DILEMA PENGALAMAN INFORMASI: ANALISIS KONSEPTUAL
Universitas Indonesia; Universitas Indonesia
Abstrak
Ranah pengalaman informasi merupakan bagian dari penelitian perilaku informasi manusia tentang keterlibatan seseorang dengan informasi sensorik menggunakan pengalaman kognitif dan afektif secara personal. Perkembangan teknologi informasi dan media sosial menyebabkan terjadinya banjir informasi yang mengakibatkan banyaknya misinformasi, disinformasi berita palsu, dan ujaran kebencian di ruang informasi publik yang meningkatkan distraksi personal, hal ini juga dikenal sebagai fenomena patologi informasi. Jenis lain dari patologi informasi adalah fenomena ketegangan dalam perilaku dan praktik informasi yang diajukan sebagai dilema pengalaman informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendefinisikan, memahami, dan menjelaskan berbagai bentuk dilema pengalaman informasi, terdapat konsep ketegangan yang muncul dalam berbagai konteks. Studi kasus dalam konteks pandemi global Covid-19 dipaparkan untuk menggambarkan operasionalisasi dari definisi dan variasi dari dilema pengalaman informasi. Hasil penelitian memberikan kontribusi pada bidang penelitian pengalaman informasi yang telah dikembangkan dengan mengambil sudut pandang distraksi di ruang informasi publik serta membantu memahami bagaimana membuat desain sistem layanan perpustakaan dan sistem informasi yang mengatasi ketegangan afektif dan kognitif di era disinformasi.
Abstract
The information experience domain is a field of human information behavior research, concerned with one's engagement with sensory information using personal cognitive and affective experiences. The development of information technology and social media causes a flood of information which results in misinformation, disinformation, fake news, and hate speech in the public information space which increases personal distraction, this is also known as the phenomenon of information pathology. Another type of information pathology is the phenomenon of tensions in behavior and information practices presented as information experience dilemmas. This study aims to define, understand, and explain various forms of information experience dilemmas, there is a concept of tension that appears in various contexts. Case studies in the context of the global Covid-19 pandemic are presented to illustrate the operationalization of the definitions and variations of the information experience dilemma. The results of the research contribute to the field of information experience research that has been developed by taking the perspective of distraction in the public information space and helping to understand how to design library service systems and information systems that address affective and cognitive tensions in the disinformation era.
Keywords:
Afektif
· Kognitif
· Dilema Pengalaman Informasi
· Teori Ketegangan
Introduction
Beragam situasi krisis yang dialami oleh manusia secara berkepanjangan—mulai dari pandemi global, bencana alam, ekonomi, hingga perubahan iklim— dibagikan di ruang informasi publik dan telah meningkatkan gangguan psikologis seseorang biasa disebut dengan patologi informasi. Fenomena ini adalah cerminan dari ketidaknormalan dalam beradaptasi dengan lingkungan informasi yang disebabkan oleh melimpahnya sumber informasi dengan beragam bentuk, media, format, kualitas, dan kredibilitas. Hal ini membutuhkan kemampuan seseorang dalam literasi informasi ataupun literasi digital karena fenomena seperti misinformasi, disinformasi, berita bohong, dan ujaran kebencian dapat menyebabkan kekacauan atau gangguan di ruang informasi publik. Beragam gangguan pada kondisi seseorang seperti kecemasan akibat ketidakmampuan seseorang dalam berhadapan dan menilai informasi secara logis menimbulkan ketegangan personal dalam merespon informasi yang tersedia. Fenomena ketegangan personal dikonseptualisasikan sebagai dilema pengalaman informasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendefinisikan, memahami, menjelaskan dilema pengalaman informasi dan variasinya