Kembali
16
1
2024 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 16 · 1 ISSN 2502-4108

Kinerja Pustakawan di Era Transformasi Digital

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pustakawan di Perpustakaan IAIN Ponorogo dalam menghadapi tantangan layanan digital serta merumuskan strategi peningkatannya. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Wawancara melibatkan 3 pustakawan, 2 dosen, dan 5 mahasiswa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat tiga strategi utama untuk meningkatkan kinerja pustakawan, yaitu pelatihan dan pengembangan, peningkatan komunikasi, dan kerjasama antar pustakawan. Dengan lima faktor yang memengaruhi peningkatan kinerja pustakawan, yakni pengetahuan dan keterampilan pustakawan, dukungan manajemen, pemanfaatan teknologi informasi,kerjasama antara pustakawan dan motivasi kerja. Dengan kombinasi strategi dan faktor-faktor pendukung ini, perpustakaan dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna, menciptakan pengalaman perpustakaan yang lebih baik dan relevan di era digital</p>

Abstract

This study aims to analyze the factors that influence the performance of librarians at the IAIN Ponorogo Library in facing the challenges of digital services and formulating strategies for improving them. The method is descriptive qualitative, with data collected through in-depth interviews, direct observation, and documentation. Interviews involved 3 librarians, 2 lecturers, and 5 students. The results show three main strategies to improve librarian performance: training and development, improving communication, and cooperation between librarians. Five factors influence the improvement of librarian performance: librarian knowledge and skills, management support, utilization of information technology, cooperation between librarians, and work motivation. With these strategies and supporting factors, libraries can improve the efficiency and quality of services provided to users, creating a better and more relevant library experience in the digital era.
Keywords: employee performance · librarian · digital transformation · library services

Introduction

Transformasi perpustakaan era digital membawa perubahan signifikan dalam proses pelayanan kepada penggunanya. Adanya digitalisasi, tantangan perpustakaan tidak lagi terbatas menyediakan layanan pada ruang fisik, melainkan mampu menyediakan akses informasi secara daring melalui platform digital seperti katalog online, repositori, dan jurnal elektronik. 1 Mahasiswa, dosen, dan peneliti dapat dengan mudah mengakses berbagai sumber daya akademik kapan saja dan dari mana saja, mempercepat proses pembelajaran dan penelitian.2 Pada era digital, layanan perpustakaan seperti peminjaman buku digital, pengelolaan referensi otomatis,3 dan pengecekan plagiarisme berbasis perangkat lunak juga semakin mempermudah proses administrasi dan akademik. Transformasi ini memungkinkan perpustakaan berperan sebagai sumber belajar4 dan bahkan menjadi pusat informasi yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan akademik yang inovatif. Dalam menghadapi transformasi perpustakaan dari manual menuju era digital, sumber daya manusia pustakawan perlu beradaptasi dengan cepat.5 Peran pustakawan di era digital tidak hanya dituntut untuk memiliki keahlian tradisional dalam pengelolaan informasi, tetapi juga harus menguasai keterampilan digital, seperti pengelolaan basis data, pemanfaatan perangkat lunak manajemen referensi, dan penerapan teknologi informasi untuk layanan perpustakaan.6 Pustakawan memiliki tanggung jawab kinerja yang baik untuk memastikan dapat melakukan layanan dengan kualitas yang baik. Perpustakaan IAIN Ponorogo memiliki sumber daya manusia yang memadai dengan total 8 pustakawan.7 Sebagian dari mereka telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang profesional dalam layanan digital, diantaranya mempu melayani kelas literasi digital yakni manajemen referensi zotero, mampu mengoperasikan layanan repository baik dari karya mahasiswa maupun karya dosen, mampu melakukan layanan cek turnitin. Layanan literasi informasi merupakan salah satu layanan unggulan yang disediakan kepada mahasiswa di mana mereka diajarkan untuk menggunakan perangkat manajemen referensi seperti Zotero dan Mendeley, yang sangat penting dalam mendukung penulisan akademik.8 Selain itu, perpustakaan ini juga mengelola repository karya ilmiah dosen9, dan repository karya ilmiah mahasiswa10 yang berperan penting dalam proses unggah karya akademik. Seluruh proses unggah ini sepenuhnya ditangani oleh pustakawan IAIN Ponorogo, menunjukkan peran penting pustakawan dalam mendukung pencapaian akademik. Namun demikian, berdasarkan hasil pengamatan masih ada beberapa pustakawan yang belum memiliki keterampilan yang optimal dalam hal layanan digital. Masih ada masalah akademik yang sering dihadapi oleh IAIN Ponorogo terkait dengan kualitas kinerja pustakawan yakni keterbatasan kemampuan dalam mengoperasikan alat-alat digital yang semakin esensial di era