Kembali
16
1
2021 Al-ma'mun: Jurnal Kajian Kepustakawanan dan Informasi Vol 2 · 2 ISSN 2746-0509

Pustakawan Menggapai Prestasi dalam Era Kebiasaan Baru (New Normal)

Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Abstrak

Dari hasil penelitian penulis terhadap salah satu koleksi perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), ditemukan data bahwa koleksi Atma Jogja I Pustaka cukup membantu dalam aktivitas penyelesaian tugas-tugas mahasiswa maupun tugas akhir para mahasiswa UAJY, sehingga dengan koleksi berbasis digital ini, pustakawan dituntut se;a;u dalam kemampuannya melakukan kompetensi, khususnya dalam bidang diseminasi informasi pada saat diperlukan ataupun pada saat era kebiasaan baru Maka sebagai pustakawan yang sangat terlibat dalam proses pendidikan kedudukannya akan menjadi sosok yang turur menghidupkan iklim akademik komunitasnya.. Dari hasil penelitian Agung & Esmi tentang evaluasi keterpakaian koleksi Atma Jogja I Pustaka dalam akses e-book dan e-journal maupun e-paper ternyata membantu dalam penyelesaian tugas mereka misalnya dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah maupun penyelesaian tugas akhir dan responden menjawab bahwa koleksi elektronik yang dilanggan cukup membantu dalam mengerjakan tugas mereka untuk tugas tugas penelitian ataupun menambah pengetahuan praktis. Elaborasi atas penelitian ini menunjukkan bahwa 30 % dari responden 104 mahassiwa mengatakan sangat terbantu dengan fasilitas e-book, e-journal dan e –paper dan hanya 4 respondeng mengatakan tidak membantu. Mereka menggunakan fasilitas digital lebih banyak untuk mencari referensi untuk tugas mata kuliah sebesar 68% dan 55% dalam mencari referensi untuk penelitian atau tugas akhir.

Abstract

From the results of the author's research on one of the library collections of Atma Jaya University Yogyakarta (UAJY), it was found that the Atma Jogja I Pustaka collection was quite helpful in completing student assignments and final assignments for UAJY students, so that with this digital-based collection, librarians are required to se;a;u in his ability to carry out competence, especially in the field of information dissemination when needed or during the era of new habits. So as a librarian who is very involved in the educational process, his position will be a figure who also revives the academic climate of his community. From the research results of Agung & Esmi regarding the evaluation of the usability of the Atma Jogja I Pustaka collection in accessing e-books and e-journals as well as e-papers turned out to be helpful in completing their assignments, for example in working on college assignments and completing final assignments and respondents answered that the subscribed electronic collection was quite helpful in do their work for research assignments or add practical knowledge. The elaboration of this research shows that 30% of the 104 student respondents said they were greatly helped by the e-book, e-journal and e-paper facilities and only 4 respondents said it was not helpful. They use digital facilities more to find references for course assignments by 68% and 55% in finding references for research or final assignments.
Keywords: era of new habits · competence · digital library

Introduction

Peningkatan jumlah perpustakaan di Indonesia menurut data Perpustakaan Nasional sebanyak 164 .610 perpustakaan. Perkembangan jumlah perpustakaan ini tentu harus disertai dengan peningkatan berbagai fasilitas untuk mendukung perubahan teknologi informasi yang tengah terjadi. Dalam masa awal pandemi layanan layanan tatap muka perpustakaan ditiadakan sehingga perpustakaan harus mencari terobosan-terobosan baru agar layanan-layanan secara online dapat didayagunakan semaksimal mungkin agar proses pembelajaran baik tingkat dasar sampai menengah bahkan perguruan tinggi dapat dilakukan dengan baik. Menurut Ummi Rodliyah perkembangan teknologi informasi membawa perubahan dalam system layanan perpustakaan. Untuk akses digital di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi sangat diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran karena perpustakaan system layanan sangat berperan dalam kecepatan akses dan berperan dalam resource sharing (Ummi Rodhilyah ,2012) Dengan teknologi informasi berbasis digital, maka layanan – layanan ataupun koleksi perpustakaan mengikuti sistem dalam format digital dengan berbagai keuntungan maupun kekurangan dalam sistem layanan digital ini. Format digital mempunyai keuntungan lebih banyak dinikmati pemustaka dengan jangkauan yang lebih luas. Koleksi