dengan mempertimbangkan ketegangan yang dialami manusia, dan meningkatkan pemahaman kita tentang ketegangan kognitif dan afektif sebagai bagian dari patologi informasi yang dipahami secara personal dari era disinformasi (Froehlich, 2020; Day, 2020). Penelitian ini bertujuan untuk memperluas pemahaman tentang konsep dilema pengalaman informasi dalam studi perilaku informasi dengan mengambil sudut pandang distraksi di ruang informasi publik. Maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah apa dan bagaimana ide dilema pengalaman informasi bermanfaat untuk penelitian dan praktik dalam studi perilaku informasi? Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan konseptual bidang penelitian pengalaman informasi yang telah dikembangkan dalam berbagai penelitian yang ada. Penelitian sebelumnya telah mengembangkan serta mengeksplorasi pengalaman informasi dengan berbagai bentuknya yang dianalisis secara fenomenologis (Bruce dkk., 2014; Gorichanaz, 2020). Penelitian ini difokuskan untuk membangun konseptualisasi dilema pengalaman informasi dengan mengambil perspektif kognitif serta afektif pada kerangka sense making dan emosi yang dijembatani oleh pengalaman jasmani bertumpu serta keterlibatan dengan informasi yang dalam penelitian ini menempatkan manusia sebagai subjek holistik yang meliputi pikiran, perasaan, dan tubuh. II. TINJAUAN LITERATUR Perilaku Informasi dan Pengalaman Informasi Salah satu disiplin yang mempelajari hubungan antara manusia dan informasi biasa disebut dengan disiplin perilaku informasi, perilaku informasi manusia, atau human information behaviour (HIB). Disiplin perilaku informasi secara sempit adalah area yang mempelajari perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan, pencarian, dan penggunaan informasi dalam konteks situasi tertentu. Disiplin perilaku informasi memiliki sejarah yang sangat panjang dalam disiplin ilmu informasi. Sejarah ini dimulai pada awal abad 20-an ketika disiplin perilaku informasi berfokus pada kajian pengguna perpustakaan dalam mengakses dan memanfaatkan sumber daya informasi tercetak di perpustakaan. Disiplin ini kemudian berkembang menjadi studi ilmiah mulai tahun 1960-an dengan berbagai pendekatan dan teorisasi model perilaku informasi yang dikembangkan oleh banyak ilmuwan (Case dan Given, 2016). Dalam arti luas bidang ini mencakup investigasi pada seluruh rangkaian konsep interaksi manusia dengan semua sumber, saluran informasi, dan interaksi dipahami sebagai kegiatan aktif dan pasif. Dengan demikian, perilaku informasi mencakup komunikasi dengan orang lain (secara lisan atau tulisan), penggunaan segala jenis sumber informasi, dan penerimaan informasi secara pasif, seperti menonton iklan di televisi atau membaca pesan surel yang tidak disengaja (Wilson, 2000). Penelitian dalam HIB sampai saat ini masih berfokus pada pengidentifikasian informasi (information need behavior) dan pencarian informasi (information seeking). Namun, baru-baru ini beberapa kelompok ilmuwan mulai menyadari adanya beberapa konseptualisasi yang lebih luas seperti konsep berbagi informasi (Talja dan Hansen, 2006; Tinto dan Ruthven, 2016), penggunaan informasi (Kari, 2010), serta penciptaan informasi (Trace, 2007; Huvila, Douglas, Gorichanaz, Koh, dan Suorsa, 2022) yang tidak kalah penting dari konsep lainnya. Era disinformasi telah tiba yang ditandai dengan penggunaan disinformasi sebagai strategi politik di berbagai media dan label berita palsu atas informasi yang valid berdasarkan fakta yang bertentangan dengan informasi yang dikeluarkan oleh otoritas politik (Froehlich, 2020). Tom Wilson dalam buku terbarunya Exploring Information Behavior: an introduction (2020, hlm. 15) mengembangkan konsep yang dia sebut perilaku buruk informasi (information misbehavior) sebagai tanggapan dari merebaknya dis-misinformasi di ruang publik informasi yaitu fenomena ketika beberapa orang dengan sengaja menciptakan informasi yang salah dengan niat untuk menyesatkan orang lain. Contoh dari fenomena ini adalah seperti informasi palsu yang dibuat oleh gerakan