BERINTERAKSI DENGAN BUKU
N/A
Abstract
A book is not only a collection of papers that is written in words, but it is the message of life that could affect anyone who interacted with it, in accordance with the writer motivation and the reader condition. This article tries to study briefly how condition of the reader interacts with the book in the scope of humanity. The discussions through literature investigation and the writer experience personally are found in this article with many examples to make any reader closer to the topic that is discussed in this article.
Keywords:
Interaction
· Book
Introduction
Kejaksaan Agung melalui siaran pers melarang beredarnya 5 buah buku dengan didasarkan atas Surat Keputusan Jaksa Agung No.139 sampai dengan No. 143/A/JA/12/2009 tanggal 22 Desember 2009 yang menyatakan bahwa kelima buku tersebut dilarang karena dapat mengganggu ketertiban umum, dengan makna bahwa mengganggu ketertiban umum harus dihubungkan dengan dasar-dasar tata tertib kehidupan rakyat dan Negara, seperti merusak kepercayaan masyarakat terhadap pimpinan nasional, merugikan akhlak, memajukan percabulan dan lain sebagainya yang dapat mengakibatkan terganggunya ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.! Jauh sebelum pelarangan lima buah buku tersebut, pada tahun 1965 melalui Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 381 telah melarang beredarnya buku pelajaran sebanyak 11 buah dan buku lain yang berkaitan dengan buku pendukung untuk dunia pendidikan sebanyak 62 buah buku.? Arswendo Atmowiloto harus mendekam di penjara garagara di majalah Monitor miliknya memuat jajak pendapat yang dianggap menghina umat Islam. Umat Islam merasa tersinggung dan mendorong ditegakkannva hukum terhadap Arswendo. Sementara itu, nasib S:lman Rusdie penulis “Ayat-ayat Setan” lumayan beruntung ba,ding Arswendo Atmowiloto, garagara bukunya tersebut, Salman Rusdie harus bersembunyi dari kejaran pembunuh bayaran yang ditawarkan oleh Iran dengan hadiah yang sangat menggiur' an. Begitu berbahayakah seb 1ah buku, sehingga harus dilarang terbit? Bahkan penulisnya pur harus mengalami ancaman jiwa? Bagaimana sebenarnya buku mampu menjelma menjadi energi berbahaya yang dapat memengaruhi orang lain, sehingga dikhawatirkan orang yang mem raca buku tersebut lantas tersugesti untuk berkeyakinan atau berbu. t sesuai dengan isi buku tersebut? Pertanyaan tersebut akan menjadi kajian dalam artikel singkat ini. Penulis akan mencol a mengkaji secara umum masingmasinginti dari topik artikel ini, dimulai dengan membahas tentang interaksi kemudian dilanjutkan dengan buku ditinjau dari berbagai aspeknya, dan terakhir bagaimana hubungan komunikasi kita dengan buku. B. Sekilas Tentang Interaksi Interaksi menjadi kajian yang mendasar di dalam sosiologi dan terakhir dalam psikologi sosial yang biasa dikenal dengan interaksi sosial. Pengertian interaksi sosial secara etimologi merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris, yakni social interaction yang bermakna satu pertalian sosial antara individu sedemikian rupa, sehingga individu yang bersangkutan saling mempengaruhi satu sama lainnva.’. Dari definisi singkat ini, memberi gambaran kepada kita bihwa manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu n.embutuhkan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karcna itu, tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu bcrhubungan dengan manusia lainnya. Gambaran tersebut itulah, oleh Sarlito W. Sarwono sebut dengan interaksi sosial. * Atau dalam terminologi sosiologi interaksi sosial merupakan suatu proses dimana antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok berhubungan satu dengan yang lainnya ® Dalam bahasa * yang paling sederhana, ungkap C. George Boeree, interaksi sosial merupakan serangkaian peristiwa yang terjadi di seputar kita; dan kita pada gilirannya menafsirkan peristiwa-peristiwa tersebut serta memberi kesan dan tanggapan yang dirasa paling tepat terhadapnya.