Mobile Library: One Inovation of Literacy Information Reference
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Abstrak
Literasi informasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan bagi segenap kalangan akademis ataupun kalangam masyarakat biasa dalam meningkat kemampuan dalam pengetahuan dalam sebuah informasi yang lagi terbaru atau yang lagi hangat disaat ini. Lahirnya budaya literasi digital seiring dengan kemajuan dalam teknologi informasi yang melahirkan sebuah kemudahan kepada masyarakat dalam mendapatkan informasi digital tanpa harus memikirkan dari jarak dan lokasi yang mereka upayakan dalam mendapatkan informasi. Transformasi penelusuran informasi di era teknologi informasi menghasilkan sebuah maha karya yang menjadikan sebuah perubahan dalam budaya penelusuran informasi yang awal menggunakan cetak sebagai koleksi referensi menjadi literasi digital dan menggunakan digital buku sebagai referensi informasi digital. Peneliti menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini memakai deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data peneliti menggunakan sistem observasi perhadap aplikasi mobile library, wawancara dan studi literature aplikasi mobile library dan disajikan secara deskriptif dengan menjelaskan hasil observasi sesuai temuan di lapangan. Lembaga pendidikan sudah mulai siap dalam berinteraksi dengan perkembangan teknologi informasi hal tersebut terlihat dari sejauh ini sudah cukup banyak menyediakan / menghadirkan aplikasi mobile library di lingkungan pendidikan mereka baik itu dikalangan perguruan tinggi sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Abstract
Information literacy is something that is very much needed for all academic circles or among ordinary people in increasing their ability in knowledge in information that is more recent or hot at this time. The birth of a digital literacy culture is in line with advances in information technology which makes it easy for the public to obtain digital information without having to think about the distance and location they seek to obtain information. The transformation of information retrieval in the information technology era produces a masterpiece that makes a change in the culture of information retrieval, which initially used print as a reference collection to become digital literacy and use digital books as a reference for digital information. The researcher uses a qualitative methodology, this research uses a qualitative descriptive. The method of data collection by researchers used an observation system for mobile library applications, interviews and literature studies of mobile library applications and presented descriptively by explaining the results of observations according to the findings in the field. Educational institutions have begun to be ready to interact with information technology developments, this can be seen from so far there have been quite a number of providing/presenting mobile library applications in their educational environment, both among colleges and junior high schools (SMP).
Keywords:
Perpustakaan mobile
· Literasi informasi
· literasi dijital
Introduction
Literasi informasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan bagi segenap kalangan akademis ataupun kalangam masyarakat biasa dalam meningkat kemampuan dalam pengetahuan dari sebuah informasi yang lagi terbaru atau yang lagi hangat disaat ini. Dimasa saat ini dalam melakukan literasi informasi kita tidak hanya terbaku pada sebuah buku ataupun benda mati saja dalam mendapatkan informasi, akan tetapi kita juga dalam mendapatkan informasi melalu media digital seperti elektronik book, jurnal ataupun majalah yang semua media tersebut memberikan kemudahan kepada kita dalam menikmati atas hidangan informasi melalu skala luas yaitu elektronik. Perubahan yang begitu cepat didunia literasi mewajibkan kita kalangan akademisi ataupun masyarakat umum untuk ikut melakukan perubahan dalam proses melakukan penikmatan informasi, seperti mulai membiasakan menggunakan alat elektronik sebagai perangkat pendukung dalam proses penelusuran informasi, seperti handphone, laptop, notebook ataupun perangkat lainnya. Semua perubahan yang terjadi tak lepas dari sebuah perubahan kemajuan teknologi informasi yang menuntut semua bagian ataupun semua sektor layanan informasi harus mengikuti kemajuan teknologi informasi digital. Literasi digital merupakan hasil dari perkembangan teknologi informasi digital