Kembali
16
1
2025 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 17 · 2 ISSN 2502-4108

PERPUSTAKAAN SEBAGAI RUANG HETEROTOPIA: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS (SLR)

Universitas Airlangga

Abstrak

Penelitian tentang perpustakaan sebagai ruang heterotopia menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap peran perpustakaan tidak hanya sebagai tempat penyimpanan informasi, tetapi juga sebagai ruang simbolik, sosial, dan pengalaman yang kompleks. Namun, masih terdapat beberapa kesenjangan terkaitbagaimanakonsepheterotopia diterapkan padaberbagai jenis dan bentuk ruang perpustakaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik perpustakaan sebagai ruang heterotopia melalui tinjauan literatur sistematis, dengan menelaah makna spasial, fungsi sosial, dan representasi ideologis dalam lingkungan perpustakaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desainSLR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaanumum maupun perguruan tinggi memiliki karakteristik heterotopia melalui keberadaan ruang fisik dan digital, fungsi simbolik, serta nilaisosial dan budaya. Selain itu, dapat diketahuiperbedaan mencolok mengenaicara berbagai jenis perpustakaan membangunnarasi kultural, edukatif dan ideologis, melalui desain ruang serta pengalaman pengguna. Temuan ini menegaskanbahwa kerangka heterotopia memberikan perspektif kritis untukmemahami peran transformatif perpustakaan di era digital. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas kajian pada jenis perpustakaan lain, serta mengintegrasikan pendekatan interdisipliner.

Abstract

Research on libraries as heterotopianspaces has received growing scholarly attention, highlightingtheir role not only as repositories of information but also as complex symbolic, social, and experiential spaces. However, several gaps remain regarding how heterotopia is manifested in different types and forms of library spaces. This study aims to identify and analyze the characteristics of libraries as heterotopian spaces through a systematic literature review, focusing onspatial meanings, social functions, and ideological representations within library environments. This study employed a qualitative Systematic Literature Review (SLR) design. The findings show thatboth public and academiclibrariesexhibitheterotopian characteristics through theirphysical and digital spaces, symbolic functions, and sociocultural values.Significant differences were identified in how different library types construct cultural, educational, and ideological narratives through spatial design and user experience. These findings suggestthat the heterotopia framework offers a critical lens forunderstanding the transformative role of libraries in the digital age. Future research is encouragedto explore additional library types and adoptinterdisciplinaryperspectives
Keywords: library · heterotopia · systematic literature review

