Kembali
16
1
2023 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 7 · 3 ISSN 2598-3040

Representasi Literasi Media sebagai Upaya Preventif Penyebaran Hoaks dalam Film Pendek Tilik

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Film pendek Tilik mengkritisi bagaimana bentuk kritik sosial hoaks yang ditampilkan pada potret masyarakat ketika menghadapi sajian informasi di media sosial. Penelitian ini mengkaji representasi literasi media sebagai upaya preventif penyebaran hoaks dalam film pendek Tilik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi literasi media pada adegan dan karakter Bu Tejo dan Yu Ning yang merupakan karakter utama film ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data primer berupa hasil wawancara dengan informan ahli dan sumber data sekunder berupa adegan literasi media yang direpresentasikan pada film pendek Tilik dalam bentuk capture gambar. Analisis dilakukan dengan analisis semiotika peta tanda Roland Barthes sebagai metode analisis data serta berlandaskan pada lima konsep inti literasi media yang dikemukakan oleh Elizabeth Thoman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film pendek Tilik berupaya untuk mengkampanyekan literasi media dengan berpikir kritis dalam membiasakan budaya verifikasi dan validasi untuk mencari sebuah kebenaran informasi. Dua karakter utama Bu Tejo dan Yu Ning memerankan karakter sebagai penyebar informasi hoaks. Informasi hoaks disebarkan terkait dengan isu hoaks di kalangan masyarakat desa, malinformasi terhadap isu kontestasi pemilu, dan misinformasi akibat infobesitas informasi. Faktanya, masyarakat masih menelan informasi secara mentah-mentah tanpa memverifikasi informasi terlebih dahulu. Lima konsep inti literasi media berfungsi sebagai gagasan besar atau pemahaman untuk menghasilkan pemikiran kritis, pengorganisasian, dan mengkomunikasikan kompetensi atas informasi yang didapatkan.

Abstract

The short film Tilik criticizes how the social criticism of hoaxes is shown in the portrait of society when facing information on social media. This research examines the representation of media literacy as a preventive effort to spread hoaxes in the short film Tilik. This research aims to find out the representation of media literacy in the scenes and characters of Mrs. Tejo and Yu Ning who are the main characters of this film. The research method used is qualitative with primary data sources in the form of interviews with expert informants and secondary data sources in the form of media literacy scenes represented in the short film Tilik in the form of image capture. The analysis was conducted using Roland Barthes' semiotic analysis of the sign map as a data analysis method and based on the five core concepts of media literacy proposed by Elizabeth Thoman. The results show that the short film Tilik attempts to campaign for media literacy by thinking critically in familiarizing the culture of verification and validation to find the truth of information. The two main characters, Bu Tejo and Yu Ning, play the role of hoax information disseminators. Hoax information is spread in relation to the issue of hoaxes among villagers, malinformation on the issue of election contestation, and misinformation due to information infobesity. In fact, people still swallow information without verifying the information first. Five core concepts of medi literacy
Keywords: media literacy · representation · short film · semiotic

Introduction

Konsep literasi media menjadi isu saat ini dengan diskusi terkait makna pesan yang disampaikan melalui media, seberapa banyak mencerminkan fakta, dan seberapa bertentangan dengan kenyataan. Konsep literasi media ini sebagai cara untuk memahami, memaknai, dan mendekonstruksikan pesan media. Berdasarkan interpretasi tersebut, literasi media digambarkan sebagai kemampuan seseorang untuk menginterpretasikan pesan yang diterima dari elemen media dengan perspektif kritis, memberikan makna, serta menciptakan pesan baru (Ulaş et al., 2012). Film merupakan media budaya populer yang berfungsi sebagai sarana komunikasi dan transmisi informasi. Kekuatan emosional dari media gambar bergerak menarik bagi masyarakat dari segala usia dan budaya dalam mengkomunikasikan nilai dan ideologi secara efektif. Di Indonesia memiliki berbagai macam film terkenal karya anak Indonesia yang menghadirkan realitas sosial salah satunya, yaitu film pendek “Tilik”. Film pendek Tilik adalah sebuah film pendek Jawa produksi sutradara Wahyu Agung Prasetyo bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memulai produksi pada September 2018. Film tersebut ditayangkan dikanal YouTube Ravacana Films pada 17 Agustus 2020. Film pendek Tilik yang tayang dimasa pandemi COVID-19 menjadi viral dimasyarakat dan telah