digital yang saat lalu masih merupakan layanan alternatif untuk dimiliki adalah koleksi e-journal, e-book yang merupakan koleksi yang berbasis pdf namun ketika semua layanan tatap muk saat pandemi layanan-layanan ini dapat memberikan kontribusi bagi pemustaka bahkan akan menambah kekuatan koleksi sebuah perpustakaan. Peran baru pustakawan mulai nampak ketika tugas pustakawan tidak dengan pekerjaan yang klasik sekedar melayani pinjam dan kembalinya koleksi pustaka namun peran pustakawan saat teknologi informasi kian berkembang akan menuntut pustakawan lebih banyak berperan dalam pengolahan informasi untuk dapat mendayagunakan sumber-sumber informasi terpilih yang akan memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari globalisasi dunia ini. Alvin Toffler (1980) mengatakan perkembangan peradaban hingga mengalami perkembangan teknologi informasi menunjukkan bahwa peradaban ini akan membawa perubahan cara kerja, cara bergaul, cara bercinta yang dibawa oleh perubahan peradaban ini. Perubahan peradaban ini menjadi tiga bagian yaitu pertama, saat bercocok tanam yang digambarkan oleh Alvin Toffler sebagai perubahan sosial yang luas biasa dari masa sebelumnya saat masyarakat masih belum menetap(nomaden) dengan pola mata pencaharian meramu. Kedua , gelombang peradaban yang dikenal dengan revolusi industri sebagai kelanjutan dari penemuan mesin cetak J. Guttenberg pada abad 15 sehingga berimplikasi pada penyebaran hasil pemikiran seseorang yang dapat disebarluaskan. Segala macam pemikiran itu akhirnya memicu revolusi industri sebagai peradaban gelombang kedua khususnya dalam “kebiasaan membaca” untuk menuliskan buah pikiran. Ketiga , masyarakat menyebut sebagai gelombang ketiga, ada juga yang menyebut sebagai “abad informasi”, abad ruang angkasa atau abad elektronik. Analisa Alvin Toffler tidaklah keliru karena dunia seolah menjadi kecil. Apa yang terjadi di belahan dunia lain dapat diketahui penduduk belahan lain. Media massa pun ada bermacam-macam, mulai dari bentuk cetak,online, audio hingga audio visual. Lebih lengkap lagi media massa juga diperkuat dengan media sosial (facebook, Instagram, twitter, whatsapp) sebagai sarana penyebaran informasi (Aji.48-49, 2016) Teknologi informasi menyebabkan kemudahan dalam diseminasi informasi yang akan menjadi tools para pengelola informasi khususnya pustakawan sehingga dalam penyediaan informasi mengalami perubahan format dalam koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Format koleksi yang semula merupakan koleksi tercetak lambat laun akan berubah ke bentuk koleksi online. Masyarakat pada masa kemudahan informasi seperti saat ini banyak menemukan menemukan kemudahan apalagi dengan mengenal internet masyarakat pun semakin mudah terhubung untuk saling berinteraksi. Mereka berkomunikasi, berperilaku, bekerja, dan berpikir sebagai masyarakat digital (digital native). Di dunia maya, semua tugas dapat dilakukan secara praktis dan seketika. Dalam dunia maya dengan media internet akan berimplikasi pada aktivitas yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu ( Supratman 47, 2018) Peningkatan kompetensi pustakawan merupakan usaha-usaha yang realistik dari pustakawan untuk berperan semakin banyak dalam mendukung kegiatan belajar-mengajar sivitas akademika termasuk juga mendukung dalam kajian-kajian keilmuan melalui penelitianpenelitian yang dilakukan oleh sivitas akademika. Peran pustakawan sebagai pengelola informasi akan semakin nampak ketika turut serta membantu penelusuran informasi para peneliti ataupun pemustaka dengan memberiakn saran, informasi dan pendidikan literasi informasi dalam pencarian informasi yang begitu massif . Dalam koleksi digital pustakawan dapat memberikan saran untuk memaksimalkan manfaat publikasi ilmiah dalam format digital agar pengembangan penelitian dikalangan perguruan tinggi mempunyai bobot yang lebih baik. Adanya spesialisasi subjek akan bermanfaat ketika pustakawan membantu pemustaka dalam pencarian informasi secara digital sehingga perlu peran pustakawan untuk membantu memberikan seleksi dalam setiap informasi untuk mendukung subjek kajian yang tersimpan di perpustakaan . Fungsi pustakawan sebagai mitra peneliti dengan memberikan saran khususnya dalam penyediaan bibliografi akan menjadi penelitian yang semakin kredibel dan publikasinya yang semakin luas sehingga peran pustakawan sebagai pengelola informasi dapat menyediakan dan mengelola sumber informasi dan terlibat langsung dalam pencarian informasi (Nashihuddin, 239,2020) Kepustakawanan dalam era perkembangan teknologi informasi memunculkan keberagaman