Kemampuan Literasi Media Mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2018 dalam Menggunakan Media Sosial Tiktok untuk Menghadapi Informasi Hoax
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang kemampuan literasi media yang dimiliki oleh mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2018 ketika menggunakan media sosial TikTok dan menjumpai berbagai informasi salah satunya informasi hoax. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat penggunaan media sosial TikTok pada mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 beserta informasi yang tersebar di media sosial TikTok, pemahaman mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 mengenai literasi media, kemampuan literasimedia mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 dalam menggunakan media sosial TikTok untuk menghadapi informasi hoax.. Selain itu penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2018 memiliki kemampuan literasi media yang beragam sesuai dengan cara meliterasi media, mulai dari perhatian, partisipasi, kolaborasi, kesadaran jaringan, dan pemakaian secara kritis. Terdapat mahasiswa Universitas Diponegoro yang melakukan kelima cara meliterasi media, tetapi terdapat juga mahasiswa yang tidak melakukan semua dari kelima cara atau aspek tersebut tetapi hanya melakukan sebagian saja. Namun demikian dapat dikatakan bahwa mahasiswa Universitas Diponegoro telah memenuhi atau memiliki kemampuan literasi media terutama dalammenggunakan media sosial TikTok untuk menghadapi informasi hoax.
Abstract
This research examines the media literacy skills possessed by Diponegoro University students Class of 2018 when using social media TikTok and encountering various information, one of which is hoax information. The method used in this study is a qualitative method with a case study approach. The data in this study were obtained from observation, interviews and documentation. The results of this study are the use of social media TikTok among Diponegoro University students class of 2018 along with information spread on social media TikTok, the understanding of Diponegoro University students class of 2018 regarding media literacy, the media literacy skills of Diponegoro University students class of 2018 in using social media TikTok to deal with hoax information.. In addition, this research shows that Diponegoro University students class of 2018 have various media literacy abilities according to media literacy methods, ranging from attention, participation, collaboration, network awareness, and critical use. There are Diponegoro University students who do the five ways of media literacy, but there are also students who do not do all of the five ways or aspects but only do some of them. However, it can be said that Diponegoro University students have fulfilled or have media literacy skills, especially in using social media TikTok to deal with hoax information.
Keywords:
media literacy skills
· students of diponegoro university
· social media tiktok
· hoax information
Introduction
Saat ini perkembangan teknologi berkembang begitu pesatnya, hal tersebut berpengaruh terhadap informasi yang sangat mudah didapatkan oleh masyarakat. Informasi merupakan hasil dari proses pengolahan data yang dapat digunakan untuk memperbarui pengetahuan yang telah ada sebelumnya (Mauluddin & Santini, 2018). Defini informasi tersebut disampaikan oleh Latief Arda, Adapun define informasi lainnya menurut Yakub yaitu informasi sebagai sebuah data yang sudah diproses yang hal ini dapat menambah serta meningkatkan pengetahuanpada seseorang yang menggunakan informasi tersebut (Yakub, 2012). Maka dari itu informasi merupakan sebuah data yang telah diolah dan diproses menjadi bentuk yang lebih bermanfaat dan dapat dimanfaatkan oleh orang yang membutuhkannya serta untuk dijadikan sebuah pengetahuan bagi yang menerima informasi. Saat ini informasi telah sangat mudahnya tersebar diberbagai media, salah satunya yaitu media sosial. Menurut Nasrullah media sosial merupakan tempat di internet yang dapat digunakan olehpengguna untuk merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerjasama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan menjalin ikatan sosial secara online (Rulli Nasrullah, 2015). Setiap harinya,informasi akan dimunculkan di media sosial guna menginformasikan kejadian yang sedang terjadi. Media sosial dibutuhkan oleh banyak orang untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Sebagian besar orang setiapharinya menggunakan media sosial untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang dari 256,2 juta orang populasi Indonesia (Sulthan & Istiyanto, 2019). Saat ini media sosial yang sedang disukai dan digunakan oleh banyak orang