EFISIENSI KEBUTUHAN PEMUSTAKA DENGAN ADANYA TEKNOLOGI INFORMASI PERPUSTAKAAN
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Penggunaan teknologi informasi perpustakaan sebagai penyedia sumber informasi, yang mana terus dituntut dari hari ke hari sistem dan layanannya lebih baik lagi yang tujuannya tidak terlepas untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Penggunaan teknologi informasi pada perpustakaan dirasa akan menciptakan efisiensi kebutuhan pemustaka. kebutuhan akan informasi yang merupakan implikasi dari kegelisahan manusia untuk untuk memecahkan masalah. Penggunaan TI pada perpustakaan pemustaka dapat mengakses sendiri artikel-artikel yang dikehendaki, tidak butuh waktu lama artikel yang diinginkan didapatkan. Perpustakaan berbasis teknologi informasi, pengolahan data dapat diselesaikan dengan cepat.
Abstract
The use of library information technology as a provider of information sources, which continues to be demanded from day to day for better systems and services whose purpose cannot be separated to meet the needs of users. It is felt that the use of information technology in the library will create efficiency in user needs. need for information which is an implication of human anxiety to: to solve problems. The use of IT in the library users can access the desired articles themselves, it doesn't take long for the desired articles to be obtained. Information technology-based library, data processing can be completed quickly
Keywords:
User Needs
· Library Information Technology
Introduction
Berkembangnya teknologi mempercepat arus penyebaran informasi. Hal ini tentunya merupakan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat saling bertukar infomasi dan menyebarkan informasi. Dalam perkembangannya, yang dikenal dengan teknologi informasi menjadi instrumen baru di dunia digital untuk mempermudah akses saling bertukar informasi dan menyebarkan informasi. Seakanakan tidak berjarak informasi di seluruh pelosok dunia dapat dengan mudah dan cepat diketahui. Kemudian, melihat kepada perpustakaan sebagai penyedia sumber informasi, perpustakaan tentunya terus dituntut untuk mengembangkan sistem dan layanannya untuk mempermudah akses pemustaka. Apalagi melihat kepada zaman sekarang kebutuhan akan informasi yang meningkat menjadi keharusan bagi perpustakaan untuk mempermudah akses sebar dan menyebarkan informasi. Selain itu, pemustaka sendiri tentunya juga menuntut kecepatan layanan dan ketepatan informasi yang diberikan dengan menyediakan perangkat penelusuran informasi untuk memudahkan menemukan koleksi yang dimiliki perpustakaan. (Rahmawati, 2017: 126) Penggunaan teknologi informasi menjadi hal yang penting bagi perpustakaan. Hal demikian, selain untuk mengikuti perkembangan zaman yang terus bergerak maju mempermudah kehidupan manusia untuk mendapatkan akses informasi juga kebutuhan manusia yang terus menuntut keefisienan di dalam hidup untuk mendapatkan pengetahuan baru melalui perpustakaan yang memiliki berbagai koleksi informas; baik itu melalui buku, jurnal, makalah, dan lainlain sebagainya. Pemustaka sebagai orang yang mengunjungi perpustakaan tentu memiliki item-item kebutuhan terhadap perpustakaan. Mengetahui item-item tersebut tentu merupakan hal yang penting untuk kemudahan akses pemustaka menemukan informasi yang diinginkannya. Perpustakaan yang semakin hari semakin bagus sistem dan layanannya tentu tujuannya adalah untuk kemudahan pemustaka itu sendiri. Berdasarkan permasalahan di atas, mengetahui kebutuhan pemustaka menjadi hal yang penting sebab pemustakalah tujuan didirikannya perpustakaan. seberapa pentingkah sebenarnya mengetahui kebutuhan pemustaka terhadap perpustakaan, hal seperti ini tentu perlu untuk dikaji. Juga dengan adanya teknologi informasi perpustakaan bagaimana efisiensi kebutuhan pemustaka yang diciptakannya, menjadi hal yang patut pula untuk dikaji. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang di atas, pokok permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian ini yaitu: 1. Apa itu kebutuhan kebutuhan pemustaka? 2. Bagaimana efisiensi kebutuhan pemustaka dengan adanya teknologi informasi perpustakaan? Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas, maka dapat dikatakan bahwa penelitian ini memiliki dua tujuan, sebagai jawaban dari permasalahan yang telah dirumuskan, yaitu: 1. Untuk mengetahui apa itu kebutuhan kebutuhan pemustaka. 2. Untuk mengetahui efisiensi kebutuhan pemustaka dengan adanya teknologi informasi perpustakaan.