Introduction

Perpustakaan selama ini dipandang sebagai tempat penyimpanan koleksi buku, pusat belajar,dan ruanginteraksi ilmiah. Perpustakaan juga berfungsi sebagai ruang simbolik yang merefleksikan tatanan sosial dan budaya.Selain itu, perpustakaan kerap kali diposisikan sebagai institusi penting dalamperkembangan pengetahuan dari erapra-pencerahanhingga berkembangnya pemikiranrasional dan kritis. Oleh karena itu, perpustakaan menjadi tempat yang mendukung proses belajar, penelitian, dan pengembangan pengetahuan baru.1Perpustakaan berperan dalampenyimpanan, pelestarian sumber pengetahuan, sarana pendidikan, pembelajaran, penelitian, hingga sarana rekreasi. Pada masa kini, masyarakat dihadapkan pada perubahan teknologi, derasnya arus informasi,dan transformasi perpustakaan yang tak terelakkan.2Pada titik ini, perpustakaan menyadari bahwa kebutuhan pengguna terhadapjenislayanan, metode akses, danlingkungan informasi turutmengalami perubahan. Perpustakaan memanfaatkan teknologi sebagai saranauntuk berbenah.Koleksi dapat diakses dengan cepat, layanan menjadi lebih efisien melalui sistem perpustakaan yang terintegrasi dan fleksibel.3Agar tetap relevan, perpustakaan harus adaptif terhadap berbagaiperkembangan. Adanyatuntutan pengguna meliputi layananresponsif, koleksimutakhir, ruang yang nyaman, sertafasilitas yang mendukung kebutuhan mereka. Perpustakaan mengakomodasi beragam layanan sesuai dengan kebutuhan pemustaka, seperti menyediakan ruang publik, coworkingspace, ruang yang memungkinkanpemustaka beraktivitas dengan santai, berbincang, makan dan minum, serta bersosialisasi dengan komunitasnya.4Perpustakaan merancang layanan dan menyediakanfasilitas yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan pemustaka, meliputi akses fisik dan digital, serta memastikan setiap pemustaka memperolehakses yang setara terhadap informasi dan pengetahuan, tanpa batasan ruang danwaktu.5Keadaan ini memudahkan siapa punmengaksesperpustakaan dari mana saja. Perpustakaan berperandalam menjaga dan membentuk budaya serta identitas masyarakatsebagai ruang heterotopia yangtidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga mencerminkan, memodifikasi danmenantang norma yang berlaku. Ruang-ruang ambigu dan hibrida, yang dapat bersifat terbuka maupunterkendali, mendorong pluralitas dan heterogenitas, serta memberi ruang bagi pemustaka untuk menciptakan makna dan kenyamanan sendiri.6Perpustakaan jugamenghubungkan aspek historis dan modern suatu komunitasmelaluiberagam koleksi bacaan, baik yang bersifat kritis maupun konvensional. Beberapa perpustakaan bahkan didesain dengan visualisasi yang menghadirkan suasana masa tertentu melalui bacaan serta audio visual, sehingga mendukung pengalaman menjelajah masa lalu Perpustakaan mengalamiperubahan signifikan dari masa ke masa, mengubah cara penggunamengakses, memanfaatkan dan memaknai ruang.8Konsep heterotopia menggabungkan bangunan fisik dan desain imaji yang dapat membuat pengunjung merasahadir diperpustakaan sekaligus berada di ruangimajinerlain. Hal tersebut diwujudkan melalui desain ruang, penempatan properti yang mendukung, serta penyusunan koleksi secara kreatif. Misalnya, koleksi bertemadunia airditempatkan dengan desain ruangan seperti di dalam laut, dengan pencahayaan yang sesuaidan beragam koleksi tematik, sehingga mampu menghadirkan pengalaman membaca yang imajinatif dan menyenangkan. Foucault memperkenalkan heterotopia sebagai ruang-ruang nyata yang memiliki sifat kontradiktif, hadir secara fisik namun tidak sepenuhnya tunduk pada logika ruang umum. Konsep ini diperkenalkan Foucault dalam ceramahberjudul “Des Espaces Autres”(1967) dan dipublikasikan ulang sebagai “Of Other Spaces”, yang menggambarkan heterotopia sebagai “ruang lain”.9Ruang lain tersebut bersifat nyata namun berfungsi merefleksikan, membalikkan, atau menantang ruang-ruang sosial yang umum.10Dalam konteks ini, perpustakaan menjadi tempat dimana berbagai narasi, memori, dan identitas dikonstruksi. Perpustakaan sebagai ruang heterotopia diharapkanmampu mencerminkan sekaligus menantang struktur kekuasaan dan pengetahuan yang dominan. Saat ini,perpustakaan dihadapkan pada perkembangan informasi yang sangat pesat. Adapun perkembangan penelitian mengenai perpustakaan sebagai heterotopia masih belum sepenuhnya terpetakan dalam kajian ilmiah. Oleh karena itu, studi