Kembali
16
1
2023 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 14 · 1 ISSN 2715-274X

Sejarah Jogja Library Center (JLC) Balai Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk menuliskan sejarah Jogja Library Center (JLC) Balai Layanan Perpustakaan (Balai Yanpus) Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode sejarah. Penulis menggunakan sumber sejarah primer foto, gambar, arsip web, buku-buku dari Penerbit Kolff-Buning dan sumber sejarah sekunder jurnal ilmiah, artikel-artikel website yang membahas topik, katalog daring, dan buku-buku terkait topik. Hasil penelitian yaitu narasi sejarah JLC yang memiliki akar sebagai Toko Buku dan Penerbitan sejak 1930-an, kantor Domei pada masa pendudukan Jepang, percetakan negara pada masa kemerdekaan, menjadi Perpustakaan Negara, Perpustakaan Daerah, dan hingga saat ini sebagai Jogja Library Center. Dalam penulisan sejarah, penulis memandang masih perlu penjelasan yang lebih rinci dan lebih pasti pada penentuan tahun berdiri Kolff-Buning, kepastian pemilik Kolff-Buning, hubungan antara G. Kolff & Co. dengan Kolff-Buning, tokoh-tokoh yang berperan dan berhubungan dengan Kolff-Buning, serta peran Kolff-Buning di bidang sastra, literasi, perbukuan dan percetakan, surat kabar, dan film. Selain itu, perubahan nama dan fungsi setelah tahun 1952 juga perlu penjelasan yang lebih terperinci, dapat bersumber dari arsip yang tersimpan di DPAD DIY. Narasi sejarah JLC ini memberikan wawasan baru mengenai kekayaan historis JLC yang selama ini belum diteliti.

Abstract

This paper aims to write down the history of the Jogja Library Center (JLC) of the Library Service Center (Balai Yanpus) of the Regional Library and Archives Service (DPAD) of the Special Region of Yogyakarta (DIY). In this research, the writer uses historical method. The author draws on primary historical sources photos, images, web archives, books from Kolff-Buning Publishing and secondary historical sources from scientific journals, website articles covering the topic, online catalogs, and books related to the topic. The results of the research are historical narratives of JLC which has roots as a Bookstore and Publishing since the 1930s, the Domei office during the Japanese occupation, the state printing house during the independence period, became the State Library, Regional Library, and until now as the Jogja Library Center. In writing history, the author believes that a more detailed and more certain explanation is still needed on determining the year Kolff-Buning was founded, the certainty of the owner of Kolff-Buning, the relationship between G. Kolff & Co. with Kolff-Buning, figures who play a role in and relate to Kolff-Buning, as well as Kolff-Buning’s role in the fields of literature, literacy, books and printing, newspapers, and films. In addition, changes in name and function after 1952 also need a more detailed explanation, which can be sourced from archives stored in DPAD DIY. This historical narrative of JLC provides new insights into the rich history of JLC that has not been researched so far</p>
Keywords: Sejarah jogja library center · Sejarah jlc balai layanan perpustakaan DPAD DIY · Jogja library center