anti vaksin, penyebar teori konspirasi, ataupun beberapa aktor politik jahat di dunia. Perkembangan penelitian terhadap manusia perlu dipandang sebagai subjek kesatuan yang holistik. Manusia mesti dipahami sebagai kesatuan dari elemen pikiran, perasaan, dan tubuh yang tidak dapat dibagi bagi. Setiap elemen tersebut tidak ada yang berdiri lebih tinggi dibandingkan elemen lain serta saling memengaruhi pengalaman elemen satu sama lain. Perspektif ini menjadi tren penting dalam penelitian ilmu sosial dan humaniora dalam dekade terakhir (Seyfert, 2012). Dalam penelitian HIB sendiri ketiga elemen ini tercermin dalam tiga perspektif yang telah dan sedang berkembang dalam studi informasi sendiri. Istilah lain dari perspektif ini adalah kelokan (turn) yang dapat diartikan sebagai “proyek intelektual yang dapat diidentifikasi dimana sekelompok cendekiawan dengan antusias merangkul serangkaian komitmen teoretis, metodologis, atau substantif yang baru” (Hartel, 2019). Tiga perspektif yang dimaksud, yaitu: 1) Perspektif pertama yaitu cognitive turn atau kognitif yang merupakan perspektif yang menekankan pemrosesan informasi yang terjadi di alam pikiran manusia. Metodologi utama dalam perspektif ini adalah kajian empiris. Perspektif ini juga biasa disebut sebagai kajian pengguna (user studies). 2) Perspektif kedua adalah affective turn atau afektif yang merupakan perspektif yang memperhatikan hubungan interaksi informasi dengan pengalaman afektif manusia. Pengalaman ini terdiri dari pengalaman emosional dan suasana hati. Perspektif ini memengaruhi pemilihan metodologi penelitian yang bersifat kualitatif untuk memperoleh gambaran perasaan subjektif manusia. 3) Perspektif ketiga adalah embodied/corporal turn atau jasmani yang merupakan perspektif yang mengkaji hubungan antara praktik informasi dan peran tubuh jasmani seseorang. Perspektif ini mempelajari pengalaman informasi jasmani seseorang. Adapun sifat informasi jasmani ini adalah informasi alami dari ekspresi tubuh yang belum dikodekan (Bates, 2018). Gambar 1. PERSPEKTIF HOLISTIK DALAM PERILAKU INFORMASI MANUSIA (HARTEL, 2019) Selain perilaku informasi, beberapa peneliti juga mengembangkan konsep baru yang dinamakan pengalaman informasi. Pengalaman informasi merupakan salah satu area penelitian yang masih relatif baru dalam studi informasi dan perpustakaan. Area ini mempelajari bagaimana keterlibatan seseorang dengan informasi tidak hanya sebatas mempelajari kebutuhan atau mengidentifikasi sumber informasi, tetapi juga bagaimana keterlibatan tersebut membentuk dan mengubah seseorang dalam menggunakan, membagikan, dan menciptakan informasi (Bruce dkk., 2014 dan Gorichanaz, 2020). Savolainen (2020) menyebutkan keterlibatan seseorang dengan informasi difasilitasi oleh pengalaman manusia dengan informasi yang ditafsirkan oleh individu melalui operasi kognitif dan afektif. Ketegangan (Tension) dalam Literatur Psikologis Interaksi antara manusia dan informasi adalah salah satu sumber dari ketegangan baik itu secara afektif maupun kognitif. Hal ini berkaitan dengan respons seseorang dalam sebuah lingkungan baru yang mengharuskan seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Pengalaman ketegangan biasa terjadi dalam berbagai momen mulai dari hal biasa seperti pengalaman keseharian membaca novel, menonton film, atau liburan singkat ke tempat baru. Selain itu, pengalaman ketegangan juga dapat terjadi pada momen yang menimbulkan ketidakpastian yang besar seperti mengikuti wawancara kerja (Lehne dan Kolech, 2015). Dalam wacana psikologi, ketegangan (tension) dapat digambarkan sebagai suatu proses untuk menyatukan hal-hal yang sebelumnya terpisah untuk diintegrasikan dalam diri seseorang. Proses ini dialami manakala seseorang mengalami stres, tekanan, berharap, atau berasumsi terhadap sesuatu baik secara sadar maupun tak sadar dalam diri yang tidak terintegrasi. Ketegangan dapat terlihat seperti pengalaman disonansi kognitif akibat ketegangan di suatu lingkungan informasi yang berlawanan dengan keyakinan atau ketidaktahuan dirinya (McGee, 2022).