ini bertujuan menyusun Systematic Literature Review(SLR) untuk mengidentifikasi, mensintesis dan menganalisis penelitianyang mengaitkan perpustakaan dengan konsep heterotopia. Melaluipendekatan ini, diharapkan munculpemahaman yang lebih utuh mengenai bagaimana perpustakaan diposisikan dalam diskursus ruang dan kekuasaan kontemporer.Konsep heterotopia kemudian menjadi sumber inspirasi bagi para arsitek dan kritikus budaya dalam membacaperubahan dan tantangan saat ini. Konsep ini juga dijelaskan dalam esaiberjudul “Of Other Space”yang menggambarkan heterotopia sebagai ruang nyata yang berada di luar struktur ruang konvensional.11Heterotopia dipahami sebagai lawan dari kata utopia,yang bersifat imajinerdan semu. Utopia merujuk pada hal yang tak nyata, hasil dari imajinasi akan kesempurnaan atau suatu keadaan yang sangat ideal, sedangkan heterotopia ialah tempat nyata yang bersifat kontradiktifterhadaputopia.12Konsep heterotopia ini merupakan tawaran sekaligus kritik terhadap utopia yang menjadi obsesi. Heterotopia dikatakan menjadi penanda era masa kini, khususnya merujuk pada desain arsitektur ruang.13Perpustakaan dianggap sebagai tempat penting yang menyimpan informasi dan pusat pembelajaran. Perpustakaan memfasilitasi pembelajaran, penelitian dan pengembangan intelektual melalui penyediaankoleksi dari berbagai bidang ilmu secara sistematis.14Fungsi perpustakaan sebagai tempat penyimpanan dan akses pengetahuan telah menopang perkembangan ilmu pengetahuan dan literasi masyarakat selama berabad-abad. Peran perpustakaan kini telah melampaui fungsi tradisionalnya sebagai “gudang pengetahuan”. Dengan perubahan sosial, budaya dan teknologi yang semakin cepat, perpustakaan berevolusi menjadi ruang yang lebih dinamis,inklusif dan menawarkan fungsi yang lebih kompleks.15Perpustakaan berkaitan erat dalam halmenjaga dan membentuk budaya serta identitas masyarakat. Sebagai ruang yang terhubung dengan perkembangan sosial dan politik, perpustakaan seringkali memuat nilai-nilai masyarakat yang dinamis dan berubah sesuai dengan waktu. Dengan demikian perpustakaan dapat dilihat sebagai heterotopia yang tidak hanya menyimpan pengetahuan tetapi juga mencerminkan, memodifikasi, bahkan menantang norma-norma yang ada.16Perpustakaanadalah tempat yang menghubungkan aspek historis dan modern suatu komunitas karena memiliki berbagai bahan bacaan, dari yang kritis hingga konvensional, serta ruang untuk diskusi dan kegiatan komunitas. Perpustakaan saat ini tidak hanya menyediakan akses informasi tetapi juga menciptakan ruang alternatif yang mendukung interaksi sosial, inklusi dan kolaborasi komunitas. Mereka menjadi tempat bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berkumpul, berdiskusi, dan berpartisipasi dalam kegiatan yang mendorong keterlibatan budaya dan sosial.17Beberapa studi menunjukkan bahwa perpustakaanmenjadi situs ideologi dimana kontrol wacana berlangsung melalui sistem klasifikasi, kurasi koleksi, bahkan desain arsitektur. Sementara itu, studi pascastrukturalis menyoroti perpustakaan sebagai ruang yang terbuka untuk resistensi, rekonstruksi, dan ruang interaksi antar wacana.Terdapat beberapa kajian penting yang relevan dengan konsep perpustakaan sebagai heterotopia. Penerapan teori heterotopia Foucault dalam berbagai bidang telah mendapatkan perhatian signifikan. Penelitian yang mengadopsi pandangan ini menunjukkan bagaimana ruang-ruang tertentu, seperti museum, ruang seni, ruang coworkingdan perpustakaan dapat berfungsi sebagai alternatif yang memproduksi pengalaman berbeda bagi individu.18Coworkingspacemerupakan tempat kerja yang fleksibel dan digunakan bersama untuk menghubungkan pengguna dengan jaringan pendukung yang dapat menghasilkan kerja yang efisien, kolaborasi dan transfer pengetahuan.19Penelitian oleh Foucault menguraikan sifat heterotopia sebagai ruang yang tidak terkait oleh norma sosial menjadi fondasi yang penting dalam memahami perpustakaan dalam konteks ini.20Meskipun diskusi tentang heterotopia cukup berkembang dalam kajian arsitektur, geografi, dan studi budaya, penerapannya pada studi perpustakaan masih terfragmentasi. Kajian yang ada cenderung bersifat konseptual atau studi kasus terbatas. Oleh karena itu, diperlukan tinjauan sistematis yang menyatukan temuan-temuan tersebut untuk memberikan peta intelektual dan tematik yang lebih komprehensif

