Kebijakan Pengembangan Koleksi E-Resources di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Pengembangan koleksi e- resources perpustakaan merupakan prioritas yang utama dalam menentukan kekuatan informasi dan pengetahuan.Tujuan paper ini adalah untuk menganalisis bagaimana pemanfaatan e-resources kebijakan pengembangan koleksi terciptanya wujud digitalisasi koleksi di perguruan tinggi. Pentingnya e-resources di lingkungan perguruan tinggi menjelaskan bahwa perkembangan e-sources yang sedemikian pesat telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap komunitas akademik dalam hal pemanfaatan (use), penyimpanan (store) dan pelestarian (preserve) informasi. Metode E-resources melalui berlangganan secara berkala. Berlangganan secara berkala e-resources, pemustaka bisa mengakses konten digital. Hal itu sangat penting supaya pengembangan sumber daya elektronik dapat dilakukan oleh perpustakan sesuai dengan skill dan kebutuhan dan visi perpustakan. di dalam pengadaan dan pengembangan e-resources, pengelola perpustakaan terkait kebijaksaan akses e-resources juga mengalami permasalahan. Permasalahan tersebut diantaranya bagi perpustakaan perguruan tinggi terkait open acces e-resourcess naskah lengkap terhadap karya akhir mahasiswa seperti skripsi, thesis dan disertasi. Perpustakaan sering dihadapkan ketidakjelasan peran dan wewenang open acces yang dimilikinya. Teori-teori yang digunakan oleh peneliti ialah teori resources dan teori kebijakan P\pengembangan koleksi perpustakaan. Metodologi peneliti gunakan pendekatan kualitatif.
Keywords:
e-resources
· kebijakan pengembangan koleksi
Introduction
Era disrupsi yang mana teknologi yang mengalami kemajuan pesat yaitu dengan munculnya internet. Pertumbuhan Elektronik Resources dimulai tahun 1971 di Amerika Serikat yankni MEDLINE, the versi Online MEDLARS yang menawarkan basis data dial-up online utama pertama layanan pencarian. Namun di Amerika informasi format eletronik telah diketahui pada tahun 1950-an tidak sampai awal tahun 1960. Pada tahun 1971, Online MEDLARS merupakan basis dial-up online pencarian yang pertama. Online Medlars menawarkan online publik pertama database komersial. Pada pertengahan 1980-an sumber daya elektronik mulai berdampak besar pada praktik perpustakaan. Selain itu juga berbagai jenis produk CD-ROM disediakan dan berlangganan dengan produsen. Pada awal mulanya harga produk berlisensi dan terjadi pembelian komputer dan CD-ROM.1 Namun dengan munculnya internet, eksistensi sumber daya virtual, koleksi koperasi pembanguan semakin populer sehingga otonomi perpustakaan lokal hilang dan peran fungsi pustakawan memudar. Sebagian isu tentang perpustakaan digital mengatakan, bahwa nantinya semua koleksi yang ada di perpustakaan akan berupa bahan elektronik. Perpustakaan telah dan sedang mengalami perubahan pengguna yang dilayani. Hal ini terjadi karena adanya teknologi baru sehingga penerbit meluncurkan berbagai bahan pustaka elektronik. Selera pasar informasi yang berkiblat pada dunia maya dan meninggalkan dunia nyata, maka munculnya pengadaan bahan pustaka elektronik. Perpustakan perguruan tinggi popular dinamai dengan research library atau perpustakaan penelitian. Perpustakaan juga menjadi sarana menelitian dan meneliti merupakan kegiatan utama di perguruan tinggi. Pengguna 1Glenda A. Thorton.Impact of Electronic Resources on Collection Developmentn, The roles of Librarians and Library Consortia. Penerbit University of Illiniois dalam Jurnal Edisi Vol 48, No.4, Spring 2000, hlm. 842- 856. 72 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020
Method