modern. Masih ada beberapa pustakawan yang belum sepenuhnya menguasai perangkat lunak manajemen referensi seperti Zotero dan Mendeley, yang merupakan alat penting untuk membantu mahasiswa dan dosen dalam mengelola sumber referensi akademik. Selain itu, kurangnya pemahaman dalam memanfaatkan platform digital untuk pengelolaan sumber daya perpustakaan, seperti katalog online dan repositori digital. Tentu ini menghambat kinerja pustakawan IAIN Ponorogo dalam memberikan akses yang optimal kepada penggunanya. Masalah ini menuntut peningkatan kompetensi teknis melalui pendidikan formal yang lebih tinggi dan pelatihan berkelanjutan, agar pustakawan dapat mengikuti perkembangan teknologi dan memberikan layanan yang lebih profesional serta relevan di lingkungan akademik. Dari segi latar belakang pendidikan, 4 dari 8 pustakawan di IAIN Ponorogo memiliki pendidikan formal yang sesuai dengan profesi mereka sebagai pustakawan profesional. Sementara itu, yang lainnya mengikuti jalur sertifikasi CPTA yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional, serta beberapa dari mereka juga aktif mengikuti berbagai pelatihan perpustakaan untuk meningkatkan kompetensi. Dalam operasional sehari-hari, layanan perpustakaan juga didukung oleh 4 tenaga non-pustakawan. Dengan dukungan ini, IAIN Ponorogo memiliki harapan besar bahwa pustakawan mampu memberikan kinerja terbaik, sehingga mutu layanan perpustakaan dapat terus meningkat dan memenuhi kebutuhan pengguna secara optimal. Terkait dengan kinerja pustakawan, telah banyak penelitian dilakukan sebelumnya, diantaranya; Suwardi11 memaparkan hasil penelitiannya bahwa capaian kinerja pustakawan merupakan indikator kinerja yang menunjukkan prestasi seorang pustakawan. Pustakawan yang memiliki minat dan harapan berprestasi yang tinggi dapat menciptakan strategi kerja yang memudahkannya dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, suasana perpustakaan yang kondusif dan memotivasi pustakawan untuk meraih prestasi sangat penting bagi kemajuan perpustakaan. Selanjutnya dilakukan penelitian pada suatu perusahaan dimana kinerja karyawan sangat penting dalam mencapai tujuan perusahaan. Seorang manajer harus mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, seperti motivasi, kompetensi, dan kompensasi. Motivasi yang baik akan meningkatkan kinerja karyawan, sedangkan kompetensi dan kompensasi yang memadai juga mempengaruhi kinerja dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Manajer harus memaksimalkan potensi karyawan dan meminimalkan kekurangannya untuk mencapai tujuan perusahaan.12 Berikutnya, Nahrun menguji dan menganalisis pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja pegawai serta menguji dan menganalisis pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai. Menggunakan data primer dengan sampel seluruh pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 56 orang. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan teknik pengumpulan data dari kuesioner, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai, dan lingkungan kerja mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Kepemimpinan mempunyai pengaruh paling dominan terhadap kinerja pegawai, artinya kedua variabel tersebut secara simultan mempengaruhi kinerja pegawai.13 Dari hasil penelitian sebelumnya, ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai, seperti motivasi, kompetensi, kepemimpinan, lingkungan kerja, dan kompensasi. Penelitian yang dilakukan oleh Suwardi14 menekankan pentingnya motivasi dan prestasi bagi pustakawan dalam mencapai kinerja yang baik, sedangkan penelitian Nahrun 15 menunjukkan pengaruh signifikan kepemimpinan dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai. Keduanya menyimpulkan bahwa peningkatan kinerja sangat terkait dengan faktor manajerial dan lingkungan. Namun, terdapat gap yang jelas dalam penelitian-penelitian tersebut, terutama dalam konteks spesifik kinerja pustakawan di era digital. Penelitian sebelumnya umumnya berfokus pada faktor-faktor kinerja secara umum, tanpa mempertimbangkan keterampilan teknis khusus yang diperlukan pustakawan dalam menghadapi transformasi digital. Pada konteks perpustakaan IAIN Ponorogo, tantangan yang dihadapi lebih spesifik pada keterbatasan kemampuan pustakawan dalam mengoperasikan alat-alat digital seperti Zotero dan Mendeley, serta pengelolaan platform digital seperti repository dan katalog online. Penelitian ini memiliki kontribusi yang berbeda karena membahas kinerja pustakawan dalam meningkatkan mutu layanan perpustakaan di era digital, yang semakin krusial untuk mendukung perguruan tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai strategi optimalisasi kinerja pustakawan melalui pendidikan formal dan pelatihan berkelanjutan, sehingga layanan perpustakaan dapat lebih optimal dan relevan dengan kebutuhan akademik saat ini. Penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian sebelumnya dengan memberikan fokus pada aspek digitalisasi dalam layanan perpustakaan dan kinerja pustakawan.

