Kembali
16
1
2023 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 7 · 2 ISSN 2580-3662

Kemampuan Literasi Digital Orang Tua Dalam Mengasuh Anak: Studi Kasus Di Desa Curug, Gunung Sindur, Bogor

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan orang tua dalam islamic parenting, bagaimana kemampuan literasi digital mereka dan apakah ada pengaruh kemampuan islamic parenting terhadap kemampuan digital parenting orang tua. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Responden pada penelitian ini berjumlah 58 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling dimana responden yang dipilih adalah orang tua yang memenuhi 2 kriteria utama. Pertama, orang tua sudah memiliki anak yang usianya minimal usia 3 tahun ke atas. Kedua, orang tua dapat menggunakan handphone atau gadget lainnya untuk mengakses internet. Hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan orang tua dalam islamic parenting sangat tinggi, mencapai skor 3,34. Begitu juga dalam hal digital parenting, kemampuan orang tua juga cukup tinggi karena mencapai skor 3.1. Kemudian terkait pertanyaan apakah ada pengaruh kemampuan islamic parenting terhadap digital parenting, jawabannya adalah terdapat pengaruh yang sangat signifikan yaitu sebesar 0,81344502 dari hasil penggunaan rumus pearson product moment.

Abstract

This research aims to find out parents' abilities in Islamic parenting, their digital literacy skills, and whether there is an influence of Islamic parenting skills on parents' digital parenting skills. This research was carried out with a quantitative approach using simple regression analysis. Respondents in this study totaled 58 people. The sampling technique used was a purposive sampling technique where the respondents selected were parents who met 2 main criteria. First, parents already have children who are at least 3 years old and above. Second, parents have the ability to use cell phones or other gadgets to access the internet. The research results show that parents' abilities in Islamic parenting are very high, reaching a score of 3.34. Likewise, in terms of digital parenting, parents' abilities are also quite high because they reach a score of 3.1. Then regarding the question of whether there is an influence of Islamic parenting skills on digital parenting, the answer is that there is a very significant influence, namely 0.81344502 from the results of using the Pearson product-moment formula.
Keywords: Islamic parenting · digital parenting · literasi digital

Introduction

A. Pendahuluan Sudah tidak dapat dapat dipungkiri lagi bahwa keluarga adalah bagian dari kehidupan yang sangat penting dalam fase kehidupan manusia. Semua manusia memulai kehidupan awalnya dari sebuah keluarga. Melalui keluargalah, manusia lahir, tumbuh berkembang dan beranjak dewasa. Proses kehidupan yang dilewati manusia dalam keluarga akan sangat berbekas dalam kehidupannya. Perilaku ayah, sikap ibu, dan tingkah laku adik-kakak akan menentukan kepribadian seseorang di masa kehidupannya nanti. Dalam perjalanan kehidupan manusia juga sangat dimungkinkan belajar dari lingkungan dan pengalaman, namun proses kehidupan masa lalunya tentu pasti akan tertanam baik- bailk dalam ingatnya. Oleh karena itu sangatlah tepat bila ada peribahasa yang mengatakan bahwa keluarga adalah 'sekolah pertama' manusia. Dari pengertian ini kita dapat memahami bahwa keluarga sangat berperan penting dalam membentuk individu yang nantinya juga akan menjadi bagian dari masyarakat. Sehingga dalam hal ini sangatlah penting untuk memahami fungsi- fungsi dari keluarga. Fungsi Keluarga ada 8. Kedelapan fungsi keluarga tersebut adalah agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan pembinaaan lingkungan. Fungsi-fungsi keluarga tersebut tentu saja diharapkan dapat berjalan secara maksimal dalam