® Untuk lebih memudahkan kita memahami terminologi interaksi, berikut saya beri contoh. Pada saatanda melihat tetangga mencuci motor barunya yang air cuciannya mengalir hingga ke halaman rumah anda, maka ada proses psikologis yang muncul dalam diri anda, anda tidak marah-marah malah membiarkannya, toh waktu anda mencuci mobil baru anda air cucian mobil anda pun memenuhi halaman anda sampai ke halaman rumah tetangga anda. Atau sebuah kejadian yang terjadi dengan anak saya. Dia meminta izin untuk pergi bermain bersama teman-temannya, kebetulan dia belum mandi. Tidak berapa lama kemudian dia pulang meminta untuk dimandikan. Lantas saya bertanya kenapa? Dia pun bercerita, teman-temannya bilang tidak mau Bermain dengannya karena dia bau belum mandi, makanya dia minta dimandikan. Contoh yang menarik lainnya coba diungkapkan oleh George dalam rangka untuk membantu meningkatkan pemahaman kita tentang interaksi. Coba bayangkanlah ini. George mengajak kita untuk sejenak berfantasi. anda terbangun di tengah malam dan melihat bayangan hitam di sudut kamar. anda lalu berusaha mendekati bayangan itu meskipun disertai rasa takut yang teramat sangat. Saatitu keadaannya sangat gelap, namun anda mengenali kondisi kamar anda dengan baik, sehingga tidak terpikir bagi anda untuk menghidupkan lampu. anda tahu bahwa ada meja di tengah ruangan, sehingga anda melakukan antisipasi dengan berjalan memutarinya. Barangkali anda menyentuhkan tangan anda untuk memastikan bahwa tindakan antisipasi yang dilakukan sudah benar. anida semakin mendekati sosok bayangan itu, dan astaghfirullah! anda menyaksikan sesuatu sedang berdiri di hadapan anda, sesuatu yang, tidak anda antisipasi sebelumnya! Pada saat yang bersamaan, an:'a mulai sibuk memikirkan tindakan antisipatif, yakni berusaha menerka-nerka apakah bayangan itu sesungguhnya. Berusaha mels <ukan sesuatu untuk mengatasi rasa takutanda, dan menyalakan umpu. Begitu lampu menyala, anda berharap bisa melihat seorang maling atau perampok. Tetapi ternyata sosok hitam itu haayalah jas hujan yang telah anda gantungkan sendiri di tempat tersebut pada sore harinya.” Dari pengertian dan contoh-contoh sederhana di atas dapat kita simpulkan bahwa, seperti yang diungkapkan oleh Jalaluddin Rahamat® bila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka terjadilah proses belajar yang meliputi aspek kognitif dan afektif (aspek berfikir dan aspek merasa), dan juga terjadi proses penyampaian (an penerimaan lambang-lambang (komunikasi), serta munculnya mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi, permainan peranan, identifikasi, proyeksi, agresi dan sebagainya. Sarlito W. Sarwono mengungkapkan bahwa, terdapatempat aspek yang menjadi dasar dalam proses interaksi, yakni komunikasi, sikap, tingkah laku kelompok, dan norma-norma sosial.’ Sementara George C. Boeree'’ menambahkan unsur yang ikut berperan dalam interaksi tidak saja berupa sensasi/rangsa-ngan dan perilaku tetapi juga melibatkan antisipasi dan adaptasi. Dari penjelasan sekelumit tentang interaksi di atas, yang menjadi objek dari artikel ini adalah sebuah interaksi akan melibatkan komunikasi, antars komunikan dengan komunikator saling memberi pesan, baik berupa suara, tulisan, maupun isyarat dalam artian simbol, seperti halnya buku, merupakan pesan yang disampaikan oleh penulis (komunikan) kepada pembaca (komunikator)- walaupun dalam kasus ini komunikasi menjadi satu arah, namun pada hakikatnya ada pengaruh yang muncul pada saat kita mulai membaca sebuah buku. Baik mempengaruhi perilaku kita maupun secara psikologis (berupa persepsi, maupun sikap) sehingga kita memunculkan respon yang tepat terhadap lingkungan tersebut (baca : buku). Baiklah, agaknya kita perlu melangkah lebih jauh ke pembahasan masalah buku agar pemahaman kita bisa linear dan holistik terhadap artikel ini. C. Buku :Manifestasi Jiwa, Pengalaman atau Ideologi Penulis Di dalam konteks interaksi sosial, buku memiliki peran tertentu yang pada suatu keadaan hal itu amat penting bahkan menjadi media utama dalam proses komunikasi. Pada saat George Junus Aditjondro memiliki data (dalam versi dia) tentang ada sesuatu yang perlu diungkap dalam kasus Bank Century. Dia berkeinginan untuk mengkomunikasikannya kepada publik, bahwa dia mengindikasikan ada tangan kuat yang berperan dan bermain dalam kasus ini, maka dia pun menulis sebuah buku yang kemudian menjadi polemik di masyarakat dan menjadi pembahasan yang cukup serius dari pihak yang merasa “ditembak” oleh buku “Membongkar Gurita Cikeas (dibalik skandal Bank Century)”. Hasilnya responpun bersambut, pihak yang kontra dengan buku George menerbitkan buku tandingan “Hanya Fitnah dan Cari Sensasi”, walaupun menurut Setyardi' penulis buku ini tidak bermaksud menjadikan bukunya sebagai tandingan dari “Membongkar Gurita Cikeas”, tetapi dari waktu terbit, pada sampul buku dan isi bukujelas sekali penulis kedua berusaha mengkomunikasikan pesannya kepada penulis pertama. Dalam kasus yang serupa, namun dalam bentuk kental perjuangan ideologi. Imam Samudera menulis sebuah buku “ Aku Melawan Teroris” dari balik jeruji besi sambil menanti eksekusi. Dengan menulis buku ini, dia bermaksud mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang perjuangan ideologi yang sedang dia jalankan, agar masyarakat memahami sepak terjang mereka bukanlah