Kembali
16
1
2019 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 21 · 1 ISSN 2685-7138

USAHA PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG KARNO DALAM MEREKAM SEJARAH LISAN UNTUKMELESTARIKAN PENGETAHUAN TENTANG SUKARNO (1901–1970): PENERAPAN SEJARAH LISAN DALAM MEREKAM PENGETAHUAN SOSOK MARHAEN DI BANDUNG

Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Abstrak

Peran sejarah lisan dalam melestarikan pengetahuan tentang Sukarno sangat penting. Perannya sangat besar dalam memenuhi kekosongan dalam sumber tertulis. Makalah ini adalah makalah konseptual danpenerapan perekaman pengetahuan tentang Sukarno yang berfokus pada sosok Marhaen dengan menggunakan metode Sejarah Lisan berdasarkan “Fundamental of Oral History Texas Preservations Guidelines”. Temuan menunjukkan bahwa sejarah lisan juga berguna untuk menyelamatkan dan melestarikan pengetahuan tentang Sukarno, baik yang dimiliki oleh individu atau masyarakat. Perpustakaan Proklamator Bung Karno baru memulai untuk merekam pengetahuan tentang Sukarno dengen metode sejarah lisan ini. Perekaman pengetahuan kali ini berfokus kepada sosok Marhaen. Sedemikian hebatnya nama Marhaen sehingga digunakan untuk menamakan ideologi cetusan Sukarno, yaitu Marhaenisme.Program sejarah lisan ini tidak mudah, terutama bagi pustakawan. Seorang pustakawan harus memiliki pengetahuan tentang metode sejarah lisan yang memerlukan biaya yang besar. Oleh karena itu, salah satu upaya yang akan dilakukan oleh pustakawan adalah bekerja sama dengan profesi terkait lainnya, seperti oleh sejarawan, sosiolog atau antropolog. Diharapkan kerja sama dengan profesi lain bisa mengatasi masalah itu semua. Jika usaha ini tidak dilakukan maka sumber pengetahuan tentang Sukarno akan hilang. Dengan menyimpan koleksi dalam bentuk sejarah lisan, maka ini menjadi kontribusi pustakawan dalam pelestarian sumber daya intelektual

Abstract

The role of oral history in preserving the knowledge of Sukarno is very important to fulfil the lack of written sources. This paper is a conceptual paper and the application of recording the knowledge of Sukarno that focuses on Marhaen,as a figure, using oral history based on "Fundamentals of Oral History Texas Preservations Guidelines". The findings showed that oral history is useful for saving and preserving knowledge about Sukarno, based on both the individual and society. Proklamator Bung KarnoLibrary has started the oral history of Sukarno. It focused on the Marhaenas a figure. How great the name of Marhaen was until Sukarno used it as the name of an ideology. This oral history program is not easy, especially for a librarian. For that reason, one of ways that will be undertaken by the librarian is doing collaboration with other related professions, such as historians, sociologists or anthropologists. This collaboration, hopefully, can answer the difficulties. If this oral history is not conducted, the source of knowledge of Sukarno will be lost. By storing collections in the form of oral history, the librarians have given contribution to the preservation of intellectual resources.
Keywords: Marhaen · marhaenisme · perpustakaan Proklamator Bung Karno · pelestarian pengetahuan · sejarah lisan · Sukarno (1901-1970)

Introduction

Pembahasan sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari tokoh Sukarno. Kasenda (2010) menuliskan bahwa Sukarno merupakan tokoh sentral dalam dinamika sosial-politik di Indonesia modern, khususnya sejak proklamasi kemerdekaan hingga pertengahan 1960-an. Sukarno memilki pengaruh yang besar dan luas dalam era perpolitikan, hingga kita nyaris tak mungkin berbicara mengenai kehidupan politik bahkan sejarah Indonesia periode itu tanpa menyebut namanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau banyak ilmuwan yang menulis tentang Sukarno. Pengkajian tentang Sukarno bisa menggunakan berbagai sudut pandang. Sjamsudin (1993) menyebutkan bahwa Sukarno merupakan bahan studi yang kaya. