Kembali
16
1
2022 LIBRIA : Library of UIN Ar-Raniry Vol 14 · 1 ISSN 2549-8606

Pengadaan Koleksi Digital Pada Aplikasi i-Tangkab Dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Pengguna Pada Era Kenormalan Baru

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengadaan koleksi digital untuk memenuhi kebutuhan informasi permustaka pada era kenormalan baru melalui aplikasi i-Tangkab yang merupakan aplikasi perpustakaan elektronik milik pemerintah Kabupaten Tangerang. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode penelitian atau pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sementara itu, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik gabungan atau triangulasi, yaitu memadukan teknik pengumpulan data wawancara mendalam atau in depth interview dan teknik pengumpulan data observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi digital pada aplikasi bernama iTangKab tersedia sebanyak 1300 judul koleksi dengan beragam subjek. Proses pengadaan koleksi dilakukan dengan digitalisasi atau alih media bahan pustaka cetak yang sudah ada dan juga e-book yang merupakan hasil kolaborasi atau kerja sama antara Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang dengan Aksaramaya.

Abstract

This research aims to know the process of procuring digital collections to meet library information needs in the new normal era through the i-Tangkab application, which is an electronic library application owned by the Tangerang Regency government. The method used in writing this article is a qualitative approach with a descriptive type of research. Meanwhile, the data collection technique used is a combined technique or triangulation, which combines in-depth interview data collection techniques or in-depth interviews and participatory observation data collection techniques. The results showed that digital collections onan application called iTangKab is available as many as 1300 collection titles with various subjects. The collection procurement process is carried out by digitizing or transferring existing printed library materials and ebooks which are the result of collaboration between Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang and Aksaramaya.
Keywords: Pengadaan Koleksi Digital · Perpustakaan Digital · Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang

Introduction

Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada awal tahun 2020, telah mengubah setiap tatanan sistem kehidupan yang ada. Hal ini pada akhirnya juga memaksa terjadinya perubahan aktivitas dan kebiasaan yang dilakukan manusia sehari-hari. Kondisi dan situasi pandemi yang melanda Indonesia membuat hampir seluruh aktivitas dilakukan di rumah dengan metode jarak jauh secara daring (online). Pemerintah memberlakukan bermacam peraturan dan pembatasan sebagai upaya untuk mengatasi pandemi dan mengendalikan penyebaran virus Covid-19. Oleh karena itu, para pengguna perpustakaan atau yang disebut dengan pemustaka mengalami keterbatasan untuk menjangkau koleksi fisik yang ada di perpustakaan. Keterbatasan akses tersebut membuat sebagian kebutuhan informasi pemustaka tidak terpenuhi. Padahal, hak untuk memperoleh informasi adalah hak setiap orang. Kebutuhan informasi seseorang tidak mengenal tempat dan waktu. Setiap orang dapat secara tiba-tiba membutuhkan informasi, kapanpun dan dimanapun tidak hanya sekadar untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan, tetapi lebih dari itu. Berdasarkan pasal 14 ayat (1) Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa, "Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadinya dan lingkungan sosialnya.” Selain itu, Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia juga menegaskan bahwa, “Setiap orang berhak untuk mencari, memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia." Perpustakaan sebagai lembaga vital yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat haruslah mampu menghadapi berbagai situasi, salah satunya saat pandemi seperti sekarang ini. Di masa pandemi ini, perpustakaan dituntut untuk beradaptasi secara cepat dengan menghasilakan inovasi-inovasi yang menjadi solusi untuk permasalahan pemenuhan kebutuhan informasi di masa pandemi. Perpustakaan harus siap dan sedia untuk memenuhi kebutuhan pemustakanya kapan pun dan di mana pun. Perpustakaan harus tetap menjalankan fungsinya, dalam hal ini fungsi informasi dan pendidikan. Fungsi informasi perpustakaan adalah fungsi untuk menjawab setiap pertanyaan dan kebutuhan informasi masyarakat, baik informasi mengenai palajaran maupun informasi mengenai tugas sehari-hari. Sementara itu, fungsi pendidikan, yaitu fungsi untuk menyediakan sarana belajar bagi masyarakat, baik di dalam maupun di luar bangku sekolah. Kedua fungsi tersebut memiliki urgensi yang lebih tinggi tingkatannya di dalam skala prioritas pelayanan perpustakaan di masa pandemi Covid-19. Agar mampu terus menjalankan fungsinya, perpustakaan perlu mempelajari perubahan perilaku pencarian informasi dengan cepat dan menyediakan segala hal yang diperlukan di tengah situasi pandemi seperti ini. Oleh karena itu, inovasi dari segi sarana prasarana dan sumber daya manusia perlu dilakukan. Perpustakaan berbasis teknologi menjadi salah satu opsi yang dinilai tepat dan menjanjikan. Menurut teori lima hukum ilmu perpustakaan yang diungkapkan oleh Ranganathan disebutkan bahwa perpustakaan merupakan organisasi yang senantiasa tumbuh atau lilbrary is a growing organism. Oleh karena itu, kemajuan perpustakaan berbasis teknologi menjadi teknologi informasi dan komunikasi melalui pengembangan perpustakaan telah menjadi suatu tuntutan bagi perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan zaman yang terus berubah dari waktu ke waktu. Perpustakaan dituntut untuk terus bertransformasi, salah satunya adalah dengan mengubah perpustakaan fisiknya ke dalam bentuk non-fisik atau digital yang dapat diakses di mana dan kapan pun oleh masyarakat 1. Di tengah masa pandemi Covid-19, perpustakaan sudah sepatutnya dapat memaksimalkan layanan digital melalui perpustakaan digital yang dimiliki. Pengembangan-pengembangan perpustakaan digital yang dapat mempermudah pemakai dalam mengakses informasi dapat dilakukan oleh perpustakaan untuk dapat mengoptimalkan layanan yang ada. Pengembangan perpustakaan digital saat ini dan masa depan tentunya memerlukan kesiapan dari pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan sehingga layanan yang disediakan dapat terus mengikuti perkembangan zaman dan responsif terhadap perubahan 2. Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang yang merupakan salah satu sarana pencarian informasi bagi seluruh masyarakat Kabupaten Tangerang menyediakan beberapa pelayanan. Tentunya terdapat perbedaan bentuk layanan antara sebelum dan sesudah pandemi. Oleh karena itu, artikel ini dibuat untuk mengetahui proses pengadaan koleksi digital untuk memenuhi kebutuhan informasi permustaka pada era kenormalan baru melalui aplikasi i-Tangkab yang merupakan aplikasi perpustakaan elektronik milik pemerintah Kabupaten Tangerang.

