PEMANFAATAN WEBSITE DAN MEDIA SOSIAL PERPUSTAKAAN DALAM LAYANAN REFERENSI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Ilmu Komputer ESQ
Abstrak
Layanan referensi pada Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan layanan yang penting bagi pengguna. Adanya layanan referensi mempermudah sivitas dalam melakukan penelitian dan pembelajaran. Perkembangan teknologi saat ini berpengaruh pada berbagai unsur termasuk pada layanan di Perpustakaan. Website dan media sosial sebagai salah satu produk perkembangan teknologi yang dimanfaatkan Perpustakaan untuk mendukung layanan referensi. Pada penelitian kali ini, peneliti melakukan penelitian terhadap website dan media sosial yang ada di satu Perpustakaan di Indonesia dan tiga Perpustakaan di luar negeri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan objek penelitian adalah website dan media sosial pada empat Perpustakaan Perguruan Tinggi. Temuan dari penelitian memberikan gambaran website pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di luar negeri sudah sangat baik dalam memberikan layanan referensi via website dan media sosial terhadap pemustakanya.
Abstract
The reference service in the college library is an important service for users. The existence of a reference service makes it easier for the community to conduct research and learning. Current technological developments affect various elements including services in the Library. Website and social media as one of the technological development products used by libraries to support reference services. In this study, researchers conducted research on websites and social media in one library in Indonesia and three libraries abroad. This research uses descriptive research method with a qualitative approach with the object of research is the website and social media in four Higher Education Libraries. The findings from the study provide an overview of websites at overseas tertiary libraries that are already very good at providing reference services via websites and social media to their users.
Keywords:
Layanan Referensi
· Website
· Media Sosial
· Perpustakaan Perguruan Tinggi
· Era Digital
Introduction
Era industri 4.0 membawa banyak perubahan bagi berbagai unsur kehidupan. Segala aspek kehidupan saat ini banyak sekali mengandalkan teknologi untuk tercipta automasi sehingga mempermudah serta memperlancar kegiatan sehari-hari (Baenanda, 2019). Bersamaan dengan kondisi tersebut, semua industri berlomba untuk menciptakan inovasi sebagai upaya untuk menghadapi perubahan dan ketidakpastian pada era ini. Inovasi memang sering kali dikaitkan dengan teknologi, namun sebenarnya inovasi dapat muncul bukan hanya dengan teknologi, namun inovasi adalah ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau orang lain (Rogers, 2013). Keberadaan Perpustakaan Perguruan Tinggi pada sebuah institusi Pendidikan Tinggi pada dasarnya memiliki fungsi untuk memfasilitasi terwujudnya tridharma Perguruan Tinggi. Seperti yang tercantum dalam Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2017) dinyatakan bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah Perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkedudukan di Perguruan Tinggi. Sejalan dengan tujuan dari adanya Perguruan Tinggi memperlihatkan bahwa Perpustakaan merupakan bagian yang penting yang melekat dengan keberadaan institusi Perguruan Tinggi (Suwena, 2012). Perpustakaan secara umum memiliki kegiatan besar yang harus dikuasai oleh pustakawannya yang terdiri atas pengembangan koleksi, pengolahan koleksi dan layanan pemustaka (Febriyanto & Supriatna, 2018). Namun apabila dilihat dari sudut pandang pemustaka, kegiatan yang utama dari lembaga Perpustakaan adalah layanan. Layanan pada Perpustakaan Perguruan Tinggi terbagi atas layanan sirkulasi, layanan referensi dan layanan literasi informasi (Safitri, 2014). Pentingnya unsur layanan pada Perpustakaan khususnya Perpustakaan Perguruan Tinggi membuat tujuan utama segala kegiatan dan perancangan berarah pada layanan prima (Bopp & Smith, 2011). Layanan prima diupayakan pengelola Perpustakaan untuk terlaksana sebaik-baiknya demi terciptanya kepuasan pengguna layanan. Pustakawan harus menanamkan dalam benaknya bahwa mereka harus menyediakan informasi yang tepat untuk pengguna yang tepat dan pada waktu yang tepat (Pedramnia, Modiramani, & Ghavami Ghanbarabadi, 2012). Sebagai jantung dari sebuah Perguruan Tinggi, Perpustakaan menyediakan layanan referensi sebagai pusat layanan utamanya. Layanan referensi memberikan