Kembali
16
1
2025 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 17 · 1 ISSN 2502-4108

KECENDERUNGAN MAHASISWA UIN SAIZU DALAM MENGGUNAKAN SUMBERI NFORMASI

Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Abstrak

Tugas pokok pustakawan adalah mengelola sumber informasi di perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Mahasiswa UIN Saizu mayoritas termasuk kategori generasi milenial dan generasi Z yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap teknologi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kecenderungan mahasiswa UIN Saizu dalam menggunakan sumber informasi. Penelitian ini menggunakan metode campuran yaitu menggabungkan data kualitatif melalui wawancara dengan bentuk kuantitatif dengan sejumlah informan dan data kuantitatif dari 482 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Saizu lebih banyak menggunakan jurnal online (51,7%) sebagai referensi utama, diikuti oleh buku teks (23,2%), ebook (17%), repositori institusi (5,6%) dan karya ilmiah dosen (2,5%). Mayoritas mahasiswa yang mengakses jurnal online menggunakan Google Scholar sebagai media pencarian utama. Temuan penelitian ini mencerminkan preferensi perilaku pencarian informasi mahasiswa terhadap sumber informasi digital yang mudah diakses. Studi ini memberikan kontribusi dalam memahami preferensi mahasiswa dalam memilih sumber informasi akademik serta dapat menjadi acuan bagi pengembangan layanan perpustakaan dan program literasi informasi.

Abstract

The primary responsibility of librarians is to manage information resources in the library to meet users' needs. Most students at UIN Saizu belong to the millennial and Generation Z groups, who are highly dependent on information technology. This study aims to examine the tendencies of UIN Saizu students in utilizing information sources. A mixed-methods approach was employed, combining qualitative data collected through interviews with selected informants and quantitative data from 482 respondents. The results show that UIN Saizu students predominantly rely on online journals (51.7%) as their main reference source, followed by textbooks (23.2%), e-books (17%), institutional repositories (5.6%), and lecturers' scholarly works (2.5%). The majority of students who access online journals use Google Scholar as their primary research tool. The findings of this study reflect students information-seeking preferences for easily accessible digital sources. This study contributes to a better understanding of student preferences in selecting academic information sources and may serve as a reference for the development of library services and information literacy programs.
Keywords: information sources · student behavior · Information use

Introduction

Perpustakaan merupakan salah satu lembaga penyedia sumber informasi untuk menunjang kegiatan akademik. Menurut Undang-Undang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, perpustakaan perguruan tinggi 1 merupakan salah satu jenis perpustakaan yang memiliki peran startegis dalam mendukung kegiatan akademis di lingkungan pendidikan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan organisasi informasi yang didukung oleh instansi atau lembaga pemerintah yang bertugas menghimpun, mendokumentasikan, menyediakan dan menyebarkan informasi dalam berbagai bentuk. Penyediaan informasi tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna utama, yaitu sivitas akademika terdiri dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan. Sebagai salah satu penyedia sumber informasi, perpustakaan perguruan tinggi terus berupaya mengikuti perkembangan teknologi informasi. Sumber informasi dapat didefinisikan sebagai berbagai materi yang memberikan pengetahuan tentang objek, orang, atau topik tertentu, yang dapat mencakup buku, surat kabar, dan media cetak dan non-cetak. Sumber-sumber ini dikategorikan menjadi sumber primer, sekunder, dan tersier, termasuk juga sumber daya non-tradisional yang memiliki nilai informasi penting. 