ANALISIS PERILAKU PENCARIAN INFORMASI MAHASISWA DIFABEL NETRA UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA SELAMAMASA PANDEMI COVID-19
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji: 1) kebutuhan informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; 2) karakteristik sumber informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; 3) perilaku pencarian informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; dan 4) hambatanhambatan yang dihadapi oleh mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam memperoleh informasi selama Pandemi Covid-19. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan interpretatif. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive, yakni mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, sebanyak 3 orang mahasiswa. Ketiga mahasiswa difabel netra tersebut tergolong dalam kategori kehilangan penglihatan dengan derajat lemah atau rendah (low vision). Artikel ini menyimpulkan bahwa terdapat tiga jenis kebutuhan informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang terdiri dari: 1) jenis everyday need approach; 2) jenis current need approach; 3) jenis catching-up need approach. Selain itu terdapat 2 karakteristik sumber perolehan informasi mahasiswa difabel netra berdasarkan. Pertama, sumber informasi mandiri, dan kedua, sumber informasi bantuan, yakni sumber informasi yang didapatkan oleh mahasiswa difabel netra dengan cara meminta bantuan relawan atau mengakses layanan bantuan pendampingan dari relawan PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Adapun perilaku pencarian informasi mahasiswa difabel netra yang dianalisis dengan menggunakan 8 tahapan model Ellis yang terdiri dari: 1) starting: 2) chaining; 3) browsing; 4) differentiating; 5) monitoring; 6) extracting; 7) verifying; dan 8) ending. Penulis juga berhasil menyimpulkan bahwa 1 dari 3 orang mahasiswa difabel netra UIN sunan Kalijaga Yogyakarta menggunakan seluruh tahapan dalam proses pencarian informasi dengan menggunakan model tersebut. Artikel ini juga mengidentifikasi 7 (tujuh) bentuk hambatan pencarian informasi yang dialami oleh mahasiswa difabel netra pada masa pandemi Covid-19.
Abstract
This article aims to examine: 1) the information needs of students with visual impairments at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; 2) the characteristics of the information sources for students with visual impairments at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; 3) information searching behavior of students with visual impairments at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; and 4) the obstacles faced by the students with visual impairments at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in obtaining information during the Covid-19 Pandemic. This article uses a descriptive qualitative research method with an interpretive approach. Determination of informants in this study is using a purposive technique, namely students with visual impairments at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta who have the highest of Grade Point Average (GPA), as many as 3 (three) students. The three students with visual impairments are classified in the category of low vision loss. This article concludes that there are 3 (three) types of information needs for students with visual impairments at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta which consist of: 1) type of everyday need approach; 2) type of current need approach; 3) type of catching-up need approach. In addition, there are 2 (two) characteristics of sources of information acquisition for students with disabilities based on blindness. First, independent sources of information, and second, the source of assistance information, namely the source of information obtained by students with visual impairments by asking for help from volunteers or accessing assistance services from volunteers at PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. The information searching behavior of students with visual impairments was analyzed using the 8 (eight) stages of the Ellis model, consisting of: 1) starting: 2) chaining; 3) browsing; 4) differentiating; 5) monitoring; 6) extracting; 7) verifying; and 8) ending, successfully concluded that 1 out of 3 students with visual impairments at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta used all stages in the information search process using this model. This article also identifies 7 (seven) barriers to finding information experienced by students with visual impairments during the Covid-19 pandemic.