saran, asistensi dan instruksi pada pemustaka dengan berbagai kepentingan dan berbagai usia untuk dapat memanfaatkan berbagai sumber informasi (Reference & User Services Association (RUSA), 2017). Layanan referensi prima akan menjadi salah satu faktor peningkatan kepuasan pemustaka terhadap layanan di Perpustakaan. Berkembangnya era digital saat ini menuntut pustakawan untuk menguasai berbagai hal termasuk media digital dari berbagai platform. Dahulu layanan referensi dan berbagai layanan di Perpustakaan hanya dapat dilakukan dengan tatap muka, namun saat ini layanan dapat dilakukan menggunakan media digital (Ahenkorah-Marfo & Akussah, 2017). Pemanfaatan media digital berupa website maupun social media dijadikan sebagai alternatif pada beberapa Perpustakaan untuk berinteraksi dengan pemustakanya. Menurut Dagan dan Hogan dalam AhenkorahMarfo & Akussah (2017) sosial media dalam sebuah revolusi yang dimulai pada sekitar tahun 1990-an dan terus berkembang hingga saat ini, yang membuat Perpustakaan dapat menyediakan layanan yang lebih dinamis. Perkembangan media sosial harus diikuti Perpustakaan khususnya Perpustakaan Perguruan Tinggi karena mayoritas pemustaka adalah remaja yang aktif sebagai pengguna sosial media (Harrison, Burress, Velasquez, & Schreiner, 2017) Pada artikel ini membahas website dan media sosial yang digunakan pada lima universitas untuk layanan referensi secara digital. Masing-masing universitas memiliki layanan yang berbeda sesuai dengan tujuan masing-masing institusinya. Penerapan referensi digital pada website dan media sosial Universitas ternama dan sangat berpengalaman dapat menjadi rujukan untuk kemajuan layanan referensi di Indonesia. II. TINJAUAN LITERATUR A. Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah Perpustakaan yang terdapat pada Perguruan Tinggi, badan bawahannya, maupun lembaga yang berafiliasi dengan Perguruan Tinggi, dengan tujuan utama membantu Perguruan Tinggi mencapai tujuannya (Basuki, 1993). Definisi tersebut dilengkapi dalam Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2017) sebagai Perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkedudukan di Perguruan Tinggi. Menurut Standar Nasional Perpustakaan Peguruan Tinggi yang dirancang Perpustakaan Nasional RI, Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki tujuan: 1. menyediakan bahan Perpustakaan dan akses informasi bagi pemustaka untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; 2. mengembangkan, mengolah, dan mendayagunakan koleksi; 3. meningkatkan literasi informasi pemustaka; 4. mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi; 5. melestarikan bahan Perpustakaan, baik isi maupun medianya. Sedangkan menurut Association of College and Research Libraries (ACRL) (2018), Perpustakaan Perguruan Tinggi harus dapat mendukung tujuan dari institusi Perguruan Tinggi. Saat ini yang menjadi perhatian utama pada institusi Perguruan Tinggi untuk kemudian dijadikan dasar bagi Perpustakaan dalam pengambilan keputusan adalah: 1. peningkatan tuntutan akan nilai akuntabilitas pada akademi, 2. harapan untuk penilaian pembelajaran dan program berbasis hasil, 3. upaya untuk meningkatkan retensi dan tingkat kelulusan, penekanan yang lebih besar pada keberhasilan siswa, 4. hubungan yang diakui antara keterlibatan siswa dan prestasi akademik, 5. pentingnya praktik pedagogis seperti penelitian dan inquiry-based learning. Dalam kegiatannya, Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki tiga kegiatan utama yaitu pengembangan koleksi bahan pustaka atau biasa disebut pengadaan, pengolahan bahan pustaka, dan pelayanan bahan pustaka. Masing- masing kegiatan memiliki rincian deskripsi tugasnya masing- masing. Pengembangan koleksi yang disarankan Perpustakaan Nasional adalah sebesar minimal 3% dari koleksi yang ada saat ini. Adapun beberapa kegiatan pada pengolahan yang dilakukan pustakawan adalah pendeskripsian, pengklasifikasian, pemberian tajuk subjek, penyusunan secara sistematis dengan sistem yang baku, stock opname, penyiangan, dan pelestarian koleksi. Untuk bagian layanan terdiri atas layanan sirkulasi, layanan referensi dan layanan literasi informasi. B. Layanan Referensi Layanan referensi koleksi Perpustakaan merupakan layanan yang menjadi unggulan pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pemustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi memanfaatkan layanan referensi ini untuk membantu penulisan tugas dalam kuliahnya, penelitian baik individu maupun secara tim, juga dalam penyusunan tugas