dalam melayani pemustaka maka profesi pustakawan pun harus berupaya agar setiap aktivitasnya dapat dinikmati oleh pemustaka agar kegiatan intelektual akan semakin merasakan aktivitas pustakawan agar berkembang khususnya dalam membantu kegiatan tri dharma perguruan tinggi dalam sebuah perguruan tinggi khususnya dalam bidang akademik dan penelitian. Ilmu pengetahuan semakin berkembang dan penguasaan dalam seleksi informasi memerlukan kecerdasan pustakawan untuk dapat semakin berperan dalam penguasaan literasi informasi sehingga pemustaka dapat memperoleh informasi yang diperlukan . Tak dapat dipungkiri bahwa kinerja pustakawan saat ini sudah banyak ditopang oleh kemudahan teknologi informasi sehingga agar peran pustakawan tetap mendapatkan apresiasi dari pemustaka maka kemampuan diseminasi informasi merupakan keterampilan pustakawan diharapkan akan semakin menguasai berbagai kemajuan teknologi informasi yang tersedia Koleksi online yang dimiliki sebuah perpustakan merupakan ujian bagi pustakawan untuk dapat melakukan diseminasi koleksi digital khususnya Ketika pandemi Covid 19, koleksi ini menjadi andalan satu satunya yang dapat disajikan oleh perpustakaan . Suatu saat nanti koleksi online lambat laun akan menjadi koleksi yang akan menjadi prioritas bagi pengembangan koleksi perpustakan perguruan tinggi khususnya karena perkembangan e-text yang lebih menarik para staf pengajar untuk menggunakan meski koleksi cetak tidak akan hilang sama sekali. Harapannya dengan koleksi digital akan mempermudah dalam akses informasi dan dari sisi pengguna akan memudahkan dalam pemencaran informasi Maka perpustakaan sebagai pusat informasi untuk terus mengupayakan agar koleksi noncetak ini akan semakin dapat intensif digunakan oleh pemustaka meskipun tidak semudah membalik tangan karena kultur membaca melalui buku cetak sudah bertahun tahun menjadi bagian gaya hidup masyarakat. Bagi pemustaka layanan digital akan semakin dapat mempermudah akses dan kecepatan dalam kondisi melimpahruahnya informasi. Peran diseminasi informasi yang terpilih, akurat dan dapat dipercaya ini akan menjadi tantangan perpustakaan untuk menjawabnya. Kalau tantangantantangan ini dapat dijawab perpustakaan akan semakin meyakinkan pemustaka bahwa perpustakaan menjadi bagian dari sistem pembelajaran yang penting. Perpustakaan yang dapat memenuhi harapan pemustaka memang idaman namun untuk itu diperlukan pustakawanpustakawan yang dapat membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh sivitas akademika dalam membantu persoalan informasi yang dihadapi oleh pemustaka. Persoalan informasi yang sering dihadapi pemustaka salah satunya adalah masalah pencarian informasi, maka pustakawan dalam mengatasi ini dapat bertindak sebagai fasilatator atau pendamping bagi pemustaka. Peran pustakawan dan perpustakaan dengan pemustaka yang saat ini mempunyai style yang berbeda dengan pemustaka pada era 90’an atau sering masyarakat menyebut mereka sebagai golongan milenial maka penguasaan pustakawan pun harus ditopang dengan kemampuan memadai agar dapat membantu setiap kebutuhan informasi yang sudah melakukan beberapa perubahan layanan dalam format digital seperti e-book,e-journal . Bahkan beberapa perpustakaan di perguruant tinggi, mahasiswa tidak perlu lagi mengumpulkan karya ilmiah dalam format cetak namunsudah melalui sistem unggah mandiri sebagai salah satu koleksi repository karya ilmiah yang semakin memberi kemudahan dan efisiensi waktu pada pemustaka milenial (Aries Hamidah, 2019 : 16). Menyikapi perubahan secara revolusioner ini tentulah tantangan pustakawan akan semakin berat untuk meningkatkan kemampuan dirinya sehingga dapat mengimbanginya agar daya pikat atas kinerja pustakawan semakin kuat dalam image pemustaka. Kekuatan brand image sangat perlu dilakukan agar sebuah perpustakaan menjadi branding sebagai sumber informasi melalui media sosial yang sudah banyak dikenal oleh pemustaka seperti web, facebook, twitter, linkedin, instagram, youtube, signage (Anastasia, 2019 : 9). Dalam tulisan ini , penulis dengan berlandaskan hasil penelitian tentang “Ev aluasi keterpakaian koleksi Atma Jogja I-Pustaka korelasi antara persepsi dan kinerja studi mahasiswa UAJY tahun 2019 -2020” melihat bahwa kompetensi pustakawan dalam bidang diseminasi informasi melalui koleksi elektronik seperti electronic book, electronic journal maupun electronic paper perlu lebih dioptimalkan mengingat koleksi digital seperti repository perpustakaan menjadi koleksi yang diminati oleh pemustaka khususnya koleksi skripsi maupun tesis maupun koleksi e-resources lainnya juga merupakan koleksi yang menjadi bagian dari koleksi perpustakaan. Rizal Saiful Haq seperti dikutip oleh Azwar Muin mengatakan kebutuhan pustakawan berbenah untuk terus menerus belajar sangat dinantikan agar mampu bertahan hidup bersaing dan selalu tampil terdepan (Muin,2014 ,17-18).Pada masa pandemi ini layanan-layanan yang disajikan mengalami perubahan format dalam layanan online sehingga semakin mengukuhkan arti penting kompetensi bagi pustakawan. B. RUMUSAN MASALAH Dalam penulisan ini, penulis merumuskan beberapa permasalahan yaitu 1. Kompetensi apakah yang diperlukan pustakawan dalam era kebiasaan baru ? 