Discussion
A. Mengenal Teknologi Informasi Perpustakaan Sebagaimana yang telah banyak diuraikan tentang teknologi informasi yang mempermudah akses penyebaran informasi, yang dikuatkan dengan perkataan Marshall McLuhan, seperti yang dikutip dari jurnal Teknologi Infomasi dan Fungsi Kepustakaan menyebut bahwa “dunia diibaratkan sebagai suatu perkampungan sejagat atau global village, karena memang informasi di suatu tempat dapat diakses dengan mudah pada daerah lain di dunia ini.”(Rodin, 2014: 1) Dari kutipan tersebut dapat dipahami bahwa informasi apa saja dapat diketahui oleh manusia dengan mudahnya bahkan jika itu tentang kondisi di ujung dunia sekalipun. Hal demikian bukanlah merupakan sesuatu hal yang mustahil, dan tidak hanya dalam bentuk tulisan melainkan juga gambar serta video. Pada awalnya, informasi didapatkan lewat bahasa, maka bahasa disebut dengan teknologi. Dengan adanya TI informasi berkembang melalui tulisan, gambar maupun video yang didapat dengan cepat dan dapat tersimpan lama (Ishak, 2008: 88) Perkembangan cara mendapatkan informasi ini tentu tidak terlepas dari keinginan mendapatkan informasi yang telah menjadi kebutuhan manusia. Kebutuhan mendapatkan informasi merupakan implikasi dari kegelisahan manusia untuk menemukan jawaban atas suatu pertannyaan, mencari kebenaran, ataupun untuk memecahkan masalah, bahkan dalam mengambil keputusan seringkali menggunakan informasi sebagai dasarnya sehingga pencarian informasi tersebut lamban laun berubah menjadi kebutuhan. (Tjiptasari dan Ridwan, 2017: 61) Lebih jelas dalam dalam pandangan Wilson kondisi yang menyebabkan munculnya kebutuhan informasi yang dikutip dari jurnal Kebutuhan Informasi Pemustaka dalam Teori dan Praktek yaitu pada saat pemustaka menemui suatu masalah yang belum dapat dicari solusinya secara pribadi, sehingga pemustaka tersebut memerlukan informasi dari sumbersumber informasi di luar dirinya. (Fatmawati, 2015: 4) Tanpa disadari saat pemustaka mencari informasi di perpustakaan itu berarti mereka sedang berusaha memenuhi kebutuhan informasi yang diinginkan. Atau mencari pengetahuan yang belum dipunyai untuk memenuhi pengetahuan yang diinginkan. (Fatmawati, 2015: 5) Mengkaji perkembangan mendapatkan informasi dengan adanya teknologi informasi sangat berhubungan dengan peran perpustakaan. Sebab perpustakaan sebagai kekuatan dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan, tempat rujukan bagi para pencari ilmu dan pengembangan karya-karya ilmiah. Dengan digunakannya teknologi informasi pergeseran kebudayaan berkembang seiring dengan meningkatnya minat untuk menulis, mencetak, mendidik dan kebutuhan manusia akan informasi. (Rahmawati, 2017: 127) Pada zaman sekarang, penggunaan teknologi informasi pada perpustakaan telah menjadi ukuran perkembangan perpustakaan dan bukan lagi dari skala ukuran lain seperti besarnya gedung perpustakaan yang dimiliki, jumlah koleksi yang tersedia maupun jumlah penggunanya. Kebutuhan akan teknologi informasi sangat berhubungan dengan peran perpustakaan sebagai kekuatan dalam penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan. (Zulaikha, 2011: 86) Lalu apa itu yang dimaksud dengan teknologi informasi dan teknologi informasi perpustakaan? Istilah teknologi informasi mulai popular di akhir dekade 70-an ketika penggunaan komputer mulai menyebar.