lingkungan internal semua keluarga agar dapat melahirkan generasi bangsa yang memiliki modal sosial yang baik. Namun, dalam kenyataanya perjalanan keluarga tentu saja tidak akan selalu mulus. Semua keluarga pasti akan menghadapi berbagai rintangan dan ujian baik yang berasal dari dalam maupun dari luar. Oleh karena itu sangat penting sekali untuk membangun ketahanan keluarga (BKKBN, 2013). Ketahanan keluarga adalah keadaan dimana sebuah keluarga memiliki ketahanan fisik, ketahanan sosial dan ketahanan psikologis. Ketahanan fisik adalah kemampuan untuk memenui kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan. Ketahanan sosial adalah ketahanan yang berorientasi pada nilai agama, komunikasi yang efektif, dan komitmen keluarga. Sementara itu ketahanan psikologis adalah kemampuan keluarga dalam menghadapi masalah non fisik, pengendalian emosi secara positif, konsep diri yang positif, dan kepedulian suami terhadap istri (BPS, 2016). Dari definisi ketahanan keluarga di atas kita dapat melihat bahwa agama turut berperan dalam membangun ketahanan sosial sebuah keluarga. Terlebih lagi bahwa agama Islam adalah agama yang memiliki konsep yang universal yang tentu saja salah satunya sangat terkait dengan pembinaan keluarga yang baik. Misalnya terdapat konsep keluarga sakinah mawadah warohmah atau konsep baiti jannati yang melambangkan bahwa tujuan berkeluarga dalam islam adalah untuk menciptakan ketenangan lahir dan batin bagi suami, istri dan anak. Demi terciptanya keluarga yang sakinah mawadah warohmah, tentu saja suami atau istri harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang konsep-konsep agama yang berkaitan dengan pembinaan rumah tangga. Suami, istri dan anak harus mengetahui hak dan kewajibannya di dalam rumah tangga. Dalam konteks pendidikan dan pengurusan anak yang ideal, agama islam memiliki berbagai ajaran metode yang telah dirumuskan oleh para ahli dari Quran dan Sunnah. Proses untuk menjadi orang tua yang baik lebih dikenal dengan sebutan parenting. Parenting dapat diartikan sebagai proses atau keadaan bagaimana menjadi orang tua (Brooks, 1987). Bila proses menjadi orang tua yang baik itu didasarkan pada prinsip- prinsip ajaran islam, maka istilah yang lebih tepat adalah islamic parenting. Tidak semua orang memiliki pemahaman tentang islamic parenting, kecuali mereka yang pernah memiliki pengalam pendidikan formal dan nonn formal keagamaan. Padahal semua informasi tentang islamic parenting dapat diakses dengan mudah melalui internet. Keberadaan teknologi dan internet di satu sisi memang sangat memberikan kemudahan. Misalnya untuk berbelanja kita tak harus datang ke toko atau mall, cukup online saja. Antar dan jemput anak tidak usah repot-repot, cukup menggunakan aplikasi gojek online saja, begitu juga dengan pesan makanan dan berbagai hal lainnya. Keadaaan inilah yang kemudian di kenal dengan sebutan era dirupsi. Disrupsi itu sendiri berasal dari kata disruption. Disruption dalam kamus online, https://dictionary.cambridge.org/, diartikan sebagai an interruption in the usual way that a system, process, or event works, sebuah interupsi atau perubahan terhadap cara berjalannya sebuah sistem, proses, atau bahkan pekerjaan. Salah satu bentuk lain dari adanya disrupsi adalah hadirnya cara komunikasi yang lebih instan dan efesien dengan menggunakan gadget. Gadget dalam collinsdictionary.com didefinisikan sebagai sebuah mesin kecil atau alat kecil yang digunakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Bentuk gadget yang kita kenal sekarang adalah HP, tablet, notebook, laptop atau computer portabel yang bisa kita gunakan untuk mengakses melakukan berbagai pekerjaan kantor, mengakses internet dan berkomuniksai dengan menggunakan telepon, email atau media sosial. Gadget bahkan dapat mengirimkan berbagai jenis file sesuai dengan program