2. Bagaimana peran layanan digital seperti Atma Jogja I Pustaka kepada pemustaka UAJY ? C. KAJIAN PUSTAKA Untuk mendukung analisis penelitian ini , maka penulis akan menggunakan beberapa teori yaitu : 1. Kompetensi Menurut Aspey dalam H. Sungkowo Rahardjo, dikatakan bahwa kompetensi tidak saja dalam penguasaan keterampilan namun juga termasuk penguasaan terhadap tugas dan motivasi dalam menjalankan tugas tersebut, keterampilan serta pengetahuan dan secara konsisten menjalankan tanggungjawab tersebut dengan memenuhi standar yang ditetapkan. Kompetensi seseorang diukur dengan membandingkan kinerja yang bersangkutan dengan tingkat pemenuhan standar tertentu yang ditetapkan. Konsep kompetensi meliputi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan individu yang akan banyak mempengaruhi dalam pelaksanaan tugas dan keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya sebagai pustakawan Dengan kata lain , kompetensi seorang diperoleh dan berkembang melalui proses pembelajaran , baik yang formal (lembaga pelatihan)maupun informal (keluarga, masyarakat, termasuk lembaga keprofesian) (H. Sungkowo Rahardjo, 2010 , 17-18) 2. Pustakawan Definisi pustakawan menurut undang-undang RI No 43 tahun 2007, dikatakan bahwa pustakawan adalah seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan Menurut Keputusan Menpan No 132/KEP/M. PAN/12/2002 dalam pasal 3 menyatakan bahwa “pustakawan adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana penyelenggara tugas utama kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi pada instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya. Pustakawan dalam pengertian ini terdiri dari pustakawan tingkat terampil dan pustakawan tingkat ahli. Pustakawan tingkat terampil adalah pustakawan yang memiliki dasar pendidikan untuk pengangkatan pertama serendahrendahnya Diploma II Perpustakaan Dokumentasi dan Informasi atau Diploma bidang lain yang disetarakan. Pustakawan tingkat ahli adalah Pustakawan yang memiliki dasar pendidikan untuk pengangkatan pertama kali serendah-rendahnya Sarjana Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi atau sarjana bidang lain yang disetarakan. 3. Era New Normal Menurut Sigit Pamungkas normal baru (new normal) adalah perubahan dari cara hidup lama dengan pola – pola lama menjadi pola dengan tatanan cara hidup baru atau kebiasaan baru dalam menjalankan aktivitas hidup ditengah pandemi covid 19 yang belum selesai (Sigit Pamungkas dalam Andrian Habibi, 2020)

Method

Tipe penelitian dalam penelitian ini dengan pendekatan eksplorasi sehingga dalam tulisan ini diharapkan akan terlihat gejala yang mendalam agar mendapatkan ide-ide baru mengenai gejala tertentu atau mendapatkan ide-ide baru mengenai gejala itu dengan maksud untuk merumuskan masalahnya secara lebih terperinci atau untuk mengembangkan hipotesis (Tan dalam Ulber Silalahi, 2012 : 26) Dalam penelitian ini lebih banyak menggunakan sumber-sumber primer seperti jurnal, bunga rampai baik online maupun tercetak sehingga karena keterbatasan waktu perlu dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif agar penulisan tentang kompetensi pustakawan lebih dapat dilakukan secara empiris. Tulisan ini didasarkan pada penelitian penulis bersama rekan sejawat pustakawan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Esmi Triningsih tentang “Evaluasi keterpakaian koleksi Atma Jogja I-Pustaka korelasi antara persepsi dan kinerja studi mahasiswa UAJY tahun 2019 -2020” yang telah dipublikasikan oleh jurnal Pijar Jurnal Perpustakaan, Informasi dan Jaringan Volume 1 Mei 2021. Dalam penelitian ini input yang diperoleh diharapkan akan memberi masukan pihak manajemen Perpustakaan UAJY sehingga dapat mengetahui sampai seberapa besar manfaaat layanan ini serta bagaimana persepsi pemustaka terhadap layanan ini sehingga akan memberi masukan pihak manajemen dalam mempertimbangkan dalam penambahan jumlah koleksi e-booknya. Saat ini UAJY memiliki 6 fakultas dengan 12 program studi strata 1 dan 7 program studi pascasarjana, tentu tidak mudah untuk menentukan prioritas dalam pengadaan koleksinya. Sehingga dengan penelitian ini akan diketahui tema-tema apa saja yang menjadi minat para mahasiswa. Dari table 1 dan 2 dibawah ini menunjukkan bahwa peran pustakawan untuk meningkatkan kemampuan diri dalam akses e-book dan e-journal maupun e-paper sangat diperlukan . Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah apakah koleksi Atma Jogja I Pustaka (koleksi e-book, e magazine, e paper) sudah membantu dalam penyelesaian tugas mereka misalnya dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah maupun penyelesaian tugas akhir dan responden menjawab bahwa koleksi elektronik yang dilanggan cukup membantu dalam mengerjakan tugas mereka dengan tabel dibawah ini : Tabel 1 .Koleksi Atma Jogja I Pustaka dalam membantu penyelesaian tugas kuliah Sangat membantu 30 responden (28,8%) Membantu 54 responden (51,9%) Kurang membantu 17 responden (16,3%) Tidak membantu 4 responden (3%) (Sumber Hasil penelitian Internal Kelompok Evaluasi Keterpakaian Koleksi Atma Jogja I Pustaka Korelasi Antara Persepsi dan Kinerja Studi Mahasiswa UAJY tahun 2019-2021) Selanjutnya dalam tabel dibawah ini , secara terperinci dapat diketahui tujuan responden dalam melakukan akses Atma Jaya I Pustaka sebagai berikut : Tabel 2 Peran Atma Jogja I Pustaka dalam aktivitas ilmiah Tugas penelitian/ skripsi 55 responden (52,9%) Mencari referensi untuk tugas mata kuliah 68 responden (65,4%) Sekedar menambah pengetahuan praktis 24 responden (23,1%) Lainnya 6 responden (5,8%) (Sumber Hasil penelitian Internal Kelompok Evaluasi Keterpakaian Koleksi Atma Jogja I Pustaka Korelasi Antara Persepsi dan Kinerja Studi Mahasiswa UAJY tahun 2019-2021) Dari tabel 1 dan 2 , penulis ingin menunjukan bahwa penggunaan koleksi elektronik sudah menjadi kebutuhan para pemustaka sehingga peran pustakawan saat ini yang diperlukan oleh pemustaka adalah mempunyai kemampuan yang memadai dalam melayani mereka sesuai dengan layanan-layanan digital yang sudah disediakan oleh perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta sehingga dapat dirasakan manfaatnya. Perpustakaan akan menjadi rujukan pemustaka dan akan bermanfaat jika mereka akan memperoleh apa yang diperlukan dengan koleksi-koleksi yang relevan dengan kebutuhannya. Strategi yang harus dilakukan adalah untuk selalu bertumpu pada kebutuhan pemustaka yang saat ini merupakan generasi milenial yang membutuhkan layanan dengan akses yang selalu terkoneksi dengan internet sehingga kompetensi pustakawan memang perlu ditingkatkan .Maka perpustakaan seharusnya akan menyelaraskan antara kebutuhan pemustaka dengan visi misi organisasi yang menaunginya sehingga kebutuhan pemustaka dapat dilayani dengan baik dan saat ini pemustaka yang banyak dilayani adalah pemustaka dengan gaya hidup yang lain dengan pemustaka pada masa 90 an .Pemustaka pada era digital tak lepas dari pemustaka dalam kategori remaja . Karakteristik mereka tak lepas dari media sosial seperti handphone seiring dengan keajuan internet, maka dikalangan remaja digital ini membutuhkan media yang interaktif sehingga dalam akses informasi mereka merupakan pemustaka yang potensial dalam menggunakan informasi dalam format digital sehingga memerlukan literasi digital yang berkelanjutan . Menurut Priyanto dalam Anisa (2012), generasi ini adalah termasuk dalam generasi nett yang memiliki karakteristik sebagai berikut : 1. Adanya keinginan untuk selalu terhubung dengan orang lain maupun perangkat digital sehingga mereka tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan mesin pencari yang merupakan kebutuhan mereka yang harus dipenuhi. 2. Mereka terbiasa melakukan dua kegiatan atau lebih secara Bersama-sama (multi tasking) 3. Independent dan interdependent, mereka memiliki kebebasan dan kekuasaan untuk membaca , melihat, memilih, menulis, mengirim dan melakukan sesuatu 4. Mereka memilih bacaan ringkas tidak menyukai bacaan yang berpanjang-panjang sehingga apa yang mereka baca bisa satu topik ke topik lainnya . Melihat fenomena sekeliling kita sangat berpengaruh dalam kinerja profesi apapun juga termasuk diri pustakawan sehingga timbul istilah perpustakaan dalam genggaman atau di sering menyebut library in hand seperti dikatakan oleh Wiji Suwarno (2016) yang saat ini merupakan keniscayaan dalam kehidupan kita sehari hari. Perkembangan teknologi informasi berimplikasi pada kemudahan akses dan diseminasi. Ketika sedang di depan komputer yang sudah terpasang dengan jaringan internet, maka dengan “klik” saja dapat memperoleh