Kembali
16
1
2025 LIBRARIA: Jurnal Perpustakaan Vol 13 · 1 ISSN 2477-5320

Implementasi Program Basensi (Baca, Resensi, dan Diskusi) sebagai Problem Solving Penguatan Bakat dan Minat Literasi di Perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri

Universitas Annuqayah

Abstrak

Membaca dan menulis merupakan hal positif dan kaya manfaat terhadap pengembangan diri. Namun kegiatan ini seringkali menghasilkan rasa bosan. Hal itu dapat terjadi akibat minimnya kesadaran dan kemampuan lembaga pendidikan dalam merangsang kepekaan literasi. Fenomena ini berimbas terhadap merosotnya minat membaca dan menulis siswa. Hal serupa juga terjadi di lingkungan pesantren. Habit literasi santri di pondok pesantren menurun drastis akibat berbagai persoalan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi perpustakaan selaku salah satu wadah pendidikan di pesantren untuk mengembalikan esensi literasi santri. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menguatkan minat dan bakat literasi santri melalui berbagai program yang dirancang oleh perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri, khususnya program wajib membaca, resensi, dan diskusi singkat (BASENSI). Dampak penelitian ini diharapkan kepekaan serta potensi santri untuk terjun di bidang literasi tetap terasah. Berdasarkan metode penelitian kualitatif studi kasus yang diperkuat dengan hasil observasi dan wawancara kepada narasumber riset ini, penelitian menemukan gagasan baru bahwa sangat penting untuk menyandingkan kegiatan membaca dengan praktek menulis dan diskusi. Tidak hanya itu, hal penting lain yang dibutuhkan adalah adanya pengembangan integritas pendidikan serta upgrade program oleh perpustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program kerja perpustakaan pesantren ini yang berhasil membangun lingkungan literasi dengan kuat, sehingga bakat dan minat santri dapat dikembangkan secara maksimal, khususnya berkat program Basensi.

Abstract

Reading and writing are positive things and have many benefits for self-development. However, this activity often results in boredom. This can occur due to the lack of awareness and ability of educational institutions to stimulate literacy sensitivity. So this phenomenon has an impact on the decline in students’ interest in reading and writing. A similar thing also happens in the Islamic boarding school environment. The literacy habits of students in Islamic boarding schools have decreased drastically due to various problems. So it is a challenge in itself for the library as one of the educational institutions in Islamic boarding schools to restore the essence of santri literacy. This research was realized with the aim of strengthening students’ literacy interests and talents through various programs designed by the Annuqayah Lubtara Putri Islamic Boarding School library, especially the mandatory reading, review and short discussion program (BASENSI). With this implementation, it is hoped that the students’ sensitivity and potential to enter the field of literacy will remain honed. Based on the qualitative case study research method which was strengthened by the results of observations and interviews with research sources, the researcher discovered a new idea that it is very important to combine reading activities with writing and discussion practices. Not only that, another important thing that is needed is the development of educational integrity and upgrading programs by libraries. The results of this research also show that the Islamic boarding school library work program has succeeded in building a strong literacy environment, so that the students’ talents and interests can be developed optimally, especially thanks to the Basensi program.
