Kembali
16
1
2021 Jurnal Pari Vol 7 · 1 ISSN 2549-0133

URGENSI PENYESUAIAN METODE PEMBELAJARAN DI ERA DISRUPTIVE TECHNOLOGY

Kementerian Kelautan dan Perikanan

Abstrak

Seorang guru profesional di era milenial atau Generasi Y, tidak cukup hanya menguasai empat kompetensi guru, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, mengharuskan seorang guru menjadi bagian dari kemajuan teknologi itu sendiri. Jika mereka lahir pada Generasi X atau genereasi tradisional, maka mereka harus mengejar ketertinggalan itu dengan belajar berbagai aplikasi teknologi kekinian. Jika tidak, maka mereka hanya akan menjadi guru yang pandai menceritakan masa lalu belaka, padahal masa lalu sudah lama ditinggalkan. Mendikbud, Prof. Muhajir Effendi menambahkan guru profesional di zaman milenial harus memenuhi kompetensi inti (expertise), tanggung jawab social (responsibility), dan kesejawatan (esprit de corps). Di sinilah urgensinya guru menyesuaikan metode pembelajaran di era disruptive technology.

Abstract

A professional teacher in the millennial era or Generation Y, it is not enough to only master the four teacher competencies, namely pedagogic, personality, professional, and social competencies. The development of information technology is so rapid, requires a teacher to be part of the advancement of technology itself. If they were born in Generation X or the traditional generation, then they must catch up by learning various applications of contemporary technology. If not, then they will only become teachers who are good at telling the past, even though the past has long been abandoned. Minister of Education, Prof. Muhajir Effendi added that professional teachers in the millennial era must meet core competencies (expertise), social responsibility (responsibility), and peer relations (esprit de corps). This is where the urgency for teachers to adapt learning methods in the era of disruptive technology.
Keywords: Learning method · Disruptive technology era