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Sumanto menyatakan bahwa penelitian dekripsi yakni penelitian yang berusaha mendeskrispikan dan mendeskripsika dan menginterpretasikan kondisi, suatu proses yang sedang berkembang. Kemudian penelitian deskripif biasanya dikumpulkan melaui survei angket, wancara dan observasi. Selanjutnya menurut Sutopo Arief (2010) penelitian kualitatif merupakan penelitian untuk melakukan deskriptif dan analisis terhadap fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, persepsi dari setiap induvidu maupun kelompok tertentu. Penelitian jenis ini bersifat induktif yang mana data di lokasi akan menjadi sumber utama adanya fenomena dan permasalahan dalam proses pengamatan yang dilakukan
Discussion
B. Analisis Teori 1. Teori E-resources Defenisi E-resources oleh MC Miclan (1991) artinya setiap serial yangdi produksi, diterbitkan dan didistribusikan melalui jaringan eletronik seperti bitnet dan Internet. kemudian E-Sources, Smith (2003) memberikan definisi, setiap E-resources yang tersedia secara online termasuk yang tersedia baik elektronik dan tercetak. Oleh sebab itu, E-resources perlu digunakan untuk menggambarkan sebuah publikasi berkala yang terbitkan dalam bentuk digital ditampilkan dilayar komputer.2 Kathleen Kluegel (1998) menjelaskan E-resources, Although electronic resources have expanded far beyond the inital abstracting and indexing tools, Kluegel believes that references librarian have an important role to play in shaping acces tools for all theses materials. She states: I believe hatt the creation of the intelectual infrastructure for electronic resources would be more readily achived if the processes of identification, selection and description were combines with the reference and acces servises of a library.3 Menurut Kathleen Kluegel (1998) menjelaskan meskipun sumber daya elektronik telah berkembang jauh melampaui alat abstrak dan pengindeksan, Kluegel percaya bahwa pustakawan 2Jamaluddin, Mengenal Eletronik Jurnal dan manfaatnya bagi pengembangan karir Pustaakawan dalam Jurnal Jupiter Vol.XIV No.2 (2015) 3Glenda A. Thorton.Impact of Electronic ....hlm. 848 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 73 referensi dan akses layanan perpustakaan referensi memiliki peranan penting dalam memainkan berbentuk alat akses untuk semua akses. Kluegel percaya penciptaan infrastruktur intelektual untuk sumber daya elektronik lebih mudah dicapai jika proses identifikasi, seleksi dan deskripsi digabung dengan referensi dan akses layanan perpustakaan. 2.Teori Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan Pengembangan koleksi perpustakaan merupakan prioritas yang utama dalam menentukan kekuatan informasi dan pengetahuan. Pengembangan koleksi secara tepat waktu memenuhi proses memenuhi kebutuhan informasi publik dan secara ekonomis menggunakan sumber-sumber informasi diperoleh melalui organisasi lain. Sementara itu adanya peran dan upaya pustawakan dalam pengembangan koleski mestinya berkerjasama secara kooperatif. Kemudian pustakawan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, kerjasama dengan para agen yang dianggap potensial memberikan andil terhadap kemajuan koleksi dan informasi perpustakaan. Kedua, hubungan dengan kelompok pengguna yang terdiri dari berbagai komponen, seperti dosen, mahasiswa dan peneliti pada perpustakaan perguruan tinggi. Ketiga, hubungan dengan vendorpenyedia berbgai koleksi yang diadakan untuk perpsutakaan demi memenuhi kebutuhan perpustakaan.4 Pengembangan koleksi dalam suatu perpustakaan merupakan kegiatan yang mestinya dilakukan agar menentukan kebutuahan informasi yang sesuai disedikan oleh pengguna. Menurut Evans (2000) dalam Iskandar, memberi batasan istilah collection development merupakan rangkaian peta kekuatanan dan kelemahan koleksi perpustakaan. Oleh karena itu, terciptalah 4Nurdin Laugu, Representasi Kuasa dalam Pengelolaan Perpustakaan Studi Kasus pada Perpsutakaan Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta (Yogyakarta: Gapernus Press, 2015), 80 74 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 sebuah rencana untuk memperbaiki peta kelemahan dan memperkuat koleksi.5 Selanjutnya kegiatan pengembangan koleksi di paparkan oleh Brophy (2005), sebagai berikut: Collection management, sometimes called collection development, lies at hearts of library's task. (The term collection management is preprerred here since it emphasizes that the task in an ongoing and active one, involving stock repleshing withdral and so on) and not simply the acquisition of new material. Menurut Brophy, manajemen koleksi kadangkala lebih cocok dinamai pengembangan koleksi karena melihat tugas-tugas sebuah perpustakaan. Istilah manajemn cenderung kepada penekanan bahwa tugas tersebut mencakup banyak hal yang selaluu aktif dan berkelanjutan termasuk penambahan koleksi, peminjaman dan lain-lain tidak hanya pengadaan material baru.6 3.Perpustakaan Perguruan Tinggi Menurut Sulistyo-Basuki perpustakaan perguruan tinggi ialah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi, dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya. Sedangkan menurut Lasa Hs. menyatakan bahwa perpustakaan perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan bagian intergral perguruan tinggi induknya yang bersama dengan unit 5Iskandar, Kontekstualisasi kebijakan Pengembangan Koleksi dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Pengguna (Studi Kasus di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta https://www.neliti.com/id/publications/162760/kontekstualisasi-kebijakan- pengembangan-koleksi-dalam-memenuhi-kebutuhan-informa dikases tanggal 12 Oktober 2019 pukul 19.00 wib. 6Rahmat Iswanto, Kebijakan Pengambangan Koleksi dan Pemanfataan Perpusutakaan Perguruan Tinggi (Analisis Penerapan Kebijkan pengembangan Koleksi Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidatullah), dalam Jurnal Tik Imeu Vol.1, No.1 tahun 2017 Sulistyo-Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan (Jakarta: Universitas Terbuka, 2011), 217. LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 75 kerja bagian lainya tetapi dalam peran yang berbeda bertugas membantu perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan program Tri Dharma Perguruan Tinggi.8 Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi adalah bagian dari perguruan tinggi yang membantu melaksanakan program Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan cara memilih, menghimpun, mengolah, merawat, dan melayankan sumber informasi. D. Pembahasan a. Definisi E-resources a. Definis E-resources dan jenis-jenisnya Lasa Hs, Kamus Kepustakawanan Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009), 277-278. 9 Sumanto, Metodologi Penelitian Sosial Pendidikan: Aplikasi Metode Kuantitatif dan Statistika dalam Penelitian, (Yogyakarta: Andi Offset, 1995), 77. 10Wilhemus Hary Susilo, Penelitian Kualitatif, Aplikasi pada penelitianIlmu Kesehatan (tidak dcantumkan penerbit, 2010) 9 76 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 Sumber elektronik berdasarkan AACR2 merupakan bahan (data) atau program yang diciptakan menggunakan kode atau program komputer dan dimanfaatkan dengan piranti komputer. Berdasarkan isi sumber elektronik terdiri atas isi berkas (computer file content), data angka (numericdata) dan bahan multimedia beriorientasi komputer.11E-resources diakses melalui jalan raya informasi global sampi ke koleksi perpustakaan. Kemudian perpustakaan juga melakukan pekerjaan untuk member layanan e-jurnal yang tersedia bagi pengguna sejajar dengan perkembangan terbaru di bidang yang diminati oleh pemustaka. Selanjutnya, e-resources dapat diakses secara gratis namun ada juga yang berlangganan dengan membayar biaya nominal. Pada umumnya e-resources disediakan oleh penerbit baik