yang berimbas dari sebuah pergeseran budaya baca yang awal berbentuk literasi cetak menjadi literasi digital. Lahirnya budaya literasi digital seiring dengan kemajuan dalam teknologi informasi yang melahirkan sebuah kemudahan kepada masyarakat dalam mendapatkan informasi digital tanpa harus memikirkan dari jarak dan lokasi yang mereka upayakan dalam mendapatkan informasi. Salah satu faktor lahirnya budaya literasi digital yaitu munculnya mobile library atau smart library. Sebutan perpustakaan digital terjemahan dari "digital library". Penduduk Indonesia memahaminya sebagai perpustakaan daring, perpustakaan online, perpustakaan elektronik (e-library) atau virtual library. Perpustakaan digital dan perpustakaan konvensional tidak jauh berbeda, yang menjadi pembedanya adalah bentuk koleksi. Perpustakaan digital memiliki koleksi elektronik atau koleksi virtual dan apabila perpustakaan konvensional memiliki koleksi tercetak. Kata digital atau dapat disebutkan dengan sebutan digitalisasi menjadi salah satu fenomena baru yang mulai banyak diterapkan oleh tiap-tiap lembaga pendidikan atau lembaga informasi dalam memberikan pelayanan yang diberikan kepada konsumen, karena dengan menerapkan digital sebuah lembaga mendapatkan beberapa jenis keunggulan yang dapat diperoleh dimulai dari kecepatan untuk mengakses informasi maupun ketepatan hasil (akurasi) dari pencarian data dan informasi khususnya untuk bidang perpustakaan. Digitalisasi perpustakaan merupakan sebuah proses pengelolaan bahan bacaan perpustakaan dengan memanfaatkan bantuan teknologi informasi, salah satunya pengolahan informasi bahan bacaan menjadi lebih cepat dan akurat untuk diakses kembali. Dengan begitu tenaga pustakawan dapat memanfaatkan waktu guna mengembangkan perpustakaan dan pemustaka dapat menggunakan waktu untuk menikmati bahan bacaan yang mereka inginkan karena itu bukti dari memanfaatkan teknologi informasi. Bertranformasi lembaga perpustakaan informasi menuju digitalisasi atau elektronik mulai diterapkan oleh segenap lembaga perpustakaan, baik perpustakaan nasioanl, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan universitas ataupun sekolah, baik transformasi ini dilakukan dengan semi elektronik atau hibrida ataupun sudah full menjadi perpustakaan elektronik. Perpustakaan handphone atau lebih dikenal dengan library mobile merupakan hasil perkembangan sektor teknologi informasi yang mengkolabirasikan dengan perangkat android di handphone dengan perpustakaan elektronik sehingga terciptalah sebuah produk baru di dunia literasi digital berbentuk mobile library. Produk baru ini juga sudah banyak menjadi daya tarik bagi segedap lembaga perpustakaan dalam berlomba-lomba untuk memasarkan produk koleksi bahan bacaan elektronik ke konsumen atau pembaca dengan lebih luas. Melalui pendahuluan peneliti mulai melakukan penelitian literature atau penelitian perpustakaan dalam mengetahui seberapa besar peran Perpustakaan Mobile sebagai salah satu solusi dalam mendapatkan informasi referensi di kalangan akademisi ataupun masyarakat umum di kondisi pandemic saat ini. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini memakai deskriptif kualitatif. Tujuan umum penelitian ini untuk menjelaskan mengenai Mobile Library terhadap informasi referensi bahan bacaan, Metode pengumpulan data peneliti menggunakan sistem observasi perhadap aplikasi mobile library, wawancara dan studi literature aplikasi mobile library dan disajikan secara deskriptif dengan menjelaskan hasil observasi sesuai temuan di lapangan.
Method
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini memakai deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data peneliti menggunakan sistem observasi perhadap aplikasi mobile library, wawancara dan studi literature aplikasi mobile library dan disajikan secara deskriptif dengan menjelaskan hasil observasi sesuai temuan di lapangan.
Result & Discussion