2 Upaya pengembangan layanan perpustakaan dilakukan dengan menyediakan berbagai sumber informasi beragam, yang sebagian besar dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Keragaman sumber informasi berbasis teknologi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pada pemustaka 3 , tetapi juga harus mempertimbangkan karakteristik pengguna saat ini, khususnya generasi Z. Generasi Z yang terdiri dari remaja dan pemuda, merupakan kelompok utama pengguna informasi digital saat ini. Generasi ini dikenal sangat terampil dalam penggunaan teknologi infromasi dan sangat bergantung pada teknologi tersebut dalam aktifitas sehari-hari. 4 Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah mendorong mahasiswa Generasi Z untuk menjadi pengguna yang adaptif dan terampil dalam memanfaatkan teknologi, termasuk dalam mengakses sumber informasi akademik. Kondisi ini menuntut perpustakaan perguruan tinggi untuk menyesuaikan layanan dan koleksinya, tidak hanya dalam bentuk cetak, tetapi juga digital, guna memenuhi kebutuhan pemustaka secara optimal. Selain koleksi dalam bentuk cetak seperti buku dan jurnal, perpustakaan juga dituntut untuk menyediakan koleksi dalam bentuk digital guna menjawab kebutuhan informasi pemustaka yang semakin beragam. Dalam konteks ini, Pihlstrøm 5 menjelaskan bahwa mahasiswa memilih jenis sumber informasi berdasarkan tujuan penggunaan. Mereka cenderung menggunakan sumber digital saat membutuhkan informasi secara cepat, karena format ini mudah diakses, dilengkapi alat pencarian, dan dapat digunakan di mana saja. Sebaliknya, ketika membutuhkan pemahaman mendalam, mereka lebih memilih sumber informasi cetak. Membaca teks cetak dianggap memiliki beberapa kelebihan, seperti kemudahan dalam navigasi, daya ingat yang lebih kuat, kenyamanan dalam membaca, fleksibilitas dalam membuka beberapa artikel sekaligus, serta kemudahan dalam membuat catatan. Mahasiswa sebagai pemustaka utama di perpustakaan perguruan tinggi saat ini mayoritas berasal dari Generasi Z. Menurut Dimock 6 , generasi Z adalah individu yang lahir pada tahun 1997 hingga tahun 2012, yaitu pada masa di mana perkembangan teknologi informasi berlangsung pesat dan situasi sosioekonomi relatif stabil. Kondisi ini menjadikan mereka sebagai generasi yang terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas akademik. Oleh karena itu, mereka cenderung menyukai akses informasi yang cepat, mudah, dan tidak terbatas. Hal ini berdampak pada preferensi mereka terhadap sumber informasi digital yang memungkinkan kemudahan akses ke berbagai sumber informasi. 7 Merespons karakteristik pengguna tersebut, perpustakaan UIN Saizu secara bertahap telah mengembangkan jenis koleksi informasi yang tersedia. Awalnya, perpustakaan hanya menyediakan sumber informasi dalam bentuk konvensional atau tercetak. Namun, seiring berkembangnya teknologi informasi dan kebutuhan pemustaka, perpustakaan mulai menyediakan koleksi digital. Pada tahun 2016, perpustakaan mulai menyediakan koleksi karya ilmiah dalam bentuk CD-ROM, kemudian pada tahun 2017 beralih menggunakan platform repository digital. Melalui repository ini, mahasiswa dapat mengakses, membaca, atau mengunduh skripsi, tesis, dan disertasi dalam format PDF. Selanjutnya, pada tahun 2021, perpustakaan bekerja sama dengan platform KUBUKU untuk menyediakan koleksi buku digital (e-book) melalui aplikasi e-library. Berbagai sumber informasi digital lainnya juga ditambahkan, seperti Bookless, Maktabah Syamilah, dan Hadist Explorer yang memuat koleksi e-kitab hadist dan tafsir. Pembaruan signifikan dilakukan pada tahun 2024, dengan mulai disediakannya e-journal bereputasi melalui langganan basis data Scopus. Peningkatan layanan ini merupakan bentuk adaptasi perpustakaan terhadap perubahan pola konsumsi