Kembali
16
1
2019 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 21 · 1 ISSN 2502-7409

HUBUNGAN LITERASI DIGITAL DENGAN SELF DIRECT LEARNING PADA MAHASISWA DI DAERAH MISKIN SUMATERA

Universitas Bengkulu

Abstrak

Pencarian bahan kuliah melalui media digital lebih banyak digunakan dibandingkan dengan media konvensional. Literasi informasi artinya dapat mengevaluasi dan menggabungkan informasi. Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini menuntut mahasiswa untuk dapat mengikutinya. Akan tetapi, dengan persentase kemiskinan sebesar 16,45%, Provinsi Bengkulu memiliki tantangan yang lebih besar untuk mengejar ketertinggalan. Penting untuk menganalisis bagaimana hubungan literasi informasi digital dengan self direct learning (SDL) pada mahasiswa di daerah miskin Kepulauan Sumatra. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2018 dengan responden sebanyak 100 orang mahasiswa. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan rank spearman untuk melihat hubungan antara literasi informasi dengan self direct learning (SDL). Berdasarkan hasil penelitian, mengidentifiasi informasi berhubungan signifikan dengan belajar mengelola diri. Selanjutnya mengevaluasi sumber informasi berhubungan signifikan dengan siswa berfikir secara mandiri. Sementara faktor lainnya tidak saling berhubungan.

Abstract

Searching for lecture materials through digital media is more widely used compared to conventional media. Information literacy means being able to evaluate and combine information. The rapid development of information technology now requires students to be able to follow it. However, with a poverty percentage of 16.45%, Bengkulu Province has a more significant challenge to catch up. It is important to analyze how the relationship between digital information literacy and self-direct learning for students in weak areas of the Sumatra islands. The study was conducted in May 2018 with respondents as many as 100 students. Data processing is done by using rank spearman to see the relationship between information literacy and selfdirect learning. Based on the results of the study, identifying information is significantly related to learning to self-manage. Furthermore, evaluating information sources is significantly related to students thinking independently. While other factors are not related.
Keywords: literasi · informasi · mahasiswa · sdl · spearman

