Preferensi Siswa STKIP PGRI Sumenep dalam Mengunjungi Perpustakaan STKIP PGRI Sumenep
STKIP PGRI Sumenep; STKIP PGRI Sumenep
Abstrak
Keberadaan perpustakaan STKIP PGRI Sumenep merupakan salah satu fasilitas yang tersedia di lingkungan kampus STKIP PGRI Sumenep. Fasilitas perpustakaan yang ada ini diharapkan dapat membantu dan memberikan kemudahan kepada seluruh civitas akademik di lingkungan kampus STKIP PGRI Sumenep dalam rangka memenuhi kebutuhan literasi dan referensi sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya, baik dalam skala individu atau juga kelompok. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui bidang literasi dan referensi dari keberadana perpustakaannya tentunya d apat meningkatkan juga pengetahuan dan wawasan yang dapat dipertanggungjawabkan, terlebih pada era sekarang yang banyak dihantui oleh pengetahuan dan wawasan dari sumber yang tidak bertanggung jawab, hingga tidak salah banyak berita atau informasi yang ber sifat bohong (hoaks). Tuntutan untuk terus menambah pengetahuan dari buku bacaan yang telah direkomendasikan oleh dosen pengampu mata kuliah juga menjadi pendorong mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan, tentunya hal ini dilakukan untuk terus bisa meng ikuti setiap materi perkuliahan yang sesuai dengan mata kuliah yang telah diprogramkan. Rasa ingin tahu dengan berbagai hal atau peristiwa yang sedanga berlangsung membutuhkan analisis yang didasarakan dari konsep atau teori yang tersedia di buku buku, aga r memiliki dasar yang kokoh untuk memberikan argumen yang ilmiah. Proses pencarian referensi dan literasi rasanya masih dianggap kurang oleh beberapa mahasiswa, maka tidak ada salahnya beberapa mahasiswa menambah dengan proses diskusi yang dilakukan di are a perpustakaan. Berbagai sarana dan prasarana perpustakaan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Peningkatan dan perlengkapan sarana dan prasarana perpustakaan memiliki tujuan untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada para mahasiswa dan para civit as akademik lain selaku pemustaka perpustakaan STKIP PGRI Sumenep. Pelayanan dan kenyamanan yang ada tentunya diharapkan dapat meningkatkan jumlah pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan STKIP PGRI Sumenep. Peningkatan kunjungan dari para pemustaka bisa memberikan penanda berjalannya proses pengembangan stimulus dalam membangun budaya literasi yang sehat dan ilmiah. Pilihan mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan merupakan tindakan seseorang yang memiliki tujuan. Suatu tujuan sendiri tidak terlepas dar i berbagai nilai atau pilihan yang mempengaruhi atau mendorong suatu tindakan individu untuk mencapai suatu tujuan itu sendiri. Pernyataan ini merupakan asumsi yang mendasarkan dari penggunaan teori pilihan rasional Coleman. Teori pilihan rasional memiliki gagasan dasar bahwa tindakan perserorangan mengarah kepada sesuatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Coleman juga menambahkan bahwa teori yang dikemukakannya memiliki maksud yang sangat teoritis. K onsep tersebut (preferensi) merupakan mengenai aktor rasional yang berasal dari ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi yang melihat aktor sebagai makhluk ekonomi dan sosial, dimana aktor memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan atau yang memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Abstract
The Library of STKIP PGRI Sumenep is one of many educational institution facilities for academic environments in SKIP PGRI SUMENEP. The library has important role to help all academycs to be literate and to get best references. This aims to increasing the quality of humans resource. In this information explosion era which hoaxes are uncontrollable, the library is a place that provides knowledge from trusted resource s and give broad insight which are required in making decisions and helping to choose in formation selectively . The lecturer give recommendation for their references, in order that the students are required to look for them in the library. Books provides th eories that is required to anlyze and observe then to make provable argument. The students can held the group discussions in the library . In order to improving library services to the students and the academics community, the library of STKIP PGRI Sumenep has been doing some effort in many aspects such as infrastructures. This purposes of this efforts are to increasing the visitors amount to the library. The more visitors who visit the library can be the sign of the process to build a good literacy culture The student’s choice to go to library is an action with purposes and a purpose is something that influenced by values or choices in every effort to achive it. This statement is a basic assumption of the Coleman rational choice theory. The theory states th at individuals acts have a purpose and the purpose ( including the acts) are determined by some values or choices (preferences). Coleman adds that the theory has the theoritical goals. The concept is about rational actors that come from Economics Science. The Economics places the actors as economic and social beings who choose beneficial actions.