Introduction

Latar Belakang Sebuah hadis Nabi Muhammad Saw. dapat dijadikan titik tolak pentingnya adaptasi terhadap situasi dan kondisi yang terus berubah. Bunyi hadis itu, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Makna hadis ini sangat mendalam, karena ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan. Dari hadis tersebut sangat jelas makanya, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini serba berubah. Sesuatu yang hari ini istimewa, tapi pada 10 atau 20 tahun mendatang bisa jadi hanya hal yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang hari ini mustahil, bisa jadi pada 10 atau 20 tahun mendatang adalah hal yang sangat mudah sekali. Ada beberapa peristiwa yang penulis alami berkaitan dengan pekerjaan, yang dapat dijadikan sebagai contoh, pertama, pada sekitar tahun 1989, ketika penulis masih menganggur, kebetulan membantu paman berjualan bubur ayam di depan makam pahlawan Cikutra, Bandung. Ada seorang tukang ojek yang kebetulan makan bubur. Dia bercerita penghasilannya sebagai tukang ojek adalah Rp. 15.000,00 sehari. Jika dikalkukasi menjadi penghasilan sebulan ialah Rp. 450.00,00. Setahun berikutnya penulis masuk menjadi PNS bergaji Rp.50.000,00. Alhasil, penghasilan tukang ojek itu jauh lebih besar. Sepuluh tahun kemudian, penulis mencermati kehidupan tukang ojek di sekitar perumahan. Ratarata mereka berada pada taraf kehidupan menengah ke bawah. Tidak dijumpai lagi, tukang ojek yang penghasilannya 9 kali lebih besar dari seorang PNS golongan II/a. Bahkan dua puluh tahun kemudian, tukang ojek manual hampir tersapu bersih oleh hadirnya tukang ojek online seperti GrabBike dan Gojek. Kedua, seorang tetangga pensiunan di Departemen Keuangan memiliki beberapa angkot. Seorang kawan menasihati agar membuat manajemen perubahan. Siapa tahu angkot akan terdesak oleh jenis moda angkutan lain. Kawan tadi tidak melakukan persiapan menghadapi perubahan. Tanpa disadari, munculnya GrabCar dan GoCar benar-benar mematikan usaha angkotnya. Kini, beberapa buah angkotnya seperti onggokan barang langka di museum. Ketiga, sebagai seorang penulis buku, pada saat subur proyek buku di era 85-an, pada Masa Orba dengan program buku Inpres, selalu beranggapan bahwa proyek buku akan terus ada, sehingga uang royalty yang lumayan besar tidak langsung dipergunakan untuk persiapan membeli rumah atau barang sejenis. Tanpa disadari, pada tahun 1999, lahir kebijakan Otonomi daerah. Proyek buku dilimpahkan ke Dinas Provinsi. Situasi langsung berubah. Bahkan, yang terjadi kemudian bukan hanya perubahan teknis pembelian buku saja, melainkan juga perubahan bentuk buku dari hardcopy ke softcopy dalam bentuk e-book. Kemudahan akses informasi melalui internet, membuat banyak penerbit gulung tikar. Para penulis pun kehilangan kesempatan untuk berkiprah menjadi penulis yang meraup banyak uang. Siapa saja insan yang sudah dewasa di masa Orde Baru, tentu akan merasakan perubahan besar yang terjadi, khususnya di bidang komunikasi dan transportasi. Perubahan itu begitu nyata, dalam bidang komunikasi, kita saksikan tukang gorengan, tukang siomay, tukang bakso, atau pedagang sejenis memikul atau mendorong dagangan sambil membaca sms atau WA. Luar biasa, karena benda yang di tahun 1990-an itu sangat berharga, kini menjadi benda biasa saja. Aplikasi baru tumbuh bagaikan ungkapan pagi kedelai sore tempe, sore tempe paginya sudah menjadi bacem tempe, tempe goreng atau lainnya. Bagaimana dengan anak-anak kita, yang disebut sebagai generasi milenial? Sejak usia kanak-kanak mereka sudah terbiasa memegang alat komunikasi yang namanya handphone (HP). Mereka sudah pandai memainkan game yang ada di HP. Sejak kecil mereka sudah bisa memainkan fitur-fitur yang ada di aplikasi. Seiring dengan perkembangan psikis dan fisik, anak-anak generasi milenial sudah tidak bisa dipisahkan dari HP, dan juga teknologi informasi seperti internet. Berdasarkan penelitian, setiap harinya mereka mengonsumsi waktu 6,5 jam untuk menjelajah di dunia maya. Bisa kita bayangkan, apa yang akan terjadi ketika anak-anak milenial itu diajari oleh guru, dengan media konvensional. Guru dengan santainya menggunakan metode ceramah, tanpa mempedulikan anak-anak akan suka atau tidak. Di tangan guru ada sepotong rotan, yang akan digunakan untuk memukul siswa. Para siswa duduk dengan gundah, menyimak dengan terpaksa. Jika guru tidak memberi ancaman dengan rotan, mungkin para siswa sudah mengantuk, atau sebaliknya asyik sendiri ngobrol dengan teman di sampingnya. Berbagai kenyataan di atas, jika kita kembali pada hadis Nabi Muhammad Saw., yang menyebutkan, “Didiklah atau ajarilah anakmu sesuai dengan