Keywords:
Perilaku Pencarian Informasi
· Mahasiswa Difabel Netra
· Pandemi Covid-19
Introduction
Informasi telah menjelma menjadi suatu kebutuhan sangat mendasar yang wajib dimiliki oleh setiap orang, terutama pada abad ini. Setiap manusia yang menguasai informasi tentu akan mengalami kemajuan dalam berbagai sisi kehidupan. Informasi merupakan suatu rekaman fenomena yang diamati, atau bisa juga berupa putusan-putusan yang dibuat (Eastabook dalam Pawit M. Yusuf dan Priyo Subekti, 2010). Tingkat kebutuhan informasi bagi setiap orang akan berbeda, perbedaan tersebut mengakibatkan adanya perbedaan perilaku dari masing-masing pengguna informasi dalam melakukan proses pencarian informasi. Pencarian informasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh informasi. Perilaku pencarian informasi dikenal dengan istilah searching behaviour, yakni suatu upaya pencarian informasi yang digunakan oleh pencari informasi pada saat melakukan interaksi dengan sistem informasi (Wilson, 2000). Perilaku pencarian informasi dimulai ketika seseorang merasa bahwa pengetahuan yang dimilikinya pada saat itu masih kurang dari pengetahuan yang dibutuhkannya. Untuk mencukupi kebutuhan pengetahuannya, maka orang tersebut akan mencari informasi dari berbagai sumber. Dalam hal ini, ia menyadari adanya kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kelangsungan kegiatan sehari-harinya. Seperti halnya tuntutan yang dialami oleh mahasiswa untuk memahami pengetahuan serta keterampilan di perguruan tinggi, yang dirumuskan melalui kurikulum kemudian diimplementasikan dalam bentuk matakuliah. Mahasiswa membutuhkan dukungan informasi yang memadai dalam proses pembelajaran mereka di perguruan tinggi, terutama sebagai salah satu upaya untuk menyelesaikan Tugas Akhir mereka, atau penyusunan Skripsi. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan universitas inklusif yang pertama di Indonesia (Maftuhin & Aminah, 2020). Setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan dan menjadi bagian dari mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa yang memiliki kesempurnaan fisik saja yang diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, mahasiswa dengan keterbatasan fisik juga bisa memperoleh kesempatan dan peluang yang sama dalam mengakses pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi dengan mejunjung tinggi filosofi yang menyatakan bahwa mahasiswa difabel juga memiliki hak dan peluang yang sama dengan mahasiswa non-difabel. Sebagai mahasiswa, difabel netra dengan keterbatasan dalam penglihatan juga dituntut untuk memiliki kemampuan literasi informasi sebagai upaya menyelesaikan pendidikan mereka di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seseorang yang memiliki kecakapan dalam literasi informasi adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam pencarian informasi, dimana proses pencarian informasi tersebut akan dibantu dengan adanya indera penglihatan sekaligus indera pendengaran dalam penerimaan bahasa informasi. Mahasiswa difabel netra perlu memanfaatkan sumber informasi melalui unit informasi seperti halnya perpustakaan secara efektif. Keterbatasan mahasiswa difabel netra dalam mengakses sekaligus memproses informasi bacaan, memunculkan perbedaan yang signifikan antara perilaku pencarian informasi mahasiswa difabel netra dengan perilaku pencarian informasi mahasiswa nondifabel. Sebagai contoh, mahasiswa nondifabel dapat mengakses informasi melalui buku cetak secara mandiri, namun mahasiswa difabel netra mebutuhkan teknologi seperti aplikasi Jaws dan Magnifier untuk dapat mengakses informasi secara mandiri. Berdasarkan fakta tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji: 1) kebutuhan informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; 2) karakteristik sumber informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; 3) perilaku pencarian informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; dan 4) hambatanhambatan yang dihadapi oleh mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam memperoleh informasi selama Pandemi Covid-19. Artikel ini memilih untuk menggunakan model perilaku pencarian informasi yang dikembangkan oleh David Ellis bersama dengan Cox dan Hall, yang membandingkan pola pencarian informasi peneliti bidang ilmu sosial dengan peneliti bidang Fisika dan Kimia sehingga menghasilkan delapan tahapan pencarian informasi yang terdiri dari: 1) starting, tahapan memulai pencarian yang dilandasi dengan adanya kebutuhan dan keinginan untuk mencari informasi; 2) chaining, tahapan menghubungkan dengan beberapa sumber; 3) browsing, tahapan melakukan pencarian informasi yang diinginkan; 4) differentiating, tahapan membeda-bedakan atau memilah informasi yang ditemukan dengan beragam sumber lainnya; 5) monitoring, tahapan memantau perkembangan informasi yang serupa; 6) extracting, tahapan mensarikan informasi yang telah ditemukan; 7) verifying, tahapan pengecekan kembali informasi yang telah ditemukan; dan 8) ending, tahapan akhir yang melahirkan kepuasan pada pencari informasi (Ellis, Cox, dan Hall, 1993). Penulis berasumsi bahwa model Ellis sesuai dan layak digunakan untuk mengkaji perilaku pencarian informasi mahasiswa difabel netra, dengan pertimbangan bahwa model tersebut memiliki tahapan pencarian yang lebih luas dan lebih lengkap dibandingkan model-model pencarian informasi lainnya. B. KAJIAN TERDAHULU Kajian pertama bersumber dari Jurnal Libraria yang ditulis oleh Hadira Latiar dengan judul “Analisis Kebutuhan dan Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”. Kajian yang dilakukan pada tahun 2018 tersebut memaparkan analisis terkait kebutuhan serta perilaku mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga dalam pencarian informasi. Kajian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Adapun informan dalam kajian tersebut terdiri dari 2 orang difabel yang merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Dalam kesimpulannya, kajian tersebut menyatakan bahwa kebutuhan dan perilaku mahasiswa difabel umumnya memiliki kesamaan dengan mahasiswa non-difabel. kajian tersebut juga menyatakan bahwa