suatu yang salah, ini adalah perjuangan ketulusan untuk mencapai kemaslahatan dunia yang dia sebut sebagai “jihad"”. Namun peredaran bukunya tidak begitu lama yang kemudian hilang dari peredaran. Keriudian muncul bantahan juga dalam bentuk buku dengan judul “ ' fereka Adalah Teroris” yang menurut penulisnya, Ustadz Luqman Ba’abduh, memang dimaksudkan untuk menelanjangi penyin pangan-penyimpangan pemahaman yang dianut oleh Imam Sami dera. Dari contoh kasus di a'1s, dapat diambil sebuah gambaran bahwa buku bukan hanya <kedar sebuah bundel kertas yang ditata rapi kemudian diisi tu' san-tulisan di atas setiap lembaran kertasnya Jantas disebar. Tetap! lebih dari itu, buku memiliki makna yang mendalam, sebagai scbuah pesan jiwa atau pendapat seseorang terhadap sesuatu yz1g akan dia komunikasikan kepada orang lain, sebagaimana conto’ yang pertama. Disamping itujuga buku menggambarkan kegigih n seseorang dalam memperjuangkan kebenaran yang dia yakini, v-alaupun kebenaran tersebut belum tentu benar, seperti kasus Iman: Samudera pada contoh kedua. Tidak hanya sampai disitu, buku juga menunjukkan keilmuan seseorang. Pada saat seorang ahli dalam bidang Bimbingan dan Konseling ingin menguraikan pengetahuannya agar orang lain dapat mempelajari dan memalami Bimbingan dan Konseling, maka dipilih jalur komuniasi dengan menulis buku, karena disamping komunikasi secara lisan tentang suatu pengetahun dibatasi oleh ruang dan waktu juga membantu dalam proses penyampaian secara lisan yang terstruktur dan sistematis. Sebagai contoh, buku Dasar-dasar Konseling yang ditulis oleh Prof. Dr. Prayitno, Msc. Ed di samping dapat dia gunakan untuk mengajar secara lisan kepada mahasiswa dapatjuga dibaca khalayak umum. Ada pula buku dimana penul snya bermaksud meningkatkan fantasi (daya khayal) pembacanya, baik untuk kalangan anak-anak maupun remaja sampai orang tua di lam bentuk tulisan fiksi. Seperti komik, novel, kumpulan cerpen can lain sebagainya. Masingmasing buku fiksi memiliki daya k' ayal, suara jiwa, pengalaman atau ideologi sendiri-sendiri. Karena aja tergantung pada kita yang membacanya, tetapi juga terkait kepada penulisnya. Dan jangan lupa peranan percetakan sebagai sarana penyambung tangan dari penulis memiliki tujuan tersendiri, apakah pesan yang tertuang di dalam buku penulis ini sesuai dengan, entah apa yang disebut segmen pasar, misi, norma, atau kelompok penerbit. Sebagai kesimpulan dalam hal buku dilihat dari pengarangnya saya ikutkan sebuah ungkapan dari Michel Foucoult? yang mengungkapkan, bahwa pengarang ketika dia menulis buku berfungsi sebagai orang khusus yang diberi nama pengarang, dengan demikian dia menjadi rujukan yang membawa misi tertentu dengan tawaran yang rasional sehingga mempengaruhi pembaca. D. Sebuah ungkapan berbunyi, “katakan buku apa yang anda baca niscaya aku tahu siapa anda”. Ungkapan ini terlihat terlalu muluk-muluk, dan dari segi ilmu khususnya psikologi ungkapan tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan. Karena untuk mengetahui diri seseorang tidak bisa secepat itu. Sebagi contoh, saya sekarang lagi membaca buku tentang psikologi, sosiologi, penelitian, hadits, filsafat, dan juga Bahasa Arab, lantas siapakah saya? Atau contoh lain, gara-gara pengeboman di Bali dibarengi dengan terbitnya buku “ Aku Melawan Teroris” yang ditulis oleh Imam Samudera, andapun ikut membeli buku tersebut, padahal saatitu anda lagi banyak tugas kuliah tentang psikologi perkembangan, di meja anda tergeletak buku pengantar psikologi perkembangan, pengantar psikologi, psikologi remaja, psikologi wanita dan psikologi dewasa, lantas bisakah saya sebutanda antek-anteknya Imam Samudera? Tentu tidak semudah itu. Yang mengetahui siapa anda sebenarnya adalah diri anda sendiri, kemudian keluarga anda, kemudian teman-teman anda dan tentu saja terapis anda. Namun walaupun ungkapan tersebut tidak serta merta benar, namun setidaknya memberi gambaran kepada kita, ada nawaitu atau dalam bahasa psikologinya terdapat motivasi yang melatarbelakangi seseorang untuk memutuskan apakah akan membaca buku Imam Samudera atau tidak. Paling tidak terdapat empat motivasi seseorang dalam membaca buku. 1. Dilihat dari kapasitas seseorang Carl Rogers mengungkapkan setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi dimana dia menjadi pusat, oleh sebab itu manusia bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya.” Begitu pula pada saat seseorang melakukan aktifitas membaca, setiap individu memiliki kapasitas masing-masing, tidak semua orang mampu memahami apa yang dapat dipahami oleh orang lain, karena setiap pribadi itu unik, dipengaruhi oleh banyak faktcr. Faktor personal menjadi konsens McDougall dalam menyimpulkan bahwa individu itu unik. Individu itulah yang mempengaruhi lingkungannya yang oleh McDougall sebut dengan instink, mengapa manusia berperang? Karena ia memiliki instink berkelahi. Mengapa manusia membaca? Karena ia memiliki instink ingin tahu. Dan seterusnya. Berbeda dengan kesimpulan McDougall di atas, Edward Ross menegaskan bahawa faktor utama dalam membentuk individu adalah faktor situasional dan sosial.