penerbit atau agen. Sementara itu, e-resources juga memberikan peluang bagi pengguna untuk mengakses informasi ilmiah. Tidak hanya itu, e-sources memiliki banyak fitur yang ditambah untuk fasilitas perpustakaan dan menawarkan konten ilmiah untuk penggunanya. Fitur lain dari e-resources meliputi pencarian teks lengkap, fasilitas multimedia dan link hypertex.12 Subjektifitas yang mendasar bagi pelayanan e-resources perguruan tinggi ialah kebutuhan pemustaka yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dalam hal mendapatkan informasi yang terkini, cepat dan tepat. Maka dari itu perpustakan di perguruan tinggi semestinya melaksanakan tindakan strategi untuk meningkatan nilai dan layanan pemanfaatan e-resources. Lebih lanjut, Suxena (2009) juga menjelaskan jenis-jenis penerbitan elektronik, meliputi mencakup buku elektonik (e-book), terbitan berkala elektronik (e-periodicale), database elektronik (e- 11Indah Purwani dan Mariana Ginting, Kataloging e- Resources: Ekspansi Pustakawan dalam mengolah bahan perpustakaan sumber elektronik dalam Jurnal MediaPustakawan, Edisi: Vol.20.No.11-April 2013 12Jamaluddin, Mengenal Elektronik...,39 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 77 database), penerbitan eletronik dalam CD-ROM, POD (Print On Demand), kontent digital dan tinta eletronik (e-link). 13 Pentingnya e-resources di lingkungan perguruan tinggi yang dikemukan oleh Heterick (2002) menjelaskan perkembangan e- resources yang sedemikian pesat telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap komunitas akademik dalam hal pemanfaatan (use), penyimpanan (store) dan pelestarian (preserve) informasi. Heterick menyebutkan satu hasil penelitian di Amerika, terdapat 32.000 akademisi yang disurvei, 60% lebih mereka lebih menyukai e-resources untuk kepentingan pembelajaran dan riset, dan mereka sangat bergantung pada e-resources di masa datang. Informasi e- resources yang disediakan perpustakaan mestinya bersifat relevansi dan sebelum diadakan harus melalui proses seleksi. Seleksi juga menentukan sumber-sumber informasi diadakan oleh perpustakaan. Di dalam melakukan seleksi dan pengadaan bahan pustaka tercetak yang memerlukan analisis kebutuhan pengguna. Kriteria umum yang penting oleh pustakawan bahwa sumber-sumber elektronik dipilih harus sesuai dengan kurikulum universitas dan mendukung kebutuhan pembelajaran, pengajaran dan penelitian para civitas akademika.14 b. Jenis-Jenis E-sources Menurut IFLA yang diterbitkan pada tahun 2012, sumber daya elektronik di perpustakaan terdiri dari: 1) Jurnal elektronik (e-jurnal) yakni jurnal diterbitkan khusus dalam bentuk elektronik maupun jurnal tercetak kemudian diterbitkan versi elektroniknya 2) buku elektronik (e-book) yakni buku elektronik yang terbit versi elektronik. Buku elektronik biasanya ditawarkan baik dalam bentuk satuan paket atau basis data penerbit. Akses buku elektronik berupa pengunduh file secara keseluruhan 13Upah Andayani, Manajemen Sumber-sumber informasi elektronik (e- soureces) di perpustakaan akademik dalam Jurnal Al-Maktabah Vol.13, No.1 Desember 2014: 8-19 14Ibid. 78 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 (berbentuk PDF) atau sebagian berbentuk PDF. Contoh : E- Library, Ebcohost, Books, Wiley E-Book dan Springer E-Book 3) Basis data naskah lengkap: sumber daya eletronik menyediakan varias jenis jurnal seperti e-journal, e-book, e- paper dalam tempat yang diperoleh melalui penerbit tau penyedia konten elektronik. Contoh : Proquest dan Ebsco 4) Basis data indeks dan abstrak: tampil sumber daya elektronik dalam bentuk indeks atau abstraks saja namun dilengkapi analisis terhadap dokumen yang ada. Produknya biasanya Scoplus dan ProquestAbstract 5) Basis data dan referensi: jenis elektronik menampilkan informasi berupa biografi, kamus, ensiklopedia