PERAN AKTIF TAMAN BACAAN MASYARAKAT DALAM PEMBENTUKAN PENGETAHUAN: STUDI KASUS PERPUSTAKAAN ANAK BANGSA, KABUPATEN MALANG
Fadel Muhammad Resource Center; Universitas Brawijaya; Universitas Brawijaya
Abstrak
Taman Bacaan Masyarakat merupakan kebutuhan masyarakat yang berangkat dari kebutuhan informasi masyarakat. Selain itu TBM juga lahir karena ketidakpuasan masyarakat terhadap akses informasi yang diberikan oleh layanan perpustakaan daerah. Namun lebih kompleks peran TBM dapat mendukung proses pembentukan pengetahuan masyarakat. Menanggapi hal tersebut lahir Perpustakaan Anak Bangsa yang beraktivitas di Desa Jabung Kabupaten Malang sejak tahun 1998. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan aktivitas Perpustakaan Anak Bangsa dalam mendukung pembentukan pengetahuan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa fokus utama dari peran Perpustakaan Anak Bangsa dalam membantu pembentukan pengetahuan masyarakat dengan menyediakan bahan bacaan. Dalam aktivitas lain, Perpustakaan Anak Bangsa mengambil inovasi dengan mengadakan kegiatan pengembangan masyarakat pemakai dengan menyelaraskan antara fungsi edukasi dan rekreasi. Selain itu, Perpustakaan Anak Bangsa juga berperan aktif pengembangan jejaring informasi di lingkup eksternal.
Abstract
Community library comes from community information needs. Community library was born because of dissatisfaction to information access in public library service. Community library also can support the process of community knowledge creation in the society. Perpustakaan Anak Bangsa is a community library which operates in Jabung Village Malang Disctrict since 1998. The aim of this research is to demonstrate the Perpustakaan Anak Bangsa activities in society knowledge creation process. This research used case study method with qualitative approach. The research shows that Perpustakaan Anak Bangsa’s main role is helping the process of knowledge creation by providing reading materials. In other activity, Perpustakaan Anak Bangsa makes an innovation with correlation between eduction function and recreation through user communities’ development. Perpustakaan Anak Bangsa is also active in information network.
Keywords:
taman bacaan masyarakat
· pembentukan pengetahuan
· Perpustakaan Anak Bangsa
Introduction
IFLA melaporkan pada tahun 2013 bahwa dari 320.000 perpustakaan daerah dan perpustakaan komunitas di dunia, 230.000 terdapat di negara berkembang (Stranger-Johannessen, 2015), salah satunya di Indonesia. Di pulau jawa sendiri dilansir dari website resmi Kantor Pos Indonesia (http://www.posindonesia.co.id/index.php/daftaralamat-taman-bacaan-masyarakat) terdapat 692 perpustakaan komunitas atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) terdaftar sebagai penerima donasi buku dalam program Free Cargo Literacy (FCL) atau Pustaka Bebas Bea (PBB) yang dilaksanakan rutin setiap bulan pada tanggal 17. Keberadaan program tersebut merupakan salah satu wujud apresiasi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak terkait kesadaran akan dunia pendidikan. Berdasarkan data tersebut angka tertinggi jatuh pada Provinsi Jawa Timur dengan 208 TBM yang tersebar di masing-masing kabupaten. Setiap TBM sendiri memiliki warnanya masing-masing, tidak jarang kondisi tersebut memicu adanya kolaborasi antar-TBM. Seperti yang ditunjukkan di Kota Malang, beberapa TBM fokus hanya pemenuhan kebutuhan koleksi masyarakat. Namun tidak sedikit yang hadir hingga titik pemberdayaan informasi yang menyentuh dampak pada masyarakat pemakai. Sebuah hal menarik dari aktivitas TBM di berbagai daerah namun fokusnya melalui data yang diolah pada tahun 2017, di Kabupaten Malang dan Kota Malang dilakukan secara pribadi hingga faktor finansial. Terlepas dari kondisi tersebut kebanyakan TBM masih aktif menjalankan aktivitas literasi untuk masyarakat sekitar TBM tersebut berdiri. Berbagai kemungkinan hadir terkait alasan-alasan menjamurnya TBM di Jawa Timur. Melalui wawancara tanggal 4 Februari 2017, Santoso Mahargono selaku pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang yang sekaligus menjabat sebagai Forum Komunikasi Taman Bacaan Masyarakat (FKTBM) Malang Raya menjelaskan, bahwa TBM hadir karena ketidakpuasan masyarakat terhadap perpustakaan dalam menjalankan perannya. Selanjutnya yang menarik adalah aktualisasi kegiatan TBM yang sebagian besar dilakukan tanpa dilatarbelakangi pengetahuan kepustakawanan. Pembahasan pengembangan TBM sebelumnya dapat dilihat dari aktivitas yang terjadi. Apabila dilihat secara dekat pertukaran ide dan informasi yang terjadi dalam aktivitas TBM dari masing-masing pihak akan bedampak pada peningkatan pemahaman bersama. Di antaranya hubungan alami yang berasal dari integrasi pengalaman masyarakat lokal, budaya yang diyakini, kehidupan sosial ekonomi yang secara tidak sadar sedang menciptakan pemahaman bersama melalui infrastruktur pendidikan (Hautecoeur, 2002; Stranger-Johannessen, 2015). Sebagai studi kasus, tulisan ini meyoroti aktivitas Perpustakaan Anak Bangsa di Kabupaten Malang yang dikembangkan oleh Eko Cahyono. Aktivitas literasi tersebut sudah berjalan sejak tahun 1998 hingga sekarang. Latarbelakang pendirian berdasarkan ikatan emosial Eko Cahyono dengan buku yang memotivasi untuk mendirikan Perpustakaan Anak Bangsa. Selama 18 tahun beraktivitas, berdasarkan data koleksi di Perpustakaan Anak Bangsa tahun 2016 sudah mencapai 56.000 eksemplar dan masih bertambah sampai saat ini. Pengadaan koleksi juga dijelaskan oleh Eko Cahyono merupakan hasil donasi dari berbagai pihak. Dengan keberagaman koleksi Perpustakaan Anak Bangsa telah memiliki 17.501 anggota (data tahun 2016) yang berasal dari berbagai golongan dan daerah, serta jumlah kunjungan 50-300/hari. Selanjutnya, sebagai interaksi dengan pengguna, Perpustakaan Anak Bangsa juga memfasilitasi dalam mengembangkan potensi pengguna melalui sumber daya yang dimiliki. Tidak berbeda dengan TBM pada umumnya, Perpustakaan Anak Bangsa menghadirkan kegiatan-kegiatan tambahan berbasis pengembangan masyarakat pemakai. Kegiatan yang diadakan oleh Eko Cahyono lebih bersifat rekreasi namun tetap dalam koridor pendayagunaan koleksi dari Perpustakaan Anak Bangsa. Manajemen Pengetahuan atau knowledge management lebih diartikan sebagai proses belajar efektif terkait dengan exploration, exploitation dan sharing of human knowledge (tacit dan explicit) yang disesuaikan menggunakan teknologi dan kultur lingkungan untuk memperluas kinerja dan capital intelektual organisasi (Jashapara, 2011). Sedangkan Knowledge sharing yang masuk dalam rangkaian proses tersebut masuk pada pemahaman setiap individu di sebuah organisasi untuk bersama-sama saling bertukar informasi, ide, saran, gagasan dan peng alaman yang pada akhirnya menciptakan terbentuknya sebuah pengetahuan baru (Nonaka & Toyama, 2015). Sehingga, dapat disederhanakan bahwa fenomena awal berasal dari proses psikologi kognitif yang terjadi pada masing-masing pihak. Baik pengguna, pengelola, maupun jejaring dari Perpustakaan Anak Bangsa yang secara praktis tidak disadari. Namun integrasi yang terjadi antara Perpustakaan Anak Bangsa dengan kultur yang berkembang di masyarakat sekitar membentuk pemahaman bersama. II. TINJAUAN LITERATUR A. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Transformasi industri informasi menuntun masyarakat semakin selektif dalam mengolah informasi. Pemanfaatan sumber informasi yang dekat dengan aktivitas di perpustakaan mulai bergeser pada wadah-wadah lain, tidak sedikit beralih ke media virtual. Namun, tidak sedikit dari masyarakat yang masih mendayagunakan peran perpustakaan di era digital saat ini. Selanjutnya masalah baru muncul terkait pemerataan diseminasi informasi mengingat keberadaan perpustakaan dalam konteks tempat penyimpanan yang permanen. Disebutkan bahwa menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 1 tentang Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/ atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dengan keterbatasan tersebut selanjutnya melahirkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang menariknya lahir dari masyarakat. Amrin (2011) menjelaskan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yaitu sebuah lembaga atau unit layanan berbagai kebutuhan bahan bacaan yang dibutuhkan dan berguna bagi setiap orang perorang atau kelompok masyarakat di desa atau di wilayah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) berada dalam rangka meningkatkan minat baca dan mewujudkan masyarakat berbudaya baca. Lebih intim keberadaan TBM adalah kebutuhan masyarakat, sehingga munculnya TBM berdasarkan kebutuhan masyarakat pribadi (Kalida dan Musyid, 2015). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kehadiran TBM diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat, terutama untuk masyarakat yang berada di sekitar lingkungan tampat TBM tersebut berdiri. 1) Flow Experience Teori Flow Experience pertama kali dikenalkan kepada publik oleh Csikszentmihalyi (1975), yang menyebutkan bahwa “Players shift into a common mode of experience when they become absorbed in their activity. This mode is characterized by a narrowing of the focus of awareness, so that irrelevant perceptions and thought are filtered out by loss of self-consciousness, by responsiveness to clear goals and unambiguous feedback, and by control over the environment.” Penggambaran tersebut selanjutnya disimpulkan oleh Lee & Wu (2017) bahwa aliran aktivitas tersebut merupakan kegiatan yang menyenangkan, dimana setiap individu akan mengalami peningkatan kontrol diri atas perilaku yang lakukan sambil menikmati nilai kegembiraannya. Apabila dikaji lebih dekat dengan teori Psikologi Kognitif proses terjadinya Flow Experience merupakan bagian dari konsep functionalism karena secara harfiah melibatkan proses pembelajaran dalam diri individu. Functionalism oleh Sternberg (2009) didefinisikan sebagai upaya individu untuk memahami apa yang individu lain lakukan dan kenapa melakukan hal tersebut. Lebih jauh Sternberg (2009) menjelaskan proses Functionalism yang dilakukan terus menerus atau berkala nantinya secara ilmiah akan berlanjut pada konsep Pragmatists dan masuk pada level pendayagunaan (usefulness). Huang dan Lin (2017) menghubungkan serangkaian tersebut dalam perpespektif motivasi pembelajaran. Dalam tulisannya tersebut menyebutkan bahwa pengalaman nyata yang terjadi oleh siswa (individu) melalui Flow Experience dapat meningkatkan hasil belajar dalam lingkungan belajar. 2) Knowledge Creation Pengetahuan merupakan konsep fundamental yang unik, penuh dengan persaingan dan tidak dapat disubstitusikan (Panigrahi, Zainuddin, & Azizan, 2014). Selanjutnya Assegaff, Kurniabudi, & Fernando (2016) menjelaskan bahwa pengembangan dari pengetahuan dalam suatu organisasi dapat menjadi dasar asset-aset keunggulan dalam memengangkan kompetisi pasar. Hal ini berhubungan dengan proses pembelajaran individu dengan adanya perbedaan antara perilaku dan ilmu kognitif. Pusat dari penjalanan adanya aturan tersebut memotivasi adanya kolaborasi dalam lingkaran pembelajaran. Menyoroti dari proses tersebut, pembentukan pengetahuan dalam diri individu lebih ditekankan pada penangkapan, pengolahan dan peningkatan kapasitas diri untuk tindakan yang paling efektif. 3) Knowledge Sharing Proses pembentukan sebuah pengetahuan dalam diri individu tidak terbatas pada analisis struktural terhadap suatu elemen yang dilakukan sendiri. Proses tersebut juga tidak cukup mumpuni hanya melakukan functionalism atau menangkap dan memahami sebuah pengetahuan dengan cara observasi. Perlu adanya tidak lanjut sebelum masuk pada level pendayagunaan (pragmatists). Dalam hal ini keterlibatan individu lain dalam penyempurnaan proses pembelajaran menjadi begitu penting. Interaksi dua arah yang terjadi berperan sebagai media pengorganisasian informasi dalam diri individu. Atau sederhananya masing-masing individu saling bertukar hasil observasinya yang terjadi berkelanjutan tanpa melihat sisi entitas, yang selajutnya dapat dikatakan sebagai kolaborasi pembelajaran dimana konsepnya melalui knowledge sharing. Knowledge sharing sendiri dapat diartikan sebuah mekanisme tersebarnya pengetahuan yang dimiliki oleh organisasi ke seluruh anggota dari sebuah organisasi, dan dari anggota organisasi ke anggota organisasi yang lain (Wang, Noe, & Wang, 2014). Sehingga dalam pengaplikasiannya memungkinkan setiap individu untuk berinteraksi saling bertukar gagasan, ide, serta pengetahuan yang akhirnya akan menciptakan pengetahuan baru (Nonaka & Tayoma, 2015). Penerapan konsep ini sangat penting dan menarik karena melalui aktivitasnya akan terbentuk pengetahuan bersama yang berguna dalam pengembangan organisasi.
