Kembali
16
1
2017 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 5 · 2 ISSN 2549-1334

PENTINGNYA KETERAMPILAN DIGITAL LITERASI BAGI PUSTAKAWAN

Universitas Pelita Harapan

Abstrak

Perkembangan teknologi informasi membuat arus informasi sangat mudah diakses tanpa batas ruang dan waktu. Tidak semua informasi sahih sebagai bahan acuan. Dalam era digital, seorang pustakawan harus memiliki keterampilan digital literasi supaya dapat menelusur dan mengidentifikasikan sumber informasi yang valid. Ada 2 komponen penting digital literasi, yaitu strategi penelusuran (kata kunci, indeks online, boolean logic dan sintaks) dan evaluasi web (authoritatif, akurasi, obyektifitas, kekinian, cakupan serta gaya bahasa). Komponen tersebut perlu diketahui oleh pustakawan, agar ia menyajikan sumber-sumber informasi secara valid, reliable dan akurat sesuai kebutuhan pemustaka
Keywords: Digital literasi · strategi penelusuran · evaluasi web

Introduction

Perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi pada dekade tahun 2000-an sangat meningkat, hal ini ditandai dengan tren penggunaan internet, intranet, e-commerce dan sebagainya yang melonjak di berbagai sektor formal dan informal. Penggabungan teknologi antara komputer dengan telekomunikasi ini menghasilkan teknologi informasi yang mampu jauh menembus batas-batas fisik, ruang dan waktu. Perkembangan teknologi informasi sangat berpengaruh terhadap laju informasi yang kita dapat. Lonjakan laju informasi tersebut memberikan dampak yang sangat nyata dalam berbagai sektor layanan jasa informasi, tak terkecuali perpustakaan. Pengaruh yang dirasakan oleh perpustakaan bisa dikatakan sangat besar, mengapa demikian? Karena komoditas utama perpustakaan tak lain adalah data dan informasi. Derasnya arus informasi dari berbagai sumber elektronik, merupakan tantangan tersendiri bagi pustakawan di era digital seperti saat ini. Pustakawan dituntut bukan hanya piawai dalam hal klerikal melainkan juga harus melek teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan dalam penyediaan sumber–sumber informasi, seiring dengan menurunnya penggunaan bahan kertas (paperless) sebagai media utamanya. Akibatnya laju informasi di dunia maya menjadi tak terelakkan lagi. Banyaknya ketersediaan sumber informasi, tentunya akan menyulitkan pemustaka dalam hal mencari dan mengidentifikasikan informasi mana yang valid, reliable dan akurat untuknya. Tak sedikit pemustaka yang salah dalam mengambil sumber informasi sebagai bahan referensi, akibatnya bukan hanya menyesatkan tetapi juga menihilkan karya yang dihasilkan pemustaka tersebut lantaran salah dalam menelusur dan memanfaatkan sumber informasi. 2. RUMUSAN MASALAH Banyaknya sumber informasi yang tersebar di internet, tidak selalu diikuti dengan kualitas data informasi yang disajikan. Tidak sedikit yang tergolong sebagai sampah informasi. Atas dasar inilah, kita sebagai pustakawan dituntut bukan hanya bisa menggunakan perangkat elektronik namun juga harus memiliki kemampuan memilah dan menyeleksi informasi mana yang valid dan mana yang tidak. 3. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini berusaha untuk memaparkan pentingnya seorang pustakawan memiliki keterampilan dalam digital literasi agar mampu menemukan sumber-sumber informasi yang valid, reliable dan akurat