yang ada di dalamnya. Kita dapat mengirimkan teks gambar, suara sampai dengan video. Selain berdampak positif, kehadiran gadget juga dapat berdampak buruk misalnya dengan adanya konten tidak senonoh (pornografi), sadis, ekstrim bahkan radikal. Gadget juga bisa menjadi media adanya bullying, sehingga sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Oleh karena itu sangat penting bagi orang tua untuk dapat mengetahui pergaulan anak dan bagaimana anak bersentuhan dengan gadget. Orang tua sangat perlu sekali mengetahui apa yang manfaat dan madarat dari gadget. Selain mengetahui tentang manfaat dan madarat gadget, orang tua juga harus mengetahui bagaimana menggunakan internet dan media sosial secara bijak. Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki orang tua adalah Kemampuan dalam mencari dan menggunakan informasi terkait cara mendidik anak. Kemampuan mencari dan menggunakan informasi dari sumber informasi dalam istilah ilmu perpustakaan dan informasi lebih dikenal dengan sebutan literasi informasi. Pada dasarnya internet sejauh ini telah memiliki informasi apapun yang kita inginkan, asal kita dapat mengetahui tata cara mencari, mengevaluasi dan menggunakan informasi tersebut. Karena pada dasarnya literasi informasi adalah keadaan dimana seseorang dikatakan melek informasi karena dapat mencari dan menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya (Eisenberg, 2004). Menyadari peran orang tua yang sangat urgent dalam pendidikan ini, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang kemampuan literasi informasi tentang islamic parenting pada orang tua di desa Curug, Gunung Sindur Bogor, tepatnya di komplek Villa Gading Permata. Hal ini mengingat karena di komplek tersebut masih terdapat orang tua muda yang masih masih memiliki anak yang beranjak remaja. Dalam observasi penulis, anak-anak di tempat tersebut diberikan akses yang mudah oleh para orang tuanya untuk menggunakan gadget dengan terkoneksi internet di dalamnya. Selain itu, kesibukan orang tua yang bekerja di kota Jakarta, juga menarik peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut, karena ingin melihat bagaimana pola pengasuhan yang mereka ketika harus berbagi waktu dengan pekerjaan di kota besar. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka permasalahan masalah dalam penelitian ini daapt diuraikan sebagai berikut bagaimana kemampuan dalam islamic parenting?, bagaimana kemampuan literasi digital orang tua untuk meningkatkan fungsi islamic parenting, dan bagaimana pengaruh kemampuan islamic parenting terhadap kemampuan digital parenting orang tua?. Islamic parenting sebenarnya berasal dari kata parenting. Parenting itu sendiri menururt Brooks (1987) adalah proses atau keadaan bagaimana menjadi orang tuan (Brooks, 1987). Dalam konteks ini maka islamic parenting dapat diartiken sebagai proses atau keadaan menjadi orang tua dengan berlandasakan pada dasar ajaran islam yang berasal dari al-Quran dan Sunnah. Terdapat 5 dimensi penting yang harus ada dalam islamic parenting. Kelima dimensi tersebut adalah teladan (qudwah hasanah), pembiasaan (Al- Aadah), nasehat (al- mauidzah), perhatian dan kontrol (al-mulahadzah), dan apresiasi positif/negatif (al-ujrah

Method

A. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Responden pada penelitian ini berjumlah 58 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling dimana responden yang dipilih adalah orang tua yang memiliki kriteria sudah memiliki anak minimal usia 3 tahun ke atas dan bisa menggunakan handphone untuk mengakses internet. Populasi dalam penelitian ini adalah warga komplek Vila Gading Permata yang berjumlah sekitar 300 orang. Sampel yang akan diambil adalah sekitar 20 persen atau 60 orang dari total populasi. Sampel yang diambil adalah suami atau istri yang telah memiliki anak remaja.

