Kembali
16
1
2020 Jurnal Imam Bonjol : Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol 4 · 1 ISSN 2579-3160

PEMELIHARAAN BAHAN PUSTAKA SEBAGAI UPAYA DALAM MERAWAT BAHAN PERPUSTAKAAN

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Perpustakan sebagai sumber belajar dan informasi, tidak akan berarti apa-apa bahkan akan ditinggalkan oleh penggunanya jika produk yang dimilikinya (informasi) tidak dapat dinikmati lagi. Oleh karena itu, koleksi perpustakaan harus dipelihara dengan baik agar tahan lama dan dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Pemeliharaan adalah mengusahakan agar tidak cepat mengalami kerusakan dan pemeliharannya harus dimulai sejak bahan pustaka tersebut diadakan. Pemeliharaan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dilakukan di perpustakaan

Abstract

Libraries as a source of learning and information will not mean anything and will even be left by users if the products they own (information) cannot be enjoyed anymore. Therefore, library collections must be well maintained so that they are durable and can be used by users. Maintenance is trying not to quickly experience damage and its maintenance must be started from the time the library material was held. Maintenance of library materials is one of the most important activities carried out in the library.
Keywords: Maintenance · Library Materials

Introduction

Perpustakan sebagai sumber belajar dan informasi, tidak akan berarti apa-apa bahkan akan ditinggalkan oleh penggunanya jika produk yang dimilikinya (informasi) tidak dapat dinikmati lagi. Oleh karena itu, koleksi perpustakaan harus dipelihara dengan baik agar tahan lama dan dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Pemeliharaan pada prinsipnya berarti melestarikan kekayaan informasi suatu bangsa untuk kepentingan jangka panjang. Sesuai dengan fungsi perpustakaan itu sendiri yakni sebagai tempat penyimpanan informasi dan terkumpulnya berbagai karya manusia suatu bangsa. Bahan pustaka tersebut sangat banyak, baik dalam bentuk tercetak maupun terekam yang setiap waktu berkembang terus, termasuk koleksi perpustakaan. Pemeliharaan adalah mengusahakan agar tidak cepat mengalami kerusakan dan pemeliharannya harus dimulai sejak bahan pustaka tersebut diadakan. Kegiatan ini merupakan bagian integral dalam setiap pengembangan koleksi. Mengingat harga dan nilai informasi yang begitu mahal, maka harus tetap terpelihara dan diusahakan dalam kondisi fisik baik, tidak rusak bila dimanfaatkan, agar informasi yang terkandung di dalamnya tetap mutakhir. Tujuan pemeliharaan bahan pustaka adalah menyelamatkan nilai informasi dokumen, menyelamatkan fisik dokumen, dan mengatasi kendala kekurangan ruang serta mempercepat perolehan informasi, salah satunya dengan membuat dokumen yang tersimpan dalam bentuk CD (compact disc) yang mudah untuk diakses, baik dari jarak waktu dekat maupun jarak jauh, sehingga fungsi dokumen ataubahan pustaka menjadi lebih optimal. Pemeliharaan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dilakukan di perpustakaan. Dengan demikian, dalam melakukan pemeliharaan terhadap bahan pustaka, perpustakaan dituntut mempunyai tenaga pustakawan yang berpengalaman dan terlatih, karena dalam melakukan pemeliharaan bahan pustaka, pustakawan akan menghadapi bermacam musuh perusak dan penghancur. Pustakawan perlu mengetahui penyebab kerusakan bahan pustaka, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan yang cepat dan tepat. Perpustakan yang melakukan layanan secara terbuka, dimana bahan pustaka yang akan dimanfaatkan diambil langsung ke rak oleh pemustaka, sehingga kemungkinan terjadinya kerusakan buku oleh manusia cukup tinggi. Demikian pula karena faktor fisika, kimia, biologi, dan faktor lain. Untuk mengatasi masalah di atas, maka koleksi perpustakaan harus dipelihara dengan baik

Discussion