Method
Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan pada bulan Oktober 2016-Maret 2017. Melalui pengamatan, peneliti mengamati setiap aktivitas yang terjadi di Perpustakaan Anak Bangsa sebagaimana diuraikan dalam bidang catatan. Dalam wawancara, pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, dengan memperhatikan entitas keterlibatan informan dengan Perpustakaan Anak Bangsa. Dalam analisis data, peneliti mengacu pada prinsip-prinsip dalam pedoman teori pembentukan pengetahuan (knowledge creation) proses yang dijelaskan oleh Jashapara (2011) yaitu intuiting, intepretatiting, integrating, dan institualizing. TABEL 1. SILABUS WAWANCARA No. Nama Keterangan 1 Eko Tjahjono Pendiri dan Pengelola Perpustakaan Anak Bangsa 2 Ratna Ayudya Relawan Ruang Belajar Aqil Kota Malang 3 Siti Sulina Pemilik Butik (Pengunjung) 4 Krishna Siswa kelas VII SMP (Pengunjung) 5 Kusnindar Orangtua Krishna (Pengunjung) 6 Heri Sutrisno, S.Pd.I. Sekretaris Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang 7 Leila Pengelola TBM Wacan Kabupaten Malang 8 Deni Pendiri Pelangi Sastra Malang (Rekan Eko Cahyono) 9 Santoso Mahargono Ketua Forum Komunikasi Taman Bacaan Masyarakat (FKTBM) Malang Raya (Sumber: Hasil Olahan Penulis)
Discussion
A. Gambaran Umum Perpustakaan Anak Bangsa, Kabupaten Malang Perpustakaan Anak Bangsa Kabupaten Malang merupakan gagasan dari Eko Tjahjono seorang penduduk di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Gagasan tersebut dilatarbelakangi ketika Eko Tjahjono di PHK dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik jaket kulit di Kota Malang. Setelah menganggur Eko Tjahjono menghabiskan waktun dengan membaca yang tanpa disadari koleksi koran dan majalah yang dimiliki sudah menumpuk. Setelah melihat kondisi masyarakat di Desa Sukopuro yang tidak terlalu mementingkan pendidikan pada saat itu, Eko Tjahjono bermaksud mengajak teman-teman sebaya dan anak-anak untuk membaca. Awal pendiriannya dilakukan dengan menggantungkan seluruh koleksi yang dimiliki seperti jemuran di depan rumah. Namun pada awal usahanya, Eko Tjahjono belum mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Pemilihan nama “Perpustakaan Anak Bangsa” berawal dari para pemuda yang sering menggunakan bahan bacaan disana. Aktivitas Perpustakaan Anak Bangsa Kabupaten Malang sudah mengalami 10 kali perpindahan lokasi, hingga sekarang di lokasi ke 11 yang beralamat di Jl. Ahmad Yani. RT 26 / RW 07, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Semenjak pendiriannya pada tanggal 17 Agustus 1998, Eko Tjahjono sudah melewati banyak rintangan dalam pengelolaan Perpustakaan Anak Bangsa Kabupaten Malang. Namun dari pengalaman tersebut dijadikan sebuah batu loncatan oleh Eko Tjahjono dalam mengembangkan Perpustakaan Anak Bangsa. Berawal dari tanggapan yang kurang positif tersebut hingga saat ini koleksi telah berkembang sampai 56.000 koleksi dari berbagai jenis koleksi. Selain itu Eko Tjahjono sudah beberapa kali aktivitas Eko Tjahjono dan Perpustakaan Anak Bangsa dalam meningkatkan literasi di Desa Sukopuro di publikasi oleh media nasional. Sebagai tanggungjawab kepada masyarakat, Eko Tjahjono sebagai pengelola Perpustakaan Anak Bangsa Kabupaten Malang, sering membagikan pengalaman yang selama ini diperoleh untuk memotivasi pengelola Taman Bacaan masyarakat (TBM) lain di wilayah Malang Raya. B. Pembentukan Pengetahuan melalui aktivitas Perpustakaan Anak Bangsa 1) Pengenalan bahan bacaan Proses pembentukan pengetahuan sejak awal dilakukan oleh pengelola PAB dengan mengenalkan bahan bacaan kepada masyarakat. Pengelola PAB tidak jarang memberikan sedikit inovasi dalam hal tersebut. “Diemper rumah dulu saya tumpuk beberapa buku dan majalah sengaja untuk menarik minat masyarakat, terus ada beberapa diantaranya majalah dewasa bertujuan sekedar pancingan. Terus saya kasih juga gitar, dakon, dan permainan ular tungga.” (Pengelola PAB). Kegiatan tersebut salah satu strategi yang dilakukan oleh Eko Cahyono dalam menarik minat kunjung masyarakat. Kemudian dari tanggapan masyarakat akan dijadikan acuan pengambilan langkah selanjutnya. Proses pembentukan pengetahuan yang selanjutnya dilakukan pengelola PAB dengan membiasakan masyarakat terbiasa dengan bahan bacaan. Langkah pertama yang dilakukan oleh Eko Cahyono menentukan jam layanan. PAB membuka jam buka penuh selama 24 jam. Hal tersebut disesuaikan dengan tanggapan dan waktu-waktu produktif masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “Perpus buka 24 jam, waktu layanan tidak dibatasi dari jam 7 sampai jam 3 kayak perpustakaan umumnya, soalnya kalo perpusnya buka jam segitu terus kapan mereka ke perpusnya kan mereka jam segitu kerja, jika sampeyan dikampung sampeyan akan susah menemukan orang-orang membaca di jam itu karena mereka lebih memilih buat kerja daripada ke perpus.” (Pengelola PAB) Selanjutnya dengan mempertimbangkan tanggapan pemanfaatan bahan bacaan di PAB. Eko Cahyono melakukan identifikasi bahan bacaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kondisi tersbut diwujudkan dengan meletakan koleksi berdasarkan kategori yang diformulasikan sendiri. “Bukunya dipisah dikategorikan, tapi dengan nama-nama yang mudah dipahami masyarakat. Seperti koleksi anak-anak disini sudah dipisah, sebenernya anak-anak sudah tahu ini bukan bacaan ku, jadi gak mungkin ambil. Tapi terkadang mungkin kadang anak-anak pada nakal, tapi jangan khawatir jadi setiap kayak ada buku datang pasti aku seleksi buku itu, aku liat isinya, buku ini cocok gak sama perpusku. Jadi buku yang disajikan di perpusku itu aman.” (Pengelola PAB). Rangkaian aktivitas di PAB tersebut mendukung penerapan Standards for Reading Professionals (International Reading Association, 2010) terkait pembentukan pengetahuan dasar yang berbunyi “Identifikasi instruksi membaca ditujukan untuk mengembangkan pengenalan kata, pemahaman bahasa, pengetahuan strategis, dan membacamenulis berkelanjutan. Selanjutnya identifikasi kondisi dilakukan