(Triningsih, 2017: 2) Teknologi infomasi atau yang disingkat dengan TI merupakan “perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang memungkinkan masyarakat menciptakan, mengumpulkan, konsolidasi dan mengkomunikasikan informasi dalam format multimedia dan berguna untuk berbagai kepentingan masyarakat.”(Rodin, 2014: 2) Atau sederhananya TI dimaksud dengan pemanfaatan hardware dan software yang digunakan untuk penyimpanan (store), penemuan kembali (retrieve), dan memanfaatkan (use) informasi.(Ishak, 2008: 87-88) Perkembangan teknologi informasi dengan segala konsekuensinya sedang tumbuh dan berkembang deras. Peradaban ini menurut Toffler yang dikutip dari Rustam Aji telah memba-wa gaya baru bagi hampir semua kehidupan manusia. Peradaban itu telah dan akan mengubah cara kerja, cara bergaul, dan sebagainya pada semua lapisan masyarakat (Aji, 2016: 48) Perkembangan teknologi informasi tersebut meliputi perkembangan infrastruktur TI, seperti hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage), dan teknologi komunikasi. (Rodin, 2014: 1) Sementara perpustakaan dipahami sebagai suatu lembaga yang mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan informasi dari sejak menghimpun, mengolah sampai mendistribusikan informasi kepada para penggunanya.(Sunu, 2014: 35) Dengan demikian yang dimaksud dengan teknologi informasi perpustakaan yaitu “teknologi elektronik yang merupakan gabungan antara komputer dengan telekomunikasi untuk pengadaan, pengolahan, penyimpanan, temu balik dan penyebaran informasi numeric, tekstual, grafik dan suara berbasis mikroelektronik.”(Rodin, 2014: 2) Penggunaan TI pada perpustakaan tentunya merupakan suatu hal yang penting dalam menunjang kebutuhan masyarakat, khususnya pemustaka. William dan Sawyer dalam jurnal Penerapan Kompetensi TI pada Perpustakaan Praktek Kerja Lapangan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan menyebut bahwa “saat ini TI telah menjadi pakaian secara intelektual dan emosi sehingga kita seolaholah menjadi sebuah pribadi digital.”(Hak, 2013: 1) Ini artinya TI telah menjadi keniscayaan yang dekat dengan manusia. Keberadaannya secara potensial terbukti mampu mempercepat akses penyebaran informasi. Selain itu, menurut Ang Peng Hwa seperti yang dikutip dari jurnal yang sama menyatakan bahwa “dalam beberapa tahun terakhir Asia dan Pasifik telah menjadi kawasan superlatif jika dikaitkan dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), di mana terdapat dua miliar pelanggan telepon dan 1,4 miliar pelanggan telepon seluler di kawasan Asia Pasifik. India dan Cina sendiri mengambil porsi seperempat dari pengguna telepon seluler di dunia pada pertengahan 2008. Kawasan Asia Pasifik juga mewakili 40% pengguna internet dan merupakan pasar broadband terbesar di dunia dengan porsi sebanyak 39% dari total dunia.” (Hak, 2013: 1-2) Data tersebut menunjukkan banyaknya pengguna internet di kawasan Asia Pasifik dan telah telah berlalu 12 tahun lamanya, tentu penggunanyapun semakin bertambah. Ini membuktikan bagaimana pentingnya kolaborasi antara perpustakaan dengan TI guna mengembangkan sistem perpustakaan untuk kemudahan bagi pemustaka itu sendiri. Mengkaji penggunaan TI untuk perpustakaan pada era sekarang jika digunakan dengan baik dan bijaksana akan membantu pertumbuhan dan pengembangan dalam berbagai bidang. Perpustakaan yang menggunakan TI berguna untuk mengautomasikan jasa teknis, menyediakan jasa rujukan dan jasa informasi yang efisien, menjaringkan kegiatan perpustakaan