Keywords:
preferences
· library
· attendance
· PGRI
Introduction
Pesatnya kemajuan dunia pendidikan juga menuntut adanya peningkatan perbaikan kualitas sumber daya manusia.Salah satu tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam lingkungan dunia pendidikan adalah meningkatkan minat literasi di kalangan masyarakat.Berbagai upaya terus di lakukan untuk memberikan stimulus kepada masyarakat dalam upaya meningkatkan minat literasi.Keberadan perpustakaan yang representatif dalam memenuhi kebutuhan pemustaka/pembaca merupakan salah satu hal yang terpenting dalam merangsang pemustaka untuk selalu berkunjung ke perpustakaan yang ada di tengah-tengah masyarakat, baik yang di tingkat sekolah, perguruan tinggi, komunitas, atau juga di tingkat pemerintahan administratif daerah yang berjenjang. Mengunjungi perpustakaan kampus merupakan hal yang penting dan perlu di lakukan oleh seluruh civitas akademik sebuah perguruan tinggi.Terlebih lagi bagi mahasiswa yang sebagai civitas akademik terbesar di sebuah perguruan tinggi. Perpustakaan merupakan tempat yang tepat untuk selalu melakukan update pengetahuan melalui literasi dari segala bacaan yang tersedia di dalam perpustakaan. Membangun pengetahuan melalui literasi merupakan modal utama dan terpenting dalam menciptakan ruang diskusi yang sehat, terarah dan terukur. Pengetahuan yang terbangun dari kebiasan membaca bisa menjadi penanda akan kemampuan seseorang dalam menyikapi suatu persoalan yang tengah dihadapinya. Tidak salah, apabila keberadaan perpustakaan merupakan hal yang terpenting dalam upaya untuk terus meningkatkan pengetahuan di lingkungan pendidikan, terutama lingkungan pendidikan tinggi. Perpustakaan STKIP PGRI Sumenep memiliki keaktifan dalam melayani para pemustaka yang ada, terlebih dari kalangan mahasiswa.Masa perkuliahan yang berlangsung sekitar empat bulan merupakan waktu yang padat dan ramai dalam mengunjungi perpustakaan oleh mahasiswa. Beban tugas kuliah dan proses belajar mengajar merupakan salah satu alasan mahasiswa mengunjungi perpustakaan dengan tujuan mencari referensi bacaan. Tuntutan untuk terus menambah pengetahuan dari buku bacaan yang telah direkomendasikan oleh dosen pengampu mata kuliah juga menjadi pendorong mahasiswa untuk berkunjung ke perpustakaan, tentunya hal ini dilakukan untuk terus bisa mengikuti setiap materi perkuliahan yang sesuai dengan mata kuliah yang telah diprogramkan. Proses pencarian referensi dan literasi rasanya masih dianggap kurang oleh beberapa mahasiswa, maka tidak ada salahnya beberapa mahasiswa menambah dengan proses diskusi yang dilakukan di area perpustakaan. Berbagai sarana dan prasarana perpustakaan terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Peningkatan dan perlengkapan sarana dan prasarana perpustakaan memiliki tujuan untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada para mahasiswa dan para civitas akademik lain selaku pemustaka perpustakaan STKIP PGRI Sumenep. Pelayanan dan kenyamanan yang ada tentunya diharapkan dapat meningkatkan jumlah pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan STKIP PGRI Sumenep. Peningkatan kunjungan dari para pemustaka bisa memberikan penanda berjalannya proses pengembangan stimulus dalam membangun budaya literasi yang sehat dan ilmiah. Dinamika kunjungan pemustaka salah satunya bisa di lihat dari data jumlah kunjungan mahasiswa ke perpustakaan.Data kunjungan yang tersedia bisa menjadi indikator evaluasi perbaikan dan peningkatan yang lebih baik dalam rangka penataan perpustakaan kampus yang baik.Sedikit dan banyaknya jumlah pemustaka di suatu perpustakaan tentunya bisa memberikan pengaruh kebijakan untuk pengelolahan yang dibutuhkan oleh pemustaka yang ada.
