Kembali
16
1
2014 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 2 · 1 ISSN 2549-1334

SEJARAH PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN DI INDONESIA

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstract

Libraries in Indonesia havebeen established since the time of Majapahit,which then,according to the ebb and flow of Indonesian history. Thedevelopment of the library at the time marked by the royal librarycultivated a more religious and feudalistic. In the Dutch colonial era,libraries hadbeen used as a vehicle to perform the occupation. Recedingrapidly developing libraries in Indonesia occurred at the time of theJapanese. Later, a few years after Indonesian IndependenceProclamation,libraries in Indonesiawere gradually developed. In theNew Order Era,library development hadbecome one of the sub development outlined inREPELITA (Indonesian Development Plans for the next 5 years)
Keywords: Sejarah perpustakaan Indonesia

Introduction

Perpustakaan merupakan pranata masyarakat. Oleh karena itu, jika kita berbicara tentang perkembangan perpustakaan, khususnya di Indonesia, maka hal ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan masyarakat dan peradabannya. Sejarah perpustakaan di Indonesia tidak terlepas dari sejarah perkembangan peradaban. Sesuai dengan sejarah peradaban bangsa Indonesia, maka keberadaan perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda dibandingkan dengan di negara-negara Eropa dan Arab. Awal mula perpustakaan di Indonesia tidak dapat diketahui secara pasti, namun ada yang menyatakan bahwa lahirnya perpustakaan di Indonesia seiring dengan dikenalnya sistem tulisan. Namun, pada akhirnya pernyataan tersebut tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Perjalanan panjang sejarah telah mencatat bahwa Indonesia mengalami pasang surut dalam membangun peradabannya. Diawali dengan adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan negara-negara lain, terutama India Selatan dan Cina. Hubungan ini membawa pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat Indonesia, baik dari segi ekonomi, budaya, maupun agama. Terjalinnya hubungan dagang tersebut menyebabkan masyarakat Indonesia mulai mengenal agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India Selatan. Hal ini dibuktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di beberapa wilayah di Indonesia. Tingginya peradaban dan besarnya kekuatan Nusantara pada waktu itu telah membawa pengaruh yang kuat terhadap perkembangan kebudayaan, dan perkembangan kebudayaan inilah yang mendorong adanya embrio-embrio perpustakaan di Nusantara. Pada saat itu, kebutuhan akan pelestarian budaya dan keagungan bangsa mulai dirasakan, sehingga usaha-usaha untuk menuangkan budaya dan keagungan itu dalam bentuk tertulis mulai dilakukan. Membahas tentang sejarah perpustakaan di Indonesia tidaklah mudah karena ternyata perkembangannya seiring dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Perkembangan perpustakaan di Indonesia dapat dibedakan dalam lima periode, yaitu: 1. **Zaman Kerajaan Lokal** Kepastian kapan perpustakaan didirikan secara resmi di Indonesia, khususnya pada periode sebelum penjajahan atau periode kerajaan lokal, ada beberapa pendapat baik dari sejarawan maupun dari pustakawan Indonesia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa awal mula perpustakaan di Indonesia ditandai dengan dikenalnya sistem tulisan. Pendapat ini tidak banyak yang membenarkan dengan alasan bahwa institusi berupa perpustakaan tidak selalu dikaitkan dengan pengenalan tulisan, walaupun nantinya perpustakaan berfungsi untuk menyimpan tulisan pada lontar dan papirus. Dengan demikian, jika awal perpustakaan dikaitkan dengan tulisan, berarti sejarah perpustakaan di Indonesia dimulai sejak ditemukannya beberapa prasasti yang