ditonton sebanyak 27.367.413 kali. Film berdurasi 32 menit ini berhasil meraih berbagai penghargaan, antara lain Amsterdam World Cinema Official Selection 2019, Pemenang Film Pendek Terbaik Piala Maya ke-7 2019, dan Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2019 (Mustika & Agustina, 2021). Film Tilik bercerita mengenai Ibu-ibu desa yang bermaksud menjenguk salah satu tokoh masyarakat yaitu Ibu Lurah. Dalam film pendek ini, Tilik memberikan wawasan dan pengetahuan tentang keragaman budaya masyarakat pedesaan seiring kemajuan teknologi era digital. Era seperti sekarang ini, siapapun dapat melihat informasi media sosial darimana saja. Begitu pula Bu Tejo yang menyinggung Dian berfoto dengan pria di media sosialnya. Dengan tidak adanya literasi media, masyarakat dengan mudah memberikan argumen tanpa dasar yang jelas, sehingga opini akan dengan mudah digiring karena kemampuan analisa dan daya berfikir kritis yang tidak terasah. Penelitian tentang film sebagai sarana komunikasi dan alat penyampaian informasi yang merepresentasikan literasi media menjadi hal yang cukup penting untuk dilakukan. Menurut platform Neliti, Google Scholar, dan Garba Rujukan Digital (Garuda) ditemukan bahwa di Indonesia masih terbatas dalam penelitian terkait representasi literasi media terlebih pada film pendek Tilik. Film pendek Tilik memberikan tahapan persebaran informasi hoaks, sehingga hal ini membuat penonton menyadari bahwa hoaks sebagai fenomena sosial yang penting untuk dikritisi. Dari gambaran fenomena sosial hoaks tersebut dapat menunjukkan perlunya peningkatan literasi media yang menjadi hal yang mutlak dilakukan agar masyarakat mampu mengenali dan memahami konten informasi yang disampaikan oleh media (Aribowo, 2017). Berdasarkan landasan tersebut, penulis melakukan penelitian dengan mengangkat kajian penelitian film pendek Tilik dengan menganalisis isi film dalam bentuk representasi literasi media untuk menangkal persebaran informasi hoaks. 2. Landasan Teori 2.1. Literasi Media terhadap Hoaks Literasi media bersifat transdisipliner yang telah dikonseptualisasikan dalam kaitannya dengan empat posisi teoritis utama yaitu sebagai sarana untuk melawan efek negatif media, sebagai sarana untuk melawan kekuatan hegemonik dari media massa, sebagai cara untuk mengenali sifat dan struktur pesan media yang dibangun, serta sebagai cara untuk mengakui pesan dari aspek subjetivitas dalam praktik konsumsi dan penciptaan media (Thoman & Jolls, 2018). Pada tahun 1987, di Kanada tepatnya di Kota Ontario, Ducan, dan Association for Media Literacy (AML) mengembangkan 8 konsep inti literasi media. Kemudian pada tahun 1989, konsep tersebut dilanjutkan oleh Francis Davis yang merepresentasikan lima ide pengajaran literasi media pada anak-anak. Sehingga, artikel tersebut digunakan Elizabeth Thoman sebagai pendahuluan untuk mendirikan Center for Media Literacy (CML) di tahun 1989 dan mengembangkan lima konsep inti literasi media antara lain: 1. Semua media adalah bentuk konstruksi. Produk sebuah media diciptakan oleh individu yang memuat dua hal, yaitu sadar dan tidak sadar tentang apa yang harus dimasukkan, apa yang harus dituliskan, dan bagaimana pembuat produk tersebut menyajikan apa yang telah disertakan pada pesan media tersebut. Poin ini berkaitan dengan dekonstruksi. 2. Pesan informasi media dikonstruksikan melalui penggunaan bahasa yang kreatif dan kaidah sendiri, hal ini mengacu pada penggunaan komponen kreatif seperti kalimat, tata bahasa, visual. Pesan media dibangun sesuai inovasi dan kreativitas juga berkaitan pada berbagai format media yaitu dalam bentuk teks, foto, video, film, dan audio visual. 3. Penafsiran pesan yang berbeda antar individu tergantung pengetahuan, pengalaman, pendidikan, status ekonomi, dan serangkaian faktor. 4. Pesan media melekatkan sudut padang, dimana ketika pengguna lain perlu memahami bagaimana perasaan mereka ketika pengguna membuat pernyataan tertentu. 5. Sebagian pesan media telah diorganisir untuk mendapatkan keuntungan atau kekuasaan. Inti kelima konsep ini memberikan pandangan bahwa semua pesan dalam media disebarkan dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan. Hampir setiap media baik publik maupun komersial diberikan dana oleh pihak iklan. Tujuan adanya literasi media adalah agar masyarakat dapat mengenali dan memahami informasi yang disampaikan di media apakah informasi tersebut hoaks atau bukan. Metode yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan menyadarkan individu dalam memilih informasi dengan sumber yang bisa dipercaya, menambah wawasan individu untuk membangun pengetahuan dan sikap kritis, mengkomparasikan keterangan yang sama dari berbagai sumber untuk menemukan sudut pandang, melakukan penilaian mandiri dengan logis dalam memakai