zamannya”, maka hal-hal yang berkaitan dengan metode maupun media, harus dilakukan revisi total. Maksudnya, kita akan mengikuti arahan Nabi, mendidik anak sesuai zaman. Kita, para guru, widyaiswara, dosen, yang lahir di zaman konvensional, harus cepat beradaptasi. Jangan kita membiarkan diri terlena, mempertahankan sesuatu yang sudah tidak bermanfaat bagi anak-anak yang sekiranya mereka sudah tidak suka. Permasalahan Dari uraian di atas, dapat ditarik benang merah, bahwa perubahaan adalah sebuah keniscayaan. Pepatah mengatakan tidak ada yang kekal, kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan dari teknologi sederhana ke teknologi canggih terus berkembang. Kenyataan itu merupakan tantangan bagi kita, dan jika kita belum berada pada kondisi menghadapi tantangan, maka hal itu merupakan sebuah masalah. Dari latar belakang di atas, kita bisa membuat kalimat tanya, “Bagaimana urgensi penyesuaian metode pembelajaran di era disruptive teknology?” KAJIAN PUSTAKA Pengertian Metode Pembelajaran Metode pembelajaran adalah cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok (Ahmad Sabri, 2005) memaparkan tentang syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam menggunakan metode pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Metode yang dipergunakan harus dapat membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar siswa. 2) Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, seperti melakukan inovasi dan kreasi. 3) Metode yang digunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya. 4) Metode yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kepribadian siswa. 5) Metode yang digunakan harus mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi. 6) Metode yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode mengajar sering disebut sebagai strategi belajar mengajar. Bahkan makna strategi belajar mengajar lebih luas dibandingkan dengan makna metode mengajar, “strategi adalah suatu rencana tentang caracara pendayagunaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi (pengajaran)” (Slameto,1991) dengan demikian di dalam strategi sudah terkandung unsur metode belajar mengajar, teknik mengajar, serta penggunaan alatalat bantu mengajar atau media pembelajaran. Era Disruptive Teknology Definisi disruption adalah kejadian yang mengharuskan merancang ulang strategi untuk bertahan terhadap perubahan lingkungan (Kilkki et al. 2018), “disruptive technology” dalam bidang pendidikan adalah bagaimana membangun kembali siswa belajar dan bagaimana sekolah mempersiapkan apa yang tidak bisa mereka prediksi. Disruption Technology adalah teknologi yang mengubah dasar persaingan dengan mengubah metrik persaingan kinerja di perusahaan (Nagy et al. 2016). Teknologi baru yang kedatangannya menandakan pergeseran teknologi yang dominan di sektor itu (Ganguly et al. 2017). Perkembangan sains dan teknologi berubah setiap 18 jam sekali, perubahan yang cepat ini perlu diantisipasi terhadap efek negatif teknologi dalam bidang lain. oleh karena itu perlu dikembangkan konsep inovasi yang mampu mengantisipasi Disruption technology terhadap sistem yang lain. Pengertian inovasi yang selalu berkonotasi positif, berbeda dengan Disruption yang memiliki konotasi negatif dalam bentuk konflik internal (Kilkki et al. 2018). Dalam istilah disruptif technology terdapat pula istilah inovasi disruptif. Inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama. Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel “Disruptive Technologies: Catching the Wave” di jurnal Harvard Business Review (1995). Artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan. Kemudian pada bukunya “The Innovator’s Dilemma”, Christensen memperkenalkan model Disruptive Inovasi (The Disruptive Innovation Model). Dimana kemampuan pelanggan untuk memanfaatkan sesuatu yang baru dalam satu lini. Dimana lini terendah adalah pelanggan yang cepat puas dan yang tertinggi digambarkan sebagai pelanggan yang menuntut. Distribusi pelanggan ini yang secara mediannya bisa diambil sebagai garis putus-putus untuk menerapkan teknologi baru. Salah satu contoh dari Inovasi Disruptif (disruptive innovation) adalah Wikipedia. Wikipedia merupakan salah satu contoh inovasi disruptif yang merusak pasar ensiklopedia tradisional (cetak). Kalau dilihat, saat ini jarang sekali ditemukan ensiklopedia edisi cetak dijual ditoko buku. Semuanya sudah beralih ke Wikipedia. Dari sisi harga ensiklopedia tradisional (cetak) bisa jutaan, sekarang malah informasi bisa didapat secara cuma-cuma lewat Wikipedia. Makanya disebut “disruptif” atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “mengganggu”.

