Kembali
16
1
2016 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 4 · 1 ISSN 2549-1334

PEMANFAATAN FITUR Z39.50 PADA SLIM (STUDI KASUS DI PERPUSTAKAAN FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UIN ALAUDDIN

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstrak

Z39.50 merupakan protokol standar yang memungkinkan dua sistem komputer terotomasimelakukan proses komunikasi dalam hal sistem temu balik informasi.Pembahasan utama yangdiangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pemanfaatan fiturcopycatalogingpada aplikasiSLiMS dengan menggunakan fitur protokol Z39.50di Perpustakaan Fakultas Adab danHumaniora UIN Alauddin Makassar.Tujuan utama dari penelitian ini adalah untukmengetahui sejauh mana pemanfaatan protokol Z39.50 serta permasalahan yang dihadapi olehpengelola perpustakaan dalam melakukan proses salin katalog dari perpustakaan Library ofCongress diAmerika Serikat. Data penelitiandiperoleh daristaf Perpustakaan Fakultas Adabdan Humaniora. Data yang terkumpul kemudiandianalisis secara kualitatif.Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemanfaatan fitur Z39.50 pada SLiMS sudah berjalan dengan baik.Pemanfaatan fitur Z39.50 sangat membantu staf perpustakaan dalam proses penginputankatalog bahan pustaka, khususnya yang berbahasaInggris,karena menghemat waktu prosespenginputanmeskipun masih harus melakukan perubahan pada nomor klasifikasi yang manaperpustakaan FAH menggunakan sistem penomoran DDC
Keywords: Protokol Z39.50 · Salin Katalog · Senayan Library Management System (SLIM)

Introduction

Di era teknologi informasi sekarang ini, mencari informasi bukanlah suatu hal yang sulit. Telah terdapat begitu banyak sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang untuk memenuhi kebutuhan informasinya, mulai dari sumber tercetak maupun sumber-sumber elektronik. Faktanya, sekarang orang lebih cenderung menggunakan internet ketimbang media-media cetak yang ada. Membludaknya informasi yang ada saat ini menjadikan setiap individu untuk lebih bijak lagi dalam mencari informasi, khususnya informasi yang tersalurkan melalui media-media elektronik yang ada. Kemampuan manusia untuk menyaring informasi yang akurat juga dibutuhkan, karena ledakan informasi yang begitu cepat menyediakan begitu banyak sumber-sumber informasi sehingga menjadi suatu kendala untuk menentukan sumber-sumber mana saja yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan informasi mana saja yang sudah kadaluwarsa (Pendit, 2007: 23). Banyak lembaga-lembaga informasi yang berusaha mengontrol agar informasi mereka tepat sasaran kepada para penggunanya. Salah satu lembaga informasi yang akan dibahas pada tulisan ini yaitu perpustakaan. Kehadiran perpustakaan sebagai lembaga informasi yang menyediakan pelayanan informasi bagi masyarakat berfungsi sebagai penyedia informasi yang tepat dan akurat, dan berusaha seoptimal mungkin mengontrol informasi yang dimilikinya. Tantangan perpustakaan dalam menyediakan informasi di tengah ledakan informasi yang begitu pesat dituntut untuk bisa memberikan informasi dan sumber informasi yang relevan. Dalam menyediakan jasa layanan informasi, perpustakaan juga harus bisa menentukan sumber informasi yang up-to-date seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Identitas sumber-sumber informasi dari koleksi bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan harus jelas demi untuk mengetahui sejauh mana keakuratan informasi bahan pustaka tersebut, sekaligus juga apabila pemustaka ingin melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai asal usul dari teori bahan pustaka tersebut untuk memperkaya sumber referensi dari pemustaka. Untuk itu, perpustakaan menyediakan identitas terinci dari setiap bahan pustaka berupa kartu katalog untuk mempermudah penelusuran informasi di perpustakaan. Perpustakaan bertanggung jawab menyediakan identitas informasi dari setiap bahan pustaka yang dikoleksi oleh perpustakaan tersebut. Dalam proses penginputan katalog bahan pustaka di perpustakaan, misalnya, pengelola perpustakaan atau pustakawan di era saat ini dapat menginput dengan melakukan salin katalog (copy cataloging) secara otomatis dari perpustakaan lain yang sudah menyediakan katalog dari bahan pustaka yang tersedia, tanpa harus menginput katalog tersebut. Dalam hal ini, perpustakaan sudah melakukan proses kerjasama dengan perpustakaan lain secara tidak langsung dengan memanfaatkan fitur ini sebagai media pertukaran metadata bahan pustaka. Dalam melakukan copy cataloging, pustakawan bisa mencari informasi dengan menggunakan satu bahasa protokol yang dikenal dengan istilah Z39.50 sebagai standar komunikasi antara komputer server dan klien, meskipun pun kedua komputer memiliki perangkat keras atau perangkat lunak yang berbeda, sistem pangkalan data yang berbeda, atau sistem logika pencarian yang berbeda (NISO, 4: 2002). Tulisan ini akan mencoba mengkaji fitur Z39.50 yang telah diterapkan oleh pengelola Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar yang tersedia dalam aplikasi SLiMS atau Senayan Library Management System.

