Kembali
16
1
2019 Media Informasi Vol 28 · 1 ISSN 2829-2707

Cyberspace dalam novel “The Messenger”

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Perkembangan industri mulai dari era 1.0 hingga menjelang 5.0 selalu ditandai dengan kemajuan yang terjadi pada dunia teknologi informasi hingga mempengaruhi aspek kehidupan manusia secara global. Perkembangan tersebut kemudian memaksa manusia untuk bersinggungan dengan dua realitas dunia yaitu maya dan konkrit. Problematika yang timbul sebagai gambaran bagi manusia yang memiliki interaksi di dua dunia yakni dunia realitas konkrit dan realitas tampakan tergambar dalam novel “The Messenger” yang ditulis oleh Labibah Zain, dkk. Penelitian ini adalah penelitian yang berpijak pada ilmu filsafat sebagai landasan berfikir. Dalam penelitian ini, digunakan perspektif kritik humanis Mark Slouka sebagai pisau analisa. Dengan menggunakan perspektif kritik humanis yang dicetuskan oleh Mark Slouka, peneliti ingin memaparkan realitas semu (hyperrealitas) akibat adanya ruang cyber yang tergambar dalam novel “The Messenger”. Namun, pisau analisis yang digunakan tak sepenuhnya absolut, akan tetapi lebih kepada hasil reflektif dari peneliti. Penelitian ini termasuk dalam studi pustaka dengan objek kajiannya adalah alur cerita dan setting dalam novel “The Messenger”. Hasil penelitian dipaparkan menggunakan metode deskriptif. Adapun hasil penelitian menggolongkan novel ini termasuk dalam golongan Teknorealis. Hal tersebut direpresentasikan dalam konsep realitas, identitas, komunitas, dan ruang yang tergambar dalam novel.
Keywords: Cyberspace · the Messenger · Teknorealis

Introduction

Fenomena revolusi industri yang telah terjadi beberapa waktu lampau telah banyak mempengaruhi kehidupan manusia. Revolusi industri turut melahirkan perkembangan teknologi sebagai penanda bahwa peradaban manusia telah berubah ke era baru. Perkembangan industri mulai dari era 1.0 hingga menjelang 5.0 selalu ditandai dengan kemajuan yang terjadi pada dunia teknologi informasi hingga mempengaruhi aspek kehidupan manusia secara global. Internet yang lahir pada penghujung abad ke 20 dan awal abad ke 21 merupakan fenomena yang amat menonjol dan mampu mendominasi berbagai aktivitas yang multidimensional (Hadi, 2005). Perkembangan tersebut kemudian mema k s a ma n u si a u n t u k b e rsinggungan dengan dua realitas dunia yaitu maya dan konkrit. Problematika yang timbul sebagai gambaran bagi manusia yang memiliki interaksi di dua dunia yakni dunia realitas konkrit dan realitas tampakan tergambar dalam novel “The Messenger” yang ditulis oleh Labibah Zain, dkk. “The Messenger” mengangkat permasalahan yang ditimbulkan dari dunia cyber dengan mengangkat latar percintaan, persahabatan dan sedikit menyinggung permasalahan sosial yang terjadi di dunia nyata. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah “Bagaimanakah perspektif h uma n is M a r k S l o u k a d a l am menganalisis ruang cyber yang terdapat dalam novel The Messenger?