** Dari pandangan yang kontras di atas dapat dikompromikan dengan sebuah pendapat dari Edward E. Sampson, yang dikutip oleh Jalaluddin Rahmat, bahwa kedua pendapat tersebut benar dengan syarat menginteraksikan kedua faktor tersebut'’, dengan artian bahwa dalam perkembangan kapasitas manusia selalu dipengaruhi baik dari dirinya maupun lingkungannya tergantung nanti mana yang lebih dominan. Bisa jadi dilihat dari latar belakang pendidikan, keluarga, ekonomi, status sosial, geografis, agama, minat, 1Q, persepsi maupun bahasa. Latar belakang tersebut memungkinkan kita menjadi terbatas atau meluas dalam memahami sebuah bacaan. Orany Indonesia tidak semuanya mampu membaca buku-buku dalan: bahasa Indonesia, karena buta aksara. Begitu pula halnya, tidak semua orang Indonesia tidak bisa membaca kitab kuning, kalangan santri mampu membaca kitab kuning karena mereka sehari-hari belajar membaca kitab kuning, Anak-anak belum mampu membaca teori-teori sosiologi, sementara tidak semua orang dewasa mampu memahami teori-teori psikologi. Dilihat dari sana, anak-anak lebih suka membaca buku yang ada gambarnya seperti komik, dan tidak jarang juga orang dewasa hobby membaca komik. Hal ini bisa terjadi disebabkan oleh kapasitas masing-masing individu berbeda-beda. 2. Dilihatdari kebutuhan Anda yang sedang melakukan penelitian untuk tujuan penulisan skripsi, thesis atau proyek penelitian tentu akan membutuhkan referensi yang cukup untuk mendukung teori yang menjadi topik penelitian anda. Seperti yang diungkapkan oleh Asmadi Alsa bahwa membaca literatur memegang peranan yang penting dalam penelitian kuantitatif, paling tidak terdapat dua peran, yakni untuk justifikasi adanya problem penelitian dan untuk mengidentifikasi arah penelitian.' Begitu pula anda yang sedang menjalani proses perkuliahan, anda akan membaca buku berkaitan dengan mata kuliah yang sedang anda ambil agar pemahaman anda atau tugas yang diberikan oleh dosen anda dapat dipahami dan diselesaikan sebagaimana seharusnya. Namun mungkin andajuga akan membaca buku lain karena rasa ingin tahu anda yang amat tinggi, seperti bagaimana seharusnya shalat itu dikerjakan sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah agar anda tidak terjatuh melaksanakan shalat karena ikut-ikutan (baca : taqlid) atau malah membuat aturan shalat baru, maka anda akan mencari buku berkaitan dengan shalat seperti buku “Sifat Shalat Nabi”. Mengapa kita berperilaku sebagaimana contoh di atas, menurut George, karena kita memiliki keinginan. Beberapa hal kita anggap berharga, sedangkan yang lainnya tidak. Sebagian darinya penting bagi kita, sementara yang lainnya tidak. Nilai dan arti penting merupakan salah satu cara kita memaknai sesuatu di seputar kita, termasuk dalam memaknai sebuah buku.”” Dengan demikian, ketika kita melakukan sesuatu termasuk membaca bisa digali dari kebutuhan kita terhadap sesuatu, seperti yang dijelaskan oleh Ccleman'® bahwa manusia memiliki kebutuhan ingin tahu; dim1na mereka berusaha memahami dan memperoleh arti dari dunianya. kita memerlukan kerangka rujukan untuk mengevaluasi situasi baru dan mengarahkan tindakanyang sesuai. Manusia juga membutuhkan pembuktian diri bahwa ia mampu memahami ilmu-ilmu tertentu dengan terus mempelajarinya baik dengan mer1baca maupun melakukan penelitian. Disamping itu manusia memiliki sesuatu yang mereka cintai, terkadang orang yang gandr ing membaca disebut kutu buku, ada juga yang berprinsip buku morupakan pacar yang paling baik dan setia. Tidak marah bila kita marahi, dan selalu menemani kita kemana pun kita pergi. Kebutuhan lain bagi manusia ketika membaca buku disamping membaca juga mermaksud untuk membuat sebuah tulisan, yany pada gilirannya dia dihargai sebagai penulis. Adajuga yang membaca buku untuk dapat menghadapi hidup ini dengan konsep niai yang jelas, apakah teroris itu? Mengapa orang mau membunuh atas nama Tuhan? Apakah dib~narkan bom bunuh diri i1? Dan seterusnya. Manusia perlu berjalan dalam hidupnya dcngan nilai-nilai. Terkadang juga manusia hidup tidak sekedar nencari kehidupan materi semata, karena manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Kedua-duanya membutuhkan makanan untu disantap agar tidak kurang gizi atau agar jiwa tidak terasa ger<ang. Banyak orang yang membaca hanya untuk menambah pemnahaman sehingga dia mampu meningkatkan potensi dirinya. 