Introduction

Jogja Library Center (JLC) adalah salah satu layanan ekstensi dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Layanan Perpustakaan (Balai Yanpus) Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY yang berlokasi di Jalan Malioboro Yogyakarta. UPT Balai Yanpus adalah unit DPAD DIY untuk pelayanan bahan pustaka dengan tugas untuk mening-katkan kualitas layanan perpustakaan (DPAD DIY, 2021). DPAD DIY adalah instansi dalam struktur pemerintahan Provinsi DIY yang mempunyai tugas membantu Gubernur dalam urusan pemerintahan bidang perpustakaan serta kearsipan, sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Gubernur DIY No. 70 Tahun 2018 (DPAD DIY, 2022a). Untuk menginformasikan layanannya, DPAD DIY mengembangkan website dpad.jogjaprov.go.id. UPT Balai Yanpus juga memiliki website dengan alamat balaiyanpus.jogjaprov.go.id. Di dalam kedua website tersebut terdapat halaman sejarah DPAD DIY (balaiyanpus.jogjaprov.go.id/static/sejarah-balaiyanpus, balaiyanpus.jogjaprov.go.id/ static/sejarah-dpad-daerah-istimewa-yogya karta dan dpad.jogjaprov.go.id/sejarah-dpad-diy-6), namun kurang menjelaskan secara detail mengenai JLC. Dalam halaman web sejarah itu disebutkan sekilas tentang gedung JLC, yaitu bahwa gedung Jl. Malioboro 175 adalah bekas Toko Buku dan Penerbitan “Kolf Buning” yang dijadikan lokasi baru Perpustakaan Negara. Perpustakaan itu dipindah karena gedung yang lama di Jl. Tugu 66 dipandang tidak representatif lagi (DPAD DIY, 2023).Penjelasan lebih lanjut tentang JLC penulis temukan dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang menyebutkan bahwa gedung yang digunakan JLC telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2007. Dalam Peraturan Menteri tersebut dijelaskan bahwa JLC dibangun pada masa Belanda; sempat dijadikan Kantor Domai pada zaman pendudukan Jepang; baru kemudian setelah merdeka difungsikan menjadi perpus-takaan (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2007). Penulis kemudian menemukan beberapa penelitian-penelitian sebelumnya yang membahas tentang JLC, tetapi bukan tentang sisi sejarahnya. Pertama, penelitian oleh C. Suryandari dan Jumino tentang analisis desain interior lantai dua JLC (Suryandari & Jumino, 2017). Kedua, S. C. Tyas meneliti tentang redesain interior JLC agar dapat memudahkan pelayanan pemustaka mengakses pustaka langka serta memberi perlindungan terhadap pustaka langka tersebut (Tyas, 2017). Ketiga, A. D. Kurniawati dan A. Irhandayaningsih menulis tentang pandangan pedagang Malioboro terhadap perpustakaan JLC (Kurniawati & Irhan-dayaningsih, 2018). Keempat, B. M. Aisyiah dan R. I. P. Ganggi membahas tentang pelestarian surat kabar Kedaulatan Rakyat di JLC (Aisyiyah & Ganggi, 2019). JLC ternyata selain sebagai perpustakaan, juga merupakan cagar budaya, namun sayangnya belum ada penjelasan sejarah yang lebih lengkap tentangnya. Selain itu, penelitian-penelitian menyangkut JLC belum ada yang spesifik membahas tentang sejarahnya. Oleh sebab itu, penulis saat menjalani Praktikum Perpustakaan di JLC pada Maret-Mei 2022 melakukan penelitian ini dengan rumusan masalah: bagaimana menulis sejarah JogjaLibrary Center (JLC) UPT Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY. Tujuannya adalah untuk menuliskan sejarah JLC UPT Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY dalam rangka menambah wawasan sejarah JLC kepada masyarakat

Method

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode sejarah, mengingat penelitian ini membahas topik tertentu yang terjadi pada masa lampau. Penulis menggunakan sumber sejarah primer dan sekunder. Sumber sejarah sekunder yang penulis gunakan adalah: jurnal ilmiah, artikel-artikel di website yang membahas topik, katalog daring dan buku-buku terkait topik. Sumber sejarah primer, yaitu yang berasal dari kesaksian orang pertama adalah foto, gambar, arsip web, dan buku-buku yang diterbitkan oleh Penerbit Kolff-Buning. Selain itu, penulis melakukan observasi di JLC dan wawancara terhadap para pegawai JLC untuk konfirmasi data. Setelah penulis melakukan kritik/verifikasi sumber dan interpretasi terhadap fakta-fakta sejarah, hasil sintesis/histo-riografi penulis sajikan dalam bab Hasil dan Pemba-hasan