dan kamus. Britanica Online 6) Basis data statistik dan angka yakni sumber daya yang menyediakan berbagai data berupa data statistik dan angka.Sumber: SOIRIS, CEIC Data, BPS Database, IMF Statsitic dan Worldbank Database 7) Gambar Elektronik salah satu sumber daya elektronik yang menyediakan berbgai gambar. Media elektronik menydiakan gambar berbayar atau tidak. Contoh: Google Image, Fiicker, Instagram, Istrock Photo, Shutter Stock, dll. 8) Sumber daya audio/visual elektronik: Sumber daya elektronik dalam bentuk audio visual misal film, music, documenter dan sejenisnya . Contoh Alexander Steet Press, IMDB,Youtube dan Itunes. C. Pengembangan E-resources E-resources diperoleh melalui berbagai metode. Metode e- resources melalui berlangganan secara berkala. Berlangganan secara berkala e-resources, pemustaka bisa mengakses konten digital. Selanjutnya dalam mengakses konten digital, pemustaka mestinya memperbaharui (renew) masa berlangganan setiap tahunnya. Model berlangganan ini, penerbit tidak menyediakan data arsip (archival data) terhadap konten digital baru. Selanjutnya pengadaan sumber-sumber elektronik15, diantaranya: 1) Pembagian sumber-sumber melalui agen 15Upah Andayani, Manajemen Sumber-sumber informasi elektronik (e-soureces) di perpustakaan akademik dalam Jurnal Al-Maktabah Vol.13, No.1 Desember 2014: 8-19 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 79 Di dalam proses pengadaan perpustakan pemustaka secara langsung berhubungan dengan agen yang terlibat dalam hal teknis pengadaan. Hal-hal teknis pengadaan berupa pembelian, perpanjanga, pembatalan dan kalim terhadap suatu konten. Pengadaan ini dilakukan oleh agency subscription atau dikenal Jobber. Model ini sangat nyaman, karena berhubungan langsung dengan satu pihak saja yakni pihak penyedia jas sumber elektronik. 2) Pembelian sumber-sumber Elektronik melalui Agregator Metode ini perpustakaan secara langsung membeli kepada orang-orang perantara. Orang yang memiliki peran terhadap pemilihan konten-konten digital secara relevan dinamai Aggregator. Aggregator menawarkan konten- konten yang diperlukan oleh perpustakaan atau lembaga tertentu. Selain itu, agregator juga mempromosikan konten-konten atau embargo kepada konsumen. Di sini agregator sebagai mitra kerjasama yang membantu penerbit dalam memasarkan konten digital. 3) Pembelian sumber-sumber melalui penerbit Di dalam metode ini, perpustakaan secara langsung melakukan pemesanan e-sourves kepada pihak penerbit dan sekaligu produsen yang memproduksi material. Kemudian pihak penerbit menyediakan hak akses kepada e-sources. Penerbit juga memberikan lisensi atau otoritas dalam arti negosiasi penawaran harga serta hal teknis lainnya dalam pengadaan. Penerbit juga memiliki reputasi dalam sistem publikasi yang menangani pengeloanaan sumber-sumber elekktronik. 4) Pengadaan sumber-sumber elektronik secara induvidual/konsortia. Di dalam pengadaan sumber informasi eletronik dilakukan secara induvial melalui konsortia. Model kosortia, dimana perpustakaan melakukan pengadaan secara sendiri- sendiri membeli konten digital. Perpustakan induvial tidak dapat melakukan sendiri seperti menyediakan akses konsortium ke sumber daya informasi elektronik. Beberapa perpustakan bergabung menjalin kerja sama dalam suatu konsortium untuk menyediakan berbagai sumber daya elektronik. Melalui jaringan 80 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 meningkatkan dan meningkatkan tawar-menawar dalam kekuatan dengan penerbit sumber daya informasi elekronik. Selanjutnnya pengenalan baru model penetapan harga oleh penerbit seperti lisensi dan biaya akses untuk sumber informasi elektronik dan penawaran yang relatif menguntungkan untuk menjalin kerjasama melalui konsortium.16 Konsortium disini ialah asosiasi perpustakaan baik