3. * Dilihat dari pokok bahasan Pada saat kita mengitar. perpustakaan atau toko buku, niscaya kita akan mulai memiuka indeks buku atau bertanya kepada pramuniaga tentang sebuah topik buku yang akan kita cari. Setelah mendapatkan petunjuk posisi buku sesuai dengan topik yang akan kita pinjam atau beli maka mata kita akan tertuju dan terkonsentrasi penuh dengan topik tersebut. Sebuah contoh, anda sedang mencari sebuah buku yang berkenaan dengan pendidikan dalam hal ini pendidikan usia dini, maka anda menuju ke rak buku khusus pendidikan, lantas mata anda menyapu satu persatu buku dengan melihat topik tersebut maka anda pun akan menemukan hasil, apakah buku yang dimaksud sudah tidak ada karena laku atau dipinjam orang, atau malah masih banyak? Proses tersebut menjadi rutin kita lakukan ketika kita mencari buku terutama ketika kita sebagai siswa/ mahasiswa, guru/dosen. Sebagai pengalaman penulis pribadi selama di perpustakaan pada bagian referensi, buku yang paling banyak dilirik oleh mahasiswa adalah buku yang berkaitan dengan hadits, kemudian tafsir, lantas kamus, baru kemudian figh. Alasan mahasiswa memilih buku tersebutlebih banyak karena tugas perkuliahan, kemudian untuk menyesuaikan teori atau pengertian dalam kaitannya dengan penulisan skripsi. 4. Dilihat dari Ideologi Ideologi secara bahasa memeiliki tiga makna, yakni; kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup, cara berpikir seseorang atau suatu golongan, dan paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik.” Secara istilah dapat diambil dari pendapat Martin Selinger yang menyatakan bahwa ideologi merupakan kumpulan kepercayaan dan ketidakpercayaan (penolakan) yang diekspresikan dalam kalimat-kalimat yang bernilai. Ideologi dibuat untuk memberikan basis permanen yang relatif bagj suatu kelompok masyarakat untuk membenarkan kepercayaan pada norma moral dan sedikit bukti faktual serta rasionalisasi berbasis kesadaran diri yang bertalian dengan legitimasi implementasi dan preskripsi teknis yang dimaksudkan untuk menjamin tindakan yang ditampilkan demi perlindungan, reformasi, destruksi atau rekonstruksi dari tatanan yang ada.” 4Sebagian orang memilih buku dengan alasan ideologi. anda yang menganutideologi panc: sila lebih memilih buku-buku yang tidak menyerang ideologi ar ia, anti membaca buku komunis menjadi urutan penting dalam kamus kehidupan membaca anda. Begitu pula, anda berideologi <hawarij (teroris) anda lebih suka membaca buku berkaitan denjan konsep, prinsip ideologi yang anda anut, bahkan pokok bahasan masalah perang dan pemberontakan menjadi santapan anda tentu saja dengan melihat pengarang yang juga berideologi sama dengan anda. E. * Berkomunikasi dengan Buku Proses interaksi seseorang dengan buku menurut Tony Busan® yang dikutip oleh Herr.owo (ed) memiliki tujuh proses, yakni; Pengenalan, dimana kita :nemulai melihat sesesuatu berupa sebuah abjad yang tersusun ropi di sampul buku. Peleburan, setelah mengenali kita mulai me: genali huruf demi huruf menjadi kata dan lantas menjadi kalimat yang kemudian membuat kita melangkah ke proses berikutny . Intra-integrasi, pada tahap ini kita melibatkan emosi dan pergetahuan yang dimiliki dalam menelaah inti dari sebuah kalima yang tertera di dalam buku yang sedang kita baca. Disamping me! batkan diri kita juga melibatkan pengalaman kita dengan mengascsiasikan apa yang kita baca yang disebut ekstra-integrasi. Dalam poses membaca juga terintegrasi konsentrasi penyimpanan data at. u informasi yang kita butuhkan. Informasi atau data tersebutakan ‘ersimpan di dalam memori kita (baik dalam bentuk otak maupui: tulisan) guna kita panggil lagi jika pada suatu saat kita butunkan, inilah yang dimaksud pengingatan. Banyak sedikitnya informasi yang kita ingat tergantung pada baik-buruknya ;roses penyimpanan yang kita lakukan. Ketika informasi tersebu' telah mampu kita ingat, maka kita dapat melakukan komunikas: lebih lanjut dengan orang lain mengenai hasil dari bacaan kita, b k kita komunikasikan melalui verbal maupun bentuk tulisan. Sementara itu Paul C. Burns, Betty D. Roe, dan Elinar P. Ross? mengungkapkan bahwa membaca merupakan sebuah proses yang kompleks. Tidak hanya proses membaca itu yang kompleks, tetapi setiap aspek yang ada dalam proses membaca juga bekerja dengan kompleks. Kekompleksitasan dalam proses membaca ini, sehingga melibatkan banyak aspek, menurut Paul, Bett, dan Elinar paling tidak ada delapan aspek yang bekerja selama seseorang membaca. 