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review(SLR) untuk mengumpulkan, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis literatur yang relevan secara sistematis dan transparan.21Pendekatan SLR dipilih karena mampu menyaring dan mengorganisasiberbagai hasil penelitian terdahulu secara kritis serta menghindari bias subjektif. Metode yang digunakan adalahPRISMA, yaitu metode yangbertujuan untukmengidentifikasi karakteristik ruang heterotopia dalam perpustakaan, mengklasifikasikan jenis perpustakaan yang menerapkan konsep heterotopia, menelaah pendekatan teoritis, metode, dan konteks kajian, serta mengungkap tema-tema utama. Beberapa tahapan yang harus dilakukan dalampenelitian SLR adalah sebagai berikut:1.Identifikasi pertanyaan penelitianUntuk menjaga fokus penelitian, tahap pertama dari SLR adalah menentukan masalah yang akan dibahas yaitu:Tabel 1. Pertanyaan penelitianPertanyaan penelitianRQ1Apa saja karakteristik ruang yang diterapkan perpustakaan sebagai heterotopia?RQ2Apa saja jenis perpustakaan yang dibahas dalam literatur terkait heterotopia di perpustakaan?RQ3Apa metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitianperpustakaan sebagai heterotopia?Sumber: Hasil olahan peneliti, 2025 2.Pemilihan DatabaseLiteratur yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Google Scholar dengan rentangtahun 2019-2025.3.Menentukan Strategi PencarianUntuk menemukan literaturyang relevan, penelitimenggunakan kata kunci dengan operatorBoolean yaitu “heterotopia”AND “perpustakaan”. 4.Menyusun Kriteria Penyaringan PraktisKriteria inklusi dan eksklusi digunakan untuk membuat batasan penelitian dan menjadi pedoman kriteria literatur-literatur yang akan direview.Tabel 2. Kriteria Inklusi dan EksklusiInklusiEksklusiArtikel yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2019-2025Artikel yang dipublikasikan selainrentang waktu 2019-2025Artikel dapat diakses lengkap Artikel tidak dapat diakses lengkap Artikel yang membahas heterotopia di perpustakaanArtikel yang membahas selainheterotopia perpustakaanSumber: Hasil olahan peneliti, 20255.Menentukan Kriteria EvaluasiMetodologisPada tahap evaluasi metodologis, penelitian ini bertujuan menilai kualitas dan relevansi artikel yang telah lolos seleksi awal. Proses ini dilakukan melalui penelaahan abstrak secara sistematis untuk memastikan kesesuaian antara fokus penelitian, pendekatan metodologis, dan konteks kajian dengan tujuan studi. Evaluasi ini berfungsi sebagai dasar dalam menentukan kelayakan literatur untuk diikutsertakan dalam analisis lebih lanjut, sehingga hanya artikel yang memenuhi standar kualitas metodologis dan relevansi topik yang dimasukkan dalam kajian systematic literature review.6.Melakukan ReviewSetelah proses seleksi, peneliti meninjau literatur yang masuk kriteria, kemudian hasilnya disajikan dalam bagian pembahasan.7.Menggabungkan HasilHasil temuan tinjauan literatur disintesis untuk menjawab pertanyaanyang dibahaspada bagian pembahasan

