Kembali
16
1
2021 Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan Vol 9 · 1 ISSN 2540-9239

Preferensi penggunaan sumber informasi oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas kuliah

Universitas Diponegoro

Abstrak

Berbagai macam sumber informasi dengan beragam bentuk memberikan kesempatan mahasiswa untuk memanfaatkan sumber informasi guna keperluan perkuliahan. Namun, kajian tentang mahasiswa yang mengetahui dan menggunakan informasi untuk keperluan penyelesaian tugas kuliah belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi mahasiswa strata 1 di satu fakultas universitas di Semarang mencari informasi, identifikasi sumber informasi yang telah didapatkan, cara mendapatkan sumber informasi, dan alasan menggunakan atau tidak sumber informasi tersebut. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif menggunakan metode penelitian studi kasus melalui wawancara sebagai satu-satunya teknik dalam memperoleh data. Narasumber ditentukan melalui teknik purposive sampling melalui kriteria khusus yaitu mahasiswa semester 5-8, yang telah memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup dan relevan dengan tujuan penelitian. Jumlah informan yang berhasil direkrut melalui metode ini adalah 11 mahasiswa yang bersedia diwawancarai. Data penelitian dianalisis menggunakan metode thematic analysis, sebuah teknik menganalisis data untuk memperoleh pola dari fenomena yang sedang dikaji. Hasil analisis data menunjukkan bahwa berbagai macam variasi sumber informasi digunakan mahasiswa untuk mencari informasi dalam rangka menyelesaikan tugas perkuliahan. Penelitian mengidentifikasi kompleksitas kegiatan penelusuran informasi mahasiswa yang dipengaruhi faktor eksternal seperti jenis tugas, maupun internal dari mahasiswa itu sendiri, misalnya pengetahuan tentang sumber informasi yang tersedia dan motivasi untuk menggunakannya. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi perpustakaan perguruan tinggi untuk mengembangkan layanan informasi dan bahan evaluasi program pendidikan pemakai yang bertujuan meningkatkan kualitas belajar mahasiswa.

Abstract

A wide range of information sources is available to students in various forms providing opportunities for students to utilize these information sources for study purposes. However, studies on the extent to which students know and use it to complete lecture assignments are still rare. This study aimed to identify undergraduate students' experience at one faculty in a university in Semarang when exploring various kinds of information resources to do their assignments. This qualitative study used interviews as the only technique in obtaining data. By employing purposive sampling method, eleven undergraduate students who met the specific criteria participated in this study. All the participants were interviewed using a semi-structured interview. The data were then analyzed by using thematic analysis, to uncover the undergraduate students’ information sources preference and how they used them. The findings revealed students’ selections of information sources for conducting their information retrieval process. They also identified the complexity of student information retrieval activities that were heavily affected by external factors such as the type of assignment, and internal from the students themselves, for example, knowledge of available information sources and motivation to use them. The findings provided evidence to inform the development of library services and information literacy responses to enhance undergraduate students learning.
Keywords: Mahasiswa · Preferensi sumber informasi · Layanan informasi perpustakaan · Pengalaman informasi

Introduction

Perpustakaan menyediakan beragam sumber informasi dari berbagai macam bentuk seperti buku, jurnal, majalah, bahkan video untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Berbagai macam sumber informasi tersebut diadakan perpustakaan dengan berorientasi kepada kebutuhan masyarakat penggunanya (Rukmana, Damayani, & Yusup, 2015). Perpustakaan perguruan tinggi memiliki pengguna yang spesifik, yaitu masyarakat akademik di lingkungan perguruan tinggi mulai dari staf, dosen dan mahasiswa. Setiap pengguna di kalangan akademik memiliki kebutuhan informasi yang beragam. Dosen membutuhkan sumber informasi untuk keperluan tri dharma perguruan tinggi, sementara mahasiswa memiliki kebutuhan sumber informasi untuk keperluan belajar, termasuk keperluan dalam penyelesaian tugas perkuliahan. Namun demikian, ketersediaan sumber informasi perpustakaan perguruan tinggi belum menjamin akan digunakan oleh dosen atau mahasiswa. Pengetahuan akan ketersediaan sumber informasi serta kemampuan mengakses, dan menggunakan sumber tersebut merupakan salah satu faktor pemanfaatan sumber informasi bagi mahasiswa, terutama strata 