PENGARUH WRITING ANXIETYDAN WRITING SELF-EFFICACYTERHADAP KEMAMPUAN MENULIS AKADEMIK MAHASISWA
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel; Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Abstrak
Menulis memiliki peran penting dalam keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi, meskipun dalam praktiknyasebagian individu mengalamikesulitan dalam menulis teks komprehensif suatu karya ilmiah. Diantara kendala yang ada, ditemukan bahwa kecemasan dan efikasi diri (self-efficacy) turut memberikan kontribusi dalam proses menulis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh writing anxietydan writing self-efficacyterhadap kemampuan menulis akademik mahasiswa di sembilan fakultas yang ada di UIN Sunan Ampel Surabaya. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan populasi mahasiswa jenjang sarjana angkatan 2022-2024. Pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan proportional stratifiedrandomsamplingsebagai teknik sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner onlinedan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan melakukan uji statistik dengan menggunakan SPSS versi 25, yang terdiri dari uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa writing anxietyberpengaruh negatif namun tidak signifikan secara statistik terhadap kemampuan menulis akademik (p = 0,361 >0,05). Writing self-efficacyberpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan menulis akademik (0,00 <0,05). Secara simultan, keduavariabelindependen berkontribusi sebesar 79,6% terhadap kemampuan menulis akademik mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa writing self-efficacyberpengaruh signifikan terhadap kemampuan menulis akademik, sedangkan writing anxietytidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara individual.
Abstract
Writing plays a crucial role in student success in college, although some individuals experience difficulties in writing coherent academic texts for scientificwork. Among the challenges, anxiety and self-efficacy contribute to the writing process. This study aims to determine the effect of writing anxiety and writing self-efficacy on students' academic writing skills in nine faculties at UIN Sunan Ampel Surabaya. This research employed a quantitative approach, with a population of undergraduate students from the 2022-2024 intake. Proportional stratified random sampling was used for sampling. Data were collected using an online questionnaire and a literature review. Data were analyzed using statistical tests withSPSS version 25, including validity, reliability, normality, multicollinearity, heteroscedasticity, and multiple linear regression. The results showed that writing anxiety had a negative and insignificant effect on academic writing skills (p = 0.3610.05). Writing self-efficacy had a positive and significant effect on academic writing ability (0.00 < 0.05). Simultaneously, both independent variables contributed 79.6% to students' academic writing ability. These findings indicate that writing self-efficacy significantly influences academic writing ability, while writing anxiety does not show a significant individual effect
Keywords:
writing anxiety
· writing self-efficacy
· writing skills
Introduction
Menulis merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari dunia akademik, termasukdi perguruan tinggi. Sebagaimana diungkapkan oleh Tanyer bahwa menulis merupakan salah satu saluran mendasar yang digunakan untuk menyampaikan pengetahuan yang ada di sebagian besar bidang akademis selama menempuh pendidikan sarjana.1Menulis tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan akademik dan penunjang karier, tetapi juga sebagai alat komunikasi interpersonal dan promosi diri dalam kehidupan sosial.Menulis dengan baik tentu membutuhkan suatu kemampuan atau kompetensi, sehinggainformasi yang ada di tulisan tersebut dapattersampaikan dengan baik. Mengingat menulis merupakan suatu proses yang mencakup pengumpulan informasi dan transfer untuk secara efektif menyampaikan pemikiran dalam bentuk tertulis.2Meski begitu, pada realitanya sebagian individu mengalami kesulitan dalam