semua sumber, mengingatkan hoaks yang sedang ramai kepada masyarakat, serta memeriksa informasi sebelum menyebarkan informasi yang belum pasti. Informasi yang tidak disaring dengan baik akan berkembang menjadi berita hoaks yang merugikan berbagai pihak. Hoaks menjadi sebuah berita bohong atau informasi bohong yang dikonstruksi dengan serangkaian proses kemudian dibagikan secara aktif atau terus menerus sehingga fenomena tersebut menjadi hal yang wajar. Beredarnya informasi hoaks yang beredar di media sosial kian menjamur seolah telah menjadi sebuah rantai yang tidak berujung. Informasi hoaks yang dimanipulasi dengan mendramatisasi dan memelintir fakta seakan informasi tersebut sifatnya objektif atau alami. Rendahnya tingkat literasi pada masyarakat berakibat pada kesulitan dalam memilih informasi atau konten yang positif di antara banjirnya informasi di dunia maya. Media sosial sebagai platform informasi saat kini sebagai tempat untuk saling bertukar informasi serta untuk merekomendasikan satu dengan yang lain. Dengan tersedianya wadah platform media tersebut terhubung pada berbagai koneksi aktivitas dengan intensitas tinggi yang menjadi pembeda antara media sosial lainnya (Marwuni, 2021). 2.2. Representasi Literasi Media Representasi memiliki arti terkait dengan gambaran ataupun penggambaran, secara sederhana dijelaskan sebagai penggambaran melalui sebuah media terkait dengan suatu hal yang terdapat dalam kehidupan. Representasi merupakan penggunaan tanda seperti gambar, suara, dan lain-lain untuk mengasosiasikan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, dirasakan, dibayangkan, atau diketahui dalam bentuk fisik tertentu. Representasi merujuk pada upaya untuk menghasilkan arti. Representasi bekerja melalui sebuah sistem representasi yang terdiri berdasarkan komponen krusial yaitu berupa konsep dalam pikiran dan bahasa. Menurut Danesi (2010), Representasi merupakan penggunaan tanda seperti gambar, suara, dan lain-lain untuk mengasosiasikan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, dirasakan, dibayangkan, atau diketahui dalam bentuk fisik tertentu. Representasi menjadi sebuah proses tentang bagaimana seseorang dapat menghadirkan sebuah gambaran, yang mana dalam hal ini merujuk pada pengarang ke dalam sebuah karyanya. Representasi literasi dalam media populer tidak hanya mencerminkan bentuk sosial akan tetapi juga mempengaruhi apa yang diingat masyarakat, kapan masyarakat tersebut mengingat, dan bagaimana masyarakat dapat mengingat pesan media tersebut (Bellino, 2008). Pengaruh kuat yang diberikan menunjukkan keadaan sosial masyarakat bahkan dapat membentuk argumen, opini, dan kebenenaran tanpa dasar dari perspektif yang diinginkan. Atas hal ini film tidak hanya dijadikan sebagai bentuk media seni dan hiburan akan tetapi sebagai alat penyampaian edukasi, gagasan, serta kepentingan tertentu. Mengingat efektifnya film dapat mempengaruhi argumentasi masyarakat. Intervensi berbasis film berkualitas tinggi sebagai bentuk untuk mengeksplorasi berbagai aspek literasi media. Pendekatan literasi media dalam konseptualisasi budaya populer film merupakan hal yang penting dilakukan sebagai upaya mengkomunikasikan pesan sosial, budaya, dan politik.

Method

Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara ahli dan studi pustaka. Pemilihan dan perekrutan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu dengan menentukan kriteria-kriteria agar sesuai dengan tujuan penelitian. Peneliti mewawancarai salah satu informan ahli yang memiliki kompetensi dan profesionalisme terhadap film yang bekerja sebagai Video Production in Tribun News. Sedangkan studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan informasi yang relevan dengan topik yang dikasji terkait literasi media. Serta adanya studi dokumen yaitu mengkaji adegan yang memunculkan makna literasi media dalam adegan film pendek Tilik. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan capture seluruh adegan film pendek Tilik selama periode akses bulan Oktober 2022. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes yang terdiri dari beberapa tingkatan yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Menurut Wibowo (2013) semiotika didefinisikan sebagai penelitian kualitatif yang sifat deskriptifnya digunakan untuk mempelajari tanda-tanda dari entitas tertentu yang berusaha menemukan makna dari hal-hal yang tersembunyi dalam objek penelitian. Denotasi merupakan makna sebenarnya, konotasi adalah makna yang tidak sebenarnya, sedangkan mitos adalah konotasi yang telah menetap. Untuk menjaga kualitas penelitian dilakukan penilaian aspek kesahihan penelitian kualitatif khususnya penelitian menggunakan analisis semiotika dinilai pada saat proses pengumpulan data dan analisis interpretasi data.