informasi mahasiswa di era digital. Kehadiran koleksi digital di perpustakaan UIN Saizu, diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa menjadi generasi yang literat informasi. Dengan bekal keterampilan dalam memanfaatkan teknologi, mahasiswa diharapkan mampu mengakses dan memanfaatkan berbagai sumber informasi secara efektif. Meskipun perkembangan koleksi digital terus dilakukan, penelitian tentang kecenderungan atau preferensi mahasiswa terhadap pemanfaatan sumber informasi ini belum banyak dikaji di lingkup Perguruan Tinggi Islam (PTKIN). Beberapa studi sebelumnya memang telah mengkaji preferensi penggunaan sumber informasi mahasiswa di perguruan tinggi umum, baik dalam konteks lokal maupun internasional. Penelitian Mizrachi menunjukkan bahwa sekitar 400 mahasiswa lebih cenderung memilih jenis bacaan akademik berbentuk teks/cetak daripada digital atau elektronik. Namun, karena pertimbangan aksesibilitas, biaya dan kemudahan penggunaan, preferensi tersebut mengalami pergeseran ke arah digital. 8 Berdasarkan studi lebih lanjut di 33 negara, Mizrachi menyimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa tetap menunjukkan preferensi terhadap format cetak, meskipun terdapat variasi antarnegara. 9 Penelitian Supriyanto 10 menunjukkan sebanyak 18% mahasiswa Universitas Gadjah Mada cenderung menggunakan buku teks sebagai sumber referensi mereka, sedangkan 22,65% lebih memilih jurnal online. Salisbury 11 menyatakan bahwa 64% mahasiswa memilih Google Scholar sebagai rujukan utama dalam pencarian informasi karena kemudahan, kecepatan, dan aksesibilitasnya. Temuan serupa juga disampaikan oleh Heriyanto 12 , bahwa mahasiswa kerap menggunakan Google dan Google Scholar sebagai langkah awal pencarian informasi akademik. Penelitian-penelitian mengenai preferensi mahasiswa dalam memanfaatkan sumber informasi sebagaimana diuraikan sebelumnya, umumnya dilakukan pada lingkup perguruan tinggi umum. Sementara itu, penelitian serupa di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seperti UIN Saizu masih sangat terbatas. Padahal, mahasiswa PTKIN juga merupakan bagian dari Generasi Z yang memiliki karakteristik sebagai digital native—generasi yang tumbuh dan berkembang dalam ekosistem teknologi digital, serta memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap perkembangan teknologi informasi. Selain itu, preferensi sumber informasi mahasiswa PTKIN juga menunjukkan perbedaan yang khas dibandingkan mahasiswa umum. Mahasiswa PTKIN yang banyak berasal dari latar belakang pesantren cenderung mengandalkan strategi belajar yang terstruktur dan bergantung pada arahan guru atau dosen, sehingga lebih menyukai sumber-sumber yang otoritatif seperti buku teks dan artikel jurnal. 13 Sementara itu, mahasiswa umum lebih fleksibel dalam strategi belajarnya dan cenderung menggunakan kombinasi sumber formal dan informal seperti YouTube dan Wikipedia. 14 Akses terhadap e-book dan basis data ilmiah juga cukup berkembang di PTKIN, tetapi variasi preferensi ini tetap dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, kebiasaan belajar, dan ketersediaan koleksi di institusi masing-masing. 15 Di UIN Saizu, koleksi digital telah disediakan oleh perpustakaan dalam berbagai bentuk, mulai dari repository, e-book, e-journal, hingga platform digital keagamaan. Namun demikian, belum diketahui secara pasti bagaimana tingkat pemanfaatan dan preferensi mahasiswa terhadap sumber informasi tersebut. Apakah koleksi digital yang telah disediakan sudah dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa? Ataukah mahasiswa masih cenderung memilih format cetak? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar penting dilakukannya penelitian ini. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecenderungan atau preferensi mahasiswa UIN Saizu dalam memanfaatkan sumber informasi, baik dalam format cetak maupun digital. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan koleksi dan strategi layanan informasi yang lebih sesuai dengan karakteristik mahasiswa di lingkungan PTKIN, serta memperkaya khazanah studi literasi informasi di perguruan tinggi berbasis keislaman.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) 16 dengan desain explanatory sequential. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap kecenderungan mahasiswa dalam memilih sumber referensi, baik dari sisi kuantitatif (data statistik) maupun kualitatif (pemahaman mendalam dari pengalaman mahasiswa). Desain ini melibatkan dua tahap utama: pertama, pengumpulan dan analisis data secara kuantitatif untuk mengidentifikasi kecenderungan umum mahasiswa dalam memilih sumber referensi; kedua, dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif untuk memperdalam pemahaman terhadap temuan kuantitatif tersebut. Metode Kuantitatif Metode kuantitatif dalam penelitian ini bersifat deskriptif sederhana. Data kuantitatif diperoleh dengan cara menyebar kuesioner kepada mahasiswa secara random sampling. Tujuan menggunakan teknik random sampling adalah untuk memastikan bahwa data didapat secara obyektif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Sarjana (S1) UIN Saizu, yaitu sejumlah 12.000 mahasiswa. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut: = N (1+ N.(e) 2 ) = 12.000 1 + 12.000.(0,05) 2 = 12.000 / 31 = 387 N = jumlah populasi = 12.000 e = Batas toleransi kesalahan (error tolerance) = 0.05. n = jumlah sampel = 387 Dengan demikian, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 387 mahasiswa. Data yang diperoleh dari kuesioner tersebut akan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk persentase untuk menunjukkan proporsi pemilihan masing-masing sumber referensi oleh mahasiswa. Metode Kualitatif Setelah mendapatkan data dari tahap kuantitatif, peneliti melanjutkan pengumpulan data dengan pendekatan kualitatif untuk menggali pemahaman yang lebih mendalam mengenai kecenderungan mahasiswa dalam memilih jenis sumber informasi. Data kualitatif dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara terhadap mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik random sampling, yang mana Aturan dasar dari random sampling (pengambilan sampel acak) adalah bahwa sampel-sampel tersebut, yang diambil dari suatu populasi, memberikan estimasi terhadap parameter yang terdapat dalam keseluruhan populasi 17 . Selanjutnya dikembangkan dengan snowball sampling, Dalam snowball sampling, peneliti mengumpulkan data dari beberapa anggota populasi sasaran yang berhasil ditemukan terlebih dahulu, lalu meminta mereka untuk memberikan informasi yang dapat membantu menemukan anggota lain dari populasi tersebut yang mereka kenal. Istilah “bola salju” merujuk pada proses akumulasi, di mana setiap subjek yang berhasil ditemukan kemudian merekomendasikan subjek lain. Karena prosedur ini menghasilkan sampel yang representativitasnya diragukan, teknik ini umumnya digunakan untuk tujuan eksploratif dalam penelitian 18 . Pada penelitian kualitatif, jumlah sampel tidak ditentukan secara pasti sejak awal, karena fokus utama adalah pada kedalaman informasi yang diperoleh, bukan pada jumlah partisipan. Jika data yang terkumpul sudah mampu menjelaskan fenomena yang diteliti, maka jumlah sampel dianggap cukup. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa UIN Saizu, sedangkan objek penelitian adalah kecenderungan mahasiswa dalam memilih jenis sumber informasi sebagai referensi akademik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, studi literatur, dan dokumentasi. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan teori Miles dan Huberman, meliputi tahapan reduksi data melalui seleksi, pemfokusan dan penyederhanaan informasi, penyajian data dalam bentuk narasi, serta penarikan kesimpulan berdasarkan pola dan temuan yang muncul dari hasil analisis.

