Mengenal Karakteristik Pemustaka Usia Sekolah Dasar Guna Membangun Hubungan Interpersonal dengan Pustakawan
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Membangun hubungan interpersonal antara pemustaka dan pustakawan adalah salah satu hal penting di perpustakaan. Pada perpustakaan Sekolah Dasar, mengenal karakter anak dapat membantu pustakawan dalam memahami kepribadian anak serta kebutuhan informasi yang dibutuhkan anak tersebut. Tulisan ini membahas tentang bagaimana karakter anak usia Sekolah Dasar, apa saja koleksi yang harus dimiliki oleh perpustakaan dan yang dibutuhkan oleh pemustakanya, serta bagaimana perilaku anak dalam menelusuri informasi. Dalam hal lain, komunikasi interpersonal dapat menentukan bagaimana kedudukan dari pustakawan dalam melakukan pelayanannya termasuk dalam hal menghadapi pustakawan.
Abstract
Building interpersonal relationships between users and librarians is one of the important things in the library. In elementary school libraries, knowing the character of the child can help the librarian in understanding the child's personality and the information needs of the child. This paper discusses about the character of elementary school age children, what collections a library must have and what its users need, and how children behave in searching for information. In addition, interpersonal communication determines how the role of the librarian in performing services, because the librarian will deal directly with the users.
Keywords:
karakter pemustaka
· hubungan interpersonal
· komunikasi pustakawan
Introduction
Perpustakaan Sekolah Dasar merupakan jembatan awal dalam mengenalkan budaya membaca bagi anak. Dalam hal ini, pustakawan yang bekerja di perpustakaan Sekolah Dasar tentu harus mengenal bagaimana karakteristik anak agar dapat memahami dan mengetahui apa kebutuhan anak di usia Sekolah Dasar. Usia sekolah adalah era ketika setiap anak mendapatkan pengetahuan dasar dan pengalaman untuk memperoleh keberhasilan dalam pembiasaan diri ketika beranjak dewasa di masa yang akan datang dan mendapatkan keterampilan tertentu. Dalam upaya memahami karakter ini, tentu pustakawan harus memiliki komunikasi yang baik dengan pemustaka, karena karakter yang dimiliki oleh anak usia sekolah dasar tentu berbeda dengan anak usia di atasnya. Pleh Karena itu, banyak hal yang bisa dipelajari oleh pustakawan pada perpustakaan Sekolah Dasar untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dengan pemustaka, seperti memahami karakter anak, berkomunikasi dengan guru wali kelas anak serta orang tua.
Result & Discussion
B. Karakteristik anak pada usia Sekolah Dasar Anak yang masih berada di Sekolah Dasar merupakan anak-anak yang memiliki usia 6 sampai usia 12 tahun biasanya disebut pada masa Sekolah Dasar, memiliki raga atau fisik yang kuat, memiliki kepribadian individual yang aktif serta tidak tergantung pada orang tuanya.1 Periode ketika berada di usia ini, anak mulai dapat bertanggung jawab atas perilakunya terhadap orang tua, teman bermain, dan orang lain. Terdapat beberapa karakteristik dari anak usia Sekolah Dasar yaitu: 1. Anak akan tertarik untuk merespon terhadap beragam hal dari lingkungan sekitarnya. Anak akan spontan memperhatikan setiap kejadian, benda-benda, dan peristiwa yang terdapat di sekitarnya. Anak-anak akan tertarik pada kegemaran yang luas serta terjadi di lingkungan sekitarnya. 2. Anak merupakan seorang penyelidik, mereka akan cenderung menyelidiki serta menciptakan hal-hal yang ingin mereka ketahui dengan sendirinya. 3. Anak suka beraktifitas, karakteristik utama anak adalah senantiasa ingin melakukan sesuatu, mereka akan aktif, mempejari sesuatu, dan bertindak. 4. Anak memiliki atensi yang besar terhadap hal kecil ataupun rinci yang terkadang kurang memiliki arti dan makna. 5. Anak memiliki imaginasi tinggi, hal ini dapat dikembangkan dengan pengalaman-pengalaman dalam pembelajaran seni sehingga dapat memahami lingkungan sekitarnya.2 Untuk memastikan karakter anak, ada beberapa hal yang perlu diketahui seperti halnya apa yang disenangi oleh setiap anak. Karena pada dasarnya, karakteristik setiap anak akan berbeda beda. Berikut beberapa uraian tentang hal-hal yang disenangi oleh anak usia sekolah dasar, yaitu : 1. Anak pada usia Sekolah Dasar merasa bahagia ketika bermain Karakteristik ini akan menuntut guru untuk bisa melaksanakan pembelajaran yang menghadirkan permainan, terutama pada kelas rendah. Pengajar diharuskan untuk merancang sistem pembelajaran yang mengandung permainan agar pembelajaran yang tersebut lebih menarik dan tidak membosankan. Guru bisa mengembangkan model pengajaran yang serius namun santai. 