jam sehari dalam mengakses internet2 . iGeneration dalam kesehariannya terhubung dengan dunia maya dan memanfaatkan kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk mempermudah kegiatan sehari-harinya. Upaya untuk menyeimbangkan fenomena yang terjadi salah satunya dapat melalui pemberian asupan informasi cara berinternet sehat. Hal ini diperlukan supaya informasi yang diperoleh pemustaka dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kebenaran informasi dapat diperoleh jika pemustaka memiliki kemampuan Literasi Informasi (LI). LI adalah serangkaian kemampuan terintegrasi yang mencakup penemuan informasi secara reflektif, pemahaman tentang bagaimana informasi diproduksi dan dihargai, penggunaan informasi dalam menciptakan pengetahuan baru dan berpartisipasi secara etis dalam komunitas pembelajaran. LI merupakan kemampuan individu untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, cara mengakses informasi, mengevaluasi informasi dan sumber yang digunakan, serta menggunakan informasi secara efektif3 . Bundy dalam Setiyantono mengemukakan tiga elemen LI: 1. Keterampilan umum (pemecahan masalah, kolaborasi, kerja sama, komunikasi, dan berpikir kritis); 2. Keterampilan informasi (pencarian informasi, penggunaan informasi, dan kemampuan teknologi informasi); 3. Nilai dan kepercayaan (menggunakan informasi secara bijak dan etis serta tanggung jawab sosial dan partisipasi komunitas)4 . Adanya program LI diharapkan pemustaka mengetahui informasi bagaimana cara mencari literatur yang tepat, efektif, dan juga dapat memanfaatkan informasi di perpustakaan secara efektif dan efisien. Informasi yang mudah diakses bukan jaminan bahwa informasi tersebut layak digunakan untuk memenuhi tugas perkuliahan. Sama halnya, informasi yang diperoleh dalam jumlah banyak akan membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar untuk mengetahui kualitas isinya. Pemustaka yang memiliki bekal LI akan mengetahui kelayakan informasi yang dimiliki sekaligus mencegah yang bersangkutan untuk memproduksi dan menyebarluaskan informasi yang kebenarannya belum jelas5 . Kemampuan tersebut akan meminimalisir dalam mendapatkan, menggunakan, dan memproduksi ulang informasi yang bersifat hoax. Program pelatihan LI di Perpustakaan UAD sudah ada sejak tahun 2017 secara offline. Pada penelitian sebelumnya didapatkan hasil bahwa kelas LI di Perpustakaan UAD sebagai wujud program untuk menciptakan generasi yang melek informasi. Harapannya agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk mencari, menemukan, menggunakan dan mengevaluasi informasi yang diperoleh. Keterampilan yang didapatkan dengan adanya kelas literasi informasi ini dapat mempengaruhi proses belajar untuk kedepannya. Mahasiswa akan lebih kritis terhadap informasi yang diperolehnya serta tidak mudah terperdaya dengan informasi yang diterimanya6 . Senada dengan paparan ACRL for students not on traditional campuses, information resources are often available through networks and other channels, and distributed learning technologies permit teaching and learning to occur when the teacher and the student are not in the same place at the same time. The challenge for those promoting information literacy in distance education courses is to develop a comparable range of experiences in learning about information resources as are offered on traditional campuses. Information literacy competencies for distance learning students should be comparable to those for “on campus” students7 . Kajian mengenai pelatihan LI pernah dikaji oleh beberapa peneliti sebelumnya. Pelatihan zotero berpengaruh dan berdampak dalam meningkatkan keterampilan literasi penulisan karya ilmiah mahasiswa program studi Magister Ilmu Pemerintahan UMY8 . Pelatihan reference manager tools meningkatkan literasi mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Makassar dalam menelusur sumber-sumber informasi ilmiah dan penguasaan aplikasi mendeley dalam membuat daftar pustaka dan sitasi secara otomatis9 . Kegiatan serupa berdampak terhadap peningkatan literasi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menyusun karya ilmiah ataupun skripsi untuk jejang sarjana dan memberikan pemahaman bagi jenjang pascasarjana dalam melakukan sitasi maupun submit ke jurnal10. Dari tiga penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa pelatihan literasi informasi mengenai reference manager tools (zotero, Mendeley, end note) memiliki dampak terhadap peningkatan literasi para peserta. Terdapat persamaan antara penelitian kedua dan ketiga dengan kajian ini yakni program yang dilakukan secara online, namun intensitas program berbeda karena hanya dilakukan sekali. Terdapat persamaan kajian ini dengan penelitian pertama yakni penyelenggara program adalah perpustakaan, hanya saja bentuk programnya dilakukan secara offline dengan satu materi. Kajian ini akan berfokus pada program pelatihan literasi informasi berbasis online yang diselenggarakan oleh perpustakaan dengan tiga materi secara reguler di setiap bulannya. Menurut Jones &Baird dalam Mindart program merupakan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi untuk mencapai tujuannya. Implementasi program melalui pendekatan proses dengan tiga pilar utama11, diantaranya: a. Tahap pengorganisasian: pembentukan atau penataan kembali sumber daya, unit-unit serta metode agar menjadikan program berjalan; b. Tahap interpretasi: merupakan usaha untuk mengerti apa yang dimaksud oleh pembentuk kebijakan dan mengetahui benar atau tidak dan bagaimana tujuan akhir itu harus diwujudkan atau direalisasikan; c. Tahap pelaksanaan/aplikasi: merupakan penerapan secara rutin dari segala keputusan dan perundang-undangan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk tercapainya tujuan kebijakan Penelitian ini adalah penelitian fenomenologi yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian fenomenologi ini untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan program pelatihan literasi informasi online, tantangan yang dihadapi pustakawan, serta respon pemustaka terhadap bentuk pelatihan literasi informasi berbasis online. Informan dalam penelitian ini adalah 1 pustakawan yang menjadi Ka. Ur Literasi Informasi dan Promosi, 3 pustakawan yang menjadi pemateri pelatihan, serta 100 peserta yang terlibat dalam pelatihan literasi informasi online pada bulan Oktober 2023. Pertimbangan memilih informan dikarenakan mereka memiliki pengalaman program pelatihan literasi informasi dalam bentuk online. Teknik analisis data yang digunakan adalah konsepsi Huberman dengan tahapan 1) kondensasi data, 2) penyajian data, dan 3) simpulan atau verifikasi12. Pertama, kondensasi data meliputi merangkum hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi berdasarkan pertanyaan penelitian. Kedua, penyajian data dalam kajian ini berupa teks naratif, dan metrik. Ketiga, penarikan kesimpulan yang digunakan untuk menjamin keabsahan dan objektifitas data, sehingga kesimpulan terakhir dapat dipertanggung jawabkan. Uji kredibilitas data dalam kajian ini menggunakan triangulasi yakni dengan cara menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada yakni obeservasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terkait program pelatihan LI berbasis online sehingga didapatkan data yang valid

Discussion