Method

Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang (Nasir, 2005: 54). Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau suatu lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan antar fenomena yang diselidiki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiono, 2013: 1). ### Sumber Data Data penelitian ini bersumber dari para informan penelitian (staf perpustakaan FAH UIN Alauddin) dan juga aplikasi SLiMS itu sendiri. ### Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi langsung, dan juga dokumen-dokumen lainnya yang terkait dengan fitur Z39.50. ### Instrumen Penelitian Pedoman wawancara yang dibangun berdasarkan teori yang relevan menjadi instrumen utama dalam penelitian ini. Selain itu, tape recorder, kamera digital, dan screenshot juga menjadi instrumen pendukung dalam mengumpulkan data-data penelitian. ### Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan menunjukkan satu per satu hasil penelitian, lalu setelah itu data-data tersebut ditelaah dan dikritisi berdasarkan teori yang berkembang. Reduksi data juga menjadi penting untuk diketahui agar dapat menghindari meluasnya cakupan penelitian ini.

Result & Discussion

Pemanfaatan Fitur Protokol Z39.50 Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) telah berdiri sejak tahun 1967, seiring dengan pendirian fakultas tersebut. Seperti perpustakaan fakultas lainnya di lingkungan UIN Alauddin Makassar, perpustakaan ini bertujuan untuk mendukung UPT Perpustakaan UIN Alauddin dalam menyediakan sarana belajar bagi para mahasiswa. Gagasan untuk mengotomatiskan perpustakaan ini dirancang pada akhir tahun 2014 oleh pimpinan perpustakaan, Hildawati Almah, S.Ag., S.S., M.A., yang juga merupakan dosen di Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar. Sejak saat itu, perkembangan perpustakaan ini sangat signifikan, termasuk layanan peminjaman dan pengembalian yang kini telah dilakukan secara otomatis dengan menerapkan aplikasi SLiMS (Senayan Library Management System). Dalam kegiatan katalogisasi bahan pustaka, saat ini terdapat lima orang mahasiswa magang yang melaksanakan kegiatan tersebut dengan bimbingan dari staf perpustakaan. Koleksi perpustakaan FAH memiliki variasi bahasa, termasuk bahasa Inggris, Arab, dan bahasa Indonesia. Untuk koleksi yang berbahasa Inggris, proses katalogisasi dilakukan dengan cara salin katalog dari Perpustakaan Kongres Amerika Serikat. Sebagian besar buku dalam bahasa Inggris tersebut sudah memiliki katalog di perpustakaan, sehingga proses katalogisasi menjadi lebih mudah. #### Fungsi Fitur Z39.50 Fungsi utama dari pemanfaatan fitur protokol Z39.50 pada aplikasi SLiMS adalah untuk memudahkan katalogisasi bahan pustaka. Dalam fitur bibliografi, staf perpustakaan melakukan proses penginputan data bibliografi dari bahan pustaka dengan mengisi kolom identitas seperti judul buku, pengarang, jilid, penerbit, tahun terbit, nomor kelas, abstrak, subyek, dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan sistem temu balik informasi di perpustakaan. Dengan adanya fitur Z39.50, staf perpustakaan sangat terbantu karena tidak perlu lagi melakukan proses penginputan katalog secara manual. Fitur ini memungkinkan staf perpustakaan untuk melakukan copy cataloging atau salin katalog bahan pustaka dari perpustakaan lain yang sudah melakukan input katalog bahan pustaka yang sama. Perbandingan antara penginputan katalog secara langsung di fitur bibliografi pada aplikasi SLiMS dengan melakukan copy cataloging melalui