untuk mendukung motivasi individu untuk membaca dan menulis (mis., Akses tercetak, pilihan, tantangan, minat, dan pengetahuan keluarga dan komunitas) sebagai faktor yang meningkatkan pembelajaran literasi untuk semua.” Selain itu, melalui identifikasi dan analisis data lapangan aktivitas kunjungan masyarakat, pengelola PAB melakukan formulasi pengambilan keputusan dalam pengembangan kegiatan pengenalan bahan bacaan. Secara sederhana proses pembentukan pengetahuan dilakukan oleh pengelola PAB. Nonaka dan Tayoma (2015) menjelaskan “Pengetahuan dibuat dalam spiral yang melewati konsep-konsep yang tampaknya antitesis seperti keteraturan dan kekacauan, mikro dan makro, sebagian dan keseluruhan, pikiran dan tubuh, tacit dan eksplisit, diri dan individu lainnya, deduksi dan induksi, serta kreativitas dan efisiensi. Kunci untuk memahami proses penciptaan pengetahuan adalah berpikir dan bertindak dialektik, yang melampaui dan mensintesiskan kontradiksi semacam itu. Hal itu adalah integrasi dari aspek-aspek yang berlawanan melalui proses dialog dan praktik yang dinamis”. 2) Pengembangan masyarakat pemakai a) Pengembangan masyarakat pemakai bersifat edukasi Pengembangan kualitas masyarakat yang dilakukan oleh PAB tidak berhenti dalam akuisisi bahan bacaan. PAB selanjutnya masuk pada tahap baru dengan membantu masyarakat mengelola informasi yang diterima secara intensif. Kegiatan ini dilaksanakan langsung oleh pengelola PAB, Eko Cahyono. Selain itu, pengelola kegiatan bimbingan tersebut dibantu oleh relawan. “Kadang-kadang bikin les, kalo aku lagi gak bisa biasanya ada relawan kakak ini ngajarin apa gitu. Jadi nanti aku bilang ke anak-anak kalo hari ini ada kakak ini ngajarin ini.” (Pengelola PAB) Sekilas kegiatan bimbingan tersebut berbentuk bimbingan belajar dengan fokus mata pelajaran sekolah dengan sasaran masyarakat dalam kategori anak-anak. Selain dengan bantuan relawan kegiatan tersebut terlaksana dengan baik dengan memanfaatkan keberagaman bahan bacaan di PAB. Hal yang menarik adalah persebaran informasi di tengah anak-anak yang terjadi sebelum bimbingan belajar tersebut dilaksanakan. “Jadi kalo buka ngelesin aku cuma bilang ke dua orang pasti nanti nyebar sendiri, jadi yang dua anak pasti ngasih tahu temen yang lain.” (Pengelola PAB) Kondisi tersebut menggambarkan antusias dari masyarakat untuk berpartisapasi dalam kegiatan PAB. Tanggapan positif lain ditunjukan oleh orangtua di lingkungan PAB terhadap kegiatan tersebut. Sinergi tersebut menunjukan kesadaran bersama dalam proses terbentuknya proses belajar masyarakat melalui PAB. “Kita dikompori terus sama Mas Eko buat jangan males buat nulis ataupun membaca. Saya tidak khawatir ketika anak saya ke PAB lama-lama. Sekalian ngerjain tugas kek les disini sama Mas Eko dkk.” (Kusnindar (pengunjung)) Lebih lanjut PAB juga melakukan kegiatan bimbingan lain dalam membantu proses pembentukan pengetahuan masyarakat. Kegiatan tersebut terlepas dari tugas-tugas akademik melainkan lebih menyoroti masalah-masalah sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut lebih diwujudkan dengan kegiatan berbagai pengetahuan yang tersaji dengan santai. Dalam lingkup masyarakat kategori remaja tidak jarang kegiatan tersebut terjadi secara alami atau tanpa perencanaan. “Sharing sama anak muda, lebih sering spontanitas, ketemu dimana terus diajak kesini jadi lebih lama sering dikasih pemahaman terkait fenomena sekarang, sama solusi gitu. Merangkul Mas Eko ini.” (Kusnindar (pengunjung)) Selaras dengan penjelasan tersebut fokus dari kegiatan diskusi tersebut lebih berwujud pemberian motivasi dan mengarahkan sudut pandang masyarakat di sekitar PAB dalam menanggapi informasi yang diterima. Hal tersebut dilatarbelakangi kondisi emosional masyarakat usia remaja yang memerlukan pembekalan pandangan hidup ke depan. Selanjutnya untuk mendukung dan menarik antusias tersebut PAB melakukan kolaborasi dengan tokoh-tokoh di lingkup daerah yang berperan sebagai inspirator. “Selain itu juga ada diskusi malam hari, aku ngundang ada cewek cowok terus kita diskusi terkait kesehatan, terus motivasi kita juga kasih motivasi inspirasi. Saya juga pernah ngundang penulis mas buat bagi tips-tips cara nulis, pernah ngundang hijabers malang juga, kan bisa juga biar gak bosen. Sekalian cerita perjalanan karier mereka ke anak-anak sini.” (Pengelola PAB) Peran PAB yang bersifat umum ditunjukan juga dengan melakukan diskusi di tingkat masyarakat dewasa. Dalam hal ini pengelola melakukan kegiatan diskusi dengan orangtua-orangtua di sekitar PAB terkait parenting. “Kan ada yang minta contoh ke perpus ibu-ibu minta diskusi tentang yang lagi trend saya layani, anaknya seperti ini terus main HP terus, jujur kan bahaya anak-anak jaman sekarang sudah pinterpinter mas. Sampai saya contohkan di google kalo pakai kata ini nanti keluarnya gambar apa aja. Biar ibu-ibu juga paham cara menyikapinya.” (Pengelola PAB) Kegiatan ini ditujukan untuk mengarahkan orangtua dapat beradaptasi dengan perkembangan jaman. Kegiatan diskusi bersifat informal dan tidak meninggalkan bahan bacaan di PAB sebagai acuan. “Pernah ngasih motivasi harus kek gini-gini biar wawasan tambah luas apalagi anak jaman sekarang kan beda ya mas. Terus nanti kita disuruh baca buku ini-itu.” (Kusnindar (pengunjung)) b) Pengembangan masyarakat pemakai bersifat rekreasi Pengembangan masyarakat pemakai yang bersifat rekreasi juga termasuk dalam pembentukan pengetahuan di PAB. Kegiatan yang dilakukan seperti lomba memasak, perayaan hari-hari besar nasional, hingga pengasahan kreativitas dengan melalui pembuatan MADING dan origami. “Mas Eko dulu pernah bikin kegiatan lomba masak, terus dapet hadiah yang menang, seneng kalo ada kegiatan seperti itu masyarakat sini. Dari situ kita juga tau kalo kreasi-kreasi dari bahan-bahan yang dimasak.” (Siti Sulina (pengunjung)) Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksankan tanpa meninggalkan aktivitas berbasis literasi. Pengadaan kegiatan