Perubahan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ada masa virtual sekarang menciptakan sebuah metamorfosis pada diri pustakawan yang mana hal tersebut dinamakan dengan revolusi pustakawan. Revolusi pertama dinamakan dengan collection centric. Lembaga perpustakaan mengoptimalkan pada kemampuan di bahan bacaan koleksi. Revolusi kedua dinamakan user centric. Lembaga perpustakaan menghadirkan servis mandiri kepada pengguna perpustakaan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi perpustakaan dalam bentuk otomasi. Revolusi ketiga dinamakan dengan promosi. Lembaga perpustakaan menghadirkan dan mengoptimalkan peran terkait dengan Online Public Access Catalouge (OPAC) dan website, selain itu transisi pada bahan bacaan pun tidak dapat dihindarkan seperti peralihan bahan bacaan cetak ke digital: Hybrid, repository digital. Revolusi keempat dinamakan dengan extended roles. Lembaga perpustakaan tidak hanya disibukkan dengan mempersiapkan sumber bahan bacaan, namun perpustakaan telah masuk menjadi bagian dari scholarly and scientific lifecycle. Lembaga perpustakaan sebagai manajemen komunikasi ilmiah e-journal. Komunikasi analog ke digital. Lembaga Informasi Perpustakaan Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 mengatakan perpustakaan merupakan sebuah wahana belajar sepanjang hayat. Selain itu pekerjaan yang dilakukan pustakawan dimulai dari proses melakukan pengadaan bahan koleksi, menyeleksi, klasifikasi, hingga sampai pada proses perawatan, semua terlihat lebih mudah jika menggunakan teknologi. Untuk mendukung berlangsungnya programprogram perpustakaan dan penyebaran informasi serta membantu meningkatkan kinerja pustakawan maka dibutuhkannya sebuah media pustaka yang berbasis digital. Perpustakaan merupakan sebuah lembaga informasi yang menyediakan beberapa pelayanan-pelayanan yang disediakan untuk mempermudah pengguna atau konsumen masyarakat dalam mengoptimalkan perpustakaan dalam meningkatkan pengetahuan melalui literasi informasi bahan bacaan. Lembaga perpustakaan selain memberikan kepuasan kepada masyarakat melalui pelayanan-pelayanan dalam menikmati bahan pustaka, perpustakaan juga menghadirkan teknologi guna pengoptimalkan peran lembaga perpustakaan sebagai lembaga penyediaan informasi yang akurat dan dapat dipercaya sehingga dapat menjangkau para konsumen atau pemustaka dari jarak yang cukup jauh ataupun tidak terbatas waktu. Lembaga perpustakaan memiliki berbagai macam jenis, sesuai dengan kebutuhan dari setiap kalangan konsumen perpustakaan. Bersumber dari perbedaan dalam jenis kebutuhan dan pemanfaatan maka lembaga perpustaan juga terbagi menjadi beberapa jenis lembaga perpustakaan, diantaranya. 1. Perpustakaan Nasional 2. Perpustakaan Daerah 3. Perpustakaan Perguruan Tinggi / Universitas 4. Perpustakaan Khusus / Departemen / Pemerintahan. 5. Perpustakaan Madrasah / Sekolah. Elektronik Katalog E-catalog merupakan salah satu kemudahan yang dilayangkan oleh lembaga perpustakaan sebagai bentuk inovasi sangat efektif dan efisien dalam memberikan kemudahan kepada para konsumen dalam mendapatkan sumber bahan referensi yang dibutuhkan. Secara tidak langsung fasilitas ini mengkolaborasikan dari katalog elektronik dan kekuatan internet. Katalog elektronik merupakan kumpulan deskripsi informasi dari sebuah produk yang tersedia dalam bentuk elektronik / digital yang dapat diakses atau dilihat menggunakan komputer atau perangkat elektronik lainnya. Jadi E-Catalog (Katalog Elektronik) merupakan sebuah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai Penyedia Barang/Jasa Pemerintah. Elektronik katalog pada lembaga perpustakaan biasa dikenal dengan Nama Online Public Access Catalog singkatnya OPAC adalah sarana temu kembali informasi yang diperuntukkan bagi yang membutuhkan informasi dari perpustakaan. Lebih lengkapnya OPAC merupakan sebuah sistem katalog perpustakaan berbasis elektronik yang bisa digunakan melalui terminal komputer untuk mencari informasi atau koleksi. Pengguna dapat melihat koleksi dan keterangan status setiap koleksi dari perpustakaan dan dapat memesan dan memperbaharui dokumen yang menarik mereka. Literasi Digital Menurut Paul Gilster mengakatan bawah literasi digital merupakan sebuah kepasitas dalam menafsirkan makna sebuah informasi dalam berbagai bentuk dari basis yang sangat luas yang dimanfaatkan melalui perangkat komputer. Literasi digital menawarkan pemahaman baru mengenai akar pada literasi komputer dan literasi informasi. Menurut UNESCO Prinsip dasar dari sebuah pengajian literasi digital merupakan konsep literasi digital yang menaugi dan menjadi dasar penting terhadap kemampuan memahami perangkat-perangkat teknoogi, informasi dan komunikasi (TIK). Literasi TIK memiliki dua sudut pandang yang berbeda, pertama literasi teknologi sebelumnya dikenal dengan literasi komputer, kedua literasi informasi seperti kemampuan yang memfokuskan pada penekanan pengolahan dan penggunaan informasi digital secara optimal dan maksimal. Literasi digital adalah merupakan sebuah kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh seorang individu dalam memanfaatkan perangkat komputer, internet, dan alat-alat teknologi digital lainnya sebagai sarana dalam menununjang aktivitas komunikasi dan informasi sesuai dengan kebutuhan. Perkembangan teknologi informasi direspon dengan adanya penetrasi dan perilaku penggunaan internet Indonesia yang mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Hasil survey APJII (Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menyebutkan bahwa terdapat peningkatan pengguna internet di Indonesia sebanyak 132,7 juta jiwa di tahun 2016 menjadi 143,26 juta jiwa pada tahun 2017, atau setara dengan 54,7 persen dari total populasi penduduk Indonesia (Indonesia, 2016). Gambar 1 merupakan hasil survei tahun 2016 yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menunjukkan bahwa 51,8% yakni sebanyak 132,7 juta orang dari total populasi penduduk Indonesia sebanyak 256, 2 juta orang adalah pengguna internet. Sebanyak 65% pengguna internet di Indonesia adalah penduduk di Pulau Jawa dengan jumlah 86,3 juta orang.. Ada 5 jenis kemahiran yang tercakup dalam istilah umum literasi digital meliputi: 1. Photo – visual literacy adalah kemampuan untuk membaca dan menyimpulkan informasi dari visual; 2. Reproduksi literacy adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital untuk menciptakan karya baru dari pekerjaan; 3. Percabangan literacy adalah kemampuan untuk berhasil menavigasi di media non-linear dari ruang digital; 4. Informasi literacy adalah kemampuan untuk mencari, menemukan, menilai dan mengevaluasi secara kritis informasi yang ditemukan di web; 5. Sosio-emosional literacy mengacu pada aspek-aspek sosial dan emosional hadir secara online, apakah itu mungkin melalui sosialisasi, dan berkolaborasi atau hanya mengkonsumsi konten. Aplikasi Mobile Aplikasi adalah program yang digunakan orang untuk melakukan sesuatu pada sistem komputer. Mobile dapat diartikan sebagai perpindahan yang mudah dari satu tempat ke tempat yang lain, misalnya telepon mobile berarti bahwa terminal telepon yang dapat berpindah dengan mudah dari satu tempat ke tempat lain tanpa terjadi pemutusan atau terputusnya komunikasi. Sistem aplikasi mobile merupakan aplikasi yang dapat digunakan walaupun pengguna berpindah dengan mudah dari satu tempat ketempat lain lain tanpa terjadi pemutusan atau terputusnya komunikasi. Aplikasi ini dapat diakses melalui perangkat nirkabel seperti pager, seperti telepon seluler dan PDA. Adapun karakteristik perangkat mobile yaitu: 1. Ukuran yang kecil: Perangkat mobile memiliki ukuran yang kecil. Konsumen menginginkan perangkat yang terkecil untuk kenyamanan dan mobilitas mereka. 2. Memory yang terbatas: Perangkat mobile juga memiliki memory yang kecil, yaitu primary (RAM) dan secondary (disk). 3. Daya proses yang terbatas: Sistem mobile tidaklah setangguh desktop. 4. Mengkonsumsi daya yang rendah: Perangkat mobile menghabiskan sedikit daya dibandingkan dengan mesin desktop. 5. Kuat dan dapat diandalkan: Karena perangkat mobileselalu dibawa kemana saja, mereka harus cukup kuat untuk menghadapi benturanbenturan, gerakan, dan sesekali tetesan-tetesan air. 6. Konektivitas yang terbatas: Perangkat mobile memiliki bandwith rendah, beberapa dari mereka bahkan tidak tersambung. Smart phone Telepon cerdas atau lebih dikenal dengan Smartphone merupakan salah satu wujud realisasi ubiquitous computing (ubicomp) di mana teknologi tersebut memungkinkan proses komputasi dapat terintegrasi dengan berbagai aktifitas keseharian manusia dengan jangkauan yang tidak dibatasi dalam satu wilayah atau suatu scope area. (Istiyanto 2013) Telepon cerdas merupakan telepon genggam yang mempunyai kemampuan Internet dan fungsi yang luas termasuk fitur-fitur Personal Digital Assistant (PDA) seperti membaca e-mail, kemampuan membaca buku elektronik (ebook), chatting/instant messaging serta mempunyai banyak aplikasi. (Anderson 2004) Telepon Cerdas menawarkan akses langsung baik ke informasi yang dipublikasikan maupun sistem jaringan perusahaan seperti intranet. Ketersediaan global dari jaringan telepon broadband dan aplikasi-aplikasi dapat mengubah penyampaian informa si kepada masyarakat bisnis, hukum dan komunitas peneliti. Pembahasan Mobile library merupakan salah satu perubahan atau bentuk revolusi yang dihadirkan oleh dunia perpustakaan dalam mewujudkan amanat undang-undang yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Mobile library merupakan salah satu bentuk