Literasi Digital Sebagai Penangkal Infodemi Covid-19 : Sebuah Literature Review
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Penyebaran Coronavirus Disease 2019 yang begitu cepat telah menimbulkan keresahan di seluruh dunia. Di sini lain ledakan informasi terkait virus corona juga menyebar begitu cepat di media digital. Artikel ini bertujuan untuk mengulas bagaimana literasi digital dapat dijadikan sebuah upaya meminimalisir mewabahnya infodemi covid-19 di tengah masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan atau library research, yaitu sebuah metode yang memanfaatkan bahan perpustakaan di dalam memperoleh data penelitiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih sangat banyak sekali masyarakat yang langsung menyebarkan suatu berita tanpa memeriksa kembali keakuratan dan validitas informasi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, di dalam penelitian ini juga dipaparkan bahwa terdapat korelasi antara indeks literasi digital dengan kecenderungan seseorang dalam menyebarkan informasi palsu, semakin tinggi indeks literasi digital yang dimiliki oleh seseorang maka rendah kecenderungannya dalam menyebarkan konten hoaks. Demikian halnya dengan kemampuan mengenali informasi yang bermuatan hoaks, seseorang yang memiliki literasi digital yang rendah kurang mampu membedakan antara informasi palsu dan informasi yang sebenarnya. Adapaun cara yang dapat dilakukan dalam meminimalisir mewabahnya infodemi covid-19 di tengah adalah dengan melakukan konfirmasi melalui laman cek fakta resmi seperti cekfakta.com,www.covid-19.go.id/hoaks-buster/, turnbackhoax.id maupun laman lain yang dikelola secara resmi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hal tersebut hanya dapat dilakukan apabila sesorang memiliki tingkat literasi digital yang memadai.
Abstract
The rapid spread of Coronavirus Disease 2019 has coused concern around the word. Here is another explosion of information related to the corona virus also spreading so fast in digital media. This article aims to review how digital literacy can be used as an effort to minimize the outbreak of the Covid-19 Infodemic in the community. This study uses a library research method, which is a method that utilizes library materials in obtaining research data. The results showed that there are still very many people who spread news directly without checking the accuracy and validity of the information. In addition, in this study it is also explained that there is a correlation between the digital literacy index a person has, the lower the tendency to spread hoax content. The ability to recognize hoax, someone who has low digital literacy is less able to distinguish between false information and actual information. The way that can be done to minimize the outbreak of the infoedemic covid-19 in the community is by confirming it through official fact checking pages such as cekfakta.com,www.covid-19.go.id/hoaks-buster/, turnbackhoax.id as well as other pages that are officially managed by The Ministry of Communication and Information. This can be done if someone has an adequate level of digital literacy.
Keywords:
Literasi Digital
· Infodemi Covid-19
· Literasi Media
· Malinformasi
· Hoaks
Introduction
Wabah Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) telah melanda dunia sejak akhir tahun 2019 lalu. Penyakit yang menyerang sistem pernafasan ini telah membuat panik masyarakat dunia, hal ini disebabkan oleh penyebarannya yang begitu cepat dan masif. Oleh karena itu, saat ini Covid-19 menjadi topik yang paling sering dibahas oleh publik. Hal tersebut terlihat dari data di web search engine google, setidaknya dalam kurun waktu 5 bulan ada sekitar 5.4 Miliar pencarian dengan menggunakan kata kunci covid-19 per Mei 2020.1 Namun, di tengah kepanikan tersebut, masih ada saja pihak yang iseng dan tidak bertanggung jawab yang membuat berbagai informasi palsu (hoaks). Meningkatnya ledakan informasi terkait covid-19 yang disebarkan secara digital membuat World Health Organization (WHO) membuat sebuah istilah baru yang kemudian disebut sebagai Infodemi. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan oleh Kominfo, ada sekitar tiga jenis infodemi yang beredar di masyarakat antara lain:1) disinformasi, yakni sebuah informasi yang dibuat dengan sengaja dan memiliki tujuan untuk mendestruksi informasi yang beredar; 2) malinformasi, yakni sebuah informasi dibuat sudah sesuai dengan fakta yang terjadi, namun ditujukan untuk orang tertentu. Kemudian yang terakhir adalah 3) infodemi, yaitu sebuah informasi yang kurang tepat dan dibuat tanpa unsur kesengajaan namun tersebar luas dengan cepat di tengah publik.2 Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) merilis temuan isu hoaks covid-19 sebanyak 1.606 kasus per 24 Mei 2021 dan pengajuan takedown sebaran hoaks di media sosial sebesar 3.475. Adapun sebaran pengajuan tersebut terdiri dari facebook, twitter, Instagram dan youtube. Dari 3.475 kasus yang dilaporkan, 3.056 telah ditindaklanjuti oleh Kominfo. Sementara 113 kasus hoaks terkait covid-19 ini telah dilakukan penegakan hukum. Selain itu ditemukan juga hoaks mengenai vaksin covid-19 sebanyak 193 kasus.3 Beberapa perusahaan platform media sosial telah mengambil langkah-langkah dalam meminimalisir penyebaran informasi palsu terkait covid-19. Facebook, Twitter dan Youtube mengklaim telah melakukan penghapusan terhadap postingan atau informasi yang berpotensi membahayakan masyarakat. Produksi dan penyebaran infodemi di tengah masyarakat ini tentu menambah keresahan publik. Banyak masyarakat yang sangat mempercayai berita atau informasi palsu yang dibuat, karena informasi tersebut diolah sedemikian rupa agar terlihat seperti asli. Hal ini tentu menyebabkan kebingungan di tengah masyarakat, banyak diantara meraka yang tidak dapat membedakan mana informasi yang akurat dan resmi dan mana juga yang mengandung infodemi. Hal tersebut disinyalir terjadi karena minimnya pengetahuan dan kemampuan dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang kemudian menyebabkan ketidakmampuan dalam menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat serta menyebarkan informasi. Pemerintah sebagai pihak yang berwenang tentu saja dapat melakukan penyortiran terhadap suatu informasi secara akurat dari klaim yang menyesatkan. Namun akan sangat sulit untuk menangani atau memperbaikinya jika tidak ada kerjasama dan upaya yang sama masyarakat. Menurut Endang Fatmawati, yang menjadi penyebab mewabahnya infodemi di tengah masyarakat adalah pesatnya perkembangan sosial media, bias informasi di internet dan meningkatnya penggunaan gadget oleh masyarakat4. Sementara itu, penelitian lain juga mengungkapkan bahwa infodemi covid-19 memiliki dampak yang justru lebih besar dibandingkan dengan pandemi itu sendiri. Penelitian ini menyebutkan infodemi telah menjadi masalah global, khususnya di Indonesia dan harus diatasi dengan meningkatkan literasi digital. Selain itu, kemudahan dalam memperoleh dan mengakses informasi melalui media digital juga harus diiringi dengan kemampuan berpikir secara kritis. 5 Berangkat dari hal tersebut maka literasi digital sangat diperlukan dalam menghadapi masa pandemi covid-19 karena infodemi ini merupakan musuh terbesar dari wabah itu sendiri. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana literasi digital dapat menjadi penangkal infodemi covid-19? Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengulas bagaimana literasi digital dapat dijadikan sebuah upaya meminimalisir mewabahnya infodemi covid-19 di tengah masyarakat. B. Landasan Teori1. Literasi DigitalLiterasi digital tidak hanya diartikan sebagai kemampuandalam menggunakan komputer tetapi juga kemampuan dalammemahami dan mendefinisikan setiap informasi yang tersebar diberbagai media digital. Martin Alan menyatakan bahwa literasidigital adalah kolaborasi dari kemampuan menggunakan teknologi,komputer sekaligus kemampuan dalam mengakses informasimelalui teknologi dan komunikasi media.6Livingstone menyatakan bahwa literasi digital merupakanketerampilan dan kompetensi yang dimiliki orang seseorang agardapat dengan aman menggunakan dan memanfaatkan teknologidigital sehingga terhindar dari segala resiko buruk yangdisebabkan olehnya.7. Lebih lanjut secara kompleks, Devri Suherdimenyatakan bahwa literasi digital adalah suatu pengetahuanmaupun kompetensi dalam menggunakan sekaligus memanfaatkanmedia digitalisasi, alat komunikasi modern disertai jaringaninternet dalam menemukan, membuat, mengevaluasi,menggunakan serta memanfaatkan informasi secara smart, cermat, tepat, bijak serta mematuhi aturan yang berlaku dalam rangkamenjalin komunikasi antar sesama dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian di atas maka secara sederhana, literasidigital dapat diartikan sebagai kompetensi yang dimiliki orang userdalam memahami dan memanfaatkan berbagai informasi diperolehmelalui media digital. Kompetensi tersebut menjadi sebuahkewajiban yang harus dimiliki masyarakat di era digital saat ini.Hal tersebut disebabkan karena perkembangan teknologi yangsangat cepat. Jika kita tidak bergerak maju maka teknologi akansemakin jauh meninggalkan. Dan hal itu tentu memberikandampak yang negatif juga dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, terlebih lagi dalam menghadapi masa pandemi seperti saat ini.2. Infodemi Covid-19Istilah infodemi menjadi populer sejak covid-19 melanda dunia.Istilah yang dicetuskan oleh World Health Organization WHO)tersebut diartikan sebagai terlalu banyaknya informasi yangberedar, termasuk informasi yang salah dan menyesatkan baiksecara fisik maupun digital selama masa pandemi covid-19. Haltersebut tentu sangat membahayakan publik, karena munculnyaketidakpercayaan mereka kepada otoritas kesehatan. Sehinggamenyulitkan pihak yang berwenang dalam menangani danmemutus rantai penyebaran virus Corona. Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan definisi yangdisampaikan oleh World Health Organization (WHO) Fernandezmenyatakan bahwa, infodemi adalah ledakan informasi terkait isupandemi covid-19 yang menyebabkan beberapa orang sulitmembedakan dan menemukan sumber informasi yang dapatdipercaya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya informasi yangakurat dan tidak sedikit pula yang mengandung hoaks.10 Dengankata lain, terdapat banyak sekali informasi palsu yang beredardengan sangat cepat melalui kecanggihan teknologi informasi yang hampir ada dalam genggaman setiap manusia, baik tua maupunmuda. Setiap orang dapat dengan mudahnya membuat,mendistribusikan serta menerima informasi dalam hitungan detik.3. Literasi Digital Sebagai Penangkal Infodemi Covid-19Pada awal tahun 2020, World Health Organization WHO) telahmengumumkan bahwa pandemi covid-19 disertai danganinformasi yang kurang tepat atau disebut dengan infodemi.Diisinformasi maupun misinformasi mengenai sains, teknologi,bukanlah hal baru pada masa pandemi ini. Banyak pihak, terutamapemerintah telah menggaungkan penolakan dan perlawananterhadap informasi-informasi palsu yang disinyalir dapatmenimbulkan resiko serius bagi kesehatan masyarakat.Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Reuters Instituteinfodemi terkait Covid-19 dilakukan dalam berbagai bentuk dansumber serta klaim yang berbeda. Informasi palsu tersebut seringkali dikonfigurasi dari konten sebenarnya yang kemudiandimanipulasi dan diedit dengan alat sederhana.11 Mengingatdampaknya yang sangat serius, maka semua pihak memilikiperanan penting dalam menangani informasi yang salah terkaitwabah corona ini.Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesiadalam meminimalisir infodemi adalah dengan cara meningkatkanliterasi digital. Upaya peningkatan tersebut dilakukan melaluiKementerian Komunikasi dan Informatika dalam Gerakan NasionalDigital atau disebut juga dengan Siberkreasi. Kegiatan ini dilakukanberkolaborasi dengan 108 komunitas yang ada di Indonesia, paraakademisi, dan institusi pemerintah lainnya dalam melaksanakanedukasi maupun terkait pelatihan literasi digital. Langkah tersebut diharapkan dapat secara efektif membantu masyarakat dalammenggunakan, memahami, dan memanfaatkan teknologi informasi.Sehingga tidak mudah termakan hoaks atau berita palsu,khususnya terkait wabah corona yang tidak tahu kapan akanberakhir.Kompetensi literasi digital yang baik sangat dibutuhkan olehsegenap kalangan masyarakat di masa pandemi covid-19 ini.Karena setiap detiknya selalu ada informasi yang menyesatkan(hoaks) yang tersebar dan dengan mudahnya diterima sertadikonsumsi oleh oleh publik. Masyarakat yang gaptek cenderungmelahap suatu informasi tanpa mengkonfirmasi terlebih dahuluapakah berita tersebut akurat atau palsu. Oleh karena itupeningkatan literasi digital menjadi suatu keniscayaan di era 4.0ini, tujuannya adalah agar masyarakat mampu mencerna danmenyaring informasi yang diperoleh tanpa menimbulkankepanikan. Literasi digital juga akan membentuk pola pikir dancara pandang masyarakat untuk lebih kritis dan kreatif, dan tidakserta merta dengan mudah terprovokasi oleh informasi yang salahmaupun menjadi korban penipuan berbasis digital.Rulli Nasrullah, dalam materi pendukung literasi digital yangditerbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan padatahun 2007 menyebutkan bahwa ada empat prinsip dasarpengembangan literasi digital diantaranya adalah sebagai berikut :1. Pemahaman, yaitu kemampuan yang dimiliki olehseseorang dalam mengekstrak ide secara baik secaratersirat maupun tersurat dari media. Dengan kata lainseseorang sudah dapat mencerna suatu informasimeskipun informasi tersebut tidak dinyatakan secaragambling.2. Saling ketergantungan, mengingat jumlah media yang tidaklagi sedikit maka prinsip saling berdampingan dan salingmelengkapi ini menjadi salah satu prinsip dasar dari literasidigital.3. Faktor sosial, membagikan informasi bukannya hanyasekedar memperlihatkan identitas pribadi maupundistribusi informasi, tetapi juga dapat membuat pesantersendiri. Seseorang yang melakukan sharing informasi,orang yang menerima informasi yang dibagikan, dan mediayang dijadikan sebagai perantara penyampaian informasi tersebut tidak hanya dapat menentukan keberhasilanmedia dalam jangka panjang namun juga dapat membentuksebuah ekosistem organik sebagai sarana menelusuri,berbagi, dan menyimpan informasi yang pada akhirnyaakan membentuk ulang media itu sendiri.4. Prinsip yang terakhir adalah kurasi, yaitu suatu prinsipyang berbicara tentang penyimpanan informasi, sepertipenyimpanan konten di media sosial dengan metode saveto read later adalah salah satu jenis literasi yang dikaitkandengan kompetensi dalam memahami nilai suatu informasidan menyimpannya agar dapat diakses dan digunakandalam jangka waktu yang panjang. Sementara itu kurasitingkat lanjut wajib memiliki potensi sebagai kurasi sosial,yang dapat bekerja sama dalam menemukan,mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi yang memiliki nilai dan manfaat
Method
Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan atau library research, yaitu sebuah metode yang memanfaatkan bahan perpustakaan di dalam memperoleh data penelitiannya. 13 Metode ini digunakan dalam mengelaborasi berbagai data sekunder atau literature yang bermuatan informasi dan diperoleh baik melalui buku, jurnal, majalah, berita, dan literature yang relevan lainnya.