1 (Flierl, Howard, Howard, Zwicky, & Weiner, 2018). Kajian tentang kemampuan mahasiswa dalam mengakses dan menggunakan informasi sudah banyak dilakukan. Kajian tersebut dilakukan dengan mengaplikasikan konsep perilaku pencarian informasi atau menggunakan teori literasi informasi. Salah satu contoh penelitian tentang pemanfaatan sumber informasi dengan mengimplementasikan teori perilaku pencarian informasi dilakukan oleh Hamami, Sinaga, and Erwina (2014). Ada pun penelitian penggunaan sumber informasi yang menerapkan konsep literasi informasi pernah dilakukan oleh Wicaksono and Kurniawan (2016); Igun and Odafe (2016). Penelitian di atas memberikan perspektif baru di bidang perilaku pencarian informasi dan juga kemampuan literasi pada subyek penelitian masing-masing meski belum mengkaji mahasiswa sebagai subyek penelitian. Hamami et al. (2014) mengkaji wartawan dalam mencari dan menggunakan informasi. Demikian pula Wicaksono and Kurniawan (2016) mengkaji kemampuan literasi secara umum yang wajib dimiliki pustakawan dan belum secara khusus melakukan studi tentang mahasiswa strata 1. Igun and Odafe (2016) telah melakukan studi terhadap mahasiswa namun berfokus kepada kemampuan literasi informasi dan tidak secara khusus mengamati pemilihan dan penggunaan sumber informasi untuk belajar. Sampai saat ini, sedikit peneliti yang meneliti tentang interaksi mahasiswa dengan berbagai macam sumber informasi yang tersedia di sekitar mereka. Selain itu, belum banyak penelitian yang mengeksplorasi pengalaman informasi mahasiswa tingkat strata 1 selama masa perkuliahan mereka. Penelitian yang berfokus terhadap tingkat kemampuan mahasiswa cenderung menghasilkan temuan mengenai tingkatan tinggi atau rendah kemampuan mahasiswa, atau sejauh mana mahasiswa mampu menemukan informasi yang sedang dicari. Penelitian tersebut cenderung bersifat evaluatif, yaitu mengukur seberapa tinggi kemampuan mahasiswa dalam menemukan dan menggunakan informasi yang ditemukan. Namun, masih sedikit penelitian yang bersifat eksploratif yang bertujuan mengetahui secara lebih mendalam bagaimana mahasiswa berinteraksi dengan sumber informasi yang terpercaya sebagai yang terbaik dalam rangka memenuhi kewajiban perkuliahan. Hingga hari ini, belum ada kajian yang mengidentifikasi faktor yang memengaruhi mahasiswa dalam memilih sumber informasi secara khusus, sekaligus mengupas hal yang menjadi pertimbangan mahasiswa ketika proses penggunaan sumber informasi tersebut. Penelitian terdahulu yang sudah disebutkan di atas, belum berfokus kepada pengalaman mahasiswa dalam menggunakan berbagai macam sumber informasi. Pengalaman mahasiswa dalam berinteraksi dengan sumber informasi merupakan kajian di bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang dikenalkan Bruce, Davis, Hughes, Partridge, and Stoodley (2014) sebagai pengalaman informasi (information experience). Berdasarkan pengalaman tersebut, hal ini menimbulkan persepsi, opini, dan pandangan unik dari setiap mahasiswa terkait pengalaman di dunia informasi yang dialami. Lebih dari itu, pengalaman informasi merupakan sebuah konsep yang menggambarkan interaksi kompleks antara informasi dengan penggunanya (Bruce, Davis, Hughes, Partridge, & Stoodley, 2014). Pengalaman-pengalaman ini disebut sebagai pengalaman yang kompleks karena melibatkan beberapa aspek dalam interaktivitas mahasiswa dengan dunia informasi. Interaktivitas tersebut meliputi sumber informasi yang diketahui mahasiswa, dan aspek diri mahasiswa itu sendiri saat menentukan pilihan sumber informasi. Lebih lanjut Bruce et al. (2014) menjelaskan bahwa konsep pengalaman informasi mendeskripsikan tentang pengalaman seseorang terkait dengan dunia informasi saat seseorang tersebut belajar. Penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan literatur yang telah ada melalui cara mengeksplorasi pengalaman mahasiswa strata 1 dalam memilih dan menggunakan berbagai macam sumber informasi di sekitarnya untuk mengerjakan tugas perkuliahan. Penelitian ini tidak mendasarkan kepada teori perilaku informasi atau pun teori kemampuan literasi informasi seperti yang telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Namun, berdasarkan deskripsi yang diberikan oleh Bruce et al. (2014), penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman mahasiswa dalam menggunakan sumber informasi. Penelitian ini mencari jawaban atas rumusan masalah bagaimana mahasiswa strata 1 menggunakan berbagai macam sumber informasi dalam proses menyelesaikan tugas perkuliahan. Penelitian ini akan bermanfaat bagi perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi dalam mengembangkan layanan, sekaligus bermanfaat sebagai bahan dasar bagi pengambil kebijakan di perpustakaan dalam mengelola dan menyebarkan sumber informasi kepada masyarakat di perguruan tinggi yang bersangkutan.