Method

Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis kinerja pustakawan dalam menghadapi tantangan layanan digital di Perpustakaan IAIN Ponorogo. Penelitian ini akan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Wawancara akan dilakukan dengan 4 pustakawan, 3 dosen, dan 5 mahasiswa untuk mendapatkan perspektif mendalam tentang kualitas layanan digital, serta tantangan yang dihadapi pustakawan dalam pengelolaan alat-alat digital seperti Zotero dan Mendeley, serta platform repository. Observasi dilakukan untuk mengamati langsung implementasi layanan digital di perpustakaan, sementara dokumentasi akan mencakup data terkait pelatihan dan kualifikasi pustakawan. Pendekatan kualitatif cocok digunakan untuk memahami fenomena kompleks dalam konteks spesifik, seperti kinerja pustakawan di era digital ini.16 Analisis data akan dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan Miles & Huberman17. Reduksi data dilakukan dengan memilah informasi yang relevan dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari wawancara penulis menggali data tentang: Apa saja keterbatasan yang dihadapi pustakawan dalam menguasai alat-alat digital?; Bagaimana tingkat kemampuan pustakawan dalam menggunakan dan mengoptimalkan platform digital seperti repository dan katalog online?; Apa dampak keterbatasan pustakawan dalam pengelolaan platform digital terhadap efektivitas layanan perpustakaan?; Sejauh mana pelatihan dan pendampingan dalam penggunaan alat digital berkontribusi pada peningkatan layanan perpustakaan?; Apa strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan teknis pustakawan dalam memanfaatkan alat digital untuk mendukung layanan perpustakaan?; Apa langkah inovatif yang dapat diambil untuk mempermudah pustakawan dalam memahami dan mengelola teknologi perpustakaan berbasis digital?. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kinerja pustakawan dan tantangan yang dihadapi. Setelah itu, peneliti akan menarik kesimpulan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pustakawan serta memberikan rekomendasi untuk peningkatan kompetensi teknis melalui pelatihan berkelanjutan. Validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber untuk memastikan keakuratan informasi yang diperoleh dari berbagai metode pengumpulan data. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kinerja pustakawan di Perpustakaan IAIN Ponorogo dalam menghadapi transformasi layanan digital.

Result & Discussion

Peran dan Kinerja Pustakawan di Era Digital Peran pustakawan masa kini bukan hanya pengelola koleksi fisik, tetapi juga mediator informasi digital yang berperan dalam memberikan akses dan mengelola sumber daya digital.18 Kinerja pegawai dalam hal ini pustakawan berdasarkan teori Middleton, merujuk pada hasil kerja yang dihasilkan oleh seorang pegawai dalam memenuhi tanggung jawab yang diberikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kinerja ini mencakup kemampuan pegawai untuk menyelesaikan tugas-tugas secara efisien dan efektif, termasuk bagaimana pegawai berkontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi. Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pegawai menurut teori perilaku organisasi ini mencakup kemampuan individu, motivasi kerja, dan dukungan organisasi.Kemampuan pegawai meliputi pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang relevan dengan tugasnya. Sementara itu, motivasi kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor internal seperti kepuasan kerja, serta faktor eksternal seperti imbalan dan pengakuan dari manajemen. Lingkungan kerja yang mendukung, termasuk adanya bimbingan dari atasan dan sumber daya yang memadai, juga menjadi elemen penting dalam menentukan seberapa baik seorang pegawai dapat melaksanakan tugasnya.19 Alwan Wibawanto menyampaikan bahwa untuk meningkatkan kinerja dan karier, pustakawan perlu memiliki motivasi yang kuat dari dalam diri mereka sendiri. Faktor internal ini menjadi kunci utama untuk berkembang dan terus meningkatkan kemampuan. Sementara itu, dukungan dari tim kerja dan lembaga, termasuk pimpinan, berperan sebagai pendukung yang dapat memperkuat semangat tersebut, tetapi tetap bergantung pada komitmen individu pustakawan untuk terus maju dan berkembang.20 Ini artinya terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kinerja pustakawan, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup kekuatan dan kemauan pustakawan itu sendiri untuk terus mengembangkan kemampuan dan potensi mereka. Faktor ini menjadi landasan utama dalam pencapaian kinerja yang optimal. Di sisi lain, faktor eksternal meliputi dukungan dari tim kerja, di mana antar pustakawan saling membantu dan mendorong keberhasilan bersama, serta dukungan