Method

Perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi pada dekade tahun 2000-an sangat meningkat, hal ini ditandai dengan tren penggunaan internet, intranet, e-commerce dan sebagainya yang melonjak di berbagai sektor formal dan informal. Penggabungan teknologi antara komputer dengan telekomunikasi ini menghasilkan teknologi informasi yang mampu jauh menembus batas-batas fisik, ruang dan waktu. Perkembangan teknologi informasi sangat berpengaruh terhadap laju informasi yang kita dapat. Lonjakan laju informasi tersebut memberikan dampak yang sangat nyata dalam berbagai sektor layanan jasa informasi, tak terkecuali perpustakaan. Pengaruh yang dirasakan oleh perpustakaan bisa dikatakan sangat besar, mengapa demikian? Karena komoditas utama perpustakaan tak lain adalah data dan informasi. Derasnya arus informasi dari berbagai sumber elektronik, merupakan tantangan tersendiri bagi pustakawan di era digital seperti saat ini. Pustakawan dituntut bukan hanya piawai dalam hal klerikal melainkan juga harus melek teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan dalam penyediaan sumber–sumber informasi, seiring dengan menurunnya penggunaan bahan kertas (paperless) sebagai media utamanya. Akibatnya laju informasi di dunia maya menjadi tak terelakkan lagi. Banyaknya ketersediaan sumber informasi, tentunya akan menyulitkan pemustaka dalam hal mencari dan mengidentifikasikan informasi mana yang valid, reliable dan akurat untuknya. Tak sedikit pemustaka yang salah dalam mengambil sumber informasi sebagai bahan referensi, akibatnya bukan hanya menyesatkan tetapi juga menihilkan karya yang dihasilkan pemustaka tersebut lantaran salah dalam menelusur dan memanfaatkan sumber informasi.