A. Pengertian Pemeliharaan Bahan Perpustakaan Perpustakaan sebagai salah satu pengelola informasi bertugas mengumpulkan mengolah, menyajikan, dan merawat koleksi untuk dapat dimanfaatkan oleh pemustaka dalam jangka waktu yang lama secara efektif dan efisien. Untuk itu koleksi perlu dirawat dan dilestarikan agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkandung didalamnya agar dapat diwariskan ke generasi yang akan datang (Rahayuningsih 2007:131) Menurut Soetminah pemeliharaan koleksi adalah kegiatan atau mengusahakan agar bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan awet dan terawat dengan baik, tugas ini meliputi: 1. Reproduksi Bahan pustaka yang langka harus dilestarikan dan perlu dibuatkan foto kopi bahan Pustaka yang asli disimpan sementara, foto kopinya dipinjamkan. 2. Penjilidan Perpustakaan perlu menjilid majalah yang sudah lengkap satu volume atau satu tahun supaya tidak berserakan dan mudah hilang dibundel Buku-buku yang jilidannya rusak dan masih mungkin untuk di jilid ulang sehingga dapat dimanfaatkan. Laminasi adalah suatu kegiatan pelestarian bahan pustaka dengan cara menambal kertas buku tersebut. Fumigasi yaitu salah satu cara melestarikan bahan pustaka dengan cara mengasapi bahan pustaka agar jamur tidak tumbuh, dan binatang perusak dapat terbunuh. Penyiangan bahan pustaka adalah pemilihan bahan pustaka yang dinilai tidak bermanfaat bagi perpustakaan (Soetminah 1992:126). Menurut Sutarno pemeliharaan bahan pustaka agar tidak punah, hilang atau disalahguna kan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, karena merupakan bukti-bukti otentik dan sumber penelitian (Sutarno 2005:109). Menurut Karmidi Martoatmodjo pemeliharaan ialah mengusahakan agara bahan pustaka tidak cepat mengalami kerusakan, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan (Karmidi 1993:4). B. Tujuan Pemeliharaan Bahan Pustaka Melestarikan kandungan informasi bahan pustaka dengan alih bentuk menggunakan media lain atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin agar bahan pustaka ini dapat digunakan secara optimal dalam jangka waktu cukup panjang. - Menyelamatkan nilai informasi yang tersimpan dalam buku - Menyelamatkan fisik buku - Mengatasi kendala agar tidak kekurangan ruangan - Mempercepat proses temu kembali informasi yang tepat guna Dengan pemeliharaan yang baik diharapkan bahan pustaka dapat berumur jauh Lebih panjang sehingga perpustakaan tidak perlu membeli bahan pustaka yang sama (Karmidi 1993:5). C. Fungsi Pemeliharaan Bahan Pustaka Fungsi pemeliharaan ialah menjaga agar koleksi perpustakaan tidak diganggu oleh tangan jahil, serangga, atau jamur yang merajalela pada bukubuku yang ditempatkan di ruang yang lembab. 1. Fungsi melindungi: bahan pustaka dilindungi dari serangga, manusia, jamur, panas matahari, air dan sebagainya 2. Fungsi pengawetan: dengan dirawat baik-baik, bahan pustaka menjadi awet, bisa lebih tahan lama dipakai, dan diharapkan lebih banyak pembaca dapat mempergunakan bahan pustaka tersebut. 3. Fungsi kesehatan: dengan pemeliharaan yang baik, bahan pustaka menjadi bersih, bebas dari debu, jamur, binatang perusak, sumber dan sarang penyakit, sehingga pengguna maupun pustakawan menjadi tetap sehat, pemustaka lebih bergairah menbaca 4. Fungsi pendidikan: pengguna perpustakaan dan pustakawan sendiri harus belajar bagaimana cara memakai dan merawat dokumen. 5. Fungsi kesabaran: merawat bahan pustaka ibarat merawat bayi atau orang tua, jadi harus sabar, menghilangkan noda dari bahan pustaka memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi. 6. Fungsi sosial: pemeliharaan tidak bisa dikerjakan oleh seorang diri, pustakawan harus mengikut sertakan pengguna perpustakaan untuk tetap merawat bahan pustaka. 7. Fungsi ekonomi: dengan pemeliharaan yang baik, bahan pustaka menjadi lebih awet, keuangan dapat dihemat. 