Kembali
16
1
2021 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 23 · 1 ISSN 2502-7409

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN OPAC RAMAH ANAK PADA PERPUSTAKAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) prioritas tujuan terhadap pengembangan OPAC ramah anak; (2) kondisi lapangan terkait pengembangan OPAC ramah anak; (3) kesenjangan (discrepancy) antara harapan dan kondisi terkait pengembangan OPAC ramah anak; (4) prioritas kebutuhan yang paling mendesak, layak dan patut dilaksanakan di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Perpusdikbud). Penjaringan data dilakukakan melalui wawancara pada bulan Desember 2020 terhadap pustakawan-pustakawan Perpusdikbud, hasil pengumpulan data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengembangan OPAC ramah anak belum dijadikan suatu prioritas kebutuhan; (2) pustakawan sadar penuh terhadap pentingnya perkembangan literasi digital anak namun tingkat kondisi kebutuhan layanan dan koleksi digital khusus anak dapat dikatakan masih rendah; (3) kesenjangan terdiri dari aspek keputusan pimpinan, aspek sistem dan perangkat yang dibutuhkan dalam pengembangan OPAC ramah anak hingga SDM pengembangnya, faktor dana atau pengeluaran yang diperlukan, faktor jumlah koleksi, jumlah pengunjung dan tingkat literasinya, serta adaptasi dengan metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai OPAC tersebut; (4) prioritas kebutuhan yang paling layak dan patut dilaksanakan oleh Perpusdikbud untuk saat ini yaitu perjenjangan koleksi anak. Hasil penelitian yang dapat disimpulkan bahwa kebutuhan pengembangan OPAC ramah anak di Perpusdikbud belum menjadi suatu suatu prioritas pada saat ini.

Abstract

This study aims to determine: (1) priority intention of children’s OPAC development; (2) natural conditions related to children’s OPAC development; (3) discrepancy between expectations and conditions related to children’s OPAC development; (4) priority needs of the most urgent, feasible and appropriate to be implemented in the Library of the Ministry of Education and Culture (Perpusdikbud). Research data resulted over interviews in December 2020 by the librarians of the Perpusdikbud were analyzed using qualitative descriptive approach. The results showed: (1) the development of child-friendly OPAC has not been a priority need; (2) librarians are fully aware concerning to the importance of the development of children's digital literacy, but the level of conditions for service needs and digital collections for children is still low; (3) the discrepancy consists: aspects of leadership decisions, aspects of systems and tools needed in the development of child-friendly OPACs to the human resources of the developers, factors of funds or expenditures required, factors in the quantity of children’s collections, number of users and literacy levels, and adaptation to learning methods to provide user education to the children about the OPAC; (4) the priority needs that are most appropriate to be implemented by the Perpusdikbud at this time is the grading of children's collections. The results of the study concluded that the need for children’s OPAC development in the Perpusdikbud has not been a priority at this time.
Keywords: analisis kebutuhan · OPAC ramah anak · pengembangan OPAC anak · literasi digital anak · Perpustakaan Kemendikbud

Introduction

Maraknya perkembangan teknologi dan informasi (TI) pada masyarakat, membuat perpustakaan yang tersebar di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan TI, karena perpustakaan merepresentasikan kebutuhan sosial, ekonomi, kultural, dan pendidikan suatu masyarakat (Riyana & Rullyana, 2018). Alat otomasi perpustakaan berupa OPAC (Online Public Access Catalogue) sebagai salah satu implementasi TI di perpustakaan, merupakan suatu layanan dalam jaringan berupa katalog yang berisi kumpulan metadata dari kekakayaan bibliografi yang dimiliki perpustakaan. Alat ini membantu pemustaka untuk menemukan koleksi sesuai kebutuhannya dengan cepat, tepat dan akurat. Pada umumnya, perpustakaan di Indonesia yang telah memanfaatkan OPAC sebagai pencarian bibliografi memiliki jenis OPAC yang bersifat konvensional, OPAC ini menampung semua jenis koleksi perpustakaan, yang dimana mayoritas penggunanya ialah orang dewasa. OPAC konvensional ini tidak ada pengkhususan terhadap pemustaka anak dilihat berdasarkan desain dan interface yang dimilikinya. OPAC ramah anak dikembangkan karena adanya bukti perbedaan karakteristik dan kebutuhan informasi pada anak-anak (Fountain, 2011). Perbedaan karakteristik tersebut dilihat melalui sudut pandang tingkat intelektual, bentuk penyajian informasi dan perilaku pencarian informasi yang dilakukan anak-anak (Jacobsen, 2011). Perbedaan karakteristik ini membuat pihak perpustakaan yang memiliki ruang koleksi anak menunjang desain ruangan yang menciptakan tempat aman bagi anak, namun sayangnya sentuhan teknologi dalam pencarian informasi bibliografi