Discussion

C. Pembahasan Kemampuan Islamic Parenting Kemampuan islamic parenting dapat diukur dari beberapa indikator. Semua indikator diambil dari teori atau pendapatnya Abdullah Nashih 'Ulwan dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Pendidikan Anak Dalam Islam. Ulwan menyampaikan bahwa dalam mendidikan anak ada 5 cara mendidik yang dapat berpengaruh kepada anak. Kelima cara tersebut adalah mendidik dengan keteladanan, mendadak dengan kebiasaan, mendidik dengan nasehat, mendidik dengan perhatian/pengawasan, dan mendidik dengan hukuman. Kelima cara tadi dijadikan indikator utama oleh peneliti untuk mengukur seberapa jauh kemampuan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dari hasil penelitian sebelumnya, dapat kita lihat bahwa skor rata-rata kemampuan orang tua dalam islamic parenting termasuk sangat tinggi. Namun, bila kita perhatikan secara seksama skor dari setiap indikator, atau lebh spesifik lagi setiap pernyataan, maka dapat kita lihat ada beberapa skor yang raihannya sangat tinggi dan ada juga yang rendah. Tabel 1. Kemampuan Islamic Parenting No Indikator Pertanyaan Skor 1 Qudwah Hasanah Saya selalu bertutur kata yang baik dan menghindari kata-kata kasar bila berbicara dengan orang lain di depan anak saya 3,5 2 Qudwah Hasanah Bila saya kesal atau marah pada suami/istri atau orang lain saya berusaha menyembunyikan di di hadapan anak saya 3,3 3 Qudwah Hasanah Saya beribadah tepat waktu ketika bersama anak-anak 2,9 4 Qudwah Hasanah Saya turut mengikuti pengajian majelis taklim untuk memberikan contoh pada anak-anak agar mau mengaji 3,3 5 Al 'Aadah Saya mengatur jadwal belajar anak-anak 3,2 6 Al 'Aadah Saya membiasakan anak untuk beribadah tepat waktu 3,1 7 Al 'Aadah Saya membiasakan anak untuk beribadah tepat waktu 3,3 8 Al-Mauidzah Saya menggunakan kata-kata yang baik saat menasihati anak-anak 3,5 9 Al-Mauidzah Saya menghindari kata-kata yang menyakitkan saat menasihat anak-anak 3,2 10 Al-Mauidzah Saya menghindari kata-kata dusta saat menasihat anak-anak 3,4 11 Al-Mauidzah Saya menasehati anak-anak pada situasi dan kondisi yang tepat 3,4 12 Al-Mauidzah Saya menggunakan kata yang lemah lembut saat menasihati anak-anak 3,5 13 Al-mulahadzah Saat anak ada masalah saya selalu mendampingi dan menguatkannya 3,6 14 Al-mulahadzah Saat anak saya berbuat kesalahan saya selalu mengingatkannya 3,5 15 Uqubah wa ajrah Saya memberikan pujian atau hadiah alakadarnya saat anak saya melakukan sesuatu yang baik 3,2 16 Uqubah wa ajrah Bila anak saya berbuat sesuatu yang kurang baik saya memberikan sanksi yang sesuai 3,6 Total Skor 3,34 Indikator tertinggi dalam Islamic Parenting Pernyataan yang meraih skor tertinggi adalah pernyataan saat anak mengalami masalah orang tua selalu siap mendampingi. Pernyataan ini meraih skor 3,6. Skor yang sama juga diraih pada pernyataan bila anak melakukan sesuatu yang kurang baik, maka orang tua akan memberikan sanksi yang sesuai. Pernyataan ini meraih skor 3,6. Dari hal ini dapat kita tafsirkan bahwa tentu saja semua orang tua tidak ingin membiarkan anaknya menghadapi masalahnya sendiri. Permasalahan anak juga cukup variatif. Masalah yang paling sering dialami anak biasanya adalah saat menghadapi dan mengerjakan tugas-tugas berat atau sulit dari sekolah. Dalam pergaulan di sekolah ataupun lingkungan sekitar rumah anak-anak juga kerap menghadapi masalah. Selain itu, sejalan dengan perkembangan teknologi, permasalahan yang sangat mungkin terjadi adalah permasalahan terkait interaksi sosial anak di dunia maya. Intinya dimanapun anak berada dan bergaul, anak sangat rentang menghadapi dan mengalami masalah. Secara umum masalah yang