dipahat di atas tiang batu di kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) pada abad ke-5 M. Tiang batu itu disebut dengan Yupa. Huruf yang dipakai pada yupa ini adalah huruf Pallawa (huruf India Selatan) dan bahasanya Sansekerta, isinya tentang raja Kutai. Tulisan tersebut tidak disimpan di sebuah tempat melainkan dipancangkan di tempat yang terbuka agar terlihat oleh rakyat. Bila berpedoman pada definisi bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian, atau sub-bagian dari sebuah gedung atau pun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku, biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu serta digunakan untuk anggota perpustakaan. Karena itu, pendapat atau anggapan bahwa Indonesia telah mengenal perpustakaan sejak zaman kerajaan Kutai tidak dapat diterima (Sulistyo-Basuki, 1994). Pendapat selanjutnya mengatakan bahwa perpustakaan sudah mulai dikenal di Indonesia sejak zaman kerajaan Sriwijaya sekitar tahun 692 M. Pendapat para pustakawan tersebut umumnya tidak ditunjang oleh penelitian yang mendalam, hanya berdasarkan asumsi bahwa Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar pada masa lalu sehingga dianggap pasti memiliki perpustakaan. Hal ini didukung oleh adanya informasi dari seorang musafir I-tsing dari Cina yang menyatakan bahwa sekitar tahun 695 M di ibukota kerajaan Sriwijaya hidup lebih dari 1.000 orang biksu. Di samping tugas keagamaan, biksu ini bertugas mempelajari agama Buddha melalui berbagai buku. Jika dikaji lebih lanjut, tentunya seribu biksu itu memerlukan buku agama Buddha yang masih ditulis tangan dan disimpan di berbagai biara. Bila hal ini benar, maka mungkin saja waktu itu sudah ada perpustakaan dengan alasan naskah agama Buddha disimpan di sebuah tempat serta digunakan oleh para pemakai (para biksu). Pendapat bahwa di zaman kerajaan Sriwijaya telah ada perpustakaan lebih berdasarkan pada analogi daripada penelitian. Setelah Sriwijaya (di Palembang), kemudian muncul berbagai kerajaan di pulau Jawa seperti kerajaan Mataram pada abad ke-6 yang mula-mula berpusat di Jawa Tengah kemudian pindah ke Jawa Timur. Pada masa itu, mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Yang pertama adalah naskah Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Buddha Mahayana. Selanjutnya muncul dua buah kitab keagamaan yaitu kitab Brahmandapuranadan Agastyaparwa. Dan masih banyak lagi karya-karya lainnya. Selanjutnya, kerajaan Kediri, kerajaan Singhasari, dan kerajaan Majapahit. Pada zaman Majapahit, ditulis berbagai naskah, misalnya Mpu Prapanca mengarang buku Negarakertagama, sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma. Tercatat pula karangan-karangan lain seperti Kidung Harsawijaya, kidung Ranggalawe, Sorandaka, dan Sundayana. Umumnya naskah tersebut disimpan di keraton. Jika dilihat dari segi perpustakaan, benarkah ada perpustakaan keraton pada saat itu? Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, pada zaman kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta, Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa. Cirebon adalah salah satu penghasil buku terbanyak sehingga Cirebon dapat dikatakan sebagai pusat perbukuan pada masanya. Umumnya buku-buku tersebut disimpan di istana, tentunya menimbulkan rasa ingin tahu bagaimana penyusunan buku-buku tersebut serta adakah katalognya? Sayangnya tidak ada sumber yang menjelaskan kepastian tentang itu, namun banyak dugaan bahwa pada saat itu sudah ada perpustakaan dan katalog. Tradisi budaya Indonesia yang lebih mementingkan budaya lisan daripada tulisan menyulitkan peneliti untuk membuktikan penelitiannya secara akurat mengenai perpustakaan pada zaman kerajaan-kerajaan lokal di Nusantara (Sulistyo-Basuki, 1994). 