Discussion

1. Cyberspace Cyberspace menjadi term era postmodern yang selalu menarik untuk diperbincangkan di tengah riuhnya perkembangan teknologi. Kehadiran cyberspace mampu mendekonstruksi makna dari “ruang” yang selama ini dipandang sebagai sebuah realitas konkrit berdimensi. Pemahaman tentang ruang, identitas, komunitas, realitas dan kompleksitas ruh manusia, demikian asumsi Slouka, akibat kaidah dan konsep yang diusung cyberspace, mulai menggasak definisi lama tentang hakikat “ada” dan “berada” (Hadi, 2005). Dapat dilihat dan renungkan bersama bahwa kita belum dapat menggambarkan bentuk ruang cyber tersebut. Dapat dikatakan bahwa, c y b e rs p a c e s e b a g a i d a m p a k perkembangan teknologi informasi telah berhasil membentuk kebudayaan di mana orang dapat hidup dalam dua identitas dalam dunia konkrit dan dunia maya. Namun, ini hanyalah sekelumit wacana (ontologism) yang sedikit mengangkat sisi-sisi subtil kritik media mutakhir melalui lidah tekstual seorang Mark Slouka: bahwa Cyberspace mulai mendekonstruksi “sunatulloh” dan mendistorsi “fitrah” manusia melalui jargon (politik) virtualnya (Hadi, 2005). L a y a k n y a d a l a m d r a m a , cyberspace menyediakan ruang-ruang tempat berjubelnya berjuta imajinasi dan beribu fantasi. Dunia tersebut bukanlah ruang dalam pengertian secara umum atau tiga dimensi, melainkan sebuah metafora yang menjadi 'kediaman' jutaan manusia, namun tidak dalam pengertian fisik (Candra, n.d.). Bagi kalangan pemuja dunia cyber, mereka hidup dalam dua komunitas sosial yang berbeda antara komunitas fisik dunia nyata yang tentunya bisa dilihat bentuknya secara fisik “fitrah” wujudnya yang terbatas komunikasi dalam ruang dan waktu. Satu lagi dunia baru, dunia cyber (internet) di mana seluruh manusia dalam jagad ini memiliki kemungkinan untuk menjalin komunikasi bahkan membentuk keluarga tanpa dibatasi jarak, ruang dan waktu. Kondisi ini memungkinkan adanya kekaburan batas dunia nyata dengan dunia virtual, dalam waktu yang sama seseorang dapat menggerakkan kepada pada dunia nyata dan menimbulkan efek gerak pada dunia virtual (Mafar, 2013). Internet ibarat Tuhan dalam dunia cyber, manusia yang berada di alam cyber menciptakan sendiri skenario yang diperankan pada dunia cyber, tidak ada larangan apapun atau aturan apapun untuk melakukan komunikasi di dunia cyber. Tawaran ini merupakan sesuatu yang menjanjikan bagi pemujanya karena mampu menjadi alternatif bagi seseorang untuk menjadi populer dalam kemasan lain di komunitas cyber. Namun, tidak sedikit yang memandang sinis atas kecenderungan baru ini. Astar Hadi (2005) melalui bukunya yang berjudul “Matinya Dunia Cyberspace: kritik Humanis Mark Slouka Terhadap Jagat Maya” mengkaji secara kritis dampak dari perkembangan dunia maya. Dia menelaah pemikiran kritis tokoh humanis Mark Slouka atau lebih tepatnya telaah atas bukunya “Ruang Yang Hilang: Pandangan Humanis Tentang Budaya Cyberspace” yang me ris a u k a n d a l am p e rs p e k t if hermeneutis. Astar Hadi tampaknya tertarik pada bahasa yang dilontarkan oleh Slouka. Pemikiran Slouka yang coba diketengahkan oleh Astar Hadi tentang “matinya dunia realitas”. Matinya dunia realitas ini bukan lantaran ada yang membunuhnya, namun karena adanya “realitas tandingan” atau dunia cyberspace yang disebut oleh Baudrillad sebagai realitas simulacrum. Saat seseorang berasik masuk dalam dunia ini seringkali tersesat dan tidak mampu lagi m e m b e d a k a n “ r e a l i t a s ” d a n “tampakan”. Dalam wacana simulasi, manusia mendiami ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan palsu sangat tipis (Medhy, n.d.). L e b i h d a l a m l a g i , H a d i mengungkapkan bahwa riuhnya pe