Method

Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering kali disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting). Objek alamiah atau natural setting adalah objek yang berkembanga dengan apa adanya, tanpa mengalami manipulasi oleh peneliti, keberadaan dan kehadiran peneliti tidak memengaruhi berjalannya dinamika objek tersebut. Peran peneliti pada metode penelitian kualitatif berkedudukan sebagai instumen penelitian itu sendiri (human instrument). Metode kualitatif berlandaskan pada filsafat postpositivisme, yaitu pandangan filsafat yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang utuh (holistik), penuh makna, kompleks, dinamis, dan hubungan antargejalanya bersifat interaktif (reprocal). Oleh karena itu, filsafat postpositivisme disebut juga sebagai paradigma konstruktif dan interpretif. Dalam prosesnya, analisis data yang dilakukan bersifat induktif, yaitu berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan saat melakukan penelitian di lapangan untuk kemudian dikonstruksikan menjadi sebuah teori atau hipotesis. Sementara itu, jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah jenis penelitian deskriptif, yaitu jenis penelitian mendeskripsikan dan menjawab permasalahan berupa suatu fenomena atau peristiwa yang terjadi saat ini, baik fenomena dalam variabel tunggal maupun korelasi dan atau perbandingan berbagai variabel 3. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif karena mencatat dengan detail segala fenomena atau gejala yang dilihat dan didengar serta dibaca 4. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik gabungan atau triangulasi, yaitu memadukan teknik pengumpulan data wawancara mendalam atau in depth interview dan teknik pengumpulan data observasi partisipatif. Menurut Susan Stainback, "the aim is not to determine the truth about some special phenomenon, rather the purpose of triangulation is to increase one's understanding of what being investigated”. Tujuan dari penggunaan teknik pengumpulan data yang berbeda pada penelitian atau yang kita sebut sebagai triangulasi adalah untuk meningkatkan pemahaman peneliti mengenai fenomena yang sedang diteliti, bukan untuk menemukan kebenaran mengenai beberapa fenomena. Hal ini juga didukung oleh pendapat Bogdan yang menyatakan bahwa, "what qualitative researcher is interested in is not truth per se, but rather perspectives. Thus, rather than trying to determine the 'truth' of people's perceptions, the purpose of corroboration is to help researchers increase their understanding and the probability that their finding will be seen as credible or worthy of concideration by others". Tujuan dari dilakukannya penelitian kualitatif memang bukan hanya untuk mencari kebenaran, melainkan mengenai pemahaman subjek terhadap dunia sekitarnya. Penggabungan beberapa teknik pengumpulan data ini bertujuan untuk mengetahui data yang diperoleh bersifat konsisten atau kontradiksi. Dengan demikian, data yang diperoleh akan lebih tuntas, jelas, konsisten, dan pasti. Objek dari penelitian ini adalah pengadaan koleksi digital pada aplikasi i-Tangkab. Sementara itu, subjek dari penelitian ini adalah seorang informan yang merupakan kepala bidang perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang. Cara penentuan sampel dan informan dilakukan berdasar atas perhitungan statistik, yaitu dengan memilih sampel atau informan yang akan memberikan informasi secara maksimum dan menyeluruh. Penentuan sampel juga didasarkan atas ciri-ciri khusus sampel purposive, yaitu: 1. Emergent sampling design atau bersifat sementara 2. Serial selection of sample units, yaitu mengelinding seperti bola salju 3. Continuous adjustment or 'focusing' of the sample, yakni disesuaikan dengan kebutuhan 4. Selection to the point of redundancy, yaitu dipilih sampai jenuh5 Analisis data pada penelitian kualitatif tidak memiliki pola atau aturan baku. Bogdan mengatakan bahwa, "Data analysis is the process of systematically searching and arranging the interview transcripts, fieldnotes, and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you to present what you have discovered to others". Pada penelitian kualitatif, analisis data dilakukan dengan mencari dan menyusun data hasil wawancara dan observasi secara sistematis agar lebih mudah dipahami dan dikomunikasikan pada orang lain. Analisis data dimulai dengan mengorganisasikan data yang sudah diperoleh, menjabarkan data tersebut pada unit-unit, membuat sintesis dari data-data yang sudah terorganisasi dan terjabarkan, menyusun data-data tersebut ke dalam sebuah pola, memilih data untuk dipelajari karena dianggap penting, dan membuat kesimpulan sehingga dapat dikomunikasikan pada orang lain. Pada artikel ini, penulis menggunakan bentuk penyajian data berupa uraian singkat karena metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. In dept interview dilakukan di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang yang berlokasi di Komplek Pemerintahan Daerah Kabupaten Tangerang Jl. H. Abdul Hamid No.9, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Wawancara dan observasi dilakukan pada hari Selasa, 12 Oktober 2021. Bedasarkan azas-azas dan mempertimbangkan ciri-ciri pemilihan sampel, penulis memilih salah seorang kepala bidang perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang. Sementara itu, observasi partisifatif dilakukan dengan menelusuri fitur-fitur yang ada di aplikasi perpustakaan elektronik iTangkab.