menulis teks yang komprehensif dan gagal mencapai tingkat kemahiran menulis yang memuaskan.3Aydin dan Yuce mengidentifikasi menulis sebagai proses yang membutuhkan akumulasi khusus, persiapan awal, tatanan dan rencana intelektual, serta keterampilan mengedit dan mengoreksi.4Terdapat banyak faktor yang dapat berpengaruh pada proses menulis.Dari banyaknya faktor yang berpengaruh, kecemasan (anxiety), sikap (attitude) dan efikasi diri (self-efficacy) dapat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam proses menulis. Beberapa hasilpenelitian terdahulu, antara lain oleh Sun, Motevalli dan Chan,5Hetthong dan Teo6sertaWulandari7menunjukkan bahwa semakin rendah writing anxiety, maka semakin tinggi writing self-efficacy yang dimiliki. Semakin tinggi writing self-efficacy yang dimiliki maka semakin baik pula kualitas tulisannya.Kecemasan menulis atau writing anxietymerupakan salah satu faktor emosional yang ada pada setiap individu. Kecemasan dalam menulis (writing anxiety)dapat menyebabkan individu mengalami kesulitandalamuntuk mengekspresikan secara tertulis, menghindari tugas menulis dan lain sebagainya.8Selain itu, rasa takut dikritik dan persepsi individu tentang diri mereka sendiri sebagai tidak kompeten secara akademis dapat mengakibatkan “writing anxiety”. Kecemasan terjadi dikarenakan banyak individu terutamamahasiswa menganggap menulis sebagairintangan yang harus dihadapi untuk menggapai kesuksesan akademik.9Beberapa dampak yang mungkin akan ditimbulkan dengan adanya kecemasan menulis, diantaranya yaitu stress, gugup, kemarahan, sikap yang tidak efektif terhadap penulisan seperti menundadantidak menyelesaikan tugas tersebut.10Apabila individu memiliki kecemasan yang cukup tinggi, maka hal tersebut dapat menimbulkan sikap negatif dan persepsi diri mengenai kompetensi akademik dan kurangnya profesional. Collie, Martin dan Curwoodmenyatakan bahwa terdapat korelasi negatif antara kecemasan menulis pada anak laki-laki dan efikasi mereka.11Selain itu, pada literatur lainnya menyebutkan bahwa efikasi memiliki korelasi positif dengan hasil yang berkaitan dengan menulis, sedangkan kecemasan menunjukkan korelasi negatif.12Di sisi lain, efikasi diri turut memerankan peran penting dalam proses menulis. Efikasi diri atau “self-efficacy” mencerminkan keyakinan peserta didik terhadap diri mereka sendiri dan penilaian diri mereka ketika melakukan tugas atau keterampilan. Pada kasus di lingkungan pascasarjana, efikasi diri menulis dapat memengaruhi penyelesaian studi, identitas akademis, dan kesejahteraan emosional.13Lebih lanjut dalam konteks penulisan bahasa Inggris, kecemasan menulis dan efikasi diri menulis, telah menarik perhatian luas para peneliti.14Hal ini juga didukung oleh hasil riset yang dilakukan oleh Wulandari yaitu mahasiswa dengan tingkat self-efficacyyang tinggi, memiliki kecenderungan mengalami kecemasan pada tingkat rendah.15Dengan kecemasan yang minim, mereka lebih termotivasi untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Stewartmenyatakan bahwa penurunan writing anxietydan peningkatan self-efficacyberhubungan dengan meningkatnya persepsi mahasiswa terhadap penggunaan strategi menulis metakognitif, baik secara individu maupun bersamaan.16Meskipun penurunan kecemasan memiliki hubungan kecil,namun signifikan secara statistik terhadap hasil tersebut. Dengan demikian, hal tersebutdapat disimpulkan bahwa dengan menurunkan kecemasan menulis atau meningkatkan writing self efficacy,dapat membantu meningkatkan keterampilan menulis mereka di lingkungan pendidikan.17Selain itu Clarence Ng et al.juga memperkirakan bahwa efikasi diri dalam menulis untuk keterampilan dasar akan memiliki hubungan positif dengan efikasi diri dalam menghasilkan ide selama menulis.18UIN Sunan Ampel yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia turut mewajibkan mahasiswa menghasilkan karya ilmiah, sebagai salah satu syarat kelulusan. Hal ini merupakanupaya untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan mahasiswa terkait disiplin ilmu yang mereka pelajari. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Al-Saadibahwa membaca dan menulis merupakan kegiatan praktis akademik yang turut membantu mahasiswa untuk memaham dan mengembangkan kemampuan sesuai dengan ilmu yang mereka pelajari.19Oleh karena itu,sebelum mencapai fase tingkat akhir, mahasiswa diberikan beberapa tugas karya ilmiah untuk mengembangkan kemampuan menulis akademik. Adapun ragam karya ilmiah menurut Sudaryono yaitu skripsi, tesis, disertasi, makalah, artikel ilmiah, laporan penelitian dan lain sebagainya.20Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti ingin mengetahui sejauh mana pengaruh writing anxiety dan writing self-efficacy terhadap kemampuan menulis akademik yang ada di UIN Sunan Ampel Surabaya
Method
Penelitian ini menggunakanmetode kuantitatif eksplanatif. Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa jenjang sarjana angkatan 2022, 2023 dan 2024 dengan jumlah 14.176 mahasiswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin21dan proportional stratified random sampling. Menurut Martono22, proportional stratified random sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan ketika populasi bersifat heterogen dan terbagi dalam strata yang proporsional. Berikut merupakan rumus Slovin: n=== = 99,29Keterangan:n: ukuran sampelN: ukuran populasiE: standar error(10%)Dari hasil samplingini ditentukanjumlah sampel sebanyak 99,29, yang kemudian dibulatkan 100 responden, yang diambil per fakultas dari masing-masing angkatan. Lebih lanjut, dari masing-masing fakultasini diambil sampelnya dengan menggunakan rumus alokasi proportional. ni: jumlah sampel tiap fakultasn: jumlah total sampelNi: Jumlah anggota populasi tiap fakultasN: Jumlah populasi keseluruhanPengumpulandatadilakukan menggunakankuesioner onlineGoogle Formdan didistribusikankepada responden dalam satu kuesioneryang sama. Sementara instrumenkuesioner dibuat dari tiga indikator yang diadaptasi dari penelitian terdahulu,yaituwriting anxiety,23writing self-efficacy24dan kemampuan menulis.25Dalam hal ini,indikator writing anxiety terbagi menjadi tiga parameter (12 item pernyataan) yaitu kecemasan somatik, kecemasan kognitif dan perilaku penghindaran. Kecemasan kognitif menggambarkan aspek mental dari pengalaman cemas, yang mencakup ekspektasi negatif, perhatian berlebihan terhadap kinerja, serta kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.Kecemasan somatik menandai persepsi seseorang terhadapdampak fisiologis dari kecemasan, yang tercermin dalam meningkatnya aktivitas otonom dan keadaan afektif.Perilaku penghindaran merepresentasikan kekhawatiran individu terhadap penilaian negatif dan kecenderungan menghindari keterlibatan dari tugas menulis.Tabel 1. Indikator Pernyataan Writing AnxietyNoIndikatorPernyataan1Kecemasan KognitifSaya khawatir tulisan saya akan dinilai buruk oleh dosenSaya sulit berkonsentrasi saat menulis karenamemikirkan kemungkinan gagalSaya merasa ide saya tidak cukup baik untuk tugas akademikSaya terlalu memikirkan kesalahan kecil hingga menghambat proses menulis2Kecemasan SomatifSaya merasa tegang atau gugup ketika mulai menulisSaat menulis,saya merasakan gejala fisik seperti jantung berdebar atau tangan berkeringatSaya merasa gelisah sehingga sulit menulis dengan lancarSaya cenderung tidak nyaman secara fisik ketika tenggat penulisan semakin dekat3Perilaku MenghindarSaya sering menunda mengerjakan tugas menulishingga mendekati tenggat waktuSaya memilih tugas lain untuk menghindari tugas menulisSaya cenderung menghentikan penulisan sebelumselesai jika mengalami kesulitanSaya merasa takut melanjutkan menulis ketika mulai berpikir bahwa tulisan saya akan gagalSumber: data primer yang diolah, 2025Indikator writing self-efficacy (15 item pernyataan) terbagi menjadi tiga parameter yaitu ideation, writing convention dan self-regulation. Ideation merupakan keyakinan penulis tentang kemampuan mereka untuk menghasilkan ide. Writing convention merujuk pada keyakinan individu tentang kemampuannya untuk menerapkan aspek teknis bahasa dalam tulisan.Self-regulation merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan ide-ide produktif dan strategi menulis, dan juga untuk mengelola kecemasan serta emosi yang dapat menyertaiselama proses menulis.Tabel 2. Indikator