Keywords: Islamic boarding school library · Talents and Interests · Santri · Basensi Program

Introduction

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan keislaman1 yang tak kalah penting untuk turut bergelut dalam kegiatan literasi. Arus teknologi telah membawa berbagai perubahan, termasuk manajemen pendidikan ke arah yang harus diikuti oleh setiap pelajar. Fakta di lapangan masih menunjukkan bahwa tidak sedikit pesantren yang menutup mata akan pentingnya kegiatan berliterasi. Sejalan dengan itu, sejumlah pesantren justru memfokuskan KBM untuk mempelajari dan memperdalam kitab kuning semata.2 Hal tersebut merupakan salah satu bukti adanya asumsi penomorduaan kegiatan literasi bagi santri benar-benar terjadi. Sekalipun begitu, pada dasarnya tak kalah banyak pesantrenpesantren yang mengamalkannya. Kegiatan membaca, menulis, dan berfikir kritis adalah tiga komponen utama yang harus didalami oleh setiap pelajar termasuk santri. Secara umum, rata-rata usia santri atau masyarakat pesantren adalah berkisar antara remaja awal hingga pertengahan dewasa. Berdasarkan riset, usia tersebut merupakan usia belajar dan produktif seseorang.3 Sehingga sangat disayangkan apabila pada usia tersebut, seorang santri tidak mendapatkan teknik pembelajaran dan pengaplikasian materi yang mumpuni, termasuk di dalamnya urusan literasi.4 Bukan hanya sebatas karena tuntunan dan kebutuhan zaman, hal tersebut justru sangat perlu dilestarikan mengingat mudahnya akses informasi serta media pembelajaran yang tanpa disadari dapat membangun kemalasan serta ketumpulan berfikir bagi beberapa pihak.5 Sehingga hal ini juga menjadi salah satu faktor hilangnya sebutan pesantren adalah lumbung karya tulis. Sementara literasi harus ditingkatkan demi mencapai masyarakat berilmu, kritis, dan berfikiran terbuka. Lembaga pendidikan apapun perlu memiliki metode ataupun teknik khusus dan intensif dalam setiap proses pembelajarannya. Teknik belajar yang tidak baik akan membuat individu mudah dikalahkan oleh perkembangan zaman. Sehingga dapat dikatakan, fondasi literasi yang minim juga turut berpengaruh terhadap sikap santri dalam menyikapi zaman penuh hoax dan banjir informasi ini. Kritisasi akan memudar tanpa disadari. Oleh karena itu kegiatan literasi di dunia pesantren juga perlu diperkuat.6 Salah satu penguat utamanya adalah tersedianya perpustakaan yang produktif dan aktif. Sehingga literasi pesantren atau kegiatan-kegiatan literasi berbasis pesantren dapat dikembangkan secara berkesinambungan untuk mempertahankan generasi santri yang mumpuni, bukan justru sebaliknya. Sepemikiran dengan gagasan di atas, Nazariah, dkk mengupayakan kemampuan literasi baca tulis santri di Pesantren Baitul Arqam Aceh Besar. Namun, program tersebut masih tergolong berbeda dengan program dalam penelitian ini. Tulisan-tulisan yang ditingkatkan dalam penelitian Nazariah belum sampai ke tahap resensi buku. Bahkan kegiatan tersebut juga tidak diinisiasi oleh sebuah perpustakaan.7 Sehingga barangkali minim untuk diterapkan secara berkelanjutan. Namun, paling tidak santri telah memiliki fondasi dasar untuk memahami literasi. Membaca merupakan upaya memperkaya perbendaharaan kata. Hal tersebut akan berguna nantinya bagi tulisan yang akan dikelola. Sehingga terdapat ungkapan bahwa ”apa yang kita baca adalah apa yang kita tulis.” Sementara menulis adalah kegiatan mengembangkan hasil bacaan. Dan kemampuan menulis ini juga tidak bisa dimiliki oleh semua orang. Tidak sedikit orang yang gemar membaca, namun sukar untuk menulis.8 Suatu riset terkait implementasi kegiatan sadar baca dan tulis yang diterapkan untuk meningkatkan literasi santri di Pondok Pesantren Mamba’ul Hikmah Ponorogo merupakan salah satu penelitian yang membahas tentang santri dan pentingnya literasi. Titik pembeda penelitian Laila Nur Safitri dengan riset ini hanya terletak pada bentuk tulisan yang ditekankan. Penelitian tersebut juga mengemukakan pentingnya berfikir kritis9 sebagai pengimbang membaca dan menulis, sekalipun program yang dicanangkan tersebut tidak datang dari sistem perpustakaan pesantren setempat. Adanya riset ini sekali menjadi bukti bahwa keadaan literasi di pesantren sedang tidak baik-baik saja. Kemampuan serta kemauan menulis juga perlu diimbangi dengan fikiran yang kritis. Pemantik pemikiran yang kritis adalah diskusi, serta membaca dan menulis itu sendiri.10 Sehingga ketiganya ditetapkan sebagai hubungan