pada ruang koleksi anak belum terimplementasikan. Di sisi lain, anak bisa mencari buku yang disukai dengan langsung menghampiri rak koleksi sesukanya, atau dengan bantuan orang tua dan/atau pustakawan. Mengenai hal ini, IFLA (2018) menegaskan bahwa, perpustakaan seharusnya menjadi tempat dimana anak-anak dapat menggunakan teknologi, mengakses sumber daya dan informasi, serta belajar bagaimana mengevaluasi informasi secara kritis, sehingga koleksi dan layanan harus mencakup semua jenis media yang sesuai dengan teknologi modern maupun bahan fisik tradisional. Hal tersebut sayangnya belum terimplementasi di perpustakaan yang ada di Indonesia, sebagaimana yang disebutkan pada tabel berikut: TABEL 1. KETERSEDIAAN OPAC RAMAH ANAK DI BEBERAPA PERPUSTAKAAN BESAR DI INDONESIA No. Nama Perpustakaan Ketersediaan OPAC 1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Tidak ada 2. Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tidak ada 3. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Tidak ada 4. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Tidak ada 5. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat Tidak ada 6. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru Tidak ada Sumber: Konstruksi Peneliti, 2020 Dari tabel di atas, disebutkan beberapa perpustakaan besar di Indonesia yang memiliki koleksi anak, akan tetapi tidak mendukung adanya pencarian bibliografi khusus anak, walaupun fasilitas berupa ruang koleksi anak tersedia. Di samping itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sendiri telah mencantumkan keadaan ideal prosedur layanan anak koleksi monograf dengan menyebutkan, “Layanan anak juga menyediakan komputer sebagai sarana penelusuran/OPAC untuk anak-anak usia 5 sd 12 tahun.” (Perpusnas, 2018). Mengenai hal ini, OPAC yang dimaksud belum terimplementasikan baik daring maupun luring di layanan koleksi anak Perpusnas sendiri (A. Wicaksono, Tanya Pustakawan, Mei 15, 2020). Selain Perpusnas, terdapat Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Perpustakaan Kemendikbud) atau dikenal secara singkat dengan nama Perpusdikbud. Perpusdikbud menyediakan fasilitas ruang koleksi anak yang memiliki daya tampung sebanyak 20 orang (Mustika, 2020). Sebelum masa pandemi Covid-19, ruang koleksi anak cenderung ramai pada hari sabtu dan hari libur sekolah, juga suatu waktu akan ramai ketika adanya kunjungan perpustakaan dari anggota Pendidikan Anak Usia Dini (A. Indrastuti, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Selain dari faktor fasilitas dan kunjungan, Perpusdikbud memiliki visi “Menjadi perpustakaan referensi pendidikan dan kebudayaan yang berorientasi kepada pemustaka serta menunjang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mewujudkan Insan Indonesia Cerdas Komprehensif” selain itu memiliki misi untuk menjadikan perpustakaan sebagai model acuan bagi pengembangan perpustakaan pendidikan, mewujudkan sistem manajemen perpustakaan yang efisien, efektif, dan professional serta menyediakan layanan perpustakaan yang berorientasi pada pelanggan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam kualitas layanan perpustakaaan yang lebih baik dan beragam. Dengan demikian, dilihat dari fasilitas, kondisi kunjungan serta visi dan misi Perpusdikbud, perpustakaan tersebut dianggap layak untuk dilakukan penelitian mengenai analisis kebutuhan pengembangan OPAC ramah anak. Jika kita menelusuri OPAC ramah anak lebih jauh, negara luaran sana sudah banyak yang mengembangkan OPAC ramah ini, baik negara barat maupun negara-negara di Asia tersendiri, yang di antaranya disebutkan pada tabel berikut ini: TABEL 2. KETERSEDIAAN OPAC RAMAH ANAK BERBASIS WEB DI LUAR NEGERI No. Nama Perpustakaan Situs Web OPAC Ramah Anak 1. Georgia Public Library Service https://gapines.org/eg/kpac/h ome 2. Children's Digital Library Foundation http://www.childrenslibrary. org/icdl/SimpleSearchCatego ry?ilang=English 3. Houston Public Library https://catalog.houstonlibrary .org/client/en_US/kidscat/#h ome 4. El Paso Public Library (Texas) http://www.elpasolibrary.org /explore/kids-catalog 5. Los Angeles Public Library https://www.lapl.org/kids/bo oks 6. Middletown Thrall Library https://www.thrall.org/kidspa c.htm 7. Monroe County Library https://catalogplus.librarywe b.org/kids?section=categorie s 8. Wilton Library http://catalog.wiltonlibrary.or g/polaris/Children/ 9. National Diet Library (Jepang) https://iss.ndl.go.jp/children/t op 10. National Library Board Singapore https://nlb.overdrive.com/libr ary/kids Sumber: Konstruksi Peneliti, 2020 Banyaknya OPAC yang telah tersebar secara daring di luar negeri bukan hal yang dirasa baru lagi, karena secara resmi ALA (American Library Association) telah menerbitkan buku panduan katalogisasi khusus anak yang berjudul Cataloging Correctly for Kids: An Introduction to the Tools and Practices, yang sampai kini sudah mencapai edisi ke6 yang akan dirilis pada musim semi mendatang pada tahun 2021 (ALAstore, n.d.). Maka