Method
Penelitian preferensi mahasiswa dalam mengunjungi perpustakaan di lingkungan STKIP PGRI Sumenep menggunakan metode pendekatan kualitatif. Penggunaan pendekatan kualitatif digunakan untuk melihat serangkaian proses preferensi mahasiswa dalam menentukan pilihan rasional terhadap perpustakaan yang ada. Mahasiswa sebagai aktor pada dasarnya memiliki hakikat sebagai manusia yang memiliki serangkaian pengalaman-pengalaman hidup sebagai pemustaka, selain itu pemahaman intersubjektif dari para mahasiswa sebagai pemustaka memberikan pemahaman bagi peneliti melalui proses pengamatan. Tidak salah apabila pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh dan mengetahui tindakan rasional dari masing-masing mahasiswa sebagai informan penelitian. Penelitian preferensi mahasiswa dalam mengunjungi perpustakaan akan dilaksanakan di lingkungan kampus STKIP PGRI Sumenep sebagai tempat berlangsungnya penelitian. Waktu penelitian akan dilaksanakan setelah pengajuan proposal penelitian mendapat persetujuan untuk pelaksanaan kegiatan penelitian di lapangan. Subyek penelitian ini meliputi para pemustaka atau mahasisawa STKIP PGRI Sumenep yang pernah mengunjungi perpustakaan STKIP PGRI Sumenep.Kunjungan para pemustaka perpustakaan STKIP PGRI Sumenep dapat di peroleh pada data kunjungan pemustaka yang dimiliki oleh perpustakaan STKIP PGRI Sumenep. Sampel penelitian ditentukan berdasarkan purposive sampling. Teknik ini memungkinkan setiap individu memiliki kesamaan yang sama dengan individu lain untuk dipilih menjadi sampel, karena sampel dimaksudkan untuk memberi variasi data. Karakter subyek dalam penelitian ini meliputi mahasiswa yang masih aktif dan aktif juga sebagai pemustaka perpustakaan STKIP PGRI Sumenep dalam enam bulan terakhir atau satu semester terakhir yang telah terselesaikan. Untuk mempermudah pengambilan informasi dalam penelitian ini, peneliti lebih mengutamakan metode available sampling (kesedian subyek) untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.Adanya keterbukaan dan kesedian informan, peneliti lebih bebas menggali informasi yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder.Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam (in-dept interview) dan terbuka dengan tujuan untuk mendapatkan pencapaian hasil yang komprehensif dari deskripsi tentang pengetahuan dan pengalaman subyek.Sebelum melakukan wawancara mendalam, peneliti berusaha melakukan pendekatan (getting in), hal ini dirasa perlu untuk dilakukan dengan tujuan menciptakan hubungan baik antara peneliti dengan subyek penelitian dan juga menciptakan untuk menciptakan rasa percaya subyek penelitian terhadap peneliti, bahwa informasi yang disampaikan subyek penelitian bukan sebagai hal yang membahayakan. Teknik wawancara yang akan digunakan memiliki sifat tidak terstruktur dengan penggunaan pedoman wawancara (guiding questions). Wawancara yang ada menggunakan alat perekam sebagai alat bantu. Selama proses wawancara, baik sebelum wawancara, peneliti berusaha untuk tidak mengabaikan berbagai kesempatan yang terjadi dengan melakukan observasi terhadap kejadian-kejadian yang ada, seperti ekspresi wajah, jawaban, pengakuan, pernyataan, dan bahasa tubuh dari subyek peneliti. Penggunaan teknik triangulasi merupakan cara untuk mengecek keabsahan data. Teknik triangulasi digunakan sebagai pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian. Kegunaan lain teknik triangulasi ini juga bisa memperkaya data serta untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, maka dari itu teknik triangulasi bersifat reflektif (Gunawan, 2014). Teknik triangulasi sendiri memiliki memiliki empat macam, diantaranya dengan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.Penggunaan sumber merupakan tipe yang dipilih oleh peneliti dalam penelitian ini.Teknik triangulasi dengan penggunaan sumber memiliki arti bahwa mementingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Discussion