yaitu media sosial TikTok. Video didalam TikTok tidak hanya memuat konten yang menghibur saja melainkan banyak konten yang memuat informasi mengenai kesehatan, politik, sampaidengan fenomena alam. Hal ini juga dikatakan oleh Yohana Noni Bulele dan Tony Wibowo bahwa video yang dimiliki TikTok menjadikan aplikasi ini sebagai salah satu penyedia atau sumber informasi bagi penggunanya (Bulele & Wibowo, 2020). Informasi yang terdapat di media sosial TikTok tidak semua merupakan informasi yang aktual. Hal tersebut terjadi karena informasi yang ada di media sosial TikTok dengan sangat mudahnya tersebar.Media sosial TikTok juga memiliki kekurangan yaitu dijadikan tempat untuk mem-bully orang lain dan menyebarkan informasi hoax (Oktafiani & Haryanto, 2022). Kejadian seperti itu sudah banyak ditemukan di media sosial TikTok. Mem-bully orang melalui TikTok bertujuan untuk menjatuhkan seseorang melalui informasi yang direkayasa (Arenda et al., 2022). Hal tersebut terjadi dikarenakan media sosial tidak terbatas pada ruang dan waktu, sehingga semua orang dapat terhubung dengan mudah.Maka dari itu, dengan mudahnya pengguna untuk menyebarkan informasi hoax di media sosial, khususnya media sosial TikTok. Hoax merupakan sebuah informasi yang dibuat- buat dengan tujuan untuk menutupi informasi yang sebenarnya terjadi. Hoax juga dapat diartikan sebagai memutarbalikkan fakta yang di mana informasi tersebut dibuat seolah-olah benar dan meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasikebenarannya (Gumilar et al., 2017). Beredarnya informasi hoax diberbagai media sosial khususnya media sosial TikTok, hal tersebut menyebabkan informasi hoax dengan mudahnya dikonsumsi oleh masyarakat, salah satunya yaitu generasi Z. Mahasiswa merupakan salah satu generazi Z yang menggunakan media sosial TikTok. Mahasiswa merupakan salah satu individu yang membutuhkan. informasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjang pengetahuan dan proses pembelajarannya. Salah satu platform pencarian informasi yaitu aplikasi TikTok. Dalam aplikasi TikTok mahasiswa dapatmenemukan informasi yang mereka butuhkan dengan mudah. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam penelusurannya akan dihadapkan dengan berbagai informasi salah satunya informasi hoax. Oleh sebab itu mahasiswa membutuhkan kemampuan dalam mengolah informasi yang ditemukannya yaitu literasi media. Literasi media yaitu sebuah proses mengakses, menganalisis secara kritis pesan media, dan menciptakan pesan menggunakan alat media (Hobbs, 1998). Defini lain mengenai literasi media dijelaskan oleh Rubin yaitu literasi media sebagai bentuk pemahaman terhadap sumber informasi, teknologi yang digunakan untuk komunikasi, kode yang digunakan dalam menyampaikan pesan, pesan yang dihasilkan, seleksi pesan, interpretasi, dan dampak yang dihasilkan dari pesan tersebut (Mauludinet al., 2017). Literasi media digunakan sebagai pedoman bagi seseorang terutama mahasiswa untuk bermedia sosial dengan bijak. Kemampuan literasi media yang baik akan membuat mahasiswa dapat mengetahui informasi tersebut benar atau tidak. Penelitian mengenai kemampuan literasi media mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 dalam menggunakan media sosial TikTok untuk menghadapi informasi hoax, memiliki urgensi untuk dilakukan, mengingat Universitas Diponegoro masih kesulitan untuk mewujudkan visinya yaitu universitas yang bergerak dalam bidang riset. Hal tersebut terjadi dikarenakan, masih banyak mahasiswa yang belum menguasai literasi informasi. Penelitian ini lebih fokus meneliti kemampuan literasi media mahasiswa Universitas Diponegoro 2018 dikarenakan mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 saat ini merupakan angkatan yang pada tahun ini sedang menyusun skripsi, untuk itu pastinya mereka membutuhkan banyak informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi serta untuk menunjang proses penyusunan skripsi mereka. 2. Landasan Teori 2.1 Literasi Media Mahasiswa Literasi biasanya diartikan sebagai menulis dan membaca untuk menggambarkan kemampuan pada bidang tertentu. Potter menjelaskan bahwa literasi media merupakan seperangkat perspektif yang kita gunakan secara aktif saat mengakses media massa untuk menginterpretasikan pesan yang dihadapi (Sulthan & Istiyanto, 2019). Selain itu Potter juga menyetakan bahwa literasi media dapat diartikan sebagai mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengirimkan pesan dalam format cetak dan non cetak (Potter, 2010). Definisi lain dari literasi media yaitu skill untuk menilai makna dalam setiap jenis pesan mengorganisasikan makna itu sehingga berguna, dan kemudian membangun pesan untuk disampaikan kepada orang lain (Sulthan & Istiyanto, 2019). Terdapat