diupayakan tetap berhubungan dengan pemanfaatan bahan bacaan di PAB. Dari perspektif masyarakat melalui kegiatan tersebut masyarakat mampu mengaplikasikan informasi yang telah diterima. “Jadi ben gak bosen anak-anak dikasih kegiatan tapi perlu diingat kalo sebelum kegiatan anakanak itu membaca dulu contohnya kegiatan lomba masak ya anak-anak atau ibu-ibu baca dulu buku resep buat acuan.” (Pengelola PAB) Di bidang lain PAB memfasilatasi kreativitas masyarakat yang tertarik pada seni. Pelaksanaan pembuatan MADING dan Origami oleh masyarakat tidak lepas dari pemanfaatan bahan bacaan di PAB. Selain itu konsep berbagi pengetahuan mulai terjadi pada kegiatan semacam ini. Hal tersebut dikarenakan masyarakat dibiasakan untuk bekerjasama dan melatih kepekaan social dalam membuat sebuah produk informasi. “Anak-anak pernah juga bikin mading, ya karena iseng-iseng juga, dan saya free waktu itu. Sekalian anak-anak bisa berkomunikasi lewat tulisan, gak baca tulisan terus. Anak-anak ngerjainnya dulu kelompokan, jadi barengbareng. Terus kita juga pake barang bekas, dari alam juga.” (Pengelola PAB) Kegiatan lain juga dilakukan dalam aktivitas peringatan hari-hari besar. Selain kegiatan HUT Republik Indonesia, perayaan hari ibu merupakan salah satu sarana PAB membentuk pengetahuan dalam diri masyarakat. Perayaan hari ibu lebih diisi dengan kegiatan yang lebih emosial, pengunjung dalam hal ini anak-anak difasilitasi untuk menceritakan perasaan terhadap ibu dalam sebuah kertas. Hal yang menarik dari kumpulan cerita tersebut dijadikan kliping yang kemudian menjadi salah satu koleksi di PAB. “Contohnya juga kalo hari ibu, saya sering kasih kertas terus yang datang suruh nulis karangan kecil tentang ibu nanti saya diklipingkan. Dipajang disini.” (Pengelola PAB) Lebih lanjut terjadi keseimbangan dalam aktivitas di PAB. Latar belakang pelaksanaan kegiatankegiatan tersebut dimaksudkan oleh pengelola PAB untuk menyelaraskan antara peran edukasi dan rekreasi. “Aku sebenere yo mas membuat kegiatan biar perpus gak monoton, gini soalnya mas kadang kalo perpus cuma duduk terus baca aja kan bosen juga, terus juga mereka pasti pernah bilang kok di perpus gak onok opo-opo si, ya akhire ayok bikin lomba baca puisi, terus lomba dakon atau lomba-lomba lainya, sebenere aku bikin supaya mereka gak bosen aja gitu.” (Pengelola PAB) Kondisi tersebut dirasa sesuai dengan kebutuhan informasi masyarakat. Dengan tanpa mengganggu keseharian masyarakat, PAB menghadirkan budaya baru di tengah masyarakat. “Cak Eko ada terus idenya, dari ngasih buku, terus bikin kegiatan-kegiatan, tapi gak pernah pas kita sekolah, jadi sesuai kayak pas liburan gitu.” (Krishna (pengunjung)) Berdasarkan rangkaian penggambaran diatas maka disimpulkan bahwa PAB memfasilitasi masyarakat dalam proses pembentukan pengetahuan bersifat edukasi. PAB menyelaraskan antara budaya yang berkembang di masyarakat dan kebutuhan informasi dengan mempertimbangkan batas berdasarkan keberagaman kebutuhan informasi masyarakat. Seiring dengan perkembangan PAB menjadi wadah baru masyarakat saling berbagi pengetahuan untuk mendukung berjalannya proses pembentukan pengetahuan berbasis rekreasi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nonaka dan Tayoma (2015) bahwa knowledge sharing atau berbagi pengetahuan yang masuk dalam rangkaian proses pembelajaran masuk pada pemahaman setiap individu di sebuah organisasi untuk bersama-sama saling bertukar informasi, ide, saran, gagasan dan peng alaman yang pada akhirnya menciptakan terbentuknya sebuah pengetahuan baru. c) Pengembangan jejaring informasi Peran PAB tidak hanya bersifat internal desa setempat melainkan bersama perkembangannya, PAB masuk pada TBM-TBM lain di daerah Malang Raya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kunjungan rutin oleh pengelola PAB ke TBM lain. “Kan aku yang dibilang udah sudah berpengalaman, jadi sering aku datang kesana mas keliling ke TBM-TBM kadang aku dari jam tujuh sampaijam 11 malam, rekor saya 16 TBM mas.” (Pengelola PAB) “TBM di Malang Raya sudah mulai bangkit, seperti mas Eko saja sudah mau turun ke TBMTBM lain. Itu satu langkah maju untuk literasi disini.” (Santoso Mahargono, Ketua FKTBM Malang Raya) Kegiatan tersebut dilatarbelakangi untuk memberikan dukungan moril kepada pengelola TBM lain. Dalam kunjungannya, pengelola PAB berbagi pengalaman dan motivasi terkait pengelolaan TBM. Selain itu, sebagai wujud pembentukan pengetahuan dengan cara membagikan bahan bacaan PAB kepada TBM lain dengan mempertimpangkan aspek kebutuhan TBM. “Aku sering jadi sasaran mas TBM baru, tapi memang sudah tanggungjawab aku mas. Aku kasih motivasi dan buku yang sesuai dengan TBM yang saya kunjungi, jadi sudah dikira-kira.” (Pengelola PAB) “Kita ya dapat bantuan dari TBMnya Mas Eko Cahyono yang ada di Jabung, jadi pernah main kesini beliau. Cerita-cerita pengalamanya, saya bingung saya tanya.” (Mbak Leila (Pengelola TBM Wacan Desa Landungsari) Sinergi pengembangan jejaring informasi yang dilakukan oleh PAB sesuai dengan teori konstruksi sosial oleh Vigotsky (1978). Tracey & Morrow (2012) menyimpulkan bahwa melalui Vigostky menggambarkan perkembangan kognitif lebih lanjut terjadi ketika pengalaman seseorang mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan kepekaan fungsi sosial yang sebelumnya telah diinternalisasikan secara mandiri. C. Kerangka kerja pembentukan pengetahuan hingga pemahaman bersama pada aktivitas Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) Jashapara (2011) menyebutkan bahwa entitas sebuah proses belajar dapat terlihat melalui pengelolaan informasi yang diterima hingga berpengaruh pada perilaku sesorang. Dari penjelasan tersebut Jashapara menurunkan menjadi beberapa proses, yang terdiri dari intuisi (intuiting), interpretasi (interpreting), integrasi (integrating), dan pengorganisasian (institutionalising). Proses tersebut merupakan bagian dari kerangka kerja pembelajaran sebuah dalam membentuk pemahaman