Method
Penelitian ini menggunakan metode analisis konseptual dalam proses analisisnya yang didasari dari sumber daya literatur yang ada. Basis data yang digunakan dalam analisis konseptual berasal dari pencarian literatur dengan memanfaatkan pencarian dengan teknik berrypicking pada beberapa database jurnal seperti Google Scholar mengenai topik yang akan dibahas dengan memanfaatkan teknik memeriksa bibliografi sebuah artikel, melakukan pencarian sitasi dari artikel yang diterbitkan, mengidentifikasi komunitas ilmuwan serta jurnal yang biasa menerbitkan topik yang sedang dikaji, serta memeriksa abstrak dan indeks dari database bibliografi (Bates, 1989). Peneliti mencari literatur yang berhubungan dengan pengalaman informasi dan ketegangan pada topik ilmu perpustakaan informasi dan sebagian kecil psikologi. Untuk menganalisis kumpulan literatur yang ada, digunakan teknik analisis konseptual (conceptual analysis) yang merupakan teknik analisis yang memperlakukan “konsep” sebagai objek kelas, peristiwa, properti, atau hubungan yang dapat memperluas pemahaman tentang cara mengidentifikasi sebuah fenomena sehingga dapat diklasifikasikan dalam suatu konsep (Furner, 2004). Studi kasus mengenai pengalaman informasi masyarakat selama pandemi Covid-19 digunakan untuk mensimulasikan fenomena dilema pengalaman informasi ini. Penggunaan metode ini tepat karena penelitian ini mencoba untuk membangun konseptualisasi dari dilema pengalaman informasi.
Discussion
A. Mendefinisikan Dilema Pengalaman Informasi Masalah dalam masyarakat informasi menuntut kita untuk segera memahami berbagai fenomena patologi informasi. Hal ini merupakan salah satu strategi dalam mencari akar masalah dan menyusun strategi penyelesaiannya. Studi ini mengonseptualisasikan dilema pengalaman informasi dengan tiga kriteria, yaitu kriteria pengalaman informasi holistik, sifat, tujuan pengalaman informasi, serta kontradiksi atau efek negatif dari pengalaman informasi. Dalam kriteria pengalaman informasi holistik, untuk mengonseptualisasikan definisi yang diusulkan perlu mempertimbangkan pengalaman informasi sebagai titik awal keterlibatan manusia dengan informasi untuk tujuan memperoleh informasi. Sebagai contoh, dapat dipahami bahwa tujuan seseorang untuk melakukan praktik informasi adalah untuk memenuhi kebutuhan sampai membagikan informasi. Proses sirkular ini dilakukan secara berulang sampai seseorang memperoleh keseimbangan informasi atau pengetahuan personal terpenuhi. Dilihat dari perspektif kognitif, definisi yang diusulkan dalam membangun pemahaman holistik pengalaman informasi dapat dijelaskan sebagai berikut. Seseorang yang memanfaatkan tubuh mereka untuk memperoleh informasi yang ada di lingkungan dengan cara melihat, meraba, atau menyentuh artefak informasi secara langsung menimbulkan sensasi jasmani untuk selanjutnya diolah dalam mode kognitif maupun afektif. Tujuan dari mode kognitif dalam praktik informasi guna memenuhi kebutuhan informasi melalui pemberian makna atau pemahaman (make-sense) dalam situasi yang menimbulkan kesenjangan (gap) kebutuhan dan basis informasi personal sehingga diperlukan proses pembuat makna atau pemahaman (Dervin, 2015). Adapun mode afektif merangsang informasi yang didapatkan oleh tubuh bertujuan untuk memperoleh keseimbangan informasi personal untuk mempersempit ketidakpastian emosional (Nahl dan Bilal, 2007). Kriteria sifat dan tujuan pengalaman informasi dalam upayanya untuk mencapai keseimbangan informasi personal seseorang sering terlihat hanya tentang mencari, menemukan, dan memenuhi informasi. Namun, upaya tersebut juga meliputi tindakan dengan berbagai praktik informasi lainnya seperti membentuk pemahaman kolektif melalui penciptaan informasi (Heverin dan Zach, 2012), mencari validasi emosional (Andalibi dan Garcia, 2021), menyaring dan mengevaluasi informasi (LaValley, Kiviniemi dan