2. **Zaman Penjajahan Hindia Belanda** Perang salib yang berkepanjangan tidak hanya menimbulkan korban jiwa maupun harta di kedua belah pihak yang berperang, tetapi juga menyebabkan terjadinya penjajahan yang mengakibatkan penderitaan bagi negara yang terjajah. Semangat imperialisme tumbuh pada bangsa-bangsa Eropa untuk memperluas daerah jajahannya karena beberapa faktor di antaranya: 1) Jatuhnya Konstantinopel ke tangan bangsa Turki pada tahun 1453 yang mengakibatkan terputusnya hubungan dagang antara Eropa dengan Asia Barat. Sebelum dikuasai oleh bangsa Turki, Konstantinopel dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah di sekitar laut Tengah. 2) Pada saat itu terjadi krisis ekonomi dan kekurangan bahan makanan melanda daratan Eropa, harga rempah-rempah dan bahan mentah lainnya sangat mahal. 3) Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu ditemukannya kompas dan senjata. Kompas berfungsi sebagai penunjuk arah pelayaran. 4) Adanya buku Imago Mundi yang berisikan kisah perjalanan Marco Polo. Buku tersebut menceritakan tentang dunia Timur yang kaya dengan emas dan rempah-rempah. 5) Adanya semangat reconquista yaitu semangat pembalasan bangsa Eropa terhadap kekuasaan Islam. Sekitar awal abad ke-16 orang-orang Eropa mulai berdatangan ke Nusantara, diawali oleh kedatangan bangsa Portugis pada tahun 1510. Pada tahun 1512, imperialisme Portugis mulai ditanamkan di Indonesia dengan semboyan “gold, gospel, and glory” artinya mencari emas, kekuasaan, dan sekaligus menyebarkan agama Kristen. Selanjutnya disusul oleh bangsa Inggris, Prancis, Denmark, Spanyol, Belanda, dan Jepang. Bangsa Belanda mengetahui jalan menuju Indonesia melalui petunjuk Jan Hugyen Van Liusoten, orang Belanda yang pernah bekerja pada Portugis dan pernah sampai di Indonesia. Bangsa Belanda kemudian melakukan pelayaran menuju Indonesia melalui jalan utara untuk menghindari armada Portugis. Awalnya bangsa Belanda gagal karena terhalang oleh salju di daerah kutub utara. Untuk melanjutkan usahanya, beberapa pengusaha Belanda membentuk perkumpulan dagang yang disebut dengan Compagnie van Verre. Mereka kemudian melanjutkan pelayarannya ke Nusantara yang dipimpin oleh Cornelist de Houtman dan Pieter Keyger pada tahun 1596. Pelayaran untuk mencapai Nusantara ternyata tidaklah mudah, pelayaran melalui Tanjung Harapan menuju selat Sunda. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu tahun, mereka akhirnya sampai di pelabuhan Banten, Jawa Barat. Sikap sombong dan angkuh orang-orang Belanda ini menyebabkan mereka diusir dari Banten. Mereka terpaksa berlayar ke Timur sampai di Madura. Di Madura, mereka juga berselisih dengan para pedagang di sana, sehingga mereka terpaksa harus diusir dan mencari daerah lainnya. Mereka kemudian berlayar menuju Maluku, selanjutnya tiba di Bali melalui selat Sunda. Kedatangan bangsa Belanda di Banten yang kedua kalinya, mereka bersikap bersahabat sehingga disambut baik oleh masyarakat. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan untuk memborong rempah-rempah. Orang-orang Eropa yang datang di Indonesia, selain mencari rempah-rempah, mereka juga giat menyebarkan agama Kristen terutama di Indonesia bagian Timur. Penyebaran agama ini biasanya diikuti dengan pembangunan fisik gedung gereja. Pembangunan gereja ini selalu disertai dengan penyediaan berbagai buku keagamaan seperti injil, mazmur, dan buku-buku doa lainnya. Karenaketerbatasan buku, maka buku-buku semacam ini tidak dipinjamkan tetapi hanya boleh dibaca di gereja atau gedung yang berdekatan dengan gereja. Namun koleksi tersebut belum dapat disebut perpustakaan karena buku-buku disusun secara sederhana, orientasinya hanya untuk pengajaran, jumlahnya relatif kecil, serta pemakaiannya sangat terbatas (Nurhadi, M.A., 1983). Berdasarkan sumber sekunder, perpustakaan yang pertama didirikan pada zaman Hindia Belanda adalah sebuah perpustakaan