Kembali
16
1
2019 Pustabiblia : Journal of Library and Information Science Vol 3 · 2 ISSN 2549-3868

Mengulik Sejarah Melalui Pemanfaatan Perpustakaan

Institut Agama Islam Negeri Salatiga

Abstrak

Sejarah tanpa dokumen tidak akan mampu ditulis. Tempat penyimpanan dokumen adalah perpustakaan. Tujuan penulisan ini adalah pertama, mengetahui pentingnya perpustakaan dalam bidang sejarah; kedua, mengetahui bentuk-bentuk pemanfaatan perpustakaan dalam bidang sejarah. Metode penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data observasi, studi dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini adalah pentingnya perpustakaan dalam bidang sejarah adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Sejarah tidak bisa dikuak manakala tidak ada dokumen atau data yang diperoleh dari perpustakaan. Bentuk-bentuk pemanfaatan perpustakaan dalam bidang sejarah adalah melalui koleksi perpustakaan. Adapun koleksi perpustakaan yang mendukung dalam penulisan sejarah yaitu karya cetak, karya noncetak, bahan grafika, dan karya dalam bentuk elektronik. Oleh karena itu, sejarah dan perpustakaan ibarat dua sisi mata angin yang tidak bisa dipisahkan.
Keywords: perpustakaan · sejarah

Introduction

“No document no history”, itulah sebuah sejarah. Sejarah selalu bergantung dengan sebuah dokumen. Sejarah selalu berkaitan dengan peristiwa yang sudah terjadi. Dimensi waktu sejarah yakni masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Itulah yang menjadikan sejarah selalu terkait satu dengan yang lainnya. Oleh karen itu, tanpa dokumen tidak akan dapat menuliskan sejarah. Meskipun dapat menggunakan sumber lisan sebagai salah satu cara mengulik sejarah. Namun, keterbatasan saksi sejarah, baik secara daya ingat maupun keberadaan saksi, itulah mengapa sejarah selalu bergantung pada dokumen. Dokumen itu adalah bagian vital dalam sejarah. Dokumen memiliki beberapa jenis baik yang bersifat primer maupun non-primer. Dokumen primer merupakan dokumen yang infomasinya begitu penting. Dokumen rekaman sezaman merupakan suatu dokumen utuk menyampaikan instruksi mengenai suatu transaksi atau membantu inatan orang-orang yang secara langsung terlibat di dalam transaksi itu. Contoh lain dari dokumen adalah laporan-laporan konfidensial, laporan laporan umum, questionnaire tertulis, dokumen pemerintah dan kompilasi, pernyataan opini, fiksi nyanyian dan puisi, foklore. Dokumen sekunder merupakan sumber sejarah digunakan untuk mendalami sumber-sumber primer. Tanpa dokumen maka sejarah tidak dapat tersampaikan kepada generasi selanjutnya. Perpustakaan merupakan tempat strategis dalam mengulik sejarah. Sebab, perpustakaan adalah gudang peradaban. Berbagai sumber informasi, baik berupa data primer maupun sekunder terdapat di perpustakaan. Untuk dapat mengulik sejarah seseorang perlu memiliki ketajaman berfikir dan berteori sehingga diperlukan literasi yang kuat dan beragam. Literasi merupakan kegiatan pembacaan baik secara tekstual maupun kontekstual. Salah satu tempat strategis dalam berliterasi adalah perpustakaan. Perpustakaan adalah gudang keilmun. Meskipun tidak dipungkiri pesatnya teknologi akses perpustakaan berkembang pesat menjadi digital. Hal ini memberikan ruang kepada setiap orang untuk memperoleh sumber literasi yang semakin lengkap dan up to date. Namun, persolan yang muncul adalah kecenderungan malas membaca menjadi sebuah kebiasaan yang sulit ditinggalkan, terutama generasi muda. Sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu yang tidak dapat berdiri sendiri. Sebab, sejarah syarat dengan masa lalu sehingga diperlukan ilmu bantu atau pendekatan lain dalam mempelajari sejarah. Ilmu bantu itu seperti ilmu sosiologi, antropologi, politik, geografi, ekonomi, dan sebagainya. Ini menunjukkan lemahnya penggunaan teori dalam kajian sejarah memang ada benarnya, karena sejarah memang tidak mempunyai teori. Miskin teori berakibat munculnya sejumlah contoh pernyataan dalam buku teks yang terlalu umum dan sulit diverifikasi kebenarannya. Oleh karena itu, diperlukan ketajaman seorang guru maupun sejarawan dalam berfikir multidimensional. Selain yang dikemukakan di atas tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertama, penting perpustakaan dalam mengulik sejarah. Kedua, untuk mengetahui bentuk-bentuk pemanfaatan perpustakaan dalam bidang sejarah. Berdasarkan hal tersebut, maka pada kesempatan ini penulis akan menjelaskan tentang pertama, mengapa perpustakaan penting dalam mengulik sejarah? Kedua, apa saja bentuk-bentuk pemanfaatan perpustakaan dalam bidang sejarah?