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu pusat kajian tentang Nasionalisme Indonesia yang hakikatnya dilandasi oleh pemikiran-pemikiran ideologis dari Sukarno. Salah satu tempat atau wadah tersebut adalah Perpustakaan Proklamator Bung Karno (PPBK), yang didirikan pada tahun 2004 di Blitar, Jawa Timur. Kehadiran Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah untuk mewarisi, mengkaji, merenungkan, mereaktualisasikan cita-cita dan pemikiran Sukarno serta pemahaman yang memadai tentang sejarah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Program pengembangan koleksi di Perpustakaan Proklamator Bung Karno (PPBK) sangatlah penting untuk mengumpulkan dan melestarikan pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan Sukarno. Tujuan jangka panjangnya adalah agar semua memori, mitos, ideologi bahkan gaya bahasa Sukarno dalam berinteraksi menjadi suatu artefak sejarah yang bernilai dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Jika tidak dilakukan pelestarian maka sangat mungkin pengetahuan tersebut akan punah. Sebagaimana yang Kirkland (2009) katakan bahwa akan banyak sejarah lokal, pengetahuan, kearifan dan kenangan budaya lainnya yang lenyap bersamaan dengan meninggalnya para orangtua/sesepuh. Bahkan dalam tradisi yang berkembang di Afrika, terdapat pepatah "jika ada seorang orang tua meninggal, perpustakaan telah hilang". Salah satu cara untuk menyelamatkan pengetahuan tersebut adalah melalui pengumpulan sejarahsejarah atau kisah-kisah hidup (life histories) seseorang atau suatu komunitas. Pengumpulan dan perekaman memori tersebut akan menjadi tantangan bagi perpustakaan, seperti PPBK secara khusus, dan lembaga informasi lainnya secara umumdalam melestarikan suatu pengetahuan yang penting. Secara umum hal tersebut jarang dilakukan oleh pustakawan, karena biasanya pengetahuan atau memori masih bersifat tacit. Sedangkan selama ini pustakawan lebih berfokus kepada pengetahuan yang eksplisit. Pengetahuan tacit menurut Nonaka (1995) adalah suatu pengetahuan yang tidak mudah dilihat dan diekspresikan. Ia berakar dalam tindakan dan pengalaman pribadi. Pengetahuan tacit tidak hanya pada individu, tetapi juga bisa dalam komunitas atau masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang efektif untuk menemukan, mengeksplorasi dan mengevaluasi sifat dari proses ingatan sejarah. Metode tersebut menurut Frisch (1990) yang dikutip oleh Davies (2011) adalah Sejarah Lisan yaitu suatu metode yang akan membingkai pengetahuan atau memori yang mencerminkan masa lalu, kemudian menghadirkannya saat ini dalam media yang berbeda. Inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membuat konsep program dan merekam sejarah lisan tentang Sukarno, yang berfokus kepada perekaman pengetahuan tentang Marhaen. Sosok Marhaen sangat lekat dengan Sukarno. Sukarno menjadikan sosok Marhaen sebagai perwujudan dari manusia Indonesia yang mandiri. Nama “Marhaenisme”, diambil dari nama Marhaen, adalah ideologi yang dikembangkan oleh Sukarno, yang berangkat dari pemikiran Marxisme dengan kultur Indonesia. Sukarno mencetuskan Marhaenisme untuk mengangkat harkat hidup kaum Marhaen (rakyat Indonesia).Sedemikian hebatnya nama Marhaen sehingga digunakan untuk menamakan ideologi cetusan Sukarno, oleh karena itu penulis ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sosok Marhaen ini dengan mengunjungi makam dan mewawancarai orang-orang yang mungkin mengenal sosok Marhaen Tinjauan Literatur Program Sejarah Lisan di Perpustakaan Sejarah lisan (oral history) sendiri, pertama kali dikembangkan oleh Allan Nevin dari Columbia University di sekitar 1940. Seperti yang dikatakan oleh Palmer (1983), bahwa Nevin telah melakukan sumber rekaman sejarah dalam bidang bisnis melalui suatu wawancara teknis yang sistematis. Ia percaya bahwa setiap orang di Amerika Serikat memiliki kenangan dan kenangan nilai sejarah, oleh karena itu harus dilestarikan dengan melakukan teknik wawancara sistematis. Sejarah lisan telah digunakan sebagai teknik untuk menyelidiki sejauh mana sejarah di berbagai bidang. Frisch (1990) dalam Davies (2011) menyatakan bahwa sejarah lisan adalah alat yang ampuh untuk menemukan, mengeksplorasi dan mengevaluasi sifat dan proses dari suatu ingatan historis. Sejarah lisan akan menjelaskan asumsi yang dibuat tentang data wawancara, metodenya dan kejadian masa lalu yang dibingkai pada masa sekarang. Keabsahan kesaksian tersebut dibuat melalui pembuktian di antara berbagai macam kesaksian sejarah lisan, 'reliabilitas', atau keterulangan, melalui kemampuan untuk menceritakan kisah yang sama pada berbagai kesempatan; dan 'konsistensi', yang berarti kesesuaian kesaksian dengan kesaksian (Babcock, 2013) Pentingnya kontribusi lisan dan tindakan berbasis pada hasil dialog dalam suatu pengembangan