Introduction

Informasi digital saat ini merupakan hal yang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Kemajuan teknologi informasi berbasis digital sudah dapat dirasakan oleh seluruh warga Indonesia termasuk di daerah-daerah terpencil untuk mengakses informasi melalui media digital. Begitu pula dengan informasi pembelajaran dalam kegiatan belajar dan mengajar yang saat ini erat sekali kaitannya dengan informasi digital. Akses pembelajaran dalam mencari literasi melalui media digital lebih banyak digunakan dibandingkan dengan media konvensional. Literasi informasi disebut juga melek informasi, yakni kesadaran akan kebutuhan informasi seseorang, mengidentifikasi, pengaksesan secara efektif efisien, mengevaluasi, dan menggabungkan informasi secara legal ke dalam pengetahuan dan mengkomunikasikan informasi itu(Lasa, 2009).Dengan kesadaran ini akan mendukung perkembangan proses pembelajaran sepanjang hayat / long life education (Lasa, 2009). Kebutuhan literasi informasi mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran lebih cenderung dilakukan melalui media digital dibandingkan dengan mencari literasi pada buku bacaan dan perpustakaan. Kondisi demikian menyebabkan proses literasi informasi di era digital sangat berkembang, hingga saat ini perpustakaan sebagai penyedia informasi sudah banyak yang menggunakan sistem digital untuk meningkatkan performanya. Perpustakaanperpustakaan online sudah sangat mudah diakses dan tidak perlu datang langsung ke perpustakaan tersebut untuk memperoleh informasi. Mahasiswa sebagai pembelajar dan dituntut untuk dapat melakukan literasi informasi tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan teknologi. Termasuk mahasiswa yang berada pada daerah tertinggal, peran teknologi digital sudah dapat menjangkau mereka. Sumatra merupakan kepulauan terbesar di Indonesia dan membentang dari Sabang hingga ke Lampung dengan jumlah universitas yang tergolong besar. Akan tetapi di daerah Sumatra, masih memiliki provinsi tertinggal dengan persentase kemiskinan 16,45% yaitu provinsi Bengkulu (BPS, 2018). Provinsi Bengkulu menjadi provinsi tertinggal dengan tingkat kemiskinan paling besar kedua di Sumatra setelah Aceh. Bengkulu sampai saat ini hanya memiliki 1 universitas negeri, 4 sekolah tinggi negeri dan beberapa perguruan tinggi swasta lainnya. Berkaitan dengan ketertinggalannya tersebut, mahasiwa di Provinsi Bengkulu memiliki tantangan lebih untuk mengadopsiliterasi informasi pembelajaran dibandingkan provinsi lainnya di Sumatera. Ketersediaan perpustakaan yang terbatas merupakan hambatan bagi mahasiswa. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan literasi informasi digital yang tanpa batas, sehingga mahasiswa cenderung menggunakan informasi digital dibandingkan dengan perpustakaan. Literasi informasi secara digital dinilai memiliki dampak yang sangat luar biasa. Dampak positif yang terjadi ialah kemudahan akses kebutuhan informasi. Kemampuan akan akses literasi informasi via digital diharapkan akan menimbulkan self direct learning pada mahasiswa. Kemampuan akses informasi via internet dapat mendukung proses self direct learning pada mahasiswa. Hal ini memiliki arti bahwa informasi dan memenuhi kebutuhan belajar, memfasilitasi komunikasi interpersonal, dan menyediakan kelompok diskusi, serta terhubung dengan teman-teman di media sosial (Rahardjo, 2016). Akan tetapi dampak negatifnya ialah informasi yang disalahgunakan karena tidak dievaluasi secara kritis oleh sebagian mahasiwa. Berdasarkan permasalahan tersebut, penting untuk di analisis bagaimana hubungan literasi digital dengan self direct learning mahasiswa di daerah miskin kepulauan Sumatra. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah menganalisis hubungan antara literasi digital dengan kemampuan mahasiswa dalam melakukan self direct learning di daerah miskin kepulauan Sumatra. II. TINJAUAN LITERATUR A. Literasi Digital Literasi digitalerat kaitannya dengan bagaimana memperoleh informasi dan mendalaminya hingga mengevaluasinya. Menurut Hildawati (2010), Serangkaian keterampilan dalam menyelesaikan dan mencari jalan keluar suatu masalah dimulai dari identifikasi, menemukan, mengevaluasi,menyusun, menciptakan, menggunakan dan mengomunikasikannya merupakan definisi dari literasi komunikasi. Sementara Nurfadhilah, Agustini, dan Sumiati (2012)mengemukakan bahwa literasi informasi ialah kemampuan memanfaatkan alat-alat informasi untuk memperoleh informasi. Kedua pendapat tersebut menunjukkan bahwa untuk memecahkan suatu masalah dibutuhkan kemampuanliterasi informasi dengan memanfaatkan alat-alat komunikasi saat ini khusunya internet dan sosial media. Media pencarianinformasi yang digunakan mahasiswa ialah melalui buku di perpustakaan. Hal ini menuntut pustakawan memiliki kemampuan literasi informasi (Andriani, 2011).Menurut Septiana dan Marlini (2012), optimalisasi kemampuan literasi informasi dalam memanfaatkan teknologi informasi sudah disediakan, akan tetapi pustakawan masih belum mampu membantu siswa dalam pencarian informasi yang tepat dan cepat. Peran pustakawan dalam melakukan literasi informasi ialah terdapat delapan model, akan tetapi baru dapat diaplikasikan pustakawan dalam dua mode yaitu identifikasi dan aplikasi (Widyastuti et al. 2016). Faktor yang memengaruhi literasi informasi Pustakawan Indonesia meliputi ketersediaan komputer dan jaringan internet (Wicaksono, 2016). Kecenderungan kemampuan literasi informasi masih perlu ditingkatkan terutama pada kemampuan mengevaluasi informasi (Rufaidah, 2013). Sehingga pustakawan harus mengembangkan teknik-teknik yang tepat dalam penelusuran untuk mencari informasi (Doherty, Hansen dan Kaya,1999). Kemampuan literasi informasi wajib dimiliki oleh pustakawan sebagai bekal dalam memilih informasi yang akan diadakan di perpustakaan (Ganngi, 2017). Media sosial merupakan salah satu media yang banyak dimanfaatkan pelajar dalam pencarian informasi (Rahman, 2015).Perpustakaan sebagai tempat memperoleh informasi jarang diguunakan. B. Self Direct Learning Self Direct Learning merupakan metode dalam pembelajaran yang harus dimiliki oleh pelajar disamping mereka mendapatkan pembelajaran di sekolah atau universitas. Salah satu kegiatan Self Direct Learning yang dilakukan oleh pelajar ialah menyerap informasi pengajaran melalui media perpustakaan. Akan tetapi penerapan SDL saat ini ditemukan bahwa kecenderungan ketidakpuasan mahasiswa terhadap dukungan, dan aspek fasilitas perpustakaan yang belum memiliki fungsi optimal (Fajrin, 2014). SDL akan menciptakan kesadaran individu untuk membentuk dan mengatasi sifat ketergantungan pada media pembelajaran dikelas (Istiyani, 2009). SDL ditemukan lebih baik dibandingkan dengan cara konvensional (belajar dikelas) dalam pembelajaran siswa (Kleden, 2015). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Taylor (2001) yang menyatakan bahwa SDL tidak akan berjalan baik dibanding metode konvensional karena kurangnya kontrol dari guru. SDL lebih baik diterapkan pada pendidikan orang dewasa yaitu perguruan tinggi (Merriam, 2001). Sejalan dengan hal tersebut, Canipe & Fogerson (2006) menyatakan bahwa minat mahasiswa terhadap SDL sangat kuat dan tinggi. Menurut Aristana, Kusmariyatni, dan Widiana (2014), pemanfaatan SDL dapat membuat kemampuan berfikir kritis dibanding dengan model pembelajaran konvensional. Keyakinan pembelajar dalam mengembangkan kompetensi mereka dalam belajar sangat tergantung dari metode SDL yang mereka terapkan (Scoot, 2006). SDL lebih menekankan kepada kebebasan, otonomi, dan pilihan seseorang untuk mencari informasi yang mereka butuhkan (Brockett, 2006). Dalam sistem pembelajaran perguruan tinggi, untuk meningkatkan SDL diperlukan jejaring internet yang memadai (Rahardjo, 2016) dan media sosial merupakan media yang paling diminati mahasiswa dalam akses informasi. SDL online dapat membantu pelajar mengidentifikasi informasi secara transkontekstual, pengalaman belajar yang unik, dan mampu menggunakan wawasan strategik dalam pembelajaran (Song & Hill, 2007).