Method

Metode penulisan yang digunakan adalah 1. Observasi Pengumpulan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan tanpa ada pertolongan lain untuk keperluan tersebut. Dalam penelitian kali ini penulis melakukan observasi pada beberapa hal, yaitu a. b. 2. Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri Salatiga di Jalan Nakula Sadewa No VA, Dukuh, Salatiga. Penulis mencari tahu tentang mahasiswa Sejarah Peradaban Islam dalam memanfaatkan perpustakaan dalam mengulik sejarah. Wawancara Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam. Penulis mengajukan pertanyaan mengenai tempat pencarian sumber para mahasiswa dalam mengerjakan tugas sejarah. Seberapa penting perpustakaan bagi mereka 3. Studi Dokumentasi Penulis mendokumentasikan beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan tuags di perpustakaan.

Discussion

Pentingnya Perpustakaan dalam Bidang Sejarah Sejarah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang membicarakan tiga dimensi waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dimensi waktu itu saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Terutama, pembahasan masa lalu yang syarat dengan dokumen. Dokumen yang bertebaran di berbagai tempat menjadikan penulisan terkait sejarah tidak dapat lepas dengan perpustakaan sebagai gudangnya berbagai dokumen. No document no history merupakan semboyan yang tepat untuk sejarah. Oleh karena itu, perpustakaan penting dalam menelusuri dan menguak sejarah sebagai sumber informasi dan pelestarian. Sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu sosial yang tidak mempunyai teori sehingga tidak dapat berdiri sendiri. Hal ini menjadikan sejarah harus berkolaborasi dengan disiplin ilmu yang lain, terutama ilmu sosial lainnya. Hal ini menjadikan seorang penulis sejarah harus mempunyai hasil literasi yang beragam. Jika penulis sejarah miskin literasi ini menyebabkan subjektifitas dalam tulisan sangat dominan dan menyebabkan kredibilitas dan otentisitas informasinya menjadi lemah. Untuk mempunyai investasi literasi yang beragam dan banyak sehingga perpustakaan adalah tempat ideal. Maka, seseorang yang mengulik sejarah tidak dapat lepas dari perpustakaan. Cakupan materi dalam sejarah begitu komplek dan beragam. Materi sejarah berupa peristiwa, pelaku, organisasi, perlawanan, dan sebagainya baik dalam lingkup lokal, nasional maupun internasional. Berbagai materi tersebut mengajarkan tentang kepahlawanan, keteladanan, kepeloporan, patriotisme, nasionalisme, dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian. Selain itu, materi sejarah memuat ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Melihat urgensinya materi sejarah harus tersampaikan, maka fungsi perpustakaan sebagai wahana pendidikan harus diimplementasikan. Gambar 2. Perpustakaan sebagai Wahana Pendidikan Sumber dokumen penulis Mengulik sejarah tidak terlepas dari kegiatan penelitian. Sebab, data dalam sejarah terpencar di berbagai dokumen maupun referensi. Misalnya, mengulik tentang historiografi barat klasik maka harus mencari referensi tentang tokoh-tokoh filsuf barat. Setelah mendapatkan referensi tersebut harus diteliti apakah data tersebut valid atau tidak dengan melakukan kritik sumber. Setelah mendapatkan fakta kemudian dianalisis dan ditulis. Oleh karena itu, tempat mencari referensi yang utama adalah perpustkaan. Maka, perpustkaan penting dalam mengulik sejarah. Foto 1. Mahasiswa menggunakan buku dalam mengulik sejarah Sumber dokumen penulis Dengan demikian, pentingnya perpustakaan dalam bidang sejarah adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Hal ini sedana dengan Undang-U No.43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, pasal 3. Oleh karena itu, sejarah dan perpustakaan ibarat dua sisi mata angin yang tidak bisa dipisahkan. Bentuk-Bentuk Pemanfaatan Perpustakaan Dalam Bidang Sejarah Perpustakaan merupakan tempat peradaban dan tempat gudang keilmuan. Hal ini senada dengan peran sejarah sebagai pembentuk