kebutuhan informasi mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga terdiri dari: 1) umum; 2) kehidupan sosial; 3) gaya hidup; 4) kesehatan; 5) rencana masa depan; dan 6) perkuliahan. Terkait dengan pencarian informasi, informan dalam kajian tersebut menjadikan internet sebagai sarana dalam memenuhi kebutuhan informasi mereka. Baik kajian tersebut dan artikel ini sama-sama menjadikan mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai informan, namun informan dalam artikel ini merupakan difabel netra. Perbedaan lainnya antara kajian tersebut dengan artikel ini juga terletak pada penetuan tema penelitian, dimana kajian sebelumnya menganalisis tema perilaku dan kebutuhan mahasiswa difabel dalam pencarian informasi, adapun artikel ini cenderung memfokuskan analisisnya pada perilaku dan hambatan pencarian informasi mahasiswa difabel netra pada masa pandemi Covid-19. Kajian selanjutnya adalah artikel yang ditulis oleh Ida Marini Pasaribu, Muhammad Rasyid Ridlo dan Herry Fernando Tarigan, dengan judul “Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Ekonomi Dan Ilmu Sosial Di Perpustakaan Universitas Sari Mutiara Indonesia”. Kajian tersebut telah dimuat dalam Jurnal Libraria pada tahun 2019. Kajian yang bertujuan untuk memaparkan perilaku mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial di Perpustakaan Universitas Sari Mutiara Indonesia (USMI) dalam pencarian informasi tersebut menggunakan pendekatan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Adapun kerangka analisis yang digunakan adalah berdasarkan model tahapan perilaku pencarian informasi oleh David Ellis. Pada kesimpulannya, kajian tersebut menyatakan bahwa setiap tahapa kegiatan pencarian informasi berdasarkan model Ellis memiliki kesamaan dengan perilaku pencarian informasi mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial di Perpustakaan USMI. Antara kajian tersebut dengan artikel ini sama-sama mengaplikasikan model tahapan perilaku pencarian informasi milik David Ellis. Adapun letak perbedaannya terdapat pada penentuan subjek penelitian. Dimana informan dalam kajian tersebut merupakan mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial di Perpustakaan Universitas Sari Mutiara Indonesia yang sedang menulis skripsi, sedangkan yang menjadi subjek dalam artikel ini adalah mahasiswa difabel netra yang berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kedua kajian terdahulu tersebut sama-sama memiliki perbedaan, baik perbedaan dari segi pemilihan metodologi penelitian, penentuan subjek/ informan penelitian, model analisis, dan lokasi penelitian.
Method
Jenis penelitian ini adalah kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa tulisan/lisan dari orangorang dan perilaku yang diamati, (Suhartono, 1998). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yang merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menggali informasi apa adanya sesuai kondisi yang terjadi di lapangan. Penelitian dengan jenis deskriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran mengenai individu atau suatu kelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi secara cermat (Koentjaraningrat, 1990). Adapun pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah pendekatan interpretatif, yakni pendekatan yang mencoba menafsirkan pandangan-pandangan dasar interpretatif serta mempertimbangkan individu dengan segala persepsi, minat, kebutuhan, dan keinginan masing-masing. sehingga metodologi yang diusulkan fokus pada pemahaman (verstehen) dari pada pengukuran. Terkait dengan artikel ini, pendekatan yang digunakan bukan bertujuan untuk memeriksa unsur-unsur berupa benda yang dibutuhkan oleh mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, melainkan memeriksa mahasiswa difabel netra yang membutuhkan informasi dalam proses perkuliahan mereka dan menunjukkan perilaku tertentu dalam pencarian informasi. Penentuan informan dalam penelitian ini berdasarkan pertimbangan tertentu (purposive), yakni mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, sebanyak 3 orang mahasiswa. Ketiga mahasiswa difabel netra tersebut tergolong dalam kategori kehilangan penglihatan dengan derajat lemah atau rendah (low vision). Dalam kaitannya dengan artikel ini, penulis mempertimbangkan 3 mahasiswa difabel netra dengan IPK tertinggi berdasarkan asumsi bahwa ketiga mahasiswa tesebut memiliki pengalaman yang lebih baik dalam pencarian informasi, yang dibuktikan melalui IPK yang mereka peroleh. Diharapkan mereka akan mampu mengekspresikan perilaku pencarian informasinya sebagai kajian utama dalam artikel ini. Tabel 1. Daftar Informan Penelitian N o Nama (Inisial ) Fakultas Program Studi IPK 1. IN Dakwah dan Komunikas i Pengembanga n Masyarakat Islam 3,6 3 2. DAN Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Pendidikan Raudhatul Athfal 3,4 8 3. KCV Dakwah dan Komunikas i Bimbingan dan Konseling 3,4 0 Terkait penentuan jumlah informan (3 orang mahasiswa difabel netra), penulis mendasarkannya pada pernyataan Powell (1999) yang menyatakan bahwa pedoman besar kecilnya jumlah sampel tidak memiliki formula yang paling benar. Karena kekayaan dan kedalaman data dianggap lebih penting mengingat pemahaman terhadap masalah yang diteliti merupakan tujuan utama dari penelitian kualitatif. Artikel ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara mendalam, dan data tesebut kemudian dianalisis melalui 2 tahapan analisis data, yakni tahap pengorganisasian informasi dan tahap reduksi data. Creswell (2010) menjelaskan bahwa validitas kualitatif merupakan pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur-prosedur tertentu. Penelitian ini menggunakan strategi mentriangulasi data (triangulate). Validasi data dengan triangulasi dalam penelitian ini adalah melalui significant others seperti rekan kuliah subjek penelitian, yakni mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasil wawancara dengan subjek dilakukan pengecekan dengan sumber yang berbeda yang dalam hal ini significant others sebagaimana tersebut di atas. Pengecekan difokuskan pada tema yang telah ditemukan penulis berdasarkan hasil wawancara.