Ruang Rekreasi Berkunjung ke perpustakaan merupakan salah satu pilihan yang di ambil oleh mahasiswa dalam menunjang kebutuhan akan referensi dan literasi belajar. Suatu tujuan sendiri tidak terlepas dari berbagai nilai atau pilihan yang mempengaruhi atau mendorong suatu tindakan individu untuk mencapai suatu tujuan itu sendiri. Pernyataan ini merupakan asumsi yang mendasarkan dari penggunaan teori pilihan rasional Coleman. Teori pilihan rasional memiliki gagasan dasar bahwa tindakan perserorangan mengarah kepada sesuatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Coleman juga menambahkan bahwa teori yang dikemukakannya memiliki maksud yang sangat teoritis. (Ritzer, 2004) Konsep tersebut (preferensi) merupakan mengenai aktor rasional yang berasal dari ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi yang melihat aktor sebagai makhluk ekonomi dan sosial, dimana aktor memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan atau yang memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka. Perpustakaan sebagai tempat menghadirkan segala pelayanan untuk memenuhi segala kebutuhan para pemustaka yang datang berkunjung. Dinamika perpustakaan di era sekarang mengikuti proses perubahan yang dinamis. Perpustakaan hadir bukan sekedar tempat yang membosankan dan menjenuhkan. Era sekarang perpustakaan dituntut untuk lebih mengerti akan kebutuhan para pemustaka. Termasuk salah satunya sebagai tempat dan ruang rekreasi. Pernyataan di atas bukanlah tanpa alasan, berbagai sarana dan prasarana yang memudahkan serta memanjakan pemustaka merupakan alasan yang kuat dalam melihat perpustakaan sebagai tempat bagi beberapa mahasiswa untuk melepas penat dan kejenuhan dari adanya aktivitas perkuliahan. Pemilihan perpustakaan sebagai tempat untuk melepas segala kepenatan dari rutinitas kampus oleh mahasiswa merupakan gambaran bagaimana aktor yang dimainkan oleh mahasiswa menjadikan perpustakaan sebagai sumber daya yang harus dipergunakan sebagaimana semestinya. Sebagai salah satu sumber daya yang terdapat di kampus tentunya keberadaan perpustakaan memberi keuntungan yang tersendiri bagi mahasiswa sebagai aktor. Perpustakaan kampus memberikan kemudahan yang begitu longgar meski tentunya ada peraturan dan etika yang harus dipatuhi oleh para pemustaka dan salah satu yang termasuk dalam hal tersebut adalah mahasiswa itu sendiri. Pertimbangan mahasiswa memilih perpustakaan bisa menjadi penerapan teoritis tentang preferensi yang dinyatakan oleh Coleman (Coleman, 2012). Kemudahan akses dan terdapatnya beberapa sarana prasarana yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk melepas rasa lelah, jenuh, dan atau juga stress merupakan tindakan yang tidak bisa dilepaskan dari adanya hitung-hitungan ekonomis. Memasuki perpustakaan kampus bagi mahasiswa merupakan hal yang mudah, cukup menjadi anggota perpustakaan kampus dimana mahasiswa tersebut berkuliah. Beberapa kampus bahkan memberikan kemudahan secara otomatis bagi mahasiswanya dalam memberikan akses ke berbagai sumber daya yang dimiliki oleh kampus berkaitan. Kartu mahasiswa yang telah dimiliki oleh mahasiswa secara otomatis akan menjadi “kartu sakti” untuk mengakses berbagai sarana dan prasarana yang ada, termasuk salah satunya perpustakaan. Kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi juga memberikan pengaruh kepada perpustakaan kampus untuk memberikan peningkatan sarana dan prasarana di bidang sarana informasi dan teknologi. Akses informasi yang cepat dan akurat telah menjadi kebutuhan pemustaka, terlebih bagi mahasiswa dalam menunjang setiap kebutuhan referensi akademis. Kebutuhan kemudahan akses informasi dan