karakter generasi muda. Namun, mengulik sejarah tidak semudah dengan ilmu ilmu sosial lain. Sebab, sejarah selalu terikat oleh waktu, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Selain itu, untuk dapat mengulik sejarah membutuhkan dokumen. Maka, penulis sejarah harus dapat mengetahui koleksi yang ada di perpustakaan. Terdapat empat jenis koleksi perpustakaan yang mendukung dalam penulisan sejarah yaitu karya cetak, karya noncetak, bahan grafika, dan karya dalam bentuk elektronik. Pertama, pemanfaat perpustakaan dalam bidang sejarah adalah koleksi berupa karya cetak. Karya cetak adalah adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk cetak seperti buku dan terbitan berseri. Terbitan berseri seperti jurnal, surat kabar, majalah, laporan yang terbit dalam jangka waktu tertentu. Dalam penulisan sejarah kontemporer dan sejarah kontroversial karya cetak ini terutama surat kabar dan masalah tepat sekali digunakan. Misalnya, dalam mengkaji masalah konflik antar negara di Asia Barat. Majalah dan surat kabar baik nasional maupun internasional lebih detail dalam memberikan informasinya. Sumber ini dapat dijadikan sumber primer dalam mengulik sejarah. Foto 2. Pemanfaatan koleksi buku Sumber dokumen penulis Kedua, koleksi perpustakaan berupa karya noncetak yang dapat dimanfaatkan dalam mengulik sejarah. Karya non cetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan tidak dalam bentuk cetak seperti rekaman suara, rekaman video, rekaman gambar dan sebagainya. Imajinasi dalam sejarah begitu penting dalam mengulik sejarah, maka pemanfaatkan karya noncetak berupa rekaman video memberikan pemahaman kepada para mahasiswa dalam memahami sejarah. Rekaman video pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan memberikan generasi muda gambaran bahwa perlu semangat tinggi dalam mencapai kemerdekaan. Ketiga, koleksi elektronik sebagai bahan pustaka yang menggunakan media film dan tidak dapat dibaca dengan mata biasa melainkan harus memakai alat yang dinamakan microreader. Ada tiga jenis bentuk mikro yang sering menjadi koleksi perpustakaan yaitu: pertama mikrofilm, bentuk mikro dalam gulungan film. Kedua, mikrofis, bentuk mikro dalam lembaran film dengan ukuran 105 mm x 148 mm (standar) dan 75 mm x 125 mm. Ketiga, microopaque, bentuk mikro di mana informasinya dicetak kedalam kertas. Hal ini selaras ketika mengulik sejarah seni. Banyak karya-karya seni pada zaman dahulu yang tersimpan di dalam kaset pita. Melalui sumber eletronik itu dapat mengetahui bagaimana sejarah seni itu tumbuh dan berkembang pada itu dan perubahan untuk masa sekarang. Maka, pemanfaatan koleksi perpustakaan dalam mengulik sejarah adalah karya dalam bentuk elektronik. Keempat, koleksi bahan grafika sebagai salah satu pemanfaatan perpustakaan dalam mengulik sejarah. Grafika adalah segala cara pengung kapan dan perwujudan dalam bentuk huruf, tanda, dan gambar yang diperbanyak melalui proses percetakan guna disampaikan kepada khalayak.18 Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah peta, atlas, bola dunia, foto udara, dan sebagainya. Sejarah syarat dengan skope spatial yaitu tempat, maka bahan grafika berupa kartografi sangat digunakan dalam mengulik sejarah. Contohnya, ketika membahas perlawanan Pangeran Diponegoro, peta sangat dibutuhkan apalagi dalam melihat rute gerilya Pangeran Diponegoro dalam menghadapi Belanda. Ini menunjukan perpustakaan digunakan dalam mengulik sejarah.

Conclusion

Pentingnya perpustakaan dalam bidang sejarah adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Sejarah tidak bisa dikuak manakala tidak ada dokumen atau data yang diperoleh dari perpustakaan. Bentuk-bentuk pemanfaatan perpustakaan dalam bidang sejarah adalah melalui koleksi perpustakaan. Adapun koleksi perpustakaan yang mendukung dalam penulisan sejarah yaitu karya cetak, karya noncetak, bahan grafika, dan karya dalam bentuk elektronik. Oleh karena itu, sejarah dan perpustakaan ibarat dua sisi mata angin yang tidak bisa dipisahkan.