Pernyataan Writing Sellf-EfficacyNoIndikatorPernyataan1IdeationSaya mampu menemukan ideuntuk memulai tulisan akademikSaya mampu mengembangkan ide menjadi argumen yang jelasSaya dapat memikirkan banyak ide yang original dan relevan dengan topikSaya mampu mendeskripsikan ide saya ke dengan kalimat yang bervariasiSaya yakin dapat mengorganisasi ide dalam urutan yang logis2Writing conventionSaya mampu menulis kalimat dengan tata bahasa yang benarSaya mampu menggunakan ejaan dan tanda baca dengan tepat Saya yakin dapat memilih kata yang sesuai dengan teknis penulisan akademikSaya mampu menjaga konsistensi format dalam tulisan akademik sayaSaya mampu menyusun paragraf dan menyelesaikan tulisan akademik secara runtut3Self-regulationSaya mampu mengatur waktu dengan baik dalam menyelesaikantugas menulisSaya tetap melanjutkan menulis meskipun merasa cemasSaya menggunakan strategi tertentu untuk mempercepat dan memperlancar proses menulisSaya mampu melakukan revisi untuk menyempurnakan tulisan sayaSumber: data primer yang diolah, 2025Sementara indikator kemampuan menulis (15 item pernyataan) terbagi menjadi lima parameter yaitu isi (content), organisasi (organization), penggunaan bahasa (language use), pemilihan bahasa (word choice) dan teknis penulisan (mechanic).Tabel 3. Indikator Pernyataan Kemampuan MenulisNoIndikatorPernyataan1IsiSaya mampu menuliskan latar belakangmasalah yang jelas dan relevanSaya mampu menyajikan argumen yang didukung dengan data, teori, atau hasil penelitianTopik utama yang saya bahas dalam tulisan terlihat konsisten2OrganisasiSaya mampu menyusun paragraf dengan kalimat utama, kalimat pendukung dan penutup secara runtutTulisan saya memiliki alur logis dari pendahuluan hingga kesimpulanSaya mampu menggunakan kata penghubung atau transisi antarkalimat/paragraf dengan tepat3Kosakata dan IstilahSaya mampu menggunakan istilah ilmiah yang sesuai dengan bidang kajian tulisan sayaSaya memilih kata dengan tepat sehingga gagasan tersampaikan dengan jelasSaya dapat menggunakan variasi kosakata yang memadai sehingga tulisan tidak monoton4Tata BahasaSaya mampu menyusun kalimat yang jelas, efektif dan tidak menimbulkan makna gandaSaya memperhatikan pemilihan dan istilah ilmiah saat sedang menulisSaya jarang melakukan kesalahan tata bahasa dalam tulisan akademik saya5Ejaan dan Teknis PenulisanSaya konsisten menggunakan ejaan sesuai dengan Pedoman UmumEjaan Bahasa Indonesia (PUEBI)Saya mampu menggunakan tanda baca dan huruf kapital secara tepat dalam tulisan akademikSaya menulis dengan memperhatikan teknis penulisan sehingga terhindar dari pengulangan kata atau kesalahan formatSumber: data primer yang diolah, 2025Data yang telah diperoleh, selanjutnya akandilakukan analisis data dengan melakukan uji statistik menggunakanSPSS versi 25, yang terdiri dari uji validitas (dikatakan valid apabila r hitung > r table), uji reliabilitas (dikatakan reliabel jika Cronbach’s Alphalebih besar (>) dari 0,70), uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov, uji linearitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji regresi linier berganda. Dalam penelitian ini,hasil r hitung untuk seluruh item pernyataan lebih besar (>)dari r tableyaitu 0,196. Sehingga hasil uji validitas ketiga variabeldinyatakan valid. Seluruh variabelmemiliki nilai Cronbach’s Alpha ≥ 0,70, menunjukkan bahwa instrumen penelitian reliabel dan konsisten untuk digunakan dalam analisis selanjutnya
Result & Discussion
Berikut merupakan tabelfrekuensi yang menunjukkan identitas responden berdasarkan jenis kelamin:Tabel 4. Jumlah Responden Berdasarkan Jenis KelaminJenis KelaminJumlahPresentaseLaki-laki3737 Perempuan6363Total100100Sumber:data primer yang diolah, 2025Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa jumlah responden yang berjenis kelamin perempuan lebih dominan jika dibandingkan dengan responden berjenis kelamin laki-laki.2.Asal FakultasBerikut merupakan tabelfrekuensi yang menunjukkan identitas responden berdasarkan fakultas responden:Tabel 5. Asal FakultasFakultasfPersentase (%)202220232024Fakultas Adab dan Humaniora3339Fakultas Dakwah dan