dari itu, benar adanya bahwa kini kompetensi pustakawan anak salah satunya ialah tetap up-to-date terhadap tren informasi teknologi yang muncul, dunia digital dan media sosial yang diimplikasikan untuk layanan koleksi anak (IFLA, 2018). Dengan itu, semoga penelitian ini akan berguna bagi Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mempertimbangkan dan mengevaluasi perkembangan layanan pada ruang koleksi anak sehingga nantinya anak dapat diberi kesempatan dalam memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan literasi digitalnya dengan OPAC yang didesain sesuai dengan kemampuan digitalnya. Dalam artian analisis kebutuhan pengembangan OPAC ramah anak ini memang sesuai dengan keadaan, visi dan misi yang dimiliki Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. II. TINJAUAN LITERATUR OPAC Ramah Anak OPAC ramah anak adalah katalog perpustakaan dalam jaringan yang digunakan untuk mencari bahan bacaan khusus anak yang sengaja didesain untuk pemustaka anak. Otoritas anak sebagai pengguna OPAC mengacu pada Guidelines for Library Services to Children aged 0-18, di dalamnya Rankin (2018) mengungkapkan bahwa, hak atau otoritas anak sebagai pemustaka di perpustakaan ialah dapat menggunakan teknologi, mengakses sumber daya dan informasi serta belajar bagaimana mengevaluasi informasi secara kritis. Penggunaan teknologi yang mendukung akses pada sumber daya dan informasi dengan menunjang evaluasi informasi di dalamnya, memiliki banyak potensi dan keunggulan tersendiri bagi pemustaka anak nantinya, sebagaimana digambarkan; melalui desain antarmuka (interface) OPAC ramah anak, anak dapat mengasah kemampuan literasi digitalnya dengan pencarian informasi yang dilakukan melalui OPAC walaupun kemampuan membaca anak masih kurang lancar, sebagaimana Wu et al. (2014) mengatakan bahwa anak-anak secara natural memiliki rasa penasaran, mereka mengeksplorasi sesuatu dengan kemampuan membaca yang kurang kancar. Selain itu OPAC ramah anak memberikan kemudahan bagi anak untuk memahami fungsi penelusuran bibliografi, memberikan anak kenyamanan dalam menelusuri koleksi yang memang ditujukan untuk dirinya, memberikan kebebasan bagi anak untuk lebih percaya diri dan kompeten dalam menggunakan teknologi informasi. Hal ini didukung dengan adanya teori dari IFLA (2015) yang menjelaskan bahwa, baik perpustakaan maupun perpustakaan umum yang memiliki layanan khusus anak memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan anak-anak dan mengadvokasi kebebasan dan keamanan mereka, serta mendorong anak-anak menjadi orang yang percaya diri dan kompeten. ALA (2011) juga telah menegaskan bahwa, OPAC yang unggul yaitu OPAC yang tersedia bagi semua pengguna, berapapun usianya. Analisis Kebutuhan Stufflebeam & Coryn (2014) mendefinisikan kebutuhan sebagai hal yang membuat kita mengacu pada sesuatu yang perlu atau berguna untuk memenuhi suatu tujuan yang dapat dipertahankan, yang tanpanya fungsi kepuasan tidak dapat terjadi. Analisis kebutuhan diungkapkan Stufflebeam et al. (dalam Stufflebeam & Coryn, 2014) bahwa analisis kebutuhan atau needs assessments adalah investigasi sistematis mengenai sejauh mana suatu perlakuan tertentu dan sebuah hasil dapat terpenuhi. Hal tersebut didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau discrepancy. Dalam menganalisis suatu kebutuhan, terdapat empat fase yang dikemukakan oleh Stufflebeam et al. (dalam Nasrulloh & Ismail, 2017), yaitu sebagai berikut: 1) Mengidentifikasikan prioritas tujuan yang akan dicapai atau yang seharusnya ada (what should be), 2) Menentukan kondisi dan tujuan yang berkaitan dengan apa yang ada di lapangan (what is), 3) Mengidentifikasi kebutuhan yang merupakan kesenjangan (discrepancy) antara harapan dan kondisi yang ada, 4) Menentukan prioritas kebutuhan yang paling mendesak, layak dan patut dilaksanakan. Keberadaan OPAC Ramah Anak di Perpustakaan Otoritas anak pada Guidelines for Library Services to Children aged 0-18 yang diterbitkan oleh IFLA serta buku terbitan ALA dengan judul Cataloging Correctly for Kids, merupakan landasan secara tertulis bagaimana layanan anak dan OPAC ramah anak yang seharusnya, akan lebih baik setiap perpustakaan yang memiliki layanan khusus anak seharusnya memanfaatkan OPAC ramah anak ini baik untuk kepentingan pengembangan literasi digital anak maupun untuk akreditasi daya saing perpustakaan secara nasional maupun global. Di Indonesia sendiri pada kenyataannya masih banyak perpustakaan, khususnya yang memiliki ruang khusus koleksi anak, belum memiliki OPAC ramah anak tersebut. Oleh karena itu, OPAC ramah anak ini merupakan suatu kebutuhan yang perlu diadakan dan dikembangkan oleh pihak perpustakaan. Berdasarkan uraian di atas penulis berpendapat bahwa OPAC ramah anak ini perlu mulai dikenal, diketahui dan dikembangkan oleh perpustakaan di Indonesia, maka terlebih dahulu perlu dilakukan analisis terkait kebutuhan pengembangan OPAC ramah anak di salah satu perpustakaan di Indonesia.