Method

Penelitian yang mengeksplorasi pengalaman seseorang dan kemudian mengidentifikasi secara mendalam pendapat, cara pandang, dan kerangka berpikir pada dasarnya sangat berpotensi untuk dilakukan secara kualitatif (Thanh & Thanh, 2015). Lebih lanjut Chu and Ke (2017) menyampaikan fenomena real-life dapat dijadikan subyek penelitian kualitatif. Maka penelitian yang bertujuan untuk mengetahui preferensi mahasiswa strata 1 dalam menggunakan sumber informasi ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus dan mengaplikasikan semi-structured interview sebagai teknik pengumpulan data dan metode thematic analysis untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan. Studi kasus merupakan sebuah metode yang bisa digunakan sebagai pendekatan penelitian apabila penelitian tersebut bertujuan untuk melakukan investigasi secara mendalam peristiwa yang sedang berlangsung (Bryant, Matthews, & Walton, 2009). Penelitian yang dilakukan pada bulan April sampai Agustus 2019 ini bertujuan untuk memahami pengalaman dan pengetahuan mahasiswa di salah satu fakultas di sebuah universitas di Semarang tentang ketersediaan sumber informasi di sekitar dan bagaimana mereka menggunakan sumber informasi tersebut. Metode kualitatif merupakan metode yang bisa digunakan untuk mengetahui secara rinci sebuah kegiatan, proses dan konteks sebuah fenomena yang sedang berlangsung (Lincoln, 2002), dan sebagai metode yang bisa digunakan untuk menggambarkan dan mengklarifikasi pengalaman seseorang yang dilakukan dalam kehidupannya (Cresswell, 2014). Untuk mendapatkan mahasiswa sebagai partisipan, peneliti menyusun kriteria sampling yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini disebut juga sebagai teknik purposive sampling. Sebuah teknik perekrutan partisipan untuk penelitian dengan mengutamakan individu yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai obyek yang sedang diteliti (Palinkas et al., 2015). Adapun kriteria yang ditentukan agar sesuai dengan tujuan penelitian adalah mahasiswa yang berada pada semester 4 sampai dengan semester 8, dan merupakan mahasiswa yang terdaftar pada salah satu program studi di fakultas yang sedang diteliti. Populasi dalam penelitian ini tidak dikhususkan bagi mahasiswa di satu program studi, namun semua mahasiswa yang masih aktif terdaftar sebagai mahasiswa dan berada pada semester 4 sampai 8. Pemilihan semester ini didasarkan pada pertimbangan tingkat pengetahuan dan pengalaman mahasiswa yang sudah pernah menggunakan berbagai sumber informasi baik tercetak maupun online yang disediakan fakultas, universitas, maupun yang tersedia secara umum. Perekrutan partisipan dilakukan melalui cara penyebaran selebaran yang berisi deskripsi singkat penelitian dan tujuan penelitian. Selebaran ini terdistribusikan melalui berbagai group Whatsapp di kalangan mahasiswa yang kemudian mahasiswa tersebut menarik beberapa mahasiswa lain untuk menjadi informan. Para informan diwawancarai menggunakan wawancara semi-terstruktur. Di mana pewawancara mempunyai kesempatan untuk bercakap-cakap langsung dengan informan tanpa dibatasi daftar pertanyaan wawancara. Wawancara semi terstruktur sangat lazim digunakan dalam penelitian kualitatif sebagai satu-satunya teknik untuk mengumpulkan data (Rabionet, 2011). Wawancara dilakukan ditempat yang disepakati antara peneliti dengan mahasiswa. Begitu pula waktu wawancara mengikuti ketersediaan waktu mahasiswa. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis, sebuah metode untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola atau tema yang dianggap penting untuk menggambarkan fenomena yang sedang diteliti Braun and Clarke (2012); Heriyanto (2018). Peneliti memahami bahwa identifikasi pola penelitian dapat membantu menganalisis fokus penelitian ini, yakni pengalaman informan dalam fenomena penggunaan sumber informasi dalam masa kegiatan perkuliahan. Metode thematic analysis, seperti teknik analisis data yang lain, melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah familiarization dengan data. Tahap ini dianggap menjadi satu tahapan penting karena apabila peneliti telah ‘merasa dekat’ dengan data yang dimilikinya maka hal tersebut akan memudahkan peneliti dalam melakukan tahap selanjutnya, seperti menginterpretasikan data yang mereka miliki. Familiarization atau memahami lebih dekat data yang dimiliki ini dilakukan dengan cara mendengarkan beberapa kali rekaman wawancara yang telah dilakukan. Peneliti mendengarkan ulang masing-masing rekaman wawancara paling tidak sebanyak dua kali. Setelah itu, setiap rekaman wawancara dibuatkan transkrip wawancara. Peneliti melalui proses penulisan transkrip wawancara mendapatkan insight dan mulai memahami tentang perilaku obyek yang diteliti. Bahkan secara tidak langsung, proses analisis data sudah dimulai sejak mendengarkan rekaman dan menuliskan rekaman ke dalam bentuk transkrip wawancara. Tahap kedua dalam thematic analysis adalah menentukan kode (code). Kode dapat dianggap sebagai label atau ilustrasi dari potongan data dari transkrip yang dianggap relevan dengan topik penelitian, dan dianggap dapat menjawab pertanyaan penelitian (Saldaña, 2013). Ketika semua data telah ditentukan kodenya masing-masing, kode tersebut dikelompokkan sesuai kemiripan makna masing-masing. Kata lain, kode yang memiliki makna mirip akan dijadikan satu dalam satu grup. Grup ini yang kemudian menunjukkan pola (pattern) dari fenomena yang sedang dikaji.