sebuah teori dari Rheingold (Crook, 2013) mengenai lima cara untuk meliterasi media sosial, yang di mana cara tersebut digunakan didalam penelitian ini untuk mengetahui kemampuan literasi media yang dimiliki oleh mahasiswa Universitas Diponegoro. Kelima cara tersebut yaitu: (1) Perhatian; Cara perhatian yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi informasi ketika dibutuhkan seseorang utnuk berfikir. (2) Partisipasi; Partisipasi dibedakan menjadi dua yaitu netizen aktif dan netizen pasif. Netizen aktif yaitupengguna media sosial yang ikut mengunggah di media sosial dan tindakan lanjutan terhadap konten yang dijumpai di media sosial. Adapun netizen pasif yaitu pengguna media sosial yang hanya membaca dan menikmati unggahan yang diberikan oleh penggunalain tanpa melakukan tindakan lanjutan. (3) Kolaborasi; Kolaborasi dapat digunakan untuk membangun ide satu sama lain yang digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. (4) Kesadaran Jaringan; Dengan adanya kesadaran jaringan yang berupa forum grup, maka pengguna media sosialdapat berinteraksi satu sama lain untuk membahas suatu hal. (5) Pemakaian Secara Kritis; Sebelum mempercayai, mengkomunikasikan, atau menggunakan apa yang ditulis orang lain, seseorang lebih baik melakukan identifikasi. Seseorang harus melihat latar belakang penulis atau pencipta, sumber daya, dan keakuratannya. 2.2 Penggunaan Media Sosial Pada Mahasiswa Media sosial merupakan bagian dari berbagai aplikasi yang berbasis internet, dimana dapat membangun diatas dasar ideologi dan menggunkan teknologi web 2.0. Perkembangan media sosial sangat pesat dimulai pada tahun 1997 sampai tahun 1999 muncul media sosial pertama yaitu Sixdegree.com. dan Classmeet.com. di tahun tersebut juga muncul situs blogger yang didalamnya seseorang dapat menuliskan blog pribadinya. Dari tahun 2003 sampai saat ini muncullah berbagai media sosial dengan ciri khas dan kelebihannya masing-masing. Media sosial tersebut yaitu Linkedln, MySpace, Facebook, Twitter, Wiser, Google, Instagram dan masih banyak lagi (Cahyono, 2016). Sampai akhirnya muncullah media sosial yang bernama TikTok pada September tahun 2016 yang diluncurkan di Tiongkok. Media Sosial TikTok merupakan jejaring sosial yang berisi video singkat dimana penggunanya memperbolehkan penggunanya untuk membuat video musikdengan durasi yang singkat. Media sosial TikTok saat ini telah mengalahkan media sosial popular lainnya seperti Instagramdan Youtube (Wijaya & Mashud, 2020). Media sosial akan digunakan oleh mahasiswa sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka akan menggunakan untuk bertukar informasi, mencari informasi yang sedang hangat, atau hanya sekedar untuk menghibur diri. Dengan menggunakan media sosial, mahasiswa akan mengetahui dan mendapatkan efek negatif maupun positif dari penggunaan media sosial. Walaupun mereka mengetahuiterdapat efek negatif dari penggunaan media sosial, mereka akan tetap menggunakan media sosial tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu mahasiswa merupakan ujung tombak nyata atas pengaruh dari penggunaan media sosial baik baik secara positif ataupun negatif (Sulthan & Istiyanto, 2019)
Method
Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang lebih menekankan secara mendalam mengenai aspek pemahaman terhadap suatu masalah dibandingkan melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi (Siyoto, 2015). Peneliti memilih metode penelitian kualitatif karena relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Kemudian dalam pengumpulan data pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang di mana teknik ini cocok digunakan untuk penelitian kualitatif (Sugiyono, 2013). Untuk tahapan pengambilan data, peneliti menggunakan kegiatan observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Peneliti melakukan wawancara kepada mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018. Setelah melakukan pengumpulan data, peneliti kemudian melakukan analisis data. Pada penelitian ini analisis data menggunakan teknik analisi data menurut Miles dan Huberman (1992:16) yaitu yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Result & Discussion