akhirnya. Layanan referensi adalah konsultasi informasi dimana staf Perpustakaan memberikan rekomendasi, intepretasi, evaluasi, dan atau menggunakan sumber informasi untuk membantu pemustaka menemukan informasi yang sesuai kebutuhan (Reference and User Services Association (RUSA), 2008). Sedangkan (Reitz, 2004) dalam kamusnya menyatakan bahwa layanan referensi terdiri dari menjawab pertanyaan substantif, memberikan instruksi ke pemustaka dalam pemilihan alat dan teknik yang tepat dalam pencarian informasi, memandu pencarian yang dilakukan pemustaka, mengarahkan pemustaka ke lokasi dimana terdapat sumber-sumber informasi Perpustakaan, membantu mengevaluasi hasil temuan, memberikan saran kepada pemustaka untuk mengakses sumber informasi di luar Perpustakaan apabila dibutuhkan, menjaga kestabilan statistik referensi dan berpartisipasi dalam pengembangan koleksi referensi. Dalam layanan referensi, terdapat beberapa tipe yang dikembangkan (Bopp & Smith, 2011), yaitu: 1) Readers Advisory Kegiatan dimana pustakawan memberikan rekomendasi kepada pemustaka terkait sumbersumber informasi yang menarik minat baca, seperti buku baru, best seller, jurnal yang sedang membahas isu terbaru dan semua koleksi Perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. 2) Ready Reference Memberikan jawaban pada pertanyaan yang tidak begitu rumit dan dapat dicari dengan mudah dan cepat pada sumber informasi yang tersedia di Perpustakaan. 3) Research Consulting Memberikan referensi kepada peneliti terkait dengan penelitian, pertanyaan yang diberikan biasanya lebih rumit dan jawaban yang diberikan tidak dapat dijawab dengan singkat namun harus diberikan beberapa pilihan yang mendekati tema penelitian untuk kemudian dipilih sendiri oleh peneliti. 4) Subject Specialists Pustakawan yang memiliki pengetahuan yang mendalam terhadap sebuah subjek, sehingga pertanyaan dan daftar referensi yang diajukan pemustaka khususnya peneliti, dapat diberikan dengan tepat. Subject specialist merupakan partner terbaik untuk peneliti. 5) Bibliographic Verification and Citation Melakukan verifikasi terhadap sumber referensi yang digunakan pada sebuah tulisan di artikel, sehingga mengetahui sumber utama dari penulisan artikel yang dibaca pemustaka. Selain itu, penelusuran juga dilakukan terhadap sumber informasi yang disitasi oleh para peneliti, sehingga bisa diketahui kebenaran dari sumber artikel yang disitasi. 6) Interlibrary Loan and Document Delivery Pinjam antar Perpustakaan dilakukan Perpustakaan untuk menambah khazanah koleksi yang dimiliki untuk dimanfaatkan pemustaka. Perpustakaan yang sudah bekerja sama dalam layanan pinjam antar Perpustakaan juga memiliki layanan pengantaran dokumen dari Perpustakaan satu ke Perpustakaan lainnya. 7) Instruction Pustakawan memberikan instruksi kepada pemustaka terkait penelusuran sumber informasi yang dicari pemustaka. Pemberian instruksi dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemberian instruksi langsung dilakukan secara tatap muka, bisa secara formal dalam kelas atau pelatihan maupun secara personal. Selain pemberian instruksi langsung, dapat dilakukan pemberian instruksi secara tidak langsung, yaitu dengan cara berkomunikasi via email atau media komunikasi lainnya. 8) Literacy Programs Program yang dirancang Perpustakaan untuk menyebarkan pengetahuan terkait dengan dunia literasi. Pemustaka diajak untuk memanfaatkan koleksi Perpustakaan dengan optimal dengan segala fasilitas dan bahan pustaka yang ada di sana. 9) Outreach and Marketing Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi jangkauan yang harus diraih adalah pengkhususan subjek pada setiap bidang ilmu program studi yang ada di lembaga pendidikan tinggi disana. Upayakan semua kalangan baik itu dosen, mahasiswa, maupun peneliti dapat ditangani oleh Pustakawan Referensi disana. Setelah mengetahui beberapa tipe dari layanan referensi di Perpustakaan, selanjunya berikut model dari layanan referensi yang terbagi atas: 10) Reference Desk Adalah model layanan referensi yang tradisional, dimana pustakawan khusus layanan referensi menempati satu meja atau counter yang tetap dimana lokasi penempatannya strategis, sehingga pemustaka dapat mudah menemukannya. 11) Roving Reference Model dimana pustakawan tidak memiliki tempat atau meja yang tetap. Pustakawan berkeliling menawarkan layanan referensi kepada pemustaka yang nampak membutuhkan bantuannya. 