bersama. Tulisan ini mencoba mendeskripsikan kerangka tersebut melalui aktivitas PAB. 1) Intuisi (intuiting) Penjelasan sederhana intuisi adalah sebuah ketidaksengajaan karena proses tersebut merupakan bagian besar di bawah kesadaran kinerja bagian tubuh individu. Pada proses ini berfokus kemampuan diri untuk meramalkan dan mengenali pola kebutuhan informasi. Selanjutnya pola yang terbentuk pada tahap ini membantu individu menyerap informasi yang membantu pemecahan sebuah masalah. Pada aktivitas PAB proses tersebut terjadi dari dua perspektif, yaitu pengelola dan pengunjung. Pengelola sendiri menyerap informasi dari bahan bacaan yang selanjutnya memberi efek pada gagasan pendirian PAB. “Motivasi saya bikin PAB ini karena saya suka membaca, terus motivasi lain karena kondisi yang disini sini-sini, motivasi juga biar masyarakat daerah sini suka baca juga. Orang sini gak punya atau beli buku mas akses susah juga terlebih dulu pas awal saya buka PAB kondisinya.” (Pengelola PAB) Adapun seiring pengembangan PAB, pengelola membentuk pola pengenalan pengetahuan baru yang berguna sebagai acuan pembuatan kegiatan. Pola pengenalan tersebut berasal dari perilaku informasi pengunjung PAB. Secara detail tidak hanya melalui identifikasi bahan bacaan yang dikonsumsi melainkan melalui interaksi yang terjadi baik antar pengunjung maupun dengan pengelola sendiri. Pengaplikasian sederhananya adalah terkait jam buka layanan yang tidak dibatasi sebagai media promosi PAB. Selanjutnya terkait proses sirkulasi bahan bacaan juga dilakukan tidak mengikat. Kondisi tersebut dilakukan dengan dasar rutinitas sehari-hari masyarakat sekitar. “Perpus buka 24 jam, waktu layanan tidak dibatasi dari jam 7 sampai jam 3 kayak perpustakaan umumnya, soalnya kalo perpusnya buka jam segitu terus kapan mereka ke perpusnya kan mereka jam segitu kerja, jika sampeyan dikampung sampeyan akan susah menemukan orang-orang membaca di jam itu karena mereka lebih memilih buat kerja daripada ke perpus. Mau pinjam buku juga tinggal tulis saja mereka sudah paham, saya tidak takut buku saya hilang. Terus yang bikin ribet harus bawa kartu anggopta ketika buat kartu anggota juga harus bayar bawa foto sekian kan jadi orang kampung males ribete, jangankan nyimpen kartu perpustakaan nyimpen KK, KTP juga kadang ilang.” (Pengelola PAB) Selain itu, informasi tersebut juga digunakan oleh pengelola PAB dalam memformulasikan kegiatan yang bersifat rekreasi. Mengingat keberadaan PAB di tengah masyarakat sehingga pengelola berusaha mengkombinasikan antara edukasi dan rekreasi dengan tujuan dapat menyentuh kebutuhan informasi masyarakat lebih dekat. “Kalau pas liburan kan rame PAB pasti atau aku pengen bikin lomba mewarna, lomba puisi, sampai kayak kemarin pas ada orang korea kesini belajar bahasa Korea, pakai baju Korea biar masyarakat tambah tahu kan lagi rame koreakorean juga.” (Pengelola PAB) Padahal dari perspektif pengunjung proses intuisi bisa digambarkan dari motif kunjungan ke PAB. Motif yang paling umum adalah pengunjung datang mencari informasi baru dalam mendukung pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Seperti tugas sekolah, gagasan baru untuk pekerjaan, hingga masalah internal pengunjung. “Kerja kelompok sama anak-anak, kalo ada tugas jadi anak-anak senengnya kesini, kadang mas Eko ngajarin kalo lagi gak sibuk.” (Krishna (pengunjung)) Selain motivasi dari dalam diri, proses intuisi dari pengunjung juga dipengaruhi oleh pihak eksternal. Tidak jarang antar pengunjung maupun dengan pengelola sendiri tengah berdiskusi di luar PAB saling merekomendasikan PAB sebagai salah satu tempat memenuhi kebutuhan informasi. “Sharing sama anak muda, lebih sering spontanitas, ketemu dimana terus diajak kesini jadi lebih lama sering dikasih pemahaman terkait fenomena sekarang, sama solusi gitu. Merangkul Mas Eko ini.” (Kusnindar (pengunjung)) Perilaku informasi pengunjung lain yang menggambarkan proses intuisi adalah ketika pengunjung memilih bahan bacaan. Gambaran tersebut juga mendiskripsikan latarbelakang maupun kondisi psikologi pengunjung PAB. “Sering baca majalah perpusnya mas Eko sengaja, langsung bisa ini bisa cari model-model jahitan baru.” (Siti Sulina (pengunjung)). “Saya suka baca cerita-cerita, novel, komik kaya laskar pelangi. Hari minggu kesini buat cari hiburan juga.” (Krishna (pengunjung)) Secara sederhana proses intuisi terbantu dengan pandangan masyarakat sendiri terhadap PAB. Selain itu dalam pendirian dan penyelenggaraan PAB terbentuk melalui bekal pengalaman yang dimiliki pengelola. Crossan (1991) dalam Jashapara (2011) menyebutkan bahwa inputs/outcome dari intuisi sendiri adalah pengalaman (experience), citra (image), dan metaphors. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peran intuisi juga berpengaruh dalam pengembangan PAB. Termasuk pengelola dan pengunjung PAB. Lebih jauh proses tersebut sesuai dengan pendapat Walker (2012) dalam McAndrews & Msengi (2013) bahwa seorang aktor yang mngurusi proses penyesuaian pembelajaran perlu melakukan sebuah penilaian dalam diri dengan kesamaan waktu untuk mengidentifikasi sebuah pengarahan yang tepat, kemudian diadaptasi untuk memudahkan pembaca menjadi pembaca yang mandiri. 