Result & Discussion

Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2025 melalui penyebaran kuesioner kepada mahasiswa UIN Saizu, dengan total responden sejumlah 482 mahasiswa. Penyebaran kuesioner dilakukan secara acak dan diperoleh responden yang terdiri dari 78,6% perempuan dan 21,4% laki-laki. Diagram 1. Diagram Jenis Kelamin Responden Sumber: Hasil olahan peneliti (2024) Hasil kuesioner menunjukkan bahwa jenis sumber informasi yang paling banyak digunakan mahasiswa UIN Saizu ialah jurnal online mencapai 51,7%, buku teks 23,2%, ebook 17%, repository 5,6 % dan karya ilmiah dosen 2,5%. Hasil tersebut ditunjukkan dalam tabel dan diagram berikut ini. Tabel 1. Daftar Hasil Kuesioner No Jenis Sumber Informasi Presentase 1 Jurnal Online 51,7% 2 Buku Teks 23,2% 3 Ebook 17% 4 Repository 5,6% 5 Karya Ilmiah Dosen 2,5% Sumber: Hasil olahan peneliti (2024) Diagram 2. Diagram Respon Kecenderungan Pemilihan Sumber Informasi Sumber: Hasil olahan peneliti (2024) Temuan ini memperlihatkan bahwa mahasiswa cenderung memilih sumber informasi digital, khususnya jurnal online. Hal ini sesuai dengan hasil studi The Academic Reading Format International Study, 19 yang menyatakan bahwa meskipun buku teks cetak masih diminati, preferensi mahasiswa perlahan bergeser ke sumber digital karena fleksibilitas akses dan kemudahan penggunaan. Selain itu, keterampilan teknologi mahasiswa generasi milenial dan Z turut menjadi faktor pendorong dalam pemanfaatan sumber digital. Sebagaimana dijelaskan Dolničar dan Podgornik 20 bahwa kemampuan penggunaan teknologi informasi menjadi faktor kunci dalam literasi informasi. Mahasiswa yang mampu mengakses dan mengelola sumber informasi digital dengan lebih efektif akan cenderung memilih referensi yang dapat diakses dengan cepat dan praktis dari perangkat digital mereka. Untuk memperdalam temuan mengenai data tersebut, maka peneliti melakukan wawancara terhadap beberapa mahasiswa. Seluruh informan menyatakan bahwa mereka menggunakan jurnal online sebagai sumber referensi utama dalam Menyusun tugas akademik. Hal ini sejalan dengan temuan tahap penelitian kuantitatif. Berdasarkan hasil wawancara, para informan mengemukakan pertimbangan pemilihan jurnal online sebagai sumber referensi utama mereka. Seluruh informan menyampaikan bahwa kemudahan akses merupakan faktor utama dalam pemilihan jurnal online sebagai sumber referensi. Selain kemudahan akses, salah satu informan mengungkapkan pendapat lain yaitu “Di dalam jurnal online lebih banyak materi dan lebih banyak referensi dalam 1 cakupan jurnal”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung memilih sumber yang menyediakan informasi luas dan relevan dalam satu platform, sehingga memudahkan mahasiswa dalam menemukan referensi yang berkaitan sesuai dengan kebutuhan akademik. Berdasarkan hasil wawancara, proses penelusuran jurnal online oleh mahasiswa menunjukkan kecenderungan penggunaan Google Scholar. Platform ini dipilih karena dinilai menawarkan kemudahan akses serta berbagai fitur pencarian yang mendukung kebutuhan akademik. Salah seorang informan mengungkapkan “Kalau pakai Google Scholar lebih mudah mencari, kan ada pilihan tahunnya, disitu juga bisa nyari ke semua sumber jurnal”. Pernyataan tersebut menunjukkan preferensi mahasiswa terhadap fitur-fitur yang memudahkan proses pencarian informasi. Fitur-fitur yang disediakan Google Scholar antara lain adalah artikel terkait, navigasi yang mudah, rujukan dalam bahasa Indonesia, dan akses terbuka tanpa biaya. Mahasiswa cenderung menggunakan Google Scholar sebagai platform utama dalam pencarian jurnal, meskipun tersedia berbagai pengindeks jurnal yang lain seperti DOAJ, Scopus, Science Direct, dan Moraref. Preferensi ini sebagian besar disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan mahasiswa mengenai keberadaan dan fungsi platform ilmiah tersebut. Google Scholar sendiri memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya popular di kalangan mahasiswa, antara lain yaitu akses terbuka dan gratis, cakupan dokumen luas, antarmuka sederhana, indeksasi kutipan, serta fitur analisis sitasi yang memudahkan proses penelusuran literatur. Dominasi penggunaan Google Scholar menimbulkan kekhawatiran terhadap rendahnya eksplorasi mahasiswa terhadap sumber informasi lain yang lebih terkurasi dan bereputasi. Keterbatasan eksplorasi terhadap sumber informasi ilmiah lain tidak hanya membatasi keragaman referensi dalam karya ilmiah, tetapi juga berdampak pada kurangnya kemampuan mahasiswa dalam mengevaluasi validitas dan reputasi sumber yang digunakan. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan dalam literasi informasi, yang dapat berdampak negatif pada kualitas tugas akhir maupun publikasi akademik yang dihasilkan mahasiswa. Pemilihan sumber informasi oleh mahasiswa juga sangat dipengaruhi oleh rekomendasi dari dosen. Sebagaimana dalam temuan penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa 91,3% mahasiswa mendapatkan rekomendasi dari dosen untuk menggunakan sumber referensi digital dalam mengerjakan tugas kuliah. Hal tersebut menunjukkan bahwa dosen memiliki peran strategis sebagai agen literasi informasi bagi mahasiswa. Oleh karena itu, sinergi antara dosen dan perpustakaan perlu diperkuat untuk membentuk pola pencarian informasi yang lebih kritis, efektif, dan berbasis pada sumber yang kredibel. Diagram 3. Diagram Respon Terkait Rekomendasi Dosen Sumber: Hasil olahan peneliti (2024) Penelitian ini mengidentifikasi bahwa mayoritas mahasiswa merujuk jurnal online sebagai sumber referensi utama, namun belum secara optimal memanfaatkan platform pengindeks jurnal ilmiah yang telah dilanggan oleh perpustakaan, yaitu Scopus. Sebanyak 64% mahasiswa menyatakan tidak mengetahui keberadaan Scopus sebagai sumber informasi, sementara 36% lainnya sudah mengetahui. Beberapa mahasiswa mengemukakan bahwa penggunaan bahasa Inggris pada konten Scopus menjadi salah satu kendala dalam pemanfaatannya. Di samping itu, persyaratan registrasi sebelum mendapatkan akses terutama ketika berada di luar jaringan kampus menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terbatasnya intensitas pemanfaatan platform tersebut di kalangan mahasiswa. Diagram 4. Diagram Respon terkait Pengetahuan Mahasiswa pada Jurnal yang Dilanggan Sumber: Hasil olahan peneliti (2024) Peneliti melakukan klarifikasi kepada pihak perpustakaan menelusuri faktor yang menyebabkan mahasiswa belum mengetahui keberadaan layanan akses Scopus. Pihak perpustakaan menjelaskan bahwa sosialisasi mengenai platform pengindeks Scopus telah dilakukan pada awal perkuliahan melalui program pendidikan pemakai. Selain itu, perpustakaan juga secara rutin menyelenggarakan workshop literasi informasi setiap tahun, meskipun dengan keterbatasan jumlah peserta. Selain melalui sosialisasi langsung, perpustakaan juga telah memanfaatkan media sosial, khususnya akun instagram perpustakaan untuk mempublikasikan layanan Scopus. Namun demikian, berdasarkan hasil verifikasi peneliti, promosi di instagram tersebut masih minim. Padahal, temuan penelitian Kusuma 21 menunjukkan bahwa instagram merupakan media komunikasi efektif perpustakaan UIN Saizu dan mahasiswa. Selain jurnal online, buku teks masih menjadi salah satu sumber yang diandalkan oleh mahasiswa. Sejumlah 23,2% memilih buku teks sebagai preferensi sumber informasi yang digunakan. Mahasiwa dari program studi keagamaan umumnya menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap literatur berbasis kitab klasik, sehingga masih banyak mahasiswa yang menggunakan kitab tercetak sebagai referensi mereka. Sementara itu, mahasiswa program studi lainnya cenderung memanfaatkan buku teks sebagai dasar penyusunan landasan teori pada karya ilmiah. Berbeda dengan buku teks, koleksi e-book yang disediakan oleh perpustakaan hanya digunakan oleh 17% responden sebagai sumber referensi. Akses terhadap e-book memiliki mekanisme yang berbeda dibandingkan jurnal daring, karena memerlukan prosedur tertentu sebelum dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Di UIN Saizu, misalnya, koleksi