Result & Discussion

4.1. Representasi terhadap Lima Konsep Inti Literasi Media Tokoh Bu Tejo dianggap sebagai tokoh yang tidak memiliki kemampuan literasi media karena selalu mempercayai informasi di internet dan media sosial tanpa adanya upaya untuk berpikir kritis atas kebenaran informasi tersebut. Makna tersebut dapat dilihat dari berbagai tanda yang telah dianalisis, yang intinya bahwa Bu Tejo selalu menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya kepada Ibu-ibu lain. Ia menggunakan bukti postingan dari internet dan media sosial untuk mendukung opininya. Selanjutnya tokoh Yu Ning diidentifikasi sebagai tokoh yang sebenarnya memiliki literasi media, sebab dari awal tokoh tersebut selalu menolak percaya akan gosip yang Bu Tejo sampaikan. Adanya konsep literasi media berlandaskan pada inti literasi media bahwa semua informasi adalah bentuk dari konstruksi, pesan media dikonstruksikan menggunakan bahasa kreatif dan sesuai inovasi, penafsiran yang berbeda atas informasi yang sama antar individu, informasi media menciptakan sudut pandang yang berbeda, dan sebagian informasi di media telah diorganisir untuk mendapatkan keuntungan dan kekuasaan (Thoman & Jolls, 2018). Sesuai dengan inti literasi media bahwasanya konsep isu hoaks di kalangan masyarakat Desa mencakup empat adegan yang telah dianalisis. Dari keempat adegan tersebut sesuai dengan konsep inti literasi media dimana informasi. Dimana produk informasi pada sebuah media diciptakan oleh individu yang memuat dua hal yaitu sadar dan tidak dasar terkait apa yang harus dimasukkan dan dituliskan pada informasi yang akan disebarkan. Seperti pada adegan Yu Sam yang menanyakan hubungan Fikri dan Dian dimana sebagai konsumen hanya melihat, membaca, dan mendengar informasi yang disajikan di media sehingga perlunya literasi media yang berjalan beriringan dengan peran masyarakat. Kemudian merujuk pada konsep selanjutnya bahwasanya informasi dikonstruksikan melalui berbagai serangkaian proses untuk dapat sampai ditangan masyarakat. Seperti halnya film pendek Tilik tidak luput dari proses konstruksi kreatif berbagai unsur diantaranya seni musik, seni rupa, seni suara, teater serta teknologi dengan kekuatan gambar berdasarkan bentuk visualisasinya. Hoaks pemilu menjadi permasalahan krusial yang perlu untuk diatasi karena merusak pikiran masyarakat, menciptakan fragmentasi sosial, dan merusak citra lawan politik. Penyelenggaran Pemilu dan stakeholder perlu adanya penyusunan strategi untuk menangani hoaks yang cepat berkembang terutama di media sosial dan internet. Hoaks Pemilu menjadi ancaman nasional yang menimbulkan gangguan pada berbagai aspek seperti pertahanaan keamanan, ideologi politik, serta moral masyarakat. Dengan penanganan hoaks tentunya membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak dengan mencari sumber berita hoaks, menekan dan memberhentikan hoaks, serta memberikan literasi media yang benar kepada masyarakat. Karakter utama yang menghidupkan jalan cerita menjadi penyebar hoaks sebagai akibat dari melancarkan suatu kepentingan tertentu. Informasi hoaks digunakan untuk menggiring opini masyarakat terhadap suatu masalah baru hingga memunculkan persepsi sesuai yang diharapkan oleh pembuat hoaks. Sutradara film memberikan adegan kunci yang menjelaskan sosok Dian yang selama ini dibicarakan karena dianggap menarik perhatian dan misterius. Adegan pada konsep ini dianalisis telah mengandung konsep inti literasi media. Adegannya berupa Bu Tejo melabeli Dian sebagai perempuan nakal, asumsi internet yang diyakini selalu benar, pertikaian Bu Tejo dan Yu Ning, kekeliruan informasi yang berakibat kesalahpahaman. Informasi pada internet dikonstruksikan melalui berbagai proses yang kemudian disebarkan kepada masyarakat. Masyarakat mengkonstruksikan hasil pemikiran mereka pada informasi melalui sudut pandang terkait maksud informasi tersebut dengan tujuan akhir membentuk kekuatan pada kreator atau produsen (Thoman & Jolls, 2018). 4.2. Tanda Roland Barthes pada Tokoh Bu Tejo dan Yu Ning terkait Isu Hoaks Secara umum dari segi cerita, film pendek Tilik bercerita rombongan ibu-ibu desa yang sedang menaiki truk pergi menjenguk Bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit. Selama perjalanan sosok Bu Tejo banyak membuka tema perbincangan. Bu Tejo menyebarkan gosip yang disambut oleh Ibu-ibu lain. Dari segala penuturan informasi dari Bu Tejo, terdapat tokoh yang kontra terhadap informasi tersebut. Salah satunya, Yu Ning yang selalu memperingatkan agar tidak menggunakan informasi begitu saja tanpa mengetahui fakta sesungguhnya. Gambar 1. Tokoh – tokoh film pendek Tilik Berdasarkan gambar 1, film ini menampilkan kenyataan secara gamblang dan tegas memotret kebiasaan yang dihadapi oleh masyarakat. Secara tidak langsung film ini memperlihatkan misi yang besar untuk menjelaskan dampak hoaks atau informasi palsu. Tokoh-tokoh utama yang hadir dalam film ini merepresentasikan masyarakat saat ini. Bu Tejo yang melek teknologi memposisikan dirinya sebagai yang paling benar dan Yu Ning sebagai tokoh yang menganggap semua informasi yang disebarkan Bu Tejo perlu di cek kebenarannya terlebih dahulu. Hasil analisis tanda Roland Barthes terkait dengan isu hoaks sebagai berikut. 