Discussion

Melalui pemanfaatan Google Scholar, proses pencariandengan kata kunci “perpustakaan”AND“heterotopia”dan seleksi literatur menggunakan PRISMA.Pada penelitian ini, PRISMA digunakan sebagai pedoman pelaporan alur seleksi artikel dalam penyusunan Systematic Literature Review(SLR).Berdasarkan hasil identifikasi, diperolehsejumlah 51 artikel ilmiah yang relevan dengan topik perpustakaan dan heterotopia.Setelah memperoleh data tersebut, penulis kemudian melakukan seleksi lanjutan berdasarkan duplikasi selanjutnya dipilah untuk menyesuaikan dengan kriteria inklusi. Artikel tersebut dipublikasikan antara tahun 2019 hingga 2025, dan berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti studi library and information science, arsitektur, studi budaya, geografis kritis, dan filsafat. Berdasarkan hasil penelusuran, tema yang muncul tidak hanya tentang heterotopia diperpustakaan melainkan heterotopia pada museum, rumah sakit, bioskop, feminisme, sejarah, filologi, perkotaan, taman,danpemakaman. Adapun bentuk PRISMAsebagai berikut :Gambar 1. PRISMAProtocol Systematic LiteratureReview(SLR)Sumber: Hasil olahan peneliti, 2025Pemilihan literatur didasarkan pada kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan yaitu (1) literatur terbit antara tahun 2019 hingga tahun 2025. (2) literatur dapat diakses lengkap (3) tema membahasheterotopia di perpustakaan.Berdasarkan temuan awal, terdapat 51 artikel yang diidentifikasi melalui pencarian Google Scholar.Setelah dilakukan seleksi lebih lanjut, hanya terdapat 4 artikel yang memenuhi seluruh kriteria inklusi dandibahas lebih lanjut pada penelitian ini.Tabel di bawah ini menampilkan artikel yang memenuhi seluruh kriteria inklusi dan dianalisis dalam penelitian ini.Tabel 3. Literatur yang Sesuai Kriteria InklusiNoJudulDeskripsiTahunL1Merekonstruksi Perpustakaan di Era Masyarakat Informasi: Mengembangkan Heterotopia melalui Manajemen Perubahan Berkelanjutan.Kajian ini membahasbagaimana bentuk fisik dan tata ruang mencerminkan fungsi unik, serta menunjukkan aspek eksklusi. Manajemen perubahan berperan dalam merekonstruksi perpustakaan sebagai ruang heterotopia.2025L2Faktor Pendukung dan Penghambat Mahasiswa dalam Memanfaatkan Layanan dan Fasilitas Perpustakaan di Era DigitalPerpustakaan di era digital dapat dipahami sebagai ruang heterotopia, karena menjadi tempat berbagai realitas, pengalaman, inklusivitas, fleksibilitas, serta ruang yang adaptif.2024L3Dekonstruksi dan Rekonstruksi Kuasa Kepemimpinan dalam Transformasi Layanan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Masa New NormalKajian ini menunjukkan perpustakaan sebagai ruang yang membingkai tatanan fisik dan virtual, formal dan informal.Perpustakaan menjadi situs transformatif dimana struktur kuasa lama dibongkar dan diolah kembali untuk membentuk layanan yang lebih adaptif, partisipatif serta ruang heterotopia.2021L4Ruang Alternatif dalam Layanan Cornerdi Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY): Relasi Kuasa, Karakteristik & MaknaLayanan cornerdipahami sebagai ruang alternatif yang memfasilitasiekspresi kultural, sekaligus mengintegrasikan berbagai fungsi dan makna sebagai ruang edukatif, diplomatik, dan kultural.2019Sumber: Hasil olahan peneliti, 2025Berdasarkan temuan tersebut, literatur yang dianalisis membahas heterotopia di perpustakaan dalam beragam ruang, makna, dan fungsi.RQ1 : Apa saja karakteristik ruang yang diterapkanperpustakaan sebagai heterotopia ?L1 mengkaji perpustakaan umum dalam konteks masyarakat informasi,seperti Strahov MonasteryLibrary di Praha. Perpustakaan ini menampilkan ruang spektakuler dengan desain artistik, ditandai oleh langit-langit yang dihiasi lukisan evolusi spiritual manusia, sehingga menghadirkan kesan kemegahan abad pertengahan. Ruang tersebut merepresentasikan heterotopia melalui perpaduan antara bangunan fisik dan desain imajiner yang mampu membawa pengunjung merasakan pengalaman berada di ruang dan waktu yang berbeda.Perpustakaan lain yang dibahas yaitu Central Public LibrarySingapura, yang menghadirkan ruang tematik bertema hutan bagi koleksi bacaan anak, dilengkapi dengan elemen permainan, sehingga perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai ruang edukatif tetapi juga sebagai ruang rekreatif.L2 menggambarkan perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP), yang memanfaatkan koleksi digital sebagai bentuk heterotopia pada ruang virtual. Akses terhadap koleksi digital dan e-resources yang mudah digunakan memungkinkan pemustaka memperoleh informasi yang beragam sesuai kebutuhan. Sebelumnya, koleksi hanya dapat diakses secara fisik diperpustakaan, namun melalui digitalisasi, seluruh koleksi kini dapat diakses secara fleksibel dari lokasi manapun.L3 mengkaji perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai ruang multifungsi, yang memadukan pemanfaatan ruang fisik dan virtual. Ruang tersebut menampilkan pertentangan fungsi yang tetap produktif, sekaligus mempertahankan manfaat utama, termasuk dimensi eksklusi yang terkandung dalam struktur ruang.L4 membahas layanan cornerdi Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)sebagai simbolisasi aktivitas ruang. Layanan ini menyediakan tempat untuk kegiatan seperti pameran dan event, serta berfungsi sebagai ruang belajar alternatif, ruang komunikasi antarbudaya, dan representasi ideologis, menciptakan pengalaman interaksi yang bersifat hibrid dan transformatif.RQ2 : Apa saja jenis perpustakaan yang dibahas dalam literatur terkait heterotopia di perpustakaan ? Literatur yang dianalisis menekankan perpustakaan sebagai ruang heterotopia, dengan fokus utama pada perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan umum. Perpustakaan perguruan tinggi menghadirkan pumustaka di kalangan civitas academicayang lebih heterogen dan multikultural, sementara perpustakaan umum melayani masyarakat informasi yang modern. Kedua jenis perpustakaan ini menunjukkan potensi pengembangan heterotopia yang signifikan. Selain itu, dampak sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan politik tercermin melalui dinamika layanan dan interaksi pengguna di kedua konteks tersebut.RQ3 : Apa metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian perpustakaan sebagai heterotopia ? Dalam hal metode dan pendekatan, L1 menerapkan metode kualitatif dengan perspektif kritis, L2 menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam (in-depth interview), L3 menerapkanpendekatan kualitatif deskriptif berbasis paradigma konstruktivisme dan interpretatif kritis, sedangkan L4 menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan-pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang mendalam mengenai karakteristik ruang, fungsi, dan makna heterotopia dalam konteks perpustakaan Analisis literaturini memperlihatkan bahwa perpustakaan tidak sekadarmenjadi ruang penyimpanan informasi, tetapi menjadi arena di mana wacana, kekuasaan dan identitas saling berinteraksi. Konsep heterotopia terbukti berguna untuk membaca kompleksitas fungsi sosial dan simbolik perpustakaan. Penelitian-penelitian yang dikaji memberikan pemahaman bahwa perpustakaan di era modern tidak lagi menjadiruang fisik yang pasif melainkantelah berkembang menjadi ruang kompleks dandinamis. Perpustakaan menghadirkan ruang-ruang yang mengakomodasi realitas alternatif, pengalaman personal kolektif dan transformasi makna.Hasil kajianL1 -L4 sejalan dengan studi terdahulu, tentang perpustakaan sebagai heterotopia22yang disampaikan oleh Michel Foucault bahwa “library as heterotopia, the experience of library space”. Literatur ini juga membahas lebih luas tentang pemahaman heterotopia tidak hanya sebagai ruang fisik, melainkan juga ruang digitaldan budaya. Literatur tersebutmenunjukkan bahwa heterotopia juga mencakup akses digital, partisipasi sosial dan narasi ideologis yang dibangun di dalam perpustakaan. Perpustakaan umum dan perpustakaan perguruan tinggi memiliki karakter pengguna yang heterogen, sehingga dapat menciptakan interaksi sosial yang kompleks. Keduanya juga menampilkan ruang yang memiliki ruang publikdan terkendali. Menunjukkan bahwa perpustakaan bukan hanya sebagai sarana informasi tetapi sebagai ruang kontestasi wacana dan representasi nilai budaya.Perpustakaan sebagai ruangheterotopik mengandung dualismefungsi, di satu sisi sebagai reproduksi pengetahuan misalnya klasifikasi, sensor, seleksi koleksi. Namun disisi lain, sebagai ruang resistensi dan representasi alternatif. Ini sejalan dengan pandangan Foucault tentang heterotopia sebagai ruang menyimpang dan kritis. Dalam konteks digital, perpustakaan virtual muncul sebagai bentuk baru heterotopia. Beberapa studi menganggap perpustakaan digital sebagai ruang antara yang tidak sepenuhnyabersifatumum ataupun privat, serta menciptakan pergeseran pengalaman ruang dan otoritas pengetahuan.Namun demikian, kajian-kajian tersebut masih dominan secara konseptual dan belum cukup menjembatani antara teori dan praktik. Padahal, praktik heterotopia bisa sangat berbeda tergantung pada konteks sosial, politik dan budaya. Misalnya perpustakaan komunitas lebih fokus pada fungsi sosial dan kultural, sedangkan perpustakaan di kota cenderung berkembang menjadi pusat pembelajaran berbasis teknologi dan kolaborasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika lokal dapat menciptakan heterotopia. Rekomendasi untuk penelitianselanjutnyaadalahmengembangkan studi dengan mixed methods, sertamemperluas kajian heterotopia pada perpustakaan sekolah dan komunitas berbasis digital