2) Interpretasi (interpreting) Implikasi interpretasi adalah penyampaian bahasa atau gagasan yang berasal dari pengolahan informasi yang telah diterima kepada satu orang atau entitas tertentu (Jashapara, 2011). Keberagaman yang hadir berpotensi menghadirkan konflik dalam suatu komunitas. “Diskusinya sering kerja kelompok jadi kalo kerja kelompok seringnya kesini.” (Krishna (pengunjung)). “Kek pas lagi belajar kelompok anak-anak itu suka rame, pada kesini belajar bareng. Rame saya biarkan, berarti diskusinya hidup. Ada yang A dan B.” (Pengelola PAB) Keberagaman yang disadari oleh pengelola dimanfaatkan dalam pengadaan bahan bacaan dan kegiatan tambahan di PAB. Optimalisasi data tersebut dimaksud untuk semakin mendekatkan PAB dengan masyarakat atau masyarakat dengan bahan bacaan. “Kan kegiatan kita itu literasi yang mas, biasanya adek-adeknya itu disiapin buku atau artikel yang disiapin sama kakak relawan nanti mereka suruh baca selama 5-10 menit nanti kalau sudah mereka disuruh resume apa yang mereka pahami dari bahan bacaannya. Itu nanti kalau ada yang salah atau kurang tepat dibantu sama kakaknya yang ada disitu. Tujuannya anak-anak lebih suka baca, apalagi anak-anak jaman sekarang mereka susah memahami apa yang mereka baca jadi nanti juga biar lebih paham adek-adeknya, terus juga diskusi tentang buku yang dibaca, nanti jugakan selain melatih penalaran mereka juga melatih cara berkomuniksi mereka kan ada diskusi. Ada juga Kegiatan diskusi sama ibu-ibu sini pernah masalah internet yang tadi beragam tanggapannya terus saya tengahi saya kasih motivasi lagi gambaran internet gimana seperti yang saya jelaskan tadi ya.” (Pengelola PAB) McAndrew (2013) menyimpulkan dari proses pembelajaran di sebuah Literacy Clinic yang sesuai dengan implikasi strategi pengembangan yang dilakukan di PAB. Bahwa selama proses guru ataupun reading coaching belajar mengevaluasi secara penilaian formal dan informal, memahami tujuan masing-masing anggota dari komunitas, memilih dan mengelompokan pembelajaran yang sesuai, dan menganalisis dan melaporkan data. Tujuan pelaksanaan sebuah penilaian atau interpretasi yaitu penilaian untuk pembelajaran (diagnostic dan formative), penilaian sebagai pembelajaran (self-assessment), dan penilaian pembelajaran (summative). Crossan (1999) dalam Jashapara (2011) menyebutkan bahwa output/outcomes dari tahap ini adalah peta kognisi, pemahaman individu, dan perbendaharaan bahasa. 3) Integrasi (integrating) Sebagai kelanjutan kerangka kerja proses pembelajaran organisasi atau komunitas, Jashapara (2011) menyimpulkan adanya level yang melibatkan komunitas untuk berbagi informasi. Proses tersebut terbentuk melalui dialog-dialog bersama baik formal maupun informal yang diatur dalam sebuah pembagian peran. Potensi terbesar dari tahap ini adalah terbentuknya pemahaman bersama yang baru dan lebih dalam karena ditinjau dari banyak perspektif. Dalam aktivitasnya PAB sering memfasilitasi masyarakat dalam kegiatan diskusi. Pelaksanaan berbagi pengetahuan tersebut dilakukan antarpengunjung PAB, hingga menghadirkan professional. “Kek pas lagi belajar kelompok anak-anak itu suka rame, pada kesini belajar bareng. Rame saya biarkan, berarti diskusinya hidup. Ada yang A dan B. Yang eksternal Saya juga pernah ngundang penulis mas buat bagi tips-tips cara nulis, pernah ngundang hijabers malang juga, kan bisa juga biar gak bosen.” (Pengelola PAB) Sikap pro-aktif yang dilakukan pengelola PAB juga mendukung pembentukan pemahaman bersama di tengah masyarakat. Pengelola tidak jarang menjadi moderator maupun pembimbing untuk pengunjung. “Jadi kan kesulitan ditanya sama mas Eko, nanti warga disini diajak ke perpustakaan kalo di perpustakaan ada bukunya dibantu juga. Ayok, nanti janjikan sama orang lain jadinya.” (Kusnindar (pengunjung)) “Pernah ngasih bimbingan, majalah langsung disuruh praktik.” (Siti Sulina (pengunjung)) Diakui bahwa melalui proses ini pengunjung PAB merasakan dampak dengan meningkatnya kemampuan dan kreativitas pribadi. hal tersebut juga disadari berasal juga dari konsistensi dan komitmen yang mulai tumbuh dari dalam diri setelah memahami kebutuhan informasi masing-masing. “Dampaknya enak sih, keahlian nambah informasi nambah, usaha nambah berkembang. Tau kebutuhan pasar. Jadi sering baca majalah langsung bisa ini bisa cari model-model.” (Siti Sulina (pengunjung)) Selain pengunjung pengelola PAB mengalami pengembangan kemampuan diri. Kompetensi yang dimaksudkan adalah softskill pengelola. Dan yang paling mendasar adalah tumbuhnya rasa percaya diri dalam diri pengelola PAB. “Saya kenal mas Eko sudah lama, awal-awal. Saya merasakan sekali perkembangan beliau baik dari cara berpakaiannya hingga cara komunikasinya, sangat berbeda dari awal saya kenal beliau.” (Deni (Pendiri Pelangi Sastra Malang)) Lebih lanjut dari peran PAB tersebut sebelumnya telah digambarkan oleh King (1997) dalam McAndrew & Msengi (2013) bahwa diskusi bersama dengan teman sebaya merupakan wadah guru/reading coaching menjelaskan gagasan yang ada. Selain itu berperan juga dalam menghubungkan pembelajaran sebelumnya, kemudian melakukan negosiasi makna, mengarahkan penyelesaian masalah kognitif. Melalui interaksi yang terjalin juga memberikan wadah untuk membangun keahlian dan pengetahuan baru. Seperti pada proses sbelumnya Crossan (1999) dalam Jashapara (2011) menyebutkan pada level integrasi inputs/outcome yang terbentuk adalah berbagi pemahaman (shared understanding), aturan bersama (mutual adjustment), dan sistem interaksi (interactive systems). 4) Pengorganisasian (institutionalising) Pengorganisasian atau institutionalizing merupakan level terakhir dari kerangka kerja pembelajaran organisasi yang disampaikan oleh Jashapara (2011). Hal tersebut dikarenakan pada tahap ini pola yang valid telah terbentuk dari sinergi keseluruhan data berdasarkan penyelenggaraan kegiatan organisasi. Sehingga tahap ini memerlukan entitas waktu yang yang panjang sejak organisasi mulai berdiri. Berdasarkan aktivitas PAB ada dua fokus yang menjadi kegiatan rutin di pola pembelajaran di dalamnya. Data dilapangan menggambarkan fokus utama dari pendirian PAB adalah penyediaan bahan bacaan untuk masyarakat. “Awalnya tidak memiliki nama tahun 1998, alasan saya mendirikan hanya karena saya suka membaca dan ingin mengajak semua untuk suka membaca kondisi masyarakat sebagai pendukung dan ciri khas PAB penyedian bahan belajar. Diemper rumah dulu saya tumpuk beberapa buku dan majalah sengaja untuk menarik minat masyarakat, terus ada beberapa diantaranya majalah dewasa bertujuan sekedar pancingan.” (Pengelola PAB) “Setiap TBM di Malang Raya punya ciri khas masing-masing. Kalau PAB dari dulu sejak saya kenal fokusnya memang penyediaan buku. Kelihatan dari