dari organisasi dalam menyediakan sarana, fasilitas, dan kebutuhan yang menunjang efektivitas kerja. Selain itu, peran pimpinan juga krusial, terutama dalam memberikan kesempatan dan ruang bagi pustakawan untuk terus belajar dan berkembang, sehingga sinergi antara faktor internal dan eksternal dapat tercipta secara maksimal. Artikel The Role of Libraries in Knowledge Society oleh Yaghob Nourouzi dan Kazem Kamali menyoroti peran penting perpustakaan dalam masyarakat berbasis pengetahuan, atau knowledge societies. Peran perpustakaan dalam masyarakat berbasis pengetahuan sangat penting karena perpustakaan adalah institusi yang bertugas untuk mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan mendistribusikan informasi kepada anggota masyarakat. Memahami kinerja pustakawan dalam konteks ini menjadi krusial karena mereka menjadi penggerak utama dalam menyediakan akses ke informasi dan pengetahuan yang diperlukan untuk perkembangan masyarakat.21 Kinerja pustakawan dalam artikel ini dapat dihubungkan dengan peran mereka dalam: pengumpulan informasi, klasifikasi dan pengorganisasian informasi, penyebaran informasi, dan penggunaan teknologi informasi. Dengan kata lain, penelitian ini menekankan pentingnya pustakawan sebagai penghubung antara pengetahuan dan pengguna perpustakaan. Berikutnya Obinna Nwokike dan Vincent Unegbu22 membahas kinerja pustakawan di universitas-universitas di Nigeria Tenggara, dengan fokus pada bagaimana perilaku kerja pustakawan sejalan dengan tujuan organisasi perpustakaan. Kinerja pustakawan didefinisikan sebagai serangkaian perilaku yang berkaitan dengan keberhasilan perpustakaan, di mana tingkat kinerja diukur menggunakan kuesioner penilaian diri. Meskipun hasil penelitian menunjukkan kinerja pustakawan yang positif, teori ini juga menekankan pentingnya pelatihan dan pengembangan keterampilan yang berkelanjutan. Dengan adanya tantangan di lingkungan kerja perpustakaan yang terus berubah, pustakawan perlu mengupgrade kemampuan mereka agar tetap relevan dan mampu memberikan layanan yang berkualitas tinggi. Rekomendasi untuk pelatihan yang rutin dan pengembangan keterampilan diharapkan dapat membantu pustakawan untuk memenuhi tuntutan yang semakin kompleks dalam peran mereka, sekaligus meningkatkan kinerja perpustakaan secara keseluruhan. Berdasarkan beberapa analisis teori diatas, penulis menyimpulkan bahwa kinerja pustakawan memegang peranan kunci dalam keberhasilan perpustakaan, terutama dalam menghadapi tantangan di era digital dan masyarakat berbasis pengetahuan. Berdasarkan teori Middleton, kinerja ini ditentukan oleh kemampuan individu, motivasi kerja, dan dukungan organisasi, yang semuanya harus dioptimalkan untuk mencapai efektivitas layanan perpustakaan. Pustakawan tidak hanya bertugas mengumpulkan, mengorganisir, dan menyebarkan informasi, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk memastikan aksesibilitas dan pemahaman informasi oleh pengguna.Pelatihan dan pengembangan keterampilan sangat penting untuk membantu pustakawan tetap relevan dan memenuhi tuntutan yang semakin kompleks, sehingga meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan kontribusinya terhadap perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Transformasi Digital di Perpustakaan Transformasi layanan perpustakaan di era digital menunjukkan bahwa perpustakaan telah beradaptasi dengan pesat untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam lingkungan yang didominasi teknologi. Transformasi ini mencakup pergeseran dari layanan tradisional berbasis cetak menuju layanan digital yang lebih fleksibel dan mudah diakses, termasuk penggunaan aplikasi 22Obinna Nwokike dan Vincent Unegbu, Evaluating the Job Performance of Librarians in Universities in mobile, QR code, dan layanan berbasis web. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), meningkatkan interaksi dengan pengguna, dan memperkenalkan alat layanan mandiri seperti kios.23 Transformasi layanan digital perpustakaan di era digital,24 terutama dalam konteks pandemi COVID-19, juga menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara perpustakaan akademik menyediakan layanan kepada pengguna. Layanan yang sebelumnya berbasis tatap muka kini beralih ke platform digital, di mana media sosial dan situs web perpustakaan berperan sebagai jalur utama interaksi dengan pengguna.Selain itu, pendekatan normal baru yang mengedepankan keamanan personel, pembatasan sosial, dan sanitasi koleksi menjadi sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi pengguna. Dengan demikian, transformasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi layanan, tetapi juga meningkatkan kepuasan pengguna. Model transformasi layanan perpustakaan di era