TEORI SIMULAKRUM JEAN BAUDRILLARD DAN UPAYA PUSTAKAWAN MENGIDENTIFIKASI INFORMASI REALITA
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstract
Librarians should have high sencitive to information overloaded. Deepunderstanding on Simulacrum JeanBaudrillard’s theory is needed to all.The ability to identify various of real and unreal information should beencouraged to librarians, as the result the end-users can access the neededinformation, not Simulacrum information. Some activities were takenbylibrarians in order to anticipate Simulacrum information, for instance,the way how they select any materials that being collected by the library,selecting digital content on its institution repository, literacy informationprogram, dissemination information, etc
Keywords:
Jean Baudrillard
· Simulakrum informasi
· Pustakawan
· Informasi realitas
Introduction
Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia menunjukkan jatuh bangun dalam membangun peradabannya. Banyak gangguan-gangguan yang muncul baik dari dalam maupun dari luar. Gangguan-gangguan tersebut tidak dapat mematahkan semangat untuk membangun bangsanya. Sebelum bangsa penjajah menginjakkan kaki dan menanamkan kekuasaannya, di Indonesia telah ada kerajaan lokal. Awal mula sejarah perpustakaan di Indonesia dirintis sejak zaman Majapahit yang berupa perpustakaan kerajaan. Kemudian, pada zaman penjajahan Hindia Belanda, didirikan perpustakaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh Belanda di Jakarta sebagai usaha untuk memperkuat kekuasaannya di Indonesia. Untuk kepentingan penjajahannya, bangsa Belanda juga mendirikan perpustakaan-perpustakaan khusus guna menunjang berbagai lembaga penelitiannya di segala bidang. Pada saat itu pula didirikan penerbit. Penerbit yang pertama yaitu Commisie voor de Yolkslectuur pada tahun 1908, yang sekarang namanya berganti menjadi Balai Pustaka. Pada zaman ini pula diberlakukan undang-undang tentang peraturan bahwa wajib serah karya cetak dengan peraturan pemerintah no. 19. Pada akhir periode penjajahan bangsa Belanda, baru dikembangkan perpustakaan volsbibliotheek yang berfungsi sebagai taman bacaan untuk rakyat. Periode ini kemudian dianggap sebagai lahirnya perpustakaan umum di Indonesia, yang sebelumnya hanya ada perpustakaan kerajaan. Berbeda dengan periode sebelumnya, pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia, perpustakaan hampir dapat dikatakan tidak berkembang sama sekali. Nanti setelah kemerdekaan, terutama dalam rangka nation and character building, perpustakaan di Indonesia mulai berkembang lagi. Sehubungan dengan usaha untuk pemberantasan buta huruf pada tahun 1957, didirikanlah perpustakaan rakyat di mana-mana. Pada periode ini juga merupakan berdirinya perpustakaan negara dan biro perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian menjadi pusat pengembangan perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gagasan untuk mendirikan perpustakaan nasional juga muncul pada masa ini. Pada masa Orde Baru, perkembangan perpustakaan di Indonesia mengalami masa pembinaan dan pengembangan yang serius. Pelita demi Pelita, berbagai upaya dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung pembinaan dan pengembangan perpustakaan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah berupa mendirikan proyek perintis perpustakaan sekolah, percetakan berbagai jenis buku paket untuk berbagai jenjang dan jenis sekolah, usaha penerbitan buku, ditingkatkannya peranan perpustakaan negara, dikembangkannya perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, dikoordinasikannya perpustakaan-perpustakaan khusus dalam bentuk jaringan kerjasama, dan dirintisnya berbagai upaya untuk mendirikan perpustakaan di Indonesia. --- **Zaman Kerajaan Lokal** Kepastian kapan perpustakaan didirikan secara resmi di Indonesia, khususnya pada periode sebelum penjajahan atau periode kerajaan lokal, ada beberapa pendapat baik dari sejarawan maupun dari pustakawan Indonesia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa awal mula perpustakaan di Indonesia ditandai dengan dikenalnya sistem tulisan. Pendapat ini tidak banyak