8. Fungsi kehindahan: dengan pemeliharaan yang baik, penataan bahan pustaka yang rapi, perpustakaan tampak menjadi lebih indah, sehingga menambah daya tarik kepada pembacanya (Karmidi 1993:6). B. Unsur-Unsur Pemeliharaan Bahan Pustaka Berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan bahan pustaka adalah: 1. Manajemennya, perlu diperhatikan siapa yang bertanggung jawab dalam pekerjaan ini. Bagaimana prosedur pemeliharaan yang harus diikuti. Bahan pustaka yang akan diperbaiki harus dicatat dengan baik, apa saja kerusakannya, alat dan bahan kimia yang diperlukan dan sebagainya. 2. Tenaga yang merawat bahan pustaka dengan keahlian yang mereka miliki. Mereka yang mengerjakan pemeliharaan ini hendaknya mereka yang telah memiliki ilmu atau keahlian/ keterampilan dalam bidang ini. 3. Laboratorium, suatu ruang pemeliharaan dengan berbagai peralatan yang diperlukan, misalnya alat penjilidan, lem, alat laminasi, alat untuk fumigasi, berbagai sikat untuk membersihkan debu. 4. Dana untuk keperluan kegiatan ini harus diusahakan dan dimonitor dengan baik, sehingga pekerjaan pemeliharaan tidak akan mengalami gangguan. Tujuan pencegahan kerusakan adalah: - Menghindari kerusakan yang parah - Koleksi yang masih baik dapat terhindar dari kerusakan - Pemeliharaan fisik dan nilai informasi yang terkandung di dalam buku tersebut - Semua pemakai lebih berhatihati dalam memakai buku (Karmidi 1993:7). C. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kerusakan Bahan Pustaka Bahan kertas sebagai bahan utama dari buku merupakan faktor dalam waktu yang tertentu akhirnya akan rusak. Bahan kertas dapat mengalami kerusakan karena geseran mekanis, tersobek, kekeringan, terkena pengaruh cahaya matahari. Bahan kertas ini terbuat dari serat-serat yang mengandung selulosa dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Bahan selulosa ini merusak sebab ia mengandung bahan organik CH dan O, partikel residu zat pemutih yang bereaksi dengan zat asam dan alkali. Bahan kertas dan perekat mengandung zat organik yang merupakan media bagi kehidupan serangga, cendawan tertentu yang dapat merusak kertas ini. Sinar matahari dapat merusak kertas karena proses fotosintesa atau fotoksidasi, terutama karena bekas sinar ultraviolet dari matahari. Kerusakan oleh matahari dapat menyebabkan perubahan warna kertas atau warna tinta cetaknya, atau kertas jadi rapuh. Udara juga mengandung zat asam yang merusak kertas misalnya: unsur-unsur NH3 dan SO2. Udara yang terkena polusi gas yang bersifat asam dan adanya H2O. Suhu atau kelembaban untuk penyimpan bahan pustaka yang ideal 20’C – 21’C dengan kelembaban nisbi sebesar 50% (SulistyoBasuki 1991:273). Kerusakan bahan pustaka secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: a. Faktor fisika b. Faktor biologi c. Faktor kimia d. Faktor lain, manusia dan bencana alam (Karmidi 1993:36). a. Faktor fisika Kerusakan yang disebabkan oleh faktor fisika antara lain karena cahaya yang digunakan dalam menerangi ruang tempat penyimpanan bahan pustaka berasal dari sinar matahari secara langsung dan sinar yang berasal dari cahaya lampu. Sinar-sinar ini mengandung sinar utra violet yang dapat merusak dan memudarkan warna bahan pustaka (Razak 1992:15). Untuk menghindarinya hendaknya diusahakan cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang tempat penyimpanan bahan pustaka dengan memberi jendela kain gorden sehingga panas atau sinar yang masuk ke perpustakaan bisa diatur (Karmidi 1993:45). Kerusakan yang disebabkan oleh udara/ debu menyebabkan kotoran pada buku juga tidak baik untuk kesehatan manusia. Debu juga dapat mengakibatkan tulisan kabur dan merusak kertas. Pencegahannya adalah dengan membersihkan rak-rak buku dengan kain basah tetapi jangan sampai mengenai buku, dan menggunakan vacum cleaner/ mesin penghisap debu (Lasa 2007:160). Kerusakan buku yang diakibatkan oleh suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perekat/ lem pada jilidan buku menjadi kering, longgar, kertas menjadi rapuh dan warna menjadi kuning (Karmidi 1993:44). Pencegahannya adalah dengan mengatur udara dalam ruangan perpustakaan dengan menggunakan AC (air conditioner) yang berguna untuk menjaga keawetan buku. sedangkan untuk membersihkan ruang perpustakaan dan menghilangkan debu