dihadapi anak terbagi menjadi 2. Pertama adalah masalah yang diakibatkan karena faktor internal dari dalam diri anak itu sendiri. Dalam hal ini mental anak belum siap menghadapi berbagai kenyataan dalam hidupnya, seperti melaksanakan tugas sekolah, menghadapi keadaan lingkungan sosial, dan lain-lain. Kedua adalah masalah yang diakibatkan karena faktor dari luar. Dalam hal ini ada faktor-faktor eksternal yang menyakiti anak baik secara fisik ataupun secara mental. Istilah yang populer untuk menyebut permasalah kedua ini adalah child abuse atau kekerasan pada anak. Dalam laman childhelp.org disebutkan bahwa yang dimaksud dengan child abuse adalah kekerasan pada anak terjadi saat seseorang melalukan sesuatu yang secara sengaja atau tidak sengaja yang menyebabkan cedera, kematian, kerugian emosional, atau beresiko menimbulkan kerugian serius pada seorang anak. Masih menurut laman childhelp.org, child abuse itu sendiri terbagi dalam beberapa jenis yaitu kekerasan fisik (physical abuse), kekerasan seksual (sexual abuse), kekerasan emosional (emotional abuse), bullying dan cyberbullying, penelantaran anak (child neglect), dan grooming. Kekerasan fisik terhadap anak adalah ketika orang tua atau pengasuh menyebabkan cedera fisik non-kecelakaan pada anak. Ada banyak tanda-tanda kekerasan fisik. Jika kita melihat salah satu dari tanda-tanda berikut, segera dapatkan bantuan. Menurut data childhelp.org, 28,3% orang dewasa melaporkan bahwa mereka pernah mengalami pelecehkan secara fisik di masa anak-anak. Selanjutnya, pelecehan seksual terjadi ketika orang dewasa mengeksploitasi anak untuk tujuan seksual atau melibatkan anak dalam tindakan seksual. Ini juga termasuk ketika seorang anak yang lebih tua atau lebih berkuasa menggunakan anak lain untuk kepuasan atau kegembiraan seksual. Data childhelp.org menunjukan bahwa 20,7% orang dewasa melaporkan pernah dilecehkan secara seksual sewaktu masih anak-anak. Berikutnya kekerasan emosional. Ketika orang tua atau pengasuh membahayakan perkembangan mental dan sosial anak, atau menyebabkan kerusakan emosional yang parah, itu termasuk dalam kategori kekerasan emosional. Laporan childhelp.org menunjukan bahwa 10,6% orang dewasa mengaku pernah mengalami kekerasan secara emosional di masa kecil. Bentuk kekerasan pada anak lainnya adalah bullying atau cyberbullying. Bullying adalah perilaku agresif yang berulang, terarah, yang menggunakan kekerasan, ancaman, ejekan, dan/atau rasa malu untuk menyakiti anak-anak yang lebih muda atau lebih kecil, atau yang mereka kuasai. Sementara itu, cyberbullying adalah perilaku agresif yang berulang, ditargetkan, yang terjadi secara online, atau pada perangkat digital melalui email, obrolan, teks, dan termasuk mengirim, memposting, atau berbagi informasi atau gambar yang menyakitkan atau memalukan untuk mengecualikan dan mempermalukan orang yang ditargetkan. Data childhelp.org menunjukan bahwa satu dari setiap lima orang pelajar (20,2%) mengaku bahwa mereka pernah mengalami intimidasi. Bentuk kekerasan selanjutnya adalah penelantaran anak. Hal ini terjadi ketika orang tua atau pengasuh tidak memberikan perawatan, pengawasan, kasih sayang dan dukungan yang dibutuhkan untuk kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan anak. Penelantaran anak dapat berupa pengabaian fisik dan pengawasan yang asal-asalan, pengabaian emosional, pengabaian medis, dan pengabaian pendidikan. Bentuk kekerasan yang terakhir adalah grooming. Grooming merupakan tindakan yang disengaja oleh seorang pelaku pedofilia untuk membangun hubungan emosional dengan anak agar, di saat yang menurut mereka tepat, dapat melakukan eksploitasi