1. Yu Sam menanyakan hubungan Dian dan Fikri Pada adegan ini Yu Sam tampak mencurigai hubungan antara Dian dengan Fikri karena melihat mereka mengantarkan Bu Lurah menuju rumah sakit. Pada adegan ini, tokoh Yu Sam merepresentasikan orang yang mempunyai tingkat rasa penasaran yang tinggi atas kehidupan orang lain. Tokoh tersebut juga larut pada informasi hoaks yang disampaikan oleh tokoh Bu Tejo. Sehingga dapat dimaknai bahwa tokoh Yu Sam tidak memiliki kemampuan literasi media untuk menganalisis informasi yang didapatkan. Makna denotasi dalam adegan ini adalah obrolan antara Bu Tejo dan Yu Sam tentang kecurigaan hubungan mereka. Adapun makna konotasi dalam adegan ini adalah penyebaran informasi yang menimbulkan prasangka terhadap Dian, baik itu benar maupun tidak. Konstruksi mitos pada adegan ini memperlihatkan bahwa contoh dalam kehidupan sehari-hari ketika seorang pria dan wanita bersama akan menimbulkan prasangka dan fitnah berlebih yang akan menduga mereka menjalin suatu hubungan. Seperti yang terjadi pada Dian dan Fikri yang dianggap memiliki hubungan khusus yang sebenarnya mereka tidak memiliki hubungan lebih dari sekadar berteman. Hal ini mendorong masyarakat lain untuk membuat persepsi dan tanggapan terkait apa yang dilihat. Fanaqi & Chairunnisa (2020) berpendapat bahwa informasi yang beredar dapat menggiring berbagai opini dengan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. 2. Bu Tejo membicarakan pekerjaan Dian Adegan ini mengandung makna denotasi yaitu Bu Tejo yang mengeluarkan sebuah gadget miliknya dari dompet untuk memberitahu bukti pekerjaan Dian dari media sosial. Adapun makna konotasi yang terdapat pada adegan ini adalah rujukan informasi yang digunakan oleh Bu Tejo terkait informasi yang ia sebarkan adalah media sosial Facebook dan internet dan hal tersebutlah yang memperkuat opininya mengenai Dian. Hal ini mengkonstruksikan pesan mitos seperti pada adegan diatas yang sesuai dengan kehidupan masyarakat pada umumnya bahwa informasi dari media sosial dengan mudah mengubah pandangan orang lain. Dengan sudut pandang tersebutlah yang menjadikan sebuah keyakinan yang mengarah pada kebenaran yang dianggap fakta tanpa memverifikasi kebenarannya. Pada gambaran adegan tersebut, bahwasanya Bu Tejo tidak memiliki literasi media, dimana faktanya Ia tidak mengevaluasi kembali informasi yang berasal dari Facebook dan internet sebagai sumber informasinya (Popescu, 2020). 3. Kecurigaan Bu Tejo tentang Pekerjaan Dian Makna denotasi adegan ini adalah ibu-ibu yang saling merespons obrolan yang dimulai Bu Tejo. Adapun makna konotasi adegan ini adalah masih berbekal informasi dari Facebook, Bu Tejo selalu mengetahui seluk beluk tentang Dian, dimana informasi tersebut dibacanya melalui berbagai komentar-komentar Netizen. Dari adegan ini dapat menguraikan mitos bahwa suatu postingan pada media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, TikTok yang mempunyai fitur-fitur untuk dimanfaatkan sebagai media komunikasi, hiburan, media untuk mencurahkan dan mengekspresikan kehidupan, serta tak terlepas sebagai ajang pamer atau flexing kebahagiaan, harta, jabatan, dan lain sebagainya. Media sosial seperti ajang kamuflase bagi sebagian orang agar terlihat berbeda (Syania & Luthfi, 2020). Keberadaan media sosial memiliki peran untuk mempengaruhi opini masyarakat. Opini ini berawal dari penyebaran informasi dimana berita fakta dan informasi palsu keberadaanya cukup sulit untuk dibedakan. Informasi yang tidak pasti validitasnya, mampu menyesatkan persepsi masyarakat dengan menyampaikan informasi palsu sebagai kebenaran. Akibatnya informasi tersebut membuat masyarakat menjadi curiga bahkan membenci suatu individu atau kelompok tertentu 4. Yu Ning mengingatkan kejadian penipuan obat herbal Makna denotasi dalam adegan tersebut adalah pengambilan gambar dari belakang truk yang memperlihatkan Ibu-ibu sedang berdiri dan asik mengobrol serta Yu Ning berpesan kepada Ibu-ibu desa untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi informasi dari internet. Pada adegan ini, ditinjau secara konotasi memperlihatkan bahwa informasi dalam internet mengiklankan penggunaan obat herbal maupun obat lain di media, yang belum terbukti akan uji klinis dan informasi tersebut cenderung menyesatkan. Hal tersebut menguraikan mitos bahwa banyaknya kasus yang terjadi mengenai iklan obat herbal yang ternyata memuat informasi hoaks yang berakibat fatal ketika dengan mudah dipercaya oleh masyarakat. Iklan hoaks terkait publikasi kesehatan dapat dicirikan dengan penyampaian yang berlebihan dan sifatnya superlatif. Iklan hoaks obat herbal biasanya mengklaim proses pengobatan atau produk obat yang dijual dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemajuan teknologi dengan canggihnya alat komunikasi dan berkembangnya media sosial membuat siapa saja dapat menciptakan berita. Setiap individu atau kelompok dengan mudahnya membenarkan dan mempercayai informasi yang ditayangkan melalui media sosial yang mengakibatkan rentan terjadinya hoaks (Qadri, 2020). Pengaruh dimana informasi dikonsumsi menjadi sebuah aspek yang perlu diperhatikan karena sumber informasi harus dapat dipercaya untuk dijadikan referensi. Penggunaan media sosial sebagai sumber informasi, harus memperhatikan prinsip periksa dan verifikasi sebelum mempercayai informasi tersebut. 