gereja di Batavia (Jakarta) yang telah dirintis sejak tahun 1624. Karena berbagai kesulitan, sehingga perpustakaan ini baru diresmikan pada tanggal 27 April 1643. Perpustakaan ini merupakan perpustakaan tertua yang didirikan oleh Belanda untuk memperkuat usaha penjajahannya di Indonesia. Perpustakaan gereja Batavia (Jakarta) pada waktu itu meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit Batavia, bahkan peminjaman buku diper luas sampai ke Semarang dan Juana (Jawa Tengah). Jadi dapat dikatakan bahwa pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan. Berita tentang kegiatan perpustakaan gereja Batavia tidak lagi kedengaran. Lebih seratus tahun kemudian berdirilah perpustakaan khusus di Batavia pada tanggal 24 April 1778, yang disebut dengan “Bataviaasche Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen (BGKW)” yang diprakarsai oleh Mr. J.C.M. Rademaker (dewan Hindia Belanda). Berdirinya perpustakaan atau lembaga ini, atas sumbangan-sumbangan dari para dermawan hingga tahun 1844. Kemudian pada tahun 1846 perpustakaan tersebut mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia dengan judul Bibliotecae Artium scientiarum quae Batavia Floret Catalogue Systematicus hasil suntingan P. Bleeker. Edisi kedua terbit pada tahun 1848 dalam bahasa Belanda. Koleksi-koleksinya diperoleh dari lembaga-lembaga penerbitan ilmiah di negeri Belanda dan dari hasil pembelian yang dananya diberikan oleh gubernur jenderal di Indonesia. Sebagian besar isi koleksi itu tentang: 1) Etnologi (ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk masalah kebudayaan dari suku bangsa suatu daerah di seluruh dunia secara komparatif dengan tujuan mendapatkan informasi tentang sejarah dan perkembangan serta penyebaran kebudayaan). 2) Antropologi (ilmu yang mempelajari tentang asal usul manusia, kepercayaannya, bentuk fisik, warna kulit, dan budayanya di masa silam). 3) Arkeologi (ilmu yang mempelajari tentang kehidupan dan kebudayaan kuno, ilmu yang mempelajari peninggalan-peninggalan bersejarah). Karena prestasinya yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, maka namanya ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen. Nama lembaga ini berubah pada tahun 1950 menjadi lembaga kebudayaan Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1962 lembaga kebudayaan Indonesia diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia, dan namanyapun berubah menjadi Museum Pusat. Koleksi perpustakaan menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan nama Perpustakaan Museum Pusat. Museum ini kemudian berubah lagi namanya menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal sebagai Perpustakaan Museum Nasional. Pada tahun 1980 perpustakaan ini dilebur ke pusat pembinaan perpustakan. Perubahan lagi terjadi pada tahun 1989 tatkala pusat pembinaan perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Untuk memperkuat kekuasaan atau penjajahannya di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda mendirikan berbagai lembaga baik lembaga penelitian maupun lembaga pemerintahan di beberapa kota di Indonesia. Contoh, pada tahun 1842 telah dibangun Bibliotheek’s Lands Plantentuin te Buitenzorg di Jakarta. Pada tahun 1911 namanya berubah menjadi Central Natuurwetenschap-pelijke Bibliotheek van het Department van Landbouw, Nijverheid en Handel. Namanya kemudian berubah menjadi Bibliotheca Bogoriensis. Tahun 1962 berubah menjadi pusat perpustakaan penelitian teknik pertanian dan pusat perpustakaan biologi dan pertanian. Kini namanya menjadi perpustakaan pusat pertanian dan komunikasi penelitian (Sulistyo-Basuki, 1994). Sedangkan di Bandung telah didirikan perpustakaan negara Pasteur pada tahun 1890, balai hidrologi dan hidrometri pada tahun 1914, dan observatorium bosscha pada tahun 1920, yang kemudian menjadi lembaga