Method

Penelitian dilakukaan pada salah satu daerah miskin yang berada di kepulauan Sumatera, yaitu Provinsi Bengkulu. Provinsi Bengkulu menduduki peringkat kedua daerah miskin dan tertinggal di provinsi Sumatra. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2018 dengan responden sebanyak 100 orang mahasiswa. Mahasiswa yang dipilih ialah mahasiswa dari Universitas Bengkulu yang merupakan satusatunya universitas negeri yang berada di Bengkulu dengan total mahasiswa lebih banyak dibandingkan dengan universitas lainnya. Data yang digunakan ialah data primer yag diambil langsung menggunakan teknik penyebaran kuesioner. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan rank spearman untuk melihat hubungan antara literasi informasi dengan self direct learning. Rank spearman digunakan untuk melakukan analisis terhadap hubungan data antara beberapa kelompok data dan menguji hipotesis mengenai hubungan peubah bebas dengan peubah terikat (Kriyantono, 2009; Setiawan et al. 2017). !" = 1 − 6 ∑ () *(*) − 1) Keterangan: rs (rho) = koefisien korelasi rank-order d2 = perkalian perbedaan pasangan antaradua set nilai yang telah diurutkan n = jumlah kasus atau sampel yang diurut Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ialah variabel literasi informasi (LI) dan variabel Self Direct Learning (SDL) yang terangkum pada Tabel 1. Variabel tersebut digunakan sebagai parameter untuk menganalisis hubungan Antara LI dan SDL. TABEL 1. VARIABEL LI DAN SDL Variabel Literasi Informasi Variabel Tahapan SDL Mengidentifikasi informasi Mahasiswa berpikir secara mandiri Menemukan informasi Belajar memanajemen diri Mengevaluasi sumber informasi Belajar perencanaan diri Menggunakan informasi Self directed learning Adapun hipotesis dalam penelitian ini ialah: 1. Mengidentifikasi informasi berhubungan signifikan dengan mahasiswa berpikir secara mandiri 2. Mengidentifikasi informasi berhubungan signifikan dengan belajar memanejemen diri 3. Mengidentifikasi informasi berhubungan signifikan dengan perencanaan diri 4. Mengidentifikasi informasi berhubungan signifikan dengan SDL 5. Menemukan informasi berhubungan signifikan dengan mahasiswa berpikir secara mandiri 6. Menemukan informasi berhubungan signifikan dengan belajar memanejemen diri 7. Menemukan informasi berhubungan signifikan dengan perencanaan diri 8. Menemukan informasi berhubungan signifikan dengan SDL 9. Mengevaluasi sumber informasi berhubungan signifikan dengan mahasiswa berpikir secara mandiri 10. Mengevaluasi sumber informasi berhubungan signifikan dengan belajar memanejemen diri 11. Mengevaluasi sumber informasi berhubungan signifikan dengan perencanaan diri 12. Mengevaluasi sumber informasi berhubungan signifikan dengan SDL 13. Menggunakan informasi berhubungan signifikan dengan mahasiswa berpikir secara mandiri 14. Menggunakan informasi berhubungan signifikan dengan belajar memanejemen diri 15. Menggunakan informasi berhubungan signifikan dengan perencanaan diri 16. Menggunakan informasi berhubungan signifikan dengan SDL