pengetahuan, maka ilmu perpustakaan dan informasi tidak lagi terbatas fokusnya hanya kepada informasi yang tersedia melalui mode elektronik, visual, atau tertulis. Akan tetapi juga harus fokus pada informasi yang tersedia dalam mode oral/lisan. Sehingga, IFLA (The International Federation of Library Associations and Institutions) (2014) menyatakan bahwa manusia memiliki hak dasar untuk akses ke ekspresi pengetahuan, pemikiran kreatif dan aktivitas intelektual, dan untuk mengekspresikan pandangan mereka secara terbuka. IFLA merekomendasikan perpustakaan dan arsip untuk: 1. melaksanakan program untuk mengumpulkan, melestarikan dan menyebarkan sumber daya pengetahuan lokal; 2. membuat sumber informasi tersebut tersedia dan mempromosikannya untuk mendukung penelitian dan belajar; 3. mempublikasikan nilai, kontribusi, dan pentingnya pengetahuan lokal dalam masyarakat modern; 4. melibatkan sesepuh/tokoh masyarakat dalam produksi sumber daya dan mengajarkannya ke anak-anak agar dipahami dan dihargai sehingga bisa merasakan identitas yang terkait dengan sistem pengetahuan lokal tersebut; 5. mendesak pemerintah untuk menjamin pembebasan dari pajak terhadap buku dan media rekaman lainnya pada pengetahuan tradisional masyarakat adat dan lokal; 6. mendorong pengakuan prinsip-prinsip kekayaan intelektual untuk memastikan perlindungan yang tepat dan penggunaan pengetahuan lokal tersebut; Oleh karenanya, Adeniyi dan Subair (2013) menyatakan bahwa perpustakaan dan lembaga informasi lainnya, sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk pengumpulan (collecting), pengolahan (processing), penyebaran (dissemination) dan penyimpanan rekaman (storage of recorded) dari suatu pengetahuan, yang bertujuan agar bisa dibaca, menjadi pembelajaran, dan media konsultasi. Tentu dengan pustakawannya sebagai profesional yang berkaitan dengan aktivitas tersebut di perpustakaan. Greenwell (1997) menyatakan pada tahun tersebut, disiplin sejarah lisan sebagai metode dokumentasi sejarah juga cukup baru. Disiplin sejarah lisan ini diperlukan karena banyak komunikasi modern lebih bersifat lisan daripada tertulis. Didirikan pada tahun 1948, Kantor Riset Sejarah Lisan Universitas Columbia adalah program yang tertua di Amerika Serikat, dan menjadi model untuk program sejarah lisan pertama di perpustakaan kepresidenan. Meskipun ada beberapa skeptisisme awal tentang nilai ilmiahnya, sejarah lisan telah diterima dengan cepat sebagai alat yang berharga untuk melengkapi catatan sejarah tradisional, dan setiap perpustakaan kepresidenan memasukkan koleksi sejarah lisan di antara kepemilikannya. Koleksi-koleksinya sangat bervariasi dalam ukuran dan cakupannya, dan mencerminkan tren dalam sejarah lisan dan perpustakaan kepresidenan selama bertahuntahun. Beberapa perpustakaan di Amerika Serikat melakukan proyek sejarah lisan yang berhubungan dengan sejarah hidup, perjuangan politik, dan dasar-dasar pemerintahan dari presiden-presiden Amerika sebagai bentuk penghargaan kerja keras mereka selama menjabat.Greenwell (1997) juga menyatakan bahwakoleksi sejarah lisan di perpustakaan kepresidenan memiliki tujuan yang sama, bukan untuk memuliakan presiden, istrinya (first lady), atau keluarga mereka, tetapi melengkapi catatan tertulis dengan memberikan informasi yang tidak akan hilang. Sebagian besar wawancara telah dilakukan oleh sejarawan terlatih atau arsiparis, bukan pendukung partisan dari presiden yang sejarahnya didokumentasikan.Perpustakaan yang mendokumentasikan administrasi beberapa presiden, terutama Perpustakaan Roosevelt dan Perpustakaan Lyndon Baines Johnson, termasuk wawancara tentang kehidupan dan karier masing-masing ibu negara mereka; Perpustakaan John F. Kennedy mencakup seri terpisah tentang Robert F. Kennedy dalam koleksi sejarah lisannya. Perpustakaan kepresidenan dan sejarah lisan keduanya merupakan tambahan yang relatif baru bagi dunia penelitian ilmiah.Sampai Franklin D. Roosevelt mendirikan perpustakaan kepresidenan pertama, tidak ada metode sistematis untuk melestarikan makalah presiden.Kepedulian dan kepercayaannya yang yakin bahwa suratsurat presiden adalah bagian dari warisan negara (meskipun pada saat itu surat-surat tersebut secara hukum adalah milik pribadi presiden yang telah menghasilkannya), pada tahun 1939 Roosevelt menyumbangkan surat-suratnya kepada pemerintah federal dan mengarahkan agar surat-surat itu disimpan dan dilestarikanoleh Arsip Nasional di sebuah situs yang disumbang-kannya di tanah miliknya di Hyde Park, New York. Perusahaan nirlaba menggalang dana untuk pembangunan gedung, yang selesai pada tahun 1946. Perpustakaan J.F Kennedy sendiri mengklaim sudah menjalankan program sejarah lisan mulai dari tahun 1964. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan, melestarikan dan ketersediaan informasi dari hasil wawancarawawancara dengan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan kehidupan John.F. Kennedy. Perpustakaan tersebut mempunyai rekaman wawancara sebanyak 1600 wawancara dan hampir 1000-nya sudah ditranskrip dan terhubung dengan rekaman aslinya. Para peneliti selalu menganggap koleksi sejarah lisan perpustakaan kepresidenan sebagai sumber daya berharga.Perpustakaan benarbenar menjadi pelopor dalam bidang baru dalam keilmuannya, yaitu sejarah lisan. Semua perpustakaan terus mengeksplorasi cara baru untuk memperkaya koleksi sejarah lisan mereka, baik dengan melakukan wawancara sendiri atau dengan meminta wawancara yang dilakukan oleh orang lain. Sejarah lisan tidak diragukan lagi akan terus memiliki tempat dalam koleksi perpustakaan presiden Melakukan suatu program Sejarah lisan tidaklah mudah, apalagi untuk pustakawan, yang terbiasa mengelola pengetahuan eksplisit. Selain biaya yang cukup besar, bisa jadi, memang pustakawan tidak mempunyai pengetahuan tentang sejarah lisan itu sendiri. Oleh karenanya, perpustakaan sepertinya perlu melakukan pelatihan-pelatihan yang menitikberatkan pada: 1. bagaimana untuk mengorganisasi dan mengatur proyek sejarah lisan. Terutama mengenai membina kerjasama deng an komunitas setempat dan memformulasikan tujuan yang jelas dan objektif; 2. bagaimana tata cara untuk melakukan wawancara dan pengambilan data seperti foto, video. Juga cara menggunakan peralatan untuk merekam itu semua; 3. bagaimana cara membuat materi sejarah lisan yang telah selesai dilakukan menjadi mudah diakses dan berguna bagi komunitas tersebut, seperti menerbitkannya dalam buku atau rekaman video; 4. bagaimana cara untuk melestarikan sejarah lisan untuk generasi mendatang. Diharapkan pelatihan ini akan meningkatkan kesadaran pustakawan akan pentingnya perekaman sejarah lisan dan berbagi pengetahuan, terutama pengetahuan tacit / memori. Dampak Sejarah Lisan Terhadap Perpustakaan Sejarah Lisan mempunyai dampak yang begitu besar dalam kegiatan perpustakaan. Zachert (1986) menyatakan ada 5 (lima) dampak sejarah lisan dalam perpustakaan,yaitu: 1. Sejarah lisan merupakan salah sumber primer informasi. Dengan menyimpan koleksi berupa sejarah lisan maka ini menjadi kontribusi pustakawan dalam pelestarian sumber intelektual. 2. Sejarah lisan menawarkan sebuah layanan baru bagi perpustakaan yang sering digunakan untuk penelitian. Sejarah lisan sudah diakui secara hukum sehingga menggunakannya sebagai suatu sumber bahan penelitian dapat dipertanggungjawabkan. 3. Sejarah lisan juga merupakan suatu bentuk tanggung jawab perpustakaan dalam menyediakan sumber informasi, sekaligus ini memberikan pelayanan yang lengkap dari bentuk yang tertulis dan bentuk lainnya. 4. Mengkoleksi dan membuat informasi melalui sejarah lisan, maka perpustakaan juga melakukan suatu Pengawasan Bibliografi. Artinya perpustakaan berkontribusi dalam melakukan suatu sistem pencatatan bagi semua bentuk bahan, baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan, yang berbentuk bahan tercetak, bahan audiovisual maupun bentuk lain, yang menambah khazanah pengetahuan dan informasi. Arsip sejarah lisan menawarkan kepada perpustakaan suatu pemecahan dalam sistem temu kembali informasi melalui media yang berbeda Turner (2012) menambahkan, untuk mendukung aksesibilitas, pengumpulan, pengorganisasian, dan pelestarian informasi, pustakawan juga dapat berperan dalam pelestarian sumber sejarah, sebagai contoh yaitu: 1. Memelihara peralatan yang diperlukan untuk mengambil informasi yang tersimpan pada media yang digunakan 2. Menyediakan ruang penyimpanan fisik dari buku, majalah, dan surat kabar; atau media lainnya 3. Menggunakan teknik penanganan khusus untuk mengakses informasi yang tersedia dari foto, buku harian, surat, atau memorabilia lainnya; 4. Mengikuti spesifikasi desain tertentu untuk memastikan kegunaan situs web; dan 5. Membuat kutipan atau deskripsi artefak, untuk digunakan dalam database bibliografi.