kausalitas yang tak dapat dipisahkan. Membaca adalah bahan pokoknya, sedangkan menulis dan diskusi merupakan dua alat produksi yang memiliki nilai urgensitas tinggi. Dalam perspektif yang lebih intim, literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca dan menulis, melainkan juga berbicara. Sebab pembicaraan atau bahasa dapat memelihara dan melestarikan pengetahuan.11 Itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Termasuk komponen penting yang harus ada dalam literasi selain membaca dan menulis, adalah berpikir kritis.12 Alasan utama berpikir kritis disertakan dalam komponen penting literasi ialah karena fikiran kritis merupakan bahan utama dalam membaca dan menulis. Diketahui, banyak publikasi riset terdahulu yang telah mengemukakan tentang berbagai layanan serta manajemen perpustakaan.13141516 Tujuan yang beragam penelitian tersebut secara umum menargetkan pembangunan sumber daya manusia melalui membaca ataupun menulis. Riset ini dengan berani membawa ide baru dan belum pernah diterapkan oleh perpustakaan dan penelitian lainnya. Program Basensi adalah program unggulan yang menggabungkan kewajiban praktek menulis resensi dengan membaca sekaligus diskusi. Tentu kegiatan ini berpengaruh besar terhadap terbentuknya lingkungan literasi yang selalu bercitacita menguatkan bakat dan minat literasi khususnya di lingkungan pesantren. Minat baca santri yang semakin hari menjadi minim adalah tantangan baru dan perlu untuk segera ditaklukkan. Berdasarkan riset Kemendikbud pada tahun 2016, Indonesian National Assessment Programme (INAP) ditemukan bahwa angka pemahaman literasi di Indonesia tergolong rendah, yaitu hanya mencapai angka 46,83%. Bahkan fenomena yang terjadi di lapangan, sementara ini peneliti menyimpulkan bahwa apabila kegiatan membaca santri berada di taraf menengah ke bawah, maka tak perlu diragukan lagi, kegiatan menulisnya pun begitu. Sehingga, sejauh ini pengurus perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubangsa Utara (Lubtara) Putri berkomitmen untuk terus menerapkan serta menguatkan program basensi demi mempertahankan bakat serta minat literasi santri. Simetris dengan gagasan tersebut, penelitian ini menjawab tiga rumusan masalah yaitu: 1) Apa saja faktor minimnya minat dan bakat literasi di pesantren? 2) Bagaimana pengaplikasian program Basensi perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri serta bagaimana dampak program tersebut terhadap tingkat minat dan bakat literasi di pesantren? 3) Adakah program penunjang Basensi di perpustakaan tersebut dalam upaya membangun budaya literasi di pesantren? Oleh karena itu, dengan pendekatan kualitatif studi kasus yang memprioritaskan teknik trianggulasi data berupa observasi, dokumentasi, serta wawancara, penelitian ini dilangsungkan. Data mentah yang dihasilkan dari lapangan maupun literatur diolah, dikaji, dan ditarik kesimpulan secara mendalam demi mencapai perolehan data yang komprehensif mengenai penguatan bakat dan minat literasi santri dengan mengacu kepada salah satu program unggulan perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri, yaitu basensi. Jenis metode yang menjadi acuan sekaligus fondasi berfikir dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus perspektif Robert K. Yin.17 Konsep ini bertujuan untuk memahami sekaligus mempelajari kasus unik berupa peningkatan minat dan bakat literasi yang terjadi di Ponpes Annuqayah Lubtara Putri. Pendekatan ini berfokus pada bagaimana individu mengimplementasikan dan memberikan interpretasi terhadap pendidikan literasi yang diterimanya melalui program perpustakaan. Adapun pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi dan wawancara mendalam.18 Sebelum proses wawancara berlangsung, terlebih dahulu menyiapkan pedoman wawancara. Pedoman tersebut secara garis besar berupa poin-poin inti yang digali lebih dalam. Penelitian ini tidak hanya berfokus kepada pertanyaan yang telah disiapkan. Penelitian menggunakan konsep wawancara yang fleksibel untuk mendapatkan temuan-temuan yang lebih kompleks. Narasumber dalam penelitian ini ialah ketua pengurus, ketua perpustkaan, serta tiga pustakawan di Ponpes Annuqayah Lubtara Putri. Kelima narasumber tersebut merupakan santri aktif sekaligus orang-orang yang benar-benar paham terkait perkembangan literasi di pesantren setempat. Sehingga informasi yang dimiliki tidak sekedar teori semata, melainkan sebuah hasil pengamatan dan observasi.