lokal, regional maupun nasional yang menyediakan koordinasi yang sistematis dan efektif atas sumber daya sekolah, perpustakaan umum, akademik, dan perpustakaan khusus serta pusat informasi. Perpustakaan konsortium juga berfungsi untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan perpustakaan tersebut. Asosiasi koperasi perpustakaan dari berbagai jenis. Tujuannya adalah untuk membagikan sumber daya manusia dan informasi sehingga kekuatan kolektif lembaga memfasilitasi penelitian dan pembelajaran konstituen anggota. Konsorsium mendukung pembagian sumber daya dan menyediakan layanan kepada pengguna melalui program dalam akuisisi koperatif, akses ke sumber daya elektronik, akses ke koleksi fisik, peningkatan pinjaman antar perpustakaan dan pengiriman dokumen.17 Perpustakaan memiliki cara-cara untuk membangun sumber daya elektronik dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, diantaranya sebagai berikut: a) Born Digital versus Alih media/digitasi Digitasi merupakan sumber elektronik dengan memanfaatkan koleksi di perpustakaan. Born digital merujuk pada koleksi yang berbentuk koleksi digital.Mengalihmedia atau 16Yasar Tonta, Collection Development Of Eletronic Information Resouces In Turkish University Libraries dalam Departemen of Library Science, Hacettetpe University, Tukey. Edisi 2001, 291-298 17Yandi Lesmana, Resources Sharing Perpustakaan melalui konsorsium: manfaat dan tantangan dalam https://docplayer.info/228318-Resources-sharing-perpustakaan- melalui-konsorsium-manfaat-dan-tantangan.html diakses tanggal 12 Oktober 2019 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 81 melakukan digitasi koleksi tercetka yang ke dalam bentuk digital atau elektronik. Alih media dilakukan unntuk mempermudah akses dan juga sebagi upaya pelstarian sumber daya informasi yang dimiliki suatu daerah atau bangsa. Alih media dapat dilakukan dengan alat khusus yaitu scanning atau scanner. b) Berlangganan dan Pembelian Perpustakaan juga memiliki anggaran khusus untuk mengembangkan e-source. Di dalam pengadaan e-source, perpustakaan membeli atau berlanggaanan. Berlanggannan merujuk pada kehsrusan yang harus dibayar oleh perpustakaan dan sebagai kompensasi akses dilakukan dari waktu ke waktu. Akses berlangganan biasanya diuntukkan pada jenis-jenis sumber daya elektronik yakni berbentuk jurnal elektornik dan buku elektronik atau e-book. Kemudan pola pembelian dikenal perpetual atau one-time. c) Free Acces dan Open Acces Pola pengembangan e-resources melalui pemanfaatan sumber-sumber elektronik yang bersifat free accces dan open acces.akases tautan-sumber daya elektonik gratis dan terbuka serta menyediakan bagi pemustaka. Beberapa penerbit juga menyediakan akases ke sumber berbayar dana juga menyediakan ke sumber secara cuma-cuma. Perpustakaan perlu melakukan organisasi terhadap sumber-sumber sehingga terseleksi sesuai kebutuhan pemustaka.Adapun sumber-sumber informasi yang gratis dan open acces, seperti Directory Open Acces Journal (DOAJ), Wiley Open Acces, Springgeler Open Acces dan Youtube.18 18 Arif Surachman, Pengembangan E-sources Salah satu Upaya Membangun Perpustakaan Digital dalam. https://www.academia.edu/7858407/Pengembangan EReso urces salah satu upaya membangun perpustakaan digital diakses tanggal 12 Oktober 2019 pukul 20.00 wib 82 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 b. Kebijakan Pengembangan Koleksi E-Sources Kebijakan pengembangan koleksi menyediakan pedoman kepada pustakawan yang melakukan seleksi atau pekerjaan yang mengembangkan koleksi, berkaitan dengan proses upaya menentukan koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna pustakawan. Kebijakan pengembangan merupakan pedoman bagi staf pengembangan koleksi dalam melaksanakan kewajiban untuk mempertimbangkan subjek apa yang harus dibeli