Result & Discussion
1. Kebutuhan Informasi Mahasiswa Difabel Netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Suatu keadaan yang terjadi dalam struktur kognisi seseorang yang dirasakan ada kekosongan informasi sebagai akibat tugas yang dikerjaan atau untuk memenuhi rasa keingintahuan seseorang tersebut diistilahkan sebagai kebutuhan infomasi. Kebutuhan informasi didorong oleh apa yang disebut dengan ‘a problematic situation’ yakni situasi yang terjadi pada lingkungan internal dalam diri manusia. Adapun a problematic situation yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah situasi pada saat mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memiliki keterbatasan atau kekurangan informasi dalam proses pembelajaran mereka di Perguruan Tinggi. Dalam keadaan seperti ini mahasiswa difabel netra memerlukan informasi yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas, ujian, dan berbagai keperluan lainnya yang berkaitan dengan profesi dan aktivtas mereka sebagai mahasiswa di perguruan tinggi. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan 3 orang informan yakni: 1) IN; 2) DAN; dan 3) KCV, penulis menghimpun seluruh data yang menjelaskan tentang informasi-informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis mengidentifikasikan bahwa terdapat 3 (tiga) jenis kebutuhan informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berdasarkan empat konsep kebutuhan informasi yang telah dijabarkan oleh Saepuddin (2009). Pertama, everyday need approach. Mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memiliki kebutuhan informasi yang bersifat mutakhir, dimana mereka akan melakukan interaksi melalui atau menggunakan sistem informasi guna meningkatkan pengetahuan sekaligus membangun pemahaman mereka. Kebutuhan informasi yang sifatnya mutakhir ini didasari pada kebutuhan sehari-hari mahasiswa difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sangat ditentukan oleh latar belakang program studi yang menjadi latar belakang kajian keilmuan yang mereka geluti. Ketiga informan dalam artikel ini memiliki perbedaan kebutuhan informasi yang menyesuaikan dengan program studi tempat mereka berkuliah. Jenis kebutuhan ini memerlukan adanya interaksi yang bersifat konstan antara mahasiswa difabel netra sebagai pengguna dan sistem informasi. Seperti yang diutarakan oleh KCV tentang apa yang melatarbelakangi kebutuhan informasi secara rutin, sehingga ia cenderung melakukan pencarian informasi dalam kesehariannya. “Aku mencari informasi hanya kalau ada tugas kuliah. Misalnya tugas makalah gitu. Aku kalau lagi online paling sering dengar berita-berita, tentang psikologi juga, aku suka yang berhubungan dengan konseling karena sesuai dengan latar belakang kuliahku”. Sama halnya seperti KCV, informan DAN dan IN juga memiliki kebutuhan informasi yang mutakhir. Keduanya menyatakan bahwa kebutuhan informasi tersebut juga muncul dari adanya keinginan secara internal yakni untuk dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu, dan memperoleh gelar sarjana serta nilai yang bagus. Selain itu, informasi yang mereka butuhkan juga terkait dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang relevan dengan bidang studi mereka masing-masing. Ketiga mahasiswa difabel netra UN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut memiliki kebutuhan informasi yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang program studi yang saat ini sedang mereka tekuni, yang ditekankan dengan masing-masing kebutuhan dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. Kedua, current need approach. Mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta membutuhkan informasi dalam upaya meningkatkan kualitas diri mereka sebagai mahasiswa. Sehingga mahasiswa difabel netra merasa tertuntut untuk mencari informasi dengan cara berinteraksi melalui sistem informasi. Seluruh informan dalam penelitian ini menyampaikan bahwa mereka membutuhkan informasi terkait pengetahuan berdasarkan disiplin ilmu yang sesuai dengan kajian utama program studi tepat mereka belajar, dan informasi yang dibutuhkan tersebut juga berhubungan dengan mata kuliah yang sedang dipelajari, terutama matakuliah yang sedang memberikan mereka tugas-tugas dan tes-tes tertentu. Ketiga, catching-up need approach. Mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta membutuhkan informasi yang ringkas, tetapi juga lengkap khususnya mengenai perkembangan terakhir bidang studi/ subyek kajian berdasarkan kajian yang terdapat pada masing-masing program studi tempat mereka belajar, yang sifatnya relevan. Misal mahasiswa mencari informasi tentang trending topik yang sedang hangat dibicarakan