LIBRARY BENCHMARKING
N/A
Abstract
The term benchmarking has been encountered in the implementation of total quality management (TQM) or in Indonesian termed holistic quality management because benchmarking is a very suitable strategy for achieving success. Benchmarking is a tool to look for ideas or learn from the corporate organization that is considered the best, including library. Benchmarking is a process of systematic and continuous measurement, the process of measuring and comparing for continuous business process of an organization to get information that can help these organizations improve their performance efforts.
Keywords:
Library
· Benchmarking
Introduction
Perpustakaan merupakan suatu bentuk organisasi yang bergerak dalam pengorganisasian informasi terekam dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai (users). Melihat bahwa informasi yang dikelola oleh sebuah perpustakaan dapat digunakan oleh pemakai yang kemudian dengan informasi itu pemakai tersebut dapat kembali menghasilkan sebuah informasi dan pengetahuan, maka perpustakaan dapat dikatakan organisasi sumber daya informasi dan pengetahuan. Dengan berkembangnya informasi dan pengetahuan yang digunakan masyarakat untuk berbagai kepentingan dalam kehidupan, maka organisasi perpustakaan memegang peranan yang sangat penting. Kualitas perpustakaan dengan berbagai pembagiannya baik perpustakaan khusus maupun perpustakaan umum harus diarahkan pada fungsi menyediakan dan memberikan sumber daya informasi dan pengetahuan dengan baik. Untuk mencapai tujuan perpustaka n yang demikian ini penting kiranya aspek manajemen yang sang:t baik. Dalam pelaksanaan m inajemen, kita dihadapkan kepada beberapa tahapan yang pen'ing antara lain tahapan bagaimana mengatur aset-aset dalam sebuah organisasi termasuk aset informasi atau sumber informsi. Keseriusan seorang manager dan dibantu oleh para stafny: untuk selalu mengembangkan organisasinya membutuhkan Yentuk manajemen secara total yang disebut Total Quality Manageivent. Istilah benchmarking baryak kita jumpai dalam penerapan total quality manajemen (TQM) - tau yang diistilahkan dalam bahasa indonesia manajemen mutu m nyeluruh (M3) karena benchmarking merupakan strategi yang sar gat cocok untuk mencapai keberhasilan yang berorientasi pad: perkembangan secara dinamis. Dalam buku Total Quality Management’menjelaskan arti istilah benchmarking menurut kamus yang ditulis Drs. Peter Salim yaitu patok duga, maksudnya sebuah perusahaan akan mematok perusahaan lain yang mereka anggap sebagai pesaing terberat, lalu dibandingkan, menduga perusahaan mereka berada pada posisi setinggi apa. Untuk lebih memahami ‘stilah benchmarking ini, dapat kita gunakan bentuk pertanyaan seperti, Apa itu benchmarking? Mengapa saya harus melakukan benchmarking? Apa yang harus dibenchmark?. Dalam manajemcn organisasi, benchmarking terletak pada konteks perkembangar organisasi. Bagaimana sebuah organisasi mampu mengemban jkan sasaran dan tujuan yang lebih baik dan lebih menguntungkan bagi organisasi tersebut. Benchmarking merupakan alat untuk mencari ide atau belajar dari perusahaan organisasi yang dianggap terbaik. Benchmarking merupakan proses pengukurar: yang sistematis dan berkesinambungan, proses mengukur dan membandingkan secara terus menerus atas proses bisnis suatu organisasi untuk mendapatkan informasi yang akan membantu upaya organisasi tersebut memperbaiki kinerjanya.