atau bidang koleksi diadakan. Kebijakan pengembangan koleksi mestinya memiliki mekanisme komunikasi dengan pengguna perpustakaan dan penyedia dana. Kebijakan pengembangan sebuah manual atau handbook bersifat praktis untuk membantu para pustakawan dalam menyeleksi bahan pustakaan.19 Langkah selanjutnya ialah kegiatan pengembangan koleksi merupakan kebijakan pengembanngan koleksi meliputi kebijakan perpustakaan untuk mengembangkan koleksi, mengarahkan data dan penempatan jenis-jenis koleksi perpustakaan perpustakaan. Kebijakan seleksi merupakan langkah selanjutnya di dalam aktivitas pengembangan koleksi. Kepanitian juga mesti dibentuk supaya pengembangan koleksi tersebut dapat berjalan dan teroganisir dengan baik. Setiap perpustakaan melayani kelompok- kelompok pengguna dengan karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu, seorang pustakawan juga memiliki ilmu sosial berkaitan kemasyaratan.20 Selanjutnya, di dalam pengadaan dan pengembangan e- resources, pengelola perpustakaan terkait kebijaksaan akses e- resources juga mengalami permasalahan. Permasalahan tersebut diantaranya bagi perpustakaan perguruan tinggi Di UIN Sunan 19Nurdin Laugu, Representasi Kuasa dalam Pengelolaan Perpustakaan Studi Kasus pada Perpsutakaan Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta (Yogyakarta: Gapernus Press, 2015), 80-81 20Nadia Petrajaya, dkk. Kebijakan Pengemabnag Koleksi di Perpsutakaan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung dalam Jurnal Mahasiswa Universitas Padjajaran Vol.1 No.1, 2012 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 83 Kalijaga terkait open acces e-resourcess naskah lengkap terhadap karya akhir mahasiswa seperti skripsi, thesis dan disertasi. Perpustakaan sering dihadapkan ketidakjelasan peran dan wewenang open acces yang dimilikinya. Hal tersebut membuat mahasiswa terasa dibatasi berbagai koleksi e-resources kepada pemustaka. Perpustakan perlu membuat kebijakan umum berkaitan kebijakan pengambangan sumber daya elektronik. Hal itu sangat penting supaya pengembangan sumber daya elektronik dapat dilakukan oleh perpustakan sesuai dengan skill dan kebutuhan dan visi perpustakan. Pengembangan koleksi perpustakaan UIN Sunan Kalijaga mengalami perkembangan lembaga induknya berdasarkan kelaur keputusan Menteri Agama No.14 tahun 1988 posisi perpustakaan yang awalnya secara struktural di bawah sekretaris Institut berubah Unit Pelaksanaan Teknis UPT Perpustakaan secara struktural berada langsung di bawah rektor. Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga pengembangan koleksi dilakukan secara konsisten dan berkala setiap tahunnya. Konstekstual kebijaksanan pengembangan koleksi dilakukan oleh pihak perpustakaan tidak mengabaikan asas kebutuhan dari pengguna yang memiliki hak penuh dalan menikmati informasi yang disediakan oleh pihak kampus. Kontekstualitas maksimal tersbut perlu dukungan oleh kerjasama pemahmam diantara pemangku kebijakan baik tingkat perpustakaan maupun lembaga induk. Di UIN Sunan Kalijaga belum ada kuasa penuh dalam menentukan roda pendali perpustaan. Sejauh ini di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga belum ada petugas khusus yang menganalisis tren perkembangan informasi perpustakaan.21Selanjutnya, dalam pengembangan koleksi berbasis korner, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga membuka tiga korner 21 Iskandar, Kontekstualisasi kebijakan Pengembnagan Koleksi dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Pengguna (Studi Kasus di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta https://www.neliti.com/id/publications/162760/kontekstualisasi-kebijakan- pengembangan-koleksi-dalam-memenuhi-kebutuhan-informa dikases tanggal 12 Oktober 2019 pukul 19.00 wib 84 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 merupakan