seperti pengkatalogan, kendali resmi atau authority control, pinjam antar perpustakaan dan proyek bibliografi internasional. (Sulistyo-Basuki, 1998:1-2) Selain itu, penggunaan TI di perpustakaan dapat difungsikan sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan, dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. (Ishak, 2008: 89) Alasan lain kenapa penggunaan TI pada perpustakaan harus diterapkan yaitu; tuntutan terhadap jumlah dan mutu layanan perpustakaan, tuntutan terhadap penggunaan koleksi bersama, kebutuhan untuk mengefektifkan sumber daya manusia, tuntutan terhadap efisiensi waktu, keragaman informasi yang dikelola, dan kebutuhan akan ketepatan layanan informasi.(Sunu, 2014 : 35) Dengan demikian, TI sebagai hasil dari perkembangan zaman yang memberikan manfaat bagi perpustakaan penerapannya tentu perlu dipertimbangkan. Perpustakaan terus dituntut untuk dapat beradaptasi agar dapat memberikan pelayanan sesuai dengan perilaku penggunanya, yang serba ingin tepat dan cepat. B. Kebutuhan Pemustaka Pentingkah Mengetahuinya? Kurang lengkap membahas kebutuhan pemustaka tanpa mengambarkan setidaknya sekilas tentang perpustakaan. Perpustakaan dalam pandangan Harrod yang dikutip dari jurnal Pengembangan Perpustakaan melalui Aplikasi Teknologi Informasi dan Peningkatan Partisipasi Mahasiswa menjelaskan bahwa perpustakaan memiliki 4 (empat) pengertian; pertama, perpustakaan bermakna suatu koleksi buku-buku dan bahan karya tulis sastra yang dipelihara sebagai bahan bacaan, pengajaran dan konsultasi. Kedua, perpustakaan bermakna pula tempat, gedung, atau ruangan yang diatur untuk penyimpanan dan penggunaan pustaka, dan lain-lain. Ketiga, perpustakaan juga berarti buku-buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit dengan aneka judul. Keempat, perpustakaan juga berarti koleksi film, foto, dan koleksi bahan non printing (non cetak) seperti pita kaset, pita film hasil kerja komputer, dan program komputer. (Zulaikha, 2011: 87) Sederhananya dalam hemat penulis perpustakaan adalah tempat menemukan informasi dan referensi dari berbagai buku, jurnal, majalah, surat kabar dan lain-lain sebagainya. Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi. (Zulaikha, 2011: 89) Pada perkembangan saat ini, perpustakaan yang berkembang adalah perpustakaan digital. Perpustakaan digital merupakan perpustakaan alternatif yang dapat merespon setiap kebutuhan pencari informasi. (Widayanti, 2015: 131) Dalam konteks manajemen perpustakaan digital menjalankan tugas dalam menghimpun, mengelola, melestarikan dan melayankan koleksi kepada masyarakat berbasis pada koleksi digital yang dapat diakses secara online melalui jaringan. (Hartono, 2017: 78) Selanjutnya, perpustakaan secara umum tidak akan dapat disebut sebagai perpustakaan jika tidak memiliki beberapa unsur. Unsur-unsur perpustakaan ini saling kait mengkait yang menjadi elemen penting bagi perpustakaan. Adapun unsur-unsur tersebut yaitu; pertama, ada masyarakat yang akan menggunakan perpustakaan. Kedua, memiliki bahan pustaka yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketiga, memiliki gedung atau ruang dan fasilitas lainnya sebagai tempat penyimpanan bahan pustaka serta tempat pembaca untuk para pengunjung. Keempat, memakai sistem manajemen yang baik untuk mengatur bahan pustaka kepada masyarakat. (Zulaikha, 2011: 87) Dari keempat unsur di atas, salah satu unsur yang terdapat di dalamnya adalah masyarakat yang menggunakan perpustakaan atau disebut pemustaka. Pada dasarnya perpustakaan tidak akan ada artinya apabila tidak ada pengunjung yang memanfaatkan atau menggunakan bahan pustaka/koleksinya, (Mubasyaroh, 2016: 89) sehingga mengetahui kebutuhan pemustaka sebagai unsur yang penting dari perpustakaan menjadi hal yang harus diketahui. Pemustaka sebagai pengguna perpustakaan tentu memiliki kebutuhan tertentu akan perpustakaan. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan informasi. Mengkaji ke dalam konteks umum, menurut Line yang dikutip dari jurnal Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pemustaka Nonkaryawan di Perpustakaan Bank Indonesia Semarang menjelaskan bahwa kebutuhan informasi adalah sesuatu yang sebaiknya dimiliki seseorang dalam melakukan pekerjaannya penelitian, pendidikan, dan juga sebagai hiburan. (Damaiyanti, 2015: 4) Setiap pemustaka pasti mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda-beda. Kebutuhan informasi pemustaka yang beraneka ragam perlu diimbangi oleh kesiapan perpustakaan untuk menyediakan sumber informasi yang memadai dan mampu mengakomodir keberagaman kebutuhan mereka, (Fatmawati, 2015: 4) sehingga tidak salah jika Johnson mengatakan seperti yang dikutip oleh Dina Rahma Ningrum, dkk. bahwa kajian kebutuhan pemustaka merupakan proses yang membutuhkan kontak dekat dengan pemustaka, yang biasanya dilakukan oleh penyeleksi. (Ningrum, dkk., 2015: 784) Setiap perpustakaan mempunyai kekhasan dalam hal penyediaan sumber informasi yang berupa koleksi sesuai dengan identitas lembaganya. Begitu juga dengan siapa pemustaka yang akses, juga sangat tergantung pada kesesuaian antara sumber informasi yang disediakan dengan kebutuhan informasi yang diinginkan pemustaka. Kebutuhan pemustaka sendiri sebenarnya dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik pemustakanya, sehingga informasi apa saja yang dibutuhkan akan sangat tergantung dengan profesinya. (Fatmawati, 2015: 7) Makanya, peran perpustakaan sangat penting dalam menyediakan sumber informasi yang dibutuhkan pemustaka. Untuk mengetahui kebutuhan pemustaka perlu adanya “analisis kebutuhan pemustaka” dengan parameter yang lengkap, detail, dan benar. Tidak ada alasan bagi pustakawan untuk tidak melakukan kajian tentang kebutuhan pemustakanya. Cakupan kajian bisa berupa; sumber informasi yang dibutuhkan, media informasi yang sering digunakan, jenis informasi yang diinginkan, sampai pada fasilitas penelusuran informasi yang membuat pemustaka puas maupun sangat puas. (Fatmawati, 2015: 7) Perkembangan zamanlah yang menimbulkan terjadinya perkembangan informasi. Juga perkembangan pengetahuan, ilmu dan teknologi memberikan andil cukup besar pada keragaman informasi yang ada. Selain itu, perkembangan pola pikir pada masyarakat yang mempengaruhi perkembangan kebutuhan akan informasi. Tidak peduli apakah informasi tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan pengguna ataupun tidak. Apakah informasi tersebut tepat guna ataupun merupakan sampah informasi. Pengguna berada di pusaran tersebut. Tepat seperti yang disampaikan oleh Estabrook yang dikutip oleh Tjiptasari bahwa informasi dapat mengurangi ketidakpastian, tetapi juga dapat menambah kebingungan. (Tjiptasari dan Ridwan, 2017: 60) Katz, Guerevitch, dan Haas sebagaimana yang dikutip oleh Yusuf dan Subekti serta penulis kutip dari jurnal Pengaruh Kebutuhan Informasi Pemustaka