1. Gambaran Pelaksanaan Pelatihan Literasi Informasi Berbasis Online Internet menyediakan ribuan informasi, hal ini dapat diperoleh pemustaka apabila mereka memiliki kemampuan literasi digital. Literasi digital merupakan kemampuan seseorang dalam mengoptimalkan teknologi digital untuk menganalisis informasi, mengevaluasi informasi, menemukan kebaruan informasi, serta mengkomunikasikan informasi secara efektif13. Program pelatihan literasi informasi berbasis online sudah berjalan lebih dari dua tahun. Terdapat kebijakan dari Perpustakaaan UAD untuk tetap mempertahankan pelatihan literasi informasi berbasis online meskipun Covid-19 sudah mereda dan aktivitas sudah kembali normal. a. Tahap Pengorganisasian Program Pelatihan Literasi Berbasis Online Kegiatan pelatihan LI berbasis online ini berlangsung melalui video conference zoom. Pemustaka dapat berpartisipasi dari jarak jauh, meskipun tidak harus datang ke perpustakaan. Pustakawan bertugas sebagai pemateri pelatihan memberikan solusi pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka yang relevan, valid dan kredibel dari sumber informasi online yang dimiliki oleh Perpustakaan UAD maupun informasi yang berasal dari internet. Gambar 1. Tahap Pengorganisasian Sumber: rumusan penulis 1. Pelaksanaan Program Program pelatihan LI berbasis online merupakan bentuk inovasi dari program pelatihan literasi informasi yang sudah ada sejak tahun 2017. Perbedaaanya terletak pada betuk pelaksanaan program. Jika dulu dilaksanakan secara offline, dengan adanya pandemi Covid-19 memberikan inspirasi hingga sekarang untuk tetap mempertahankan bentuk pelatihan. Pelatihan LI berbasis online ini lebih diterima oleh pemustaka saat ini atau iGeneration. Para pemustaka yang memiliki karakteristik lekat dengan gadget ini dapat leluasa menyimak materi yang disampaikan dan berpartisipasi aktif di dalamnya. 2. Jadwal Kegiatan Informasi mengenai jadwal pelatihan dapat pemustaka akses melalui website dan sosial media Perpustakaan UAD. Kegiatan ini dilaksanakan dari pukul 09.30-11.30 WIB di setiap sesi di setiap bulannya. Pemustaka dapat mengikuti program ini melalui video conference zoom. Adapun link zoom akan diberikan peserta H-1 sebelum pelatihan ini berlangsung melalui email yang digunakan untuk mendaftar maupun grup di telegram yang sudah disediakan. Program pelatihan LI berbasis online ini menjangkau lebih banyak peserta sehingga potensi tersebarnya informasi lebih luas. Para pemustaka dapat juga bergabung dalam program pelatihan LI berbasis online ini melalui live streaming Youtube Perpustakaan UAD. 3. Materi Kegiatan Kegiatan ini terdiri dari 3 jenis materi pelatihan yakni penelusuran database online, pemaksimalan ms word & cek kesamaan kata dan pemanfaatan reference manager mendeley. Kelebihan program yang dilaksanakan secara online ini, apabila para pemustaka belum jelas dalam menerima informasi sepanjang pelatihan mereka dapat memutar ulang video live streaming yang ada di Youtube Perpustakaan UAD. Selain itu, ketiga materi dapat diunduh melalui website Perpustakaan UAD. Harapan dengan adanya materi pelatihan LI yang dibuat secara detail, akan mendukung pemustaka dalam belajar secara mandiri. b. Tahap Interpretasi Program Pelatihan Literasi Berbasis Online Langkah yang ditempuh untuk meminimalisir terjadinya gangguan teknis selama program pelatihan literasi berbasis online adalah dengan menginfokan ke para peserta mengenai tata tertib pelatihan melalui email peserta yang digunakan saat mendaftar maupun melalui grup telegram kegiatan ini. Adapun tata tertib program sebagai berikut: 1. Menggunakan laptop Para peserta disarankan untuk menggunakan laptop saat mengikuti program pelatihan literasi informasi berbasis online supaya lebih maksimal. Para peserta dapat melakukan praktik bersama-sama dengan narasumber terkait materi yang sedang diajarkan. 