5. Bu Tejo memberikan amplop kepada Gotrek Makna denotasi dalam adegan tersebut adalah Bu Tejo yang memberikan sebuah amplop berisi uang kepada Gotrek. Adapun makna konotasi adegan ini adalah pemberian amplop kepada Gotrek yang diyakini sebagai uang mahar dari Pak Tejo untuk mencalonkan diri sebagai Lurah, dengan adanya pemberian mahar dimaksudkan dapat membantu menjadi tim sukses untuk mendukung Pak Tejo. Pesan tersebut mengkonstruksikan mitos bahwa segala pesan yang disampaikan memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dalam dunia politik, hal seperti ini dikenal dengan politik uang atau uang mahar. Tindakan ini dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menyuap, mendukung, dan membeli suara pemilih demi kepentingan politik bagi dirinya sendiri. Seperti pada dinamika pemilihan Kepala Daerah yang masih diwarnai oleh isu pemberian mahar politik kepada partai politik pengusung calon Kepala Daerah. Pemilu menjadi bentuk nyata perwujudan demokrasi dalam Pemerintahan Daerah, namun pada kenyataanya implementasi lapangan yang masih menunjukkan adanya fenomena yang merusak citra pemilu seperti politik uang, mahar pemilu, ketidaknetralan aparatur penyelenggara hal ini sering diwujudkan dalam bentuk aksi yang menghalalkan segala cara dengan memicu konflik dan anarkisme massa (Farida, 2019). 6. Bu Tejo membicarakan Bu Lurah karena sakit-sakitan Makna denotasi pada adegan ini dapat terlihat ketika Bu Tejo sedang mengobrol disebelah Truk. Ditinjau dari makna konotasi adegan ini adalah informasi terkait Bu Lurah memang memiliki cukup unsur kebenaran berdasarkan fakta obyektif. Informasi yang disebutkan Bu Tejo mengkonstruksikan mitos bahwa pada kehidupan bermasyarakat, persepsi tentang janda atau single parents memunculkan pandangan negatif dan membentuk stereotipe dimana posisi tersebut menjadi aib yang harus dibatas geraknya (Rahayu, 2018). Status janda seringkali diremehkan dan mendapatkan ketidakadilan gender. Adanya persepsi terhadap janda termasuk dari akibat adanya globalisasi yang signifikasi pada perubahan pikiran manusia yang memaknai status sosial pada kategori berbeda. Informasi yang beredar pada adegan Tilik tersebut memiliki kebenaran, namun disisi lain terdapat maksud tersendiri dalam menyebarkan informasi seperti untuk menjatuhkan pihak lain dan menguntungkan kepentingan pribadi. Tujuan ini dimaksudkan untuk menciptakan sisi negatif pihak rival dengan berbagai informasi yang telah disebarkan. Informasi yang belum terbukti kebenarannya sudah menjadi bagian dari politik dan tidak bisa dipisahkan. Informasi hoaks secara sengaja untuk memprovokasi masyoritas atau masyarakat. Pada adegan ini dapat merepresentasikan jika Bu Tejo tidak memiliki kemampuan literasi media sehingga Ia dengan mudah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya. 7. Bu Tejo mengajukan pergantian Lurah Makna denotasi dalam adegan ini adalah pergerakan tangan Bu Tejo ketika berbicara dan memperlihatkan perhiasan ditangannya. Adapun makna konotasi pada adegan ini adalah Bu Tejo membicarakan kekurangan Bu Lurah sebagai Lurah saat ini yang informasi tersebut bersumber dari fakta obyektif. Hal tersebut kemudian dapat mengkonstruksikan mitos bahwa informasi yang diperbincangkan dalam masyarakat tidak sedikitnya tentang bentuk kekerasan verbal yang dapat merugikan pihak lain. Kekerasan verbal ini cenderung dibungkus dengan candaan dengan seolah menghidupkan suasana dan menekankan topik pada seseorang. Kekerasan verbal sebagai pelecehan psikologi yang melibatkan penggunaan bahasa lisan untuk mengejek, memanipulasi, dan menghina orang lain. Dengan adanya informasi malinformasi tersebut, ketika informasi yang benar digunakan di luar konteks yang seharusnya, informasi yang benar dapat berfungsi sebagai informasi yang berpotensi berbahaya (Rahmanian, 2022). 8. Spekulasi Bu Tejo terkait kesehatan Bu Lurah Dalam adegan diatas memperlihatkan bahwa Bu Tejo berspekulasi jika Bu Lurah sering sakit karena memikirkan anaknya yang memiliki hubungan dengan Dian. Lebih lanjut Bu Tejo beropini jika Dian merupakan orang yang aneh karena sudah berumur namun tidak kunjung menikah padahal semua temannya sudah menikah. Makna denotasi adegan ini menunjukkan bahwa ibu-ibu berjongkok ketika melewati kantor polisi. Adapun makna konotasi pada adegan ini adalah Bu Tejo yang selalu memberikan label kepada tokoh Dian sebagai perempuan nakal. Makna konotasi tersebut mengkonstruksikan mitos bahwa contoh dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan ketika wanita yang sudah berumur tidak kunjung menikah akan membentuk persepsi negatif yang diberikan oleh lingkungan sosial. Sikap masyarakat Indonesia yang menempatkan menikah dan memiliki anak sebagai prioritas hidup wanita. Sesuai pada adegan tersebut, jika perempuan yang sudah matang secara umur namun belum menikah biasanya mengubah orientasi tujuan hidup mengarah pada pekerjaan, karir, dan kesenangan pribadi (Rachman et al., 2023). 