Discussion

Perkembangan teknologi informasi yang pesat memberikan pengaruh yang sangat nyata dalam mendapatkan sumber informasi. Perpustakaan sebagai tempat penyedia informasi, sudah tentu merasakan perkembangan tersebut. Dengan adanya teknologi informasi, setidaknya bagi perpustakaan ada beberapa manfaat yang didapatkan, pertama pemanfaatan sumber informasi oleh pemustaka menjadi lebih efektif dan efisien. Karena bisa di akses di mana saja tanpa terbatas ruang dan waktu. Kedua, pengurangan penggunaan bahan kertas sebagai media informasi (paperless). Bukan hanya mendukung pengurangan global warming tetapi juga memudahkan perpustakaan dalam mengelola koleksinya. Dan terakhir, dapat memudahkan kerja rumah tangga perpustakaan seperti pengolahan bahan pustaka. Namun perlu disadari bahwa berkat kemajuan teknologi ini pula, membuat informasi luar biasa banyaknya. Menurut Sudarsono (2006), internet dapat dikatakan sebagai rimba raya informasi tanpa batas, informasi yang tersaji di dalamnya terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Seorang pustakawan hendaknya mengerti strategi penelusuran dan mampu mengevaluasi web pages yang didapat. Pengetahuan pustakawan akan kedua hal tersebut sangat perlu, mengapa? karena kita sebagai penyedia jasa informasi haruslah jeli menelusur dan memilah informasi mana yang ilmiah dan mana yang tidak. Tidak banyak pemustaka yang tahu, apakah sebuah informasi valid atau tidak, ilmiah atau hoax, dari lembaga terpercaya atau abal- abal dan sebagainya. Oleh karenanya tidak jarang pemustaka akan datang ke pustakawan, untuk meminta bantuan dalam mengidentifikasikan sumber informasi tersebut layak digunakan atau tidak. Banyak pemustaka menggunakan bahan referensi dari sumber-sumber yang tidak valid, tidak reliable dan tidak akurat. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila suatu karya ilmiah didasari oleh sumber- sumber yang tidak valid, sudah pasti berdampak bukan hanya bagi pembuatnya tetapi juga pustakawan sebagai individu yang melek informasi. a. Strategi Penelusuran Dalam mengakses sebuah informasi agar sesuai dengan apa yang kita butuhkan, tentunya kita harus tahu terlebih dahulu strategi penelusurannya. Strategi penelusuran di sini meliputi penggunaan kata kunci sebuah dokumen, menggunakan indeks online, logika boolean dan sintaks yang tersedia pada search engine. Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kata kunci adalah sinonim dari kata kunci itu sendiri. Atau kita kesulitan dalam mencari sinonim, kita bisa mencarinya dengan menggunakan thesaurus online seperti www.thesaurus.com, www.merriam- webster.com/thesaurus, www.oxforddictionaries.com/thesaurus/. Sejalan dengan itu, Pendit (2008), yang mengatakan bahwa merumuskan pertanyaan (kata kunci) merupakan salah satu tahap dalam memulai mencari informasi di internet. Strategi yang kedua adalah penggunaan indeks online. Ada 3 indeks online, mulai dari tingkat dasar sampai lanjutan. 1) Basic search engine, merupakan indeks online berbasis kata yang digunakan untuk menelusuri informasi yang terdapat di dalam berbagai sumber informasi. Jenis indeks online ini menggunakan robot untuk melakukan penelusurannya, contoh yahoo, google. 2) Direktori, indeks online berbasis subyek yang digunakan untuk menelusuri informasi yang terdapat di dalam berbagai sumber informasi. Jenis indeks online ini menggunakan manusia untuk mengindeks informasi sesuai dengan kelompok subyeknya, contoh dmoz, gigablast, entireweb. 3) Meta search engine, indeks online yang melakukan penelusuran dengan menggunakan beberapa search engine lain sehingga dapat memperluas hasil penelusurannya, contoh dogpile, search.com, unabot. 4) Semantic search engine, indeks online yang menggunakan konteks arti kata pencarian sebagai fokus hasil pencariannya. Semantic search engine mengelompokkan hasil penelusurannya sesuai dengan konteks kata kuncinya, contoh duckduckgo, kengine. Strategi yang ketiga adalah penggunaan boolean logic. Boolean logic pertama kali dikemukan oleh George Boole di dalam buku The Mathematical Analysis of Logic pada tahun 1847. Pengoperasian strategi ini menggunakan operator AND, OR dan NOT, dimana masing – masing operator memiliki fungsi yang berbeda–beda tapi bisa digabungkan lebih dari satu kata. AND atau tanda “+“ digunakan apabila kita ingin mencari sumber informasi yang mengandung 2 kata atau lebih. Sebagai contoh Pendidikan AND Indonesia, maka hasil penelusurannya adalah semua sumber informasi mengenai pendidikan yang ada di Indonesia. Gambar 1. Boolean “AND” AND OR atau tanda “|“ digunakan