digital juga menyoroti pentingnya adaptasi perpustakaan terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat informasi yang terus berubah. Dalam model ini, perpustakaan diharapkan untuk bertransformasi dari fungsi tradisional sebagai tempat penyimpanan fisik informasi menjadi institusi yang aktif dalam pengumpulan, pengorganisasian, dan penyebaran informasi secara digital. Perpustakaan perlu memanfaatkan teknologi informasi untuk menciptakan akses yang lebih luas dan mudah bagi pengguna, serta meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan koleksi.25 Selain itu, model ini juga menekankan pentingnya literasi digital sebagai strategi untuk meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat. Pustakawan harus berperan aktif dalam mengajarkan keterampilan literasi digital kepada pengguna, yang tidak hanya mencakup cara mengakses informasi, tetapi juga cara untuk mengevaluasi dan menggunakan informasi secara efektif. Melalui pengembangan layanan berbasis digital, seperti penggunaan katalog online (OPAC), repositori karya ilmiah, dan layanan administrasi daring, perpustakaan dapat menjawab tantangan era digital dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan. Berdasarkan analisis beberapa teori diatas, penulis menyimpulkan tentang transformasi layanan perpustakaan di era digital menunjukkan, bahwa perpustakaan harus beradaptasi secara signifikan terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan informasi masyarakat yang terus berubah. Middleton menegaskan pentingnya kinerja pustakawan yang ditentukan oleh kemampuan, motivasi, dan dukungan organisasi, yang menjadi kunci dalam mengimplementasikan layanan berbasis digital. Inovasi Layanan Digital Perpustakaan IAIN Ponorogo: Mewujudkan Transformasi Menuju Layanan Modern Perpustakaan IAIN Ponorogo telah berkomitmen untuk menghadirkan inovasi layanan yang berbasis digital guna memenuhi kebutuhan pengguna dalam era informasi yang semakin berkembang. Karis27 menyampaikan, salah satu inovasi utama adalah OPAC (Online Public Access Catalog), yang memungkinkan pengguna untuk menelusuri koleksi perpustakaan secara daring.Pustakawan memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal pengoperasian dan juga pengembangan OPAC. Ini sejalan dengan teori Nourouzi and Kamali 28 dimana pustakawan bisa meningkatkan kinerjanya melalui layanan layanan OPAC dimana layanan ini memudahkan mahasiswa dan dosen dalam menemukan buku, jurnal, dan materi perpustakaan lainnya tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Pengembangan OPAC ini juga selaras dengan Baryshev and Tsvetockina29 dimana transformasi layanan digital melalui OPAC telah menjadi landasan penting dalam digitalisasi perpustakaan, meningkatkan aksesibilitas informasi bagi komunitas akademik. Selain itu, perpustakaan IAIN Ponorogo juga telah mengembangkan layanan administrasi daring yang https://library.iainponorogo.ac.id/form-online . bisa diakses melalui Pada layanan ini tersedia pengajuan surat bebas pinjaman perpustakaan, pengajuan layanan cek Turnitin, pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) Perpustakaan untuk dosen dan juga mahasiswa. selain itu terdapat layanan administrasi online berupa pengajuan judul buku dan pengajuan mengikuti layanan kelas literasi digital. ini sejalan dengan Baryshev and Tsvetockina 30terkait pengembangan layanan administrasi daring Layanan literasi digital di perpustakaan IAIN Ponorogo juga mengalami transformasi signifikan. Dwi Eliana menyampaikan 31 salah satu program unggulannya adalah kelas literasi yang mengajarkan keterampilan penelusuran informasi serta cara membuat referensi menggunakan perangkat lunak seperti Zotero. Program ini memberikan manfaat besar bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti yang memerlukan pengelolaan sumber referensi yang efektif.Tidak hanya terbatas pada mahasiswa, perpustakaan juga menyediakan pelatihan Zotero bagi dosen, yang membantu para pengajar dalam mengelola referensi akademik secara lebih profesional.Penguatan kemampuan digital ini juga diperluas ke pustakawan melalui pelatihan pustakawan untuk pengembangan SDM, yang bertujuan meningkatkan keterampilan teknis dan digital mereka dalam rangka mendukung layanan perpustakaan yang lebih baik. Peningkatan lainnya sebagaimana Alwan32 menyampaikan bahwa dapat dilakukan dengan mengintegrasikan sistem turnitin dan Zotero secara otomatis ke dalam repositori dosen dan mahasiswa.Misalnya, setiap karya ilmiah yang diunggah ke repositori dapat secara otomatis diperiksa melalui Turnitin untuk mendeteksi plagiarisme, serta dapat langsung dikelola melalui Zotero untuk memudahkan manajemen referensi. Hal ini akan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan karya ilmiah dan mendorong standar akademik yang lebih tinggi. Kemudian pengembangan https://repository.iainponorogo.ac.id https://etheses.iainponorogo.ac.id/ repositori 33 dan karya repositori dosen mahasiswa .34 ini sependapat juga dengan Baryshev and Tsvetockina 35 terkait pengembangan layanan berbasis digital, seperti repositori karya ilmiah. Repositori dosen mencakup buku, artikel penelitian, dan karya ilmiah lain yang dapat diakses oleh seluruh sivitas akademika melalui sistem repositori digital. Sementara itu, repositori mahasiswa memungkinkan penyimpanan dan akses terhadap skripsi, tesis, dan disertasi, yang mendukung transparansi akademik serta mempermudah proses penelusuran dan pemanfaatan karya ilmiah yang telah dihasilkan. Untuk memperkuat interaksi antara pustakawan dan pengguna, perpustakaan IAIN Ponorogo telah mengembangkan layanan referensi digital interaktif yang memungkinkan sesi konsultasi daring secara real-time melalui Chat admin +62 821-4382-7857 atau video call. Dengan ini, pengguna dapat memperoleh bantuan langsung dari pustakawan dalam menelusuri informasi atau memecahkan masalah yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya perpustakaan. Dengan inovasi-inovasi ini, perpustakaan IAIN Ponorogo akan terus bergerak menuju perpustakaan digital yang lebih modern, adaptif, dan inklusif, memastikan akses informasi yang lebih cepat, efisien, dan relevan bagi seluruh komunitas akademik. Perpustakaan juga mengoptimalkan fasilitas komputer dan internet yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran dan penelusuran informasi. Sarana ini penting untuk memastikan bahwa seluruh pengguna, terutama mahasiswa dan dosen, dapat mengakses informasi digital dengan mudah.Selain itu, layanan administrasi yang dilakukan secara online juga dihadirkan untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan. Layanan seperti cek Turnitin, pembuatan kartu anggota perpustakaan, dan layanan bebas pinjaman kini dapat diakses secara daring, memudahkan pengguna untuk menyelesaikan berbagai keperluan administratif tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. berikut tabel inovasi layanan digital Perpustakaan IAIN Ponorogo Tabel 1.1 Inovasi Layanan Digital Perpustakaan IAIN Ponorogo Sistem Layanan Automatisasi SLiMS Akasia System Penelusuran Online Public Acces catalog (OPAC) Sistem Adminitrasi Digital https://library.iainponorogo.ac .id/form-online/ Layanan pengajuan surat bebas pinjaman online Layanan pengajuan Kartu TandaAnggota (KTA) untuk dosen dan Mahasiswa online Pengajuan Usulan Judul online Pengajuan User Education online Repository Repository karya Tulis Dosenhttps://repository.iainponorogo.ac.id/ Repository karya Tulis mahasiswahttps://etheses.iainponorogo.ac.id/ E journal berlangganan Oxford Academic https://academic.oup.com/journals?login=true E book berlangganan Digital Jatim versi android, windows, dan APK https://kubuku.id/download/djatim (digital-jatim)/ Cek Plagiasi Layanan cek Turnitin online di perpustakaan pust, pascasarjana, dan perpustakaan kampus 2 WA Chat Konsultasi secara real-time melalui Chat admin +62 821-4382-7857 atau video call MediaSosial Perpustakaan Website Perpustakaan https://library.iainponorogo.ac.id/ Instagram Perpustakaan lib.iainpo Facebook perpustakaan https://www.facebook.com/lib.iainpo/ . Email Perpustakaan Pusat perpustakaan@iainponorogo.ac.id ., email Perpustakaan Kampus 2 perpustakaan.kampus2@iainponorogo.ac.id , email Perpustakaan Pascasarjana perpustakaan.pasca@iainponorogo.ac.id Kelas Literasi Informasi Materi yang diajarkan Manajemen Referensi Zotero dan Mendeley Sumber: Diolah Penulis, 2024 Inovasi layanan digital di Perpustakaan IAIN Ponorogo menunjukkan upaya signifikan dalam mentransformasi layanan menuju era modern yang efisien dan responsif. Dengan penerapan sistem otomasi berbasis Senayan untuk mengelola katalog, OPAC untuk penelusuran koleksi, serta layanan administrasi digital seperti surat bebas pinjaman dan Kartu Tanda Anggota online, perpustakaan berhasil memberikan kemudahan akses kepada dosen dan mahasiswa. Repositori digital untuk karya dosen dan mahasiswa memperluas jangkauan publikasi ilmiah, sementara layanan Turnitin online mendukung upaya cek plagiasi secara cepat. Integrasi media sosial dan WA Chat juga memfasilitasi interaksi real-time, membuat layanan perpustakaan lebih mudah diakses oleh seluruh pengguna. Berlangganan e-journal seperti Oxford Academic dan e-book dari Digital Jatim memperkaya akses informasi akademik, semakin memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat sumber daya yang inovatif dan digital. Strategi Optimalisasi Kinerja Pustakawan untuk Meningkatkan Kualitas Layanan Perpustakaan Pustakawan