berbagai informasi yang diperlukan. Perkembangan ini akan menggiring pustakawan untuk selalu berorientasi kepada kebutuhan layanan cepat dan akurat dalam setiap kewajibannya melayani pemustaka dengan layanan primanya. Tak ubahnya dengan bidang pekerjaan lain, maka pustakawan menghadapi era teknologi informasi akan selalu belajar seiring dengan perubahan pemustaka yang dilayaninya, karena saat ini merupakan era pemustaka milineal maka perpustakaan harus cepat beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi, bukannya mengisolir dalam dirinya. Dunia perpustakaan selalu berkaitan dengan teknologi informasi, diawali dari perpustakaan manual, perpustakaan terotomasi, perpustakaan digital sehingga kekuatan peran perpustakaan sangat dipengaruhi pada seberapa besar kekuatan teknologi informasi sebagai unit pelestari dan penyebaran informasi lmu pengetahuan dan kebudayaan.(Supriyanto,2008, 32-33)Keinginan diri untuk bekerja keras untuk meningkatkan efisiensi dalam menjalankan fungsi sebagai pengelola informasi merupakan salah satu strategi untuk mengupayakan pustakawan yang selalu update diri terhadap situasi sekelilingnya(Wiji Suwarno, 2016 :100,1-3)

Discussion

Dalam menghadapi perubahan teknologi informasi saat ini kesiapsiagaan pustakawan untuk melayani pemustaka dapat menyesuaikan dengan situasi lingkungan yang serba digital . Maka diperlukan langkah –langkah konkrit . Perkembangan dari otomasi menjadi layanan online yang diawali dengan perkembangan sistem digital perpustakaan dapat menyediakan berbagai macam bentuk informasi dalam bentuk digital sehingga pemustaka dapat mengakses melalui website perpustakaan yang dbangun oleh pengelola perpustakaan. Munculnya teknologi informasi di perpustakan tidak serta merta akan menggusur peran perpustakaan tradisional namun tetap harus beradaptasi dengan teknologi informasi. Pustakawan yang mengerjakan hal-hal yang bersifat manajerial , koding, inventarisasi, klasifikasi merupakan kegiatan yang belum tergantikan dengan teknologi (Mafar, 2011 , 131) Era informasi mengubah aktivitas individu setiap hari dan membuat tugas yang membosankan berjalan lebih menyenangkan dan efisien. Era informasi adalah suatu periode di mana pola kerja, permainan, dan interaksi secara fundamental dipengaruhi sistem untuk memproses dan mendistribusikan (Tine Silvana dkk. 100, 2021).Mengutip Canadian Association of Research Libraries (CARL) ada tujuh kompetensi yang harus dimiliki bagi pustakawan yang bekerja di perpustakaan lingkungan penelitian yaitu pertama, proses dokumentasi digital khususnya dalam pemilihan, pengumpulan, pelestarian, deskripsi, pengorganisasian dan prinsip pengarsipan untuk dokumentasi digital dan data penelitian dalam berbagai format., pelestarian digital. Kedua, kemampuan interpersonal yang harus dimiliki pustakawan kemampuan beradaptasi, fleksibilitas, dan keinginan untuk pengalaman dan pengetahuan baru, kemampuan berkomunikasi dan memberikan advokasi untuk menyampaikan hal penting tentang perpustakaan kepada lembaga induknya, kepada audiens target/konstituen, dan memajukan pengguna untuk mandiri,bebasbereskpresi, menjunjung tinggi hak untuk mengakses informasi dan pengetahuan, melestarikan koleksi untuk generasi mendatang,. Ketiga pustakawan harus memiliki komitmen untuk mengembangkan kepemimpinan danmanajemen: kemampuan mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk berusaha mencapai yang terbaik,serta mampu beradaptasi dengan berbagai gaya kerja/belajar.Keempat pengetahuan dasar tentang pengembangan koleksi yaitu: kemampuan memahami sikluspenerbitan ilmiah, yaitu memahami siklus hidup penrbitan ilmiah, mulai dari pembuatan hingga tahapan-tahapan yang harus dilalui. Kelima, literasi informasi merupakan hal yang penting dan memiliki komitmen untuk mengembangkan literasi informasi dalam lingkungan akademik termasuk didalamnya data numerik dan literasi data. Keenam , harus memiliki pengetahuan dan berkomitmen pada riset dan publikasi yaitu pustakawan berkontribusi pada penulisan, penyuntingan, pembuatan review baik untuk buku, artikel maupun laporan . Ketujuh, pustakawan harus memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam hal menggunakan teknologi informasi yaitu a. menguasai tentang sistem informasi terintegrasi , b, menguasai teknologi web yang sedang berkembang termasuk media social seperti, twitter, facebook dan menguasai manajemen sumber daya elektronik meliputi digital diperoleh , dikelola dan diakses (Noerida dkk, 2021, 3-4) Kompetensi diatas ini menurut penulis juga dapat menjadi kompetensi pada pustakawanpustakawan