pada saat itu. Seperti pendapat IN sebagai berikut. “Saya sering cari-cari informasi yang berbau politik, bencana alam, dan kriminal, yang berbau ekstrim- ekstrim gitu. Soalnya info yang gitu-gitu biasanya banyak dibicarin sama anakanak, jadi saya ikutin aja, supaya jangan dibilang ketinggalan jaman.” Tiga jenis kebutuhan informasi tersebut mengindikasikan bahwa mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memiliki beragam kebutuhan akan suatu informasi, terutama informasi yang berbentuk pengetahuan, yang sesuaikan dengan kajian utama program studi masing-masing mahasiswa difabel netra tersebut. Kebutuhan mereka akan informasi terkait pengetahuan tersebut berfungsi untuk menunjang aktivitas sekaligus produktifitas mereka sebagai mahasiswa. Kebutuhan informasi itu dirasakan akibat dampak dari keinginan mahasiswa difabel netra dalam memenuhi hasrat yang menjadi minatnya. Melalui hasil jawaban dari ketiga informan tersebut, dapat disinyalir bahwa ketiga informan memiliki kebutuhan informasi yang akibat dari kebutuhan tersebutlah yang melahirkan sebuah sikap atau perilaku mereka dalam melakukan pencarian tersebut demi memenuhi hasratnya tersebut. Namun secara kompleksitas, terdapat problematika yang menjadi gangguan dari seorang mahasiswa difabel netra dalam menyalurkan kebutuhan informasinya menjadi suatu perilaku informasi, yaitu akses terlaksananya kebutuhan informasi yang dirasakan masih belum mumpuni. 2. Karakteristik Sumber Informasi Mahasiswa Difabel Netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Penulis menggolongkan jenis dan sumber perolehan informasi mahasiswa difabel netra berdasarkan dua karakteristik. Pertama, sumber informasi mandiri, yang merupakan sumber informasi yang bisa diperoleh oleh mahasiswa difabel netra dengan cara mandiri, tanpa meminta bantuan lingkungan sekitar ataupun relawan. Adapun macam-macam sumber digunakan secara mandiri adalah: a) sumber internet, melalui sumber ini mahasiswa difabel netra mampu mengakses e-book, website, dan artikel jurnal elektronik secara mandiri, melalui software JAWS; b) teman sejawat atau dosen, informasi dari teman sejawat dan dosen di kampusnya menjadi salah satu sumber informasi mahasiswa difabel netra. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui hasil wawancara pada tahapan starting dan differentiating yang mana mahasiswa difabel netra menjadikan upaya bertanya kepada teman untuk memulai pencarian informasi dan juga membedakan informasi yang sesuai maupun yang tidak sesuai; c) hasil seminar, menghadiri seminar-seminar juga merupakan upaya sebagian mahasiswa difabel netra dalam melakukan pencarian informasi dengan menggunakan indera pendengaran mereka, dan hasil seminar tersebut menjadi sumber informasi mandiri. Kedua, sumber informasi bantuan, yakni sumber informasi yang didapatkan oleh mahasiswa difabel netra dengan cara meminta bantuan relawan atau mengakses layanan bantuan pendampingan dari relawan PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, untuk membantu mereka dalam proses pencarian informasi yang bersumber dari koleksi-koleksi yang tercetak seperti, buku, jurnal, ensiklopedi, majalah, koran, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, mahasiswa difabel netra meminta bantuan karena kesulitan dalam membaca koleksi tercetak, meski tidak mengalami kebutaan total (totally blind). 3. Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Difabel Netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta a. Starting Starting merupakan tahapan pertama yang harus dilalui oleh mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga pada saat mencari suatu informasi. Tahapan ini mencakup: 1) bagaimana latar belakang mahasiswa difabel netra untuk mencari suatu informasi; 2) sumber awal yang digunakan; 3) memilih sarana yang sesuai untuk penelusuran informasi yang mereka inginkan. Terkait latar belakang, seluruh Mahasiswa difabel netra yang menjadi informan dalam penelitian ini memulai melakukan pencarian informasi karena adanya keinginan untuk pemenuhan tugas perkuliahan dan memperoleh nilai yang baik. Adapun sumber awal, seluruh mahasiswa difabel netra tersebut sepakat bahwa internet, teman sejawat, serta dosen pengampu matakuliah tertentu, merupakan sumber informasi yang selama ini mereka gunakan. Dan terkait dengan sarana, salah satu sarana yang dapat menyediakan sumber informasi yang mereka butuhkan adalah perpustakaan. Dalam hal ini, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah mendukung proses pencarian informasi mahasiswa difabel netra yang dibuktikan dengan ketersediaan komputer yang telah memiliki sistem JAWS (Job Acces with