Result & Discussion

Pada bagian awal, informan saat wawancara diberikan pertanyaan tentang jenis tugas yang pernah didapat. Tugas perkuliahan bervariasi mulai dari esai, laporan hasil observasi, presentasi, dan tugas akhir. Topik yang menjadi kajian tugas pun juga beragam, seperti bahasa dan sastra, budaya, hingga teknologi informasi. Keragaman jenis tugas dan topik esai menimbulkan kebutuhan akan sumber informasi yang beragam pula. Peneliti berikan contoh informan yang sedang mengerjakan esai memerlukan banyak artikel dari jurnal untuk mendapatkan ide dan data tentang topik yang mereka tulis. Ketika berbicara mengenai sumber informasi, informan memilih Google menjadi pilihan pertama dengan alasan yang sangat sederhana, karena Google berhasil menampilkan informasi yang dibutuhkan. Mayoritas informan memilih Google sebagai search engine pertama yang digunakan, karena informan tidak mengetahui sumber informasi lain yang bisa dengan mudah digunakan. Meskipun beberapa informan mengakui bahwa proses yang ditempuh tidak mudah. Namun pada akhirnya sebagian besar informan menemukan informasi yang dibutuhkan. Strategi yang diterapkan para informan sebagian besar mirip, yaitu mencoba beberapa kali kata kunci. Ini merupakan kemampuan dasar penelusuran informasi yang diketahui para informan, yaitu memasukkan kata kunci tanpa ada modifikasi. Hal ini menimbulkan resiko ketika kata kunci yang dituliskan belum akurat dan relevan dengan topik yang dicari. Maka sangat kecil kemungkinan informan akan menemukan informasi yang dibutuhkan. Salah satu informan berkata. “Kalau paling menyulitkan, karena saya tidak pernah dapat menemukan kata kunci yang sesuai langsung dengan apa yang mau saya cari. Jadi, misalkan saya bingung tentang suatu hal, misalkan saya langsung ketikkan di search engine nya itu. Itu tidak bisa langsung muncul. Jadi seperti saya harus cari satu-satu. Saya baca semuanya dulu baru saya dapat. Ya, karena tidak langsung dapat, begitu saja kesulitannya”(A. Hidayatullah, wawancara, April 30, 2019) Penjelasan informan tersebut mengilustrasikan bahwa informan memerlukan beberapa kali menuliskan kata kunci hingga menemukan artikel yang dibutuhkan. Informan lain mengatakan bahwa tidak semua informasi yang mereka butuhkan untuk mengerjakan tugas dapat ditemukan melalui Google dan Google Scholar. Temuan ini mengindikasikan bahwa Google menjadi pilihan utama informan dalam upaya mencari karya ilmiah. Pilihan ini sesuai pengalaman informan yang bisa menemukan dengan mudah menggunakan search engine tersebut untuk mencari informasi yang bersifat umum, seperti definisi dari sebuah terminologi. Namun, ketika informan dihadapkan pada kebutuhan untuk mencari informasi yang ilmiah, proses pencarian tersebut menjadi lebih menantang karena tidak semudah menemukan informasi yang non ilmiah. Pemilihan Google sebagai sumber informasi oleh informan juga disampaikan melalui penelitian Sin (2015) yang menyebutkan bahwa Google sebagai sumber informasi sehari-hari informan baik untuk keperluan akademis maupun non akademis. Namun penelitian Heriyanto (2018) justru menemukan sesuatu yang lain terkait penggunaan Google sebagai sumber informasi. Heriyanto (2018) menemukan bahwa Google digunakan sebagai salah satu sumber informasi awal ketika mahasiswa melakukan penelusuran informasi, namun hanya sebagai initial search. Arti lain, mahasiswa menggunakan Google untuk mencari ide tentang terminologi dan kata kunci yang tepat yang digunakan dalam penelusuran selanjutnya. Setelah mahasiswa menemukan terminologi yang tepat, mahasiswa menggunakan katalog perpustakaan untuk mencari artikel ilmiah yang dibutuhkan. Sumber informasi lain yang digunakan informan untuk mencari informasi dalam rangka mengerjakan tugas perkuliahan adalah repository kampus, yang sebagian informan menyebut sebagai ePrints. Nama ePrints sebenarnya merupakan salah satu nama open source software untuk mengelola karya ilmiah masyarakat akademik di sebuah perguruan tinggi. Selain itu, satu lagi open source software bernama Dspace. Namun bagi informan yang menjadi partisipan dalam studi ini, ePrints adalah satu-satunya ‘nama’ repository yang dikenal informan, dan paling sering disebut. Sebagian informan mengetahui ePrints melalui teman informan dan dosen. Hal ini menunjukkan bahwa ePrints telah menjadi salah satu rujukan bagi informan dan dosen. Oleh karena