rkembangan t eknologi yang berujung pada munculnya fenomena cyberspace telah menggeser definisi lama tentang ruang, komunitas, identitas, realitas dan kompleksitas ruh manusia. Hasanah masing-masing komunitas menjadi satu kesatuan. Hal ini bisa dilihat dari bentuk dunia yang semakin homogen. Perkembangan teknologi sekarang benar-benar telah sampai pada taraf mengancam eksistensi manusia. Sementara, manusia tidak menyadari hal itu. 2. Neo Futuris, Dystopian, Tekno realis Cyberspace (internet) merupakan fenomena mutakhir sebagai dampak dari pesatnya perkembangan teknologi. Cyberspace kini bukanlah barang eksklusif. Ia dinikmati oleh semua kalangan. Dunia cyber yang mampu membius manusia yang masuk ke d a l amn y a d a n memp e n g a r u h i pengambilan keputusan dalam dunia konkrit. Fenomena yang membuat seorang Mark Slouka melontarkan kritikannya pada dunia siber. Dengan gayanya yang cukup puitis, Slouka mendeskripsikan bagaimana teknologi informasi dan komunikasi internet mulai menyentuh aspek-aspek paling fundamental dalam diri dan lingkungan sekitar (Hadi, 2005). Istilah-istilah yang kemudian saat ini muncul seperti p h u b b i n g d a n a u t isme s o si a l setidaknya telah merepresentasikan apa yang dimaksud oleh Slouka. Aspek sosial lain yang muncul pasca hadirnya internet dan ruang virtual adalah terbentuknya tiga paham yaitu dystopian, neo-futuris, dan tekno r e a lis. Ke tiga paham t e rs ebut diungkapkan oleh Antony G.Wilhem da l am bukunya yang be rjudul “Democracy in Digital Age”. Kaum Dystopian sangat berhati-hati dan bersikap kritis terhadap penerapan teknologi komunikasi. Menurut kaum dystopian, teknologi komunikasi dapat mengacaukan kehidupan sosial budaya, sehingga mereka ingin mengembalikan kualitas-kualitas esensial yang menyusut dalam interaksi masyarakat kontemporer (Hadi, 2005). Sementara itu, kebalikan dari destopian merupakan kaum NeoFuturis. Kelompok ini merefleksikan warisan optimisme yang tak terkendali dari gelombang pertama, futurisme. Mereka yakin bahwa teknologi dalam kecepatan tinggi adalah kekuatan yang menggilas semua yang dilewati, dan berusaha membangun dasar kerja untuk masa depan yang penuh harapan. Kemudian, paham yang ketiga yaitu tekno realis, yaitu paham yang menjadi penengah antara kaum dystopian dan neo-futuristik. Se sua i dengan namanya, paham ini meletakkan aspekaspek kritis dalam kaitannya dengan praktik komunikasi, dengan tetap menekankan perhatian terhadap nilainilai kemanusiaan. Ketiga paham tersebut kemudian digunakan untuk merepresentasikan alur pemikiran kritik Mark Slouka terhadap dunia cyber. Pemetaan k e m u d i a n d i l a k u k a n u n t u k memberikan batasan wilayah-wilayah mana yang menjadi patokan.Ada empat konsep yang dapat digunakan sebagai patokan yaitu konsep realitas, konsep identitas, konsep komunitas, dan konsep ruang. Secara ringkas dapat dilihat dalam Tabel 1 (Hadi, 2005). 3. The Messenger “The Messenger” adalah novel cerfet (cerita estafet) yang ditulis oleh 4 orang yang berdomisili di 3 negara berbeda dan hanya bertemu di dunia maya. Sebutan “cerita estafet” atau disingkat “cerfet” diberikan oleh pendiri forum Blogfam dot com, Labibah Zain. Sebutan tersebut karena bentuk penulisan ceritanya seperti adegan perlombaan lari estafet dalam dunia olahraga. Penulis A akan menyerahkan tongkat estafet penulisan kepada penulis B, dan seterusnya. Penulis-penulis dalam novel ini secara tersirat menggambarkan bagaimana interaksi yang terjadi baik di dunia nyata maupun dunia maya. Interaksi yang terjadi di dunia nyata tidak ada kepalsuan dan memang benar adanya. Persahabatan yang terbentuk antara Sofia, Dena, dan Turi di dunia nyata, kemudian mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu sehingga memerlukan media komunikasi global (internet) untuk menghubungkannya, tetapi tidak ada kebohongan dalam segala hal.Kemudian karena konflik masa lalu di dunia nyata Sofia mencari hiburan melalui Yahoo! Messenger dengan mengubah identitasnya menjadi seorang laki-laki dengan username “Lelaki kelam”. Lelaki kelam (Sofia) melakukan interaksi di dunia Maya dengan akun bernama Mpus_imut70 yang ternyata merupakan Rana seorang laki-laki yang di dunia maya juga menyamar sebagai seorang wanita. Keintiman hubungan mereka di dunia maya sampai mempengaruhi perasaan di antara keduanya. Keintiman yang dibuat di dunia maya yang disebut sebagai cybersex antara Lelaki kelam dan Mpus_Imut70. Sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di dunia nyata, tapi lagi-lagi si Mpus_Imut70 melakukan kebohongan dengan menyewa seorang wanita untuk memerankan dirinya. Klimaks yang terjadi adalah ketika Mpus_Imut70 alias Rana mengetahui identitas asli dari Lelakikelam. Rana tau jika Lelaki kelam adalah Sofia yang dia kenal melalui mantan kekasih yang juga sahabat Sofia yaitu Turi dan berusaha menjodohkan keduanya. Kebimbangan melanda Sofia juga Rana yang samasama sudah mengenal di dunia maya dengan identitas berbeda tetapi juga berinteraksi di dunia nyata. Perasaan sudah mengenal lama dirasakan keduanya sejak pertama kali bertemu. Hingga keduanya saling mengetahui identitas masing-masing di dunia maya maupun nyata. 4. Tekno realis dalam Novel “The Messenger” Buku ini mengingatkan sebuah “frame” dalam film “5 cm” tentang kisah lima sahabat yang terbangun sangat kuat dan ternyata di sisi lain dua orang sahabat yakni “Rani” dan “Japra” memiliki komunikasi lain di alam cyber melalui Yahoo Messenger, keduanya walaupun dekat di dunia nyata akan tetapi berubah drastis dan “ b e r g a n t i b a j u ” m a n a k a l a berkomunikasi di dunia cyber. 1) Realitas Novel ini menampilkan dua r e a lit a s s e b a g a i l a t a r s e tti n g cerita.Realitas konkret ditampilkan dengan adanya interaksi semua tokoh yang terlibat. Penyebutan nama tempat seperti Jakarta, gedung apartemen, kafe, basement, dan kantor kemudian properti seperti mobil, meja, komputer, kasur, dan buku merupakan realitas konkret yang sangat kuat ditampilkan dalam novel ini. Pembaca juga dapat mengamini bahwa itu semua adalah realitas konkret. Realitas abstrak ditampilkan secara dominan merupakan interaksi dua tokoh utama yaitu Rana dan Sofia di aplika si Yahoo Me ss enge r. Percakapan keduanya melalui Yahoo Messenger berisi tentang cerita keduanya dalam alam nyata. Mereka berbincang seolah-olah sedang be rhadapan l angsung. Namun, interaksi di alam cyber tersebut masih dapat dikendalikan dengan mematikan akses ke akun masing-masing. Ketika ingin berkomunikasi maka kedua akun harus berstatus online. Selain itu, dibutuhkan juga perangkat lain yaitu modem dan komputer. Seperti dalam text berikut ini (Jaf, Tuteh, SA, 2007): “ S o f i a m e n c o b a m e n g a t u r komunikasi dengan dua orang yang berbeda, dengan dua media yang berbeda pula (Jaf, Tuteh, SA, 2007:34)” Dua realitas yang ditampilkan dalam setting novel menjadi sebuah gambaran interaksi manusia dalam dunia konkret yang menjadikan alam cyber sebagai realitas alternatif untuk dapat merasakan sensasi menjadi “orang lain”. Oleh sebab itu, realitas konkret masih menjadi pengendali sepenuhnya atas apa yang ia perankan di alam siber. Kedua alam dapat berjalan seimbang dan setiap peran mampu beradaptasi dengan adanya alam lain. 2) Identitas Realitas konkrit ditampilkan dalam 4 pemeran utama. Rana (Merana Patricia Sidabutar) digambarkan pada halaman 12 bahwa dia merupakan lakilaki