yang membenarkan dengan alasan bahwa institusi berupa perpustakaan tidak selalu dikaitkan dengan pengenalan tulisan, walaupun nantinya perpustakaan berfungsi untuk menyimpan tulisan pada lontar dan papirus. Dengan demikian, jika awal perpustakaan dikaitkan dengan tulisan, berarti sejarah perpustakaan di Indonesia dimulai sejak ditemukannya beberapa prasasti yang dipahat di atas tiang batu di kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) pada abad ke-5 M. Tiang batu itu disebut dengan Yupa. Huruf yang dipakai pada yupa ini adalah huruf Pallawa (huruf India Selatan) dan bahasanya Sansekerta, isinya tentang raja Kutai. Tulisan tersebut tidak disimpan di sebuah tempat melainkan dipancangkan di tempat yang terbuka agar terlihat oleh rakyat. Bila berpedoman pada definisi bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian, atau sub-bagian dari sebuah gedung atau pun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku, biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu serta digunakan untuk anggota perpustakaan. Karena itu, pendapat atau anggapan bahwa Indonesia telah mengenal perpustakaan sejak zaman kerajaan Kutai tidak dapat diterima (Sulistyo-Basuki, 1994). Pendapat selanjutnya mengatakan bahwa perpustakaan sudah mulai dikenal di Indonesia sejak zaman kerajaan Sriwijaya sekitar tahun 692 M. Pendapat para pustakawan tersebut umumnya tidak ditunjang oleh penelitian yang mendalam, hanya berdasarkan asumsi bahwa Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar pada masa lalu sehingga dianggap pasti memiliki perpustakaan. Hal ini didukung oleh adanya informasi dari seorang musafir I-tsing dari Cina yang menyatakan bahwa sekitar tahun 695 M di ibukota kerajaan Sriwijaya hidup lebih dari 1.000 orang biksu. Di samping tugas keagamaan, biksu ini bertugas mempelajari agama Buddha melalui berbagai buku. Jika dikaji lebih lanjut, tentunya seribu biksu itu memerlukan buku agama Buddha yang masih ditulis tangan dan disimpan di berbagai biara. Bila hal ini benar, maka mungkin saja waktu itu sudah ada perpustakaan dengan alasan naskah agama Buddha disimpan di sebuah tempat serta digunakan oleh para pemakai (para biksu). Pendapat bahwa di zaman kerajaan Sriwijaya telah ada perpustakaan lebih berdasarkan pada analogi daripada penelitian. Setelah Sriwijaya (di Palembang), kemudian muncul berbagai kerajaan di pulau Jawa seperti kerajaan Mataram pada abad ke-6 yang mula-mula berpusat di Jawa Tengah kemudian pindah ke Jawa Timur. Pada masa itu, mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Yang pertama adalah naskah Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Buddha Mahayana. Selanjutnya muncul dua buah kitab keagamaan yaitu kitab Brahmandapuranadan Agastyaparwa. Dan masih banyak lagi karya-karya lainnya. Selanjutnya, kerajaan Kediri, kerajaan Singhasari, dan kerajaan Majapahit. Pada zaman Majapahit, ditulis berbagai naskah, misalnya Mpu Prapanca mengarang buku Negarakertagama, sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma. Tercatat pula karangan-karangan lain seperti Kidung Harsawijaya
Conclusion
Sekilas telah dibahas seputar simulacrum informasi yang tengah menghujani masyarakat manusia. Secara singkat, dampak dari simulacrum informasi adalah: a. Manusia akan teralienasi dari dirinya sendiri dan juga teralienasi dari dunianya. b. Antara realitas dan hiperealitas sulit dibedakan. c. Informasi bisa direkayasa. Sedangkan fungsi dari Teori Simulakrum Jean Baudrillard adalah: a. Sebagai alat kritis terhadap berbagai informasi. b. Penyadaran diri bahwa ternyata realitas bisa dibentuk. Demikian pula telah dibahas peranan seorang pustakawan dalam mengantisipasi informasi dan pengetahuan. Intinya adalah bahwa seorang pustakawan hendaknya memiliki kepekaan yang tinggi terhadap berbagai informasi yang berkembang di masyarakat di mana dia berada. Dan berupaya mengidentifikasi informasi tersebut sehingga mampu memberikan informasi dan pengetahuan yang real kepada masyarakat. Demikianlah tulisan ini saya buat, semoga bermanfaat bagi khazanah dunia informasi dan pengetahuan, khususnya dalam bidang Informasi dan Perpustakaan.