® Benchmarking adalah suatu proses terus menerus yang sistematis untuk membandingkan efisiensi perusahaan sendiri dalam ukuran produktifitas, kualitas, dan praktek-praktek dengan perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi yang menunjukkan keunggulannya®. Pendapat lain menyatakan benchmarking merupakan cara untuk membandingkan dan mengukur jalannya sebuah organisasi atau cara membandingkan dan mengukur internal organisasi secara berulang-ulang dengan organisasi yang mempunyai kelas yang lebih baik dari dalam atau dari luar organisasi perusahaan’. Dalam melaksanakan benchmarking banyak ditentukan oleh faktor kepuasan pelanggan dalam hal ini adalah pemakai perpustakaan. Dengan semakin berkembangnya sistem manajemen perpustakaan yang diiringi dengan kemajuan teknologi informasi dewasa ini, membuat pemakai mengetahui dan meminta keunggulan produk dan pelayanan perpustakaan yang berbeda dan lebih baik. Sehingga perpustakaan dituntut untuk dapat memberikan yang terbaik kepada pemakainya. Benchmarking merupakan suatu pendekatan proaktif yang memungkinkan pihak manajemen perpustakaan memahami pengelolaan perpustakaan yang ideal untuk dapat diperdayagunakan oleh pemakainya serta dapat memotivasi manajemen perpustakaan untuk memfokuskan perhatian pada usaha perbaikan terus menerus dan mengimplementasikannya. Benchmarkjng menjadi asas manajemen untuk membimbing pihak perpustakaan untuk melihat keluar pada perpustakaan perguruan tinggi lain yang dianggap lebih ideal dan memenuhi standar perpustakaan perguruan tinggi, guna mendapatkan gagasan dan inspirasi yang diperlukan untuk menghilangkan perbedaan perpustakaan yang dibandingkan dengan perpustakaan pesaing yang lebih unggul. Sehingga memungkinkan untuk meningkatkan performansi perpustakaan untuk menjadi lebih unggul dari perpustakaan pesaing yang unggul tadi. Dari berbagai definisi c'i atas memiliki banyak persamaan, yaitu bahwa tujuan utama ben hmarking adalah untuk menem'ukan kunci atau rahasia sukses dan kemudian mengadaptasi dan memperbaikinya untuk diterapkan pada organisasi yang melaksanakan benclhmarking tersebut. 1. Kategori Guna mencari keunggulan yang ada di sekitar kita merupakan suatu usaha yang relatif berat. Keunggulan yang kita jumpai sangat tergantung pada tingkat keluasan pandangan Kita. Secara analitis Karlof dan Otsblom mengemukakan bahwa kita dapat membedakan benchmiarking menjadi tiga kategori: a. Benchmarking internal (internal benchmarking) Banyak perusahaan yang memiliki berbagai cabang. Mereka bias jadi memiliki sejumlah anak perusahaan, divisi, kelompok pelayanan, dan sebagainya di lokasi yang tersebar secara geografis. Dalam hal ini perusahaan terdiri dari sejumlah operasi yang serupa yang dapat diperbandingkan dengan mudah satu sama lain. Benchmarking di dalam satu organisasi disebut sebagai benchmarking internal (internal benchmarking). Benchmarking internal menghasilkan perbandingan dengan presisi yang sangat tinggi bila semua data yang relevan dikumpulkan dari sumber yang sama. Tentu saja ada kelemahannya, yaitu bahwa kesempatan untuk mendapatkan kinerja kelas dunia di dalam organisasi sendiri akan kurang berhasil bila dibandingkan dengan jika mencari alternative pasangan dari luar. Namun bagaimana juga benclarking internal seringkali mampu mengarah kepada perubahan yang cepat dan nyata dalam hasilnya. Benclmarking mempunyai efek lebih lanjut yaitu menyamakan perbedaan yang ada dalam kinerja antar cabang. Bukan saja kinerja selurul perusahaan tertingkatkan, tetapi juga menekan variasi antar operasi yang sejenis. b. Benchmarking eksternal (c~sternal benchmarking) Benchmarking eksternal herarti membandingkan organisasi dengan organisasi yany sama atau serupa di tempat lain. Pasangan benclimarking m ungkin adalah para pesaing langsung Menentukan pasangan benchmarking dengan pesaing akan dapat bermanfaat banyak, khususnya dalam menentukan posisi perusahaan di pasar. Apakah kekuatan dan kelemahan anda, baik menurutanda maupun menurut pelanggan anda? Tingkat perbandingan yang tinggi yang biasanya menjadi ciri benchmarking ekternal berarti pula memiliki tingkat profesionalisme yang luar biasa tinggi. Kandungan operasi dan proses dapat di-benchmark dengan presisi dan dengan kedalaman keahlian yang tinggi. Resiko benchmarking eksternal antar pesaing adalah cenderung terfokus pada factor-faktor perrsaingan, bukan pada pencarian identitas kinerja yang unggul. Ini merupakan suatu situasi yang tidak biasa