2. Anak pada usia Sekolah Dasar merasa bahagia ketika bekerja kelompok Anak usia Sekolah Dasar ketika berada dalam kelompok pertemananya akan belajar tentang bagaimana bersosialisasi, seperti belajar menghargai orang lain, mematuhi aturan-aturan ketika bekerja sama, setia kawan, memiliki kemandirian, bertanggung jawab, kompetitif,, dan mempelajarai olah raga. Ciri tersebut mengajak pengajar untuk bisa merancang model pembelajaran yang mengajak anak-anak bekerja dalam kelompok belajar. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok. 3. Anak usia Sekolah Dasar senang bergerak Karakter anak-anak tentu berbeda dengan orang dewasa, anak Sekolah Dasar hanya dapat duduk dengan tenang sekitar 30 menit, sementara orang dewasa dapat duduk diam berjam-jam. Oleh sebab itu, guru dapat menciptakan model pembelajaran yang memunculkan aktivitas agar anak-anak bergerak maupun berpindah. Mengintruksikan anak-anak agar tetap duduk dengan rapi dalam kurun waktu yang lama akan membuat anak merasa bosan. 4. Anak Sekolah Dasar bahagia ketika mempelajari sesuatu dan memperagakannya secara langsung. Dilihat dari perkembangan pemahaman, anak pada usia Sekolah Dasar akan mengaitkan konsep baru yang didapat dengan konsep lama yang telah dipelajari ketika di sekolah. Bagi anak usia Sekolah Dasar, penjelasan yang guru berikan mengenai materi pembelajaran akan lebih dipahami ketika anak melakukan tugas tersebut secara mandiri. Dengan demikian, model pembelajaran yang membuat anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran dapat menjadi rancangan seorang guru. Selanjutnya, Wiji Suwarno, membagi ciri anak kedalam tiga kelompok usia, yaitu : a. Anak pada usia 6 sampai dengan usia 8 tahun: 1) Ketika berusia 6 tahun, emosi pada anak tidak sestabil ketika ia berusia 5 tahun, mereka akan sering memperlihatkan kemarahan dengan membuat masalah ataupun konflik dengan orang sekitarnya, seperti tidak mau bersekolah dan melawan guru dan orang tua. 2) Anak akan mencoba menemukan kemandirian pada orang yang lebih tua darinya, tetapi mereka juga ingin memperoleh keamanan dan rasa nyaman. b. anak pada usia Sekolah Dasar : 1) Karakter kepribadian anak, pada tahapan ini, anak akan menunjukaan sikap kerjasama ketika berada di lingkungannya. 2) Pada usia ini kekhawatiran akan terhadap bahaya semakin berkurang, akan tetapi anak merasa takut dengan kejadian-kejadian yang berbau ekstrim dan mistis, seperti hantu, binatang buas, ruang gelap, suara gemuruh, dan lainnya. 3) Anak pada usia penghujung Sekolah Dasar 4) Anak-anak kebanyakan sudah bisa mengendalikan diri dan berusaha untuk semakin bertanggung jawab. 5) Sikap mandiri akan menjadi ciri individual yang memiliki nilai tinggi. 6) Fisik anak yang berubah dengan cepat akan mengakibatkan anak memiliki kesadaran diri dan sikap kritis.3 C. Perilaku anak dalam menelusuri informasi Perilaku pencari informasi merupakan kegiatan ataupun tindakaan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh informasi. Setiap orang akan menunjukkan sikap atau perilaku dalam pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhannya. Ketika seseorang merasa pengetahuan yang dimilikinya saat itu kurang dari pengetahuan yang dibutuhkannya, maka saat itulah dimulainya perilaku seseorang dalam mencari informasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, seseorang akan mencari informasi dengan memanfaatkan berbagai sumber. Adakalanya pengguna mencari langsung ke kata, kalimat, ataupun koleksi yang diinginkan secara terstruktur. Ada dua kategori dalam berinteraksi dengan sistem yaitu, pertama interaksi manusia dengan media elektronik. Kedua, pemikiran atau intelektual kriteria ini menjelaskan bahwa memutuskan mana dari dua buku dari tepat rak yang berdekatan yang ada di perpustakaan lebih berguna atau banyak dipakai.4 Dari teori diatas dapat dilihat bahwa, perilaku anak usia sekolah dasar dalam menelusuri informasi akan berbeda dengan anak usia pendidikan diatasnya. Anak usia sekolah dasar akan menilai sebuah koleksi bagus atau tidak dari visual koleksi. Mereka akan lebih tertarik dengan buku yang