PERAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN BUDAYA LITERASI
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Abstrak
Pengenalan dan upaya dalam menanamkan kemampuan literasi pada masyarakat akan mempengaruhi karakter, menambah pengetahuan dan sebagai solusi dalam kehidupan. Namun pada nyatanya, minat baca masyarakat masih tergolong rendah. Survei yang dilakukan oleh Perpusnas 2015 menunjukkan bahwa hanya 35% aktivitas untuk membaca, artinya masyarakat hanya membaca buku sekitar 2 jam per hari, sedangkan 65% lainnya adalah aktivitas selain membaca seperti menonton TV dan bermain smartphone. Tulisan ini menggunakan tipe penelitian kualitatif dekskriptif. Penelitian ini bertujuan agar TBM atau Taman Bacaan Masyarakat salah satu lembaga nonformal yang menyediakan sarana bahan bacaan bagi masyarakat dan pendidikan karakterter kepada anak-anak untuk mengenalkan dan mengembangkan literasi, pengetahuan, dan andil dalam membentuk karakter anak-anak. Hasilnya TBM sebagai fasilitator bacaan masyarakat akan membentuk karakter kepemimpinan anak melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan seperti membaca buku-buku Islami mengenai kepemimpinan Rasulullah, pendidikan karakter, aturan bermasyarakat, bersilahturahmi dengan sebayanya, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengenalkan literasi kepada masyarakat dan mendukung program pemerintah Gerakan Literasi Nasional (GLN).
Abstract
The introduction and efforts to instill literacy skills in the community will affect the character, increase knowledge and as a solution in life. But in fact, people's interest in reading is still relatively low. A survey conducted by the National Library of Indonesia in 2015 showed that only 35% of activities were for reading, meaning that people only read books for about 2 hours per day, while the other 65% were activities other than reading such as watching TV and playing smartphones. This paper uses a descriptive qualitative research type. This study aims to make TBM or Community Reading Park one of the nonformal institutions that provide reading materials for the community and character education for children to introduce and develop literacy, knowledge, and contribute to shaping children's character. As a result, TBM as a community reading facilitator will shape the leadership character of children through activities such as reading Islamic books about the leadership of the Prophet, character education, social rules, making friends with their peers, and others. This study aims to introduce literacy to the community and support the government program of the National Literacy Movement (GLN).
Keywords:
Literacy
· Reading Culture
· TBM
Introduction
Indonesia, dengan sumber daya alam yang melimpah dan jumlah penduduk terbesar keempat, berpotensi menjadi negara maju jika dikelola dengan baik. Hasil studi McKinsey Globab Institute 2012, yang menempatkan Indonesia di antara tujuh negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030, memberi negara ini kesempatan hidup baru dalam hal perluasan daya saing dan kerja sama internasional(Oberman et al., 2012). Hal ini antara lain ditunjukkan oleh peringkat daya saing global Indonesia yang relatif tinggi, yakni menempati urutan ke-41 dari 138 negara. Diperlukan gerakan berskala nasional yang mampu mengatasi beragam rintangan dan mengubah tantangan menjadi peluang untuk menopang kecepatan pembangunan Indonesia dalam rangka mewujudkan citacita bangsa. Budaya literasi yang berhubungan dengan minat baca ini masih tergolong rendah. Mari sama kita lihat beberapa penelitian yang dilakukan lembaga survey pada kemampuan literasi di Indonesia. Gambar 1.1: Hasil Survey Perpusnas 2015 Rendahnya literasi merupakan masalah kritis yang memerlukan perhatian khusus agar Indonesia dapat menjadi negara maju. Sampai saat ini, literasi dipandang sebagai kecakapan hidup yang mencakup seluruh bagian kehidupan, bukan hanya kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Negara-negara maju memiliki warga yang melek huruf dan standar hidup yang tinggi. Penduduk Indonesia hanya akan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan hidup berdampingan dengan negara maju jika tingkat literasi meningkat(Atmazaki et al., 2017). Menurut (Subbidang Pengembangan Minat Dan Budaya Baca Dinas Perpustakaan Dan Arsip Daerah Istimewa, 2019) yakni 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang mau membaca, dapat dikatakan bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih rendah (0,001%). Layanan pendidikan yang diselenggarakan untuk memberdayakan masyarakat berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 Pasal 60 ayat (1) dan (3) menyebutkan melalui pendidikan kecakapan hidup, sejak dini. pendidikan anak, pendidikan pemuda, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, dan pendidikan lainnya yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat. Sebagaimana diatur dalam pasal 3, satuan pendidikan nonformal meliputi: LKP, Kelompok Belajar, PKBM, Majelis Taklim, dan Satuan PNF Sejenis (Rumah Pintar, Pusat Studi Bersama, Lembaga Bimbingan Belajar), serta berbagai bentuk yang muncul di masyarakat. Dalam rangka menumbuhkan budaya minat baca masyarakat, Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat kini menjadi wadah berkumpulnya masyarakat dari berbagai usia, latar belakang, budaya, dan faktor lainnya. Adanya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) diharapkan kawasan yang dibangun (pemerintah, perorangan, swakelola, atau lembaga swadaya masyarakat) untuk menyediakan bahan bacaan dan menumbuhkan kecintaan membaca masyarakat di kawasan tersebut. Taman Bacaan Masyarakat pada hakikatnya memiliki tanggung jawab, wewenang, dan hak masyarakat di suatu lokasi untuk mendirikan, mengoperasikan, dan mengembangkannya. Dengan demikian, dapat dikembangkan rasa untuk serta memiliki (Sense Of Belonging), rasa untuk bertanggung jawab (Sense Of Responsibilit), dan peran serta masyarakat untuk memeliharanya (Spoyan et al., 2017). Pada skala Internasional. Secara khusus, TBM dimaksudkan pula untuk mendukung program pendidikan keaksaraan sehingga para aksarawan baru tidak menjadi buta aksara kembali akibat ketiadaan sarana pendukung untuk mempertahankan kemampuan membaca, taruh kata TBM dapat berperan sebagai kegiatan membaca hal ini dianggap penting karena membaca merupakan dasar utama untuk memperoleh kemampuan belajar diberbagai bidang. Melalui membaca seseorang dapat membuka cakrawala dunia, mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui (Subini, 2015). Banyak orang tidak pernah merasakan kesenangan membaca atau ke perpustakaan sejak masih anak-anak. Akibatnya, menumbuhkan minat membaca (hobi dan kecintaan membaca) bukanlah tugas sederhana yang dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Banyak kliping koran mengungkapkan bahwa kesadaran akan masalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam 3 dekade terakhir (Friantary, 2019). Hal ini juga terdapat pada Desa Jampur Pulau dimana sebuah desa kecil di Kecamatan Perbaungan Sumatera Utara, Kabupaten Serdang Bedagai. Jampur Pulau merupakan salah satu desa dataran rendah, memiliki empat dusun yang sebahagian besar dihuni oleh petani. Salah satu dusun, yaitu dusun Bobongan, diakui sebagai surga bagi para pengedar narkoba, pemenang togel, penjudi, dan pecandu alkohol. Masyarakat sekitar dan Kec. Perbaungan sangat menyadari paradigma ini (Yatviko, 2022). Oleh karena itu pula di dusun empat ini terdapat TBM yang didirikan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Prodi Pemikiran Politik Islam dan dinamakan TBM Jiwa Khatulistiwa, sebagai upaya mencegah masyarakat khususnya kepada anak-anak agar tidak terjerumus dan terpengaruh pada lingkungan tersebut. UUD 1945 mengamanatkan kepada pemerintah untuk menjamin bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia untuk membendung kemajuan masyarakat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, sesuai dengan pembukaan. Oleh karena itu diatur sebagai hak dan kewajiban pemerintah untuk menjamin bahwa masyarakat memperoleh pendidikan yang layak agar masyarakat dapat hidup sesuai dengan amanat konstitusi. Meskipun demikian, tampaknya masalah ini dapat diselesaikan secara efektif. Hal ini dapat disimpulkan dari pertanyaanpertanyaan yang selama bertahun-tahun yang selalu dalam lingkaran. Bagaimana meningkatkan dan menumbuhkan minat baca?. Namun di lain pihak, harus ada usaha untuk mewujudkannya, baik dari keluarga, pemerintah maupun masyarakat (Tahmidaten & Krismanto, 2020). TBM memiliki fungsi sebagai sumber belajar bagi masyarakat melalui program pendidikan nonformal dan informal. Ditinjau dari fungsinya, kedudukan TBM dapat mengembangkan potensi masyarakat dengan beberapa kegiatan yang diselenggarakan TBM tersebut. Adanya program yang diadakan TBM, masyarakat dapat menggali dan mengembangkan potensi daerah bagi kemajuan lingkungannya. Melalui penyaluran bantuan operasionalnya. Hal ini bertujuan agar masyarakat mampu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung untuk mengkomunikasikannya pada yang lain. Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa TBM sebagai salah satu lembaga yang dapat membantu masyarakat Indonesia untuk dapat membaca dan menjadikan informasi untuk membantu kesehariannya (Erwin Rifal Fauzi, 2018).