Gage‐Bouchard, 2017; Jamali dan Shahbaztabar, 2017), dan melakukan penghindaran dari paparan informasi (Narayan, Case, dan Edwards, 2011). Hal ini bertujuan untuk menginformasikan (informative) hal-hal yang berkaitan dengan akuisisi informasi secara personal, membentuk (formative) berkaitan dengan tujuan pembelajaran dan praktik sehari-hari, dan mentransformasikan (transformative) berkaitan dengan mengubah pengetahuan personal (Vamanu dan Guzik, 2015; Gorichanaz, 2020). Kriteria yang bersifat kontradiktif dalam pengalaman informasi akan menghasilkan pengalaman yang positif dan negatif secara bersamaan. Pengalaman negatif ini berasal dari proses pengolahan informasi personal sehingga menimbulkan ketegangan kognitif maupun afektif. Seperti diketahui pengalaman informasi selalu melibatkan mode kognitif dan afektif dalam memproses informasi yang didapatkan oleh sensasi tubuh (Savolainen, 2020). Hal ini disebabkan oleh kondisi psikologis seseorang dalam menerima dan mengolah informasi dari lingkungan informasi dan menambahkannya ke basis pengetahuan personal yang telah dimiliki memerlukan adaptasi personal. Efek dari ketegangan ini akan dialami secara berbeda oleh seseorang tergantung pada tingkat literasi, pemahaman dan daya kritis seseorang tersebut dalam memproses informasi. Namun, ketegangan ini utamanya disebabkan oleh kondisi ketidakstabilan atau ketidakpastian lingkungan informasi yang menimbulkan ketegangan. Sedangkan, dalam keadaan normal orang menerima informasi yang seimbang (Samson, 2022). Maka dari itu, studi ini mendefinisikan patologi informasi pada wacana dilema pengalaman informasi sebagai fenomena ketika seseorang yang terlibat dengan informasi menginformasikan (to inform) dan mengubah (to transform) pengetahuan personal (a) di sisi yang bermanfaat (b) untuk membentuk (to form). Namun, di sisi lain juga menciptakan ketegangan afektif dan kognitif yang disebabkan oleh kondisi ketidakstabilan atau ketidakpastian lingkungan informasi (c). B. Variasi Dilema Pengalaman Informasi Bagian sebelumnya telah memaparkan terkait definisi dilema pengalaman informasi pada bagian ini akan ditinjau konseptualisasi beberapa jenis dilema pengalaman informasi dalam ketegangan afektif dan kognitif yang disebabkan oleh informasi. Adapun yang pertama adalah variasi dilema pengalaman informasi yang disebabkan oleh ketegangan afektif terbagi jadi dua variasi yaitu: 1) Kecemasan (anxiety) adalah bentuk pengalaman yang menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman. Hal ini disebabkan oleh informasi yang diterima dari luar melalui tubuh terhadap artefak informasi yang diproses melalui mode emosional. Kecemasan ini adalah salah satu dilema pengalaman yang diakibatkan oleh kesenjangan dari informasi yang dipahami dengan informasi yang dipikirkan oleh seseorang harus dipahami (Wurman, 1989) dan perasaan yang menuntut semua informasi yang menimbulkan kewalahan dari banyaknya informasi yang harus diproses (Eklof, 2013). Pengalaman kecemasan ini dapat dialami dalam berbagai konteks pekerjaan sampai kehidupan sehari-hari saat seseorang berinteraksi dengan informasi (Naveed dan Anwar, 2020). 2) Ketakutan (fear) adalah bentuk pengalaman informasi yang diakibatkan oleh interaksi informasi yang bersifat menyeramkan, jahat, mengancam serta lebih banyak dihindari oleh seseorang. Sumber informasi jenis ini biasanya berasal dari informasi yang sengaja untuk diproduksi yang menghasilkan ketakutan secara individu maupun kolektif. Jenis ketakutan yang paling banyak diproduksi terutama tentang ketakutan akan keberlangsungan hidup seseorang (Day, 2019). Sumber informasi yang menyebabkan ketakutan memang lebih banyak dihindari oleh seseorang. Namun, beberapa konteks memerlukan jenis informasi seperti ini seperti dalam menginformasikan dampak negatif dari sebuah penyakit atau bencana. Pengalaman takut memiliki dua