berwarna, bergambar, dan visual yang menarik serta nyata. D. Koleksi bagi pemustaka usia sekolah dasar. Jenis koleksi yang dibutuhkan perpustakaan sekolah dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu buku dan bahan bukan buku. Berikut ini merupakan jenis koleksi dari perpustakaan sekolah, yaitu : 1. Buku-buku Nonfiksi, buku nonfiksi merupakan buku yang tertulis dengan melihat fakta atau kenyataan maupun budaya sekitar kita. Beberapa koleksi perpustakaan yang termasuk jenis koleksi nonfiksi seperti buku teks pelajaran, buku untuk penunjang, dan koleksi rujukan, misalnya kamus, bibliografi, ensiklopedia, direktori, buku tahunan, buku pedoman, almanak, indeks dan atlas. 2. Buku-buku fiksi.5 Selain koleksi bahan buku, perpustakaan juga harus memiliki koleksi bahan bukan buku, seperti pamflet, brosur, gambar atau lukisan, globe dan lainnya. Membaca merupakan suatu kegiatan yang membutuhkan kesiapan jiwa seseorang. Bukan hanya akan memakan waktu yang lumayan besar, begitupun dengan energi yang akan terkuras ketika membaca yang tidak disertai dengan kesiapan jiwa. Kegiatan membaca akan menambah wawasan baru dan lebih efektif lagi ketika bisajika dibagikan dengan orang lain. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperoleh buku yang baik. Pertama, memilih buku dari aspek fisiknya kemudian aspek kebutuhan perkembangan kecerdasan interpersonal, dan intrapersonal, maupun kognitifnya. Buku yang dilengkapi dengan gambar yang menarik, penggunaan bahasa yang sesuai, dan sampul yang bagus akan menarik dan menambah imajinasi dan motivasi untuk membaca sebuah buku. Perpustakaan yang memperhatikan tingkat perkembangan pemustaka maka akan dianggap sebagai perpustakaan yang bagus, terutama dalam hal perkembangan daya intelektual. Berikut ini hal-hal yang bisa menjadi pertimbangan dalam pemilihan buku, terutama bagi pemustaka dalam taraf perkembangan berfikir : 1. Pelukis yang menciptakan mood, mempertegas emosi, dan memperkuat alur ceritanya. 2. Warna yang dipakai akan memperkuat cerita yang ditulis oleh pengarang, 3. Pemanfaatan tema yang mampu mengekspresikan suasana. 4. Desain gambar kan mengantisipasi reaksi dalam cerita dan klimaks cerita.6 Untuk membantu kecerdasan interpersonal pada anak usia 6 sampai 8 tahun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu : 1. Penyediaan koleksi perpustakaan yang mampu menjadikan anak mudah mengatasi krisis. Koleksi fiksi mengenai keberanian seorang anak pelaut, para korban bencana, dan anak yang berasal dari keluarga yang bertransmigrasi, serta rasa berani anak yang mengalami kecacatan dalam mengatasi bahaya dan lain-lain. 2. Perpustakaan menyediakan koleksi yang memuat kisah kemandirian, seperti sejarah hidup Nabi Muhammad SAW ketika remaja, sikap mandiri anak-anak yatim piatu, dan lainnya. Berikutnya, untuk membantu kecerdasan interpersonal pada anak usia sekolah dasar , ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu : 1. Penyediaan koleksi yang memunculkan sikap kerjasama, suka duka dalam bekerjasama, seperti cerita saat berkemah. 2. Penyediaan koleksi fiksi yang menggambarkan rasa takut anak-anak dan koleksi yang bertemakan pengembangan pengetahuan tentang rasa takut akan hal yang tidak relalistis. Dan terakhir, untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal pada anak usia penghujung Sekolah Dasar, ada beberapa koleksi perpustakaan yang bisa dilakukan pengadaan, yaitu : 1. Penyediaan koleksi tentang perkembangan anak dalam mengontrol diri. Misalnya koleksis tentang seorang atlet yang berlatih keras dan juga koleksi mengenai biografi orang-orang sukses. 2. Penyediaan koleksi mengenai kemandirian, baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. 3. Menyediakan koleksi tentang anak yang memiliki permasalahan fisik.7 E. Membangun komunikasi pustakawan dengan pemustaka Komunikasi interpersonal ialah suatu komunikasi yang dilakukan dua orang ataupun lebih secara bertatap muka dan dihubungkan oleh berbagai cara. Keterlibatan seseorang dalam proses komunikasi akan membawa pengaruh terhadap anggapan dari komunikan lainya. Beberapa karakteristik dari komunikasi interpersonal yaitu adanya pelaksana komunikasi yang memberikan pesan dan menerima pesan tersebut secara otomatis. Komunikasi interpersonal yang mampu terlaksana dengan efektif akan dimulai oleh keterkaitan yang baik antar sesama komunikan. Penekanan pada