Discussion
Keberadaan ponsel pintar di seluruh dunia telah menyebabkan besarnya peluang setiap orang untuk mengakses segala jenis informasi secara instan. Demikian halnya ketika seseorang mencari informasi tentang perkembangan covid-19, yang akhir-akhir ini menjadi topik yang paling banyak dicari di internet. Hal tersebut tentu saja menimbulkan dua dampak yang berlawanan arah. Di satu sisi seseorang diuntungkan karena dapat memperoleh informasi yang diinginkan dengan cepat dan mudah, Tetapi di sisi lain sangat besar pula kemungkinan mendapatkan informasi yang salah. Banyaknya informasi dan pesan yang beredar terkait covid- 19 justru menyebabkan timbulnya dugaan ketidakpercayaan dan kecemasan di kalangan masyarakat. Salah satu contoh kasus infodemi yang beredar di masyarakat adalah mengenai vaksin covid-19. Dalam sebuah postingan yang berisi percakapan atau pembahasan mengenai bahaya bagi seseorang yang sudah pernah disuntik vaksin covid-19 untuk melakukan donor darah. Namun faktanya adalah informasi tersebut tidak benar dan termasuk kepada disinformasi. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa masyarakat yang sudah melakukan vaksinasi covid-19 dapat mendonorkan darahnya setelah 7 hari. Namun demikian, jeda waktu donor darah juga tergantung pada jenis vaksin yang disuntikkan. Selain itu, masih banyak lagi informasi-informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang beredar di sosial media. Seperti yang beredar di laman facebook pada pertengahan Mei 2021, postingan tersebut mengklaim bahwa dokter yang berasal dari Ohio Amerika Serikat meninggal dunia setelah disuntik vaksin covid-19.14 Pada kenyataannya dokter tersebut meninggal dunia disebabkan karena diseksi aorta. Informasi-informasi seperti ini tentu membuat kepanikan di tengah publik. Ditambah lagi apabila mereka tidak mengkonfirmasi ulang berita yang diterima, hal ini tentu akan membuat masyarakat enggan melakukan vaksinasi yang notabenenya dilakukan sebagai upaya pencegahan virus corona. Tidak dapat dipungkiri penanganan pandemi di tengah gencarnya infodemi beredar merupakan hal yang sangat komplek dan rumit, Pemerintah harus melakukan berbagai upaya dalam membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap segala kebijakan yang dikeluarkan dalam menangani penyebaran virus corona. Dalam rangka mencegah penyebaran infodemi di Indonesia, maka Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) bekerja sama dengan UNICEF membuat sebuah fitur hoaks buster dalam menekan infodemi yang beredar di berbagai media digital. Sejauh ini 870 artikel klarifikasi telah diunggah mengkonfirmasi informasi sesat terkait covid-19.15 Penangkalan penyebaran infodemi tersebut juga dibarengi dengan mengedukasi kemampuan literasi digital masyarakat, agar dapat membedakan mana berita yang akurat dan mana yang mengandung hoaks. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rory Ramayanti disebutkan bahwa, masyarakat yang tidak memiliki kemampuan literasi digital akan menerima informasi secara mentah-mentah. Informasi tersebut langsung dikonsumsi tanpa melakukan verifikasi dan analisa terlebih dahulu mengenai kebenarannya.16 Sebaliknya seseorang yang memiliki kemampuan literasi digital yang tinggi akan secara aktif memiliki kemampuan dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh. Mereka dapat mengelaborasi dan menyerap informasi yang berasal dari media dengan baik. Ketika seseorang memiliki tingkat literasi yang tinggi, maka ia akan mengetahui bagaimana menyeleksi dan mengontrol informasi yang ia terima melalui berbagai sudut pandang kognitif, emosional, estetik dan moral. 17 Hasil survei indeks Literasi Digital Nasional tahun 2020 yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika terhadap 34 Provinsi yang ada di Indonesia diketahui bahwa, status literasi digital di Indonesia belum dapat dikategorikan pada level baik. Penelitian ini juga memaparkan sebanyak 35.7% dari responden pernah menerima hoaks yang menginformasikan bahwa covid-19 dapat disembuhkan dengan cara mengkonsumsi bawang putih, 29.3% responden menerima hoaks terkait bahaya radiasi dari thermogun alat pengecek suhu), dan 35.9% responden mendapatkan hoaks tentang kelas online selama masa pandemi menjadi penyebab bunuh diri, sedangkan 57.3% lainnya menerima hoaks tentang penculikan. Sekitar 50 % dari responden menjawab bahwa mereka menyebarkan kembali informasi hoaks yang diterima. 