12) Tiered Reference Service Layanan referensi berjenjang dimana mengharuskan pemustaka untuk menemui pustakawan sesuai dengan level pertanyaan yang diajukan. Reference desk yang pertama ditemui adalah pustakawan referensi yang hanya dapat menjawab pertanyaan sederhana, lanjut ketingkat yang lebih tinggi, untuk pertanyaan yang agak sulit. Hingga harus bertemu dengan pustakawan ahli untuk menjawab pertanyaan yang sangat kompleks. 13) Reference by Appointment Sebelum melakukan konsultasi, pemustaka harus membuat janji dengan pustakawan referensi. 14) Service to Remote Users Model layanan ini tidak membutuhkan pertemuan secara langsung antara pemustaka dan pustakawan di Perpustakaan. Pustakawan dapat melakukan konsultasi melalui media telepon, email dan sebagainya. C. Website & Media Sosial Website adalah kumpulan dari halaman-halaman situs, yang biasanya terangkum dalam sebuah domain atau subdomain, yang tempatnya berada di dalam World Wide Web (WWW) di Internet. WWW terdiri dari seluruh situs web yang tersedia kepada publik (Proweb Indonesia, 2011). Website merupakan kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringanjaringan halaman (hyperlink). Media sosial merupakan hal yang sudah sangat umum di era digital ini. Carr and Hayes dalam Joo et al. (2018) mendefinisikan media sosial sebagai “internet-based channels that allow users to opportunistically interact and selectively selfpresent, either in real-time or asynchronously, with both broad and narrow audiences who derive value from user-generated content and the perception of interaction with others.” Media sosial memungkinkan pengguna untuk membuat profil mereka sendiri dan membuat koneksi dengan orang lain secara online, serta memungkinkan mereka untuk berkontribusi dan berbagi konten dan komentar di jaringan online. Menurut Philip Kotler dan Kevin Keller (2009) pengertian media sosial adalah sarana bagi konsumen untuk berbagi informasi teks, gambar, video, dan audio dengan satu sama lain dan dengan perusahaan dan sebaliknya. Dalam konteks Perpustakaan menurut penelitian yang dilakukan Chen et al. (2012) dalam (Joo et al., 2018), media sosial dapat digunakan untuk: 1. Berbagi pengetahuan (knowledge sharing), 2. Diseminasi informasi (information dissemination), 3. Komunikasi (communication) dan 4. Berkumpulnya pengetahuan (knowledge gathering) Sebuah media bisa digolongkan ke dalam media sosial jika memiliki karakteristik sebagai berikut (Roberts, 2016): 1. Pengguna media sosial adalah pembuat konten (content creator). 2. Memungkinkan pengguna untuk menjadi peserta aktif dalam proses komunikasi. 3. komunikasi instan. 4. orang dapat dengan mudah berbagi dan memposting konten berita di jaringan mereka 5. menumbuhkan rasa keterkaitan dan komunitas dengan menyatukan orang-orang di seluruh dunia secara online. Media sosial juga terbagi atas beberapa jenis, berikut jenis media sosial dan beberapa contohnya (maxmanroe.com, 2019): 1) Social Networks Social Networks atau jejaring sosial merupakan jenis media sosial yang paling umum dikenal masyarakat dan paling banyak digunakan. Beberapa social network yang paling banyak digunakan saat ini antara lain: YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Google Plus, Pinterest dan lain-lain. 2) Komunitas Online (Forum) Situs forum dan komunitas online umumnya dibangun oleh perorangan atau kelompok yang memiliki minat pada bidang tertentu. Para pengguna forum tersebut dapat melakukan diskusi, chatting, dan memposting tentang topik yang berhubungan dengan minat mereka. Beberapa contoh komunitas online antara lain: Kaskus.co.id, Ads.id, Brainly.co.id, Bersosial.com, Indowebster.com dan lain-lain. 3) Situs Blog Situs blog juga termasuk dalam kategori media sosial karena memungkinkan pemilik blog dan pembacanya untuk berinteraksi. Umumnya blog dibuat berdasarkan minat atau keahlian si pemilik blog dan konten di dalamnya dapat mempengaruhi banyak orang. 4) Social Bookmark Ide awal dari situs social bookmark ini adalah sebagai wadah bagi para pengguna internet untuk menyimpan alamat website yang mereka sukai. Namun, belakangan ini pengguna situs social bookmark mulai berkurang karena situs ini banyak digunakan untuk kegiatan spam.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut (Sugiyono, 2016) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci. penelitian deskriptif merupakan penelitian yang digunakan untuk menggambarkan satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Objek penelitian yang dianalisis pada kajian ini adalah beberapa website dan media sosial Perpustakaan Perguruan Tinggi yang menyediakan layanan referensi.