Discussion

A. Gambaran Umum Responden Responden penelitian merupakan mahasiswa aktif dari Universitas Bengkulu yang merupakan satusatumya unversitas negeri di Provisi Bengkulu. Mayoritas responden memiliki jenis kelamin laki-laki dengan besarnya persentase yaitu 54%. Sementara responden perempuan yaitu 46% dengan besaran nilai yang tidak terlalu berbeda dengan persentase laki-laki. Angkatan mahasiswa mayoritas ialah diatas angkatan 2014 sebesar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden merupakan angkatan akhir dengan kebutuhan akan literasi digital lebih banyak untuk proses pengerjaan tugas akhir. Mayoritas responden berasal dari dalam Bengkulu atau 82%, sementara dari luar Bengkulu ialah 18%. Hal ini menunjukkan bahwa Universitas Bengkulu lebih banyak diisi oleh mahasiswa yang berasal dari daerahnya sendiri. Mayoritas responden berusia dibawah 21 tahun dengan persentase sebesar 69%. Mayoritas responden berasal dari fakultas pertanian dengan persentase sebesar 46% lebih besar dibanding fakultas lainnya yaitu Mipa, Ekonomi, ilmu pendidikan, pertanian, hukum, kedokteran dan isipol. TABEL 2. GAMBARAN UMUM RESPONDEN Karakteristik Jumlah % Jenis Kelamin Perempuan 46 46 Laki-laki 54 54 Angkatan ≥2011 5 5 2011< x ≤ 2014 35 35 <2014 60 60 Asal Daerah Bengkulu 82 82 Luar Bengkulu 18 18 Usia (tahun) ≥ 21 69 69 21 < x ≤ 24 24 24 < 24 7 7 Fakultas Mipa 6 6 Ekonomi 3 3 Ilmu Pendidikan 12 12 Pertanian 46 46 Hukum 24 24 Kedokteran 3 3 Isipol 6 6 B. Hubungan Literasi Informasi dengan Self Direct Learning Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa mengidentifikasi informasi berhubungan signifikan dengan belajar mengeloladiri dengan nilai rank spearman sebesar 0,302. Selanjutnya mengevaluasi sumber informasi berhubungan signifikan dengan siswa berfikir secara mandiri dengan koefisien rank spearman sebesar 0,296. Sementara faktor lainnya tidak memiliki hubungan. Mengidentifikasi informasi memiliki hubungan dengan mengajarkan belajar memanajemen diri dengan nilai koefisien rank spearman sebesar 0.302. Pada dasarnya kegiatan mahasiswa mencari informasi melalui media digital ialah untuk mengetahui berbagai hal, baik yang besifat akademik maupun non akademik. Teknologi telah mengajarkan kepada mahasiswa sistem kemudahan penelusuran informasi. Mengidentifikasi informasi merupakan kegiatan dalam literasi informasi yang sangat penting dilakukan pada tahapan literasi informasi. Kemampuan mahasiswa dalam melakukan identifikasi informasi sangat erat kaitannya dengan memanajemen diri pada saat melakukaan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa cenderung dengan kegiatan yang banyak berhubungan dengan media digital pada sistem pembelajaran, sehingga kontrol akan tugas-tugas akademik banyak dilakukan pada aplikasi digital seperti smartphone dan fitur sosial medianya. Kondisi tersebut sangat berhubungan dengan memanajemen diri untuk kegiatan akademik. Kegiatan memanajemen diri menjadi terfasilitasi dengan cepat bagi mahasiswa. Manajemen diri membantu pelajar dalam mengontrol kegiatan belajarnya (Asim, 2016). Hal ini dikarenakan informasi yang mereka dapatkan melalui jejaring social dapat secara cepat didapatkan dan disusun dalam penjadwalan kegiatan mereka. Informasi yang sangat cepat tersebut dapat memberikan informasi terbaru bagi mahasiswa dan dengan cepat mereka dapat menyusun penjadwalan untuk memenuhi tugas kuliah dan jadwal-jadwal nonakademik lainnya.Begitu pula denganpengaturan TABEL 3. HUBUNGAN LITERASI INFORMASI (LI) DENGAN TAHAPAN SELF DIRECT LEARNING (SDL) LI SDL Siswa berpikir secara mandiri Belajar mengelola diri Belajar perencanaan diri Self-directed learning Mengidentifikasi informasi 0.187 .302** 0.139 0.152 Menemukan informasi 0.140 -0.024 -0.056 -0.170 Mengevaluasi sumberinformasi .296** 0.131 -0.143 -0.063 Menggunakan informasi 0.044 0.112 -0.104 -0.103 waktu atau manajemen waktu yang sangat berhubungan denngan motivasi kuliah (Andari&Nugraheni, 2016). Hal ini lah yang berperan sangat penting untuk memanajemen diri berkaitan dengan mudah dan cepatnya informasi itu didapatkan. Kegiatan mengerjakan tugas dari dosen