apabila kita mencari sumber informasi yang mengandung salah satu dari istilah-istilah yang diperlukan (sinonim). Keuntungan penggunaan kata OR, adalah hasil penelusuran yang kita dapat akan lebih banyak, sebagai contoh remaja OR anak muda, maka yang akan muncul semua informasi mengenai anak muda dan semua informasi mengenai remaja. Gambar 2. Boolean “OR” OR NOT atau tanda “–“ digunakan apabila kita ingin menemukan informasi yang mengandung satu kata namun tidak mengandung kata lainnya. Penggunaan NOT untuk membatasi cakupan suatu istilah atau menghindari tercampurnya istilah yang sama yang dipakai oleh disiplin lain. Sebagai contoh pendidikan NOT sekolah dasar, maka hasil penelusuran yang didapat adalah semua sumber informasi tentang pendidikan dari TK sampai SMA kecuali Sekolah Dasar. Gambar 3. Boolean “NOT” Strategi yang ketiga, adalah penggunaan sintaks yang difasilitasi oleh search engine, seperti 1) Tanda “...“, tanda kutip digunakan untuk mencari sumber informasi yang mengandung frasa. Frasa yang diapit akan ditelusuri oleh google menjadi satu kesatuan kata/istilah. Sebagai contoh “digital literasi”, maka hasil penelusuran di google adalah semua sumber informasi tentang digital literasi, bukan digital literasi menjadi 2 kata yang terpisah (digital berdiri sendiri, literasi berdiri sendiri). 2) Tanda *, tanda ini digunakan apabila kita tidak tahu penulisan kata yang sebenarnya. Dengan hanya menulis bagian dari suatu kata, kita akan mendapat sumber-sumber informasi yang mengandung kata tersebut dalam berbagai versi. Sebagai contoh child*, maka hasil penelusuran yang didapat adalah semua sumber-sumber informasi yang mengandung kata child seperti children, childhood, childish dan seterusnya. 3) “inurl:”. Sintaks ini digunakan apabila kita ingin mencari sebuah informasi dari sumber url tertentu. Sebagai contoh education inurl:.com, maka hasil penelusuran yang didapat semua sumber-sumber informasi mengenai pendidikan dengan url.com. 4) “intitle:”. Sintaks ini digunakan apabila kita ingin mencari sumber informasi yang judulnya mengandung sebuah kata tertentu. Sebagai contoh intitle: astronomi, maka hasil penelusuran yang didapat adalah semua sumber- sumber informasi yang mengandung judul kata astronomi. 5) “intext:”. Sintaks ini digunakan apabila kita ingin mencari sumber-sumber informasi yang mengandung teks tertentu. Contoh intext: hoax, maka hasil penelusuran yang didapat adalah semua sumber-sumber informasi yang di dalam kontennya terdapat kata hoax. 6) “site:”. Sintaks ini digunakan untuk mencari semua sumber informasi yang berdomain tertentu. Contoh e-learning site:.edu, maka hasil penelusuran yang didapat adalah semua sumber-sumber informasi tentang e-learning dengan domain edu (education). 7) “filetype:”. Sintaks ini digunakan untuk mencari semua sumber-sumber informasi yang berformat tertentu. Contoh photosynthesis filetype:.ppt, maka hasil penelusuran yang didapat adalah semua sumber-sumber informasi tentang fotosintesis dengan format powerpoint. 8) “source:”. Sintaks ini digunakan untuk menemukan berita atau artikel dari sumber-sumber informasi tertentu. Misalnya pertanian source:kompas.com, maka hasil penelusurannya adalah semua artikel atau berita tentang pertanian yang berasal dari Kompas.com. 9) “location:”. Sintaks ini digunakan untuk menemukan artikel-artikel dari sumber-sumber informasi dari lokasi tertetntu. Misalnya perpustakaan location: Indonesia, maka hasil penelusurannya yang didapat adalah semua informasi tentang perpustakaan yang berasal dari Indonesia. 10) “author:”. Sintaks ini digunakan untuk mendapatkan sumber informasi dari pengarang tertentu saja. Sebagai contoh perpustakaan author: Sulistyo- Basuki, maka hasil penelusuran yang didapat adalah semua artikel tentang perpustakaan yang di tulis oleh bapak Prof. Sulistyo Basuki. 11) “info:”. Sintaks ini digunakan untuk menemukan semua informasi tentang homepage yang kita inginkan. Sebagai contoh info:www.idionline.org, maka hasil dari penelusuran ini adalah semua informasi yang berkenaan dengan web IDI online. 