Discussion
A. Pemanfaatan Website Pada Layanan Referensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Layanan referensi merupakan ujung tombak dari layanan yang dimiliki Perpustakaan Perguruan Tinggi. Aktifnya kegiatan penelitian yang terselenggara di Perguruan Tinggi menjadikan Perpustakaan Perguruan Tinggi selalu dibutuhkan oleh pemustakanya. Perpustakaan Perguruan Tinggi di duni selalu berupaya untuk memberikan layanan referensi yang terbaik bagi pemustakanya. Terdapat beragam jenis layanan referensi yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan dari pemustaka menjadikan layanan. Dalam pembahasan kali ini penulis mengutamakan tiga kategori layanan yang akan dibahas lebih mendalam yaitu research consulting, subject specialist dan literacy program. 1) Research Consulting Pustakawan pada Perpustakaan Perguruan Tinggi sangat dihargai karena fungsinya sebagai konsultan dalam pencarian dan pengolahan data penelitian. Pustakawan pada Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini sedang berupaya secara maksimal untuk menjadi partner atau rekanan dalam proses penelitian bagi para peneliti, baik dosen maupun mahasiswa. Konsultasi penelitian dilakukan pihak Perpustakaan dengan pemustaka dengan cara bertemu tatap muka, atau bisa juga dengan menggunakan media digital seperti email atau chatting pada platform yang memang banyak dipakai. Banyak Perpustakaan Perguruan Tinggi yang sudah menyediakan menu untuk melakukan konsultasi penelitian via website resmi milik Perpustakaan tersebut. Berikut adalah contoh menu pada website Perpustakaan yang bertujuan untuk konsultasi penelitian yang terdapat pada Perpustakaan Nanyang Technological University, Singapore. GAMBAR 1. TAMPILAN WEBSITE NTU LIBRARY Sumber: http://www.ntu.edu.sg/Library/Pages/default.aspx Pada website NTU Library tersebut, tersedia menu Research & Publishing Support yang dapat dimanfaatkan pemustaka untuk berkonsultasi terkait dengan penelitiannya. Jika ditelusur lebih dalam pada menu Research & Publishing Support terdapat pilihan bagi pemustaka. Adapun pilihan yang tersedia adalah Ask A Librarian, Advisory and Consultation, NTU LibGuides, Workshops, Research Support for Faculty, dan Literature Search Consultation. Selain NTU, website Perpustakaan Harvard University juga memiliki menu yang mendukung peneliti untuk mempermudah proses penelitian dengan menyediakan menu konsultasi dengan pustakawan. GAMBAR 2. TAMPILAN WEBSITE PERPUSTAKAAN HARVARD UNIVERSITY Sumber: https://library.harvard.edu/how-to/get-research-help Perpustakaan Harvard memberikan pilihan pada layanannya tersebut, yaitu dengan membagi layanan tersebut atas tiga, yaitu Get Help Now yang digunakan untuk pertanyaan yang membutuhkan jawaban sesegera mungkin dengan pilihan fasilitas Live Chat (pada jam yang sudah ditetapkan), bertanya secara personal dengan pustakawan dengan lokasi yang tersedia dan juga pilihan FAQ ; Make An Appointment yang digunakan sebagai penjadwalan waktu berkonsultasi dan Get Help From Your Peers yang dapat digunakan untuk berdiskusi dengan sesama peneliti layakanya berdiskusi dengan teman sebaya. Tidak hanya Perpustakaan di luar negeri, Perpustakaan Universitas Indonesia juga memiliki menu yang memfasilitasi peneliti untuk melakukan konsultasi kepada pustakawannya. GAMBAR 3. TAMPILAN WEBSITE PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA Sumber: http://lib.ui.ac.id/layanan?hal=1 Pada laman Layanan di website Perpustakaan Universitas Indonesia, ditampilkan beberapa layanan referensi yang tersedia seperti Penelusuran Literatur, E-resources Delivery Services (EDS) dan Research Integrity Services (RISER). Untuk berinterkasi langsung dengan Pustakawan terkait konsultasi penelitian, pada tab anggota, tersedia menu Permintaan Informasi dan Tanya Pustakawan. Kedua menu tersebut dapat dimanfaatkan untuk interaksi pemustakan dan pustakawan. 