itu, ini dapat menjadi masukan bagi pengelola ePrints untuk menjadikan database karya ilmiah menjadi satu sumber informasi yang dipercaya mahasiswa dan dosen. Sebaliknya, beberapa informan menyampaikan skripsi yang disimpan di repository kampus tidak semua halaman dapat dilakukan download. Informan berkomentar bahwa hanya halaman depan yang bisa dilakukan download namun tidak demikian pada beberapa halaman terakhir. Informan lain berpendapat, “Tidak (dapat) diakses karena harus masuk pakai password” (A. Irfan, wawancara, April 15, 2019). Pendapat sebagian informan tersebut tentunya menimbulkan tanda tanya mengingat repository merupakan green open access yang dikelola perguruan tinggi yang disediakan secara terbuka untuk umum. Ini berarti secara konsep repository dapat diakses secara terbuka tanpa memerlukan password. Ketika mahasiswa atau pengguna lain menemui kesulitan dalam mengakses salah satu karya imiah yang disediakan di sebuah repository, maka potensi yang bisa muncul adalah efek jera terhadap mahasiswa tersebut dan berpindahnya perhatian dari ePrints menuju sumber informasi lain. Seperti dikatakan oleh salah satu informan berikut ini. “Ini kayaknya harus banget. Soalnya di abstraknya yang saya butuhkan begitu, Pak. Tapi, ya, karena memang itu yang harus masuknya itu harus pake password, ya, saya coba cari-cari artikel lain yang serupa yang kira-kira saya klik begitu saja” (A. Hidayatullah, wawancara, April 30, 2019). Mendengar pernyataan informan yang berpindah sumber informasi adalah bukan hal baru karena setiap pengguna informasi selalu mencari sumber informasi yang mudah dalam pencariannya. Namun, sebagian informan di sini berganti sumber informasi dan berganti artikel yang dicari. Informan yang belum mampu mendapatkan sebuah artikel melalui proses penelusuran akhirnya memulai lagi proses pencarian mencari artikel lain. Walaupun begitu, satu informan menyampaikan bahwa ePrints di kampus lebih banyak menyediakan informasi dibandingkan ePrints di dua kampus lain yang pernah informan gunakan. Seperti dikatakan satu informan di bawah ini. “Cukup mudah, karena download semua orang sepertinya bisa download, dan kalau skripsi di universitas sendiri semuanya dapat dilakukan upload. Jadi tidak seperti di [repository kampus lain] dan [repository kampus lain] juga itu hanya abstrak dan daftar pustaka” (I. Susanti, wawancara, May 13, 2019). Sesuai temuan ini mengindikasikan bahwa perlu diadakan sosialisasi kembali terhadap mahasiswa, dan dosen terhadap ketersediaan repository universitas sebagai pusat deposit karya ilmiah sivitas akademika (Björk, Laakso, Welling, & Paetau, 2014). Mahasiswa apabila mahasiswa mencari artikel ilmiah yang sesuai keilmuan maka salah satu pilihan yang bisa digunakan adalah repository yang dikelola universitas. Apalagi, repository sekarang telah menjelma menjadi salah satu sumber informasi yang valid dan update dikarenakan konten berasal dari penelitian dan kajian yang dilakukan peneliti, dosen atau pun mahasiswa di sebuah universitas (Prasetyawan, 2017; Zervas, Kounoudes, Artemi, & Giannoulakis, 2019). Sumber informasi lain yang tersedia di fakultas yang disebutkan mayoritas informan adalah perpustakaan di fakultas. Satu informan mengatakan bahwa perpustakaan fakultas digunakan untuk mencari bahan pustaka terutama buku dalam rangka penyelesaian tugas kuliah. Selain itu, latar belakang kunjungan dan penggunaan fasilitas perpustakaan fakultas adalah karena koleksi bahan pustaka yang disediakan relevan dengan kebutuhan informan dalam pengerjaan tugas. Adapun sebaliknya, informan lain kesulitan menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan di perpustakaan pusat. Selain itu, informan lain memilih untuk tidak menggunakan perpustakaan di fakultas karena ketersediaan buku terbatas dan jangka waktu peminjaman yang pendek. Ragam pernyataan informan tentang koleksi di perpustakaan fakultas dan observasi yang dilakukan peneliti mengindikasikan adanya kebutuhan informasi informan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi fakultas. Oleh karena itu, tergambar bahwa perpustakaan belum bisa memenuhi fungsi informasi bagi sebagian masyarakat akademik yang menjadi pengguna. Suharso, Sudardi, Widodo, and Habsari (2018) menyampaikan dalam penelitiannya bahwa, perpustakaan adalah sebuah tempat yang demokratis dan bertanggung jawab terhadap kemajuan daya pikir