terhadap Pengembangan Koleksi Buku Tercetak pada Perpustakaan Universitas Brawijaya menyebut tentang faktor-faktor kebutuhan pemustaka akan informasi; (1) kebutuhan kognitif; menjadi kebutuhan yang dipergunakan oleh seseorang untuk memperkuat dan menambah informasi, dan pengetahuan serta pemahaman untuk menguasai lingkungan. (2) Kebutuhan afektif; menjadi kebutuhan yang berkaitan dengan dengan hal yang menyenangkan yang memberi kekuatan estetis, serta pengalaman emosional. (3) Kebutuhan integrasi personal; menjadi kebutuhan untuk penguatan: kredibilitas diri, keperceyaan diri dan status dari seorang individu. (4) Kebutuhan integrasi sosial; menjadi kebutuhan yang dikaitkan dengan keinginan bergabung dengan orang lain. (5) Kebutuhan berkhayal; menjadi kebutuhan untuk pencarian hiburan. (Ningrum, dkk., 2015: 784) Kebutuhan pemustaka akan informasi merupakan kebutuhan inti dari adanya perpustakaan, yangmana lebih lanjut kebutuhan pemustaka akan informasi tersebut menghendaki akan beberapa hal, yaitu; Pertama, kebutuhan akan kecepatan layanan informasi. Kebutuhan ini terkait dengan layanan pustakawan dalam membantu pemustaka untuk menemukan informasi yang hendak dicari olehnya. Misalnya; membantu mencarikan koleksi, jika pemustaka membutuhkan koleksi tetapi tidak menemukannya, maka pustakawan mencarikan solusi koleksi yang serupa. (Oktavianto dan Suliyati, 2017 : 4) Kedua, kebutuhan akan ketepatan layanan informasi. Selain, kecepatan dalam memperoleh informasi, pemakai juga membutuhkan ketepatan informasi yang didapatkannya dari perpustakaan. Pertanyaan-pertanyaan tentang informasi secara spesifik harus bisa dijawab secara spesifik pula. Ketiga, kebutuhan akan keragaman informasi yang dikelola. Pemustaka tentu membutuhkan keragaman informasi sehingga ketika memiliki pertanyaan atau informasi yang dibutuhkan hal demikian tersedia di perpustakaan. Mengacu kepada Standar Nasional Perpustakaan jenis koleksi yang perlu disediakan di perpustakaan yaitu; pertama, koleksi untuk anak, remaja, dan dewasa; koleksi referensi untuk anak, remaja, dan dewasa; koleksi khusus, surat kabar, makalah dan koleksi non cetak. Kedua, jenis koleksi perpustakaan mengakomodasikan semua kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan penyandang cacat. Ketiga, perpustakaan menyediakan koleksi terbitan lokal dan koleksi muatan lokal. Keempat, koleksi perpustakaan terdiri dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kelima, komposisi dan jumlah masing-masing jenis koleksi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pembangunan daerah. (Oktavianto dan Suliyati, 2017: 2) Keempat, kebutuhan akan peminjaman koleksi. Peminjaman koleksi menjadi sebuah tanda berlangsungnya aktivitas perpustakaan. Kegiatan tersebut merupakan hakikat dari tugas dan fungsi perpustakaan, menyebarkan in-formasi dengan biaya sekecil mungkin. Pemustaka dapat terbantu dengan hadirnya layanan peminjaman koleksi di perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasinya. (Erika, 2017: 88) Mengetahui kebutuhan informasi pemustaka, penting menjadi perhatian sehinggapenggelola perpustakaan seyogyanya selalu meningkatkan, memperbaiki layanan kepada pemustaka agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh pemustakanya.