1. Sensori Sebuah penjelasan yang menarik untuk disimak dalam kaitannya dengan sensori, seperti yang diungkapkan oleh Sarlito W. Sarwono?® dengan mengutip penjelasan dua orang ilmuan sebagi berikut. Saat pertama kali sebuah objek muncul di depan mata, ungkap Feldman, organ mata yang pertama kali bekerja adalah kornea. Kornea berupa lapisan yang transparan bekerja layaknya jendela pengaman, cahaya yang masuk diatur lebih besar atau lebih kecil. Setelah melewati kornea cahaya tadi melewati pupil, bagian gelap yang merupakan pusat dari iris. Ukuran pembukaan pupil amat tergantung dengan jumlah cahaya yang ada di sekitar. Artinya pupil mengatur masuknya cahaya, ini terlihat ketika seseorang matanya akan berkontradiksi ketika melihat cahaya terang dan tetap tenang ketika melihat cahaya yang redup. Bagian berikut yang dimasuki cahaya, lanjut Felman, adalah lensa. Terletak persis di belakang pupil. Lensa bertugas membelok-kan cahaya sehingga bisa difokuskan pada objek yang dilihat. Kerja lensa memfokuskan sinar sehingga bisa berbentuk cekung atau cembung ini yang disebut sebagai akomodasi. Ini bisa dilihat ketika mata melihat benda padajarak yang jauh maka lensa menjadi cekung. Ketika benda dalam jarak dekat, lensa menjadi cembung. Bagian terakhir dari mata, sebut Garret, adalah retina. Bagian ini mengubah energi eletromagnetik dari cahaya menjadi informasi berharga bagi otak. Retina terbentuk dari sel-sel reseptor yang sensitif terhadap cahaya dan tersambung denganssel-sel syaraf. Melalui mata inilah sebagai salal: satu pancaindra membantu kita menerima stimulan dari luar ke sistem syaraf kita sehingga kita dengan memiliki mata y:ng sehat akan mampu membaca sebuah tulisan “laa ilaaha 'llallah” di sebuah kertas pada saat adanya cahaya dan tulisar rersebut tiba-tiba menghilang pada saat tiadanya cahaya yang ada hanya gelap gulita. 2. Persepsi Persepsi menurut De-iderato® merupakan pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Walaupun begitu, m« nafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya melibatkan sex:sasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. Suatu waktu anda mengunjungi perpustakaan untuk mencari buku berkenaan dengan penelitian kualitatif. Jam buka perpustakaan tinggal lima menit lagi, anda bergegas menuju rak yang anda tahu diperuntukkan bagi buku tentang pene-litian. anda mencoba mencari dengan menebar pandangan anda ke satu persatu buku yang ada di rak tersebut dan tiba-tiba tangan anda sudah meraih sebuah bukuy, lantas anda membawa buku tersebut ke meja baca. Setelah duduk dan mulai membaca, anda pun geleng-geleng kepala, ternyvata buku yang ada di tangan anda bukan buku yang seharusnya anda baca karena ia hanya sebuah buku yang berjudul “Pengantar Penelitian Kuantitatif Untuk Perguruan Tinggi”. anda mungkin bergumam, betapa teledornya anda. Contoh tersebut menjelaskan kepada kita stimulus tidak begitu bekerja dengan maksimal pada mata kita, karena dia juga dipengaruhi oleh perhatian, karena anda tidak begitu perhatian pada perbedaan huruf yang hampir sama antara kata kualitatif dan kuantitil. sehingga dengan begitu anda menyimpulkan bahwa buku it pasti buku penelitian kualitatif. terhadap cahaya dan tersambung denganssel-sel syaraf. Melalui mata inilah sebagai salal: satu pancaindra membantu kita menerima stimulan dari luar ke sistem syaraf kita sehingga kita dengan memiliki mata y:ng sehat akan mampu membaca sebuah tulisan “laa ilaaha 'llallah” di sebuah kertas pada saat adanya cahaya dan tulisar rersebut tiba-tiba menghilang pada saat tiadanya cahaya yang ada hanya gelap gulita. 2. Persepsi Persepsi menurut De-iderato® merupakan pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Walaupun begitu, m« nafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya melibatkan sex:sasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. Suatu waktu anda mengunjungi perpustakaan untuk mencari buku berkenaan dengan penelitian kualitatif. Jam buka perpustakaan tinggal lima menit lagi, anda bergegas menuju rak yang anda tahu diperuntukkan bagi buku tentang pene-litian. anda mencoba mencari dengan menebar pandangan anda ke satu persatu buku yang ada di rak tersebut dan tiba-tiba tangan anda sudah meraih sebuah bukuy, lantas anda membawa buku tersebut ke meja baca. Setelah duduk dan mulai membaca, anda pun geleng-geleng kepala, ternyvata buku yang ada di tangan anda bukan buku yang seharusnya anda baca karena ia hanya sebuah buku yang berjudul “Pengantar Penelitian Kuantitatif Untuk Perguruan Tinggi”. anda mungkin bergumam, betapa teledornya anda. Contoh tersebut menjelaskan kepada kita stimulus tidak begitu bekerja dengan maksimal pada mata kita, karena dia juga dipengaruhi oleh perhatian, karena anda tidak begitu perhatian pada perbedaan huruf yang hampir sama antara kata kualitatif dan kuantitil. sehingga dengan begitu anda menyimpulkan bahwa buku it pasti buku penelitian kualitatif. 