Method

Analisis kebutuhan pengembangan OPAC ramah anak yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara. Adapun wawancara dilakukan secara daring dan luring pada bulan Desember 2020, wawancara daring dilakukan hanya sebagai alternatif yang dipilih peneliti di tengah-tengah kesibukan informan pada masa pandemi. Wawancara luring terlaksana pada saat penulis pertama sedang melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada Perpustakaan Kemendikbud, sedangkan wawancara daring dilakukan menggunakan Google Form yang berisi instrumen penelitian sehingga pendapat yang dikemukakan informan terekam langsung ketika telah disubmit, jika jawaban dirasa kurang memuaskan maka peneliti dapat bertanya lebih lanjut via WhatsApp. Adapun informan yang terlibat dalam penelitian ini adalah pustakawan-pustakawan di lingkungan Perpustakaan Kemendikbud yang namanya telah disamarkan, yaitu di antaranya sebagai berikut: TABEL 1. DATA INFORMAN No. Nama Jabatan 1. CA Pustakawan Ahli Muda rangkap sebagai Kapokja Perpustakaan dan Edukasi Publik Kemdikbud 2. AI Pustakawan Ahli Madya Kemdikbud 3. AS Pustakawan Ahli Muda Kemdikbud 4. SN Pustakawan Ahli Pertama Kemdikbud 5. IAV Pustakawan Ahli Pertama Kemdikbud 6. DR Pustakawan Pelaksana Lanjutan Kemdikbud Sumber: Konstruksi Peneliti, 2020 Wawancara yang dilakukan kepada enam informan pada prinsipnya yaitu untuk menggali data mengenai analisis kebutuhan yang didasari oleh teori empat fase dari Stufflebeam yang di dalamnya mengidentifikasi prioritas tujuan terhadap perkembangan OPAC ramah anak, mendeskripsikan kondisi dan tujuan yang berkaitan dengan apa yang telah ada di Perpusdikbud, mengidentifikasi kebutuhan yang merupakan kesenjangan (discrepancy) antara harapan dan kondisi yang ada, serta menentukan prioritas kebutuhan yang paling mendesak, layak dan patut dilaksanakan. Data yang terkumpul dari hasil wawancara dan penyebaran kuesioner dianalisis secara deskriptif kualitatif. Nugrahani (2014) menyatakan tujuan dari metode ini ialah untuk memahami kondisi suatu konteks dengan menggunakan pendeskripsian secara terperinci mengenai kondisi faktual atau sebenarnya (natural setting) di lapangan studi.