Discussion

1. Faktor Minimnya Bakat dan Minat Literasi di Pesantren a. Hiburan Media Sosial Perkembangan dunia digital nyaris mampu menyaingi sekaligus mempermudah segala bentuk komunikasi. Berbagai aplikasi hiburan dan sosial menarik perhatian dan terus dikembangkan. Semua kalangan, baik tua ataupun muda, anak-anak, remaja dan usia dewasa memungkinkan untuk tertarik dan candu terhadap fitur-fitur yang disediakan media sosial. Dampak negatif yang sangat tampak dalam dunia pendidikan, terlebih dalam problem perkembangan literasi adalah adanya berbagai hiburan media sosial. Tik Tok, You Tube, Instragram, dan berbagai aplikasi lainnya secara sangat sengaja dirancang untuk menyita waktu manusia dengan scroll media sosial. Kaum muda dengan segala bentuk kelabilannya menjadi sangat rentan dan sensitif sehingga akan dengan mudah terbawa arus teknologi. Hal tersebut diakibatkan oleh gaya pemanfaatan yang kurang tepat. Remaja hari ini merupakan generasi Z, artinya, sebagian besar dari mereka adalah penduduk media sosial. Sejumlah hiburan yang tersedia melalui media sosial akhirnya benar-benar berpngaruh kepada teknik belajar siswa, termasuk di dalamnya seorang santri.19 Video Tik Tok, Reels Instagram, dan berbagai postingan lainnya dirasa lebih menarik daripada kegiatan membaca buku apalagi menulis. Kegiatan instan semacam itu, tentu lebih digandrungi di masa ini. Lingkungan digital dengan segala akses instan berpotensi untuk membangun peluang kemalasan remaja untuk melakukan proses belajar. Lebih-lebih bagi seorang santri yang memiliki akses terbatas dalam penggunaan gadget dan media sosial. Tentu mereka akan mudah merasa kurang dan candu ketika memiliki peluang untuk mengakses hal tersebut. Sehingga berbagai fitur hiburan media sosial turut memengaruhi minat santri dalam menjalankan tugas di bidang literasi, karena kegiatan membaca akan dinilai membosankan dan menulis akan dianggap sebagai hal sulit untuk ditaklukkan. b. Potensi AI dalam Pendidikan Artificial Intelegence benar-benar memberikan kemudahan terhadap kebutuhan manusia. Berbagai akses serta media teknologi multifungsi memengaruhi aspek-aspek kehidupan. Termasuk dunia pendidikan. Sejumlah fasilitas ini juga memiliki dampak yang kurang baik bagi pelajar. Rutinitas membaca dan menulis berpotensi menurun drastis akibat kemudahan pelajar mengerjakan tugas sekolah secara instan. Dalam artian, akhir-akhir ini AI beralih menjadi salah satu sumber rujukan utama yang paling berpengaruh sebagai jalan pintas cepat saji bagi sebagian pelajar. Mereka tidak perlu lagi membaca banyak buku dan menuliskan gagasan-gagasan pokok untuk mengatasi tanggung jawab sekolah. Sebagian pemikir menganggap pelajar remaja hari ini sebagai generasi strawberry. Berdasarkan cakupan yang lebih luas, generasi strawberry diartikan sebagai wujud kelabilan dan kerentanan seorang remaja. Ketidakmampuan menghadapi problem pribadi serta gejala stressor yang sering dialami menjadi penguat gagasan tersebut.20 Sehingga tidak heran, bila seorang pelajar dengan ciriciri ini sering mengandalkan AI sebagai jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah. Akan tetapi, tentu fenomena ini menyalahi aturan proses belajar yang baik. Yang diperlukan seorang pelajar adalah mengimbanginya, bukan sebatas menikmatinya. Sebab, jika hal demikian dihadapi dengan bijak, tidak perlu ada kekhawatiran tenaga pendidik, khususnya terkait adanya penurunan minat dan bakat literasi siswa. c. Trend Kekinian Media sosial dengan berbagai kecepatan dan akses terbuka yang disediakan menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan. Di balik berbagai fasilitas pembelajaran yang dipermudah, berbagai trend viral terus memengaruhi minat kaum muda. Fashion, make up, out fit, gaya komunikasi, bahkan trend kuliner menjadi hal yang jauh lebih penting untuk ditekuni dan diikuti. Sekalipun ada, keinginan untuk tetap trendi para pelajar di bidang literasi terhitung sangat minim. Sejalan dengan itu, berbagai buku baru yang tak kalah menarik dan berkualitas juga terus dikembangkan