9. Bu Tejo melabeli Dian sebagai perempuan nakal Pada adegan ini menampilkan makna denotasi, Bu Tejo yang berdiri ditengah-tengah Ibuibu lain dengan berpegangan sebuah tali berwarna biru. Makna konotasi pada adegan ini menunjukkan Bu Tejo dan Yu Ning saling berdebat ketika truk sedang melaju di jalan menuju rumah sakit terkait dengan segala informasi yang belum tentu kebenarannya tentang Dian sebagai subjek gosip. Sebagaimana informasi tersebut ditujukan kepada Ibu-ibu lain untuk berjaga-jaga dari Dian yang dianggap dapat mengancam keutuhan rumah tangga orang. Adapun pada adegan ini menguraikan mitos bahwa pada kenyataannya setiap orang dapat mengunggah postingan pada media sosial, namun disisi lain hal tersebut akan menimbulkan rasa penasaran orang lain terhadap apa yang telah kita posting. Informasi yang disuguhkan seseorang dapat menggiring opini orang lain dengan memvalidasi pernyataan yang disampaikan (Rahmadhany et al., 2021). Seperti pada adegan yang menganggap Dian wanita tidak benar karena postingan foto yang ditemukan oleh Bu Tejo dan masyarakat lain tanpa mengetahui kebenarannya. Dari tanda tersebut, menyampaikan makna bahwa Bu Tejo tidak memiliki kemampuan literasi media karena tokoh tersebut selalu mempercayai segala postingan informasi di media sosial. Kemunculan berbagai informasi membentuk persepsi masing-masing individu dengan opini baru yang muncul kemudian dapat menggiring seseorang dalam persepsi yang baru. 10. Pertikaian Bu Tejo dan Yu Ning Adegan ini menunjukkan makna denotasi yaitu pertikaian kedua tokoh yang berpegang teguh pada argumen mereka. Makna konotasi yang diperoleh dari adegan ini adalah banyaknya informasi yang disebarkan di internet dan media sosial membuat penggunanya harus lebih berhatihati dalam mengkonsumsi sajian informasi (Syania & Luthfi, 2020). Hal tersebut kemudian dapat menguraikan mitos bahwa banyak kasus penyebaran informasi hoaks yang bersumber dari internet dan media sosial. Media sosial menjadi salah satu layanan di internet yang banyak diakses oleh masyarakat. Media sosial menjadi suatu wadah untuk menyebarluaskan informasi baik informasi mengenai diri sendiri maupun informasi yang bersifat umum. Tidak jarang dengan adanya sharing informasi atau berbagi informasi di media sosial suatu permasalahan atau data pribadi seseorang menjadi pusat perhatian di dunia maya. Seseorang mempunyai keacenderungan menyukai konten atau informasi yang memperkuat kepercayaan atau ideologi diri. Sehingga rentan adanya penyebaran informasi hoaks yang sesuai dengan pandangan pribadi. Literasi media mengajarkan audiens sebagai penerima informasi maupun sebagai komunikator untuk memiliki kemampuan menganalisa ketika mereka dihadapkan dengan informasi di media. 11. Kekeliruan informasi yang berakibat kesalahpahaman Adegan ini menunjukkan makna denotasi yaitu rombongan Ibu-ibu yang tiba di Rumah sakit dan turun dari truk. Makna konotasinya yaitu penyebaran informasi yang tidak akurat dan tidak tepat serta tidak adanya upaya untuk melakukan konfirmasi atau cek kebenaran informasi yang disampaikan dapat menyebabkan kesalahpahaman. Hal tersebut dapat mengkonstruksikan mitos bahwa informasi yang ternyata keliru dikomunikasikan kepada orang lain bisa mengakibatkan kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan. Seperti pada kehidupan sehari-hari, bahwa kesalahan mengambil keputusan dapat disebabkan oleh informasi yang ternyata salah dan mempengaruhi kehidupan selanjutnya. Pengkomunikasian informasi dikatakan penting dimana dengan informasi yang benar, disajikan dengan cara yang dapat dimengerti bukan tidak mungkin bisa mendapatkan sebuah keputusan penting dalam suatu permasalahan. Terjadinya kesalahpahaman dalam komunikasi perlu diminimalisir oleh komunikator dan komunikan untuk meningkatkan kualitas informasi agar terhindar dari kesalahpahaman dalam menangkap pesan dan menafsirkannya. Seperti halnya platform media seperti Twitter, Facebook, YouTube, dan Instagram memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi, akan tetapi mereka juga dapat mempercepat penyebaran informasi yang salah. Platform media sosial saat ini dipenuhi dengan informasi yang salah, sehingga menyulitkan masyarakat untuk menentukan informasi mana yang benar dan salah (Lestari & Dwijayanti, 2020). 