2. Memasuki zoom 15 menit sebelum acara dimulai Pelaksanaan program pelatihan literasi informasi berbasis online akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan jika ada komitmen dari penyelenggara dan peserta maksimal 15 menit sebelum pelatihan dimulai sudah masuk ke link zoom yang diberikan. Pertimbangan salah satu diantaranya dapat mengatasi apabila terjadi trouble dengan internet maupun sarana pendukung program ini. 3. Menon-akifkan microphone Selama proses pelatihan berlangsung, peserta diwajibkan menon-akifkan microphone (mute). Terlihat sederhana, namun hal ini bisa menertibkan keberlangsungan program ini serta meminimalisir adanya noise yag tidak diinginkan. 4. Bertanya melalui room chat maupun raise hand Peserta yang ingin bertanya dapat berkomentar di room chat zoom maupun melakukan raise hand. Para peserta tidak perlu menunggu hingga pemaparan selesai, namun apabila disela-sela penyampaian materi ada pertanyaan dapat diakomodir melalui kolom komentar dan raise hand. 5. Presensi peserta di akhir program Link presensi peserta akan dibagikan di akhir sesi pelatihan sampai pukul 13.00 WIB. Adapun untuk penulisan email diharapkan untuk memperhatikan huruf, angka, maupun tanda baca sebelum dikirimkan. Hal ini bertujuan supaya sertifikat bisa lancar terkirim ke email yang bersangkutan, tidak salah alamat. Tata tertib ini digunakan sebagai rule para pemustaka supaya keadaan program pelatihan LI berbasis online ini kondusif dan dapat berjalan lancar. Hal ini berbeda dengan situasi pelatihan literasi informasi offline yang apabila terdapat trouble dapat mudah dikondisikan oleh pemateri mengingat dalam satu ruangan. c. Tahap Pelaksanaan Program pelatihan LI berbasis online merupakan program di bawah tanggung jawab Kepala Urusan (Ka. Ur) LI dan Promosi UAD. Beliau memiliki wewenang untuk memastikan semua proses kegiatan berjalan lancar dan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini maksimal. Adapun tugasnya meliputi menyiapkan materi bersama tim, membuat jadwal, menyiapkan gform pendaftaran peserta, promosi, konfirmasi terkait kesiapan pemateri, memastikan jaringan internet stabil, memastikan semua peserta sudah mendapatkan link zoom via email dan grup telegram, aplikasi zoom tidak bermasalah, memyiapkan form evaluasi online yang digunakan sebagai feedback peserta serta e-certificate dari setiap materi pelatihan literasi informasi. Para peserta dapat berperan aktif dan mensuksseskan kegiatan ini dengan cara menyiapkan laptop, memastikan internet stabil, dan fokus terhadap materi yang disampaikan. Harapannya dengan bekal dan panduan terhadap akses informasi ini dapat memberikan manfaat kepada peserta diantaranya membantu dalam penemuan informasi yang valid, terhindar dari tindakan plagiarisme, memudahkan dalam penulisan artikel ilmiah, memudahkan dalam pembuatan sitasi dan daftar pustaka, membantu dalam memaksimalkan reference manager tools, dll. Gambar 2. Tahap Pelaksanaan Sumber: rumusan penulis 2. Tantangan Pustakawan dalam Pelatihan Literasi Informasi Berbasis Online Berdasarkan hasil wawancara dengan Ka.Ur Literasi Informasi dan Promosi Perpustakaan UAD, sejauh ini program pelatihan literasi berbasis online lebih efektif untuk menjaring lebih banyak peserta pelatihan. Meskipun demikian, berikut ada beberapa tantangan yang dihadapi pustakawan selama menjalankan kegiatan ini: Gambar 3. Tantangan Sumber: rumusan penulis a. Tantangan Teknis Pelatihan LI berbasi online akan lebih banyak menemui tantangan teknis dibandingkan pelatihan secara offline. Tantangan utama yang dihadapi adalah kestabilan jaringan internet, baik dari jaringan tutor maupun peserta. Kestabilan jaringan akan mempengaruhi informasi yang diterima peserta. Selain itu, tantangan yang sering dihadapi adalah ganguan suara (noise). Ini sering terjadi di awal-awal pelaksanaan pelatihan online. Beberapa peserta masih sering lupa mematikan microphone di aplikasi zoom-nya sehingga pembicaraannya terdengar dan mengganggu pelaksanaan pelatihan literasi ini. Pihak perpustakaan dapat mengetahui tantangan setiap pelatihan dari form evaluasi yang dibagikan ke peserta di akhir sesi kegiatan pelatihan. Form evaluasi sangat membantu penyelenggara program pelatihan LI berbasis online maupun pemateri dapat mengevaluasi setiap sesi pelatihan yang melalui feedback yang diisi oleh para peserta. Berdasarkan hal tersebut, maka pelatihan LI dapat terus dievaluasi dan ditingkatkan kualitasnya untuk meminimalisir potensi buruk yang kemungkinan akan terjadi. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara tuti penelusuran database online: ʺSetelah selesai memberikan materi biasanya saya langsung melihat hasil pengisian form evaluasi dari peserta. Hal tersebut sangat berguna sebagai bahan evaluasi saya dalam menyampaikan materi di bulan selanjutnya dan bagi perpustakaan untuk lebih mempersiapkan diri dan meminimalisir terjadinya kebocoran suara maupun penyiapan jaringan internet yang lebih stabil (ZEM, 30 Oktober 2023)“14. b. Tantangan Non Teknis Kegiatan pelatihan LI dilakukan secara offline di Perpustakaan UAD memudahkan pemateri dalam membantu peserta secara langsung apabila mengalami gangguan teknis, sebaliknya di pelatihan LI berbasis online ini memberikan pustakawan batasan untuk turun tangan langsung dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi seperti peserta gagal dalam men-download aplikasi mendeley, gagal registrasi keanggotan perpustakaan nasional/perpustakaan daerah, ataupun mencarikan solusi alternatif lain ketika aplikasi yang diajarkan tidak cocok digunakan di laptop peserta. Tantangan dalam pelatihan LI berbasis online beragam. Pemateri sebaiknya menyiapkan alternatif solusi supaya peserta tetap dapat mengikuti jalannya pelatihan. Dibutuhkan pemateri yang mumpuni dan memiliki jiwa tenang dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari para peserta. Tidak sedikit pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta diluar dugaan dan jangkauan dari pemateri. Tidak sedikit pula ketika peserta mengalami permasalahan ataupun pemateri tidak jelas dalam menyebarluaskan informasi memilih diam tidak mau mengutarakan permasalahan yang dihadapi. Hal ini yang menjadikan pelatihan LI berbasis online ini searah. Kesiapan pemateri sangat menentukan keberhasilan program pelatihan LI berbasis online ini. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan pematari pemanfaatan aplikasi mendeley: ʺKala itu ada peserta yang tidak bisa meng-instal web importer secara langsung dari aplikasi mendeley-nya, lalu saya menganjurkan untuk mengetikkan kata kunci install web importer di sebuah search engine dan klik link tertera. Cara tersebut ditempuh karena tidak semua laptop support dengan aplikasi mendeley (TP, 24 Oktober 2023)“15. 3. Respon Pemustaka Terhadap Pelatihan Literasi Informasi Berbasis Online Perpustakaan UAD melakukan evaluasi kegiatan pelatihan LI berbasis online dengan dua cara yakni melalui form online yang diisi peserta pada setiap akhir sesi pelatihan dan statistik pengunjung Youtube Perpustakaan UAD. Pertimbangan menyertakan Youtube Perpustakaan UAD untuk melihat respon para peserta dikarenakan selain menggunakan aplikasi zoom, pelatihan literasi informasi berbasis online ini dapat juga diikuti melalui live streaming Youtube Perpustakaan UAD. Rekaman setiap pelatihan juga tersimpan di Youtube Perpustakaan UAD dan dapat diputar ulang oleh peserta. a. Respon dari form online Respon peserta dalam penelitian diambil pada bulan Oktober 2023 melalui form online. Materi pemaksimalan ms. word dan cek kesamaan mendapatkan respon dari 4 peserta menginginkan pelatihan offline, 97 peserta merasa pelatihan online ini sudah bagus dan bermanfaat. Materi pemanfaatan aplikasi mendeley mendapatkan respon dari 24 peserta yang menginginkan perpustakaan untuk mempersiapkan diri supaya kendala teknis dapat terminimalisir, sedangkan 5 peserta menginginkan pelatihan ini secara offline. Materi penelusuran