dan dipromosikan melalui media sosial. Akan tetapi berdasarkan hasil observasi di lapangan, pelajar hari ini mayoritas lebih cenderung memfokuskan diri kepada hal-hal yang bersifat kuantitas, bukan kepada hal yang dapat memperbaiki kualitas diri. Seorang santri dengan berbagai tempaan keagamaan sekalipun tak bisa menampik adanya berbagai trend terbaru. Pola hidup santri dapat dinilai mengalami dekadensi yang cukup serius apabila ditinjau dari sudut pandang ini. 2. Program BASENSI (Baca, Resensi, dan Diskusi) sebagai Problem Solving Penguatan Bakat dan Minat Literasi Perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri turut mengikuti standar nasional yang ditetapkan kepala perpustakaan RI pada tahun 2017 dalam mengembangkan mutu perpustakaan. Penetapan kriteria minimal untuk penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan menjadi hal yang harus diutamakan.21 Dalam aspek pengembangan mutu dan sumber daya perpustakaan, pesantren ini memiliki daya tarik unik yang telah lama diterapkan demi pengembangan literasi santri. Sejak tahun 2017 pengurus perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri memiliki satu peraturan kongkrit yang harus diindahkan oleh seluruh santri, yaitu program menulis resensi. Praktek ini disandingkan dengan kewajiban santri untuk meminjam dan mempresentasikan buku di perpustakaan. Program yang satu ini sudah lama berdiri ajek mengimbangi sistem pembelajaran santri. Secara berkala, peminjaman buku dijadwalkan berdasarkan target peminjaman tahunan. Pengurus perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri meninggikan visi misi sebagai perpustakaan yang menjunjung pentingnya tumbuh kembang literasi. Karenanya, perpustakaan ini menargetkan setiap santri meminjam dan membaca buku sekurang-kurangnya 30 buku tiap tahunnya. Kegiatan tersebut dikelola berdasarkan jadwal peminjaman tiap bulan. Sehingga target 30 buku tersebut dapat dilangsungkan dengan baik serta tidak memberatkan. Hal inilah yang disebut sebagai kewajiban membaca di pesantren tersebut. Sementara pengembangan program melalui penulisan resensi menyesuaikan dengan jadwal sekaligus buku yang dipinjam dari perpustakaan. Terdapat perbedaan penulisan resensi buku antara santri tingkat SLTA dan SLTP. Kriteria gaya penulisan resensi tingkat SLTP lebih ringan dan lebih condong kearah resume buku. Namun sekalipun begitu, perbedaan ini tidak mengurangi tingkat pembelajaran yang telah dirancang. Hanya saja, adanya klasifikasi tersebut bertujuan menyesuaikan dengan kematangan pola fikir santri. Praktek ini diasumsikan dapat melatih kepekaan intelektual santri dalam membangun serta menanggapi gagasan dan isi buku melalui tulisan. Setiap peminjaman dan resensi buku berjangka tiga hari, namun boleh melakukan perpanjangan masa pinjam setelah melakukan konfirmasi dengan alasan yang baik kepada pustakawan bertugas. Hasil resensi secara ketat diawasi dan dikoreksi oleh pengurus perpustakaan dalam rangka peningkatan pembelajaran. Sebab apabila kewajiban menulis resensi tersebut tidak diseriusi oleh penyelenggara, maka tentu santri juga tidak akan serius dalam melakukan ibadah menulis. Pada tahap akhir atau pengembalian buku, setiap santri yang terlibat diharuskan melakukan presentasi singkat terkait isi dan manfaat buku. Kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi antar santri dan pustakawan. Maka mau tidak mau, santri selaku subjek yang berkewajiban meminjam buku perpustakaan harus besungguhsunggguh dalam membaca, meresensi, serta memahami isi buku sebagai bekal diskusi. Tentu sedikit banyaknya akan ada hasil yang diperoleh. Latihan membaca, menulis, serta merangkai gagasan melalui diskusi dapat memantik pertumbuhan mindset yang sehat. Analisis Dampak Implementasi Program BASENSI Perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubangsa Utara Putri bernaung di balik latar belakang pendidikan keislaman dan budaya pesantren yang kuat. Namun kenyataan tersebut tidak mengurangi kualitas pelayanan serta pengelolaan perpustakaan. Berdasarkan observasi serta