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, peneliti menemukan 3 tema penelitian terkait bagaimana kemampuan literasi media yang dimiliki oleh mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 dalam menggunakan media sosial TikTok untuk menghadapi informasi hoax. Adapun tema-tema tersebut meliputi: (1) Penggunaan media sosial TikTok pada mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2018 beserta informasi yang tersebar di media sosial TikTok; (2) Pemahaman mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 mengenai literasi media; (3) Kemampuan literasi media mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 dalam menggunakan media sosial TikTok untuk menghadapi informasi hoax. 4.1 Penggunaan Media Sosial TikTok pada Mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan2018 Beserta Informasi yang Tersebar di Media Sosial Tiktok. Media sosial merupakan aplikasi yang berbasis internet dimana aplikasi tersebut dapat digunakan oleh semua orang untuk kebutuhan sehari-harinya. Media sosial pada umumnya berisikan informasi yang disebarkan oleh penggunanya. Penggunaan media sosial TikTok memiliki tujuan yang berbeda- beda bagi mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018. Hal tersebut berdasarkan jawaban dari informan yang di mana terdapat informan yang menggunakan media sosial TikTok untuk mencari suatu informasi. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu informan yang mengatakan “Saya ngga terlalu sering menggunakan media sosial TikTok. Saya membuka TikTok untuk mencari informasi aktual atauinformasi terbaru. Karna biasanya di TikTok itu informasi yang disajikan sangat update. Baru beberapa menit terjadi sudah ditampilkan di TikTok. Tetapi itu sebagai sekilas pandang saja, untuk kelanjutannya tetap mencari ke sumber informasi lain”. Selain itu terdapat juga informan yang menggunakan media sosial TikTok untuk media hiburan saja. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu informan yang mengatakan “Sejauh ini saya menggunakan TikTok hanya sebagai media hiburan saja, namun banyak juga informasi menarik yang berkaitan dengan berita dan informasi akademik. Saya juga terkadang belanja melalui TikTok, karena sekarang TikTok memiliki fitur TikTok Shop. Pada fitur tersebut penjualdan pembeli dimudahkan dalam transaksi barang yang diinginkan. Selain itu pengguna TikTok sekarangsudah semakin banyak”. Informasi yang tersebar di media sosial TikTok tidak semuanya merupakan informasi yang benar, terdapat banyak informasi hoax yang tersebar melalui media sosial TikTok, hal ini berakibat pada kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang tersebar di media sosial TikTok. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh salah satu informan yang mengatakan bahwa beliau sering menjumpai informasihoax di TikTok terutama di akun reuploader. Untuk itu dapat diketahui bahwa informasi yang ada di media sosial TikTok tidak sepenuhnya merupakan informasi yang aktual, tetapi terdapat banyak oknum yang menyebarluaskan informasi yang tidak jelas dan dapat dikatakan informasi hoax. 4.2 Pemahaman Mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2018 Mengenai Literasi Media Saat ini terdapat banyak sekali informasi yang tersebar di media sosial TikTok, untuk itu perlu adanya pemahaman mengenai literasi media oleh mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018. Pemahaman mengenai literasi media dapat digunakan untuk membantu mereka dalam memahami isi informasi yang mereka temukan saat menggunakan media sosial TikTok dan menjumpai informasi yangada didalamnya. Untuk itu sangat diperlukan pemahaman mengenai literasi media oleh mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018. Bermacam-macam pendapat dari informan mengenai literasi media. Salah satu informan menjelaskan bahwa literasi media merupakan kemampuan seseorang tersebut dalam mengakses, menganalisis, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media. Dimana hal ini kita sebagai pengguna informasi bukan hanya menerima dan menyampaikan informasi saja namun diharapkan mendapat perubahan pada informasi tersebut. Dari beberapa jawaban dari informan mengenai literasi media dapat disimpulakan bahwa mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 memahami mengenai literasi media, karena secara garis besar jawaban informan mengenai pemahaman mereka terhadap literasi media sama. Mereka menjelaskan literasi media adalah bentuk kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang untuk dapat memahami isi pesan atau informasi yang disajikan oleh berbagai media, salah satunya yaitu media sosial. Untuk itu melalui pemahaman mereka mengenai literasi media dapat dijadikan oleh seseorang untuk dapat mengetahui dan memahami informasi yang tersebar di media sosial, khususnya media sosialTikTok. Pemahaman literasi yang baik menjadi kunci solutif yang tepat dalam menggunakan semua media sosial uang diakses khususnya media sosial TikTok. 