database online mendapatkan respon 1 peserta mengingkan offline dan 122 peserta memiliki respon bahwa pelatihan ini bermanfaat dan membantu dalam menemukan referensi. Respon paling banyak dari program pelatihan ini adalah mengenai apresiasi dari peserta yang senang ketika Perpustakaan UAD mempertahankan bentuk pelatihan menjadi online meskipun Covid-19 sudah mereda. Para peserta dapat beraktivitas ditempatnya namun mereka tetap dapat bergabung melalui zoom pelatihan literasi informasi ini: ʺPemaksimalan Ms Word & cek kesamaan kata ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa dan semoga seterusnya diadakan pelatihan seperti ini karena sangat bermanfaat bagi mahasiswa (OR, 28 Oktober 2023)“16. Meskipun demikian ada beberapa yang mengingkan adanya pelatihan secara offline. Pelatihan literasi informasi offline memiliki kelebihan dimana terjadinya interaksi secara mendalam antara tutor dan peserta. Apabila terdapat kendala dapat segera diberikan bantuan maupun alternatif solusi secara cepat. Hal ini mendorong keinginan pelatihan dilakukan secara offline : ʺPelatihan secara offline atau mengadakan kelas khusus mendelay yang diikuti oleh mahasiswa (AK, 24 Oktober 2023)“17. b. Respon dari pengunjung Youtube Perpustakaan UAD Respon peserta diambil dari statistik pengunjung Youtube Perpustakaan UAD. Rekaman pelatihan ini dapat diakses dan diputar ulang oleh para peserta. Hal ini sekaligus menjadi solusi terhadap kendala teknis yang dialami peserta selama kegiatan pelatihan informasi berbasis online berlangsung. Respon terhadap rekaman materi optimasi ms word dan cek kesamaan kata sebanyak 210 viewers dan 12 likes. Materi penelusuran database online mendapatkan respon 95 viewers dan 3 likes. Materi pemanfaatan aplikasi mendeley mendapatkan respon 117 viewers dan 9 likes. Respon dari peserta positif terhadap kegiatan berbasis online ini, untuk mendapatkan hasil yang maksimal penulis juga mengkonfirmasi terhadap Ka. Ur Literasi dan Promosi terhadap respon peserta. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan jumlah peserta pelatihan, viewer rekaman di Youtube Perpustakaan UAD meningkat yang diikuti dengan meningkatnya subscibe Youtube Perpustakaan UAD: ʺPelatihan online ini efektif karena pesertanya bisa lebih banyak dibanding pas kegiatan offline. Rekaman yang ada di youtube juga banyak kok yang lihat. Aku juga ga’ nyangka karna sekarang subcriber Youtube Perpustakaan UAD kita sudah 2.400-an. Animo pengunjung setiap materi di youtube juga banyak kok, jadi menurutku kegiatan online harus tetap berjalan dan kita lakukan evaluasi rutin (NW, 10 Oktober 2023)18“. 4. Perkembangan Pelatihan Literasi Informasi Berbasis Online Pelatihan literasi informasi dari bentuk offline ke online di Perpustakaan UAD ini diawali dari bentuk inovasi layanan perpustakaan dimasa pandemi, namun karena dirasakan lebih efektif dan efisien maka pelaihan literasi informasi berbasis online terus dipertahankan hingga saat ini. Meskipun demikian ada beberapa hal yang menjadi catatan dalam mensukseskan program kegiatan pelatihan LI berbasis online: a. Perubahan media pelatihan Tempat pelatihan LI tidak lagi di perpustakaan UAD melainkan di platform zoom meeting dan melalui streaming di Youtube Perpustakaan UAD. Ketika pelatihan dilaksanakan di Perpustakaan UAD maka kapasitas ruang dan sarana pendukungnya sangat terbatas, berbeda ketika dilaksanakan secara online yang dapat menampung lebih banyak peserta yakni 500 peserta. Pelaksanaan LI berbasis online lebih fleksibilitas dikarenakan peserta dapat mengakses pelatihan LI dari tempatnya, tidak harus datang ke perpustakaan. Apabila ada hal yang tidak jelas maupun ketinggalan informasi selama pelatihan, peserta dapat memutar video siaran ulang di Yutube Perpustakaan UAD. Pelatihan literasi informasi berbasis online juga juga