perpustakaan berbentuk digital yang menggunakan perangkat handphone / smartphone sebagai alat untuk membaca atau mengakses informasi dan library sendiri berbentuk aplikasi atau software sehingga memberi kemudahan kepada para konsumen atau pemustaka dalam mendapatkan informasi referensi yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan, sehingga grafik akan sebuah literasi informasi atau literasi digital di kalangan masyarakat akan terus meningkat seiring dengan seringnya masyakarat menggunakan aplikasi mobile library sebagai alat dalam mendapatkan informasi referensi. Menurut staf ahli Menteri dalam negeri (Mendagri), Suhajar Diantoro pada Rapat kordinasi nasional bidang perpustakaan tahun 2021. Lebih lanjut, Kepala Perpustakaan Nasional M. Syarif Bando mengatakan persoalan Indonesia adalah rendahnya tingkat literasi. Dikuatkan dengan Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negera berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negera terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini didasari oleh hasil survey yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019. Lembaga pendidikan sudah mulai siap dalam berinteraksi dengan perkembangan teknologi informasi hal tersebut terlihat dari sejauh ini sudah cukup banyak menyediakan / menghadirkan aplikasi mobile library di lingkungan pendidikan mereka baik itu dikalangan perguruan tinggi sampai Sekolah Dasar (SD). Perpustakaan digital di Indonesia sekarang mulai berkembang, koleksi yang dipinjamkan berupa koleksi dalam bentuk digital. Perpustakaan digital bisa saja diakses melalui website atau diakses melalui aplikasi mobile yang biasa diunduh di play strore untuk handphone memiliki sistem operasi Android dan sistem operasi selain Android. Menghadirkan aplikasi mobile library sebagai bentuk nyata bahwasanya dunia pendidikan dan dunia perpustakaan telah siap dan mampu dalam menyambut revolusi 4.0 dan siap berinteraksi dengan kemajuan teknologi informasi dilingkungan, dan dengan tujuan untuk memberikan kemudahan peserta didik atau civitas akademika dalam mendapatkan informasi referensi yang aktual dan terpercaya. Selain mobile library, lembaga pendidikan juga telah menghadirkan bentuk lain dari perpustakaan digital diantaranya Open Public Access Catalauge (OPAC) Senayan Library Information Management System (SLiMS), Inlislite dan Repository. Mobile library berisikan kumpulan koleksi-koleksi yang berbentuk digital yang telah dibeli atau dilanggan oleh lembaga pendidikan yang dapat diakses secara bebas oleh perserta didik atau civitas akademika. Beberapa tahapan yang pasti dilalui oleh pemustaka atau civitas akademika sebelum dapat mengakses atau menggunakan Mobile Library berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan, diantaranta: 1. Mendowload di Google PlayStore. 2. Menginstal aplikasi 3. Mendaftar sebagai anggota perpustakaan dengan mengisi Google Form pendaftaran. Dengan tujuan supaya datanya tersimpan di database Mobile Library. 4. Admin Mobile Library membuat dan mengirimkan Username dan Password ke email masing-masing pendaftar sesuai dengan data di database. 5. Pemakai / pengguna dapat langsung meng Login sesuai Username dan Password yang diberikan oleh admin. 6. Setelah itu pemustaka bisa langsung melakukan layanan sirkulasi, maksudnya melakukan peminjaman koleksi digital yang sudah diinput atau disediakan oleh pustakawan, dan melakukan pengembalian buku elektronik apabila telah digunakan oleh pemakai. 7. Apabila pemustaka mereka kesulitas dalam penelurusan, pustakawan menyediakan fitur penelusuran / Search guna memberikan kemudahan kepada pemakai dalam melakukan pengaksesan informasi referensi atau temu kembali informasi referensi. 8. Log Out dari Aplikasi Mobile Library. Selain melakukan observasi aplikasi mobile library dan literature, peneliti juga melakukan wawancara kepada pemakai mobile library yang dilakukan secara random. Wawancara yang pertama peneliti lakukan kepada Mufaza beliau mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia jurusan Sastra Inggis Semester VI, dalam wawancara dilakukan secara tidak struktur dan menghasilkan bahwa aplikasi mobile library Ipusnas merupakan terobasan yang sangat membantu dalam mendapatkan informasi referensi bagi masyakarat kelas bawah karena informasi bahan referensi dapat diperoleh tanpa harus mengeluarkan biaya atau free, serta fitur dan edisi bahan koleksi yang dihasilkan lengkap dan mudah di akses, yang terpenting koleksi