Komunikasi44512Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam44513Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik2237Fakultas Psikologi dan Kesehatan2226Fakultas Syariah dan Hukum55515Fakultas Sains dan Teknologi3339Fakultas Tarbiyah dan Keguruan66618Fakultas Ushuluddin dan Filsafat43310Jumlah333235100Sumber:data primer yang diolah, 2025Berdasarkan tabel2,diketahui bahwa jumlah sampel responden yang paling banyak yaitu berasal dariFakultas Tarbiyah dan Keguruan dengan jumlah 18% responden. Selanjutnya diikuti oleh responden yang berasal Fakultas Syariah dan Hukum sebanyak 15% responden. Sementara responden paling sedikit yaitu responden yang berasal dari Fakultas Psikologi dan Kesehatan dengan jumlah sebanyak 6% responden.3.Analisis Pengaruh Writing Anxietyterhadap Kemampuan Menulis AkademikKecemasan merupakan salah satu faktor emosional yang dapat terjadi olehsiapapun dan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda, tak terkecuali pada proses menulis. Hal ini disebabkan oleh kecemasan dalam menulis yang berdampak negatif terhadap kinerja menulis, sehingga berpotensi menghambat pengembangan kemampuan menulis.26Temuan tersebut sejalan dengan pandangan Özdemir dan Seçkin yang menegaskan bahwa tingkat kecemasan yang tinggi dapat menghambat proseskognitif, bahkan menyebabkan individu kesulitan dalam menghasilkan ide.27Tabel 6. Hasil Uji tCoefficientsaModelUnstandardized CoefficientsStandardized CoefficientstSig.BStd. ErrorBeta1(Constant)5,4293,6331,494,138Writing_anxiety-,046,050-,046-,918,361Writing_self_efficacy,895,049,90918,280,000a. Dependent Variable: Kemampuan_menulisSumber:data primer yang diolah, 2025Berdasarkan hasil analisis uji t, variabelwriting anxiety(X1) memiliki nilai t hitung sebesar -0,918 dengan signifikansi 0,3610,05. Melalui uji regresi linear berganda diperoleh hasil sebagai berikut: Dari hasil analisis tersebut,dapat disimpulkan bahwa writing anxietyberpengaruh negatifdan tidak signifikan terhadap kemampuan menulis akademik mahasiswa. Hasil ini menunjukkan adanya kecenderungan hubungan negatif antara writing anxietydan kemampuan menulis akademik, namun hubungan tersebut tidak cukup kuat secara statistik untuk dinyatakan signifikan. Temuan ini mendukung hasil riset yang dilakukan oleh Stewart, T Seifert dan Rolheiserdi University Ontario, Kanada.28Hasil riset menunjukkan bahwa penurunan kecemasan menulis dan peningkatan efikasi diri berkaitan dengan peningkatan persepsi terhadap penggunaan strategi menulis metakognitif. Meski begitu terdapat perbedaan dari hasil riset ini dengan riset yang telah dilakukan oleh Stewart. Jika di dalam riset ini tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat writing anxiety dengan kemampuan menulis, sementara Stewart menyebutkanbahwa efikasi diri merupakan prediktor yang jauh lebih kuat.Meskipun penurunan kecemasan memiliki hubungan yang kecil,namun signifikan secara statistik dengan hasil. Berdasarkan analisis, perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh keterbatasan jumlah item pengukuran kecemasan (hanya dua butir) yang digunakan dalam penelitian ini, sehingga berpotensi melemahkan hubungan antara penurunan kecemasan dan persepsi terhadap penggunaan strategi menulis metakognitif.Hal ini selaras dengan hasil riset yang dilakukan oleh Wulandari.29Riset yang menggunakan teknik nonprobability samplingdengan pengambilan sampel menggunakan accidental samplingini dilakukan dengan total sampel sebanyak 104 mahasiswa di Surabaya. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatifantara efikasi diri dengan kecemasan dalam proses pengerjaan skripsi. Dengan kata lain, tingkat kecemasan yang rendah dapat memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas secara lebih efektif, sedangkan kecemasantingkat tinggi cenderung menghambat proses pengerjaan skripsi serta menunjukkan rendahnya efikasi diri pada mahasiswa.Lebih lanjut, terdapat beberapa literatur yang menyebutkan bahwa tingkat kecemasan atau writing anxiety berkorelasi negatifdengan kemampuan menulis, seperti yang dikemukakan oleh Tian Guo et al.yang mengungkapkan bahwa hasil riset yang dilakukan sama dengan penelitian sebelumnya.30Riset ini