seksual pada anak. Perilaku grooming ini dapat terjadi di dunia nyata maupun di dunia maya. Laporan childhelp.org menunjukan bahwa menurut aparat penegak hukum diperkirakan ada 50.000 pemangsa online pada waktu tertentu. Anak yang paling berisiko menjadi korban groomong ini adalah remaja yang terisolasi, memiliki harga diri yang rendah, atau yang sangat membutuhkan perhatian. Memperhatikan bentuk-bentuk yang sangat mengkhawatirkan tersebut, maka kehadiran orang tua dalam kehidupan anak menjadi penting. Anak sangat membutuhkan kehadiran perhatian orang tua terutama saat mereka menghadapi masa-masa yang sulit. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan 'Ulwan bahwa dalam mendidik anak secara islami, orang tua harus memberikan perhatian penuh kepada anak. Perhatian itu dapat berupa perhatian pada kondisi jasmani, ruhani, sosial bahkan ruhani anak (Ulwan, 2012). Indikator Terendah dalam Islamic Parenting Selanjutnya bila kita perhatikan dalam data di hasil penelitian, dapat dilihat bahwa skor terendah ada dalam pernyataan beribadah tepat waktu bila di hadapan anak-anak. Indikator ini masuk dalam kategori udzwatun hasanah (role model) Skor pada pernyataan ini hanya mencapai 2,9 di dalam skala likert. Sebetulnya skala 2,9 menunjukan nilai cukup baik. Tapi karena posisi skornya ada dalam urutan terendah, maka perlu menjadi perhatian dan dibahas lanjut. Prinsip mau memberikan teladan yang baik di hadapan anak adalah sesuatu yang sangat penting. Tak aneh, bila ki Hajar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan Indonesia mengamanatkan 3 prinsip penting dalam pendidikan, Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberikan teladan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mau memotivasi. Keteladanan dalam mendidikan anak adalah cara yang paling efektif dan berhasil dalam mempersiapkan anak dari berbagai segi. Di antaranya menanamkan ahlak, mental dan jiwa sosial yang tinggi. Dalam keluarga, Orang tua adalah figur ideal atau idola yang dicontoh oleh anak-anaknya. Anak akan mengikuti tingkah laku kedua orang tua baik secara disadari ataupun tidak. Anak-anak meniru keduanya dari hal-hal terkecil dari mulai cara berbicara sampai perbuatan keseharian (Ulwan, 2012). Bila dikaitkan dengan zaman sekarang, dimana perhatian semua manusia banyak tertarik oleh teknologi dan komunikasi, maka sangat penting bagi orang tua untuk dapat mengelola waktunya dalam menggunakan teknologi informasi dengan baik di depan anak- anak. Begitu juga dalam masalah ibadah, orang tua harus dapat mencontohkan kalau disiplin dalam ibadah, misalnya shalat tepat waktu atau mencari ilmu agama di pengajian. Bila orang tua mencontohkan hal yang baik terlebih dahulu, maka pasti anak-anaknya akan mengikuti perbuatan orang tuanya secara peralahan. Kemampuan Literasi Digital Parenting Sejalan dengan perkembangan zaman, maka ruang lingkup dan pergaulan anak- anakpun sudah semakin berkembang. Anak usia dini sekalipun sekarang sudah banyak yang bisa memaikan HP yang terkoneksi internet. Bahkan, dalam beberapa kasus sepertinya dunia maya lebih banyak menawarkan hal yang lebih menarik bagi anak-anak daripada di dunia nyata. Dalam HP, anak-anak bisa menonton apa saja yang mereka suka melalui aplikasi youtube. Anak-anak bisa memainkan game apapun selama bisa didownload di playsoter atau appstore. Lebih menarik lagi, ada kejadian seorang anak bisa menggunakan akun market place miliki orang tuanya dan belanja mainan sesuka hatinya secara cash on delivery (COD). Ketika anak-anak memasuki usia remaja, maka kebutuhan mereka terhadap HP dan internet menjadi semakin tinggi lagi. HP dan internet bukan