komunikasi diharapkan kedepannya dapat menciptakan mahasiswa yang memiliki kreatifitas dalam menciptakan setiap yang memiliki nilai guna di dalam masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Referensi yang di peroleh baik melalui buku-buku yang telah tersedia di perpustakaan ataupun melalui media internet bisa menjadi panduan dalam pengembangan pengetahuan baik dalam skala pribadi ataupun dalam lingkup yang lebih luas. Ketersediaan jaringan internet dan pelayanan terhadap ketersediaan jurnal menjadi nilai lebih bagi pemustaka untuk terus menggali kemampuannya, terlebih dalam bidang tulis menulis ilmiah. Tidak di dapat dipungkiri juga, bahwa ketersediaan jaringan internet yang berbasis Wi-fi juga memberikan keleluasaan bagi pemustaka untuk menyalurkan kesenangannya di bidang permainan era teknologi, dimana yang lazim di kenal dengan game. Pemustaka yang datang dengan tujuan bermain game tentunya serta merta tidak bisa di larang untuk berada di perpustakaan. Melihat fenomena pemanfaatan sarana prasarana kampus untuk bermain game online ada baiknnya dilihat dari sisi positif. Sisi positif yang ada bahwasanya perpustakaan juga menjadi tempat yang menyenangkan dalam menyalurkan persoalan-persoalan yang bersifat somatik. Salah satu sudut ruangan perpustakaan STKIP PGRI Sumenep memiliki desain ruangan dengan konsep lesehan. Konsep lesehan inilah yang memberikan angin segar bagi pemustaka istirahat tidur diantara aktivitas kegiatan kampus yang dijalani oleh seorang pemustaka. Tidur dalam sebuah kegiatan bukanlah hal yang terlarang, terlebih di era sekarang. Beberapa perusahaan di luar negeri membuat program tidur, tepatnya tidur siang bagi karyawannya. Program ini diharapkan dapat meningkatkan efektitifas dan kemampuan oleh karyawan yang ada. Perpustakaan sebagai pilihan tempat tidur oleh beberapa pemustaka ada baiknya tidak di lihat sebagai sesuatu yang negatif dari kondisi personal pemustaka. Kondisi tidur bagi setiap individu bisa berbeda-beda, baik dari segi penyebab ataupun proses yang sedang berlangsung terkait pilihan perpustakaan sebagai tempat tidur yang nyaman dan aman. Ketersediaan sarana pendingin ruangan (AC) bisa menjadi salah satu penunjang pemustaka untuk memutuskan tidur di perpustakaan, baik dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Semoga dengan begitu kedepannya para pemustakan yang tertidur ataupun tidur memiliki kemampuan efektifitas manajemen personal dalam mengelola kebutuhan akademis, seperti hal program tidur siang yang dijalankan oleh beberapa perusahaan yang telah ada. Perpustakaan sebagai ruang dan tempat memang telah memberikan keleluasaan sebagai sumber daya yang bisa dijangkau oleh siapapun (aktor). Kenyataan ini tentunya dapat merubah image perpustakaan yang membosankan dan menjenuhkan. Perpustakaan sebagai pilihan rekreasi bagi beberapa pemustaka mengingatkan kembali pentingnya perpustakaan sebagai ruang yang humanis dalam artian menjadi ruang yang tidak memberikan beban bagi pemustaka baik dari segi peraturan dan fungsi keberadaan perpustakaan itu sendiri. Memanfaatkan Waktu Kesadaran akan pentingnya membangun dan mengembangkan kemampuan pribadi merupakan satu dari sekian alasan individu untuk menjadi pemustaka. Perkembangan pengetahuan yang dinamis ada baiknya perlu diimbangi dengan kemampuan dan pengetahuan yang sesuai dengan perubahan yang selalu terjadi. Berkunjung ke perpustakaan merupakan salah satu langkah tepat dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang ada. Seorang aktor (mahasiswa) yang berkunjung ke perpustakaan dengan kesadarannya sendiri merupakan perilaku yang terlahir dari adanya kebutuhan dari diri sendiri. Perilaku tersebut bisa menjadi acuan orang-orang sekitarnya untuk berperilaku yang sama dengan individu tersebut. Terlebih