Discussion

A. Prioritas Tujuan terhadap Perkembangan OPAC Ramah Anak Pada aspek mengidentifikasi prioritas tujuan terhadap perkembangan OPAC ramah anak, penulis mewawancarai informan terkait persepsi informan terhadap keperluan dan kebutuhan pengembangan OPAC ramah anak di Perpusdikbud dan persepsi kesadaran pustakawan Perpusdikbud terhadap pentingnya perkembangan literasi digital anak. Persepsi informan terhadap keperluan OPAC ramah anak dilihat berdasarkan pandangan dan pengamatan informan selama bekerja di Perpusdikbud. Kapokja Perpustakaan dan Edukasi Publik Kemedikbud, CA, berpendapat mengenai keperluan adanya OPAC ramah anak di Perpusdikbud ialah “Sebenarnya perlu, walaupun sekarang belum berjalan, tapi kita memang sudah mengarah ke sana. Perpusdikbud sendiri sudah mulai melakukan perjenjangan koleksi dengan tujuan untuk memudahkan anak-anak mencari bahan bacaan. Langkah yang paling mudah ialah mengelompokkan sesuai dengan jenjangnya dan kemampuan membaca anak, namun jikalau untuk pencariannya masih digabung menjadi satu. Mungkin nanti kedepannya, perjenjangan ini akan kembangkan terus sehingga anak-anak bisa mencari sendiri” (CA, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Selain itu, AS juga berpendapat bahwa OPAC ramah anak dianggap perlu berdasarkan komunikasi personal pada 12 Desember 2020, sama halnya dengan SN yang mengatakan, “Perlu, karena banyak orang tua yang mencari koleksi untuk anak-anak mereka” (SN, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Adapun menurut IAV, keberadaan OPAC ini dianggap perlu karena fasilitas yang ada telah mendukung, sebagaimana pernyataan beliau, “Sebenarnya perlu ya, karena koleksinya ada, ruangnya tersedia, tapi layanannya belum ada. Pasti bagus sekali jika bisa ada komputer khusus untuk anak-anak” (IAV, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Di samping itu, terdapat faktor lain mengapa OPAC ramah anak ini dianggap perlu, yakni sebagaimana yang dikemukakan oleh AI, “Ruangan koleksi anak dilakukan perjenjangan secara khusus, maka dirasa perlu untuk membuat OPAC yang terpisah khusus anak” (AI, komunikasi personal, Desember 12, 2020), dimana pendapat ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh CA sebelumnya. Di sisi lain, DR menyatakan pendapat yang berbeda, beliau mengatakan bahwa, “...karna mayoritas yang mengunakan ruang anak itu orang tuanya, jadi dirasa tidak perlu” (DR, komunikasi personal, Desember 11, 2020). Dalam mengetahui kebutuhan Perpusdikbud terhadap pengembangan OPAC ramah anak, penulis mewawancarai apakah OPAC ramah anak ini sesuai dengan kebutuhan Perpusdikbud baik dimasa kini maupun masa depan. Menurut CA dikatakan bahwa, “Sebenernya Perpustakaan Kemendikbud termasuk perpustakaan khusus, secara khusus tidak ada tujuan ke arah situ, hanya saja karena kita di bawah Kemendikud yang ada fungsi pendidikan mulai dari jenjang PAUD sampai pendidikan tinggi, untuk menyediakan perpustakaan yang ramah anak itu harus menjadi salah satu tujuan sebagai percontohan, karena kita berharap ini bisa diadopsi oleh satuan pendidikan di sekolah, tidak hanya OPAC-nya, namun secara keseluruhan dapat dijadikan contoh” (CA, komunikasi personal, Desember 12, 2020). CA juga menambahkan, “Kemungkinan untuk secara sistem belum kita pikirkan, kalau yang untuk perjenjangan sudah kita pikirkan, dengan artian nanti akan terdapat panduan, poster, atau flyer untuk memudahkan anak, orang tua atau pustakawan untuk melakukan pencarian pada ruang koleksi anak” (CA, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Berdasarkan hasil wawancara dengan AS, beliau mengatakan bahwa “…belum terlalu prioritas, karena yang kini dibutuhkan terutama masa pandemi ialah sumber-sumber digital yang bersifat ilmiah untuk penelitian” (AS, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Berdasarkan hasil wawancara dengan SN, beliau dengan bijak mengatakan bahwa “Perpustakaan Kemdikbud perlu melakukan evaluasi terlebih dahulu terkait pengadaan OPAC ramah anak dengan melihat kebutuhan pengguna dan layanan koleksi anak di Perpustakaan Kemdikbud” (SN, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Mengenai hal ini, IAV dengan terus terang menyatakan bahwa OPAC ini sesuai dengan kebutuhan Perpusdikbud dengan mengatakan “Ya” (IAV, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Di sisi lain, AI mengatakan bahwa, “Walaupun ide ini bagus, buku anak memang tidak begitu ramai jika dibandingkan buku yang lainnya. Misalkan ada, mungkin lebih membantu. Anak itu bagaimana orang tua, maka lebih ke orang tua dulu untuk mengajak ke