cenderung dilakukan mahasiswa dengan mencari keyword menggunakan internet yang sesuai dengan topic yang mereka butuhkan. Penggunaan keyword sesuai topik penelusuran di media digital internet merupakan hal yang lebih cenderung akan mereka lakukan dibandingkan dengan mengidentifikasi informasi melalui media cetak atau buku di perpustaakaan. Erat kaitanya dengan kegiatan memanajemen diri. Penggunaan media digital dinilai lebih praktis dengan performa yang sangat tinggi. Memanajemen diri dalam belajar menggunakan digital salah satunya menggunakan jejaring sosial lebih diminati mahasiswa dibandingkan dengan membaca literature kuliah. Media Sosial merupakan salah satu media yang banyak dimanfaatkan pelajar dalam pencarian informasi (Rahman, 2015). Dalam sistem pembelajaran perguruan tinggi, untuk meningkatkan SDL diperlukan jejaring internet yang memadai (Rahardjo 2016) dan media sosial merupakan media yang paling diminati mahasiswa dalam akses informasi. SDL online dapat membantu pelajar mengidentifikasikan informasi secara transkontekstual, pengalaman belajar yang unik, daan mampu menggunakan wawasan strategic dalam pembelajaran (Song & Hill, 2007). Kegiatan mengidentifikasi bahan perkuliahan lebih diminati ketika bahan perkuliahan tersebut di unggah dosen menggunakan e-learning. Sehingga mahasiswa dengan kapasitas internet yang memadai, mereka dapat mudah mengidentifikasi bahan perkuliahaan dengan cepat, waktu yang fleksibel, dan dimanapun mereka berada. Berdasaran penjelasan tersebut, kegiatan belajar memanajemen diri dinilai lebih mudah mereka lakukan. C. Mengevaluasi Sumber Informasi dengan Siswa Berfikir Mandiri Kegiatan mengevaluasi informasi memiliki hubungan signifikan dengan kemampuan siswa untuk berfikir secaara mandiri. berdasarkan hasil penelitian, nilai koefisien rank spearman yang di dapat yaitu sebesar 0,296. Mengevaluasi informasi yang berhubungan dengan kegiataan akademik yang mahasiswa dapatkan dimedia digital harus memiliki kemampuan berfikir yang mandiri. pada dasarnya setiap informasi yang ada di media digital harus dipastikan terlebih dahulu keakuratannya. Sehingga berfikir mandiri untuk mengevaluasi informasi tersebut sangat dibutuhkan. Kegiatan mengevaluasi informasi dalam penelusuran tugas kuliah di media digital internet dilakukan mahasiswa setelah bahan perkuliahan tersebut mereka dapatkan. Menurut Egok (2016), kemampuan belajar mandiri berhubungan dengan kemampuan berfikir kritis. Sehingga SDl diharapkan nantinya dapat membangun berfikir kritis mahasiswa. Subjek yang pertama kali mahasiswa lihat dalam meliterasi informasi ialah judul dan abstrak dari konten yang ditawarkan media digital. Kemampuan berfikir mandiri dalam hal ini sangat dibutuhkan, karena keputusan individu untuk menggunakan konten tersebut atau tidak. Kegiatan mencari literature ilmiah salah satunya. Banyak situs yang menyediakan informasi baik melalui blogspot, situs repository universitas-universitas, open journal system, google book dan lain-lain. Kemampuan berfikir mandiri untuk menentukan pilihan tersebut sangat diperlukan. Keputusan menggunakan situs yang lebih memiliki kredibilitas atau yang menyediakan kemudahan penelusuran. Contohnya ialah blogspot, blogspot menyediakan informasi yang beragam. Akan tetapi situs ini kurang menunjukkan kredibilitas secara ilmiah dibanding situs-situs repository maupun open journal system. Akan tetapi banyak mahasiswa yang menggunakannya karena alasan kemudahan akses penelusuran. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa 61% mahasiswa lebih menyukai blogspot dibanding situs ilmiah lainnya.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian, belajar melakukan manajemen diri berhubungan signifikan dengan kemampuan literasi informasi yaitu menganalisis informasi. Selanjutnya mengevaluasi kemampuan literasi informasi menyerap sumber informasi berhubungan signifikan dengan kemampuan mahasiswa berfikir secara mandiri. Sementara faktor lainnya tidak saling berhubungan. Hal ini dikarenakan mayoritas mahasiswa tidak tekun melakukan self directed learning walaupun akses literasi digital mudah mere dapatkan