setiap aspek keterhubungan pelaku komunikasi disebut metakomunikasi. Setiap teori mengenai hubungan interpersonal yang dipakai, maka hal sama yang akan kita temui yaitu hubungan interpersonal akan membentuk karakter diri serta keterlibatan dua pihak. Komunikasi interpersonal dianggap baik ketika adanya hubungan interpersonal yang baik pula. Hubungan interpersonal yang terjadi diantara dua pihak, seperti antara orang tua bersama anaknya, pimpinan dengan bawahannya dan hubungan interpersonal lainnya adalah sesuatu yang baik sehingga dapat menjadi pondasi dalam membangun sebuah komunikasi interpersonal yang efektif. Terdapat tiga faktor yang dapat meningkatkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu: a. Sikap Saling Percaya Sikap percaya akan berguna dalam mempengaruhi proses komunikasi interpersonal yang baik. Ada tiga hal yang dapat memastikan timbulnya sikap percaya yaitu, smenerima, jujur, dan berempati. Menerima adalah sikap menghargai dalam berhubungan dengan orang lain, tanpa melakukan penilaian terhadap apa yang disampaikan. Penerimaan sikap seseorang tentu tidak mudah, karena pada dasarnya penerimaan sikap tadi tidak berarti setuju dengan berbagai perilaku orang tersebut. Selain itu, sebagai manusia yang memiliki rasa sosial, kita juga dituntut untuk bisa menghargai akan perasaan serta pemikiran yang orang lain sampaikan ketika proses komunikasi berjalan. Dalam proses komunikasi akan tercipta keterbukaan perasaan dan pemikiran, serta setiap apa yang disampaikan kedua belah pihak dapat diterima dan saling bertanggung jawab. Faktor kedua percaya yaitu empati. Empati merupakan sikap ketika kita merasakan bagaimana perasaan orang lain. Kita biasanya akan membayangkan diri kita merasakan hal yang sama seperti yang menimpa orang lain. Faktor terakhir dalam sikap percaya yaitu kejujuran. Kejujuran menumbuhkan rasa saling percaya baik itu antara dua pihak atau lebih. b. Sikap Saling Terbuka Sikap saling terbuka sangat berpengaruh dalam menciptakan komunikasi interpersonal yang efekif. Keterbukaan dalam komunikasi bisa membuat hubungan antar pelaku komunikasi terjalin lebih erat. c. Sikap Suportif Sikap suportif merupakan sikap dari meminimalisir sifat defensif ketika berkomunikasi. Sikap defensif akan terjadi ketika seseorang sulit menerima, bersikap tidak jujur dan berempati. Citra dari perpustakaan akan terlihat melalui komunikasi secara langsung yang dibangun diantara pustakawan dengan pemustaka. Pustakawan merupakan orang yang berhubungan langsung dalam kegiatan pelayanan, sehingga kualitas pustakawan akan berpengaruh terhadap kualitas layanan perpustakaannya juga. Latar belakang dari lahirnya layanan yang baik bagi pemustaka diawali dengan kemampuan komunikasi pustakawan itu sendiri. Hal tersebut akan menentukan bagaimana peran dari pustakawan dalam melakukan pelayanan, karena pustakawan akan secara langsung berhadapan dengan para pemustaka. Beberapa hal yang bisa diperhatikan ketika memupuk keterampilan komunikasi interpersonal yaitu misalnya sifat suportif, artinya pustakawan berusaha membangun suasana yang terasa nyaman, fleksibel, dan bisa menolong pemustaka dalam penelusuran informasi melalui komunikasi interpersonal. Pustakawan harus menunjukkan sikap bahwa siap melayani setiap kebutuhan pemustakanya. Setiap pustakawan harus mengawali komunikasi yang terjadi bersama pemustaka melalui sikap positif dan beranggapan bahwa setiap pemustaka adalah seseorang yang penting dan harus dilayani dengan baik. Bertegur sapa dengan pemustaka menggunakan kata-kata yang santun disertai senyuman, maka pemustaka akan sadar bahwa ia dihargai dan pemustaka juga akan menghargai pustakawan selaku profesi profesional yang dapat dipercaya.
Conclusion
1. Usia Sekolah Dasar merupakan periode dimana anak memperoleh pengetahuan dasar dan pengalaman bagi kesuksesan dalam penyesuaian diri ketika menjalani usia dewasa di masa mendatang. 2. Anak usia Sekolah Dasar meiliki ciri atau karakteristik yang berbeda-beda, sehingga dari segi penelusuran informasi, koleksi yang mereka butuhkan juga memiliki perbedaan di setiap tahapan perkembangan kognitifnya. 3. Pustakawan yang mampu melakukan komunikasi interpersonal dengan baik, maka akan memahami bagaimana karakter pemustaka, sehingga bisa memberikan kebutuhan informasi yang tepat dan akurat kepada pemustakanya, terkhusus anak usia Sekolah Dasar.