dilakukan di Perpustakaan UPN Veteran Yogyakarta atau disebut dengan istilah Information Literacy Class (ILC). ILC UPN Veteran Yogyakarta menggunakan zoom serta pembentukan grup pada media sosial WhatsApp dengan dibatasi dengan peserta maksimal 20 orang dan diutamakan bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akhir19. Perbedaan dengan program pelatihan LI berbasis online yang ada di UAD yakni tidak ada pembatasan jumlah kuota peserta dan jenjang mahasiswa. Ketika perpustakaan sudah memutuskan untuk menyelenggarakan kegiatan LI berbasis online maka harus siap dengan hal-hal teknis yang dibutuhkan dalam mendukung kelancaran kegiatan tersebut. b. Pustakawan dituntut untuk belajar Menjalankan pelatihan literasi informasi berbasis online juga berdampak kepada pustakawan untuk selalu belajar, meng-update keilmuan dan perkembangan TIK. Pustakawan sebagai pemateri tidak bisa lagi pasrah dan mengandalkan hafalan materi, melainkan juga harus memperluas pengetahuannya dan mempertajam skill dalam pengoperasian TIK sebagai penunjang pelatihan LI berbasis online ini. vibe dari pelatihan LI berbasis online sangat jauh berbeda dengan pelatihan secara tatap muka di perpustakaan. Pustakawan terbatas berinteraksi secara langsung, maka untuk meminimalisir terjadinya miskomunikasi hendaknya pustakawan memperluas pengetahuan supaya mampu menyajiikan presentasi yang mudah dicerna, clear, dan tidak ambigu. Tantangan meyelenggarakan pelatihan LI juga dirasakan di Perpustakaan IAIN Kudus diantaranya penyebaran informasi pelaksanaan kegiatan yang belum merata, jumlah pustakawan yang terbatas, variasi materi pembelajaran yang masih terbatas, dan hambatan teknis20. Selain itu, pustakawan memiliki tantangan untuk menghidupkan kelas supaya tidak monoton dan membosankan. Kemampuan menghidupkan kelas juga sangat penting untuk dikuasai oleh pemateri. Pelatihan LI berbasis online yang menyenangkan akan berdampak terhadap lebih mudahnya peserta dalam memahami informasi yang disampaikan. Sejauh pengamatan peneliti, pembahasan mengenai program pelatihan LI berbasis online belum banyak dikaji dan ini berpeluang untuk lebih dieksplor mengenai persepsi peserta terhadap pelatihan LI berbasis online, materi yang disajikan, dst. Harapannya kajiankajian baru mengenai pelatihan LI berbasis online akan lebih banyak dan beragam sehingga dapat menjadi inspirasi sehingga dapat diimplementasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia yang dalam jangka panjang akan meningkatkan LI masyarakat di Indonesia.

Conclusion

Pelaksanaan program pelatihan LI berbasis online ini dinilai lebih efektif dan efisien karena mampu menampung lebih banyak peserta jika dibandingkan dengan pelatihan yang diselenggarakan secara offline. Kesuksesan program pelatihan LI berbasis online di Perpustakaan UAD membutuhkan tiga pilar. Pertama, pengorganisasian sehingga pelaksanaan pelatihan lebih tertib dan maksimal yang terdiri dari pelaksanaan program, jadwal kegiatan, dan materi kegiatan. Kedua, interpretasi terhadap kegiatan. Interpretasi program pelatihan LI akan berhasil manakala penyelenggara dan peserta dapat mematuhi peraturan yang sudah dibuat. Ketiga, pelaksana kegiatan akan maksimal apabila penyelenggara dan peserta mampu bertanggungjawab terhadap kewajiban masingmasing. Perubahan media pelatihan juga memberikan tantangan tersendiri bagi pengelola kegiatan ini. Penyelenggara kegiatan juga harus siap dengan hal-hal teknis untuk memperlancar proses pelatihan ini. Disamping itu, pustakawan sebagai pemateri juga dituntut untuk selalu berbenah dan mengembangkan skill dalam mendukung kesuksesan kegiatan pelatihan ini. Para informan menyambut baik kegiatan pelatihan LI berbasis online ini namun pemateri juga diharapkan mampu menghidupkan kelas pelatihan LI sehingga tidak monoton dan menjenuhkan.