3. 4. Sekuensial (tata urutan kerja) Kadang sebuah buku ilmiah mencantumkan indeks kata di belakang buku biasanya terletak setelah daftar perpustakaan. Jika buku yang anda cari memiliki indeks kata, anda bisa mulai membaca indeks terlebih dahulu jika anda hanya membutuhkan objek tertentu. Misal anda membutuhkan kata “tarbiyah”, anda tinggal melihat di urutan huruf “t” dan sampai pada kata “tarbiyah”, kalau buku itu membahas tarbiyah niscaya dia akan mencantumkan kata tarbiyah dan halaman berapa tarbiyah tersebut dibahas, jika tidak ada anda mesti kembali mencari buku yang lain begitu seterusnya. Terkadang sebuah buku tidak mencantumkan indeks kata, anda dapat mulai dari membaca daftar isi untuk menemukan sebuah topik pemba-hasan, jika anda membaca buku untuk menemukan hanya beberapa topik. Tetapijika anda ingin menelaah sebuah buku secara utuh maka ada dua bentuk sebuah buku. Pertama, terkadang sebuah buku ditulis antara satu bab dengan bab yang lainnya saling berkaitan, artinya anda tidak dapat beralih ke bab berikutnya jika anda belum membaca bab sebelumnya, jika anda lakukan maka pemahaman anda terhadap buku tersebut akan rancu. Buku “Mengenal Kaedah-kaedah Dasar Ilmu Hadits” karangan Abul Harits Muhammad bin Ibrahim Khirraj As-Salafi AlJazairi sebagai contoh yang menerapkan jenis pertama ini, banyak lagi buku yang lainnya. Kedua, sebagian buku disusun tidak harus memulai membacanya dari awal bab, anda bisa mulai dari belakang, dari tengah, bab kedua atau dari mana anda sukai, semua pilihan tersebut tidak membuatanda rancu dalam pemahaman tentang topik buku tersebut. Contoh buku yang menerapkan jenis yang kedua ini berjudul “Sirah Shahabiyah (Kisah Para Shahabat Wanita)” karya Mahmud Mabhdi al-Istambuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan masih banyak contoh yang lain lagi. Pengalaman Sebuah kata hikmah, “pengalaman adalah guru yang paling berharga”. Dengan sebuah pengalaman yang anda miliki anda akan dapat mengantisipasi atau beradaptasi pengalaman semasa kecil, pengalaman bersama keluarga, pengalaman bersama teman di sekolah, maupun pengalaman bersama masyarakat. kita merespon, bersikap, dan berperilaku sering dibentuk oleh pcagalaman. Begitu pula dalam hal . membaca, pengalaman m: njadi salah satu faktor penting dalam kesuksesan dan kepaham an kita pada buku yang sedang kita baca. anda yang sudah memiliki pengalaman membaca buku yang berkenaan dengan | omputer terkhusus buku bertopik aplikasi perkantoran seperti Microsoft Excel 2003 misalnya, niscaya anda tidak begitu kesulitan dalam membaca buku Microsoft Excel 2007. Namun jika anda belum mengenal Microsoft Excel 2003 Apal:gi Microsoft Excel 2007, maka anda akan kesulitan memahamiaya. Begitu pula padasaat kita membaca buku tentang psikologi perkembangan, misalnya, kita akan membawa pengalaman kita dalam menalaah buku tersebut. Menurut pendapat ahli ini pada masa bayi ada perkembangan yang dimulai dengan tahap oral yang mana pada tahap ini anak ketika meraih sesuatu selalu terlebih dahulu memasukkan sesuatu tersebut ke dalam mulutnya. Lantas kita teringat ketika melihat anak kita pagi tadi, kebetulan umurnya masih enam bulan, dia mendapatkan pulpen kita yang jatuh dan meraihnya lantas memasukkannya ke dalam mulutnya. Benar juga teori ini. Mungkin begitu gumam kita dalam hati. Jodi, dalam proses kita membaca pengalaman selalu diikutk:n sebagai bahan bagi kita untuk memahami bacaan tersebut Berpikir Winkel” pada saat menjelaskan teori konseling Rationalemotive therapy mengungkapkan prinsip teori ini tentang berpikir. Berpikir merupak:n proses penggunaan berbagai lambang verbal dan dituangkan dalam bentuk bahasa. Bila berpikir, manusia seolah-olal mengucapkan kata-kata kepada diri sendiri. Orang mempertal ankan pikiran yang rasional atau yang tidak rasional dengan borbicara kepada diri sendiri dan mengucapkan dalam batinnya sendiri uraian kalimat tertentu. Pada saat kita membaca sebuah buku tidak terlepas dari keterlibatan berbagai aspek dalam diri kita termasuk pikiran. Terkadang kita mengernyitkan kening pada saat satu kata atau satu kalimat atau malah satu judul yang terdapat pada buku. Terkadang kita tiba-tiba berhenti sesaat ketika kita temui kalimat atau kata yang membuat kita mulai berbicara dengan diri kita sendiri, benarkah demikian? Atau apa sebenarnya landasan penulis mengungkapkan hal yang demikian? Sebuah kalimat tersebut anda dapati ketika membaca sebuah buku yang berjudul “Menggugat Demokrasi & Pemilu” yang berbunyi “Pemilu termasuk perbuatan syirik kepada Allah yakni syirik dalam masalah ketaatan”.