memiliki tanggung jawab kinerja yang sangat baik dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan untuk memastikan sumber informasi yang tersedia lengkap dan terkini. Faktor-faktor seperti motivasi dan lingkungan kerja yang kondusif sangat memengaruhi kinerja pustakawan. Di perpustakaan IAIN Ponorogo sangat bagus terkait motivasi kinerja dari pimpinan. Hal ini sejalan dengan pendapat Middleton36 bahwa adanya motivasi dan lingkungan kerja yang kondusif sangat memengaruhi kinerja pustakawan.Selain itu faktor fasilitas juga harus mendukung untuk meningkatkan kinerja pustakawan. Ini sejalan dengan yang disampaikan Eka Fitriyani and Hengky Pramusinto 37 terkait pengaruh penyediaan fasilitas terhadap kinerja pustakawan. Oleh karena itu, manajemen perpustakaan harus memastikan pustakawan memiliki motivasi yang baik, tersedia fasilitas yang cukup, dan lingkungan kerja yang mendukung untuk mencapai kinerja yang optimal dalam memberikan layanan yang berkualitas. Selain itu pelatihan berkelanjutan dalam literasi digital dan pengembangan kompetensi teknologi menjadi kunci untuk memastikan pustakawan tetap relevan di tengah perubahan ini.38 Dengan peningkatan kemampuan tersebut, pustakawan mampu mengoptimalkan layanan perpustakaan, mendukung pengguna dalam mengakses dan memanfaatkan sumber daya digital, serta menjadi fasilitator utama dalam proses belajar di era digital. Kinerja pustakawan di IAIN Ponorogo berdampak langsung pada efisiensi dan mutu layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Pustakawan telah mampu memenuhi target dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Dengan keahlian dan disiplin yang dimilikinya, pustakawan dapat menjaga efisiensi operasional perpustakaan, mengelola koleksi dengan baik, dan memberikan layanan yang tanggap kepada pengguna. Kemampuan pustakawan dalam mencapai target dan menyelesaikan tugas tepat waktu menunjukkan kinerja yang baik dan dapat berdampak positif pada efisiensi dan mutu layanan perpustakaan secara keseluruhan. Kemampuan pustakawan di IAIN Ponorogo dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan rekan sejawat maupun atasan berjalan cukup baik. Hal ini memiliki peran yang krusial dalam meningkatkan kinerja dan efektivitas perpustakaan. Melalui komunikasi yang efektif, pustakawan dapat dengan mudah berbagi informasi, bertukar pikiran, serta mengkoordinasikan tugas dengan rekan sejawat. Selain itu, kolaborasi yang baik dengan pimpinan membuat pustakawan IAIN Ponorogo dapat memahami harapan dan tujuan perpustakaan sehingga dapat bekerja sesuai arahan dan tujuan perpustakaan IAIN Ponorogo. Dengan komunikasi dan kerjasama yang solid, pustakawan dapat menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif, sehingga berdampak positif terhadap efisiensi dan kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna perpustakaan.39 Adanya inisiatif dan inovasi yang ditunjukkan oleh pustakawan IAIN Ponorogo memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pengembangan perpustakaan. Pustakawan yang kreatif akan menunjukkan inisiatif yang baik dengan menerapkan berbagai inovasi untuk meningkatkan layanan di perpustakaan 40. Inovasi dilakukan di perpustakaan IAIN Ponorogo khususnya pada teknologi termasuk konten digital. Berbagai video tutorial yang informatif dibuat, seperti video panduan unggah skripsi/tesis, video panduan peminjaman mandiri, video panduan mendaftar di Perpustakaan Nasional RI, dan video panduan layanan lainnya. Video tutorial tersebut diunggah melalui platform YouTube sehingga memberikan kemudahan akses dan keleluasaan bagi pengguna untuk mempelajari dan mengikuti langkah-langkah yang diperlukan dalam memanfaatkan layanan perpustakaan. Kemudian berbagai layanan administrasi juga telah dilakukan secara daring seperti layanan pengajuan bebas pinjam, pengajuan keanggotaan perpustakaan, layanan peminjaman mandiri. Pengembangan situs web perpustakaan juga dilakukan sebagai langkah inovasi teknologi informasi perpustakaan. Hal ini menunjukkan komitmen pustakawan dalam menyediakan akses informasi yang lebih baik dan menjawab kebutuhan pengguna secara efisien melalui teknologi 41 . Dengan inisiatif dan inovasi yang ditunjukkan oleh pustakawan, perpustakaan dapat terus berkembang, mengikuti tren perkembangan informasi dan teknologi, serta memberikan layanan yang lebih relevan, efektif, dan berkualitas kepada pengguna. Motivasi kerja pustakawan di IAIN Ponorogo dilakukan oleh atasan kepada para pustakawan. Kemudian motivasi kerja juga terjadi di antara sesama teman pustakawan. Ketika terjadi masalah pada layanan bebas pinjam dan Turnitin, para pustakawan menunjukkan kerja sama yang solid dalam menangani masalah tersebut. Ketika pustakawan merasa termotivasi, maka semangat, produktivitas, dan dedikasinya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya akan meningkat; motivasi kerja yang tinggi juga mempengaruhi sikap pustakawan terhadap pekerjaan dengan cara menginspirasi mereka untuk mencari solusi yang kreatif, meningkatkan kapabilitas, dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada pemustaka.42 Selain itu, motivasi kerja yang kuat juga berperan dalam menjaga semangat dan ketekunan pustakawan dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang mungkin timbul di lingkungan kerja. 