di berbagai jenis perpustakaan , karena kompetensi pada hakekatnya juga universal untuk dapat dilakukan oleh pustakawan siapapun juga. Dalam perkembangan teknologi informasi ini tentu saja alat pencari digital akan dapat melakukan penelusuran informasi jurnal, katalog digital dan pangkalan data yang lain. Dalam perguruan tinggi yang menerapkan kegiatan belajar mandiri dan terpusat pada pelajar seperti pembelajaran daring, beragam ketersediaan informasi merupakan kunci sukses dalam memenuhi pencarian informasi mahasiswa secara mandiri (Wibowo dkk ,33 ,2018). Menurut Maniso Mustar, kompetensi pustakawan saat ini karena bersentuhan dengan media sosial yang sudah begitu jamak dilakukan oleh pemustaka, maka pustakawan harus memegang media sosial ini sebagai sarana dalam difusi informasi yang telah dijalankan oleh perpustakaan. Bahkan pustakawan seharusnya tidak segan-segan untuk menyegarkan kembali pengetahuan kepustakawanan melalui pelatihan, seminar dan workshop yang relevan. Maka apabila pustakawan dapat menawarkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka saat ini , ia akan memiliki identitas professional dan masyarakat akan memandang positif profesi pustakawan. Identitas professional akan semakin meningkatkan kemampuan dan perannya ditengah masyarakat dan kontribusinya akan semakin dirasakan tidak saja masyarakat dimana ia melayani namun juga masyarakat akademik yang lebih luas. Jadilah pustakawan yang aktif, inisiatif, inovatif dan kreatif karena kemampuan kita akan menjadi tolok ukur bagaimana kompetensi pustakawan akan dinilai oleh pemustaka (Maniso Mastar, 2019, 265-266) Kemajuan teknologi informasi boleh berkembang namun idealisme pustakawan untuk memberikan layanan prima harus tetap dikedepankan meskipun pustakawan mungkin harus terus memperkaya diri dengan kompetensi untuk mendukung layanan –layanan khususnya digital ataupun mungkin masih dalam taraf layanan hybrid yang bukan mustahil akan mengarah ke perpustakaan digital. Perkembangan teknologi jangan menjadi ciut nyali pustakawan namun justru akan membawa perubahan paradigma dalam memberikan layanan primanya. Peran serta para pemangku kebijakan yang sangat erat berkait dengan masalah ini sangat diharapkan agar kompetensi pustakawan semakin berkembang dengan memberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan diri sesuai talenta masing-masing . Fungsi Negara dengan Undang-undang RI No 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan beserta perundangan-perundangan lainnya baik yang menyangkut kelembagaan perpustakaan maupun tentang pustakawan itu sendiri harus belum menjamin dalam pengembangan kompetensi pustakawan karena apresiasi masyarakat umum terhadap perpustakaan dan kepustakawanan masih belum banyak berubah . Peran organisasi profesi pustakawan dan perpustakaan dapat terus memberikan perannya untuk pengembangan kompetensi ini(Aan Permana, 2010, 1). Maka sebagai pustakawan yang menunjang dalam proses pendidikan , maka pustakawan selalu larur dalam permasalahan pendidikan , menjadi roh yang turur menghidupkan iklim kademik komunitasnya.(Sri Wibowo, 2015: 41). Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ida Fajar akan pentingnya kompetensi yang akan berimplikasi pada personal image sebagai pustakawan perlu untuk terus dibangun dan akan membentuk reputasi bagi pustakawan yang akan berguna bagi pengembangan diri khususnya dalam membangun kompetensi pustakawan. Menurut Ida Fajar ada tiga hal dalam kaitannya dengan reputasi : 1. Membangun reputasi : reputasi akan terbentuk jika kita membangun visibilitas sehingga pustakawan harus menunjukkan kompetensi dan keberhasilannya . 2. Menjaga reputasi : Jika reputasi berhasil kita raih maka pertahankan sehingga kompetensi yang kita bangun akan mampu menjaga image dan nama baik profesi pustakawan 3. Mengembalikan reputasi : namun jika kita jatuh atau dijatuhkan karena reputasi kita, kita harus tetap bersemangat untuk bangkit dan memulihkan posisi kita (Ida Fajar Priyanto, 2014, 4) Pengembangan sumber daya manusia selanjutnya adalah melalui peningkatan motorik dengan meningkatkan keterampilan yang dapat menunjang kinerja perpustakan . Dunia perpustakaan saat ini mengalami persaingan sangat ketat dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh mesin pencari informasi .Untuk itu dibutuhkan kinerja yang semakin gigih oleh pustakawan. Kerja keras dari pustakawan akan memberikan penilaian yang positif yakni memberikan identitas atau mewujudkan komitmen kolektif meningkatkan produktif kerja, membentuk perilaku kerja serta membantu anggota-anggota organisasi