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif karena penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan kejadian yang terjadi pada masa sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran empiris tentang peran TBM Jiwa Khatulistiwa dalam meningkatkan budaya literasi. Metode yang dipakai adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor penelitian kualitatif adalah metode dimana peneliti bisa memperoleh data deskriptif berupa kata tentang orang dan perilaku yang diamati. Dalam penelitian ini nantinya penulis akan menggunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah suatu cara untuk mengumpulkan, menghimpun, menyusun, serta menafsirkan data yang nantinya akan memberikan gambaran tentang permasalahan yang akan diteliti(Sugiyono, 2018). Menurut (Moleong, 2017) dalam penelitian kualitatif pengetahuan dibangun dengan menafsirkan berbagai perspektif berdasarkan masukan atau pendapat yang berbeda yang berkaitan dengan penelitian, tidak hanya dari satu studi tetapi juga dari berbagai sumber data seperti pengalaman individu. Catatan pengamatan, dan wawancara serta sejarah. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mendapatkan hasil dari sebuah riset, dimana hasil yang didapat akan dideskripsikan secara transparan, spesifik dan mendalam. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keadaan, kejadian, atau fenomena saat penelitian berlangsung dengan memberikan jawaban sesuai dengan apa yang terjadi (naturalistik). Secara sistematis untuk menganalisisis data, dilakukan data reduction (reduksi data), data display (penyajian data) dan penarikan kesimpulan/verikasi (conclusion drawing/verification). Dalam teknik ini, setelah data hasil penelitian direduksi, selanjutnya dilakukanlah penyajian data dan penarikan kesimpulan(Neuman, 2013).
Result & Discussion
Saat ini, literasi telah menjadi isu yang selalu hangat untuk didiskusikan, titik literasi sendiri semakin kompleks untuk dibicarakan karena fungsinya yang dianggap sebagai problem solver. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu ber evolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. saat ini istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas. Dan sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik. Definisi baru dari literasi menunjukkan paradigma baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajarannya. Ungkapan literasi banyak memiliki variasi seperti literasi media literasi computer literasi sains literasi sekolah literasi digital literasi kesehatan dan lain sebagainya. Literasi selalu dikaitkan dengan melek huruf dalam pemahaman buta huruf karenanya, Biro Pusat Statistik (BPS) statistik selalu membuat data literasi dalam Angka Melek Huruf (AMH) dan Angka Buta Huruf (ABH) istilah literasi sendiri dalam bahasa Latin disebut sebagai literatus yang berarti orang yang belajar. sedangkan menurut National Institute of literasi, literasi adalah kemampuan individu untuk membaca menulis berbicara menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat (Sari, 2019). Sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat sebagai berikut: (1) Kurikulum pendidikan dan sistem pembelajaran belum mendukung kepada peserta didik. semestinya kurikulum atau sistem pembelajaran yang ada mengharuskan peserta didik membaca buku lebih banyak atau mencari informasi lebih dari apa yang diajarkan. (2) Masih terlalu banyak jenis hiburan, permainan game dan tayangan tv yang tidak mendidik, kebanyakan acara yang ditayangkan lebih banyak yang mengalihkan perhatian untuk membaca buku kepada hal-hal yang bersifat negatif. (3) Kebiasaan masyarakat terdahulu yang turun-temurun dan sudah mendarah daging. masyarakat sudah terbiasa dengan cara mendongeng bercerita yang sampai saat sekarang masih berkembang di masyarakat. (4) Rendahnya produksi buku-buku yang berkualitas dan masih adanya kesenjangan penyebaran buku di perkotaan dan pedesaan. Hal ini mengakibatkan terbatasnya sarana bahan bacaan dan kurang meratanya bahan bacaan ke pelosok tanah air. (5) Rendahnya dukungan dari lingkungan keluarga yang kesehariannya hanya disibukkan oleh kegiatan-kegiatan keluarga yang tidak menyentuh aspek-aspek penumbuhan minat baca pada keluarga (6) Minimnya sarana untuk memperoleh bahan bacaan seperti perpustakaan dan taman bacaan (Hartono, 2016). Iqra‟ atau perintah membaca, adalah kata pertama dari wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama. Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya Al-Qur‟an, bahkan seorang yang tidak pandai membaca suatu tulisan sampai akhir hayatnya. Namun, keheranan ini akan sirna jika disadari arti kata “iqra’‟ dan disadari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم semata-mata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan, karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi. Membaca merupakan aspek literasi yang paling penting. Membaca adalah jendela di mana individu dapat mengumpulkan pengetahuan dan mengenali tantangan dari berbagai perspektif untuk menemukan solusi (Basalamah & Mohammad Rizal, 2020). Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk membaca dan mempelajari ilmu pengetahuan, baik ilmu umum maupun ilmu agama. Karena pertumbuhan teknologi dan informasi yang semakin pesat saat ini, sangat penting bagi umat Islam dan umat manusia untuk terus mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan. Lebih jauh, semakin besar pemahaman kita, semakin kuat iman kita, dan semakin kita memahami inti dari ciptaan Tuhan. Surah al'alaq ayat 1-5 menyampaikan anjuran untuk membaca (literasi) dan menuntut ilmu. Peran masyarakat sangatlah kental dalam aktivitas TBM, seperti yang tercantum dalam Juknis Program Penguatan Taman Bacaan Masyarakat yang diterbitkan Dirjen PAUDNI Kemdikbud bahwa TBM yang didirikan dan dikelola baik oleh masyarakat dalam rangka penyediaan akses layanan bahan bacaan bagi masyarakat sekitar sebagai salah satu sarana utama dalam perwujudan konsep pembelajaran sepanjang hayat untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah sarana atau lembaga untuk menumbuhkan kecintaan membaca pada masyarakat dengan menyediakan dan memberikan pelayanan di bidang bahan bacaan berupa: buku, majalah, tabloid, surat kabar, komik, dan materi multimedia lainnya, serta ruang untuk membaca, berdiskusi, bedah, buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, serta didukung oleh pengelola yang bertindak sebagai motivator (Nur’aeni, 2019). TBM merupakan wadah koordinasi peningkatan keterampilan membaca dan belajar, serta tempat mengumpulkan informasi bagi masyarakat, menurut definisi yang paling sederhana. TBM memiliki definisi sebagai lembaga yang memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi tentang pengetahuan dalam bentuk bahan bacaan dan barang perpustakaan lainnya, menurut pernyataan kedua organisasi tersebut (Kalida, 2012). TBM Jiwa Khatulistiwa adalah wadah bagi masyarakat di Desa Lubuk Saban, Kec. Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, yang mempromosikan bahan bacaan dan meningkatkan kekuatan tumbuh kembang anak melalui pendidikan karakter. Didirikan pada tahun 2020. TBM kemudian dikembangkan di Desa Jampur Pulau, Dusun Empat, Kec. Perbaungan Kab. Serdang Bedagai pada tahun 2021 sebagai penulis (Marzuki, 2021). TBM adalah nama yang asing dalam pengertian masyarakat, menurut pengalaman penulis sendiri. TBM bahkan disebut sebagai lokasi belajar berbayar, mirip dengan sekolah pada umumnya. Meskipun terkesan asing bagi masyarakat pedesaaan TBM sendiri mendapat antusias dan anomali yang baik dimana masyarakat menyambut baik kedatangan TBM dengan penuh kehangatan. Secara umum, ada dua bentuk TBM Pertama TBM yang didirikan pemerintah (konvensional) dan Kedua TBM partisipasi masyarakat (mandiri), juga dikenal sebagai komunitas membaca (Gong & Irkham, 2012). Namun, meskipun bentuk membaca adalah sebagai komunitas membaca, banyak taman baca komunitas yang menggunakan istilah TBM. Formasi pemerintah (konvensional) dan otonom (komunitas), seperti bumi dan langit, memiliki ideologi yang beragam tergantung pada jenis TBM. TBM tradisional yang biasanya didirikan sebagai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), memiliki ideologi yang mencakup membantu program pemerintah dalam hal pengendalian surat, gagal merespons secara kritis situasi dan kondisi politik di kotanya, dan gagal memposisikan diri. TBM sebagai agen