43Dengan motivasi kerja yang tinggi, pustakawan dapat mencapai potensinya secara maksimal, memberikan kontribusi yang, serta memberikan layanan perpustakaan yang efisien dan bermutu kepada pemustaka. Oleh karena itu, manajemen perpustakaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang memotivasi, mendorong pengakuan atas prestasi, serta menyediakan kesempatan pengembangan karier yang dapat meningkatkan motivasi pustakawan. Kemudian dilakukan strategi untuk meningkatkan kinerja pustakawan, selain meningkatkan komunikasi dan kerjasama antar pustakawan yaitu dengan antara lain melakukan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia melalui seminar, workshop, dan pelatihan. 44 Untuk meningkatkan kinerja pustakawan, maka perlu dilakukan strategi pelatihan dan pengembangan yang relevan. Pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pustakawan, sedangkan pengembangan dapat membantu mereka untuk mengikuti perkembangan terkini di bidang perpustakaan. Dari analisis di atas, penulis menjabarkannya dalam suatu rancangan konsep sebagai berikut: Gambar 1.1 Strategi Optimalisasi Kinerja Pustakawan Gambar ini menunjukkan model kinerja pustakawan yang terdiri dari tiga strategi utama untuk meningkatkan performa pustakawan, yaitu: pelatihan dan pengembangan (training and development), peningkatan komunikasi (improved communication), dan kerja sama antar pustakawan (cooperation between librarians). Strategi-strategi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan perpustakaan.45 Model ini menjelaskan bahwa ada lima faktor yang memengaruhi peningkatan kinerja pustakawan. Pertama, pengetahuan dan keterampilan pustakawan (knowledge and skills of librarians) sangat penting karena dengan pengetahuan yang baik, pustakawan dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna.Kedua, dukungan manajemen (management support) juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan kinerja.Faktor ketiga adalah pemanfaatan teknologi informasi (utilization of information technology), yang sangat penting dalam era digital untuk memberikan layanan perpustakaan yang lebih efisien dan modern. Keempat, kerja sama antara pustakawan (cooperation between librarians) juga memainkan peran kunci dalam meningkatkan kinerja melalui kolaborasi dan berbagi pengetahuan. Faktor terakhir adalah motivasi kerja (work motivation), yang mendorong pustakawan untuk terus meningkatkan kualitas layanan mereka. Dengan kombinasi strategi dan faktor-faktor pendukung ini, perpustakaan dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna, menciptakan pengalaman perpustakaan yang lebih baik dan relevan di era digital.

Conclusion

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja pustakawan di perpustakaan IAIN Ponorogo. Faktor faktor tersebut antara lain pengetahuan dan keterampilan pustakawan, dukungan manajemen, pemanfaatan teknologi informasi, kerjasama antar pustakawan, dan motivasi kerja. Kemudian dilakukan beberapa strategi untuk meningkatkan kinerja pustakawan, antara lain pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia melalui seminar, workshop, dan pelatihan, serta meningkatkan komunikasi dan kerjasama antar pustakawan. Dengan mengoptimalkan kinerja pustakawan dengan menerapkan strategi yang tepat, perpustakaan dapat mencapai efisiensi operasional yang lebih tinggi dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada pemustaka. Untuk meningkatkan kinerja pustakawan dan efisiensi layanan perpustakaan, perpustakaan IAIN Ponorogo disarankan untuk terus mengembangkan program pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, seperti seminar, workshop, dan pelatihan teknologi informasi. Selain itu, peningkatan komunikasi dan kolaborasi antar pustakawan harus terus didorong melalui kegiatan-kegiatan tim dan forum diskusi. Perpustakaan juga harus memanfaatkan teknologi secara optimal untuk memfasilitasi layanan yang lebih modern dan responsif terhadap kebutuhan pengguna. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, perpustakaan dapat mencapai peningkatan efisiensi operasional sekaligus memberikan pengalaman layanan yang lebih baik dan relevan bagi pemustaka.