Result & Discussion

Pengembangan koleksi adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan bahan koleksi apa saja yang harus diadakan di suatu lembaga informasi, seperti perpustakaan. Program pengembangan koleksi bersifat dinamis dan berbeda-beda pada setiap tempat atau lembaga informasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh dari beberapa faktor, seperti kebijaksanaan pemerintah dan kondisi ekonomi yang secara otomatis akan memengaruhi kebijakan pendanaan. Pengembangan koleksi diartikan sebagai seuntaian kegiatan atau metode yang bertujuan untuk memperhadapkan pembaca dengan sumber-sumber informasi dalam lingkungan perpustakaan atau unit informasi yang mencakup kegiatan penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan, pengadaan, pemeliharaan, dan promosi, penyiangan, dan juga evaluasi pendayagunaan koleksi 11. Dalam penyelenggaraannya perpustakaan perlu melakukan pengembangan koleksi. Pengembangan koleksi merupakan serangkaian proses atau kegiatan yang bertujuan mempertemukan pembaca dengan sumber-sumber informasi dalam lingkungan perpustakaan atau unit informasi yang mencakup kegiatan penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan, pengadaan, pemeliharaan, dan promosi, penyiangan, dan juga evaluasi pendayagunaan koleksi 12. Dengan melakukan pengembangan koleksi maka akan terdapat peningkatan mutu koleksi untuk memenuhi tuntutan, kebutuhan, dan selera pengguna terhadap informasi-informasi terbaru. Dalam melakukan pengembangan koleksi terdapat enam tahapan, yaitu analisis kebutuhan pemustaka, penyusunan kebijakan seleksi, seleksi, pengadaan, penyiangan, dan evaluasi. Pengadaan menjadi salah satu tahap paling krusial dalam pengembangan koleksi. Pengadaan koleksi atau bahan pustaka dalam suatu perpustakaan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk koleksi atau sumber sumber informasi. Kegiatan pengadaan koleksi disesuaikan berdasarkan jenis, fungsi, tujuan, rencana, dan anggaran yang tersedia. Pada umumnya pengadaan koleksi perpustakaan dilakukan oleh seorang pustakawan atau juga staf yang dapat berhubungan langsung dengan pustakawan dalam memilih atau menentukan bahan pustaka yang akan diadakan. Tahapan ini dilaksanakan setelah seleksi babhan pustaka dilakukan. Pada perpustakaan tradisional, secara umum, tahapan dalam melakukan proses pengadaan bahan pustaka, yaitu pembelian, perolehan buku (hadiah, sumbangan, tukar-menukar), dan kerja sama 13. Tak berbeda jauh dengan pengadaan koleksi pada perpustakaan tradisional, perpustakaan digital melakukan proses pengadaan koleksi digital dengan cara mendigitalisasi atau mengalihmediakan koleksi cetak ke dalam format elektronik. Selain mendigitalisasi koleksi cetak yang sudah ada, pengadaan koleksi digital juga dilakukan dengan cara menghimpun bahan pustaka yang diproduksi dalam bentuk elektronik, mencakup e- zines, ejournals, e-books, karya refensi yang dipublikasikan secara online dan dalam CDROM, data bibliografi, dan sumber-sumber berbasis web lainnya. Di masa pandemi ini, pemerintah memberlakukan bermacam peraturan dan pembatasan sebagai upaya untuk mengatasi pandemi dan mengendalikan penyebaran virus Covid- 19. Oleh karena itu, para pengguna perpustakaan atau yang disebut dengan pemustaka mengalami keterbatasan untuk menjangkau koleksi fisik yang ada di perpustakaan. Beberapa pemustaka juga tidak bisa mendatangi langsung perpustakaan karena sedang menjalani isolasi mandiri atau merasa takut terpapar virus jika harus bepergian ke luar rumah. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu solusi yang tepat untuk mensubtitusi keterbatasan yang ada, perpustakaan digital menjadi salah satu opsi yang dinilai tepat dan menjanjikan. Hal tersebut membuat Dinas Pepustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang mempromosikan secara gencar sebuah aplikasi perpustakaan digital bernama iTangKab. Inovasi ini dilakukan agar perpustakaan dapat terus melayani dan memenuhi kebutuhan informasi pemustaka di masa pandemi Covid-19. Aplikasi perpustakaan digital bernama iTangKab ini sebenarnya sudah diluncurkan sejak tahun 2018, tetapi baru dikenal oleh banyak orang pada masa pandemi Covid-19. Terdapat sebanyak 1300 koleksi yang dapat dibaca oleh seluruh masyarakat di aplikasi iTangKab. Namun, jumlah koleksi tersebut masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan koleksi fisik yang ada di Dinas Peprustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang. Masih banyaknya masyarakat yang belum melek teknologi juga menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi. Koleksi elektronik di perpustakaan digital yang dilucurkan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang, yaitu berupa aplikasi bernama iTangKab tersedia sebanyak 1300 judul koleksi dengan beragam subjek yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh pemustaka pengguna aplikasi tersebut. Proses digitalisasi atau alihmedia dan pengadaan ebook di iTangKab merupakan hasil kolaborasi atau kerja sama antara Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang dengan Aksaramaya. Namun, jumlah koleksi elektronik dengan jumlah koleksi fisik masih mengalami kesenjangan yang cukup jauh. Jumlah koleksi elektronik yang tersedia di iTangKab ialah sebanyak 1300 judul, sedangkan koleksi fisik yang tersedia di gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang ialah sebanyak 111.000 judul. Pemanfaatan koleksi digital yang tersedia di iTangKab juga masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat karena

Conclusion

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah koleksi elektronik di perpustakaan digital yang dilucurkan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang, yaitu berupa aplikasi bernama iTangKab tersedia sebanyak 1300 judul koleksi dengan beragam subjek yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh pemustaka pengguna aplikasi tersebut. Proses pengadaan koleksi dilakukan dengan digitalisasi atau alihmedia bahan pustaka cetak yang sudah ada dan juga ebook yang merupakan hasil kolaborasi atau kerja sama antara Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang dengan Aksaramaya. Namun, jumlah koleksi elektronik dengan jumlah koleksi fisik masih mengalami kesenjangan yang cukup jauh. Jumlah koleksi elektronik yang tersedia di iTangKab ialah sebanyak 1300 judul, sedangkan koleksi fisik yang tersedia di gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang ialah sebanyak 111.000 judul. Pemanfaatan koleksi digital yang tersedia di iTangKab juga masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat karena masih banyaknya masyarakat Kabupaten Tangerang yang belum melek teknologi.