2) Subject Specialist Subject specialist merupakan sahabat terbaik dari peneliti. Pustakawan yang ditempatkan pada subject specialist ini benar-benar memahami secara mendalam terkait sebuah subjek ilmu. Peneliti yang membutuhkan referensi terkait penelitian pada bidangnya akan dengan sangat mudah berkomunikasi dengan bagian ini. Pada beberapa website Perpustakaan Perguruan Tinggi, dapat ditemukan menu terkait subject specialist ini, seperti pada website Perpustakaan University of Kentucky. GAMBAR 4. TAMPILAN WEBSITE PERPUSTAKAAN UNIVERSITY OF KENTUCKY Sumber: http://libraries.uky.edu/Ask Jika kita menelusur lebih dalam terhadap menu Subject Specialists yang tersedia pada website Perpustakaan University of Kentucky ini, maka akan terdapat list nama pustakawan beserta informasi bidang apa yang menjadi keahliannya, juga kontak yang dapat dihubungi oleh pemustaka dalam berkonsultasi dengannya. Sama halnya dengan website Perpustakaan University of Kentucky, Nanyang Technological University, Singapore juga memiliki menu subject specialist yang dapat dimanfaatkan pemustakanya dalam berkonsultasi. GAMBAR 5. WEBSITE NTU LIBRARY-SUBJECTSPECIALIST Sumber: http://www.ntu.edu.sg/Library/Pages/expert.aspx Pada website NTU Library, menu Get Expert Advice yang dapat dipilih untuk mengetahui pustakawan yang memiliki keahlian pada bidang tertentu yang dapat dimintai saran terkait penelitian yang sedang dijalani pemustaka. 3) Literacy Program Sudah bukan hal yang baru berbicara program literasi pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. Hampir semua Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki program ini, baik Perguruan Tinggi besar maupun kecil baik Perguruan Tinggi lama maupun yang baru. Berikut beberapa tampilan website Pepustakaan Perguruan Tinggi yang memiliki program literasi: GAMBAR 6. TAMPILAN WEBSITE PERPUSTAKAAN SOUTHERN METHODIST UNIVERSITY Sumber: https://www.smu.edu/Libraries/fondren/services Pada menu bagian layanan di website Perpustakaan Southern Methodist University, Texas terlihat secara jelas bahwa Information Literacy merupakan bagian dari layanan referensi yang dapat dilayani via website. GAMBAR 7. WEBSITE PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA Sumber: http://lib.ui.ac.id/layanan?hal=1 Pada Perpustakaan Universitas Indonesia, Layanan Literasi Informasi hanya berbentuk informasi bahwa Perpustakaan ini menyediakan layanan Literasi Informasi. Informasi terkait pemanfaatan penelusuran informasi dibuat di menu yang berbeda. B. Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Media Interaksi dengan Pemustaka Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media sosial saat ini menjadi bagian dari gaya hidup dan media komunikasi andalan bagi masyarakat, tidak terkecuali para sivitas akademika di sebuah Perguruan Tinggi. Kemudahan dan kecepatan dalam berkomunikasi, penerimaan informasi up to date dari media sosial menjadi keunggulan dari adanya media sosial tersebut. Banyaknya jenis media sosial dapat menjadi peluang bagi penggunanya untuk berkomunikasi dengan rekan pada platform media sosial yang sama, selain itu banyak peluang bisnis yang bisa dicapai dengan adanya pertemanan di media sosial. Pustakawan selaku orang yang paham akan perkembangan berita terkini sudah seharusnya ikut memanfaatkan media sosial ini sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan pemustakanya. Penggunaan beberapa media sosial sesuai fungsi dapat dirancang untuk menuju kepuasan pelanggan. Media sosial yang dapat dimanfaatkan pihak Perpustakaan dalam rangka menunjang promosi bisa dengan menggunakan platform yang lebih mengarah pada interaksi yang sedikit pasif seperti Website, Instagram, Facebook, Youtube, Twitter dan sebagainya. Untuk meningkatkan layanan dalam interaksi dengan pemustaka secara aktif, Perpustakaan dapat dilakukan pada