serta peradaban masyarakat pengguna. Kewajiban itu dapat dipenuhi oleh perpustakaan apabila pengelola perpustakaan bersedia untuk selalu menjaga komitmen dalam penyediaan informasi ilmiah, informatif, dan hiburan yang relevan dengan kebutuhan informasi masyarakat pengguna. Ketika terkait kebutuhan buku elektronik (e-book), sebagian informan menyebutkan sebuah nama website yang diketahui menyediakan e-books gratis, bernama Genlib. Pengetahuan tentang satu website penyedia e-books gratis ini didapatkan dari dosen. Sementara bagi informan dari program studi yang masih relatif baru di fakultas, koleksi buku yang dibutuhkan sebagian besar masih tersedia di perpustakaan daerah. Hal ini berawal dari rekomendasi sesama informan di satu program studi yang pernah menggunakan koleksi bahan pustaka di perpustakaan daerah. Pada akhirnya, informan di satu program studi ini lebih banyak menggunakan koleksi buku di perpustakaan daerah daripada perpustakaan pusat di universitas atau perpustakaan fakultas. “Sekarang di Perpusda. kalau mau nyari buku [nama program studi], bulan kemarin ke Perpusda. cari buku, semester lalu juga tentang [nama program studi]. Di Perpusda. lebih lengkap daripada di perpus [universitas]. Terus teman-teman saya juga bilang, di Perpusda. banyak buku [nama program studi] terus saya coba, waktu itu lagi libur. Di sini kan jumat libur, sedangkan Perpusda. nggak libur masih buka, ya, udah jumat ke Perpusda. dan ternyata lumayan banyak koleksi buku tentang [nama program studi]. Menurut saya dibandingin perpus. [fakultas] dan perpus. [universitas]” (S. Damayanti, wawancara, May 17, 2019). Bagi sebagian besar informan, dosen masih merupakan sumber informasi utama. Hal ini terjadi karena informan kerap menggunakan buku atau jurnal yang direkomendasikan dosen. Satu informan mengatakan bahwa informan sangat bergantung pada satu judul jurnal selama perkuliahan dan selama penyelesaian tugas perkuliahan. Selain direkomendasikan dosen, informan mengatakan ketersediaan buku yang relevan dengan program studi sangat terbatas. Satu informan bahkan menambahkan bahwa program studi tempatnya belajar relatif baru berdiri. Hal ini mengakibatkan tidak banyak buku yang sesuai kebutuhan informasi program studi yang dipelajari. Hal yang sama disampaikan salah seorang informan bahwa sumber referensi yang wajib digunakan hanya jurnal dan buku. Oleh karena itu, sumber informasi yang paling sering dicari dan digunakan dalam pengerjaan tugas adalah artikel yang berasal dari jurnal. Hal ini disampaikan informan di bawah ini. “Hanya boleh jurnal, soalnya kata dosennya sumbernya harus buku atau jurnal. Tidak boleh dari internet, tidak boleh Wikipedia, tidak boleh blog, tidak boleh wordpress. Harus jurnal yang publish”(S. Damayanti, wawancara, May 17, 2019). Sumber informasi lain yang diketahui informan namun belum menjadi pilihan dalam mencari informasi adalah pangkalan data akademik (academic databases). Pangkalan data ini berisi berbagai macam jurnal yang dilanggan perguruan tinggi untuk digunakan dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi bersangkutan. Sebagian besar informan mengakui bahwa, mereka pernah mengetahui ketersediaan database tersebut. Bahkan informan menyebutkan telah mengetahui informasi dari standing banner yang ditempatkan depan ruang dekanat, tempat yang menjadi arus lalu lintas mahasiswa. Namun, informasi keberadaan database tersebut tidak menjadikan mahasiswa menggunakan database kumpulan jurnal ilmiah tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan informan berhenti menggunakan sumber Informasi tersebut. Pertama, informan tidak menemukan informasi yang dibutuhkan. Informan mengakui tidak mudah untuk menemukan artikel melalui pangkalan data akademis (academic database). Bahkan salah seorang informan mengakui ketidakberhasilan penemuan informasi tersebut karena keterbatasan kemampuan dalam menemukan artikel yang dibutuhkan. Selain itu, jurnal yang dilanggan universitas tersebut tidak menyediakan artikel yang sedang dicari. Kedua, keterbatasan informan dalam pemahaman artikel ilmiah berbahasa Inggris. Hal ini menjadi kendala dan bahkan keterbatasan tersebut dijadikan alasan untuk tidak mengakses informasi melalui academic database yang dilanggan universitas, seperti disampaikan informan berikut ini, “Kayaknya karena nggak bisa juga, Pak. Itu pakai bahasa Inggris