bagi banyak orang untuk “berdansa dengan musuh”. c. 2. Benchmarking fungsional (functional benchmarking) Suatu perbandingan atas produk, jasa, dan proses kerja dengan perusahaan-perusahaan yang berhasil tanpa memandang bidang usahanya. Kita gunakan istilah fungsional di sini karena benchmarking pada tingkat ini sering berkaitan dengan aktifitas atau fungsi tertentu di dalam suatu organisasi. Istilah alternatif yang kadang-kadang digunakan adalah generic benchmarking, dimana kata generic dipakai dalam arti “tidak berlebel”. Ini mencerminkan ide dasar dari benchmarking fungsional, yangmana mengambil keunggulan dimana pun ditemukan sebagai standar pembanding. Singkatnya, benchmarking fungsional adalah yang menawarkan peluang untuk bergerak meningkat ke dalam kelas dunia. Perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi yang telah bekerja dengan giat dengan benchmarking berkenaan dengan variasi fungsi sebagai “esensi” benchmarking. Meskipun baik kategori internal maupun eksternal mengandung potensi untuk peningkatan yang nyata dan besar, namun kekuatan penuh dari metode yang dapat digunakan ada di dalam benchmarking fungsional. Strategi Seperti yang digambarkan di atas, benchmarking merupakan teknik yang digunakan oleh perusahaan untuk menetapkan arah strategis berdasarkan kepiawaian eksternal. Oleh sebab itu tujuan benchmarking harus dikaitkan dengan arah strategi perusahaan serta memberikan pedoman spesifik dan fokus pada setiap usaha strategis yang dilakukan. Tujuan pelaksanaan benchmarking adalah untuk meningkatkan dan untuk mendorong perubahan dengan strategi pendekatan, sebagaimana dijelaskan oleh Tjiptono,yaitu: a. b. c. d. 3. Risetin-house Cara ini dilaksanakan dengan melakukan penilaian terhadap informasi dalam perusahaan sendiri maupun informasi yang ada di publik. Biasanya halini terjadi bila perusahaan hanya mencari informasi menge nai hasil kinerja suatu perusahaan/ fungsi/ proses. Risetpihak ketiga Cara ini ditempuh dengan jalan membiayai kegiatan patok duga yang akan dilakukan oleh perusahaan surveyor. Biasanya pihak ketiga ini melakukan patok duga untuk informasi yang sulit didapat dari pesaing bisnis. Selain itu juga dapat menyelenggarakan forum diskusi panel untuk memperoleh masukan yang luas dan banyak, misalnya mengenai kegiatan pelanggan. Pertukaranlangsung Pertukaran informasi secara langsung ini dilakukan melalui kuesioner, survai melalui telepon, dan lain-lain. Biasanya cara ini mengawali cara berikutnya, yaitu kunjungan langsung. Kunjungan langsung Cara terakhir ini dilaksanakan dengan melakukan kunjungan ke lokasi mitra patok duga. Wawancara dan tukar informasi dilakukan di sini. Cara ini di=nggap paling efektif dalam patok duga. Fungsi Benchmarking dapat men adi strategi bersaing, karena benchmarking berfokus pada proses dan produk. Bila produk tersebut tidak sesuai dengan h: rapan organisasi/ perusahaan, prosesnya perlu diperbaiki. Bila >roduknya memenuhi harapan organisasi/ perusahaan tetapi 'idak sesuai dengan harapan pelanggan berarti organisasi/ pei usahaan harus mendefinisikan dan mendesain ulang produknya. Fungsi benchmarking yang dilaksanakan oleh suatu lembaga/organisasi atau perusahaan adalah : a. b. c. d. Benchmarking sebagai alat bantu menemukan ide dan belajar Benchmarking adalah alat yang sangat ampuh untuk menemukan ide dan belajar dari perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi yang dipandang terbaik. Alatuntuk meningkatkan kemampuan belajar Manfaat benchmarking telah teruji dan cocok untuk meningkatkan kemampuan menerima pelajaran-pelajaran perilaku yang sukses. Manfaat ini secara efektif mendorong orang untuk membuka wawasannya dan menyadarkan orang bahwa menjadi yang terbaik di antara Alatuntuk perbaikan Pada hakekatnya benchmarking merupakan suatu instrument untuk melakukan perbaikan. Langkah awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi proses dan praktek manufakturing serta operasi