perilaku tersebut memiliki nilai kesadaran akan penting sesuatu hal, seperti kebutuhan literasi dan referensi yang tidak di dapat dalam proses belajara mengajar di kelas. Mencari sesuatu nilai lain yang tidak di dapat dari situasi yang ada bagi seorang individu merupakan cerminan lain dari sebuah pilihan rasional. Pilihan tersebut teraktualisasikan dalam bentuk perilaku rasional.Perilaku rasional dari seorang aktor terhadap pilihannya tidak hanya menghasilkan perilaku kolektif saja, namun juga memunculkan adanya norma yang berkembang di dalam suatu kelompok masyarakat yang ada. Norma yang muncul tentunya akan terus dipertahankan oleh sekelompok aktor yang rasional. Bagi Coleman, terwujudnya norma diprakarsai dan dipertahankan oleh beberapa orang yang melihat keuntungan yang dihasilkan dari pengamalan terhadap norma dan kerugian yang berasal dari pelanggaran norma itu. Orang ingin melepaskan pengendalian terhadap perilaku mereka sendiri, tetapi dalam proses, mereka memperoleh pengendalian (melalui norma) terhadap perilaku orang lain. Perilaku rasional mahasiswa selaku pemustaka dalam meluangkan sebagian waktunya untuk berkunjung ke perpustakaan merupakan bentuk menjadikan waktu yang berkualitas dengan kegiatan yang memberikan manfaat positif. Dorongan kesadaran akan peningkatan pengetahuan tidak sebatas pada kegiatan membaca di ruang perpustakaan, baik secara personal ataupun berkelompok. Pengembangan berikutnya muncul diskusi-diskusi kelompok yangmemanfaatkan berbagai ruang yang telah tersedia di perpustakaan. Munculnya diskusi-diskusi kelompok sebagai langkah untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan telah memberikan arti bagi perpustakaan bukan sekedar tempat untuk penyimpanan koleksi buku, namun juga telah menjadikan perpustakaan sebagai ruang pengembangan pengetahuan dan pembelajaran di luar kelas dalam lingkup formal. Proses munculnya diskusi-diskusi kelompok merupakan kondis yang tercipta dari beberapa aktor yang memiliki kesadaran dan kepentingan yang sama dalam usahanya menciptakan perilaku koletif. Keberadaan perilaku kolektif dari para pemustaka menunjukkan bagaimana perpustakaan sebagai salah satu ruang dari kegiatan persuasif terhadap pemikiran-pemikiran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Perpustakaan sebagai tempat dan ruang diskusi sejatinya juga telah memberikan arti bagi masyarakat akan pentingnya diskusi dalam menyikapi setiap peristiwa yang tengah terjadi. Perpustakaan juga bisa menjadi saluran sosial di era perkembangan teknologi informasi dalam menyaring berita-berita hoaks melalui peningkatan membaca dan diskusi. Tuntutan Tugas dan Nilai Mahasiswa sebagai aktor di kehidupan kampus tentunya tidak akan terlepas dari berbagai macam tugas yang diberikan oleh dosen. Tugas-tugas yang diberikan memiliki tujuan untuk selalu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan para mahasiswa, baik dalam lingkup teoritik maupun praktis. Penyelesaian tugas-tugas yang ada tentunya memerlukan acuan, baik secara kepustakaan ataupun praktik yang diperlukan oleh suatu tugas itu sendiri. Akhir dari suatu tugas bagi mahasiswa adalah kebutuhan akan perlunya nilai akademis. Perpustakaan merupakan sumber daya yang bisa di lihat oleh mahasiswa sebagai aktor untuk membantu memberikan solusi dalam penyelesaian tugas-tugas akademis. Kebutuhan akan referensi bacaan bagi mahasiswa dalam menyelesaikan setiap tugas merupakan salah satu kondisi yang harus dipenuhi oleh seorang mahasiswa selaku civitas akademis. Perpustakaan dihadirkan oleh aktor lain untuk memenuhi kebutuhan referensi mahasiswa di sisi keterbatasan sumber daya lain yang tidak bisa di akses oleh mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri juga, bahwasanya perpustakaan juga memiliki keterbatasan sumber daya