kebanyakannya” (I. Susanti, wawancara, May 13, 2019). Ketiga, informan mengemukakan tingkat kesulitan dalam mengakses jurnal tersebut. Persepsi sulit ini muncul karena informan sudah terbiasa menggunakan Google dan Google Scholar. Lalu ditambah minimnya pengetahuan informan dalam mengakses jurnal internasional yang dilanggan universitas. Ketidaktahuan cara mengakses merupakan hal bagi sebagian kalangan di fakultas menjadikan tanda tanya mengingat setiap mahasiswa baru selalu diberikan pelatihan tentang ketersediaan sumber informasi dan cara akses. Namun, alasan keterbatasan dalam cara mengakses bisa dialami informan ketika telah terbiasa menggunakan Google, dan menganggap kebutuhan akan artikel ilmiah pun dapat diperoleh melalui Google. Informan setelah terbiasa menggunakan search engine besar ini, informan dihadapkan pada academic database yang memerlukan cara lain dalam mengaksesnya. Hal ini menimbulkan persepsi bagi kalangan sebagian informan bahwa mengakses jurnal online sulit, dan informan belum terbiasa. Bahkan, satu informan menyampaikan pendapatnya jurnal tersebut hanya bisa diakses melalui jaringan internet universitas. Para informan membandingkan dengan universitas lain yang memberikan akses ke jurnal yang dilanggan melalui jaringan di dalam dan di luar kampus. Sebagian informan yang berpandangan tentang cara akses sumber informasi ini bisa jadi kurang akurat, karena jurnal online yang dilanggan sebuah universitas tetap dapat diakses, termasuk dosen dan mahasiswa meskipun berada di luar kampus. Keempat, informan tidak dapat mengakses jurnal yang dilanggan universitas karena informan tidak mengetahui adanya jurnal online tersebut. Beberapa informan mengaku tidak mengetahui bahwa universitas melanggan sekian banyak jurnal online bagi mahasiswa dan dosen. Bahkan ketika diarahkan kepada standing banner berisi informasi tentang keberadaan jurnal ilmiah online yang diletakkan di beberapa tempat di sekitar fakultas pun mereka mengaku tidak pernah melihat. Hal ini menjadi indikasi bahwa sebagian informan tidak menaruh perhatian terhadap informasi yang disampaikan fakultas. Akhirnya, fakultas perlu mempertimbangkan media lain dalam penyampaian informasi keberadaan jurnal tersebut kepada mahasiswa. Sumber informasi lain yang tersedia di lingkungan perguruan tinggi adalah website perpustakaan. Dikatakan sebagai sumber informasi karena website perpustakaan universitas yang menjadi obyek penelitian ini menyediakan tautan ke berbagai penerbit jurnal yang dilanggan, dan adanya katalog koleksi bahan pustaka perpustakaan. Satu informan menyebutkan belum pernah menggunakan website tersebut sebagai media pencarian informasi. Meskipun para informan mengetahui informasi tentang website tersebut melalui standing banner yang dipasang di depan ruang dekanat. Namun demikian, berdasarkan komentar sebagian besar informan terlihat bahwa standing banner tersebut belum terlihat signifikansi terhadap motivasi mahasiswa untuk mengaksesnya. Temuan ini mengindikasikan diperlukannya sosialisasi sumber informasi yang disediakan universitas baik yang bisa diakses secara langsung di perpustakaan atau koleksi digital yang bisa diakses melalui website perpustakaan, dan katalog online perpustakaan. Sosialisasi dapat dilakukan tim perpustakaan pusat atau perpustakaan fakultas. Hal tersebut juga ditemukan Hughes, Hall, and Pozzi (2017) bahwa pendidikan pemakai selalu menjadi kebutuhan bagi mahasiswa dan menjadi program layanan perpustakaan yang dilakukan secara periodik. Lebih dari itu, pengenalan e-journal terhadap mahasiswa ini sangat penting dilakukan karena mahasiswa wajib memiliki pengetahuan tentang informasi ilmiah serta cara penyajian informasi ilmiah (Srirahayu, Irfana, Mannan, & Anugrah, 2019). Selain itu, e-journal merupakan pilihan media yang cukup relevan bagi mahasiswa untuk menguasai dua hal di atas. Aspek lain terkait penggunaan sumber informasi adalah aspek pemilihan artikel. Setiap informan memiliki kecenderungan yang berbeda saat menghadapi tampilan hasil penelusuran. Sebagian informan melihat rating atau jumlah berapa kali sebuah artikel telah dilakukan download. Jumlah download yang tinggi menjadi daya tarik untuk menelusur tautan yang dimunculkan search engine dan menarik sebagian informan untuk membaca abstrak yang disediakan. Abstrak menjadi salah satu indikator utama bagi informan dalam mengambil keputusan