perubahan. Sementara itu, TBM Jiwa Khatulistiwa termasuk kedalam tipe otonom, biasanya berasal dari jenis partisipasi masyarakat secara langsung oleh seseorang dengan ide yang ingin berkontribusi dan mendambakan perubahan di dunia sekitar mereka sebagai agen perubahan. Baik yang dikenal dengan TBM atau komunitas membaca, gerakan literasi harus berkolaborasi dengan pemerintah untuk membangun masyarakat yang literat seumur hidup. TBM memiliki pemetaan yang jelas sehingga manajemen berfungsi secara sistematis sebagai fasilitator eksternal bagi masyarakat dalam mengenali dan menumbuhkan literasi serta mendukung inisiatif literasi pemerintah. Berikut adalah peta TBM dan komunitas membaca di Sumatera Utara, berdasarkan hasil survey dari Forum TBM Wilayah Sumatera Utara Tahun 2022. No Nomor Pokok Anggo ta Nama TBM Singkata n Kabupaten/ Kota 1 02 01 21 11 - 0047 AZKA GEMILANG Azka Kabupaten Asahan 2 02 01 21 10 - 0102 TAMAN BACAAN MASYARA KAT RIDHA TBM RIDHA Kabupaten Asahan 3 02 01 21 . 10 - 0470 SENSAH PUSTAKA tidak ada Kabupaten Asahan 4 02 01 21 . 32 - 0850 RUMAH BACA ANAK DESA RB-AD Kabupaten Asahan 5 02 01 21 . 23 - 1287 SUBUR Tidak ada Kabupaten Asahan 6 02 01 21 . 12 - 1411 ALAN TENGKULO K Alan Tengkulo k Kabupaten Asahan 7 02 01 21 . 50 - 1489 PUSTAKA AL HIDAYAH Tidak ada Kabupaten Asahan 8 02 01 21 . 10 - 0108 TBM BERSAMA SEI BEJANGKA R BERSAM AM Kabupaten Batubara 9 02 01 21 . 10 - 0421 RUMAH BACA CAHAYA INSPIRASI RUBACI Kabupaten Batubara 10 02 01 21 . 33 - 0446 TAMAN BACA MASYARA KAT KHASANAH BATUBARA TBM Khasanah Batubara Kabupaten Batubara 11 02 01 21 . 10 - 1422 TBM ANNUR TBM ANNUR Kabupaten Batubara 12 02 04 21 . 11 - 0014 BOEMI PUSTAKAB BP Kabupaten Deli Serdang 13 02 04 21 . 11 - 0063 PADEPOKA N IQRO Padepoka n Iqro Kabupaten Deli Serdang 14 02 04 21 . 32 - 0143 TBM PILAR MADANI TBM Pilar Madani Kabupaten Deli Serdang 15 02 04 21 . 32 - 0734 TAMAN BACAAN MASYARA KAT SAMERA INDONESIA TBM Samera Kabupaten Deli Serdang 16 02 04 21 . 12 - 1218 RUMAH BACA KURANDA K Tidak Ada Kabupaten Deli Serdang 17 02 04 21 . 11 - 1221 TAMAN BACAAN MASYARA KAT KEBANGSA AN Tbm kebangsaa n Kabupaten Deli Serdang 18 02 04 21 . 10 - 1251 RUMAH BACA BAKAU RBB Kabupaten Deli Serdang 19 02 04 21 . 22 - 1260 BAITUL ILMI Tidak ada Kabupaten Deli Serdang 20 02 04 21 . 22 - 1291 TBM LINGKARA N Lingkaran Kabupaten Deli Serdang 21 02 07 21 . 10 - 1108 TBM GEMA WISESA Tidak ada Kabupaten Labuhanbatu 22 02 10 21 . 10 - 0105 RUMAH LITERASI LANGKAT BERPIKIR Langkat Berpikir Kabupaten Langkat 23 02 10 21 . 44 - 0155 TBM DESA LUBUK KERTANG Tidak ada Kabupaten Langkat 24 02 10 21 . 32 - 0174 RAHMANIA INSAN CENDIKIA RIC Kabupaten Langkat 25 02 10 21 . 10 - 0443 RUMAH BACA MENDAI Tidak Ada Kabupaten Langkat 26 02 10 21 . 10 - 0685 TAMAN BACA MASYARA KAT ANNUR TBM ANNUR Kabupaten Langkat 27 02 10 21 . 10 - 1086 TAMAN BACA PELITA PELITA Kabupaten Langkat 28 02 10 21 . 10 - 1252 TBM SETARA Tidak Ada Kabupaten Langkat 29 02 10 21 . 22 - 1488 RUMAH BACA DESA TELUK MEKU PALUH SIFAT RB palsif Kabupaten Langkat 30 02 14 21 . 10 - 0118 RUMAH BACA ASMANADI RBA HILIKAR A Kabupaten Nias Selatan A HILIKARA 31 02 14 21 . 10 - 0132 TBM LENTERA ONO NIHA TIDAK ADA Kabupaten Nias Selatan 32 02 14 21 . 10 - 1139 TBM GANOWO PUSTAKA Tidak Ada Kabupaten Nias Selatan 33 02 14 21 . 10 - 1255 TAMAN BACA NDRAONO LAHUSA TBNLahu sa Kabupaten Nias Selatan 34 02 14 21 . 23 - 1396 BENE NONO NIHA BENIH Kabupaten Nias Selatan 35 02 16 21 . 23 - 1396 PONDOK BACA MANDIRI PBM Kabupaten Padang Lawas 36 02 16 21 . 27 - 0765 RUMAH BACA BISTOK Tidak ada Kabupaten Padang Lawas 37 02 19 21 . 10 - 0388 TBM MARASI Tidak Ada Kabupaten Samosir 38 02 20 21 . 23 - 0790 TBM PELITA Tidak ada Kabupaten Serdang Bedagai 39 02 20 21 . 23 - 1214 TAMAN BACAAN MASYARA KAT AL ILMU Tbm Al ilmu Kabupaten Serdang Bedagai 40 02 20 21 . 44 - 1586 JIWA KHATULIST IWA Tidak ada Kabupaten Serdang Bedagai 41 02 24 21 . 32 - 0593 RUMAH PINTAR OMPU ANGGIAT MUAL HAPISTARA N Rumpin Mual Hapistara n Kabupaten Tapanuli Utara 42 02 24 21 . 27 - 1552 TBM RUMAH BACA HOLONG "BAKTI UNTUK NEGERI" TBM Holong Kabupaten Tapanuli Utara 43 02 26 21 . 22 - 1314 KOMUNITA S BINJAI KOTA CERDAS KBKC Kota Binjai 44 02 28 21 . 