(Tjiptasari dan Ridwan, 2017: 58)Perpustakaan sebagai penyedia informasi diharapkan selalu memberikan layanan yang akan terus memenuhi dan memuaskan kebutuhan informasi pemustaka, sehingga tidak ada alasan bagi siapapun merasa kekurangan atau kesusahan mendapatkan informasi. C. Teknologi Informasi Perpustakaan dan Efisiensi Kebutuhan Perpustakaan Pada poin sebelumnya telah panjang lebar diuraikan kenapa pentingnya penggunaan TI pada perpustakaan, dan pada poin ini akan dijelaskan tentang terciptanya efisiensi kebutuhan pemustaka dengan adanya teknologi informasi perpustakaan, sejatinya memang penggunaan TI pada perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan, kualitas pelayanan pada penggunaan atau right information, right user, dan right now.(Ishak, 2008: 87) Maksudnya dengan adanya teknologi informasi perpustakaan diharapkan dapat memunculkan 3 (tiga) elemen penting pada perpustakaan; informasi yang tepat, pemustaka yang baik, dan waktu yang cepat. Dengan adanya teknologi informasi perpustakaan memberikan manfaat pada kebutuhan pemustaka yang menjadi efisien. Keefisienan ini terkait dengan perilaku pemustaka yang selalu menginginkan mendapatkan pencarian informasi serba cepat. Dengan adanya teknologi informasi perpustakaan hal demikian menjadi dapat terwujud, mendapatkan informasi yang up to date, cepat, akurat dan terpercaya yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja. Teknologi informasi memberikan perpustakaan alat bantu komunikasi dan analisis untuk menjalankan kegiatan utamanya dan mengelola informasi dalam skala global. Teknologi informasi merupakan dasar dari produk informasi dan jasa berbasis pengetahuan dan membantu perpustakaan untuk mengelola aset-aset pengetahuan mereka. Teknologi informasi perpustakaan menjadikan kemampuan dalam pengelolaan informasi untuk menghadapi struktur yang ramping, lebih terdesentralisasi dan lebih fleksibel dalam mengatur sistem dan manajemennya. (Yuadi, 2006: 5) Bagaimana efisiensi kebutuhan pemustaka bisa terwujud dengan adanya teknologi informasi perpustakaan terlihat dalam beberapa hal berikut; Pertama, dapat dilihat pada perbandingan perpustakaan yang tidak menggunakan TI dengan perpustakaan yang menggunakan TI. Perpustakaan yang tidak menggunakan TI akan membutuhkan waktu yang lama dalam layanan penelusuran artikel-artikel dan pemustakapun menghargai lamanya waktu penelusuran tersebut. Sementara sekarang, pemustaka menuntut kecepatan dalam hal penelusuran, saat ini penelusuran diinginkan saat ini pula hendaknya ditemukan. Dengan adanya penggunaan TI pada perpustakaan pemustaka dapat mengakses sendiri artikel-artikel yang dikehendaki, tidak butuh waktu lama artikel yang diinginkan didapatkan. Kedua, dengan perpustakaan berbasis teknologi informasi, pengolahan data dapat diselesaikan dengan cepat. Pengolahan data yang dilakukan di komputer, yang mana dari waktu ke waktu komputerpun mengalami perkembangan sehingga kecepetan proses datapun semakin membaik. Dari komputer generasi pertama yang hanya berkemampuan memproses ribuan operasi per detik sekarang sudah memiliki kemampuan milyaran operasi atau bahkan triliunan operasi dalam setiap detiknya. Dengan kemampuan mempersingkat waktu pekerjaan-pekerjaan perpustakaan tersebut membuat pustakawan tidak perlu mempersulit diri dan menghabiskan waktunya untuk satu pekerjaan serta bisa memanfaatkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya. (Yuadi, 2006: 3) Ketiga, dengan penggunaan TI pada perpustakaan sumber informasi dapat diakses melalui smartphone pada waktu dan kesempatan yang