apakah akan melakukan download artikel yang ditemukan atau beralih ke artikel yang lain. Sementara itu, bagi informan lain, hanya tautan yang berada di lima urutan teratas yang menarik bagi informan untuk dilihat lebih lanjut. Sebagian informan tidak tertarik untuk mengamati lebih jauh sampai ke tautan paling bawah atau bahkan sampai menelusur ke halaman kedua atau ketiga dari hasil pencarian. Informan berharap sumber informasi dapat digunakan dengan mudah tanpa password. Sebuah artikel yang telah ditemukan diharapkan tersedia dalam bentuk abstrak dan artikel penuh (full-text), artinya artikel yang dicari dan ditemukan dapat dilakukan download secara penuh tanpa ada pembatasan bagian. Selain itu, informan juga menyampaikan harapan ke fakultas untuk diadakan pelatihan mengenai ketersediaan academic database yang dilanggan universitas. Kompleksitas akses yang disebutkan informan sehingga menuntut pustakawan tingkat fakultas atau tingkat universitas untuk bersedia berinteraksi lebih intens dengan informan terkait pengenalan academic databases sekaligus strategi penelusuran informasi. Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa informan atau mahasiswa memahami tingkat pengetahuan tentang sumber informasi di fakultas dan universitas. Selain itu informan pun mampu menyatakan kebutuhan Informasi yang sedang dibutuhkan. Sebagian besar informan menyadari bahwa untuk bisa menemukan informasi ilmiah dalam penyelesaian tugas perkuliahan maka diperlukan informasi ilmiah yang berasal dari sumber yang kompeten. Harapan informan mengenai pelatihan ketersediaan sumber informasi dan teknik penelusuran informasi adalah sinyal dari mahasiswa yang perlu diperhatikan para pengambil kebijakan tingkat fakultas dan universitas, serta pustakawan perguruan tinggi yang perlu menindaklanjuti fenomena ini.

Conclusion

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penelusuran informasi mahasiswa sangat kompleks karena melibatkan beberapa kepentingan. Pertama, ruang lingkup tugas yang harus diselesaikan. Kedua, cakupan dan bentuk referensi yang disyaratkan dosen. Ketiga, tingkat pengetahuan mahasiswa akan ketersediaan sumber informasi, termasuk motivasi diri mahasiswa untuk menggunakan sumber informasi yang tersedia. Ada pun buku dan jurnal yang direkomendasikan dosen menjadi pertimbangan utama mahasiswa saat menentukan bentuk sumber informasi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa para mahasiswa masih menjadikan dosen sebagai sumber informasi utama untuk keperluan akademis. Lebih lanjut, media yang dipilih sebagai initial information search sebagian besar mahasiswa adalah mesin pencari Google dan Google Scholar. Dua mesin pencari ini menjadi populer di kalangan mahasiswa untuk digunakan sebagai langkah awal pencarian. Mahasiswa memahami keberadaan sumber informasi lain seperti repository melalui hasil penelusuran di Google dan Google Scholar. Mahasiswa menemukan repository ketika memilih beberapa tautan yang ditampilkan mesin pencari sebagai hasil penelusuran melalui kata kunci yang dimasukkan mahasiswa. Penelitian ini berfokus kepada preferensi mahasiswa strata 1 dalam menggunakan sumber informasi yang tersedia di sekitar mereka. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan pustakawan tingkat fakultas dan universitas untuk mengembangkan program pendidikan pemakai dan layanan informasi perpustakaan. Hasil penelitian juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pihak pengelola fakultas khususnya pengelola bidang akademik dan riset dalam menyusun perencanaan program untuk mendukung kegiatan akademis termasuk penelitian yang dilakukan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sumber informasi dan pola penelusuran informasi yang dilakukan mahasiswa strata 1 sebuah fakultas di universitas di Semarang. Sesuai hasil yang diperoleh penelitian ini tidak bermaksud untuk menggeneralisasi pola atau perilaku informasi mahasiswa secara keseluruhan karena keterbatasan fokus penelitian dan tingkatan mahasiswa yang menjadi obyek studi. Penelitian lebih lanjut dapat menitik beratkan kepada pengguna informasi mahasiswa strata 2 atau strata 3. Cakupan penelitian lebih lanjut juga dapat diarahkan menuju derajat kepuasan mahasiswa terhadap informasi yang mereka temukan atau mengali lebih lanjut pengalaman informasi mahasiswa dan sivitas akademika yang lain di perguruan tinggi.