lainnya dalam suatu perusahaan atau organisasi yang memerlukan perbaikan. Langkah selanjutnya adalah mencari organisasi lain yang sukses dalam melakukan aktifitas operasi yang hamper sama. Setelah itu diusahakan untuk melakukan pengamatan dan pengukuran secara rinci bagaimana organisasi yang sukses itu melaksanakan aktifitas dan proses operasinya. Alatuntuk pengembangan keterampilan Pengembangan keterampilan dapat diartikan sebagai suatu gabungan dari pengetahuan, motivasi, situasi dan kemauan. Dengan melakukan benchmarking suatu organisasi akan memperoleh, mendapatkan, dan dapat mengumpulkan serta menganalisa sejumlah pengetahuan dari lingkungan yang berbeda. Pengetahuan baru yang diperoleh dari hasil benchmarking ini memberikan motivasi untuk mendorong organisasi bagi peningkatan kinerja produktivitasnya. 4. Tahapan Tahapan-tahapan daiam melaksanakan benchmarking ini terdapat banyak variasi da: | berbagai pendapat antara lain yaitu pada sebuah organisasi sccara lebih sederhana terdapat lima tahapan yaitu: a. Tentukan apa yang di-/enchmark Langkah pertama dalan: proses benchmarking adalah memulai dari kebutuhan organisasi akan informasi benchmarking. Apakah latihannya akan menitikberatkan pada kualitas yang dirasakan konsumen atau pada produktivitas, dan apa saja factor kritis bagi keberhusilan kinerja dari operasi yang ingin dibandingkan. Banyak ¢spek dari suatu perilaku dan kinerja organisasi yang dapat di-benchmark. Identifikasi pasangan besichmarking Dengan kebutuhan tertcntu, dimana menemukan organisasi yang terbaik? Bagaimnar a kita mengidentifikasikan organisasi tersebut, mengajak bek¢rja sama dalam suatu benchmarking? Pasangan benchmarking ~ang baik bukan saja unggul dalam bidangnya sendiri tetap: juga dapat dibandingkan dengan organisasi sendiri sebags tingkatan tgertinggi yang mungkin dicapai. Kumpulkan informasi Ini bukan saja melibatkan pengumpulan data keuangan dan kuantitatif, tetapi juga mengidentifikasi dan mendokumentasikan kandungan operasi, proses, dan seterusnya yang menjelaskan dan membantu anda untuk memahami kinerja suatu organisasi. Tahap pengumpulan informasi memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan sistematis untuk menciptakan patokan (benclimark) yang berguna dan dapat dipercaya. Analisis Langkah yang keempat y:ng menuntut kemampuan analitis dan kreativitas yang tingg;i dalam seluruh proses benclimarking. Analisa bukan hanya bera-ti mengidentifikasikan persamaanpersamaan dan perbedaar -perbedaan, tetapi juga memahami hubungan dengan kandungan operasi yang mendasarinya. Lebih lanjut perlu dikenal faktor-faktor yang tidak dapat dibandingkan dan yang tidak dapat dipengaruhi, keduanya akan mempengaruhi hasil analisis. e. Penerapan Langkah terakhir selain menerapkan peningkatanpeningkatan, juga mengembangkan organisasi dan memindahkan fokusnya sehingga mengarah pada prilaku yang berorientasi kinerja. Organisasi harus memasang sasarannya yang realistis berdasarkan pada potensi peningkatan yang diungkapkan oleh celah perbedaan benchmarking. Sasaransasaran tersebut harus dirinci dan diadaptasikan agar cocok dengan struktur organisasi dan dikomunikasikan kepada orang-orang yang terlibat. Dalam buku yang lain ditemukan beberapa langkah melaksanakan benchmarking yang kemudian diistilahkan dengan “benchmarking practice” yaitu: Plan, Analyse the process, Design the study and gather information, compare performance, dan design and implement improved activity. Sehingga dalam penerapannya, proses benchmarking ini dibuat gambar dengan istilah the benchmarking wheel * Gambar the benchmarking wheel : Design/ ¢ Design Compare Dalam buku The Global I2formation Society, William J. Martin (1995) mengutip dari buku T/iw Work of nations: preparing ourselves for 21% Century capitalism merincikan tahapan benchmarking ini kepada 12 tahapan yaitu : id ntify the process to be benclmarked; establisl a management comni:tment for the benchmarking effort; identify and establish the benchrarking team; define and understand the process to be benchmarked; idcntify metrics and collect process data; identify, rank and implement internal process improvements; identify benchmarking partners; collect process data from benchmarking partners; analyse benchmarking partners process data and compare againts internal process data; site visits, in ‘erviews an reanalyse data; implement improvements and monitor results; continue to conduct benchmarking of this process, or other aspects of this process, as appropriate.’ Seperti yang dikemukakan juga oleh Goetsch dan Davis (1994), untuk melaksanakan benchmarking dibagi menjadil4 langkah yaitu®: 1. 2. 3. (v =0 0N O G NIg 00 IS0 [ [NEERN) = 7 Komitmen manajemen; Basis pada proses perusahaan itu sendiri; Identifikasi dan dokumentasi setiap kekuatan dan kelemahan proses perusahaan; Pemilihan proses yang akan dibenchmarking; Pembentukan tim benchmarking; Penelitian terhadap objek yany terbaik di kelasnya (best in-class); Pemilihan calon mitra benchinarking best in-class; Mencapai kesepakatan dengan mitra benchmarking; Pengumpulan data; . - . . . Analisis data dan penentuan gap; Perencanaan tindakan untuk mengurangi kesenjangan yang ada atau bahkan mengungguinya; Implementasi perubahan; Pemantauan; Memperbaharui patok duga; nelanjutkan siklus tersebut. 5. Perkembangan Tjiptono menjelaskan dalam bukunya Total Quality Management konsep benchmarking terbagi ke dalam lima perkembangan, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Reverse Engenering Dalam generasi tahap ini dilakukan perbandingan karakteristik produk, fungsi produk dan kinerja terhadap sejenis dari pesaing. Reverse engenering juga tidak melibatkan proses bisnis untuk dipatok duga. Tahap ini cenderung berorientasi teknis, dengan pendekatan rekayasa produk, termasuk di dalamnya membedah dan mempelajari karakteristik produk pesaing. Competitive Benchmarking Generasi ke dua ini berlangsung sekitar tahun 1976-1986. Selain melakukan patok duga terhadap karakteristik produk, patok duga kompetitif juga melakukan patok duga terhadap proses yang memungkinkan produk yang dihasilkan adalah prodirk unggul. Process Benchmarking Konsep ini tidak hanya membatasi lingkupnya pada proses bisnis pesaing saja, tetapi juga mengandung cakupan yang lebih luas dengan anggapan dasar bahwa beberapa proses bisnis perusahaan terkemuka yang sukses memiliki kemiripan dengan perusahaan yang akan melakukan patol duga. Strategic Benchmarking Dalam konsep ini dibahas hal-hal yang berkaitan dengan arah strategis jangka panjang. Strategic benchmarking merupakan suatu proses sistematis untuk mengevaluasi alternatif, implementasi strategi bisnis, dan memperbaiki kinerja dengan memahami dan mengadaptasi strategi yang telah berhasil dilakukan oleh mitra eksternal yang telah berpartisipasi dalam aliansi bisnis. Global Benchmarking Generasi kelima ini mencakup semua generasi sebelumnya dengan tambahan bahwa cakupan geografisnya sudah mengglobal dengan membandingkan terhadap mitra global maupun i pesaing global. B. 9 " Benchmarking dan Kegiatan Perpustakaan 1. Manajemen Perpustakaan Antara industri yang berorientasi laba baik yang menghasilkan barang mapun jasa dan perpustakaan berbeda dalam banyak hal, tetapi memiliki persamaan-persamaan yang sangat mendasar. Trzan-Herman lan Kiauta menyatakan persamaan tersebut antara lain®, 1) mempunyai custemor, buyer atau user, 2) menghasilkan produk at:u menyediakan jasa, 3) lingkungan mengalami perubahan, menuntut prioritas akan mutu. Pemakai layanan perpustakaan terdiri atas pemakai internal dan eksternal. Pen akai internal misalnya staf bagian referensi, sedangkan pemak ui eksternal adalah pemustaka yang berasal dari berbagai lingk::ngan di luar perpustakaan. Dalam sistem produks: informasi di perpustakaan, input terdiri atas dokumen, database, dan permintaan pemustaka, sedangkan output berupa ! ibliografi, katalog