referensi dalam jumlah koleksi buku yang terkadang tidak memenuhi kebutuhan referensi dan literasi pemustaka, dalam hal ini tentunya mahasiswa. Keterbatasan sumber daya lain yang di maksud adalah ketersediaan sarana dan prasarana referensi bacaan dalam lingkup yang lebih luas dari sekedar keberadaan perpustakaan kampus atau semisal sekolah tinggi STKIP PGRI Sumenep. Mencoba untuk melihat lebih luas sarana dan prasarana refernsi dan literasi dari keberadaan perpustakaan kampus dengan melihat pada tingkat kota/kabupaten sendiri, khususnya kabupaten Sumenep. Sejauh hasil pengamatan selama proses penelitian setidak terdapat tiga toko buku yang bisa dijadikan salah satu sumber daya oleh mahasiswa dalam mengakses setiap kebutuhan referensi dan literasi, meskipun ketersediaan buku yang ada di toko-toko tersebut sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dalam rangka penyelesaian tugas. Sarana lain seperti perpustakaan daerah juga di miliki oleh kabupaten Sumenep. Terdapatnya perpustakaan daerah di kabupaten Sumenep sepenuhnya belum bisa memenuhi kebutuhan pemustaka pada tingkat mahasiswa dalam menyelesaikan kebutuhan tugas-tugas yang ada. Optimalisasi sarana dan prasarana yang ada merupakan langkah tepat bagi mahasiswa sebagai aktor dalam mengakses setiap sumber daya yang ada. Langkah ini setidaknya merupakan pilihan yang rasional dalam memenuhi kebutuhan sorang aktor, yaitu mahasiswa. Bagi orang-orang yang mempunyai sumber daya, pencapaian tujuan-tujuan mungkin agak mudah akan tetapi, bagi orang yang memliki sedikit, pencapaian tujuan mungkin sulit atau mustahil. D. Friedman dan Hechter menjelaskan tentang kelangkaan sumber daya ada ide mengenai biaya kesempatan. (Ritzer, 2004) Keinginan mengejar tujuan tertentu, para aktor harus menghitung biaya untuk membatalkan tindakan mereka yang paling menarik selanjutnya. Seorang aktor mungkin memilih untuk tidak mengejar tujuan yang bernilai paling tinggi jika sumber-sumber dayanya dapat diabaikan, jika kesempatan tujuan itu kecil, dan jika dalam usaha mencapai tujuan itu dia membahayakan kesempatannya untuk mencapai tujuan selanjutnya yang paling bernilai. Meskipun teori pilihan rasional bermula dengan maksud-maksud atau tujuan sang aktor, pilihan itu harus memperhitungkan setidaknya dua pembatas utama pada tindakan itu, yaitu yang pertama adalah kelangkaan sumber daya. Para aktor mempunyai sumber-sumber daya yang berbeda dan juga akses yang berbeda kepada sumber-sumber daya lainnya.
Conclusion
Keberadaan perpustakaan di lembaga pendidikan seperti STKIP PGRI Sumenep bukan sekedar ruang untuk membaca dan meminjam buku saja . Perpustakaan STKIP PGRI Sumenep memiliki sisi lain sebagai ruang yang humanis bagi pemustaka, terlebih ruang yang memiliki nilai nilai somatik . Perpustakaan sebagai nilai nilai somatik memiliki tujuan menjadikan perpustakaan sebagai tempat refreshing bag i pemustaka. Tujuan tersebut tentunya akan menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang nyaman bagi setiap pemustaka untuk bercengkrama dengan dimensi ruang dan waktu yang ada. Tanpa disadari perpustakaan juga menjadi ruang dalam pemanfaatan waktu luang bag i mahasiswa untuk lebih berkualitas sebagai proses mengembangkan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri. Langkah memanfaatkan waktu luang bagi seorang mahasiswa merupakan salah satu tindakan positif dan secara tidak langsung jug a bisa mendorong munculnya tindakan kolektif bagi mahasiswa lain, seperti dalam bentuk diskusi diskusi kelompok atau juga mengerjakan tugas kuliah secara bersama sama di perpustakaan. Sisi lain yang tidak terelakkan adalah adanya tugas tugas perkuliahan ya ng membutuhkan penyelesaian melalui referensi dan literasi yang tidak sedikit dan itu salah satunya bisa diperoleh di perpustakaan.