10 - 0725 TBM BUNDA Tidak Ada Kota Medan 45 02 28 21 . 10 - 1220 PUSTAKA HANAN Tidak Ada Kota Medan 46 02 28 21 . 10 - 1254 TBM & KOMUNITA S LITERASI SOSIAL (TBM LITERASI SOSIAL) Literasi Sosial Kota Medan 47 02 29 21 . 27 - 1083 RUMAH BACA BERCAHAY A Rubah Kota Padang Sidempuan Tabel 1.2: Sumber Forum TBM Sumatera Utara Dengan demikian TBM dapat menjadi wadah atau pusat pembelajaran bagi pembentukan dan pengembangan pembelajaran literasi, sehingga masyarakat belajar menjadi lebih berdaya dan sejahtera. Sejalan dengan itu pemerintah telah berusaha mendorong masyarakat untuk membaca, salah satunya adalah program yang dijalankan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah menyelenggarakan kegiatan di seluruh tanah air, antara lain lomba mendongeng untuk siswa SD dan SMP, lomba perpustakaan terbaik bagi pustakawan, dan berbagai kegiatan lainnya, seperti membaca, jam belajar masyarakat, pencanangan desa buku. Mei sebagai Bulan Buku Nasional, dan September sebagai Bulan Perpustakaan Nasional. Berbagai instansi pemerintah dan komersial, termasuk Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Nasional, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain, mensponsori kegiatan untuk mendorong minat baca masyarakat. Pembangunan pusat kegiatan membaca masyarakat, seperti taman bacaan masyarakat, rumah pintar, pojok baca, pusat kegiatan belajar masyarakat, pondok baca, cakruk pintar, dan lain-lain, serta dukungan masyarakat. Upaya TBM Jiwa Khatulistiwa Mewujudkan Budaya Literasi TBM Jiwa Khatulistiwa juga turut memberikan sumbangsih gerakan minat baca pada masyarakat, gerakan ini diperoleh oleh TBM Jiwa Khatulistiwa ketika mendapat kesempatan Magang Literasi Nasional Tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Direktorat PMPK (Pendidikan masyarakat dan pendidikan khusus) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Kemenristekdikti yang diadakan di seluruh Indonesia Pada tanggal 13 sampai dengan 27 Agustus 2021. Kegiatan itu bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kapasitas pegiat TBM. Kegiatan yang dibuka secara daring oleh Direktur Pendidikan Masyarakat Dan Pendidikan Khusus. Menurut Dr. Samto hal ini bertujuan meningkatkan kualitas pegiat literasi khusunya di daerah dan desa agar dapat mengembangkan pengetahuan secara pribadi maupun memaksimalkan potensi masing-masing TBM yang dikelola berdasarkan karakteristiknya. Hasil Penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa anak pengunjung TBM Jiwa Khatulistiwa yang ditemui masih ada kesulitan membaca karena tidak adanya peran orang tua dirumah untuk sekadar memberikan tambahan belajar selain disekolah. Salah satunya kasus anak bernama Rendy Siswa Sekolah Dasar kelas tiga ketika teman-temannya membaca lantang dan suara keras Rendy hanya diam melihat dan merasa malu kepada teman-temannya yang sudah lancar membaca. Oleh karena itu wajar jika orang tua merasa khawatir ketika anaknya mengalami kesulitan dalam hal membaca. Hal ini juga disebabkan oleh orang tua yang tidak memberikan contoh kepada anak dirumah, orang tua yang disibukkan dengan pekerjaan diluar rumah begitu menggantungkan anaknya di sekolah. Faktor lain yang membuat anak kesulitan membaca yaitu lingkungan sekitar yang tidak mendukung selain dari pada faktor usia, intelegensia dan kurangnya fasilitas yang menunjang seperti keterbatasan akses bahan bacaan, keterbatasan layanan membaca, kerelawanan serta kesadaran bersama pentingnya literasi. TBM jiwa khatulistiwa sebagai delegasi terpilih untuk mengikuti penyelenggaraan magang pegiat literasi tahun 2021 yang dilaksanakan di TBM lingkaran Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara sebagai pihak Penyelenggara (BAMS, 2021). TBM Jiwa Khatulistiwa mendapat kesempatan liputan di salah satu stasiun TV lokal DAAI TV untuk menginspirasi kepada masyarakat. Adapun upaya yang dilakukan oleh TBM Jiwa Khatulistiwa terbagi menjadi dua gerakan untuk meningkatkan budaya literasi yaitu gerakan Literasi Nasional dan gerakan pendidikan karakter. A. Gerakan budaya literasi, gerakan ini termasuk kedalam Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dilakukan oleh TBM Jiwa Khatulistiwa yakni: Pertama Literasi Baca Tulis Adalah kemampuan untuk memahami