perpustakaan, penyebaran informasi dan vendidikan pemakai. Luaran (out put) dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan dalam produksi. Dalam proses produksi informasi di perpustakaan, prosesproses produksi yang mem pengaruhi out put layanan adalah proses-proses pengadaan bahan pustaka, pengolahan, dan penyebaran informasi. Untuk dapat menghasilkan layanan yang baik, dalam proses-proses tersebut diperlukan konsep manajemen yang dapat sccara organisai maupun secara individu meningkatkan kinerja dan produktivitasnya. Riggs menyatakan setiap aspek dari proses produksi informasi di perpustakaan dapat ditingkatkan dan diperbaharui. Peningkatan tersebut dapat dicapai dengan menerapkan strategi dan konsep-konsep manajemen yang tepat dalam proses produksi informasi®. Total Quality Manajeien (TQM) merupakan sistem manajemen yang perlu diterapkan di lingkungan perpustakaan, karena TQM merupakan proses yang sistematis, berfokus pada perbaikan, dilaksanakan berdasarkan fakta yang ada, menggunakan instrumen-instrumen tertentu dalam menganalisis perkerjaan, mengevaluasi setiap kemajuan yang dicapai serta menekankan pada kepuasan pemustaka. Pada saatini, kebutuhan akan informasi bagi masyarakat sama penting dengan kebutuhan pokok. Pengambilan keputusan memerlukan informasi, sehingga informasi menhadi suatu komoditas yang sangat penting. Perpustakaan dalam menyediakan informasi harus berorientasi pada kebutuhan pemustaka. Dalam usaha memenuhi kebutuhan pemustaka, perpustakaan memantau keadaan lingkungan eksternal dimana pemakai jasa layanan berada, sehingga dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Pola kehidupan masyarakat terus berubah, demikian juga dengan pemakai perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat mengharuskan perpustakaan menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut, sehingga kualitas layanan harus ditingkatkan agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh pemakainya. Salah satu cara meningkatkan mutu layanan perpustakaan adalah dengan cara membenahi sistem manajemen menjadi suatu sistem manajemen yang lebih baik. Untuk dapat mengetahui bentuk manajemen yang baik sebuah perpustakaan dapat melakukan studi banding ke perpustakaan lain yang lebih baik (benchmarking). 2. Kualitas Layanan Perpustakaan Produk yang disediakan oleh perpustakaan termasuk bahan-bahan pustaka yang memiliki oleh perpustakaan dan laya-nan yang diberikan oleh para staf perpustakaan. Pengertian ini meluas seiring dengan makin berkembangnya perpustakaan. Pengertian produk yang meluas ini meliputi setiap layanan yang disediakan oleh perpustakaan yang berupa kontrak dengan penyedia (provider) berupa informasi dalam bentu elektronik, akses ke informas: yang disediakan oleh perpustakaan lain, paket informasi serta internet''. Layanan yang diberikan perpustakaan kepada pemakai tidak harus bersifat statis, artinya layanan yang diberikan tidak mengalami perubahan, tapi sebaliknya harus dinamis dan mengikuti perkembangan per- ustaka. Menurut White dan Abels (1995 : 39) mutu layanan mempunyai beberapa karakieristik yang harus dipertimbangn » »> antara lain: Reliability (kehandalan) yai'a kemampuan untuk melaksanakan pelayanan yang telah dijasjikan dengan tepat waktu. Responsiveness (daya tanggap) yaitu kesediaan untuk membantu pelanggan der gan menyediakan pelayanan yang ccocok seperti yang merek 1 harapkan. Competence (kemampuan) » aitu menyangkut pengetahuan dan keterampilan yang diperiukan untuk dapat melaksanakan » > pelayaan. Access (akses) yaitu kemudahan kontak dengan lembaga penyedia jasa. Courtesy (sopan santun) y«itu sikap sopan, menghargai orang lain, penuh pertimbangan dan persahabatan. Conmunication (komunikas) yaitu selalu memberikan informasi yang tepat kepada pelanggan dalam bahasa yang mereka pahami, mau mendengarkan mereka yang berarti menjelaskan tentang pelayanan, biaya, jaminan pada pelanggan bahwa masalah mereka akan