kelahiran Batak yang memiliki Ayah asli Batak dan ibunya seorang warga Amerika. Rana memiliki teman kantor bernama Dodi. Di masa lalunya, Rana memiliki seorang mantan kekasih bernama Turi. Dari Turi, Rana dikenalkan oleh seorang perempuan bernama Sofia. Sofia merupakan sahabat Turi yang bekerja sebagai vice manager di sebuah perusahaan advertising. Lambat laun, Rana akhirnya mengetahui jika Sofia merupakan teman chatting di alam c y b e r Ya h o o Me ss e n g e r y a n g menyamar sebagai seorang laki laki dengan akun LelakiKelam.Ra n a d i a l am c y b e r j u g a menyamar sebagai seorang perempuan y a n g m e m i l i k i a k u n Ya h o o MessengeMpus_Imut7. Di alam cyber, LelakiKelam dan Mpus_Imut7 telah menjalin kedekatan layaknya sepasang kekasih. Kedekatan tersebut sampai berpengaruh pada kehidupannya. Rana (Mp u s _ Imu t 7 ) ma u p u n S o fi a (LelakiKelam) sangat menikmati kedua peran mereka masing-masing dalam dua realitas yang berbeda. Seperti cuplikan dalam cerita: “Aku tahu, di dunia virtual seperti ini orang bisa menjadi siapapun dan bersikap sesuka apapun yang mereka mau. Bukan hal yang aneh juga di dunia virtual ini bila seseorang bisa berbanding 180 derajat dengan aslinya” (Jaf, Tuteh, SA, 2007:168). Suatu ketika, Turi mengenalkan Rana kepada Sofia dengan tujuan untuk dijodohkan. Rana dan Turi sepakat untuk bertemu dan berbincang. Mereka sama sekali tidak menyadari jika keduanya selama ini telah saling terhubung melalui Yahoo Messenger. Keduanya sama-sama memainkan peran dalam dua alam yang berbeda. Sampai pada suatu ketika Rana merasa c u ri g a d e n g a n c u r h a t a n d a ri LelakiKelam (Sofia) tentang kejadian yang juga menimpa Rana. Cuplikan berikut: “Rana Shock membacanya. Dia terdiam. Lama sekali. Pikirannya melayang pada Sofia.LelaiKelam. Sofia. LelakiKelam. Are we in the same game? Are we, Sof? Aliran darahnya mengental seakan sedang dipanasi di atas bara.” (Jaf, Tuteh, SA, 2007:123) Hal tersebut telah menjadi gambaran bahwa baik Rana-Sofia maupun LelakiKelam-Mpus_Imut70 merupakan representasi konkrit yang terjadi saat ini. Realitas abstrak melalui berbagai aplikasi sosial media yang berkembang saat ini menjadi alternatif bahkan menjadi realitas tandingan bagi masyarakat untuk memiliki identitas ganda. Dunia maya memungkinkan manusia dapat meraih apa-apa yang tidak didapatkan di dunia konkret. Eksistensi, identitas lain, dan power merupakan beberapa alasan seseorang kecanduan berinteraksi di dunia maya. Sofi a , s eor ang wanit a dengan pengalaman masa lalunya disakiti oleh lelaki mengubah identitasnya menjadi lelaki untuk dapat merasakan sebagai laki-laki. Begitupun Rana, dengan kisah kelamnya bersama Turi yang pada akhirnya harus berakhir dengan menyakitkan menggiring Rana untuk mengambil peran sebagai perempuan di dunia maya. Keduanya dapat memainkan peran yang berbeda di dunia dan media yang berbeda meskipun ada saat-saat tertentu mengalami keos karena kewalahan dalam berperan. Gambaran tersebut memberikan kita pengetahuan bahwa berinteraksi di dunia maya dan konkret merupakan hal yang akrab dengan masyarakat saat ini. Keduanya memberikan pengalaman yang berbeda sehingga penggunaan identitas ganda merupakan sebuah kewajaran. 