hanya dapat digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, tetapi juga berinteraski secara sosial dengan manusia mana pun di belahan dunia manapun. Menyadari, pola pergaulan anak yang semakin meluas dari dunia nyata sampai ke dunia, maka orang tua tidak bisa tinggal diam lagi. Pengawasan dan perhatian orang tua bukan lagi hanya tercurah pada pergaulan di dunia nyatanya, tetapi juga pergaulan di dunia maya. Dalam konteks inilah, orang tua sangat perlu untuk memiliki dan menguasai kemampuan digital parenting. Digital parenting adalah kemampuan orang tua untuk mendidikan dan mengasuh anaknya ketika para anak melakukan interaksi di dunia maya. Setiap orang tua yang akan merawat anak-anak perlu memutuskan teknologi apa yang boleh digunakan anak-anak, aktivitas apa saja yang mereka lakukan, aplikasi apa yang mereka gunakan, serta berapa banyak waktu yang mereka dapat habiskan di depan layar. Kerangka kerja agar orang tua dapat memiliki literasi digital parenting oleh Romero disebut dengan Kerangka Kerja Literasi Digital Orang Tua (Parental Digital Literacy Framework) (Romeo, 2014). Kerangka ini bertujuan untuk menyusun keterampilan yang dibutuhkan untuk meningkatkan pengawasan orang tua terhadap penggunaan teknologi oleh anak-anak. Kerangka tersebut terdiri dari beberapa langkah kerja yang terkandung dalam empat sub- set keterampilan: (1) keterampilan pengasuhan digital dasar (Digital Parenting Literacy); (2) keterampilan komunikasi (Communication Skill); (3) kreativitas (Creativity); (4) keterampilan belajar sepanjang hayat (life long-learning). Keterampilan pengasuhan terdiri dari 3 keterampilan utama yaitu keterampilan privasi, pengelolaan isi informasi, dan manajemen teknologi. Keterampilan komunikasi terdiri dari kemampuan memberikan model dalam komunikasi dan interaksi, dan pengaturan emosional dan sosial. Keterampilan kreativitas terdiri dari kreativitas, pemecahan masalah, dan perhatian-kemampuan mengatur sendiri. Keterampilan belajar sepanjang hayat terdiri dari keterampilan orang tua untuk memiliki jaringan atau komunitas pencarian informasi dan keterampilan untuk menggunakan teknologi sebagai alat (meta) kognitif. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 2. Kemampuan Literasi Digital Parenting No Indikator Pertanyaan Skor 1 Privacy management Saya merahasiakan data pribadi anak saya di internet (Privasi) 2,9 2 Content Management Saya mengatur apa saja yang bisa diakses dan tidak boleh diakses oleh anak saya di internet (content manajemen) 3,1 3 Management Technology Saya mengatur jadwal penggunaan HP terkoneksi internet anak-anak agar tidak kecanduan (teknologi manajemen) 3,2 4 Management Technology (teknologi manajemen) Saya mendampingi anak agar tahu apa yang diakses atau dimainkan oleh anak saya saat bermain HP terkoneksi internet 3,1 5 Communication and interaction modelling Saya menggunakan Handphone terkoneksi internet secara teratur dan bijaksana di depan anak-anak (Modelling) 3,1 6 Communication and interaction modelling Saya tidak mudah berkomunikasi dengan orang yang belum saya kenal di media sosial, sebelum mengetahui latar belakangnya (Modelling) 3,4 7 Social and emotional regulation Menurut saya tidak masalah bila anak saya tidak bisa bermain sosial media atau game online, kalau usianya memang belum cukup (Regulasi emosi dan sosial) 3,4 8 Social and emotional regulation Saya telah mengajarkan anak saya cara yang baik menghadapi komentar buruk dan bullying di internet (Regulasi emosi dan sosial) 2,6 9 Creativity Saya dapat membantu anak-anak menjadi lebih kreatif dengan menggunakan internet (kreatifitas) 3,1 10 Problem Solving Saya