ditangani. Credibility (kepercayaan) artinya dapat dipercaya, jujur, dan mengutamakan kepentingan pelanggan. Security (keamaan) artiny bebas dari resiko dan bahaya. Benchmmarking dalam Kegiatan Perpustakaan Dalam organisasi perpustakaan, terdapat kegiatan-kegiatan antara lain: perencanaan pembangunan gedung, perencanaan pengadaan, perencanaan pengolahan, perencanaan layanan, perencanaan sistem layanan, perencanaan kerjasama, dan perencanaan pengembangan, dan lain-lain. Rangkaian kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan oleh sebuah perpustakaan dalam rangka mewujudkan tujuan perpustakaan tersebut yakni menyediakan, mengolah dan memberikan layanan sumber daya informasi kepada pemakai perpustakaan. Dalam mencapai sasarannya, baik pada setiap bagian kegiatan dalam perpustakaan maupun perpustakaan secara utuh, manajemen perpustakaan akan mengalami perkembangan seiring dengan kebutuhan masyarakat pemakai. Oleh karena itu dalam waktu tertentu perpustakaan ini perlu melaksanakan benclimarking. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kegiatan benchmarking meliputi tiga fungsi yaitu pada proses kerja, jasa (layanan) dan pada produk (lihat benchmarking kategori fungsional). Oleh karena itu pada manajemen perpustakaan dapat melakukan evaluasi dalam tiap perencanaan kegiatan dengan menerapkan benclmarking baik secara eksternal pada fungsi-fungsi yang dimaksudkan. Dalam kegiatan benclinarking ini, manajemen perpustakaan perlu menggunakan langkah-langkah strategis yang berkelanjutan ditambah dengan memantapkan keinginan perubahan yang terukur dan berkembang. IFLA (The International Federation of Library Association and Institution) memberikan standar bagi perpustakaan universitas dalam merencanakan pengembangan yangmana standar tersebut dikelompokkan kepada 10 (sepuluh) macam indikator yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 1 12 Purpose Organization and administration Services Colletion Staff Facilities Budget and Finance Technology Preservation and conservation 0. Co-operation Kemudian indikator-indikator tersebut dapat dibagi lagi ke dalam dua pembagian yaitu'*: 1. 2. Quantitative indicators: Numbers of clients; Size of stock; proportion of stock added/replaced anually; Funding; Staff numbers; Accomodations; Item issued: Other item supplied; Enqueries handled; Opening hours; Numbers o; visits; Study hours provided. Qualitative indicators: \ ariety of stock; Staff qualification and experience; Range of informa ion support services; Satisfaction rates. Dengan demikian, secara umum, benchmarking kegiatan perpustakaan dapatdigan: barkan sebagai berikut: Pelaksanaan Program dan Laynan Perencanaan Program Benchmarkiy making C. Kebutuhan Pemavai Pemakai Perpustakaan Lain
Conclusion
Benchmarking dapat dan akan diterapkan di sebuah perpustakaan sebagai wujud penge mbangan perpustakaan secara dinamis dan berkelanjutan. Benchmarking yang dilakukan pada saatini cenderung berkategori ekst-rnal dan fungsional. Sebuah perpustakaan akan menerapkan benchmarking apabila sistem manajemennya menuju pada sistem fotal quality manajemen artinya bahwa pemberdayaan sumber daya sebuah organisasi dilakukan secara maksimal dan dikembangkan dengan fokus profesional dan proporsional terhadap sumber daya yang harus dimiliki. Persaingan dalam konteks sistem pelayanan terhadap masyarakat pemakai perpustakaan harus ditumbuhkembangkan agar terjadi perkembangan organisasi perpustakaan di Indonesia. Selain itu penghargaan terhadap eksistensi sebuah perpustakaan sebagai sumber daya informasi dan pengetahuan dan pustakawan itu sebagai manajernya akan lebih baik. Mengapa sebuah perpustakaan cenderung melakukan benclmarking, akan diperolehjika dalam keadaan adanya harapan kepuasan baik secara moril maupun secara materil. Oleh karena menciptakan suasana seperti ini adalah tugas bagi para pustakawan dan pemerintah khususnya, dan pendidik, penelit’, serta tokoh masyarakat secara umum.