Method

Dalam hal konsep dan tahapan perekaman sejarah lisan, penulis mengadopsi panduan dari Texas Historical Commission, yaitu Fundamental of Oral History Texas Preservations Guidelines. Konsep sejarah lisan di PPBK tersebut akan penulis jelaskan dalam poin pembahasan selanjutnya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan mengunjungi situs makam Marhaen, diJalan Batununggal, Mengger, Bandung Kidul. Jawa Barat. Informan yang diwawancarai adalah cucu dari Marhaen (Bapak Damin dan Ibu Ait), Tito Asmarahadi (Cucu dari Asmarahadi) dan pemerhati ajaran Sukarno (Roso Daras dan Ren Muhammad). Sedangkan untuk analisis mencakup transkip hasil wawancara, reduksi data, analisis, interpretasi data dan triangulasi. Sugiyono (2010) mengatakan bahwa dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data

Result & Discussion

Konsep Program Sejarah Lisan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Sebelum merancang konsep program, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Gusts (1987) mengidentifikasi tiga faktor yang memengaruhi pembentukan, pola tata kelola, dan tujuan program sejarah lisan yang penting, yaitu: 1. Dana tersedia. Pendanaan ditemukan berpengaruh dalam empat karakteristiknya: sumbernya; sifatnya yang berkelanjutan atau berorientasi pada proyek; dukungan fungsi ganda; dan pengeluaran juga keuntungannya. 2. Kepemimpinan. Seseorang yang tertarik dengan proses sejarah lisan. Dukungan dari pemimpin yang kuat, orang yang percaya pada sejarah lisan adalah alat untuk mengumpulkan bahan sumber utama, merupakan kekuatan utama dalam menentukan, menetapkan, dan mencari dana untuk program sejarah lisan. 3. Kebutuhan informasi yang disarankan oleh lembaga sponsor untuk melengkapi informasi yang ada mengenai subyek tertentu. Berikut ini konsep yang penulis rancang untuk program sejarah lisan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno: Tujuan Umum Tujuan dari pengembangan koleksi Sejarah Lisan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno adalah a. Untuk membuat, mengumpulkan dan menyediakan akses ke koleksi utama dari kesaksian tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Sukarno. b. Menjadi pusat keunggulan nasional, dalam praktek dan standar untuk program sejarah lisan khusus tentang Sukarno di Indonesia. c. Untuk mempromosikan dan mendukung perekaman sejarah lisan tentang Sukarno di Indonesia. Cakupan Atau Parameter Cakupan digunakan untuk memberikan pemahaman yang jelas tentang siapa yang diwawancarai (narasumber) dan topik / subjek apa yang perlu dibahas. Mengkaji tentang Sukarno bisa dilihat dari berbagai bidang atau subjek. Sementara tokoh-tokoh prioritas yang akan diambil pengetahuannya adalah: 1) Keluarga Sukarno 2) Rekan sejawat semasa hidup dengan Sukarno 3) Lawan politik Sukarno 4) Tokoh-tokoh masyarakat atau veteran yang bertemu langsung dengan Sukarno 5) Ilmuwan yang tertarik mengkaji Sukarno Lokasi Narasumber Jika memang dibatasi oleh biaya, maka bisa dimulai dari lokasi terdekat Perpustakaan Proklamator Bung Karno, misalnya mulai dari Kota Blitar. Untuk mendapatkan data, yang diwawancarai dapat bekerja sama dengan Yayasan PETA di Blitar. Metode lain adalah dengan melakukan penelitian dan penyelidikan kecil tentang subjek yang akan dibahas misal dari sumber sejarah, koran bekas, catatan arsip, dan foto-foto yang dapat memberikan hasil akhir untuk bisa mengarahkan pada nama-nama yang akan diwawancarai. Menyeleksi Pewawancara Memilih pewawancara yang memiliki sifat peduli dan sensitif. Pastikan mereka benar-benar