12) “related:”. Sintaks ini digunakan untuk mendaftar web pages yang sama atau yang berhubungan dengan URL yang kita cari. Misalnya related:www.kompas.com, maka hasil dari penelusurannya adalah menampilkan semua web yang sama atau berhubungan dengan web kompas. b. Evaluasi Web Menurut Kent State University ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan oleh pustakawan di dalam menilai sebuah konten sumber informasi, di antaranya: 1) Autoritatif Menurut Baskoro (2010), dalam autoritatif yang perlu diperhatikan adalah a) URL (Uniform Resource Locator) dari sumber informasi tersebut. Apa saja yang diperhatikan dalam URL yaitu cek dokumen URL, apakah dari sebuah institusi atau organisasi atau komersial? dan di mana diterbitkan. b) Apa yang perlu di cek dari autoritatif ini, yaitu (1) Pengarang. Apakah penulis memiliki kompeten atau kualifikasi di dalam menulis bidang tertentu. (2) Adakah sponsor. Bila ada, perlu diperhatikan secara mendalam isi sebuah informasi, karena bisa saja lebih bersifat subyektif, semua tergantung sponsor yang mendanai tulisan di dalam informasi tersebut. (3) Sitasi dalam dokumen tersebut sudah benar di dalam menyajikannya atau di dalam penulisan daftar rujukan / bibliografi. 2) Akurasi Akurasi suatu informasi selalu dikaitkan dengan orang yang menulis informasi tersebut (Cooke, 2001). Penjelasan mengenai akurasi di halaman web sendiri tercantum dalam about us, profile atau contact us. Penilaian ke- akurasi-an mencakup; a) Segi informasinya itu sendiri. Siapa yang menulis di page tersebut?, adakah nomor kontak atau email dari penulis? Apakah dia berkompeten di dalam menulis bidang ini?. b) Adakah yang memverifikasi informasi tersebut?. Dalam jurnal_x0002_jurnal ilmiah biasanya selalu tertera tulisan peer review. Artinya bahwa tulisan yang ada di jurnal tersebut telah di edit atau di review oleh ahlinya. 3) Objektivitas Objectivitas di sini lebih melihat tujuan daripada pembuatan situs. Karena situs yang baik tentu akan menjabarkan untuk siapa, membahas apa dan dibuat untuk apa. Menurut Cooke (2001), ada 3 pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan tujuan sebuah sumber informasi, yaitu a) Pernyataan yang menunjukkan tujuan dari situs itu sendiri. Biasanya situs akan menuliskan langsung bahwa jurnal atau sumber informasi yang ditampilkan ditujukan untuk kalangan tertentu. b) Pembaca yang dituju oleh informasi tersebut. Merupakan kelanjutan dari poin yang di atas, karena dibuat untuk tujuan tertentu maka audiennya pun untuk kalangan tertentu pula. c) Bagaimana detail dari isi informasi tersebut? 4) Currency (kekinian) Hal yang perlu diperhatikan dalam currency, meliputi; a) Informasi mengenai kapan dibuat? tanggal, bulan dan tahun dari sumber informasi tersebut. Dalam setiap jurnal ilmiah data-data tanggal seperti ini tercantum dengan jelas sehingga kita bisa mengetahui kapan informasi tersebut di upload. b) Kapan terakhir di update? Apakah ada dead link-nya? Hal ini untuk mengindentifikasikan apakah informasi di dalamnya diperbaharui secara berkala atau tidak, berapa lama pembaharuan konten dilakukan. Kekinian menjadi pertimbangan yang perlu diperhatikan sebab informasi yang lama akan menjadi tidak berguna lagi, tidak relevan dan cenderung menyesatkan (Cooke, 2001). 5) Coverage (cakupan) Coverage di sini lebih melihat ke cara mengulas atau cakupan sebuah informasi, di antaranya a) Topik. Cakupan topik dijabarkan secara obyektif karena didukung data-data yang akurat dan reliable, tidak bias. b) Adakah link yang terhubung dengan situs-situs lain yang dapat dipercaya untuk mendukung informasi tersebut. Ada beberapa sumber informasi yang menyertakan link ke situs-situs yang berhubungan dengan kontennya, hal ini digunakan untuk memperkuat argumentasi dari apa yang diulas tersebut, disisi lain bisa dikatakan sebagai indikator penelitian sekarang merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya. c) Kedalaman dalam menganalisis topik yang disajikan. 6) Gaya penulisan Menurut Azwar (2011) gaya penulisan termasuk salah satu indikator yang diperlukan untuk mengevaluasi sebuah web. Seorang penulis yang tidak akurat dalam menuliskan ejaan, penggunaan tanda baca maupun kaidah bahasa umumnya kurang memiliki kredibilitas dalam menyampaikan informasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Doyle (2006) bahwa kecerobohan dalam memilih bahasa dan gaya penulisan bisa menjadikan sebuah situs tidak bisa diandalkan

Conclusion

Perkembangan teknologi informasi begitu pesat dan beragam, maka sudah selayaknya seorang pustakawan sebagai pekerja informasi dituntut memiliki kemampuan atau kompetensi diri dalam mengkases dan mengidentifikasi sumber- sumber informasi mana yang valid, reliable dan akurat sesuai kebutuhan pemustaka. Saran-saran yang dapat diberikan kepada para pustakawan yakni; 1) Mengadakan workshop, training dan sejenisnya mengenai digital literasi, 2) Dalam kurikulum pendidikan perpustakaan, digital literasi bisa menjadi subjek tersendiri dalam mata pelajaran mengingat pesatnya perkembangan teknologi tersebut saat ini.