18 Dari hasil survei tersebut terlihat bahwa masih sangat banyak sekali masyarakat yang langsung menyebarkan suatu berita tanpa memeriksa kembali keakuratan dan validitas informasi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, di dalam penelitian ini juga dipaparkan bahwa terdapat korelasi antara indeks literasi digital dengan kecenderungan seseorang dalam menyebarkan informasi palsu, semakin tinggi indeks literasi digital yang dimiliki oleh seseorang maka rendah kecenderungannya dalam menyebarkan konten hoaks. Demikian halnya dengan kemampuan mengenali informasi yang bermuatan hoaks, seseorang yang memiliki literasi digital yang rendah kurang mampu membedakan antara informasi palsu dan informasi yang sebenarnya. Literasi Digital sebagai upaya penangkal Infodemi Covid-19 dapat dilakukan dengan cara mengadakan pelatihan-pelatihan terkait penggunaan Teknologi Informasi. Kharisma Nasionalita dalam Pengabdian Masyarakat yang berjudul Peningkatan Literasi Digital Berbasis Edukasi dalam Menghadapi Infodemi Covid-19 di Kalangan Tenaga Pendidik Daerah Jawa Tengah melakukan pelatihan softskills personal competence dan social competence. Adapun yang dilatih dalam personal competence yang pertama adalah technical skills terkait dengan kemampuan menggunakan komputer, internet dan media. Yang kedua critical understandings yaitu kemampuan memproduksi konten dan memanfaatkan fungsi media digital untuk hal-hal yang bersifat positif. Di dalam pelatihan tersebut juga dijelaskan tentang media dan regulasinya serta perilaku dalam menggunakan media digital. Kemudian dalam materi social competence dijelaskan mengenai communication skills yaitu kemampuan komunikasi dalam membangun relasi sosial melalui media, kemampuan berpartisipasi dengan masyarakat melalui media digital, serta kemampuan untuk memproduksi dan mengkreasikan konten media. Di dalam pelatihan tersebut juga dilakukan penguatan literasi digital di masa pandemi dengan melakukan pembahasan secara lebih mendalam mengenai komponen literasi digital dan sebab akibat informasi yang salah di masa pandemi, demikian juga dengan berbagai rekomendasi situs rujukan terpercaya yang dapat diakses untuk melakukan verifikasi. Setelah dilakukan evaluasi dari kegiatan peningkatan literasi digital tersebut diketahui bahwa para peserta dapat mengerti dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik, terutama dalam menghadapi infodemi covid-19. Selain itu, peserta juga dapat lebih termotivasi untuk melakukan check dan re-check informasi baik dari media sosial maupun media digital lainnya dan lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi.19 Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa dalam upaya menangkal infodemi di tengah masyakat, perlu diadakan suatu pelatihan terkait personal competence maupun social competence yang dapat mengedukasi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi dan telekomunikasi, sehingga mereka dapat mengkonfirmasi lebih lanjut mengenai berita yang diterima terutama yang berkaitan dengan wabah covid -19. Dengan literasi digital yang memadai, masyarakat memiliki pengetahuan untuk mencerna sebuah berita terkait covid-19. Adapun upaya konfirmasi dapat dilakukan melalui laman cek fakta resmi seperti cekfakta.com,www.covid-19.go.id/hoaks-buster/, turnbackhoax.id maupun laman yang dikelola secara resmi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Conclusion
Salah satu cara yang dapat mencegah dan menekan penyebaran infodemi adalah dengan meningkatkan literasi digital masyarakat. Upaya tersebut dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam Gerakan Nasional Digital atau disebut juga dengan Siberkreasi. Kegiatan ini dilakukan berkolaborasi dengan 108 komunitas yang ada di Indonesia, para akademisi, dan institusi pemerintah lainnya dalam melaksanakan edukasi terkait pelatihan literasi digital. Diantara pelatihan yang dapat dilakukan adalah personal competence dan social competence yang dapat mengedukasi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi dan telekomunikasi, sehingga mereka memiliki kemampuan untuk melakukan konfirmasi lebih lanjut terhadap infodemi covid-19 yang beredar secara liar di tengah masyarakat. Adapaun cara yang dapat dilakukan dalam meminimalisir konsumsi dan penyebaran infodemi covid-19 adalah dengan melakukan konfirmasi melalui laman cek fakta resmi seperti cekfakta.com,www.covid-19.go.id/hoaks-buster/, turnbackhoax.id maupun laman lain yang dikelola secara resmi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dan upaya tersebut hanya dapat dilakukan apabila sesorang memiliki tingkat literasi digital yang memadai.