ahli dan dapat menjadi jembatan pengetahuan yang memberikan rasa nyaman dan terus bisa mengeluarkan informasi baru dari narasumber. Tentu keterampilan wawancara yang baik diharapkan dari interviewers. Tugas ini cukup berat dan kunci dari sejarah lisan, sepertinya Pustakawan Madya dan Utama atau spesialis subjek sesuai untuk menjadi pewawancara. Jika subjek cukup kompleks, tidak harus dari kalangan pustakawan, tapi bisa berasal dari para ahli seperti sejarawan, antropolog, sosiolog, dan profesi lain yang berkaitan dengan budaya dan sejarah nasional. Pemilihan Peralatan Rekaman Alat perekam yang digunakan harus berkualitas agar dapat menghasilkan rekaman yang sesuai dan tersampaikan informasinya. Tidak harus menggunakan peralatan mahal, kecuali kita bekerjasama dengan radio atau televisi produksi yang membutuhkan suara dan kualitas gambar yang tinggi Melakukan Wawancara Biarkan mereka (narsumber) memilih tempat nyaman, atau di rumah yang bagus karena sering kali beberapa objek material budaya/memorabilia seperti foto dapat me-recall memori akan suatu peristiwa dan perasaan. Bila mungkin, melakukan kontak dengan narasumber melalui pertemuan pribadi melalui telepon sehingga kita bisa menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka seputar proyek sejarah lisan ini. Membuat jelas mengapa kita ingin mewawancarai mereka dan mengapa kisah mereka penting untuk program penelitian di Perpustakaan Proklamator Bung Karno Memproses Hasil Wawancara Setelah wawancara selesai, pekerjaan pelestarian dimulai. Nilai sebenarnya dari sejarah lisan yang tercatat adalah bagaimana ia digunakan dan bagaimana hal itu dapat diakses untuk penelitian. Hal yang penting untuk dilakukan adalah backup data, dan jika mungkin disimpan di server cloud. Transkrip dibuat sedetail mungkin, baik pertanyaan dan jawaban - dari seluruh wawancara. Proses ini lebih memakan waktu dan karena itu berpotensi lebih mahal. Etika Dan Aspek Hukum Jika hasil dari sejarah lisan ingin disebarluaskan ke publik atau masyarakat, maka perlu dibuatkan surat perjanjian tertulis tentang penggunaan dan aksesnya. Diseminasi Tahap penyebarluasan dapat didefinisikan sebagai setiap kegiatan (termasuk pengawasan bibliografi terhadap program sejarah lisan dan pengembangan titik akses) yang akan membuat hasil wawancara sejarah lisan (baik tape fisik atau transkrip, dan isinya) lebih mudah diakses oleh pengguna potensial dan menjadi perhatian bagi masyarakat. Jika mungkinkan kita bisa repackagee menjadi sesuatu yang mudah digunakan Melestarikan dan Terus Memperbarui Hasil dari sejarah lisan dapat mengidentifikasi individu yang memiliki bukti sejarah primer sehingga dapat digunakan oleh peneliti lain di masa depan. Perpustakaan Proklamator Bung Karno juga membuat database Sejarah Lisanagar bisa menjadi pusat penelitian, dalam rangka untuk mengembangkan, memelihara, dan menyediakan akses ke Sejarah Lisan yang terekam. Sejarah Lisan Dalam Merekam Penerapan Pengetahuan Sosok Marhaen Di Bandung Situs makam Marhaen terletak di Jalan Batununggal, Mengger, Bandung Kidul. Jawa Barat. Gambar 1.Kawasan Makam Marhaen Berdasarkan keterangan prasasti yang berada di dalam sekitar makam Marhaen, Marhaen meninggal pada tahun 1943 (gambar 2), dikarenakan menjadi romusha Jepang (gambar 3), sedangkan istrinya meninggal pada tahun 1973. Gambar 2. Kuburan Marhaen Menurut keterangan Darmin (Cucu Marhaen), tidak terlalu pasti sebab meninggalnya Marhaen, apakah karena tersiksa menjadi romusha atau sebab lainnya. Namun Darmin menyatakan kebenarannya bahwa