bahan pustaka yang disedikan sesuai dengan bidang keilmuan yang sedang di tempuh di Universitas saat ini, sehingga sangat menjadi alternative utama dalam mendapatkan informasi referensi selain ke perpustakaan Universitas secara langsung. Wawancara kedua peneliti lakukan kepada Nadya Sholiha, beliau masyarakat umum yang saat ini aktif di organisasi kemasyarakatan dan aktif menjadi tutor bimbingan belajar (BIMBEL), beliau telah menggunakan aplikasi Mobile library Ipusnas semenjak 2 tahun ketika munculnya Covid 19 di Indonesia, dalam mendapatkan referensi koleksi bahan yang pada saat itu ruang gerak masyarakat benar-benar sangat dibatasi, beliau menggunakan aplikasi Ipusnas sebagai solusi dalam membimbing anak didik dalam menjalankan belajar mengajar secara online, sehingga jarak dan kondisi tidak menjadi permasalahan yang berarti apabila kita dapat dengan mudah dalam mengakses koleksi bahan referensi sesuai dengan kita butuhkan. Berikut ini beberapa lembaga pendidikan yang telah menggunakan mobile library, Diantaranya: 1) Ipusnas Perpustakaan Nasional (PERPUSNAS) meluncurkan aplikasi iPusnas sebagai bentuk inovasi perubahan dari perpustakaan konvensional menuju perpustakaan digital untuk menjawab tantangan perubahan zaman dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi. iPusnas merupakan perpustakaan digital persembahan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan tujan memberikan kemudahan bagi penggunanya yang tersebar di seluruh negeri sehingga dapat mengakses bahan bacaan dengan mudah dan cepat. iPusnas menyediakan berbagai macam koleksi e-book yang dapat di akses dan dibaca oleh pengguna dimanapun dan kapanpun secara online dan offline melalui smartphone. Peluncuran aplikasi iPusnas oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini dilakukan pada tahun 2016. iPusnas adalah Aplikasi Perpustakaan digital (ePustaka) yang dilengkapi dengan eReader untuk membaca eBook dan fitur social media, dimiliki oleh Badan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) kerjasama dengan PT. Woolu Akasara Maya (Aksaramaya) sebagai pengembang aplikasi. iPusnas adalah sebuah platform media sosial untuk mengakses e-Bookstore & e-Pustaka, membangun jaringan/komunitas sesama pembaca, dan juga tentunya sebagai e-Reader untuk membaca eBook. iPusnas dapat diakses di berbagai medium perangkat mulai dari desktop dan PC berbasis situs (web- based), notebook dan tab based hybrid (tab-base application), dan mobile (smartphone-based application). Jelajahi fitur-fitur unggulan iPusnas: Koleksi Buku: Ini adalah fitur yang mengantarkan anda menjelajahi ribuan judul ebook yang ada di iPusnas. Pilih judul yang anda inginkan, pinjam dan baca hanya dengan ujung jari anda. a. ePustaka: Fitur unggulan iPusnas yang memungkinkan anda bergabung menjadi anggota dari berbagai perpustakaan digital dengan beragam koleksi bukunya masing-masing, menjadikan perpustakaan serasa dalam genggaman. b. Feed: Untuk melihat semua aktivitas pengguna iPusnas lainnya seperti informasi buku terbaru, buku yang dipinjam pengguna lain hingga memberikan komentar. c. Rak Buku: Merupakan rak buku virtual milik anda di mana semua riwayat peminjaman buku tersimpan di dalamnya, sehingga memudahkan anda untuk membaca buku yang telah dipinjam. d. eReader: Fitur ini membuat gawai (gadget) Anda dapat membaca ebook dengan mudah dan nyaman di dalam aplikasi iPusnas. Aplikasi iPusnas dapat dimanfaatkan oleh para masyarakat Indonesia sebagai sarana temu balik informasi sehingga masyarakat Indonesia tidak perlu bersusah payah dalam mendapatkan informasi serta bahan bacaan yang ada di perpustakaan tersebut. Cukup dengan mendownload di google playstore dan membuka aplikasi dan memasukan kata kunci apa saja dan pemustaka sudah bisa mendapatkan bahan bacaan digital yang mereka butuhkan dimana saja, karena pemustaka Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah seluruh masyarakat di Indonesia maka Perpustakaan menfaatkan peluang ini. Mobile library iPusnas memiliki 23ribu bahan bacaan bahkan lebih yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan dan bentuk fiksi ataupun Non-fiksi yang dapat diakses bebas oleh para masyarakat Indonesia atau pemustaka diseluruh Nusantara. Aplikasi ini menjadi inovasi terbaru didunia perpustakaan dalam menciptakan budaya baca dan menjadi pelopor dalam bagi lembaga pendidikan untuk menghadirkan mobile library di semua lini sektor pendidikan dari perguruan tinggi sampai sekolah dasar (SD). Mobile library iPusnas menjadi aplikasi referensi dalam urutan pertama dalam temu kembali informasi referensi di masyakarat Indonesia, terlebih ketika negera Indonesia dihantui oleh wabah Covid 19, semua lembaga pendidikan yang menerapkan sistem offline beralih ke sistem onlone yang ruang gerak masyarakat dibatasi, sehingga hal tersebut menimbulkan masalah baru dimasyakarat. Selain masalah sulitnya dalam beraktifitas ditambahkan lagi sulitnya mendapatkan referensi informasi yang akurat dan terpercaya yang pada saat itu sangat sulit membedakan informasi bohong (HOAX) ataupun informasi yang benar. Mobile library iPusnas menjadi solusi bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi yang efektif dan akurat sehingga proses sistem belajar mengajar yang diterapkan oleh lembaga pendidikan melalui sistem online dapat berjalan dengan lancer sebagaimana yang diharapkan. Dalam pemanfaatkan aplikasi Ipusnas, berikut peneliti lampirkan bagan dari proses pendownload sampai melakukan penelususran dan melakukan proses peminjaman bahan bacaan sesuai dengan koleksi yang dibutuhkan. 2) Mobile Library Universitas Ahmad Dahlan Universitas Ahmad Dahlan merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah yang tempat di Kota Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) telah memperoleh Akreditasi Institusi “A” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tahun 2017. Perguruan Tinggi ini juga memiliki banyak kajian keilmuan dalam berbagai fakultas dan program studi, lembaga dan forum-forum diskusi yang ada di dalamnya, sehingga memiliki berbagai pilihan kajian keilmuan dengan berbagai variasinya. Kualitas pelayanan yang diberikan oleh kampus yang didukung oleh budaya Kota Pendidikan Yogyakarta dan dipadukan dengan kemajuan teknologi informasi sehingga dapat meningkatkan minat proses belajar mengajar para dosen mahasiswanya. Salah satunya dengan memberikan pelayanan yang kreatif dan inovatif di Lembaga perpustakaan universitas. E-Library UAD merupakan perpustakaan digital dari Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dengan tujuan untuk memberikan kemudahan kepada mahasiswa, dosen dan karayawan di lingkungan universitas untuk dapat mengakses bahan bacaan dengan mudah dan cepat. E-Library UAD juga menyediakan berbagai macam koleksi elektronik book yang dapat di akses dan dibaca oleh pemustaka dimanapun dan kapanpun secara online dan offline melalui smartphone. Aplikais mobile library E-Library UAD termotivasi dari hadirkan Ipusnas dan sebagai bukti dalam mewujudkan visi dari Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan yaitu Menjadi perpustakaan Perguruan Tinggi yang modern berbasis teknologi informasi dengan pelayanan yang cepat, tepat dan mudah. Aplikais mobile library E-Library UAD menjadi aplikasi rujukan bagi civitas akademika dalam mendapatkan informasi referensi dikondisi pandemic covid 19, hal berawal pada terjadinya perubahan sistem pola pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan yang semula berbentuk offline atau bertatap buka, kini berubah menjadi online atau lebih dikenal dengan daring atau E-learning. Rasa kegelisahan dan kehawatiran Universitas Ahmad Dahlan umum dan Perpustakaan khususnya mengenai informasi referensi civitas akademika yang diakses tidak berdampak, sehingga sistem proses belajar mengajar dapat berjalan dengan yang diharapkan. Aplikais E-Library UAD berisikan buku-buku teori dari berbagai bidang keilmuan dari berbagai fakultas dan program studi sesuai dengan kebutuhakn civitas akademika dilingkungan Universitas Ahmad Dahlan. E-Library UAD berisikan berbagai macam bahan bacaan digital yang dapat dimanfaatkan oleh segenap civitas akademika dengan mendownload melalui Google Play Store. Aplikasi Perpustakaan E-Library UAD dilengkapi dengan eReader dan kerjasama dengan PT. ENAM KUBUKU INDONESIA sebagai pengembang aplikasi. Jelajahi fitur-fitur unggulan E-Librari UAD: Beranda: Fitur ini berisikan informasi-informasi utama seperti beberapa koleksi yang menjadi terfavorit atau yang terbaru yang disediakan oleh perpustakaan yang terdapat di berada E-Library UAD. Sering dibaca: Fitur berisikan informasi tentang koleksi-koleksi yang pernah dibaca oleh pemustaka, fitur ini disediakan untuk dilakukan evaluasi oleh pemakai untuk bahan bacaan yang diakses. Terakhir dilihat: Fitur ini berisikan beberapa informasi tentang koleksi-koleksi yang pernah di akses atau yang baca oleh pemustaka, dengan tujuan pemakai dapat mengetahui koleksi atau bahan bacaan yang terakhir yang digunakan. 