koleksinya kan banyak, terus paling ditambah kegiatan-kegiatan sama mas Eko biar gak bosen pengunjungnya.” (Santoso Mahargono (ketua FKTBM Malang Raya)) Dari tujuan awal dan diawali dengan menjajakan bahan bacaan seadanya di depan rumah oleh pengelola yang berdampak pada pola pikir masyarakat. Masyarakat sadar akan pentingnya membaca dan pengelolaan informasi dari sumber yang valid. Lebih lanjut informasi yang diterima oleh masyarakat di PAB juga berpengaruh dalam proses pengembangan sofskill dan hardskill. “Terus juga yang punya butik depan, karena dia suka dan rutin baca-baca buku femina modemode sekarang dia punya butik, dan dibutiknya selalu tak kasih majalah-majalah biar bisa bacabaca pengunjungnya. Contohnya mizbah awalnya dia itu pengangguran terus karena sering ke perpusku baca-baca buku tentang buku peternakan sekarang dia punya ternak kelinci, firman yang tadinya suka baca buku peternakan juga punya ternak ayam. Saya memang gak bisa ngclaim itu karena PAB cuma mereka juga mengakui dapat ide setelah baca disini.” (Pengelola PAB) “Sering baca majalah perpusnya mas Eko sengaja, langsung bisa ini bisa cari model-model jahitan baru.” (Siti Sulina (pengunjung)) Selain itu, dampak yang muncul adalah rasa percaya masyarakat terhadap aktivitas PAB. Dampak tersebut mengarah pada citra positif dari setiap penyelenggaraan kegiatan di PAB baik yang dilakukan oleh pengelola sendiri atau dari pengunjung sendiri. “Anak saya suruh sering saya suruh kesitu buat pinjem kamus-kamus di perpuse mas Eko.” (Siti Sulina (pengunjung)) “Kegiatan disini didukung sama warga, ketua RT, kelurahan ikut dukung. Saya nggak khawatir mas kalau anak saya main disini.” (Kusnindar (pengunjung)) Melihat pentingnya peran bahan bacaan di PAB berdampak pada pengadaan bahan bacaan. Pengolola bergerak aktif melakukan pengadaan secara rutin. Sejak tahun 1998 pengadaan bahan bacaan di PAB lebih mengandalkan sumbangan dari pihak eksternal. “Koleksinya juga aku gak takut hilang. Biar gak habis juga saya juga aktif cari. Buku-buku disini kebanyakan donatur dari orang-orang jauh individu atau instansi, kayak dikasih dari perpusnas, terus organisasi ini organisasi itu. Malah terkadang tiba-tiba ada yang ngehubungi saya kalo ada yang sudah nyalurkan ke perpusnas dan saya tinggal ambil. Malah terkadang saya ikut lomba tinggal kirim foto kegiatan perpus terus lolos hadiahnya buku.” (Pengelola PAB) Selain mengembangkan pola pembelajaran di masyarakat sekitar, PAB aktif berpartisipasi dalam pembentukan pengetahuan pihak eksternal. Pihak ekternal yang dimaksud disini adalah TBM lain di area Malang Raya. Sebelum terbentuknya FKTBM pada tahun 2015, pengelola sudah aktif melakukan safari literasi. Kegiatan tersebut berfokus pada memotivasi dan berbagi pengalaman dengan pegiat literasi lain terutama dengan pengelola TBM yang tergolong baru. “Aku sering jadi sasaran mas TBM baru, tapi memang sudah tanggungjawab aku mas. Aku kasih motivasi dan buku yang sesuai dengan TBM yang saya kunjungi, jadi sudah dikira-kira. Kan aku yang dibilang udah sudah berpengalaman, jadi sering aku datang kesana mas keliling ke TBM-TBM kadang aku dari jam tujuh sampaijam 11 malam, rekor saya 16 TBM mas.” (Pengelola PAB) “TBM di Malang Raya sudah mulai bangkit, seperti mas Eko saja sudah mau turun ke TBMTBM lain. Itu satu langkah maju untuk literasi disini.” (Santoso Mahargono (ketua FKTBM Malang Raya)) “Salah satu yang sering sharing disini Mas Eko Perpustakaan Anak Bangsa. Berkunjung saling berbagi pengetahuan dan aktif kalau kami ada kegiatan selalu ikut.” (Ratna Ayudya (Relawan Ruang Belajar Aqil Kota Malang)) Pengembangan jejaring informasi yang rutin dilakukan oleh pengelola PAB memberi dampak pada masing-masing pihak. Secara sederhana PAB memiliki semakin luas jejaring informasi terkait penyelenggaraan TBM. Keberadaan interaksi dengan pihak eksternal menambah wawasan dan mengembangkan kompetensinya sebagai pegiat literasi. Selain itu dari sudut pandang TBM yang dikunjungi memiliki acuan dan pengetahuan tambahan dalam pengembangan TBM tersebut. Berdasarkan dua fokus kegiatan rutin yang dilakukan PAB memberikan dampak masingmasing. Kegiatan penyediaan bahan bacaan yang rutin dan konsistensi melakukan pengadaan memberikan kesadaran bagi masyarakat akan peran penting bahan bacaan yang valid dalam mengembangkan diri. Selain itu, kegiatan tersebut juga membentuk citra positif dari PAB. Kegiatan rutin kedua yang bersifat eksternal de
Conclusion
Tujuan dari tulisan ini adalah menggambarkan peran Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) dalam mendukung dan membantu pembentukan pengetahuan masyarakat. Fokus PAB sendiri adalah penyediaan bahan bacaan untuk masyarakat. Dalam mendukung akses tersebut PAB melakukan pengadaan secara rutin baik yang dilakukan dengan mengandalkan sumbangan atau donasi dari pihak eksternal. Namun sebagai pendukung proses pembelajaran, pengelola PAB melakukan kegiatan yang bersifat substitusi dalam pengembangan PAB sendiri. Kegiatan tambahan tersebut terdiri dari pengembangan masyarakat pemakai yang bersifat rekreasi dan pengembangan jejaring informasi. Kegiatan-kegiatan tersebut dikemas secara informal dan sederhana namun tidak meninggalkan peran PAB dalam penyediaan bahan bacaan yaitu dengan tetap memanfaatkan koleksi sebagai dasar penyelenggaraan. Kemudian untuk penyelenggaraan pengembangan jejaring informasi dilaksanakan dalam bentuk safari literasi. Safari literasi merupakan kegiatan berkunjung ke TBM-TBM lain yang dilakukan secara pribadi oleh pengelola PAB. Dalam pengaplikasiannya kegiatan tersebut berfokus pada kegiatan transfer pengetahuan antar-pengelola TBM. Pengelola PAB juga memanfaatkan kegiatan tersebut untuk melakukan donasi bahan bacaan yang ada kepada TBM lain. Lebih lanjut setiap kegiatan di PAB memberikan dampak pada masing-masing pihak terkait. Tidak hanya dari perspektif pengunjung atau masyarakat sekitar melainkan pada diri pengelola dan pihak eksternal.