situasi khusus. Pertama, persepsi bahwa seseorang menjadi terancam oleh lingkungan akibat pemrosesan informasi yang diterimanya. Kedua, seseorang harus menanggapi persepsi ancaman tersebut dengan emosi yang lebih positif (Byrne, 2000; Mobbs dkk., 2019). Selanjutnya, variasi dilema pengalamanan informasi yang disebabkan oleh ketegangan kognitif ketika seseorang menghadapi situasi di mana ada ketidakpastian atau ketidakjelasan tentang informasi yang diterima. Ketegangan ini dapat memunculkan dilema pengalaman informasi, di mana individu merasa terbagi antara beberapa opsi atau pilihan informasi yang saling bertentangan. Terbagi menjadi dua variasi yaitu: 1) Keyakinan palsu (false belief) adalah bentuk pengalaman informasi yang diakibatkan oleh situasi ketika seseorang memiliki keyakinan yang salah terhadap informasi atau pengetahuan tentang dunia ini. Konten semantik dari informasi yang ada perlu diproses dengan kemampuan literasi dan skeptisme yang tinggi terutama dalam memproses informasi untuk mengevaluasi validitas fakta yang ada. Jenis dilema pengalaman informasi ini bersifat kognitif karena melibatkan basis pengetahuan personal dalam memproses dan menilai informasi yang didapatkan oleh seseorang. Pengalaman ini juga bisa diakibatkan oleh sumber misinformasi, disinformasi, maupun teori konspirasi yang menyajikan fakta alternatif bersifat menyesatkan (O'Connor dan Weatherall, 2019) 2) Ambiguity-based dilemma. Dalam situasi ini, individu merasa terbagi karena informasi yang diterima tidak jelas atau ambigu. Informasi yang diberikan mungkin tidak lengkap atau tidak jelas sehingga individu merasa kesulitan untuk memutuskan apa yang seharusnya mereka lakukan atau percayai. Hal ini juga ditimbulkan akibat kesalahan dalam menafsirkan informasi adalah dilema pengalaman informasi yang bersifat bias kognitif dalam mengartikulasikan makna, pesan, dan maksud dari informasi yang ada. Informasi yang didapatkan oleh seseorang bersifat tidak lengkap sehingga memengaruhi kesimpulan akhir seseorang terhadap konten informasi yang ada. C. Studi Kasus Dilema Pengalaman Informasi dalam Pandemi Global Covid-19 Dilema pengalaman informasi kerap terjadi pada situasi genting yang memerlukan banyaknya sumber informasi dengan waktu yang cepat. Sebagai contoh kami memilih pandemi Covid-19 sebagai studi kasus dari fenomena dilema pengalaman informasi sebagai studi kasus tentang kehidupan manusia termasuk pada perilaku mereka dalam mencari, mengakses, dan membagikan informasi terkait Covid-19. Situasi tersebut terlihat jelas pada masa pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia. Contoh kasus ini akan mudah dipahami dibandingkan kasus-kasus lainnya sebab semua orang mengalaminya (Suwignyo, 2020). Pandemi global Covid-19 yang disebabkan oleh Virus Sars-Cov-2 adalah lapangan yang sangat luas untuk menguji berbagai penelitian di persimpangan bidang pandemi, kesehatan publik, dan juga disiplin ilmu informasi termasuk perilaku informasi manusia (Xie dkk., 2020). Bidang perilaku informasi telah mempelajari berbagai hal dalam situasi krisis baik itu saat mitigasi, saat kejadian, serta pascakrisis (Krakowska, 2020). Penyebaran dan penggunaan informasi terkait pandemi serta kesehatan selama masa ini sangat cepat berubah seiring dengan berbagai temuan penelitian yang ada sehingga memengaruhi berbagai rekomendasi kebijakan protokol kesehatan di masyarakat yang bersifat masif. Ada banyak penelitian yang telah dilakukan selama dua tahun terakhir dan cukup menarik terkait hubungan antara pandemi dan perilaku informasi. Masyarakat secara kolektif berjuang mengatasi mendapatkan informasi kesehatan untuk terhindar dari virus. Namun, di sisi lain upaya tersebut mengalami berbagai kesulitan dalam hal mengakses, menyaring, dan mengevaluasi informasi kesehatan yang ada di tengah banyaknya misinformasi dan disinformasi. Berita