dari rak dengan menggunakan vacum cleaner dapat mengumpulkan debu yang dihisapnya pada bagian ujung pipa penghisap dipasang filter untuk melindungi bahan pustaka dari kerusakan (Karmidi 1993:45). b. Faktor biologi Faktor biologi adalah faktor yang berasal dari binatang pengerat, serangga dan jamur yang berasal dari beberapa macam bahan organik (asam oksalat, asam formiat, dan asam sitrat) yang menyebabkan kertas menjadi lunak, rapuh, berlubang, kotor, dan berjamur. Pencegahannya adalah dengan melaksanakan penyemprotan dengan larutan kimia seperti pestisida, dan baygon untuk membasmi jamur. Selain itu diusahakan adanya ventilasi yang baik, cahaya yang terang untuk menghindari kelembaban dapat juga dengan menggunakan AC/ air conditioner (Sulistyo-Basuki 1991:272) c. Faktor kimia Faktor ini terjadi disebabkan adanya oksidasi dan hidrolis yang mengakibatkan kertas yang terdiri dari senyawa-senyawa kimia, terurai sehingga warna kertas akan berubah dan memudar, mengurangi kekuatan serat dan kekuatan kertas menjadi berkurang dan rapuh. Pencegahannya adalah dengan memasang pembersih udara/ AC, menyimpan bahan pustaka dalam lemari kaca, menggunakan pengharum ruangan sehingga udara yang ada di dalam ruangan perpustakaan terasa segar dan harum, dan membersihkan debu dengan vacum cleaner (Karmidi 1993:45). Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang menyebabkan kerusakan adalah karena pengaturan letak rak yang tidak tepat dan kurangnya perawatan secara berkelanjutan. d. Faktor lain: Penyebab manusia, kecerobohan manusia sendiri yang tidak tahu cara memakai/menggunakan buku misalnya, mengotori buku, belajar sambil makan, melipat halaman buku, mengganjal buku dengan barang yang tebal, dan meletakan buku di bawabantal. Pencegahannya adalah dengan memberi bimbinganpemustaka bagaimana cara menggunakan dan memelihara bahan pustaka yang ada di perpustakaa misalnya dengan memberi sangsi berupa denda kepada pemustaka yang menyebabkan buku rusak, melarang merokok dan membawa makanan ke dalam ruangan perpustakaan, serta membersihkan sisa-sisa makanan dan kotoran yang dapat mengundang serangga dan jamur (Sulistyo- Basuki 1991:273). Penyebab air, air dapat merusak buku dan menimbulkan noda-noda / flek pada buku lebih-lebih buku dari luar negeri, karena kertasnya mengandung lem jadi halaman satu dengan yang lainnya bisa lengket dan robek/ rusak dan juga lem/perekat dapat lepas dari kulitnya karena air. Pencegahannya adalah dengan mengusahakan/ menghindari kebocoran dan menyingkirkan buku dari tempat yang sekiranya bocor (Karmidi 1993:47). Penyebab kebakaran, Kebakaran dapat mengakibatkan kerusakan buku dalam jumlah yang besar dan waktu yang relatife singkat. Pencegahannya adalah dengan menggunakan alat-alat dalam gedung yang tahan api, perlu alat pemadam kebakaran seperti smoke detector, melarang merokok dalam ruang perpustakaan, dan pemakaian peralatan listrik dengan hati-hati (Karmidi 1993:47). D. Pemeliharaan Bahan Pustaka Pemeliharaan bahan pustaka yang dilakukan pada perpustakaan meliputi sebagai berikut: 1. Perbaikan/pemeliharaan bahan pustaka Untuk kerusakan ringan yaitu buku yang rusak dijilid kembali, sobek/hilang di foto kopi lagi, untuk bahan pustaka yang rusak berat dapat dibedakan menjadi 2 Macam yaitu untuk bahan pustaka yang bisa diselamatkan maka dilakukan perbaikan sesuai kerusakannya dan untuk bahan pustaka yang tidak bisa diselamatkan maka akan disimpan di gudang atau dimusnahkan. Untuk kegiatan reproduksi sebaiknya perpustakaan mereproduksi bahan pustaka ke dalam bentuk lain seperti disimpan dalam bentuk mikro dan CD, sehingga bahan pustaka yang berbentuk mikro dengan frekuensi pengguna yang tinggi dapat dibuatkan duplikatnya, sedangkan yang aslinya disimpan sehingga tujuan pemeliharaan dapat mencapai sasarannya yaitu melestarikan kandungan informasi bahan pustaka. 