3) Komunitas Dalam novel The Messenger tersebut menggambarkan adanya pengaruh interaksi sosial dalam ruang konkret terhadap ruang maya maupun sebaliknya. Seperti yang tertulis dalam kalimat berikut: “Sofia menarik napas panjang. Sopir taksi hanya bisa melirik tak mengerti dari kaca spion. Mpus, tolong temani aku malam mini. Biarkan aku tahu pendapatmu. Beri aku kata-kata yang bisa membuatku lebih tenang”(Jaf, 2007:93). Berdasarkan cuplikan cerita tersebut, dapat diketahui bahwa interaksi yang dilakukan oleh Mpus dan Lelakikelam di ruang cyber mampu mempengaruhi kondisi seseorang di ruang konkrit sehingga m a m p u m e m b u a t s e s e o r a n g mengambil keputusan. Sofia tidak kenal secara nyata siapa itu Mpus sebenarnya. Namun yang terjadi k e m u d i a n k a r e n a i n t e n si t a s komunikasi yang dilakukan antara Mpus dan Lelakikelam ternyata mampu mengesampingkan identitas sesungguhnya yang seharusnya diketahui. Keadaan seperti itulah semakin menegaskan bahwa keberadaan teknologi terkadang sangat dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Apa yang ditawarkan dari penggunaan teknologi bisa jadi digunakan untuk mengambil keputusan yang dibutuhkan dalam dunia konkret. Interaksi sosial yang terjadi dan diamati di ruang siber saat ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Bisa saja apa yang terjadi di ruang siber merupakan kondisi riil. 4) Ruang Ruang yang ditampilkan dalam novel sangat jelas batasannya antara ruang konkret dan ruang maya. Ruang k o n k r e t d i g amb a r k a n d e n g a n penyebutan kantor, mobil, Jakarta dan lain sebagainya yang memungkinkan para tokoh berinteraksi langsung tanpa perantara. Sementara ruang maya ditampilkan dalam bentuk percakapan me n g g u n a k a n a p l i k a si Ya h o o Messenger dan surat elektronik. Rana, Sofia, Turi, Dena, dan Dodi menempati ruang konkret, sedangkan Lelaki Kelam dan Mpus_Imut70 menempati ruang maya. Hal tersebut sesuai dengan k a r a k t e r Te k n o r e a l is d a l am memandang keberadaan teknologi. Kaum tekno realis mampu beradaptasi dengan keberadaan teknologi, namun tidak serta merta meninggalkan dunia konkret. Teknologi digunakan sebagai alternatif dalam membangun ruang sosial lain dalam dimensi yang berbeda. Seperti yang yang telah dipaparkan oleh Slouka bahwa, kaum tekno realis tidak secara frontal menolak keberadaan teknologi. Dimensi ruang kaum tekno realis yang tergambar dalam novel dapat dikatakan sebagai representasi fenomena yang terjadi saat ini.

Conclusion

Penulis Novel ingin menggambarkan bahwa interaksi dalam dunia maya sangat mempengaruhi kehidupan di dunia nyata walaupun dengan identitas diri yang dibuat berbeda . J i k a menggunakan pisau analisis dari Mark Slouka, Novel ini termasuk dalam golongan Tekno realis. Realitas tergambar jelas sebagai penyeimbang antara abstrak (Lelakikelam dan Mpus_Imut7) dan yang konkrit (Sofia dan Rana).Sebenarnya identitas yang dipakai dalam novel ini merupakan identitas ganda tetapi identitas itu juga permisif dalam berbagai peran seperti drama ditunjukkan dengan adanya konflik percintaan antara Sofia dengan Pram, Rana dan Turi. Latar belakang d i g a m b a r k a n j e l a s d e n g a n menunjukkan sebuah tempat yang nyata, ada bengkel, apartemen, Jakarta, rumah kontrakan, kamar kerja, kantor, dan lain sebagainya yang menunjukkan bahwa dunia nyata masih digambarkan dalam novel ini. Penulis-penulis dalam novel ini terdiri dari 4 orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, belum sempat bertemu, namun bisa menghasilkan sebuah tulisan berupa novel ini. JAF di Singapura, Tuteh di Ende, SA di Nederland, dan UYET di Surabaya yang melakukan komunikasi m e l a l u i B l o g F a m i l y a t a u Blogfam.com. Berbagai latar belakang budaya penulis tentunya berpengaruh pada gaya penulisan yang disajikan berbeda pula, namun tidak keluar dari jalur aslinya. Akhirnya novel ini memberikan pembelajaran bagi kita yang telah masuk dalam dunia siber bahwa siber itu ada dan memberikan pengaruh besar terhadap keputusan-keputusan dalam dunia nyata. Kaum tekno realis menempa tkan t eknologi untuk diadaptasi, bukan diadopsi begitu saja.