yang dikuburkan di makam ini adalah jasad Marhaen. Gambar3. Prasasti Marhaen wafat karena romusha Jepang Rumah pemakaman ini terdapat tujuh (7) jasad, yaitu Marhaen, Arsamah (Istri Marhaen), Udung (anak tunggal Marhaen), Kasih (menantu Marhaen), Mesih (cucu pertama Marhaen), Radi (cucu keenam), Bu Iti dan Pak Ada (bukan kerabat Marhaen). Marhaen hanya mempunyai satu orang anak, yaitu Dudung (lihat gambar 3.4). Dudung menikah dengan Kasih melahirkan tujuh orang anak, yaitu Mesih, Darman, Darmin, Ait, Radi, Eutik (gambar 3.4).Cucu Marhaen yang masih bisa ditemui sampai saat ini adalah Darmin, Ait, dan Eutik (sekarang berdomisili di Bogor).Situs makam Marhaen ini telah dilakukan pemugaran pada tahun 1981 oleh Soetarman Soemawiganda, pemrakarsa Yayasan Saluyu Bandung. . Gambar 4. Keturunan Marhaen Sosok Marhaen Keturunan Marhaen tidak pernah bertemu langsung dengan Marhaen, melainkan hanya mendapatkan cerita dari istrinya Marhaen.Darmin menceritakan dari neneknya yaitu Arsamah (Istri Marhaen), bahwa ciri fisik Marhaen adalah kurus dan tinggi. Kesehariannya Marhaen ketika bekerja di sawah hanya mengenakan sarung dan tanpa baju. Seharian bekerja di sawah dan biasanya sekitar pukul 12.00 pulang ke saung untuk beristirahat.Marhaen tidak setiap hari pulang ke rumah, biasanya selepas dari sawah hanya tinggal di saungnya. Sebenarnya Marhaen hanya seorang buruh tani dan tidak mempunyai sawah sendiri. Marhaen bekerja di sawahnya orang lain dan dia hanya sebagai buruh tani yang ditugasi untuk mengolah sawah. Marhaen pun tidak meninggalkan warisan berupa rumah.Rumah keturunan Marhaen saat ini (ditempati oleh Ibu Ait) merupakan hasil kerja dari anaknya Marhaen, yaitu Udung.Ki Marhaen bukan petani, tapi buruh petani. Kalau petani maka mempunyai tanah sendiri. Kemungkinan rumah Marhaen yang asli sudah runtuh atau sudah dijadikan rumah oleh warga sekitar. Rumah asli Marhaen seperti yang diceritakan oleh Bung Karno dalam bukunya hanya berbentuk gubuk kecil dan saat ini sudah tidak ada. Saat ini yang terlihat oleh warga adalah rumah keturunannya, yaitu rumah yang ditempati oleh Bu Ait dari bapaknya yaitu Bapak Udung. Sayangnya beberapa keturunan Marhaen sudah susah untuk mengingat kembali tempat geografis leluhur mereka, sehingga tidak tercatat. Hal itu wajar karena penyebaran informasi juga tidak secepat saat ini. Sukarno di dalam buku autobiografinya menjelaskan bahwa Marhaen mempunyai sawah, akan tetapi menurut Darmin, bahwa Marhaen tidak mempunyai sawah dan hanya sebagai buruh tani. Jika memang Marhaen memang punya tanah, mungkin anak-anaknya mendapatkan warisan tanah itu dan tidak perlu membeli tanah untuk dibangun menjadi rumah. Menurut cerita Darmin, bahwa Marhaen mempunyai “ilmu kebatinan” dimana ia bisa menghilang, menyembunyikan orang, orang tidak bisa melihatnya. Bahkan Arsamah jika ingin memotong rambutnya Marhaen harus pada Bulan Mulud sehingga bisa berhasil memotong rambutnya. Walau demikian menurut keterangan dalam prasasti dalam makamnya, bahwa Marhaen meninggal karena menjadi romusha. Berdasarkan keterangan tersebut, Marhaen memang orang miskin, selain hanya menjadi buruh tani, Marhaen tidak mempunyai sawah bahkan rumah.Sedikit sekali informasi mengenai sosok Marhaen, karena orang-orang yang bertemu langsung dengannya sudah meninggal, dan para sesepuh pun jarang yang menceritakannya ke keturunannya. Marhaen sendiri pun tidak tahu kalau namanya akan digunakan oleh Sukarno, karena belum pernah membaca, atau dia memang tidak bisa membaca dan menulis. Karena jika dia membaca pikirannya