wawancara yang dilakukan kepada ketua pustakawan, aspek tata ruang, pengelolaan program pengembangan bakat dan minat, serta pelayanan perpustakaan ini dapat dinilai sangat baik.22 Bahkan secara umum, perpustakaan tersebut dikelola dan dikembangkan berdasarkan kurikulum yang terus diperbaharui. Bahan ajar yang baik dan ideal akan berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh.23 Maka pembinaan literasi yang mumpuni akan mewujudkan minat membaca dan bakat menulis yang bagus pula.24 Karenanya, berbagai media pengembangan literasi diterapkan kedalam proses belajar santri oleh perpustakaan Lubtara Putri. Adanya ruang baca yang tenang dan nyaman, kegiatan menulis yang terjadwal, buku-buku berkualitas, serta adanya mading, news pesantren, dan program basensi secara khusus menjadi penunjang terbentuknya habit literasi santri. Terbukti, sejumlah santri di Ponpes Annuqayah Lubtara Putri berhasil mengembangkan potensi literasi yang terdapat di dalam dirinya. Seminar, diskusi buku, partisipasi dalam event dan kejuaraan menulis menjadi salah satu bukti keberhasilan tersebut. Hanya saja, kesadaran semacam itu perlu untuk selalu diasah dan dipupuk demi terbentuknya bakat yang kokoh pula. Salah satu tantangan baru yang sangat perlu diperhatikan pengurus perpustakaan adalah penguatan kemauan santri terhadap rutinitas membaca dan menulis.25 Maka sejauh seluruh penerapan tersebut dimulai, perlu adanya observasi untuk mengecek meningkatnya kegiatan literasi khususnya Basensi terhadap penguatan bakat dan minat santri di bidang literasi. Sebab, jika seluruh agenda yang telah direalisasikan tidak cukup berhasil untuk membangun penguatan bakat dan minat literasi, perlu untuk dilakukan evaluasi kerja. Tabel 1. Kegiatan Literasi Perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri Sumber: Hasil Wawancara dan Observasi 08-18 Oktober 2024 Rancangan kegiatan literasi ini secara keseluruhan digagas dan dipelopori oleh pengurus perpustakaan PP. Annuqayah Lubtara Putri. Penerapannya secara intensif terbukti berpeluang besar terhadap penguatan bakat dan minat literasi santri di pesantren tersebut. Namun data di lapangan juga memaparkan adanya ketidakseriusan santri dalam menjalankan kegiatan-kegiatan tersebut. Sehingga memengaruhi hasil. Maka berdasarkan hasil observasi dan wawacara yang dilakukan peneliti terkait efektivitas program basensi terhadap penguatan bakat dan minat literasi santri. Tabel 2. Hasil Observasi Bakat dan Minat Literasi Santri Sumber: Hasil Observasi 18 Oktober 2024 3. Program Penunjang Keberhasilan Basensi Perpustakaan PP. Annuqayah Lubtara Putri Literasi merupakan suatu kecakapan seseorang dalam mengasah pikiran. Hal ini dapat dituangkan dalam bentuk tulisan maupun lisan. Karenanya, berpikir tidak bisa dilepaskan dari berbicara. Sebab kecakapan dapat dilihat melalui cara berpikir dan berbicara seseorang. Perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri dalam merealisaikan misinya memiliki sejumlah teknik khusus guna melejitkan ghirah literasi santri. Teknik-teknik ini juga merupakan ciri khas sekaligus pembeda yang sangat unik dan kaya manfaat untuk diterapkan. Menghadapi bakat dan minat santri yang naik turun dalam literasi, perpustakaan tersebut juga sering mengupdate program dengan tujuan efektivitas program kerja perpustakaan. Sehingga, selain berfungsi menjadi sumber informasi dan rujukan, perpustakaan ini memiliki tujuan untuk membangun marwah serta pemberdayaan fikiran melalui literasi. Bahkan perpustakaan PPA. Lubtara Putri tergolong sebagai salah satu perpustakaan yang sangat aktif dan gencar berliterasi. a. Diklat Kepenulisan Kegiatan menulis tidak hanya berangkat dari suatu keahlian, namun juga berdasarkan kemauan. Oleh karena itu, perlu adanya suatu latihan demi memantik kepekaan, keistiqomahan, serta kemauan tersebut. Latihan menulis bisa dimulai dengan latihan secara teoritis dan praktis. Penulis perlu untuk memahami terlebih dahulu tentang struktur tiap-tiap tulisan, macam-macamnya, bahkan metode penulisan yang dipakai dalam menggarap tulisan