e-book salah satunya tersedia melalui aplikasi e-Library. Pengguna perlu mengunduh aplikasi tersebut melalui Play Store, kemudian melakukan proses registrasi. Pendaftaran ini baru dapat digunakan setelah diverifikasi oleh petugas perpustakaan. Setelah seluruh tahapan tersebut dilalui, barulah mahasiswa dapat mengakses koleksi yang tersedia. Beberapa prosedur ini dinilai kurang efisien oleh sebagian mahasiswa dan menjadi alasan mengapa e-book kurang diminati. Seorang informan menyampaikan, “Dulu pernah mau daftar, tapi belum jadi, karena harus download dulu ya, Bu.” Kompleksitas akses inilah yang mendorong banyak mahasiswa beralih ke sumber informasi lain yang dirasa lebih praktis dan mudah diakses. Serupa dengan akses pada e-Library, repositori perguruan tinggi juga belum menjadi sumber informasi utama yang diandalkan mahasiswa (5,6%). Salah satu faktor penyebabnya adalah keterbatasan akses terhadap repositori milik universitas lain, yang umumnya mengharuskan pengguna melakukan autentikasi terlebih dahulu untuk memperoleh dokumen yang dibutuhkan. Kondisi ini membuat mahasiswa lebih bergantung pada repositori UIN Saizu yang dapat diakses secara terbuka. Mahasiswa saat ini cenderung mengutamakan efisiensi dan aksesibilitas dalam memperoleh informasi akademik. Beberapa prosedur teknis tersebut dinilai tidak praktis, sehingga mereka lebih memilih sumber referensi yang dapat diakses secara langsung seperti jurnal online. Karya ilmiah dosen menempati urutan terakhir dalam preferensi mahasiswa sebagai sumber referensi (2,5%). Kondisi ini disebabkan oleh cakupan topik yang relatif terbatas, sehingga mahasiswa merasa perlu mencari referensi tambahan guna memperkaya dan melengkapi data dalam karya tulis mereka. Proses pencarian informasi melalui penelusuran digital sebenarnya memberikan peluang untuk mengakses sumber yang lebih luas dan mutakhir. Namun, optimalisasi proses ini belum tercapai secara maksimal karena sebagian besar mahasiswa masih bergantung pada Google Scholar sebagai basis data utama. Beragam sumber lain seperti Scopus, e-Resources Perpustakaan Nasional, Moraref, dan basis data ilmiah lainnya belum dimanfaatkan secara optimal. Fenomena ini menjadi catatan penting bagi perpustakaan untuk meningkatkan strategi sosialisasi dan edukasi terkait pemanfaatan sumber informasi digital yang telah dilanggan maupun yang tersedia secara terbuka.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa UIN Saizu menunjukkan kecenderungan terhadap penggunaan sumber informasi digital, khususnya jurnal daring, dengan Google Scholar sebagai alat penelusuran utama. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran kecenderungan mahasiswa dalam menggunakan sumber informasi konvensional ke sumber informasi digital yang dinilai lebih mudah diakses dan praktis. Meskipun demikian, pemanfaatan sumber informasi digital yang telah disediakan secara resmi oleh perpustakaan, seperti Scopus dan layanan e-library, masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan sumber dan tingkat pemanfaatannya oleh mahasiswa. Sebagai implikasi dari temuan penelitian ini, perpustakaan UIN Saizu diharapkan dapat mengembangkan koleksi dan layanan informasi yang lebih selaras dengan kebutuhan dan preferensi mahasiswa masa kini. Penguatan sosialisasi terkait sumber-sumber informasi yang dimiliki perpustakaan menjadi hal yang krusial untuk meningkatkan pemanfaatan koleksi secara optimal. Di samping itu, perpustakaan juga perlu menyelenggarakan program peningkatan literasi informasi, khususnya dalam bentuk pelatihan keterampilan penelusuran sumber digital secara efektif dan kritis. Mahasiswa cenderung lebih memanfaatkan sumber informasi perpustakaan apabila aksesnya mudah dan tidak rumit. Oleh karena itu, perpustakaan perlu menyederhanakan prosedur akses layanan e-library. Untuk mendukung pengembangan layanan ke depan, disarankan dilakukan penelitian lanjutan guna mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi preferensi mahasiswa dalam memilih sumber informasi.