platform yang berorientasi pada percakapan seperti, email, Whatsapp, Line, We Chat dan sebagainya. Pada beberapa Perpustakaan yang diteliti, media sosial yang lumrah untuk digunakan berinteraksi dengan pemustaka adalah Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube. Penggunaan media sosial pada berbagai platform dimanfaatkan untuk tercakupinya semua unsur pengguna dari berbagai usia dan kesukaan. NTU Library memanfaatkan Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan Blog untuk berinteraksi dengan penggunanya. Facebook, Instagram dan Twitter merupakan media sosial yang aktif digunakan NTU untuk menyebarkan informasi khususnya kegiatan yang akan berlangsung. Informasi dibuat dalam bentuk poster yang menarik dengan desain terkini yang apik. Pada penelusuran yang dilakukan peneliti, NTU Library sangat aktif melakukan posting pada empat media sosial yaitu Facebook, Instagram, Twitter dan Blog. Konten yang ada pada keempat media sosial NTU Library sama. Setiap posting yang ada di Facebook, akan ada pula di Instagram, Twitter dan Blog. Pada media sosial facebook, NTU Library masuk ke dalam kelompok Page yang memang biasa dimiliki oleh sebuah institusi atau tokoh ternama bukan sebagai individu. GAMBAR 8. TAMPILAN FACEBOOK NTU LIBRARY Sumber https://web.facebook.com/NTUsgLibrary/ Interaksi yang didapati dengan pengikut (follower) tidak begitu intens. Dari jutaan pengikut pada media sosialnya, beberapa pengikut hanya klik menyukai (Like) tanpa memberikan komentar untuk berinteraksi dengan pihak admin. Pengikut tidak begitu aktif, baik dalam menanggapi postingan maupun bertanya seputar layanan Perpustakaan. Media sosial yang digunakan pada Harvard Library (Perpustakaan Universitas Harvard) sebagai media untuk berinteraksi dengan pengguna adalah Facebook dan Twitter. Semua media sosial pada Harvard University mengandung informasi yang tidak hanya fokus pada agenda kegiatan yang akan dilakukan Perpustakaan, namun di dalamya juga mengandung informasi terkait sejarah dan berbagai pengetahuan yang akan menambah wawasan follower-nya. GAMBAR 9. TAMPILAN TWITTER HARVARD LIBRARY Sumber https://twitter.com/HarvardLibrary Media sosial Harvard Library memiliki perbedaan dalam hal posting. Konten pada Facebook dan Twitter dibuat berbeda dan waktu posting juga berbeda. Twitter milik Harvard Library memiliki waktu posting yang lebih sering dibandingkan dengan Facebooknya. GAMBAR 10.INSTAGRAM PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA Sumber: https://www.instagram.com/ui_library/?hl=id Perpustakaan Universitas Indonesia memiliki tiga media sosial yang digunakan untuk berinteraksi dan membagikan informasi kepada follower-nya. Tiga media sosial yang digunakan adalah Instagram, Twitter dan Youtube. Informasi yang sama terdapat pada Insatagram dan Twitter. Waktu posting yang sama juga berlaku bagi kedua media sosial tersebut. Media sosial yang aktif digunakan adalah Instagram dan Twitter, sedangkan untuk Youtube, Perpustakaan Universitas Indonesia tidak memiliki konten yang update. University of Kentucky Libraries memiliki media sosial yang cukup aktif untuk berinteraksi dengan penggunanya. Empat media sosial digunakan sebagai salah satu sarana berkomunikasi, yaitu Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube. Konten pada Facebook dan Twitter dibuat sama dan diposting dalam waktu yang sama juga. Konten yang tersedia pada Facebook dan Twitter berisi mengenai info update, sejarah, beberapa kegiatan dan hal yang berkaitan dengan University of Kentucky Libraries. Media sosial Instagram yang dimiliki memiliki informasi yang berbeda, pada media sosial ini, pengelola mengutamakan keindahan foto yang diposting sesuai dengan fungsi dari instagram itu sendiri. Sedangkan untuk Youtube yang dimiliki oleh University of Kentucky Libraries tidak terlalu update seperti media sosial lainnya.