tertentu. Salah satu acara tahunan perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri adalah merealisasikan pelatihan kepenulisan kepada seluruh santri kelas X SMA/MA. Karena umumnya santri di pesantren tersebut minimal bermukim adalah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah, maka secara tidak langsung dapat dipastikan seluruh santri mendapatkan pelatihan yang sama. Santri di usia ini merupakan produk keilmuan yang harus dan telah siap untuk diberi banyak asupan. Sehingga kegiatan berisi pelatihan menulis dari segi teori dan praktek ini dapat diterima denan baik oleh peserta. Peserta pelatihan terlebih dahulu, mendapat pemaparan materi terkait teknik penulisan cerpen, puisi, warta, esai, opini, dan resensi dari berbagai ahli yang telah disiapkan panitia. Pemaparan materi secara detail dan interaktif, tiap pemateri akan dikupas bahkan dipraktekkan saat itu pula. Para peserta pelatihan tanpa dikhawatirkan lagi, seluruh santri akan memiliki wawasan yang cukup dalam literasi. Tinggal bagaimana cara masing-masing individu untuk menerapkannya. Maka untuk menjaga perolehan data di pelatihan, pengurus perpustkaan juga menciptakan program literasi lanjutan seperti halnya mading kelompok, dan lainnya. b. Majalah Dinding Salah satu faktor minimnya bakat dan minat literasi santri dapat disebabkan oleh keadaan lingkungan yang kurang mendukung. Berdasarkan teori behavioristik dalam Ilmu Psikologi, lingkungan dapat membentuk kepribadian serta karakteristik seseorang. Sehingga lingkungan yang baik akan membentuk karakter yang baik. Pesantren berwawasan literasi akan menciptakan habit santri yang aktif dan produktif dalam hal serupa. Salah satu upaya pengurus perpustakaan Lubtara Putri untuk membangun habit literasi santri adalah dengan menerapkan penerbitan majalah dinding dengan rubrik yang beragam. Di dalamnya terhimpun rubrik salam redaksi, opini, warta, cerpen, puisi, esai, dan news berdasarkan tema yang sepakat diusung. Kegiatan ini dikoordinasi secara kolektif dan acak yang ditentukan oleh pengurus devisi penerbitan perpustakaan. Kelompok majalah dinding ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu kelompok khusus tingkat Mts/ SMP dan tingkat MA/SMA. Tahun-tahun sebelumnya, tiap kelompok akan diberi waktu penggarapan selama 1 minggu. Namun, tahun ini diperpanjang menjadi 15 hari kerja dengan mempertimbangkan kegiatan santri yang semakin padat. Waktu tersebut sudah termasuk sesi pengoreksian dan lay outer. c. News Pesantren Bukti terbentuknya lingkungan literasi yang suportif dapat dilihat dari pendidikan serta tumbuh kembang budaya literasi itu sendiri. Ponpes Annuqayah Lubtara ini memiliki salah satu program kecil bernama Kisslu (Kisah Seputar Santri Lubtara). Namun karena program ini terus diupgrade dan dikembangkan, akhirnya melekat menjadi keharusan untuk terbit. Program ini berupa penerbitan media berita di bawah naungan perpustakaan terkait berita-berita atau program-program terbaru di lingkungan pesantren setempat dan ditulis oleh engurus perpustakaan devisi penerbitan. Sehingga dari hal ini, santri dilatih menjadi jurnalis tangkas, peka, berkomitmen serta profesional dan bertanggung jawab terhadap berita yang akan diusungnya. Sikap profesionalitas sebenarnya bisa sulit dan mudah bagi siapa saja, termasuk santri. Berbagai program yang telah dicanangkan pesantren, tentu juga akan sulit bagi santri untuk memanage waktu antara belajar, mengaji kitab, dan memenuhi segala tugas tambahan yang diembannya. Namun, berkat dukungan serta tuntutan yang didoktrin lingkungan, lambat laun kegiatan apapun akan terbiasa untuk diterapkan. Salah satunya adalah program literasi ini. d. Lubtara Sadar Bahasa Perkembangan bahasa di era modern melaju dengan begitu pesatnya. Dampak negatif dari hal tersebut adalah memudarnya pengetahuan terkait baku tidaknya suatu bahasa atau kata tertentu. Sehingga tak jarang ditemukan adanya penggunaan kata yang tidak baku dalam sebuah tulisan ilmiah. Demi menanggulangi kejadian serupa, perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri ini menggalang terbitnya sebuah rubrik mingguan bernama Lubtara Sadar Bahasa. Rubrik ini berisi pengetahuan visual yang menggambarkan dua pilihan kata serupa. Misalkan perbandingan antara kata feminim dan feminin. Salah satu kata diantaranya adalah kata baku dan tidak baku. Kata yang baku akan ditunjukkan dengan suatu tanda tertentu. Kata ”manakah yang baku?” menjadi pengantar rubrik tersebut. Secara tidak langsung pembaca diajak untuk menambah wawasan tentang satu kata baku. Sementara di saat bersamaan pembaca juga akan diajak untuk menyadari kesalahan dasar yang sering diakukan tanpa sadar. Alasan dasar inilah rubrik tersebut diberi nama ”Lubtara Sadar Bahasa.” e. Pembaruan Bahan Pustaka Program wajib peminjaman buku memiliki dampak yang sangat positif bagi terbentuknya minat baca santri. Kegiatan literasi akan terus terjaga kelestariannya berkat hal tersebut. Salah satu tantangan mendasar yang perlu dihadapi setiap perpustakaan adalah pentingnya melakukan penambahan atau pembaharuan buku perpustakaan. Sebab dengan adanya program wajib ini, secara tidak langsung akan memengaruhi jumlah buku yang telah dibaca tiap santri. Bagi sedikit perpustakaan pesantren yang mengelola seluruh sumber daya sumber daya secara mandiri, fenomena ini menjadi tantangan serius. Anggaran pembelian buku baru seringkali tidak dapat diatasi secara maksimal oleh perpustakaan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri. Namun perpustakaan ini tidak lantas meninggalkan kewajiban tersebut. Selalu ada anggaran tahunan pesantren yang difokuskan untuk membenahi atau membeli buku-buku berkualitas dan baru. Sebab hal ini perlu dilakukan demi menunjang minat baca santri secara berkelanjutan. f. Produksi Majalah Majalah merupakan salah satu media berita dan literasi yang fenomenal di lingkungan pesantren. Minimnya akses internet yang diperbolehkan menjadikan media tersebut selalu laris menjadi bahan utama bacaan santri. Namun, untuk mengimbangi tingginya minat baca terhadap majalah buku, juga diperlukan sebuah tekad untuk memproduksinya secara berkelanjutan dan jangka panjang. Perpustakaan PP. Annuqayah Lubtara Putri dari tahun ke tahun selalu memiliki agenda pelatihan dan praktek penyusunan majalah buku bagi santri. Di samping kewajiban tersebut, pesantren ini telah lama memiliki sebuah majalah resmi yang rutin terbit tiap tahunnya. Adanya pelatihan tersebut bertujuan untuk menerapkan media belajar, kaderisasi, serta upaya untuk tetap melestarikan pengetahuan literasi di pesantren. Dengan alasan bahwa pengetahuan literasi penting untuk dimiliki oleh siapa saja, pustakawan berinisiasi untuk terus mengembangkan semua kegiatan ini untuk terus menunjang keberhasilan program Basensi kedepannya.

Conclusion

Adanya program wajib meminjam buku dan diskusi singkat bersama pustakawan Ponpes Annuqayah Lubtara Putri dirasa mulai kurang relevan untuk menguatkan bakat dan minat literasi di era ini. Faktor internal dan eksternal benar-benar meracuni habit santri. Sejak tahun 2017/2018 berdasarkan rekomendasi pengasuh Ponpes Annuqayah Lubtara Putri, perpustakaan menerapkan program Basensi, yakni baca, resensi, dan diskusi. Hasilnya, program Basensi berhasil menjadi problem solving dan membangun lingkungan literasi yang strategis. Sejumlah penghargaan lomba kepenulisan, penerbitan buku, sekaligus semangat literasi terus meningkat. Keberhasilan itu tentunya juga didukung oleh program-program perpustakaan lainnya. Hal ini memberikan suntikan semangat kepada santri lain untuk terus menguatkan bakat dan minat literasi yang telah terbentuk dengan baik. Gagasan ini dapat memotivasi pelayanan dan pengembangan perpustakaan atau lembaga pendidikan lainnya, khususnya dari segi penguatan literasi. Di samping itu, semoga pembaca dan peneliti selanjutnya dapat memperoleh wawasan baru dan komprehensif melalui artikel ini. Sehingga dapat melanjutkan penelitian serupa dari perspektif yang lain, seperti halnya terkait pengukuran kualitas tulisan dan bacaan santri dari sudut pandang ilmu perpustakaan.