perpustakaan” (AI, komunikasi personal, Desember 12, 2020), sedangkan untuk DR sendiri berharap bisa dapat mengadakan pengembangan OPAC ramah anak ini, dengan mengatakan, “Semoga si ke depan bisa dapat OPAC ramah ini” (DR, komunikasi personal, Desember 11, 2020). Berdasarkan hasil wawancara, diambil kesimpulan bahwa pengembangan OPAC ramah anak ini dianggap perlu, akan tetapi belum dijadikan suatu prioritas kebutuhan, dengan harapan suatu saat akan dilakukan pengadaan jika telah dilakukan evaluasi kebutuhan pengguna dan layanan koleksi anak di Perpustakaan Kemdikbud. B. Kondisi Lapangan Aspek kondisi lapangan yang berkaitan dengan pengembangan OPAC ramah anak dilihat dari persepsi pustakawan Perpusdikbud terhadap pentingnya perkembangan literasi digital anak di perpustakaan dan frekuensi kebutuhan layanan dan koleksi digital anak. Persepsi mengenai kesadaran perkembangan literasi digital anak di perpustakaan, CA berpendapat bahwa, “Pentingnya kesadaran perkembangan literasi digital bagi anak ialah pasti, karena kondisi kini masa pandemi yang memaksa semua beralih pada digital. Saat memasuki dunia digital, kita harus memahami bagaimana tata caranya dan mekanismenya” (CA, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Narasumber SN juga sependapat dengan CA, beliau menjelaskan “…penting, karena di era sekarang gadget bukan hal baru lagi bagi anak- anak bahkan sudah mahir menggunakannya, kita harus mulai memperkenalkan literasi digital pada anak dengan batasan sesuai dengan tingkatan usia anak, agar informasi yang didapatkan tidak menjurus ke hal yang bersifat negatif” (SN, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Hal tersebut sejalan dengan pendapat IAV yang mengatakan bahwa “…sangat penting, terutama bagi anak-anak generasi alpha dan beta yang memang sudah born digital. Jika tidak diimbangi dengan literasi, anak kita tidak bisa bijak dalam menggunakan konten-konten digital. Literasi di perpustakaan diperlukan agar anak-anak mengenal sumber informasi terpercaya, salah satunya bisa didapatkan di perpustakaan” (IAV, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Dalam hal ini, AI memiliki sudut pandang terhadap masa depan anak-anak, sebagaimana beliau mengungkapkan bahwa, “Menurut saya penting. Anak itu kalau dibiasakan membaca dampaknya ke dewasa bagus ya, sama halnya dengan literasi digital” (AI, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Adapun DR menyinggung aspek ilustrasi dalam literasi digital anak, dengan berpendapat bahwa, “…sangat penting, jadi anak itu tidak cuma main gadget tapi juga mendapat ilmu dengan gambar-gambar yang menarik” (DR, komunikasi personal, Desember 11, 2020). Kondisi lapangan terkait frekuensi kebutuhan layanan dan koleksi digital khusus anak ditinjau dari seberapa sering pustakawan mendapatkan pertanyaan dari pemustaka mengenai layanan dan koleksi digital khusus anak. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, Informan AI selaku pustakawan ahli madya yang bertanggung jawab secara khusus pada ruang koleksi anak menyatakan bahwa, “Saya belum pernah melayani pemustaka yang bertanya mengenai koleksi maupun layanan digital khusus anak” (AI, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Sejalan dengan pendapat AI, narasumber DR dan SN menyatakan hal yang serupa. Adapun informan AS selaku pustakawan ahli muda yang juga bertanggung jawab pada ruang koleksi anak menjelaskan “Pertanyaan yang sering muncul ialah pertanyaan umum seperti akses dan penggunaan jurnal atau repositori, untuk pertanyaan mengenai layanan dan koleksi digital khusus anak terbilang jarang” (AS, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Hal ini sejalan dengan pendapat IAV yang menyatakan “Layanan digital mungkin sebatas ingin menonton film saja. Tetapi inipun sudah jauh berkurang karena mungkin sekarang media menonton sudah banyak di rumah masing-masing. Secara umumnya, lebih mengajak justru untuk memperkenalkan buku dan perpustakaan”, IAV juga menambahkan “dalam sebulan setidaknya ada satu orang yang ingin menonton film untuk anaknya” (IAV, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Berdasarkan hasil wawancara, diambil kesimpulan bahwa keseluruhan narasumber menganggap literasi digital bagi anak di perpustakaan ialah penting. Perihal tingkat kondisi kebutuhan layanan dan koleksi digital khusus anak dapat dikatakan masih rendah, dilihat dari pengalaman pustakawan-pustakawan Perpusdikbud ketika berinteraksi dengan pemustaka. C. Kesenjangan (Discrepancy) Pada aspek kesenjangan antara harapan dan kondisi yang ada, penulis mewawancarai terkait