Conclusion
Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan organisasi yang memiliki tujuan untuk mendukung lembaga yang membawahinya demi berjalannya tridharma Perguruan Tinggi secara nyata. Layanan pengguna merupakan inti dari kegiatan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Civitas akademika yang puas akan layanan prima yang diberikan Perpustakaan menjadi tujuan terselenggaranya Perpustakaan ini. Berbagai metode dan media dapat dimanfaatkan Perpustakaan Perguruan Tinggi untuk memberikan layanan. Layanan referensi yang merupakan layanan yang cukup krusial pada Perpustakaan Perguruan Tinggi harus dapat diketahui dan dimanfaatkan civitas secara maksimal. Layanan referensi menjadikan Perpustakaan dan civitas selaku pengguna dapat berinteraksi dan memahami kebutuhannya secara tepat. Dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial yang tersaji di dunia maya, maka akan semakin dekat jarak antara pustakawan dan pemustaka. Pustakawan bisa memberikan layanan referensi tugas akhir atau penelitian hanya melalui media sosial, tanpa harus bertatap muka. Pemustaka akan merasa dekat dan mudah menjangkau Perpustakaan sehingga kelak akan timbul penilaian yang baik dari para pemustaka dan tentu saja akan mengulangi pengalaman kembali lagi pada layanan yang berorientasi pada pengguna ini. Website dan media sosial saat ini banyak dimanfaatkan oleh Perpustakaan Perguruan Tinggi terutama di negara maju. Melalui website Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan dari kampus NTU di Singapura, Harvard University & University of Kentucky di Amerika Serikat, serta Universitas Indonesia di Indonesia dapat melakukan layanan referensi kepada pemustakanya tanpa harus adanya tatap muka. Layanan referensi via website yang sudah canggih dan lengkap dapat ditemui di negara maju. Sementara pada negara berkembang, layanan referensi via website masih terus dikembangkan. Selain website pada masing-masing Perpustakaan Perguruan Tinggi yang diteliti, penggunaan media sosial juga dimaksimalkan untuk adanya interaksi langsung dengan pengguna. Media sosial yang berkembang dan pasti dimanfaatkan oleh Perpustakaan Peguruan tinggi yang diteliti adalah Facebook dan Twitter. Beberapa jenis media sosial seperti Instagram, Youtube dan Blog dimanfaatkan beberapa Perpustakaan untuk menambah media layanan kepada penggunanya. Konten pada media sosial Facebook dan Twitter yang ditemukan peneliti pada masing-masing Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah sama. Konten berbeda ditemukan pada media sosial Instagram dan Youtube. Waktu yang digunakan Facebook dan Twitter untuk posting pada media sosial Perpustakaan Perguruan Tinggi yang diteliti adalah sama, sedangkan pada media sosial terutama Youtube intensitas posting sangat jarang. Media sosial digunakan oleh Perpustakaan Perguruan Tinggi yang diteliti lebih utama untuk memberikan informasi terkait kegiatan yang akan diselenggarakan oleh Perpustakaan. Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di negara maju seperti Harvard University dan University of Kentucky, media sosial juga dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi terkait dengan sejarah atau ilmu pengetahuan yang sedang berkembang saat ini. Segala kegiatan pencarian data atau informasi yang dilakukan Pustakawan Referensi, harus dimanfaatkan oleh sebanyak-banyaknya civitas. Mengikuti perkembangan zaman, penyampaian informasi terkini dari Perpustakaan dapat dilakukan dengan memanfaatkan media sosial dari berbagai platform. Membangun komunikasi dengan para pemustaka juga dapat dilakukan via media sosial. Sebagai negara berkembang, Perpustakaan di Indonesia juga dapat memanfaatkan secara maksimal media sosial sebagai media untuk layanan referensi. Tanpa adanya tatap muka, pengguna dan pihak Perpustakaan dapat tetap berinteraksi untuk tetap mendapatkan esensi dari layanan referensi.