terbatas. Pemustaka tidak lagi terikat secara fisik pada jam layanan perpustakaan, di mana pemustaka harus mengunjungi perpustakaan untuk mendapatkan informasi. (Widayanti, 2015: 125-126) Di manapun posisi pemustaka selagimemiliki akses teknologi informasi maka pemustaka dapat mengkakses sumber informasi perpustakaan Keempat, teknologi informasi yang seiring berjalannya waktu terus berkembang memudahkan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka dengan mengembangkan layanan yang tersedia, seperti diberikannya fasilitas komputer yang terhubung dengan jaringan internet dan adanya Online Public Access Catalogue (OPAC) untuk memudahkan pemustaka dalam pencarian bahan pustaka.(Himmah dan Azisi, 2019: 124) OPAC seperti yang diketahui merupakan katalog perpustakaan yang disimpan secara elektronis di dalam pangkalan data bibliografis koleksi perpustakaan pada suatu komputer (server) dan dapat diakses secara langsung melalui komputer lainnya (workstation) yang tersambung melalui suatu jaringan lokal (local area network). Seperti halnya pada katalog tercetak, penelusuran informasi melalui OPAC dapat digunakan untuk mencari topik atau subjek tertentu, mencari judul atau pengarang, dan mengetahui lokasi buku (Yusnimar, 2014 : 44) Lebih lanjut, efisiensi kebutuhan pemustaka dengan adanya teknologi informasi perpustakaan tidak terlepas dari kerjasama antara pustakawan, gedung yang memadai, bahan pustaka, dan manajemen yang baik dari perpustakaan. Sebaik apapun teknologi informasi perpustakaan yang digunakan jika yang terlibat di dalamnya tidak saling bantu membantu, bahan pustaka yang kurang lengkap dan gedung yang tidak memadai serta manajemen yang kurang tepat maka efisiensi itupun sulit terpenuhi. Oleh sebab itu, untuk menciptakan efisiensi kebutuhan pemustaka dengan adanya teknologi informasi perpustakaan diperlukan kerjasama yang baik antar semua belah pihak.
Conclusion
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah yang dipertanyakan di bab pendahuluan, yaitu sebagai berikut; 1. Kebutuhan pemustaka terhadap perpustakaan adalah kebutuhan akan informasi yang merupakan implikasi dari kegelisahan manusia untuk menemukan jawaban atas suatu pertannyaan, mencari kebenaran, ataupun untuk memecahkan masalah, bahkan dalam mengambil keputusan seringkali menggunakan informasi sebagai dasarnya sehingga pencarian informasi tersebut lamban laun berubah menjadi kebutuhan. Kebutuhan pemustaka akan informasi tersebut menghendaki beberapa hal; pertama, kebutuhan akan kecepatan layanan informasi; kedua, kebutuhan akan ketepatan layanan informasi; ketiga, kebutuhan akan keragaman informasi yang dikelola; keempat, kebutuhan akan peminjaman koleksi. Efisiensi kebutuhan pemustaka dengan adanya TI pada perpustakaan yaitu pertama, dengan adanya penggunaan TI pada perpustakaan pemustaka dapat mengakses sendiri artikel-artikel yang dikehendaki, tidak butuh waktu lama artikel yang diinginkan didapatkan. Kedua, dengan perpustakaan berbasis teknologi informasi, pengolahan data dapat diselesaikan dengan cepat. Ketiga, dengan penggunaan TI pada perpustakaan sumber informasi dapat diakses melalui smartphone pada waktu dan kesempatan yang terbatas. Keempat, dengan adanya TI perpustakaan dapat memiliki fasilitas komputer yang terhubung dengan jaringan internet dan terdapatnya sistem Open Public Access Catalogue (OPAC) untuk memudahkan pemustaka dalam pencarian bahan pustaka.