2. Keamanan/ pengamanan Untuk keamanan/pengamanan bahan pustaka yang dilakukan oleh perpustakaan adalah dengan memasang kamera monitor disetiap sudut ruangan sehingga apa saja kegiatan yang dilakukan oleh pemustaka dapat dilihat dari kamera tersebut, di setiap ruangan ada ventilasi udara , pengaturan udara dalam ruang perpustakaan dengan menggunakan AC (air conditioner), setiap jendela yang ada di ruangan perpustakaan dipasang kain gorden untuk menghambat sinar matahari yang langsung menyinari bahan pustaka secara langsung, adanya alat kebakaran /smoke detector, memberi sampul plastik terhadap buku-buku yang akan dilayankan kepada pengguna perpustakaan, tetapi sebaiknya buku yang baru di beli atau di terima dari pihak lain sebelum dilayankan, sebaiknya diperbaiki terlebih dahulu yaitu dengan menjilid ulang kembali karena ada jilidan yang lepas dari penerbit, kemudian setiap buku yang akan dipinjamkan, terlebih dahulu diperiksa apakah buku tersebut masih baik atau sudah rusak, jika buku tersebut rusak atau hilang halamannya,maka buku tersebut tidak boleh dipinjamkan, sebaiknya pustakawan melakukan fumigasi terlebih dahulu pada buku-buku yang baru dibeli atau diterima dari pihak lain sebelum disimpan bersama buku-buku yang lain ,dan melakukan penyiangan terhadap bahan pustaka atau mengeluarkan buku yang rusak, yang kurang halamannya dari jajaran koleksi/rak , untuk membersihkan ruangan perpustakaan dan menghilangkan debu dari rak dengan menggunakan alat penghisap debu (vacum cleaner) keuntungan menggunakan vacum cleaner dapat mengumpulkan debu yang dihisapnya pada bagian ujung pipa penghisap yang dipasang filter untuk melindungi bahan pustaka dari kerusakan, sedangkan mencegah kerusakan karena faktor biologi adalah dengan cara memberi racun dan lem untuk menangkap tikus, menjaga agar lingkungan tetap bersih dan membuat saluran air/ got disekeliling perpustakaan, pustakawan memeriksa kertas dan buku secara berkala, membersihkan tempat penyimpan bahan pustaka, menurunkan kelembaban udar, rak jangan diisi terlalu penuh sekurang-kurangnya sepertiga dari rak harus dikosongkan agar bahan pustaka tidak cepat rusak dan untuk pengguna perpustakaan diberikan bimbingan dan penyuluhan bagaimana cara menggunakan semua sarana yang ada di perpustakaan dan bagaimana cara memakai dan merawat bahan pustaka khusunya buku. Sedangkan untuk pegawai/ pustakawan diberikan pendidikan dan pelatihan sesuai keahliannya masing-masing. Kerusakan bahan pustaka yang banyak ditemukan di perpustakaan adalah pada layanan sirkulasi, karena layanan sirkulasi yang menggunakan sistem terbuka dimana bahan pustaka yang akan dimanfaatkan diambil langsung ke rak oleh pemustaka, sehngga menyebabkan buku banyak yang rusak, halamannya hilang karena dirobek, dan kulit-kulitnya yang terlepas, sedangkan perpustakaan yang menggunakan layanan sistem tertutup kemungkinan buku rusak sangat kecil E. Hambatan-Hambatan Dalam Pemeliharaan Pemeliharaan bahan pustaka di sebuah perpustakaan banyak mengalami hambatan-hambatan terkait dengan sumber daya perpustakaan saat ini yang dimaksud dengan sumber daya manusia perpustakaan adalah seluruh komponen perpustakaan seperti: sarana dan prasarana (gedung, peralatan, dan lain-lain), sumber daya manusia / SDM, koleksi, keuangan, pemustaka, dan layanan, hambatan-hambatan yang dialami dalam pemeliharaan terkait dengan sumber daya perpustakaan sebagai berikut: 1. Sarana dan Prasarana Keberadaan gedung atau ruang perpustakaan adalah untuk menampung dan melindungi koleksi perpustakaan sekaligus sebagai wadah untuk melaksanakan kegiatan kepustakawanan dan informasi. oleh karena itu dalam perencanaan gedung atau ruang perpustakaan perlu memperhatikan pembagian ruangan menurut fungsi, tata ruang, struktur ruang, pengaman ruang, dan rambu-rambu. Disamping itu perlu dipikirkan pengembangan perpustakaan kedepan minimal untuk jangka waktu sepuluh tahun mendatang. Gedung perpustakaan harus sesuai dengan standar, dimana kondisi perpustakaan dirasakan kurang nyaman, karena pengaturan cahaya, serta udara, dan tata ruang yang kurang memadai, serta kadar kelembaban yang tinggi dalam gedung / ruang perpustakaan, dan kondisi tersebut dapat mempercepat proses kerusakan bahan pustaka. 