Speech), sehingga memudahkan mahasiswa difabel netra dalam menggunakan komputer dalam proses pencarian informasi, baik secara mandiri atau melalui layanan pendampingan yang disediakan oleh Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kaijaga. b. Chaining Chaining merupakan tahapan mengikuti rangkaian kutipan atau rangkaian hubungan-hubungan referensial antar bahan informasi. Pada tahap ini, mhasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengaitkan literatur dari rujukan awal. Dengan berbekal kutipan dan daftar pustaka yang termuat dalam buku atau artikel yang digunakan sebagai referensi awal, memungkinkan mahasiswa difabel netra untuk menemukan bahan rujukan sebanyak mungkin. Dalam tahapan ini seluruh difabel netra dengan kategori low vision dapat menelusuri sitasi atau daftar pustaka dengan menggunakan software JAWS. Sesekali mereka juga menggunakan bantuan layanan pendampingan apabila membutuhkan bahan rujukan dan sitasi dari jurnal tercetak. c. Browsing Browsing adalah suatu tahapan pencarian yang semi terarah pada lingkup dari bahan yang diminati secara lebih spesifik. Aktivitas yang termasuk dalam kelompok kegiatan ini adalah seperti menelusuri daftar isi pada sumber-sumber berbentuk buku atau jurnal-jurnal yang mengacu pada tema tertentu, baik yang terdapat pada rak-rak buku di perpustakaan atau melalui internet. Pada tahapan ini, informan yang merupakan mahasiswa difabel netra dengan kategori low vision melakukan pencarian informasi dengan menggunakan layanan internet terlebih dahulu secara madiri, kemudian mereka akan melanjutkan tahapan ini dengan menggunakan buku-buku, baik buku braile atau buku cetak yang tersedia pada umumnya. Jika menggunakan internet mereka bisa melakukan secara mandiri tanpa perlu adanya pendampingan, berbeda jika mahasiswa difabel netra ingin melakukan pencarian informasi pada buku cetak, terutama yang buka buku braile, maka mereka membutuhkan bantuan layanan pendampingan dari relawan PLD ataupun rekan sejawatnya untuk membantu mereka dalam proses membacakan informasi yang tersedia pada buku tersebut. d. Differetiating Differentiating merupakan kegiatan memilah dan memilih sumber informasi berdasarkan kepentingan, kesesuaian, dan relevansinya dengan kebutuhan informasi, sehingga terpilih bahan sumber informasi yang paling relevan dan tepat sasaran. Seluruh informan yakni mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga melakukan tahapan memilih dan memilah informasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Apabila informasi yang mereka butuhkan bersumber dari buku cetak non braile, maka mereka membutuhkan layanan bantuan pendampingan dalam melakukan proses pemilahan bahasan. Namun jika informasi yang mereka butuhkan bersumber dari internet, maka informan dapat melakukannya secara mandiri tanpa membutuhkan layanan bantuan pendampingan, walaupun membutuhkan waktu yang agak lama. e. Monitoring Monitoring adalah tahapan membaca buku, jurnal, atau artikel yang berhubungan dengan informasi yang dibutuhkan secara berkesinambungan, atau dengan tetap bertukar informasi dengan dosen/ pengajar dan juga rekan sejawat dalam keilmuan yang sesuai dengan latar belakang pencari informasi. Pada tahapan ini, mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tergolong jarang memantau perkembangan informasi. Dari ketiga informan, terdapat satu informan yang secara khusus melakukan pemantauan terhadap perkembangan informasi tentang tema kajian aau tugas yang sedang dikerjakan. Informan IN misalnya, ia cenderung memanfaatkan indera pendengarannya dalam mengikuti diskusi-diskusi yang diadakan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan intra kampus, agar lebih mampu meng-update informasi-informasi seputar tema kajian perkuliahan tertentu yang diminatinya. f. Extracting Extracting merupakan tahapan mengidentifikasi bahan sumber informasi yang telah diperoleh secara selektif guna meperoleh informasi yang diminati. Para mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melakukan tahapan extracting. IN orang informan menyatakan bahwa ia menggunakan layanan bantuan pendampingan yakni jasa relawan PLD UIN Sunan Klijaga Yogyakarta. Relawan pendamping membacakan informasi yang terkandung dalam koleksi tercetak, kemudian mahasiswa difabel netra tersebut meringkas informasi yang telah dibacakan tersebut. Adapun 2 orang mahasiswa difabel netra, yakni DAN dan KCV, cenderung melakukan tahapan extracting secara mandiri dengan menggunakan software JAWS, dan sesekali meminta bantuan rekan sejawatnya. g. Verifying Tahapan ini merupakan tahap pengecekan kembali data yang telah dicari (browsing), dipantau (monitoring), hingga data yang telah diambil intisarinya (extracting). Setelah seluruh informasi terangkum, salah seorang informan dengan inisial IN, mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyatakan bahwa dirinya melakukan pengecekan kembali dengan cara menggunakan layanan bantuan pendampingan dari relawan PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, untuk membacakan ulang seluruh informasi yang telah terangkum. Hal ini dibutuhkan IN agar informasi yang telah dicari sebelumnya dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Adapun tahapan ini tidak dilakukan oleh informan dengan inisial DAN dan KCV. h. Ending Tahap ending merupakan tahapan terakhir dari proses pencarian informasi. Pada tahapan ini para mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggunakan informasi yang telah dikumpulkan sesuai dengan kebutuhan mereka, seperti misalnya digunakan untuk menyelesaikan tugas pengetikan makalah perkuliahan dan berbagai kebutuhan perkuliahan lainnya. Para informan pada umumnya merasa puas dengan layanan bantuan pendampingan pencarian informasi yang didampingi oleh relawan dari PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Perilaku pencarian informasi para informan yang merupakan mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan kategori low vision, yang dikaji dengan model Ellis menunjukkan bahwa 1 dari 3 orang informan menggunakan seluruh tahapan dalam proses pencarian informasi dengan model Ellis. Penulis juga menemukan bahwa pada dasarnya seluruh informan difabel netra dapat mencari informasi secara mandiri, terutama informasi yang bersumber dari internet, tanpa sepenuhnya bergantung kepada bantuan layanan pendamping PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun tentu saja kesimpulan ini tidak berlaku secara general, mengingat informan dalam artikel ini tergolong dalam kategori low vision, sehingga berbeda dengan mahasiswa difabel netra dengan kategori buta total (totally blind) 4. Hambatan-Hambatan Mahasiswa Difabel Netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam Memperoleh Informasi Selama Pandemi Covid-19 Pandemi Covid-19 telah membawa dampak besar pada perubahan perilaku dan memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi dunia pendidikan, terutama di Indonesia. Perubahan tersebut bisa dilihat dari segi pemanfaatan teknologi dalam hal kegiatan pembelajaran daring (dalam jaringan) yang terjadi secara spontan (terutama pada masa awal kemunculan Covid-19). Sehingga hampir seluruh elemen perguruan tinggi, baik dikalangan dosen, mahasiswa, bahkan lingkungan Kementerian Pendidikan sekalipun terkesan kewalahan dalam mensosialisasikan perubahan model kegiatan pembelajaran daring secara massif. Hal ini tentu saja turut berdampak bagi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Berangkat dari realitas tersebut, artikel ini mengidentifikasikan beberapa hambatan yang dialami oleh mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga dalam memperoleh informasi selama pandemi Covid-19 berlangsung. Pertama, mahasiswa difabel netra sulit mengakses bentuk pembelajaran melalui daring meskipun mereka sudah menggunakan aplikasi pembaca layar. Hal ini dikarenakan beberapa aplikasi daring masih memiliki keterbatasan untuk dapat terbaca dengan aplikasi pembaca layar. Seperti yang dinyatakan oleh informan IN sebagai berikut: “selama belajar online/ daring, saya kesusahan untuk memahami materi (bahan ajar) karena kadang beberapa aplikasi tidak dapat saya akses dengan menggunakan aplikasi baca layar yang saya miliki.” Kedua, mahasiswa difabel netra sulit mengakses perpustakaan untuk menemukan sumber informasi seperti buku-buku dan artikel jurnal ilmiah selama masa pandemi Covid-19. Seperti yang dipaparkan oleh informan DAN, IN, dan KCV. Ketiga mahasiswa difabel netra tersebut sulit menemukan buku-buku braile di luar kampus. Terlebih jika dalam proses pencarian informasi tersebut, mereka juga sangat membutuhkan pendampingan. Minimnya koleksi-koleksi perpustakaan yang aksesibel bagi difabel netra selama proses pembelajaran daring yang berlangsung di rumah masing-masing juga menjadi hambatan utama bagi mereka dalam memperoleh informasi tambahan. Ketiga, selama pandemi Covid-19, baik IN, DAN, dan KCV sebagai mahasiswa difabel netra yang melakukan proses pembelajaran secara daring dirumah mereka masing-masing, juga kesulitan dalam mencari informasi yang bersumber dari website secara mandiri. Hal ini dikarenakan mahasiswa tidak memiliki software JAWS yang terinstalasi pada computer di rumah mereka, seperti yang umumnya terdapat pada komputer di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keempat, selama