4.3 Kemampuan Literasi Media Mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2018 dalamMenggunakan Media Sosial Tiktok untuk Menghadapi Informasi Hoax Berdasarkan teori yang telah dikemukakan oleh Rheingold, terdapat lima cara untuk meliterasi media sosial. Cara tersebut digunakan untuk mengetahui kemampuan literasi media sosial mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 dalam menggunakan media sosial TikTok untuk menghadapi informasi hoax yaitu: 1. Perhatian Cara pertama untuk mengetahui kemampuan literasi media sosial yaitu dengan perhatian. Perhatian merupakan kemampuan mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 dalam mengidentifikasi informasi terkait isu yang mereka temukan ketika menggunakan media sosial TikTok yang mengharuskan mereka untuk lebih memfokuskan dan berfikir terkait informasi yang mereka jumpai. Seperti yang disampaikan oleh salah satu informan yang mengatakan bahwa informasi mengenai covid yang dimana informasi tersebut berfokus mengenai vaksin itu membunuh. Hal tersebut membuat informan berfikir lebih fokus untuk mengidentifikasi mengenai isu tertentu yaitu mengenai vaksin. Melalui identifikasi informasi tersebut, maka informan akan berfikir bagaimana cara untuk lebih waspada dan berhati-hati terhadap hal tersebut serta mencari sudut pendang dari orang lain dengan cara menanyakan terkait informasi yang beredar. 2. Partisipasi Partisipasi dalam media sosial dibedakan menjadi dua yaitu netizen aktif dan netizen pasif. Dari hasil wawancara, terdapat dua pendapat yang berbeda dari informan mengenai tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2018 ketika menjumpai informasi hoax saat menggunakan media sosial TikTok. Dari kedua perbedaan pendapat tersebut dapat dibedakan menjadi netizen aktif dan netizen pasif. Informan yang merupakan netizen aktif mereka akan melakukan tindakan berupa melaporkan informasi ke pihak TikTok ketika mereka menemukan informasi yang sudah terbukti hoax. Sedangkan mahasiswa yang tergolong netizen pasih mereka akan membiarkan saja tanpa melakukan tindakan apapun ketika menemukan informasi hoax. 3. Kolaborasi dan Kesadaran Jaringan Cara ketiga dan keempat yaitu kolaborasi dan kesadaran jaringan. Kedua cara ini digabung karena saling berkaitan dan dapat menyelesaikan lebih banyak hal. Kolaborasi tentunya tidak hanya dilakukan oleh satu orang saja melainkan dua orang atau lebih. Maka dari itu, dibutuhkan kesadaran jaringan oleh pengguna media sosial untuk membahas dan menyelesaikan masalah melalui forum, grup, atau organisasi lainnya. Cara ketiga dan keempat dapat dilakukan oleh pengguna media sosial khususnya media sosial TikTok untuk dapat membahas dan menyelesaikan masalah terkait informasi hoax yang mereka jumpai ketika menggunakan media sosial TikTok. Hal tersebut sepertiyang disampaikan oleh salah satu informan yang mengatakan “Saya pernah sih suatu ketika kayakmuncul video di FYP, videonya itu tentang China mau minta pulau Kalimantan buat jaminan utangIndonesia. Terus saya share video itu ke temen lewat DM TikTok. Menarik sih sebenernya beritanya, tapi kayak rada aneh gitu makanya saya bahas sama temen saya di DM TikTok. Alhasil pas dibahas emang itu hoax. Jadi lebih pinter-pinter aja sih buat nerima sesuatu di TikTok karna yaga semuanya bener”. Untuk itu, tindakan yang dilakukan informan merupakan tindakan yang mencerminkan melakukan kolaborasi dan kesadaran jaringan. 4. Pemakaian Secara Kritis Cara terakhir adalah pemakaian secara kritis, dimana pengguna media sosial TikTok akan mengevaluasi tentang informasi yang ditemukan dan sumber informasi yang dapat dipercaya. Sebelum pengguna mempercayai, mengkomunikasikan, dan menggunakan informasi yang ditemukan, sebaiknya pengguna melakukan identifikasi mengenai latar belakang pencipta video, sumber informasi, dan keakuratannya. Terdapat beberapa informan yang berpendapat bahwa ketikamereka menemukan informasi, mereka tidak akan mempercayainya secara langsung. Mereka akanmencari tahu keakuratan mengenai informasi yang mereka temukan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari salah satu informan yang mengetakan “Setelah menemukan informasi yang sekiranya heboh atau menyangkut masyarakat luas, saya biasanya akan mengecek informasi tersebut di website https://turnbackhoax.id/ atau website dari Kominfo untuk mengetahui apakah informasi tersebut hoax atau tidak. Di website tersebut, biasanya sudah terverifikasi informasi-informasi hoax yang telah tersebar di berbagai media”.
Conclusion
Simpulan dari penelitian ini yaitu dapat diketahui bahwa mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 memiliki kemampuan literasi media yang beragam. Hal tersebut diketahui melalui cara mahasiswa Universitas Diponegoro untuk meliterasi media sosial TikTok dimulai dari perhatian, partisipasi, kolaborasi dan kerjasama jaringan, serta pemakaian secara kritis. Literasi media akan menjadi benteng pertahanan bagi mahasiswa Universitas Diponegoro angkatan 2018 agar tidak termakan dengan informasi hoax dan informasi yang tidak memiliki kredibilitas yang baik.