fitur protokol Z39.50 menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam efisiensi waktu dan kejelasan informasi. Penginputan katalog secara langsung memakan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit setiap buku, tergantung pada kemampuan kataloger. #### Kendala dalam Pemanfaatan Fitur Z39.50 Meskipun pemanfaatan fitur protokol Z39.50 pada SLiMS banyak membantu staf perpustakaan dalam melakukan proses katalog dengan cepat dan efisien, terdapat beberapa kendala yang dihadapi. Tidak semua koleksi yang ada di Perpustakaan FAH memiliki cantuman bibliografi yang tersedia di Library of Congress. Beberapa buku berbahasa Indonesia yang terdaftar di katalog Library of Congress adalah buku-buku yang memiliki reputasi nasional dan internasional, seperti novel "Laskar Pelangi," "Sang Pemimpi," dan "Negeri Lima Menara." Proses copy cataloging secara online bergantung pada jaringan internet, yang sering terputus secara tiba-tiba. Koneksi internet adalah syarat utama dalam pemanfaatan fitur protokol Z39.50, karena interoperabilitas temu balik informasi antara komputer klien dan server terhubung melalui koneksi internet. Kendala seperti pemutusan aliran listrik yang mematikan semua peralatan komputer dan jaringan internet juga dapat menghambat proses pelayanan di perpustakaan. Kendala utama dalam proses salin katalog adalah bahwa cantuman bibliografi yang masuk ke dalam database SLiMS FAH perlu disunting di beberapa bagian, seperti nomor klasifikasi dan subjek. Kataloger harus menentukan nomor klasifikasi dan tajuk subjek bahan pustaka yang telah tercantum dalam database. Meskipun semua koleksi yang telah tersalin dalam database SLiMS memiliki judul yang berbeda-beda, semuanya memiliki subjek yang sama, yaitu "Perpustakaan." Oleh karena itu, perlu perhatian khusus dari para penyalin untuk mengubah dan menentukan kembali subjek bahan pustaka yang baru saja disalin dari Library of Congress. Dengan demikian, meskipun fitur Z39.50 memberikan banyak kemudahan dalam proses katalogisasi, tantangan dan kendala yang ada tetap perlu diatasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan perpustakaan.

Conclusion

Dari pembahasan singkat di atas, penelitian ini dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1. **Manfaat Pemanfaatan Fitur Protokol Z39.50**: Pemanfaatan fitur protokol Z39.50 pada SLiMS di Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar memberikan manfaat dan pengetahuan yang besar bagi pengelola perpustakaan. Fitur ini membantu staf perpustakaan dalam melakukan pengatalogan dengan cepat dan efisien jika dibandingkan dengan pengatalogan secara manual pada kolom bibliografi di aplikasi SLiMS. Dengan demikian, staf perpustakaan dapat menghemat waktu dalam proses katalogisasi bahan pustaka. 2. **Kendala dalam Proses Copy Cataloging**: Terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh staf perpustakaan dalam melakukan proses copy cataloging bahan pustaka pada SLiMS. Salah satu kendala utama adalah koneksi internet yang menjadi syarat utama dalam pemanfaatan protokol Z39.50, yang terkadang terputus dan menghambat proses tersebut. Kendala lainnya adalah pengelola perpustakaan harus menentukan nomor klasifikasi dan subjek bahan pustaka yang telah disalin, yang memerlukan waktu dan ketelitian tambahan. Dengan demikian, meskipun fitur Z39.50 memberikan banyak kemudahan dalam proses katalogisasi, tantangan yang ada perlu diatasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan perpustakaan.