Discussion

Mendidik Sesuai Zaman Untuk menjawab permasalahan di atas, penulis awali dengan dalil wajibnya mengupayakan sebuah pembelajaran sesuai dengan kondisi zamannya, berdasarkan ajaran agama yang penulis anut. Sebagaimana 14 abad tahun silam, Nabi Muhammad Saw. telah mengantisipasi sebuah proses pembelajaran dengan sabdanya, “Ajarilah anakanakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Hadis ini jelas menunjukkan urgensi pentingnya menyesuaikan metode pembelajaran di era disruptive technology. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa metode pembelajaran harus setidaknya membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar siswa. Bahkan harus dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, seperti melakukan inovasi dan kreasi. Guru sebagai agent of change harus memahami karakter generasi sekarang yang disebut sebagai generasi milenial atau generasi Y. Disadari betul, bahwa siswa yang hidup di era milenial ini dalam sehari menghabiskan 6,5 jam untuk membaca media cetak, elektronik, digital, broadcast dan berita. Mereka mendengarkan dan merekam musik; melihat, membuat, dan mempublikasikan konten internet serta tidak ketinggalan menggunakan smartphone. Disadari pula bahwa generasi muda pada era kekinian memiliki berbagai macam karakteristik, mereka suka memegang kendali, tidak mau terikat dengan jadwal tambahan, dan mereka tidak terlalu suka duduk di ruang kelas untuk belajar atau di kantor untuk bekerja. Sebaliknya, mereka lebih suka menggunakan teknologi untuk belajar kapan saja, siang, atau malam, melakukan telekomunikasi dari mana saja dan mendefinisikan “keseimbangan” dengan cara masing-masing. Selain itu, di lingkungan berbasis proyek, generasi milenial menggunakan teknologi untuk menyelesaikan tugas dengan cara baru dan kreatif. Kebutuhan mereka akan metode alternatif untuk menyelesaikan tugas menghadirkan tantangan ketika menggunakan pengukuran tradisional untuk menentukan produktivitas. Mereka juga berorientasi pada kelompok dan social tanpa henti terbuka pada dunia melalui media, generasi milennial terus-menerus menjalin hubungan sosial. Secara pribadi, mereka melakukan perjalanan berkelompok, belanja, dan bermain bersama. Secara online, mereka mencari peluang untuk mengidentifikasi teman-teman dalam skala yang lebih kecil, bergabung dengan komunitas, dan bergaul dengan rekan-rekan di seluruh dunia. Sisi positifnya, generasi milenial telah diajarkan untuk toleran. Mereka tidak dibatasi oleh informasi yang tersedia di perpustakaan lokal atau oleh pencarian linear dalam ensiklopedi. Sebaliknya, mereka menggunakan Internet untuk mencari informasi di seluruh dunia dan menggunakan tautan hypertext untuk belajar tentang subjek baru. Mereka juga berpengalaman menggunakan teknologi digital. Generasi milenial adalah yang pertama dikelilingi oleh media digital. ICT selalu menjadi bagian dari kehidupan mereka, dan karena akses ini, generasi milenial secara alami tertarik padanya. Perlu diketahui, mereka juga berani mengambil risiko, Jika tidak berhasil, mereka akan mencoba dan mencoba lagi. Mereka menghargai waktu istirahat karena mereka memandang hidup sebagai tidak pasti. Mereka memandang kehidupan secara berbeda. Mereka mengamati orangtua mereka bekerja keras untuk mengantisipasi dan mendapatkan status atau tingkat pencapaian tertentu sebelum istirahat. Pertanyaannya, mampukah guru yang terlahir di era Generasi X, mengajar siswa yang lahir pada generasi milenial atau gen Y? Jawabnya, tentu sangat ditentukan oleh sejauhmana guru atau tenaga kependidikan mampu menyesuaian diri. Masih banyak guru yang perlu dilatih menguasai literasi teknologi kekinian, seperti menggunakan aplikasi laptop. Menurut pengalaman Pengawas Sekolah, masih banyak tendik, khususnya kepala sekolah yang belum menguasai literasi komputer. Alasannya, mereka masih bisa menyuruh tenaga administrasi sekolah, teknisi, atau guru yang menguasai literasi komputer. Bagaimana Menjadi Guru Profesional di Era Milenial? Berkaitan dengan teknologi kekinian, ada banyak tantangan yang harus ditaklukkan oleh guru agar mampu menjadi pengajar di kelas siswa generasi milenial, sebagai berikut, pertama, pembelajaran harus relevan dengan siswa. Belajar menjadi lebih berarti ketika mereka memahami aplikasi praktis informasi yang mereka terima. Konten harus spesifik, ringkas, dan cepat. Generasi millenal haus informasi dan akan mencarinya sendiri jika guru tidak menyajikan apa yang mereka anggap relevan. Karena begitu banyak informasi yang selalu tersedia, mereka tidak merasa perlu belajar setiap hal segera. Sebaliknya, mereka ingin diajari bagaimana dan di mana mereka dapat menemukan apa yang mereka butuhkan. Kedua, teknologi dapat mengalihkan perhatian. Meskipun generasi millennial paling tanggap teknologi tinggi, siswa-siswi ini dan lebih sering gurunya mungkin menjadi sangat terganggu olehnya. Ketiga, teknologi bisa mahal. Biaya yang terkait dengan penerapan sumber daya teknologi baru