hasil kerja rektor Sunan Kalijaga membuka tiga korner hasil kerjasama rektor UIN Sunan Kalijaga dengan tiga 3 negara yakni pemerintahan Kanda, Iran dan Sudi Arabia mellaui kedutaaan masing-masing di Jakarta. Penandatangan tersebut dilakukan dalam rangka pembukaan ketiga korner tersebut merupakan upaya kerja sama dengan pihak untuk membangun hubungan budaya, sosial dan akademik antara kedua pihak. Pihak Kanada melalui Univeristas McGill telah menjalin kerjasama dengan pihak Kementerian agama dana salahs satu pelaksanaan ialah UIN Sunan Kalijaga. Selanjutnya, korner kedua hasil kerja sama dengan pemerintahan Iran dirikan bersaman dengan korner Iran.22Kemudian dalam konteks pengembangam koleksi perpustakaan di UIN, implikasi aktor-aktor yang bukan berasal dari pustakawan melainkan aktor-aktor tersebut berasal dari pihak pengadaan universitas. Pengadaan tersebut dibiayai oleh anggaran yang berasal dari pemerintah atau anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Namun secara secara struktural perpustakaan hanya selalu pertunjukkan untuk selalu ikut dalam panitia lelang dan didalamnya tidak memiliki kekuasan apapun. Di samping itu, pustakawan tidak mempunyai kewenangan apapun dan sebgai aktor pelengkap.Selain itu, pustakawan belum mempunyai kapasitas baik akademik (pengetahuan) maupun sosial sehinggga mereka tidak bisa berbuat apa apa. Pustakawan juga memilih diam jika sedang menghadapi pihak birokrasi.23Bagi perpustakan swasta, biaya anggaran untuk pengadaan koleksi berasal dari anggaran mereka sendiri maka tidak perlu dipertanggung jawabkan secara umum sebagaimana fenomena yang terjadi di perpustakaan negeri. Pada perpustakaan swasta, pada perpustakaan Universitas Islam Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ditemukan adanya mekanisme yang kondusif, efekstif dan efisensi dalam mengembangan koleksi dikarenakan anggaran mudah dikeluarkan 22Nurdin Laugu, Representasi Kuasa dalam Pengelolaan Perpustakaan Studi Kasus pada Perpsutakaan Perguruan Tinggi Islam di Yogyakarta (Yogyakarta: Gapernus Press, 2015),151 23Ibid, 218 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020 85 setiap tahun dan alokasi mudah keluarkan dan belanja kapan sesuai dengan permintaan pemustakanya.24
Conclusion
Kesimpulan dari jurnal yang dibuat oleh pemakalah ialah proses pengembangan e-sources di perpustakaan sulit dan perpustakan itu wajib menyediakan dan mengembangan akses sumber daya elektronik di era digital ini.Pustakawan juga harus bergelut kepada teknologi dan informasi yang telah berkembang dan sesuai kebutuhan para pengguna pengguna. Untuk menentukan suatu kebijakan dalam pengembangan dan pengadaan koleksi sumber daya elektronik telah memiliki sejumlah kebijakan pengembangan koleksi di pergurun tinggi di Indonesia dilaksanakan setiap tahun sekali masih terbatas melakukan proses seleksi dan pengadaan. Besarnya biaya langganan dan pembelian merupakan biaya yang wajib ditempuh dari waktu ke waktu. Minimnya sosialisasi dan pemanfaat e-resources bagi pemustaka terhadap penggunaan e-resources. Oleh sebab itu, perlunya keterampilan dan pengetahaun bagi pemustaka karena perpustakaan harus selalu dengan permasalahan dan pemustaka mesti membantu apabila terjadi permasalahan akses. Di dalam pengadaan dan pengembangan e-resources, pengelola perpustakaan terkait kebijaksaan akses e-sources juga mengalami permasalahan. Permasalahan tersebut diantaranya bagi perpustakaan perguruan tinggi terkait open acces e-resourcess naskah lengkap terhadap karya akhir mahasiswa seperti skripsi, thesis dan disertasi. Perpustakaan sering dihadapkan ketidakejelasan peran dan wewenang open acces yang dimilikinya. Hal tersebut membuat mahasiswa terasa dibatasi berbagai koleksi e-resources kepada pemustaka. 24Ibid, 218-219 86 LIBRIA, Vol. 12, No. 1, Juni 2020