2. Sumber Daya Manusia /SDM Sebuah perpustakaan perlu adanya pustakawan yang ahli dibidang pemeliharaan yaitu pustakawan yang sudah mengikuti berbagai diklat pelatihan pemeliharaan atau pelestarian bahan pustaka, pada sebuah perpustakaan pustakawan yang bertugas pada bagian pemeliharan tidak bisa satu atau dua orang, yang dibutuhkan yang bertugas di bagian pemeliharaan lebih dari dua orang pustakawan. 3. Koleksi Kondisi fisik koleksi perpustakaan harus diperhatikan sewaktu pembelian bahan pustaka seperti buku yang ada di pengolahan banyak jilidannya yang terlepas dari penerbit, sebaiknya buku dari penerbit tersebut dijilid ulang kembali di bagian pemeliharaan. Di samping itu koleksi harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pemustaka baik dari segi kualitas dan kuantitas. 4. Keuangan atau Dana Untuk memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan pada bagian pemeliharaan harus mencukupi, seharusnya sebuah perpustakaan menyediakan anggaran untuk pengadaan bahan pustaka, maka anggaran untuk pemeliharaan bahan pustaka juga harus direncanakan karena pemeliharaan bahan pustaka sangat penting untuk sebuah perpustakaan, yang berfungsi untuk menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Apabila anggaran pemeliharaan bahan pustaka direncanakan sedemikian rupa, maka pemeliharaan terhadap bahan pustaka yang rusak tidak mengalami kendala atau hambatan. 5. Pemustaka Kerusakan buku terbanyak berasal dari pemustaka karena dalam diri pemustaka belum tertanam rasa sayang kepada buku. Dengan sistem layanan terbuka, dimana bahan pustaka yang akan dimanfaatkan diambil langsung ke rak oleh pemustaka, sehingga pemustaka dalam meletakan buku setelah dibaca tidak dirapikan seperti susunan semula, Untuk itu pemustaka harus diberi bimbingan serta bagaiman menggunakan, memanfaatkan dan merawat bahan pustaka tersebut seperti pendidikan pemakai untuk mahasiswa baru, membuat pamflet yang berkaitan dengan pemanfaatan perpustakaan. 6. Layanan Layanan perpustakaan merupakan ujung tobak bagi sebuah perpustakaan. Layanan perpustakaan yang baik adalah yang berorientasi kepada kebutuhan pemustaka, oleh karena itu hendaknya perpustakaan mampu memberikan layanan yang bersifat responsif

Conclusion

Membicarakan tentang pemeliharaan bahan pustaka berarti kita juga membicarakan tentang pelestarian bahan pustaka. Oleh karenanya pemeliharaan bahan pustaka ini dilestarikan bukan saja dari segi bentuk atau fisik, bahkan kekayaan informasi yang terdapat didalamnya harus tetap mutakhir dan bisa dipelihara selamanya. Untuk itu sangat di perlukan pada sebuah perpustakaan mempunyai ruangan dan petugas/ pustakawan yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang pemeliharaan bahan pustaka. Penyebab kerusakan bahan perpustakaan banyak terjadi karena faktor fisika, biologi, kimia, dan karena manusia sebagai pemustaka maupun pustakawan sendiri serta bagaimana cara penanggulangannya terhadap kerusakan bahan pustaka dengan menggunakan zat kimia seperti melakukan fumigasi. Hambatanhambatan yang banyak dialami dalam pemeliharaan bahan pustaka terkait dengan sumber daya perpustakaan, seluruh komponen perpustakaan, sarana dan prasarana /gedung perpustakaan harus memenuhi standar perpustakaan yang baik, dalam pemeliharaan bahan pustaka sebuah perpustakaan perlu menganggarkan dana untuk pemeliharaan bahan pustaka. Pemeliharaan adalah mengusahakan agar tidak cepat mengalami kerusakan dan pemeliharannya harus dimulai sejak bahan pustaka tersebut diadakan. Pemeliharaan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dilakukan di perpustakaan. Dengan demikian, dalam melakukan pemeliharaan terhadap bahan pustaka, perpustakaan dituntut mempunyai tenaga pustakawan yang berpengalaman dan terlatih, karena dalam melakukan pemeliharaan bahan pustaka, pustakawan akan menghadapi bermacam musuh perusak dan penghancur.