astronomi Lembang. Pendirian lembaga-lembaga dan balai tersebut juga diikuti dengan perpustakaan masing-masing. Volksbibliotheek atau perpustakaan rakyat yang didirikan oleh Volkslectuur kelak berubah menjadi Balai Pustaka. Sejak tahun 1910 Balai Pustaka tidak hanya menerbitkan buku ceritasaja tetapi juga buku-buku pengetahuan populer. Majalah juga sudah mulai diterbitkan dengan judul Panji Pustaka untuk yang berbahasa Melayu, Kejawen dengan bahasa Jawa, dan Parahiyangan dalam bahasa Sunda. Pada tahun 1913 mulai diperkenalkan peraturan karya cetak dengan peraturan pemerintah no. 19 yang dimuat dalam staatsblad no. 7981. Peraturan itu berisi tentang dua hal, yaitu: 1) Pemerintah setempat diminta untuk menyerahkan semua karya cetak baik yang berupa buku, majalah, Koran, peta, dan sebagainya, yang sejak tahun 1856 dikumpulkan dan yang dinyatakan telah lolos dari sensor kepada direksi Bataviassch Genootschap van Kunsten en

Conclusion

Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia menunjukkan jatuh bangun dalam membangun peradabannya. Banyak gangguan-gangguan yang muncul baik dari dalam maupun dari luar. Gangguan-gangguan tersebut tidak dapat mematahkan semangat untuk membangun bangsanya. Sebelum bangsa penjajah menginjakkan kaki dan menanamkan kekuasaannya, di Indonesia telah ada kerajaan lokal. Awal mula sejarah perpustakaan di Indonesia dirintis sejak zaman Majapahit yang berupa perpustakaan kerajaan. Kemudian, pada zaman penjajahan Hindia Belanda, didirikan perpustakaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh Belanda di Jakarta sebagai usaha untuk memperkuat kekuasaannya di Indonesia. Untuk kepentingan penjajahannya, bangsa Belanda juga mendirikan perpustakaan-perpustakaan khusus guna menunjang berbagai lembaga penelitiannya di segala bidang. Pada saat itu pula didirikan penerbit. Penerbit yang pertama yaitu Commisie voor de Yolkslectuur pada tahun 1908, yang sekarang namanya berganti menjadi Balai Pustaka. Pada zaman ini pula diberlakukan undang-undang tentang peraturan bahwa wajib serah karya cetak dengan peraturan pemerintah no. 19. Pada akhir periode penjajahan bangsa Belanda, baru dikembangkan perpustakaan volsbibliotheek yang berfungsi sebagai taman bacaan untuk rakyat. Periode ini kemudian dianggap sebagai lahirnya perpustakaan umum di Indonesia, yang sebelumnya hanya ada perpustakaan kerajaan. Berbeda dengan periode sebelumnya, pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia, perpustakaan hampir dapat dikatakan tidak berkembang sama sekali. Nanti setelah kemerdekaan, terutama dalam rangka nation and character building, perpustakaan di Indonesia mulai berkembang lagi. Sehubungan dengan usaha untuk pemberantasan buta huruf pada tahun 1957, didirikanlah perpustakaan rakyat di mana-mana. Pada periode ini juga merupakan berdirinya perpustakaan negara dan biro perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian menjadi pusat pengembangan perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gagasan untuk mendirikan perpustakaan nasional juga muncul pada masa ini. Pada masa Orde Baru, perkembangan perpustakaan di Indonesia mengalami masa pembinaan dan pengembangan yang serius. Pelita demi Pelita, berbagai upaya dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung pembinaan dan pengembangan perpustakaan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah berupa mendirikan proyek perintis perpustakaan sekolah, percetakan berbagai jenis buku paket untuk berbagai jenjang dan jenis sekolah, usaha penerbitan buku, ditingkatkannya peranan perpustakaan negara, dikembangkannya perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, dikoordinasikannya perpustakaan-perpustakaan khusus dalam bentuk jaringan kerjasama, dan dirintisnya berbagai upaya untuk mendirikan perpustakaan di Indonesia.