Discussion

Toko Buku dan Percetakan “Kolff-Buning” (1930-an - 1942)Bangunan JLC berasal dari peninggalan N.V. (Naamloze Vennootschap) Boekhandel en Drukkerij(Toko Buku dan Percetakan) “Kolff-Buning”. Sebuah foto amplop pengiriman dari toko buku itu memperlihatkan penulisan dalam bahasa Belanda dengan jelas (Bambang, 2013). Penulisan nama dari perusahaan tersebut bermacam-macam, seperti: ‘Peroesahaan Penerbitan Kabe (Kolff-Buning)’ dengan kota terbit ‘Jogjakarta’ atau ‘Djocja’ atau ‘Djokja’; atau hanya ditulis ‘Kolff-Buning Djokja’ saja (worldcat.org, 2022). Dari beberapa sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa Kolff Buning adalah sebuah perusahaan swasta Belanda yang bergerak dalam bidang: penjualan buku-buku berbahasa Indonesia/Melayu, Belanda, dan Jawa; percetakan; dan penerbitan.Buku-buku terbitan Kolff-Buning tercatat di katalog daring Worldcat.org dan Indonesia Onesearch Perpustakaan Nasional RI dengan tahun terbit terbanyak pada tahun 1930-an dan 1940-an (Perpustakaan Nasional RI, 2022; worldcat.org, 2022). Hal tersebut menunjukkan masa aktif Penerbit Kolff-Buning. Buku-buku penulis terkenal diter-bitkan oleh Kolff-Buning, antara lain: Raden Ngabei Ranggawarsita, Njoo Cheong Seng, Ketjindoean (nama samaran), Ferry Kok, Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, J Bijleveld, Saeroen, Roestam Soetan Palindih, Theodore G Th Pigeaud, dan Willem Frederik Stutterheim (worldcat.org, 2022). Kolff-Buning juga menerbitkan majalah ‘Ratoe Timoer’, yang nantinya berganti nama menjadi ‘Radja Timoer’ dan ‘Poestaka Timoer’ (Horton, 2018).Ketjindoean (sebuah nama samaran) menulis karya novel berseri bergenre detektif yaitu ‘Patjar Koening’ pada tahun 1941 diterbitkan oleh Kolff-Buning. Seri novel tersebut terbit hingga tujuh seri. Judul-judul seri tersebut adalah: Serie IRahasia Pemboenoehan jang Gelap, Serie II Gadis Hilang, Serie III Pemboenoehan di atas Panggoeng Komedi, Serie IV Rahasia Oeang Palsoe, Serie V Kedjadian jang Aneh, Serie VI Rahsia Tas Hitam, Serie VII Pembongkaran Toko Tas Hitam, Serie VIII Dalam Perangkap. Seri berikutnya tidak pernah terbit karena masuknya Jepang ke Yogyakarta (Horton, 2018).Penerbit Kolff-Buning juga aktif menerbitkan versi novel dari sebuah film. Film yang telah diputar di bioskop dibuat novelnya kemudian. Hal ini dikenal dengan istilah novelisasi; lawannya adalah ekranisasi, yaitu dari novel diwujudkan ke film (Woodrich, 2018). Beberapa film yang telah dibuat novelnya adalah: Bajar dengan Djiwa, Sorga ke-Toedjoeh, Kris Mataram, Garoeda Mas, Matula, Zoebaida, Pantjawarna, Melati Van Agam, Harta Berdarah, dan Rentjong Atjeh. Sebuah potongan iklan media cetak tahun 1940 menunjukkan informasi yang terang bahwa Penerbit Kolff-Buning menyediakan buku novel dari film-film tersebut (Uncredited employee(s) of Tan’s Film Company, 1940). Di bagian belakang gedung JLC, masih dapat dilihat beberapa peninggalan alat-alat percetakan yang diproduksi oleh Lettergieterij “Amsterdam” Voorheen n Tetterode, Amsterdam-Rotterdam dan Karl Krause Leipzig. Hal ini adalah bukti yang terang bahwa gedung ini dahulu memang merupakan percetakan. Lettergieterij Amsterdam adalah perusahaan desain huruf untuk percetakan yang dimiliki oleh Nicolaas Tetterode (Krol, 2012). Pada awal 1900-an, terjadi permintaan yang cukup tinggi terhadap mesin cetak di Hindia Belanda, sehingga membuat Lettergieterij Amsterdam membuka cabang pemasaran di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1919 (Gunarta, 2021).Penulis belum bisa menentukan tahun pasti Kolff-Buning berdiri. Namun, ada kisah tentang perusahaan terkenal G. Kolff & Co. di Batavia. Pada tahun 1850-an, Gualtherus Johannes Cornelis Kolff meneruskan usaha toko buku yang telah dirintis oleh Van Haren Noman pada 1948. Kolff mengambil alih bisnis rintisan Van Haren Noman di Batavia dan menamainya G. Kolff & Co. Perusahaan G. Kolff & Co. itu membuka cabang di beberapa kota di Jawa termasuk Yogyakarta (Firdausi & Teguh, 2020). Meski begitu, penulis belum menemukan referensi yang menunjukkan hubungan antara G. Kolff & Co. dengan Kolff-Buning di Yogyakarta. Kantor Berita Domei Jepang (1942-1945)Ketika pemerintahan Hindia Belanda jatuh pada 1942, semua perusahaan percetakan dikuasai oleh pemerintah Jepang, baik milik pemerintah maupun perusahaan cetak swasta (Departemen Penerangan RI, 1986). Jepang masuk ke Yogya-karta pada 5 Maret 1942 (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, 2021). Selanjutnya, oleh pemerintahan Jepang, Kolff-Buning dijadikan kantor penerangan dan propaganda, yaitu menjadi Kantor Berita Domei(BPCB DIY, 2022).Percetakan Negara di bawah Kementerian Penerangan (sejak 1945)Saat Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, pemuda di Kantor Berita Domei Jakarta berusaha menyebarkan informasi tersebut ke seluruh penjuru tanah air. Pekerja dan wartawan yang bekerja di