kemungkinan dampak positif yang dihasilkan dari adanya OPAC ramah anak serta pertimbangan dan kendala terhadap pengembangan OPAC ramah anak di Perpusdikbud. Kemungkinan dampak positif yang dihasilkan dari adanya OPAC ramah anak ditinjau dari faktor bagaimana OPAC ramah anak ini dapat membantu pekerjaan pustakawan Perpusdikbud, serta hal positif lain terkait apa yang diperkirakan narasumber terhadap adanya OPAC ramah anak jika OPAC ini tersedia pada ruang koleksi anak. Adapun dampak positif dari adanya OPAC ramah anak di Perpusdikbud berdasarkan wawancara dengan AS, beliau mengatakan bahwa, “Mungkin untuk mengundang agar lebih kunjungannya ke ruang koleksi anak” (AS, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Berdasarkan wawancara dengan SN, beliau mengatakan bahwa “Hal positif kalau disediakan OPAC di ruang koleksi anak, bisa mengajarkan anak dalam penelusuran informasi/koleksi yang mereka cari. Selain itu, sama dengan OPAC pada umumnya, akan sangat membantu pekerjaan pustakawan dalam mendata koleksi” (SN, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Berdasarkan wawancara dengan IAV, mengungkapkan bahwa dengan adanya OPAC ramah anak, “…pasti lebih banyak anak tertarik untuk mencari sendiri buku atau film yang ingin mereka gunakan. Bisa menumbuhkan kemandirian, sense of belonging terhadap perpustakaan, orang tua juga bisa berpartisipasi secara aktif mengenalkan buku terhadap anak, juga dapat menjadi salah satu bentuk promosi yang menjadi pembeda Perpustakaan Kemendikbud dengan perpustakaan-perpustakaan lain. Mengenai hal dalam membantu pekerjaan pustakawan, secara teknis tidak terlalu membantu karena penggunaan OPAC untuk anak pastinya tetap memerlukan pendampingan baik oleh orang tua maupun pustakawan. Tetapi tentu ini menjadi sarana yang sangat bermanfaat dalam pengenalan/literasi anak di perpustakaan” (IAV, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Berdasarkan wawancara dengan AI, beliau mengatakan bahwa dengan adanya OPAC ramah anak, “perpustakaan lebih ramai, saya senang dengan ide itu, bagus ya, yang seperti itu supaya anak-anak mau dateng, dan dapat mudah diakses dari jauh. Mengenai hal membantu pekerjaan pustakawan, bergantung bagaimana sistem. Jika data dari OPAC SLiMS dapat diimport ke OPAC ramah anak, maka pustakawan nantinya tidak akan input satu-satu. Mestinya seperti itu supaya pustakawannya tidak capek.”. Pada hal ini, DR berpendapat bahwa, “…pemustaka jadi lebih mandiri” (AI, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Pertimbangan lain terkait perkembangan OPAC ramah anak pada lingkungan Perpusdikbud menurut CA ialah, dikemukakan sebagai berikut, “..kendala pada sistem, karena SLiMS itu sendiri lebih general semua jenis koleksi, kalo kita memisahkan OPAC sendiri untuk koleksi anak, kami melihatnya belum ada fitur seperti itu” (CA, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Adapun menurut AS terkait pertimbangan terhadap pengembangan OPAC ramah anak adalah faktor sumber daya manusia untuk menyiapkan desain dan maintenance sistemnya, selain itu beliau menambahkan bahwa penyediaan perangkat yang akan dibutuhkan harus benar-benar diperhatikan, dan menurut beliau pertimbangan lainnya ialah dari faktor permintaan pimpinan (AS, komunikasi personal, Desember 12, 2020). DR memaparkan bahwa keberadaan OPAC ramah anak ini ialah, “perlu literasi digital anaknya juga dan tetap harus ada pendampingan baik dari orang tua atau pustakawannya. Jadi anak-anak tidak benar-benar dilepas. Jadi diajari juga literasi informasi secara bertahap” (DR, komunikasi personal, Desember 11, 2020). Pertimbangan lainnya disebutkan oleh SN, yaitu sebagai berikut, “Jika OPAC ramah anak menjadi suatu perencanaan maka perlu memperbanyak koleksi anak yang ada di perpustakaan, diimbangi dengan koleksi anak yang dimiliki oleh perpustakaan Kemdikbud. Mengenai hal yang akan menjadi kendala, jumlah pengunjung anak yang masih kurang karena hanya mengandalkan libur sekolah, hal ini akan dipertanyakan dalam hal skala prioritas penting atau tidak diadakan OPAC untuk anak” (SN, komunikasi personal, Desember 15, 2020). IAV berpendapat positif mengenai pertimbangan dari perencanaan pengembangan OPAC ramah anak, beliau menjelaskan“Ini hal yang sangat mungkin dilakukan dalam waktu dekat jika anggaran pengembangannya tersedia. Soal kendala yang mungkin dihadapi dari adanya OPAC ini adalah butuh adaptasi dalam penggunaan dan metode khusus untuk mengajari anak-anak untuk menggunakannya” (IAV, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Selain daripada itu, AI berpendapat bahwa