di lembaga akademis merupakan hal yang menakutkan. Pendanaan perangkat keras, perangkat lunak, infrastruktur, pengembangan profesional, dan dukungan teknis harus menjadi prioritas berkelanjutan. Keempat, generasi milenial berisiko berlebih andal terlalu banyak bekerja. Generasi paling terjadwal yang pernah ada, generasi milenial terdorong untuk berhasil tidak seperti generasi sebelumnya. Siswa sekolah menengah yang berprestasi tiba di kampus untuk menemukan dirinya tidak tertandingi, sehingga kadang mereka tidak menemukan manfaat untuk dua tahun pertama di pendidikan tinggi. Kelima, beberapa generasi milenial cenderung tidak melanjutkan pendidikan pasca sekolah menengah. Ketika pendidikan formal tidak menarik, Milenium beralih ke kelompok karier, yang memberikan pendidikan keterampilan, alih-alih masuk ke universitas. Gaptek, menjadi salah satu penyakit yang harus dihilangkan dari sosok seorang guru profesional di era milennial. Disadari atau tidak, teknologi informasi mampu mengantar paket pengetahuan melampaui segala rintangan alam, seperti terjalnya lembah, luasnya lautan, dan tingginya bebukitan. Melalui aplikasi yang ada di laptop maupun handphone, pengetahuan dengan cepat hadir di tengah kita. Sesuatu yang mustahil, sekarang menjadi mudah dan cepat. Kemdikbud misalnya, menyediakan repository perpustakaan. Semua jenis bahan ajar, baik berupa buku, modul, artikel, gambar, video dapat diunduh dengan mudah. Guru tidak perlu repot-repot melakukan perjalanan panjang dan melelahkan untuk mengambil bahan itu ke kota. Seorang guru yang ingin berprestasi, tidak perlu mendaftarkan hardcopy dari hasil karyanya. Semua persyaratan diubah dalam bentuk softcopy yang tidak perlu diantar melalui Pos, melainkan cukup dikirim via email. Bayangkan, seorang guru yang baik, profesional, tetapi tidak menguasai teknologi informasi, tidak bisa mendaftarkan secara online hasil karyanya, maka dia tidak akan pernah mencicipi penghargaan dari Pemerintah, seperti penghargaan yang diberikan oleh Subdit Kesharlindung, misalnya, Gupres (Guru Berprestasi), Tendikpres (Tenaga Kependidikan berprestasi), Best Practice, Inobel, atau lainnya. Sebagai bentuk penghargaan terhadap guru atau tendik berprestasi yang memenuhi unsur-unsur keprofesian berkelanjutan di zaman milennial, maka penilaian terhadap guru yang terpilih sebagai guru berprestasi, dinilai atas empat aspek, yakni: portopolio, tes, karya tulis dalam bentuk makalah atau artikel, dan persentasi terhadap karya tulis tersebut. Untuk tes online, soal-soalnya berkaitan dengan teknologi informasi, kurikulum, kompetensi guru, dan pengetahuan tentang kependidikan lainnya. Berubahnya zaman konvensional ke zaman milenial, sedikitnya ada empat tantangan pendidikan yang dihadapi oleh guru zaman milenial, sebagai berikut, pertama, revolusi industri 4.0. Pengaruh teknologi digital semakin menyatu dengan hidup manusia. Itulah esensi dari revoluasi industri 4.0 saat ini. Segala sesuatunya mulai melekat dengan penggunaan internet (internet of things). Disadari betul, di masa depan akan banyak pekerjaan yang hilang tergantikan oleh teknologi, seperti petugas gerbang tol, yang sudah menggunakan e-toll, bahkan tukang parkir sudah ada yang menggunakan e.parking. Kedua, globalisasi. Dunia yang mondial, mengglobal, sangat memungkinkan kompetisi bukan antarsesama tenaga kerja di dalam negeri, melainkan kompetisi antarnegara yang diyakini akan semakin terampil dalam beberapa waktu ke depan. Saat ini pun, negara kita sudah menyatu dalam Masyarakat Ekononomi ASEAN (MEA), bahkan banyak tenaga asing yang berbondong-bondong memasuki Indonesia. Persaingan global tersebut harus dipandang sebagai tantangan bagi para guru agar mampu meningkatkan kualitas siswa, dimulai dari kualitas guru. Dengan kompetensi guru yang semakin baik maka siswa pun akan meningkat kompetensinya. Ketiga, kebutuhan domestik. Indonesia sebagai negara yang ekonominya tengah berkembang membutuhkan pasokan sumber daya manusia yang banyak pula. Agar ekonomi suatu negara kuat, tentunya dibutuhkan keandalan dari para penduduknya. Karena itu, manjadi tugas Pemerintah mencetak generasi unggul di masa depan melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Keempat, besarnya penduduk muda Indonesia dipandang sebagai suatu tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Pola-pola pengajaran monoton selayaknya mulai ditiinggalkan. Sebab, generasi milenial lazimnya cepat jenuh dan menyukai kegiatan yang dinamis. Seperti yang dikatakan oleh Mendikbud, bahwa seorang guru atau tenaga kependidikan merupakan profesi dengan tanggung jawab besar. Mereka menjadi tulang punggung keberlangsungan generasi penerus bangsa. Bercermin pada kenyataan tersebut, menjadi penting untuk secara terus-menerus mendongkrak kompetensi guru. Guru disebut sebagai akar rumput dalam pendidikan. Dikatakan bahwa tanpa guru, tidak akan ada pendidikan yang menghijau, dan selamanya pendidikan tidak akan subur, kalau gurunya tidak subur.