membuktikan adanya korelasi negatif antara kecemasan menulis dan prestasi menulis. Hasil ini juga mendukung hasil riset Sun, Motevalli dan Chanyang menyatakan bahwa kecemasan menulis berkorelasi negatifterhadap kemampuan atau kinerja dalam menulis.31Berdasarkan hasil pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan memiliki tingkat writing anxiety atau kecemasan yang rendah, menjadi faktor penting dalam proses menulis akademik di lingkungan akademik. Hal ini terlihat bahwa meskipun mahasiswa merasa cemas ketika menulis, namun mereka dapat meregulasi perasaan cemas yang dimiliki. Dengan kata lain, konsistensi hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu memperkuat validitas hasil penelitian, bahwa dengan mengelola rasa cemas, maka kemampuan menulis akademik akan meningkat. Penelitian ini berkontribusi secara empiris melalui pengujian variabeldalam konteks institusional dan karakteristik responden yang berbeda.4.Pengaruh Writing Self-Efficacyterhadap Kemampuan Menulis AkademikBerdasarkan hasil analisis uji t menunjukkan bahwa variabelwriting self-efficacymemiliki nilai t hitung sebesar 18,280 dengan signifikansi 0,0000,05. Melalui uji regresi linear berganda diperoleh hasil sebagai berikut: Hal ini menunjukkan bahwa writing self-efficacyberpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan menulis akademik mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi writing self-eficacyyang dimiliki mahasiswa, maka semakin tinggi pula kemampuan dalam melakukan kegiatan menulis di bidang akademik. Efikasi diri yang lebih tinggi seringkali memprediksi hasil menulis yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Demir, Günaydın dan Denizbahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan diri, maka performa kemampuan menulisnya akan jauh lebih baik (tinggi).32Oleh karena itu writing self-efficacymerupakan faktor yang penting dalam performa kemampuan menulis. Keyakinan yang kuat terhadap writing self-efficacyseseorang dapat menghasilkan hasil menulis yang lebih baik,Temuan ini mendukung konsep yang telah dilakukan oleh Tanyer yang menyatakan bahwa kontribusi efikasi diri dalam membaca dan menulis terhadap performa atau kinerja menulis.33Riset tersebut menunjukkan bahwa adanya korelasi antara efikasi diri dalam menulis, membaca dan kinerja menulis. Dari hasil tersebut juga ditemukan bahwa kedua variabelmemiliki korelasi positif dan signifikan dengan kinerja menulis.Lebih lanjut, hasil temuan oleh Wulandarimenyebutkanbahwa terdapat korelasi negatifantara self-efficacydengan kecemasan.34Hal ini ditinjau dari responden yang tengah mengerjakan skripsi. Riset ini menunjukkan bahwa rendahnya tingkat kecemasan, berbanding terbalik dengan tingkat self-efficacy yang dimiliki. Dari riset ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif antara self-efficacy terhadap proses pengerjaan skripsi. Meski tidak disebutkan secara langsung yaitu writing self-efficacy, namun dalam konteks ini, efikasi yang dimaksud adalah keyakinan diri ketika berhadapandengan proses pengerjaan skripsi. Padakonteks pendidikan tinggi, skripsi merupakan salah satu bentuk karya akademik yang disusun pada jenjang sarjana. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wulandari, yang turut memperkuat temuan dalam penelitian ini.Korelasi positif antara writing self-efficacy dan kemampuan menulis juga diteliti oleh Hetthong dan Teomelaluihasilriset yang menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara efikasi diri,menulis dan performa kemampuan menulis, baik pada tingkat paragraf maupun pada tingkat sub-keterampilan.35Hal ini turut mendukung hasil riset yang telah dilakukan pada penelitian ini. Meski begitu, terdapat perbedaan cara analisis data, dimana dalam riset yang dilakukan oleh Hetthong dan Teo menggunakan analisis regresi linear sederhana, namun pada riset ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Perbedaan ini disebabkan pada riset yang dilakukan pada tahun 2013 ini hanya memiliki dua variabel, sedangkan pada riset ini terdapat tiga variabelyang diteliti.Dari beberapa hasil riset yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa riset tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara writing self-efficacy dengan kinerja menulis. Pertama yaitu riset yang dilakukan oleh Khojasteh mengemukakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara efikasi diri siswa dengan kemampuan menulis.36Lebih lanjut,hasil riset juga menunjukkan bahwatidak terdapat hubungan yang signifikan jika dilihatdari jenis kelamin. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat writing self-efficacyyang tinggi berperan pentingdalam menunjang proses penulisan akademik di lingkungan pendidikan tinggi.Temuan penelitian ini mengindikasikan pentingnya penguatan writing self-efficacymahasiswa secara berkelanjutan sebagai bagian dari peningkatan kompetensi menulis akademik.Upaya tersebut dapat ditempuh, antara lain, melalui pembiasaan membaca artikel ilmiah dan partisipasi dalam forum akademik seperti seminar. Temuan ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian akademik serta pengembangan kapasitas personal di lingkungan pendidikan tinggi.Dengan kata lain, penelitian ini mendukung hasil penelitian terdahulu bahwa tingkat writing self-efficacyakan berbanding lurus dengan kemampuan menulis akademik. Penelitian ini memperluas bukti empiris melalui penerapan model pada konteks institusional dan karakteristik responden yang berbeda.Lebih lanjut, hasil temuan dalam penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Khojasteh, yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara writing self-efficacy dengan kemampuan menulis.5.Pengaruh Writing Anxietydan Writing Self-efficacyterhadap Kemampuan Menulis Akademik Tabel 7. Hasil Uji FANOVAaModelSum of SquaresdfMean SquareFSig.1Regression6682,27223341,136188,876,000bResidual1715,8889717,690Total8398,16099a. Dependent Variable: Kemampuan_menulisb. Predictors: (Constant), Writing_self_efficacy, Writing_anxietySumber:data primer yang diolah, 2025Berdasarkan hasil uji f, diperoleh nilai f hitung sebesar 188,876 dengan signifikansi 0,0000,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa writing anxietydan writing self-efficacysecara simultan berpengaruh terhadap kemampuan menulis akademik mahasiswa. Meskipun secara parsial writing anxietytidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, hasil uji simultan menunjukkan bahwa model regresi yang melibatkan writing anxietydan writing self-efficacy secara bersama-sama mampu menjelaskan 79,6% variasi kemampuan menulis akademik mahasiswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa kombinasi kedua variabel tersebut relevan dalam menjelaskan variasi kemampuan menulis akademik mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya.Tabel 8. Model SummaryModel SummaryModelRR SquareAdjusted R SquareStd. Error of the Estimate1,892a,796,7914,206 . Predictors: (Constant), Writing_self_efficacy, Writing_anxietySumber:data primer yang diolah, 2025Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengkaji hubungan antara kecemasan menulis, efikasi diri menulis, dan kemampuan menulis, serta mengungkap dinamika keterkaitan antarvariabel tersebut dalam memengaruhi proses dan hasil penulisan.Sejalan dengan hasil temuan dalam penelitian ini, penelitian yang dilakukan oleh Aydın dan Yücemenyebutkan bahwa writing anxiety atau kecemasan dalam menulis terbukti berdampak negatifterhadap efikasi diri dan kinerja atau kemampuan menulis.37Hal ini dapat diartikan bahwa tingkat kecemasan yang lebih tinggi dapat mengurangi kepercayaan diri dan kinerja dalam proses menulis. Di sisi lain, penelitian yang dilakukan oleh Sabti et al. menunjukkan bahwa tingkat kecemasan menulis yang lebih tinggi berkorelasidengan penurunan kinerja menulis.38Menulis merupakan aktivitas kognitif yang berorientasi pada pencapaian tujuan dan memerlukan proses metakognitif, sehingga memiliki peran strategis bagi pelajar pada berbagai jenjang pendidikan.Namun, dalam praktiknya masih banyak pelajar yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan keterampilan menulis, yang berpotensi berdampak negatif terhadap kesuksesan akademik serta peluang mereka di masa depan.39Hal ini sejalan dengan data yang telah diolah dan dianalisis dalam penelitian