pertimbangan dari hal ini yaitu pada dana pengembangan sistem yang dibutuhkan (AI, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Di sisi lain, berdasarkan wawancara dengan DR, beliau berpendapat bahwa, “Buat sekarang si belum ada rencana kesana, sekarang baru menjenjangkan koleksi anak sesuai dengan kategori penjenjangan buku yang udah dikeluarkan sama Puskurbuk (Pusat Kurikulum dan Pembukuan Kemendikbud), sedangkan karakter pemustaka kita belum tinggi tingkat literasinya, perpusnya jarang pemustakanya untuk ruang koleksi anak.” (DR, komunikasi personal, Desember 11, 2020). Berdasarkan hasil wawancara, diambil kesimpulan bahwa, dampak positif yang kemungkinan terjadi dari adanya OPAC ramah anak ialah meningkatkan kunjungan pada ruang koleksi anak, munculnya kegiatan user education bagi anak baik dari orang tua maupun pustakawan, meningkatkan kemandirian pada anak, serta membantu pustakawan dalam hal pendataan bibliografi khusus anak sebagaimana penyesuaian sistem yang dibuat. Perihal kesenjangan dalam pengembangan OPAC ramah anak ini, yaitu pada aspek keputusan pimpinan, bagian sistem dan perangkat yang dibutuhkan mulai dari produk itu sendiri hingga sumber daya manusia yang akan mengembangkan produk tersebut. Selain itu terdapat faktor dana atau pengeluaran yang diperlukan dan faktor jumlah koleksi, jumlah pengunjung dan tingkat literasinya, serta adaptasi dengan metode pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai penggunaan OPAC. D. Prioritas Kebutuhan Dalam menentukan prioritas kebutuhan yang paling mendesak, layak dan patut dilaksanakan secara khusus dijelaskan oleh Kapokja Perpustakaan dan Edukasi Publik Perpusdikbud, berikut tanggapan dari CA terkait ide pengembangan OPAC ramah anak, “Sebenarnya perlu khususnya di ruang anak, namun secara sistem kami belum menemukan yang pas, karena semuanya kan dalam suatu sistem. Mungkin ke depan yang akan kita bangun lebih ke perjenjangan buku anak. Untuk sekarang mungkin belum terlalu terekspos mengenai cara mencari koleksi anak itu seperti apa, mengenai hal tersebut mungkin nanti akan menggunakan media dalam bentuk flyer atau poster. Bahwa saat masuk ruang koleksi anak pemustaka akan tau apa koleksi yang ada di sana. Pada sistem OPAC-nya yang bisa dilakukan hanya penyebutan perjenjangan buku pada bagian deskripsi” (CA, komunikasi personal, Desember 15, 2020). Mengenai perjenjangan koleksi anak, AS juga menjelaskan “…terkait literasi anak, terdapat perjenjangan buku yang menjadi tahap awal sederhana. Terdapat dua koleksi tentang perjenjangan buku, yaitu pelaku penerbitan dan pemustaka. Perjenjangan buku pemustaka anak menggunakan abjad berdasarkan kemampuan membaca anak” (AS, komunikasi personal, Desember 12, 2020). Berdasarkan hasil wawancara, diambil kesimpulan bahwa prioritas kebutuhan yang paling layak dan patut dilaksanakan ialah perjenjangan koleksi anak yang akan diekspos kepada pemustaka menggunakan media dalam bentuk flyer atau poster sekaligus menjadi sebuah pedoman penggunaan. Sistem OPAC pada aplikasi SLiMS 9 Bulian yang digunakan saat ini hanya dituliskan perjenjangan buku pada bagian deskripsi bibliografi.

Conclusion

Kesimpulan mengenai hasil pembahasan dapat dikatakan bahwa kebutuhan pengembangan OPAC ramah anak di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum dijadikan suatu prioritas, dikarenakan hal yang layak dan patut dilaksanakan untuk saat ini ialah perjenjangan koleksi anak yang diekspos dalam bentuk flyer atau poster dan pada fitur pendeskripsian OPAC SLiMS 9 Bulian. Selain itu frekuensi kebutuhan layanan dan koleksi digital khusus anak di Perpusdikbud juga masih terbilang rendah, sehingga OPAC ramah anak belum mendapatkan perhatian secara khusus. Di sisi lain, OPAC ramah anak ini dianggap perlu dan diharapkan menjadi suatu perencanaan di masa depan dengan terlebih dahulu diadakannya evaluasi kebutuhan pengguna dan layanan koleksi anak secara lebih lanjut serta mempertimbangkan kendala-kendala yang ada dalam mengembangkan OPAC ramah anak ini. Di samping itu, pustakawan-pustakawan Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang telah menyadari sepenuhnya tentang pentingnya perkembangan literasi digital anak di perpustakaan, ide pengembangan OPAC ramah anak dianggap hal yang bagus untuk diimplementasikan dengan harapan dapat meningkatkan kunjungan pada ruang koleksi anak, memunculkan kegiatan user education bagi anak baik dari orang tua maupun pustakawan dalam hal pencarian bibliografi, meningkatkan kemandirian pada anak serta membantu pustakawan dalam hal pendataan bibliografi khusus anak.