* Contoh tersebut mengindikasikan kepada kita, ketika kita membaca ada proses yang berjalan dalam diri kita sendiri, agar bacaan yang kita baca bisa dicerna dan memiliki nilai tambah bagi khasanah ilmu dan bahkan keyakinan kita. 6. % ¥ Belajar Di samping melibatkan pikiran, membaca juga merupakan proses belajar bagi kita, dimana kita dapati hal yang sebelumnya mungkin belum kita ketahui atau sebelumnya kita mengetahuinya tetapi dalam versi yang berbeda. Masalah belajar ini menjadi kajian intens para ahli psikologi sebagimana diungkapkan oleh Marx & Bunch dalam Pra
Conclusion
Sampai sejauh ini kita telah berinteraksi (dalam hal ini berkomunikasi) dengan buu, anda mungkin membayangkan penulis artikel ini pada saat anda membaca jurnal perpustakaan ini. anda mungkin mulai berpikir siapa penulisnya, mungkin anda sedang berkhayal (salah sa‘u bentuk berassosiasi) bagaimana menulis sebuah artikel seperti artikel ini. Mungkin pula anda berpikir apa maunya si penulis sehingga menulis artikel yang menurutanda tidak pertu ditulis dan tidak pantas untuk dibaca. Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya yang muncul dalam pikiran anda. Perlu saya tekan kembali, bahwa inti dari penulis membuat sebuah tulisan, entah itu dalam bentuk buku, nimbrung dalam jurnal atau dalam bentuk cetakan lainnya, tidak lain dan tidak bukan penulis berperan sebagai komunikator yang memberikan pesan berupa tulisan Kepada kominikan, harapannya agar komunikan dapat dipengaruhi sebagaim:na maunya penulis. Maka kita akan melihat banyak penulis meramu judul bukunya dengan menarik perhatian pembaca, seperti judul buku “ Alhamdulillah Anak saya Nakal” secara sepintas tidak pantas penulis membuatjudul yang demikian, bukankah Alhamdulillah sebuah pujian ketika kita mendapat nikmat? Bukankah anak nakal merupakan ujian atau musibah bagi kita yang harusnya kita ungkapkan dengan katakata lain? Dengan mengumbar kata tersebut penulis berharap perhatian pembaca, yang selanjutnya pembaca mulai membaca untuk memahami pesan tersebut dan pada akhirnya memutuskan menerima atau menolak. Proses tersebut merupakan strategi dalam berkomunikasi seperti yang diungkapkan oleh McGuirie bahwa proses perubahan sikap seseorang dari tidak tahu/ tidak menerima suatu pesan ke menerima suatu pesan berlangsung melalui tiga proses dasar yang dia sebut dengan tiga tahap perubahan sikap, yakni attention (perhatian terhadap pesan), comprehension (pemahaman terhadap pesan), dan acceptance ( penerimaan suatu pesan).” Untuk itu, kita sebagai komunikan perlu memiliki mental yang kuat dengan berlandaskan keilmuan yang kita miliki untuk dapat menyaring pesan yang ditawarkan oleh penulis. Karena kalau kita tidak siap, maka kita akan dilumat oleh penulis buku tersebut. Sebagaimana Moh. Nazir mengidentifikasi terdapat dua bahaya yang akan timbul pada saat kita berinteraksi dengan buku yakni, kita menjadi ketergantungan kepada apa yang dibaca dan informasi yang kita peroleh mungkin saja salah.” Disamping dua bahaya di atas, pada bagian pendahuluan saya telah mengemukakan fakta adanya buku yang mesti dilarang karena dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak sosial dan permasalahan lainnya. Di dalam Al-Qur’an pada surat al-Hujurat * Islam memberi solusi kepada kita agar tidak terjerumus pada bahaya sebagaimana gambaran di atas, maka kita perlu “tabayyun” (memeriksa dengan teliti) setiap informasi/ pesan yang kita baca/ terima. Tidak cukup kita mengambil kesimpulan hanya dari buku, tetapi kita juga harus berguru kepada yang memiliki ilmu dan mengamalkan ilmunya, sehingga bisa menuntun kita ke jalan yang lurus. Kebenaran datangnya dari Allah dan kebenaran bisa diucapakan oleh siapa saja, tetapi untuk menuntut \lmu, maka lihatlah siapa yang kita jadikan guru. Laksana kita belajar silat atau bela diri, jangan sembarangan mengangkat s>seorang menjadi “suhu” lihatlah yang mumpuni dalam bela dir! dan dia memiliki akhlak yang mulia. Dari hasil berinteraksi dengan buku, kita bisa mengubah diri menjadi seorang komunikator dalam bentuk menulis buku dengan menebarkan pesan kita kepada orang lain. Misalnya kita memiliki pesan yang lengkap dan deti tentang suatu masalah lantas kita tuangkan dalam tulisan kalin:at-demi kalimat sehingga menjadi sebuah buku, yang merupak:n bentuk sinyal pesan kita kepada orang lain agar dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi berkaitan dengan masalah yai g sedang kita ungkapkan.