sense of belonging terhadap organisasi yang menjadi tanggungjawabnya. (Testiani Makmur, 2015 , 3 -4) Kompetensi pustakawan diharapkan juga akan memunculkan ide ide baru dalam melayani pemustaka dalam mengimbangi informasi yang datang silih. Ide-ide yang dapat membantu menghadapi hambatan komunikasi yang kadang-kadang dialami pemustaka karena faktor literasi informasi yang dapat dipahami secara benar. Aktivitas literasi informasi bagi pemustaka akan membantu dalam mencari dan menemukan kembali, bagaimana menggunakan dan menyebarkan sesuai dengan ketentuan hukum dan etika. Sudah saatnya pemikiran kreatif pustakawan dikembangkan selain dengan selalu meningkatkan kompetensi pustakawan sendiri. Maka kontribusi pustakawan dalam mengedepankan layanan unggul akan selalu menjadi kekuatan sebuah perpustakaan agar tidak menjadi tempat yang asing bagi pemustaka namun menjadi tempat yang nyaman sebagai pusat informasi yang diperlukan bagi pemustaka dalam melakukan tugas-tugas keilmuannya. Kompetensi merupakan kata kunci utama dalam melayani pemustaka dalam era perpustakaan inklusif sehingga pemustaka merasakan manfaat layanan yang cepat, tepat dan dapat semua pemustaka merasakan layanan tanpa adanya pembedaan-pembedaan. Dengan layanan yang prima, inklusif dan unggul maka perpustakaan akan menjamin bahwa ketersediaan layanan-layanan yang disediakan akan mempunyai peran dalam mencerdaskan masyarakat. Menghadapi era kebiasaan baru atau new normal yang saat ini tengah menjadi pandemi dihampir seluruh dunia tentu kompetensi pustakawan semakin memerlukan strategi strategi yang relevan dengan layanan-layanan baru sehingga visi dan misi perpustakaan sebagai penyedia informasi tetap dapat dilakukan meski dalam keterbatasan yang ada. Bagaimana dengan kompetensi pustakawan pada era new normal ? pertanyaan ini sebenarnya sudah dijawab bagi perpustakaan yang sudah menyiapkan layanan dalam format digital hanya mungkin dari sisi kompetensi sebelum pandemi belum mendapatkan perhatian yang penuh dari pustakawan. Satu keuntungan bagi masyarakat saat ini adalah sudah memasuki perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat dengan ditandai industri 4.0 dengan transformasi digital yang luar biasa. Dengan sarana layanan berbasis digital pustakawan hendaknya mempunyai kemampuan dalam mengakses, menyeleksi, memahami seleksi, menganalisis, memferifikasi, mengevaluasi, mendistribusikan, memproduksi, berpartisipasi, berkolaborasi (Setio Budi, 2021). Kompetensi ini membantu dalam setiap aktivitas dalam diseminasi informasi ditengah-tengah kelimpahruahan informasi agar distribusi informasi dapat dikelola dengan baik. Perpustakakan Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang menyediakan layanan Atma Jogja I Pustaka yang berisi konten e-book, e-magazine dan e-paper berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ternayta cukup membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas mahasiswa maupun saat melakukan tugas akhirnya sehingga akan sangat layak apabila konten dari koleksi ini terus diperbaharui agar informasi yang disajikan akan selalu baru.

Conclusion

Dari hasil penelitian Agung & Esmi tentang evaluasi keterpakaian koleksi Atma Jogja I Pustaka dalam akses e-book dan e-journal maupun e-paper ternyata membantu dalam penyelesaian tugas mereka misalnya dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah maupun penyelesaian tugas akhir dan responden menjawab bahwa koleksi elektronik yang dilanggan cukup membantu dalam mengerjakan tugas mereka untuk tugas tugas penelitian ataupun menambah pengetahuan praktis. Elaborasi atas penelitian ini menunjukkan bahwa 30 % dari responden 104 mahassiwa mengatakan sangat terbantu dengan fasilitas e-book, e-journal dan e –paper dan hanya 4 respondeng mengatakan tidak membantu. Mereka menggunakan fasilitas digital lebih banyak untuk mencari referensi untuk tugas mata kuliah sebesar 68% dan 55% dalam mencari referensi untuk penelitian atau tugas akhir. Fenomena diatas menunjukkan bahwa fasilitas digital sudah akrab dengan pemustaka saat ini dengan usia rentang 17 – 20 sebagai responden dalam penelitian diatas. Maka kompetensi pustakawan terus dikembangkan agar perpustakaan terus dapat melayani pemustaka dalam akses informasi yang semakin memberikan kualitas yang baik dari sisi kecepatan dan kebaruan informasi yang diperlukan bagi pemustaka. Menghadapi era kebiasaan baru saat ini, kulitas pustakawan dalam olah informasi yang akan didiseminasikan melalui media social merupakan kebutuhan mendesak sehingga fungsi perpustakaan semakin muncul ke permukaaan