isi bacaan teks tertulis baik yang jelas tersurat maupun yang samar atau tersirat dari informasi tulisan yang dimanfaatkan untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi yang ada dalam setiap diri seseorang gerakan yang sudah dilakukan TBM jiwa khatulistiwa yaitu mengajak kepada seluruh pada anak-anak untuk membaca buku setiap harinya. Anakanak diberi keleluasan untuk membaca buku yang di mereka sukai. Buku yang tersedia tentang cerita dongeng, buku Islami dan buku Ensiklopedia meskipun dengan keterbatasan buku yang dimiliki TBM Jiwa Khatulistiwa terus berupaya meningkatkan minat baca pada anak di Desa Jambur Pulau. Kedua Literasi Numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengkomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari. Salah satu gerakan yang ada di TBM Jiwa Khatulistiwa dalam hal ini yaitu pada permainan ular tangga karakter yang dimainkan oleh anak-anak dalam dua tim hal ini dimaksudkan untuk mengasah kemampuan anak dalam mengidentifikasi masalah yang ada di dalam permainan ular tangga karakter dan juga memberikan tanggung jawab kepada anak. Ketiga Literasi Sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasarkan fakta. Gerakan yang dilakukan TBM jiwa khatulistiwa dalam hal ini yaitu memberikan pengetahuan kepada anak seputar lingkungan alam untuk mengenal alam secara langsung dan kemudian anak diminta untuk menjelaskan dari temuan alam yang di peroleh. Keempat Literasi Digital yaitu kemampuan dalam mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi seluruh informasi yang berseliweran untuk membangun pengetahuan baru, memudahkan untuk berkomunikasi dan menjadi orang yang bermanfaat. Gerakan yang dilakukan TBM Jiwa Khatulistiwa dalam hal ini yaitu kegiatan menonton film yang mengedukasi anak dalam kehidupannya scara bersama-sama di laptop. Hal ini dilakukan agar anak tidak canggung terhadap teknologi dan cerita yang disampaikan melalui film dapat di implementasikan dalam kehidupan anak. Film yang diputar pun seputar film yang memberikan motivasi belajar dan belajar dalam kehidupan dalam hal penggunaan gawai maupun informasi yang diterima di media sosial. Kelima Literasi Budaya dan Kewarganegaraan adalah kemampuan dalam memahami dan bagaimana bersikap terhadap kebudayaan Indonesia yang beragam serta paham atas hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dalam hal ini TBM Jiwa Khatulistiwa melakukan kegiatan permainan tradisional serta memberikan dongeng kepada anak-anak seputar cerita rakyat, legenda dan lain-lain, sebagai upaya agar anak dapat melestarikan kebudayaan dan tahu informasi keberagaman di Indonesia. Mengamalkan nilai-nilai pancasila sebagai pedoman bernegara serta bermasyarakat. Keenam Literasi Finansial sering diartikan dengan melek keuangan atau literasi keuangan adalah kemampuan pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang keuangan. Peran orang tua dalam hal ini mempersiapkan diri pada masa depan anak dan cerdas mengelola keuangan yang dimiliki untuk keperluan sehari-hari, orang tua yang mempersiapkan masa depan anaknya berarti juga melatih anaknya untuk mandiri mampu mengelola keuangannya dan mencari sumber rezeki agar ia mampu bertahan hidup serta peduli membantu orang lain disekitarnya. Berdasarkan gerakan di atas diperoleh bahwa seluruh aktivitas yang ada di TBM Jiwa khatulistiwa sangat bergantung sekali dengan tokoh, pengelola dan relawan yang ada untuk membuat dan merencanakan berbagai program yang menjadi aktivtas TBM Jiwa Khatulistiwa mulai dari kegiatan mingguan, bulanan dan tahunan. Seluruh aktivitas tersebut selalu dilakukan evaluasi secara rutin dan dilakukan evaluasi tahunan pula. Dengan demikian gerakan ini menjadi penggerak utama seperti yang tergambar, sehingga dapat menggerakkan aktivitas literasi, promosi kegiatan dan menjadi penggerak kegiatan lainnya pada bidang literasi. Para pengelola TBM Jiwa Khatulistiwa (pendiri, pengurus dan relawan) membuat berbagai aktivitas yang ditujukan untuk masyarakat sekitar yang melibatkan pihak internal SBS maupun pihak ekternal TBM Jiwa Khatulistiwa mulai dari masyarakat sekitar, pelajar ataupun tokoh masyarakat dan mitra strategis lainnya sebagai penggerak kegiatan literasi yang