Conclusion

Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas, menjawab pertanyaan urgensi penyesuaian metode pembelajaran di era disruptive dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Adaptasi metode pembelajaran sangat penting dilakukan, karena kita menyiapkan generasi mendatang, sesuai dengan hadis Nabi Muhammad Saw, yang menjadi titik tolak, hendaknya kalian mengajari anak-anak kalian sesuai dengan kondisi zamannya. 2. Perkembangan teknologi yang cepat dengan keniscayaan perubahan, mengharuskan kita membekali anak-anak dengan kemampuan berpikir cepat (sur’atul badriyah) dalam memutuskan sesuatu saat mengatasi perubahan teknologi. 3. Pembelajaran model Higher Order Thingking Skill (HOTS) yang kini dilaksanakan oleh Kemdikbud menjadi satu cara untuk menyiapkan generasi yang mampu berpikir cepat, terutama dalam menyiapkan kompetensi untuk melakukan pekerjaan. 4. Penggunaan metode pembelajaran terbaru dengan sintak yang merangsang berpikir cepat, seperti discorey learning, inquiry, dan sejenisnya sangat cocok digunakan dikombinasikan dengan teknologi digital. Saran Adapun saran yang perlu penulis sampaikan sebagai berikut. 1. Pembentukan karakter generasi dengan pengetahuan dan pendalaman aagama sangat penting. 2. Tim pengembangan Kemdikbud harus terus merancangan metode pembelajaran terbaru yang sesuai dengan zaman (pemutahiran metode pembelajaran).