3) Mobile Library SMA Negeri 4 Madiun SMA Negeri 4 Madiun merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur yang berdiri pada tahun 1982. Nama SMA Negeri 4 Madiun, yang terletak di Jl. Serayu No 8 Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. SMAPA Digital Library merupakan salah satu inovasi layanan yang diberikan SMA Negeri 4 Madiun melalui aplikasi perpustakaan dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui literasi digital di lingkungan SMA Negeri 4 Madiun. SMAPA digital library salah satu bentuk bahwa SMA Negeri 4 Madiun siap menerima dan mengikuti perkembangan teknologi informasi yang saat ini dikenal dengan revolusi industry 4.0. Selain layanan SMAPA digital library, SMA Negeri 4 Madiun juga menyediakan sarana prasarana lain yang mendukung terciptanya suasana konduktif dan terciptanya budaya literasi dilingkungan sekolah, diantaranya SMAPA Digital Library perwujudan dari visi dengan instansi sekolah SMA Negeri 4 Madiun yaitu “Terwujudnya Pendidikan yang maju, Tangguh, cerdas, trampil dan kreatif berdasarkan iman dan taqwa dalam lingkungan sekolah yang konduktif”. 4) Mobile Library SMP Negeri 2 Salatiga SMP Negeri 2 Salatiga merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Pendidikan Kabupaten Salatiga. Beralamat di JL. RA Kartini No.26, Salatiga, Kec. Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah. 16 Agustus 2020 merupakan hari dimana mobile library Prakasita Digital hadir di lingkungan SMP Negeri 2 Salatiga. Aplikasi mobil library sebagai bukti bahwa SMP Negeri 2 Salatiga sebagai lembaga pendidikan terus berupaya meningkatkan mutu dengan mengupayakan dan memanfaatkan setiap sarana dan prasarana termasuk melalui layanan media online ini. Untuk itu melalui mobile library ini bisa digunakan oleh bapak/ibu guru, karyawan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dan temu kembali informasi referensi sehingga dapat berjalan efektif dan efisien. Prakasita Digital Library merupakan salah satu inovasi layanan yang dihadirkan dilingkungan SMP Negeri 2 Salatiga. Melalui aplikasi perpustakaan dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui literasi digital di lingkungan SMP Negeri 2 Salatiga. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Kepala sekolah ibu Mudjiati mengatakan pihaknya berupaya menumbuh kembangkan minat baca bagi siswa-siswi agar di era literasi ini siswa mampu menjadi lulusan yang miliki wawasan luas. Prakasita digital library salah satu bentuk bahwa SMP Negeri 2 Salatiga siap menerima dan mengikuti perkembangan teknologi informasi yang saat ini dikenal dengan revolusi industry 4.0. Aplikasi mobile library Prakasita digital berisikan kumpulan bahan bacaan dengan jumlah lebih dari 90 buku yang bisa dilihat siswa melalui gedged atau smartphone dengan login akunnya masing-masing pemustaka. Sehingga diharapkan para siswa tercukupi kebutuhan informasi referensi buku untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah. Selain itu, wawasan anak diharapkan menjadi luas baik pengetahuan pelajaran mau pun pengetahuan umum yang muaranya anak menjadi cerdas dan pintar.
Conclusion
Mobile library merupakan bentuk inovasi yang diciptakan oleh lembaga perpustakaan dalam menjangkau dan menghadirkan budaya baca disetiap lingkungan dipenjuru plosok nusantara, baik di sekolah ataupun di daerah. Inovasi ini menjadi bukti perkembangan teknologi informasi di lembaga perpustakaan sudah mengikuti era revolusi industry 4.0 dan siap dalam menyambut kedatangan revolusi industry 5.0 – 6.0. Mobile library memiliki banyak fitur, diantaranya adalah Login, Pendaftaran Anggota, Peminjaman dan Pengembalian Koleksi Digital, Penelusuran atau Search informasi dan Logout. Beberapa fitur difungsikan dalam memberikan kemudahan kepada pemustaka maupun pustakawan dalam memaksimalkan fungsi mobile library. Dengan adanya beberapa kemudahan yang bisa didapatkan dari penggunaan mobile library ini maka lembaga perpustakaan dan lembaga pendidikan diharapkan bisa mempertimbangkan untuk berevolusi ke perpustakaan digital secara penuh dan untuk mengembangkan budaya literasi informasi dalam skala besar dan luas ke penjuru nusantara, sehingga tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang sulit dalam mendapatkan bahan informasi referensi mesti berbentuk digital. Semua kemajuan serta perkembangan yang dilakukan perpustakaan itu sendiri bertujuan untuk memberikan kepuasan pemustaka.