pandemi Covid19, IN, DAN, dan juga KCV juga mengalami kesulitan dalam mengerjakan dua hal dalam satu waktu (multitasking). Sebagai contoh, KCV yang menyatakan bahwa: “selama masa pandemi ini, difabel netra seperti saya tentu sangat sulit untuk mencatat materi bersamaan dengan mendengarkan penjelasan dari dosen secara daring.” Pada masa perkuliahan daring, mahasiswa difabel netra pada saat yang bersamaan harus mencatan dan juga mendengarkan penjelasan dari dosen secara daring. Hal ini dikarenakan tidak adanya bantuan atau pendampingan selama proses pembelajaran daring sehingga membuat mahasiswa difabel netra mengalami ketertinggalan dalam proses pembelajaran daring. Kelima, terdapat hambatan dalam mengakses perpustakaan daring. Mahasiswa difabel netra baik DAN, IN, dan KCV sangat kesulitan dalam mencari jurnal secara online, literatur dan bukubuku dari sumber yang aksesibel. Jika pun ditemukan, umumnya sumber tersebut berbayar atau memiliki format yang tidak aksesibel. Keenam, masalah akses ke fitur sharing screen, terutama bagi mahasiswa Low Vision, apalagi jika tidak ada yang membantu mendeskripsikan secara detail apa yang tampak pada layar. Ketujuh, selama proses pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19 berlangsung, mahasiswa difabel netra kesulitan dalam eksplorasi dan navigasi di dalam sebuah situs web yang penataannya rumit dan banyak menggunakan gambar atau ikon, mereka sekaligus kesulitan dalam mengerjakan tugas yang membutuhkan kreativitas visual, misalnya membuat video atau poster.
Conclusion
Terdapat tiga jenis kebutuhan informasi mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pertama, everyday need approach, yakni mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memiliki kebutuhan informasi yang sifatnya mutakhir, dimana mereka akan berinteraksi dengan sistem informasi untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus pemahaman mereka. Kedua, current need approach, dimana mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta membutuhkan informasi untuk meningkatkan kualitasnya sebagai seorang mahasiswa sehingga menuntut mahasiswa difabel netra untuk mencari informasi dengan berinteraksi melalui sistem informasi. Ketiga, catching-up need approach, mahasiswa difabel netra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta membutuhkan informasi yang ringkas, tetapi juga lengkap khususnya mengenai perkembangan terakhir bidang studi/ subyek kajian berdasarkan kajian yang terdapat pada masing-masing program studi tempat mereka belajar, yang sifatnya relevan. Artikel ini juga mengkategorikan jenis dan sumber perolehan informasi mahasiswa difabel netra berdasarkan dua karakteristik. Pertama, sumber informasi mandiri, yang terdiri dari sumber internet, teman sejawat atau dosen, dan hasil seminar. Kedua, sumber informasi bantuan, yakni sumber informasi yang didapatkan oleh mahasiswa difabel netra dengan cara meminta bantuan relawan atau mengakses layanan bantuan pendampingan dari relawan PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, untuk membantu mereka dalam proses pencarian informasi yang bersumber dari koleksi-koleksi yang tercetak. Adapun perilaku pencarian informasi mahasiswa difabel netra berdasarkan model Ellis yng terdiri dari 8 tahapan, yakni: 1) starting: 2) chaining; 3) browsing; 4) differentiating; 5) monitoring; 6) extracting; 7) verifying; dan 8) ending. Penulis berhasil menyimpulkan bahwa 1 dari 3 orang informan menggunakan seluruh tahapan dalam proses pencarian informasi dengan model Ellis. Artikel ini juga berhasil mengidentifikasi beragam hambatan pencarian informasi bagi mahasiswa difabel netra pada masa pandemi Covid-19 yakni: 1) kesulitan dalam mengakses bentuk pembelajaran melalui daring; 2) kesulitan dalam mengakses perpustakaan karena mereka membutuhkan pendampingan; 3) kesulitan untuk mencari informasi yang bersumber dari website secara mandiri, dikarenakan mereka tidak memiliki software JAWS yang terinstal pada komputer dirumah mereka; 4) selama pandemi Covid-19, mahasiswa difabel netra juga kesulitan dalam mencatat materi (note taking) ketika pada waktu yang bersamaan mereka juga dituntut untuk mendengarkan penjelasan dosen secara daring; 5) kesulitan mencari jurnal, literatur dan buku-buku sumber yang aksesibel; 6) hambatan akses ke fitur sharing screen, terlebih jika tidak ada orang/ relawan yang membantu mereka untuk mendeskripsikan secara detail apa yang terlihat pada layar; 7) kesulitan dalam melakukan eksplorasi dan navigasi di dalam sebuah situs web denga penataan yang rumit dan cenderung menggunakan gambar atau ikon dalam jumlah yang banyak.