Kantor Berita Domei Yogyakarta ikut menerima informasi tersebut dan segera menyebarkan meski dilarang oleh Gunseikanbu. Pada hari itu, bertepatan dengan hari Jumat, berita proklamasi disebarkan secara sembunyi-sembunyi (Suratmin, t.t.).Pada bulan itu, percetakan Kolff Buning berhasil diambil alih, kemudian diserahkan kepada pemerintah RI dan dijadikan Percetakan Negara. Percetakan Negara di bawah Kementerian Penerangan ini memperoleh tugas untuk memberi penerangan seluas-luasnya kepada masyarakat, dengan mencetak terbitan seperti majalah, brosur, surat kabar, yang memuat berita dan siaran mengenai perjuangan bangsa Indonesia untuk melawan Belanda (Departemen Penerangan RI, 1986).Pada 4 Januari 1946, pemerintahan RI berpindah ke Yogyakarta, karena situasi Jakarta yang semakin tidak menentu. Sultan HB IX memberikan tawaran untuk perpindahan ibukota tersebut. Rombongan Soekarno-Hatta berangkat petang tanggal 3 Januari 1946 dengan kereta api, dan tiba di Yogyakarta keesokan harinya (Pusat Sejarah TNI, 2019).Seiring dengan rencana penerbitan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang ditetapkan pada 7 November 1945, dimulailah proses pencetakan ORI di Percetakan Republik Indonesia, Salemba, Jakarta. Namun, karena keadaan keamanan yang semakin memanas, pada Mei 1946, pencetakan ORI dipindahkan ke beberapa daerah yaitu: Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Ponorogo (Kementerian Keuangan RI, t.t.)Kertas bahan baku dari pabrik kertas Padalarang dikirim ke Yogyakarta dan kemudian disebar ke beberapa tempat penyimpanan, yaitu: rumah Pangeran Purbodirdjo di Kampung Patang-puluhan, pabrik gula, dan gudang percetakan bekas Kolff Buning yang berlokasi di Jl. Lodji Ketjil. Pence-takan ORI selanjutnya dibagi ke tiga percetakan yaitu: percetakan Kanisius, percetakan Kedaulatan Rakyat, dan percetakan bekas Kolff Buning. ORI bisa diterbitkan pada akhir Oktober 1946 (Dewi & Wedhaswary, 2018). Perpustakaan Negara RI dan Perpustakaan Wilayah Provinsi (sejak 1952)Sejarah ‘Perpustakaan Negara RI’ berawal dari Museum Sono Budoyo pada Januari 1948. Kemudian, perpustakaan dibuka di Jl. Mahameru daerah Kotabaru pada pertengahan 1948. Pada bulan Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer II. Tahun 1949, perpustakaan dibuka di Jl. Tugu no. 66 (sekarang Jl. Mangkubumi), bekas ‘Openbare Leeszaal en Bibliotheek’/ruang baca umum dan perpustakaan (DPAD DIY, 2023). Tanggal 17 Oktober 1949 dicatat sebagai hari kelahiran Perpustakaan Daerah DIY (DPAD DIY, 2023). Pada tahun 1950, Negara Republik Indonesia Serikat dilebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ibukota Republik Indonesia kembali ke Jakarta. Perpustakaan Negara RI yang direncanakan menjadi induk perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia, berubah perannya. Perpustakaan Negara di Semarang yang berdiri belakangan tidak menghendaki dibawahi Perpustakaan Negara RI, melainkan berada di bawah Kementerian Pendi-dikan dan Kebudayaan di Jakarta (DPAD DIY, 2023). Semenjak itu, Perpustakaan Negara RI di Yogyakarta tidak lagi dianggap sebagai perpustakaan induk, namun hanya sebatas Perpustakaan Provinsi. Pada 1952, “Perpustakaan Negara RI” diubah namanya menjadi “Perpustakaan Negara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan” Yogyakarta. Pada tahun 1952 itu Perpustakaan Negara yang berada di Jalan Tugu No. 66 dipindahkan ke gedung bekas Kolff-Buning, Jl. Malioboro no. 175. Gedung yang ditempati Jogja Library Center hingga kini (DPAD DIY, 2023). Pada tahun 1978, nama “Perpustakaan Negara Yogyakarta” diubah menjadi “Perpustakaan Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Semenjak Perpustakaan Wilayah Unit Badran, Jl. Tentara Rakyat Mataram no. 4, resmi dibuka pada 2 Februari 1984, koleksi ilmiah di Perpustakaan Malioboro dipindahkan ke unit baru itu; sementara koleksi humaniora/hiburan, majalah, surat kabar, serta koleksi anak-anak tetap di Unit Malioboro (DPAD DIY, 2023). Pada saat gedung JLC ditetapkan menjadi cagar budaya, yaitu tahun 2007, masih digunakan nama “Perpustakaan Nasional Provinsi” (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2007).JogjaLibrary Center (sejak sekitar tahun 2010 hingga sekarang)Berdasar website direktori Plaza Informasi Provinsi DIY tahun 2010, pada papan nama di depan gedung tertulis “JogjaLibrary Center”, meskipun nama perpustakaannya adalah “Perpustakaan Daerah Unit Malioboro” (D. H. Provinsi DIY, 2010). Pada tahun 2011, nama “JogjaLibrary Center” sudah cukup dipahami oleh masyarakat (Indoplaces.com, 2011; Lolytasari, 2011; Suryanto, 2012). Meskipun demikian, sekitar tahun 2012, dalam website BPAD DIY, istilah Perpustakaan “Unit Malioboro” masih pula dipakai (Provinsi D.I Yogyakarta, t.t.). Dalam peraturan terbaru, yaitu Peraturan Gubernur DIY nomor 32 tahun 2022, nama “JogjaLibrary Center” digunakan secara resmi (G. Provinsi DIY, 2022