ini. Dari data yang telah dihimpun dapat diketahui bahwa pada dasarnya, mahasiswa akan selalu merasakan kecemasan apabila berhadapan dengan proses menulis. Hanya saja yang membedakan adalah tingkat kecemasannya yang tidak terlalu tinggi. Tingkat writing anxiety yang dialami oleh mahasiswa ini tidak terlepas dari regulasi diri yang dikelola oleh masing-masing individu. Dengan memiliki,regulasi diri yang baik cenderung diikuti oleh peningkatan efikasi diri serta penurunan tingkat kecemasan yang dialami.Writing self-efficacy atau efikasi diri dalam menulis turut mempengaruhi tingkat kecemasan yang dialami mahasiswa dalam kemampuan menulis Apabila writing self-efficacy yang dimiliki tinggi, maka writing anxiety akan menurun. Writing self-efficacyyang digunakan sebagai indikator pertanyaan dalam penelitian ini terdiri dari ideation, writing convention dan self-regulation. Pengembangan writing self-efficacypada mahasiswa ditandai oleh keyakinan terhadap kemampuan kognitif, penguasaan kaidah teknis penulisan, serta kemampuan mengelola dan meregulasi diri secara efektif ketika terlibat dalam aktivitas menulis.Efikasi diri dalam menulis berperan sebagai mediatorantara kecemasan menulis dan kemampuan menulis. Paul et al.menunjukkan bahwa efikasi diri menulis memediasi pengaruh kecemasan menulis terhadap persepsi penggunaan strategi revisi, khususnya pada mahasiswa dengan target prestasi pada tingkat rata-rata.40Dalam pembahasannya, Paul menjelaskanbahwa adanya hubungan negatif antara kecemasan menulis dengan persepsi penggunaan strategi revisi dalam penulisan esai dapat dijelaskan dengan pengaruh dari writing self-efficacy.Sehingga dalam hal ini, writing self-efficacy berperan penting dalam menjelaskan hubungan antara kecemasan menulis dan penggunaan strategi revisi, dimana pengaruh tersebut akan berbeda meskipun mereka menerima instruksi yang sama. Lebih lanjut, proses menulis yang baik memerlukanadanya keyakinan diri individu agar mampu menyelesaikan seluruh tahapan penulisan. Hal ini sejalan dengan temuanHwang bahwa keyakinan diri dalam menulis berkaitan dengan capaian penulisan, dan sejumlah penelitian sebelumnya mengindikasikan keterkaitannya dengan hasil penulisan.41Individu dengan tingkat efikasi diri menulis yang tinggi cenderung lebih aktif terlibat dalam kegiatan menulis, mengalokasikan upaya yang lebih besar dalam penyelesaian tugas, serta menetapkan tujuan penulisan yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang memiliki efikasi diri menulis yang rendah.Melaluikemampuan meregulasi diri, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai efikasi diri. Hasil analisis menunjukkan bahwa keyakinan dan perilaku positif mencerminkan efikasi diri yang tinggi, sedangkan tingkat kecemasan yang signifikan mengindikasikan rendahnya efikasi diri.42Dengan demikian, mahasiswa yang memiliki keyakinan diri yang tinggi dalam menulis atau writing self-efficacyyang tinggi, cenderung akan memiliki kecemasan yang rendah, sehingga mahasiswa dapat melakukan proses menulis dengan baik, utamanya di bidang akademik selama di perkuliahan
Conclusion
Writing anxietyatau kecemasan dalam menulis berpengaruh negatif namun tidak secara signifikan terhadap kemampuan menulis akademik mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan tingkat writing anxietyberkorelasi dengan kecenderungan peningkatan kemampuan menulis akademik mahasiswa.Writing self-efficacy atau keyakinan diri dalam menulis berpengaruh positif dan signifikan dengan kemampuan menulis akademik mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan dalam menghasilkan ide, penguasaan aspek teknis penulisan, serta kemampuan meregulasi diri selama proses menulis menjadi faktor yang mendukung pengembangan kemampuan menulis akademik. Secara simultan, writing anxietydan writing self-efficacyberpengaruh terhadap kemampuan menulis akademik mahasiswa.Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun tingkat writing anxietytidak berpengaruh secara signifikan, namun dalam kombinasi dengan writing self-efficacy,kedua faktor tersebut tetap memiliki peran penting dalam kemampuan menulis akademik yang dimiliki oleh mahasiswa