atau karya tulisnya Sukarno, maka ia akan bilang ke orang-orang, “itu karena Bung Karno bertemu dengan saya”. Cerita Marhaen Bertemu Sukarno Cukup sulit untuk menentukan bagaimana cerita yang sebenarnya, karena ada tiga versi cerita dari informan yang diwawancarai. Versi pertama menjelaskan bahwa Marhaen memang seperti dinyatakan oleh Sukarno dalam buku autobiografinya, sedangkan versi kedua menjelaskan bahwa Sukarno diselamatkan oleh Marhaen dari kejaran pemerintah kolonial Belanda, kemudian Marhaen hanya seorang buruh tani yang tidak mempunyai sawah.Versi cerita ketiga paradoks dengan versi sebelumnya, bahwa sebenarnya Marhaen merupakan suatu simbol atau personifikasi saja dari rakyat Indonesia. Artinya Marhaen sebenarnya tidak ada, ia hanya merupakan tokoh rekaan yang dibuat oleh Sukarno, yang merupakan kepanjangan dari Marx, Hegel, dan Engels. Akan tetapi kenapa Sukarno menciptakan mitos tersebut? Menurut Humaeni (2012) mitos memainkan peran penting dalam kehidupan sosial yaitu dapat membangun solidaritas sosial masyarakat yang bersangkutan. Sehingga jika memang Marhaen itu adalah mitos, maka masyarakat yang akan mempercayai bisa membangun solidaritas sosial atau menurut Sukarno dinamakan sebagai persatuan. Kemudian bahwa ia memiliki sakralitas dan mengandung pesan moral yang diwariskan, yang kemudian akan diwariskan kepada anak-anak mereka sebagai generasi berikutnya Cerita tentang Sukarno diselamatkan oleh Marhaen karena dikejar-kejar oleh pemerintah Belanda, sepertinya memang tidak rasional. Alasannya bahwa Sukarno pernah mengaku dalam bukunya tersebut, bahwa ia punya ingatan biografis dan fotografik, ini bisa dilihat dalam Bab Marhaenisme di buku otobiografinya itu, pada bagian akhir-akhirnya, ia ditegur oleh Professornya karena tidak kuliah, Sukarno menyatakan ia mempunyai masalah dengan matematika, walaupun ketika ujian, semua mata kuliahnya tidak pernah ketinggalan, padahal Sukarno tidak belajar, berarti sepertinya Sukarno mempunyai daya ingat biografis dan fotografis yang cukup kuat. Artinya pernyataan Sukarno di dalam buku otobiografi tersebut merupakan benar adanya, karena ingatan Sukarno yang kuat. Keberadaan tiga cerita yang berbeda tersebut hendaknya tidaklah dibenturkan satu dengan lainnya, melainkan justru menjadikan kekayaan pengetahuan dalam suatu masyarakat tentang Marhaen dan Sukarno.

Conclusion

Jumlah orang yang memiliki pengetahuan tangan pertama tentang Sukarno dalam era ini mengalami penurunan setiap hari (meninggal). Melestarikan cerita mereka akan memberikan informasi baru, melengkapi catatan tertulis, berisi rincian kehidupan sehari-hari dan perspektif pribadi, yang secara langsung diceritakan oleh suara pengalaman individu yang hidup. Peran sejarah lisan dalam melestarikan pengetahuan tentang Sukarno sangat penting.Tapi untuk melakukan program sejarah lisan tidak mudah, terutama bagi pustakawan.Seorang pustakawan harus memiliki pengetahuan tentang sejarah lisan dan metode ini juga memerlukan biaya yang besar. Oleh karena itu, salah satu upaya yang akan dilakukan oleh pustakawan adalah berkolaborasi dengan profesi terkait lainnya, seperti sejarawan, sosiolog atau antropolog. Diharapkan kolaborasi dengan profesi lain bisa menyelesaikan semuanya.Jika ini tidak dilakukan maka sumber pengetahuan tentang Sukarno akan hilang. Hilangnya pengetahuan tentang Sukarno bisa jadi berakibat pada hilangnya pengetahuan salah satu pendiri bangsa (founding fathers). Pada akhirnya, sejarah lisan juga bisa memperkuat rasa identitas dan kebanggaan suatu bangsa.