Conclusion

Dalam penelitian ini, penulis dapat menuliskan sejarah Jogja Library Center (JLC) sejak 1930-an hingga sekarang; yaitu sejak pemerintahan Belanda, berganti dengan pemerintahan Jepang, masa perjuangan revolusi kemerdekaan, serta masa setelah pengakuan kedaulatan Indonesia. Gedung yang awalnya merupakan toko buku dan percetakan tersebut hingga kini tetap menjadi pencerah literasi masyarakat serta penyimpan sejarah dan kebudayaan masyarakat, meski zaman silih berganti. Meski begitu, terdapat beberapa hal yang belum dibahas secara detail yaitu: perihal penentuan tahun berdiri Kolff-Buning, kepastian pemilik Kolff-Buning, hubungan antara G. Kolff & Co. dengan Kolff-Buning, tokoh-tokoh yang berperan dan berhubungan dengan Kolff-Buning, serta peran Kolff-Buning di bidang sastra, literasi, perbukuan dan percetakan, surat kabar, dan film. Selain itu, perubahan nama dan fungsi setelah tahun 1952 juga perlu penjelasan yang lebih terperinci.SaranPenelitian lanjutan tentang sejarah JLC diperlukan untuk menambah referensi sumber primer demi memperjelas perihal penentuan tahun berdiri Kolff-Buning, kepastian pemilik Kolff-Buning, hubungan antara G. Kolff & Co. dengan Kolff-Buning, tokoh-tokoh yang berperan dan berhubungan dengan Kolff-Buning, serta peran Kolff-Buning di bidang sastra, literasi, perbukuan dan percetakan, surat kabar, dan film. Peneliti selanjutnya dapat merujuk pada sumber primer arsip DPAD DIY untuk menemukan sejarah perubahan nama Perpus-takaan sejak tahun 1952