pandemi ini dari beberapa kasus penyakit pernapasan akut misterius di Kota Wuhan, Cina pada Januari tahun 2020 dan menjadi pandemi global dengan pengumuman dari World Health Organization (WHO) pada bulan awal maret 2020 (Lupton, 2022). Penyebaran Informasi yang cepat pada kanal berita daring dan media sosial telah memicu kepanikan masyarakat di berbagai belahan mulai dari pemborongan (panic buying) bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan yang menyebabkan naiknya harga barang dan kelangkaan di mana-mana (Naeem, 2021). Informasi ini juga dengan cepat telah membuat banyak orang mengalami pengucilan dan stigmatisasi terhadap etnis juga kelompok orang yang sedang menderita Covid-19 (Bagcchi, 2020). Informasi mengenai gejala penyakit Covid-19 yang terus berkembang dan berbagai gejala baru seperti demam, hipoksia, dan anosmia dikampanyekan oleh otoritas kesehatan melalui berbagai kanal untuk mengedukasi masyarakat. Pada masa ini kita lebih sering memperhatikan informasi tentang diri kita sendiri seperti melakukan praktik mengukur suhu badan, mengecek kadar oksigen, serta memeriksa sensitivitas indera pengecap. Hasil dari praktik seperti inilah yang memicu perasaan was-was pada diri seseorang. Namun, di sisi lain informasi jasmani ini berguna untuk seseorang mengambil langkah yang diambil berikutnya seperti kapan seseorang perlu mengonsumsi obat-obatan, beristirahat, ataupun mengunjungi fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan. Pengumuman angka kasus dan kematian nasional yang diumumkan setiap harinya telah memicu ketakutan dan kecemasan di masyarakat akan penularannya. Pembatasan sosial atau lockdown adalah situasi ketika perubahan sosial dan budaya masyarakat sangat cepat berubah. Studi pilot yang diluncurkan untuk mempelajari efek pembatasan ini pertama kali dikeluarkan mengenai adaptasi beberapa keluarga di cina yang memanfaatkan berbagai sumber daya informasi online (Pan, Cui, dan Qian, 2020). Semakin banyak informasi yang kita dapatkan tentang bagaimana virus ini menular, semakin banyak masyarakat dapat mengubah persepsi tentang pandemi yang terjadi serta mengupdate pengetahuan personalnya sehingga dapat terhindar dari paparan informasi yang salah. Kampanye vaksinasi Covid-19 adalah fenomena yang banyak sekali berhubungan dengan dilema pengalaman informasi karena terdapat banyak misinformasi dan disinformasi di ruang publik. Topik informasi semakin berkembang tentang keamanan vaksin, jenis, dan tipe vaksin, pemberian vaksin booster dan lainnya. Hal ini juga memicu ketegangan personal individu akibat berkembangnya informasi yang diterima. Savolainen (2021) menganalisis perdebatan tentang informasi vaksin di media sosial Reddit untuk melihat bagaimana diskusi mengarah pada validitas dan kredibilitas sumber informasi tentang vaksin serta bagaimana pengalaman vaksinasi oleh individu adalah salah satu sumber informasi yang bermanfaat. Hicks dan Lloyd (2022) menemukan bahwa informasi jasmani seperti pengalaman efek vaksinasi terhadap kondisi tubuh berhubungan dengan keraguan seseorang menunda atau menerima vaksinasi Covid-19 dan menunjukan hal tersebut sebagai bagian dari praktik literasi informasi seseorang.
Conclusion
Penelitian ini mengembangkan definisi konseptual dilema pengalaman informasi berdasarkan tiga kriteria yang telah dijelaskan dan mengidentifikasi variasi dari dilema pengalaman informasi yang terdiri dari ketegangan afektif dan kognitif. Selain itu, penelitian ini juga memberikan contoh studi kasus pada konteks pandemi Covid-19 untuk mengoperasionalisasikan konsep dilema pengalaman informasi. Penelitian selanjutnya dapat melakukan konfirmasi terhadap konseptualisasi yang dibuat dengan menggunakan data empiris lapangan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman bidang perilaku informasi manusia, khususnya dalam konteks patologi informasi.