telah dirancang oleh pengelola TBM Jiwa Khatulistiwa. Seluruh aktivitas yang ada diupayakan sepenuhnya oleh SBS dengan prinsip kemandirian dan bagaimana melayani masyarakat secara optimal. Seluruh aktivitas yang telah dilaksanakan didukung oleh upaya promosi melalui media sosial berupa Facebook dan Instagram TBM Jiwa Khatulistiwa sebagai media utama disamping media sosial lainnya yang digunakan untuk publisitas berbagai aktivitas yang dilakukan TBM Jiwa Khatulistiwa. Dari seluruh aktivitas yang ada serta berbagai pengalaman yang dilakukan dalam gerakan literasi menjadikan TBM Jiwa Khatulistiwa banyak melakukan kegiatan Literasi di Desa yang ada di Kecamatan Perbaungan dan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. B. Gerakan Literasi Pendidikan Karakter Gerakan literasi pendidikan karakter dimaksudkan pada anak merupakan tugas orang tua dan pengaruh lingkungan. Orang tua dan anggota keluarga lain merupakan fasilitator bagi anak secara internal. Penanaman literasi pada anak usia dini dilakukan secara bertahap dan perlahan tanpa harus mengesampingkan dunia anak-anak mereka. Oleh karena itu, orang tua harus bijak dalam mendidik literasi anak terutama literasi kepemimpinan. Selain itu, factor eksternal juga sangat empengaruhi literasi kepemimpinan anak salah satunya adalah lingkungan TBM. TBM Jiwa Khatulistiwa mengenalkan literasi kemimpinan kepada anak-anak melalui aktivitas literasi di dalam TBM dan anak-anak juga akan diajarkan tentang bagaimana bisa bertanggung jawab pada diri sendiri dan tugas yang mereka miliki, selain itu anak-anak juga diajarkan untuk bersikap mandiri agar ketika dewasa mereka bisa menjadi pemimpin yang cerdas dan bertanggung jawab. Memahami pertumbuhan dan perkembangan anak adalah hal dasar dalam menerapkan jiwa kepemimpinan anak sejak usia dini. Usia dini merupakan usia yang tepat untuk menanamkan jiwa kepemimpinan serta pengetahuan dengan tetap memperhatikan keseimbangan pembentukan karakter anak dengan masa kanak-kanak yang dilalui. Selain itu, penting bagi orang tua dan guru untuk menjadi role model yang baik bagi anak. Kepemimpinan merupakan suatu pengaruh yang dibawa oleh seorang individu ke individu lain. Jika pengaruh yang dibawa oleh seseorang dapat memengaruhi pemikiran orang lain, maka kepemimpinan di dalam orang tersebut akan meningkat (Maxwell, 2017). Pendapat yang serupa juga diutarakan oleh Timotins yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah pengaruh, sedangkan pemimpin atau orang yang memimpin merupakan orang yang memiliki pengaruh (K. H Timotius, 2016). Berdasarkan hal ini, sifat kepemimpinan itu sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu kepemimpinan yang membawa dampak positif kepada orang lain dan kepemimpinan yang membawa dampak negatif kepada orang lain. Dengan menanamkan jiwa dan nilainilai kepemimpinan pada anak diharapkan anak-anak mampu memiliki rasa tanggung
Conclusion
Dari infromasi dan data yang diperoleh sehingga dapat diuraikan dengan jelas tentu dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa keberadaan TBM Jiwa Khatulisiwa memberikan pengetahuan yang berdamak positif bagi kemajuan dan penyelesaian masalah di masyarakat. Redahnya budaya baca dan kurangnya pemahaman akan pentingnya pendidikan karakter sehingga TBM Jiwa Khatulistiwa melalui gerakan literasi membuat masyarakat sadar akan pentingnya budaya literasi sehingga harapan ini dapat akan terwujud menjadi masyarakat yang literat sepanjang hayat. Gerakan Literasi Nasional yang di berikan kepada masyarakat dapat diwujudkan dengan baik tidak terlepas dari peran TBM Jiwa Khatulistiwa, para relawan dan masyarakat. Lewat gerakan literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi budaya dan kewaranegaraan dan literasi finansial menjadi penentu masa depan masyarakat dan anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Gerakan ini dimaksudkan membantu perpanjangan pemerintah. Melalui gerakan literasi, para orang tua, masyarakat, dan pihak yang terkait dapat menanamkan jiwa kepemimpinan pada anak sejak usia dini. Agar pemimpin merupakan orang yang dipercaya oleh pengikutnya dalam menjalankan tugas dan kewajiban untuk mencapai tujuan bersama bisa menambah kemajuan bangsa.