Conclusion

Penelitian ini menunjukkan bahwa perpustakaan, baik umum maupun perguruan tinggi, telah berkembang menjadi ruang heterotopia, yakni dapat dipahami sebagai ruang yang mencerminkan, membentuk, dan mengintervensi ruang-ruang sosial lainnya. Karakteristik ruang dalam konteks heterotopia perpustakaan merupakan perpaduan antara fungsi rekreatif dan edukatif, elemen fisik dan digital, serta nilai-nilai budaya dan ideologisyang bersifat simbolik. Ruang ini hadir dalam bentuk ruang imajiner, akses tanpa batas, oposisi makna, hingga ruang simbolik seperti layanan corner.Jenis perpustakaan yang dibahas mencerminkan keberagaman konteks pengguna dan fungsi sosial, di mana perpustakaan umum dan perguruan tinggi menjadi ruangstrategis dengan berbagai dinamika sosial, budaya dan ideologis. Dengan demikian, konsep heterotopia memungkinkan perpustakaandipahami tidak hanya sebagai tempat penyimpanan informasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang kompleks dan politis, yangterus mengalami negosiasi makna dan fungsi di era digital.Perpustakaan sebagai ruang heterotopia dipahami sebagai entitas yang adaptif, reflektif, dan terbuka terhadap pluralitas makna serta pengalaman pengguna. Perpustakaan adalah ruang kontestasi, ruang negosiasi dan bahkan ruang emansipasi. Melihat perpustakaan sebagai heterotopia, membuka ruang baru untukmemahami peran strategisperpustakaan dalammerancang layanan yang tidak hanya fungsional tetapi juga relevan secara kultural dan sosial dalam masyarakat informasi