12. Asumsi internet yang diyakini selalu benar Makna denotasi bahwa perdebatan antara Bu Tejo dan Yu Ning yang masih melanjutkan perdebatan mereka di atas truk yang melaju. Adapun makna konotasinya adalah sosok Bu Tejo yang digambarkan selalu mempercayai informasi bersumberkan dari internet tanpa memilahmilahnya terlebih dahulu. Hal inipun telah menjadi kebiasaan anggota kelompok masyarakat lain dalam film tersebut. Sehingga dapat menguraikan mitos bahwa contoh dalam kehidupan seharihari yang bisa ditemukan penggunaan internet dengan intensitas tinggi dan yang berlebihan serta tidak terkontrol menyebabkan banyak kerugian salah satunya dapat mengubah orientasi masyarakat dalam menerima dan menggunakan informasi. Internet menjadi sumber informasi yang paling banyak digunakan untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Melalui penggunaan internet masyarakat dapat mengakses berbagai informasi sesuai dengan kebutuhan (Suranny, 2017). Berdasarkan pada tanda tersebut, memberikan makna bahwa Yu Ning sebagai salah satu tokoh yang selalu berpikir kritis dalam menanggapi informasi yang ada di internet dan sosial media. Sosok tersebut tidak gegabah dalam menyikapi informasi yang beredar, hal ini kemudian sebagai bentuk literasi media dimana sikap kritis atas informasi diperlukan agar masyarakat tidak hanyut dalam arus informasi hoaks yang dapat merugikan berbagai pihak. 4.3. Upaya Film Pendek Tilik menanggapi Isu Hoaks Gambar 2. Penyebaran Informasi antar Ibu-ibu Berdasarkan pada gambar 2 di era digital, masyarakat terlalu percaya dengan internet. Dengan adanya perkembangan teknologi internet melancarkan distribusi isu hoaks ke segala arah yang dapat dirasakan masyarakat pedesaan. Sejalan dengan pendapat informan ahli mengatakan bahwa, “Film ini membahas isu sosial budaya dan isu literasi. Edukasi tentang pentingnya literasi media akan memberikan efek kepada masyarakat agar selalu mengevaluasi informasi yang ada. Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup, mungkin lebih mudah untuk mereka sadar dan aware bahasan topik yang dibahas, namun untuk masyarakat yang terbatas di pendidikan akan rasa masih kurang. Masyarakat perlu memiliki 6 standar intelektual yaitu clarity, accuracy, relevancy, deepth, breadht, dan logic yang harus dipakai seluruhnya untuk menjadikan sebuah informasi itu benar atau tidak.” (Informan ahli) Informan ahli tersebut berpendapat bahwa film ini secara langsung mencerminkan budaya masyarakat mengunjungi kerabat menjadi tradisi yang selalu dilakukan. Cerita yang digambarkan berpusat pada tokoh utama yang menyebarkan informasi hoaks melacak sejauh mana masyarakat menerima informasi tersebut. Film ini pula membahas terkait adanya isu hoaks dan literasi media untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya literasi media agar dapat mengevaluasi informasi yang ada di internet dan media sosial. Literasi media menjadi proses berpikir kritis dalam mengkonseptualisasi, menerapkan, dan mengevaluasi dengan aktif terhadap informasi. Lebih lanjut, informan ahli berpendapat jika masyarakat perlu memiliki 6 standar intelektual untuk berpikir kritis seperti kejelasan (clarity), ketepatan (accuracy), ketelitian (precision), relevansi (relevance), kedalaman (depth), keluasan (breadth), dan logis (logic).

Conclusion

Berdasarkan uraian hasil analisis representasi literasi media dalam film pendek Tilik dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes, memperlihatkan sebuah usaha dari film pendek ini untuk merepresentasikan literasi media sebagai upaya menanggapi penyebaran informasi hoaks. Karakter Bu Tejo digambarkan sebagai pribadi yang gemar menggunakan sosial media Facebook dan Internet untuk menyebarkan informasi hoaks yang menggunakan bukti untuk meyakinkan lawan bicaranya. Tokoh tersebut menganggap bahwa semua informasi yang berasal dari internet dan media sosial adalah sebuah kebenaran. Sehingga dapat dipahami jika Bu Tejo adalah sosok yang tidak memiliki kemampuan literasi media. Sedangkan tokoh Yu Ning adalah tokoh yang memiliki kemampuan literasi media yang cukup bagus karena selalu berpikir kritis atas informasi yang diterima dari tokoh lain. Ditemukan tiga tema besar yang mengarah pada representasi literasi media sebagai upaya preventif penyebaran hoaks pada film pendek Tilik yakni, representasi literasi media terhadap lima konsep inti literasi media, tanda Roland Barthes pada tokoh Bu Tejo dan Yu Ning untuk menganalisis literasi media yang direpresentasikan melalui makna denotasi dan konotasi yang membangun mitos. Kemudian yang kemudian dari dua tema tersebut munculah tema ketiga yaitu upaya film pendek Tilik menanggapi isu hoaks. Makna film untuk mengedukasi masyarakat Indonesia untuk memotivasi audiens dengan lebih kritis dalam mengkonsumsi informasi dari internet. Pesan yang disampaikan melalui kejadian tersebut adalah berusaha untuk memberikan edukasi pada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan berita atau kabar yang belum tahu kebenarannya. Penyebaran informasi hoaks dalam film ditampilkan secara terstruktur sehingga mampu membuat penonton menyadari bahwa hoaks sebagai suatu fenomena sosial yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk mengetahui bagaimana cara memverifikasi informasi, memeriksa sumber, dan membandingkan versi berbeda dari informasi yang sama untuk dapat mendeteksi bias.