dapat membantu anak-anak ketika mereka kesulitan mencari sumber informasi yang tepat di internet untuk menyelesaikan tugas mereka (problem solving) 3,1 11 Attention and self-regulation Saya mengarahkan anak-anak agar tetap fokus dan dapat mengendalikan diri sendiri ketika mengerjakan tugas-tugas dari sekolah saat menggunakan internet (Mampu mengatu sendiri) 3,3 12 Community-oriented information search Saya memiliki relasi atau orang yang dapat ditanya untuk membantu anak saya dalam mencari informasi yang diperlukan (Komunitas pencari informasi) 3 13 Using technology as cognitive tools Saya dapat mengoperasikan HP terkoneksi internet untuk mengakses informasi yang diperlukan (Using technology as cognitive tools) 3,5 14 Using technology as cognitive tools Dengan bantuan HP terkoneksi internet, saya dapat menyusun informasi yang terstruktur untuk menyelesaikan permasalahan saya diperlukan (Using technology as cognitive tools) 2,9 Total Skor 3,1 Indikator Tertinggi dalam Digital Parenting Jawaban responden dengan skor yang paling tinggi adalah pada pernyataan bahwa responden mayoritas bisa mengoperasikan HP dan mengakses informasi yang ada di dalamanya. Pernyataan ini mencapai skor 3,5 yang berarti sangat tinggi dalam skala likert 1- 4. Skor sangat tinggi pada pernyataan ini menunjukan bahwa orang tua sudah memiliki ketrampilan dasar dalam menggunakan HP sebagai alat untuk mencari informasi. Menurut Romero (2014) keterampilan ini masuk dalam skill dasar digital parenting pada bagian life-long learning. Penggunaan HP saat ini seolah menjadi kebutuhan dasar bagi para orang tua. Para orang tua pada tingkat yang paling dasar biasanya menggunakan HP untuk berinteraksi dengan sesama orang tua yang tergabung dalam satu kelompok atau grup di dunia maya yang difasilitasi oleh sebuah aplikasi jejaring sosial seperti yang tengah populer, Whast App (WA). Melalui WA, orang tua dapat tergabung dalam berbagai grup, sebut saja grup gang, grup blok, grup pengajian, grup sekolah, dan lain-lain. Melalui grup-grup ini para orang tua dapat saling tukar informasi terkuat sebuah informasi yang sedang trend. Dalam konteks yang lebih positif, melalui grup WA, orang tua dapat berbagai informasi terkait kebutuhan mereka masing-masing, misalnya tentang resep makanan, review barang belanjaan murah berkualitas, dan bahkan tugas-tugas anak mereka di sekolah. Dalam suatu grup WA, bisa saja hanya ada satu atau dua orang yang bisa mengakses informasi secara tepat. Hasil dari penulusuran informasi tersebut, kemudian dibagian kepada seluruh anggota grup. Dengan demikian seluruh anggota grup dapat memperoleh informasi-informasi penting yang mereka butuhkan. Keberadaan anggota yang memiliki kemampuan akses informasi yang baik ini turut membentuk jaringan yang disebut oleh Romero (2014) sebagai community-oriented information search. Keberadaan komunitas ini akan sangat membantu para orang tua dengan kemampuan akses yang terbatas menjadi well-informed (terinformasikan dengan baik). Namun, di sisi yang lain grup WA yang hanya diisi oleh orang-orang yang aktif menyebar berita yang tidak jelas bisa menjadikan grup itu misinformed (mendapatkan berita yang salah). Indikator Terendah dalam Digital Parenting Pernyataan responden yang mendapatkan skor terendah adalah pada pernyataan bahwa orang tua sudah mengajarkan anaknya tata cara menghadapi bullying. Skor ini hanya memperoleh skor 2,6 yang berarti tinggi pada skala 1 – 4. Namun karena memperoleh skor terendah di antara pernyataan lainnya maka pernyataan perlu mendapatkan perhatian yang lebih lanjut. Dalam kerangka kerja literasi digital parenting, pernyataan di atas termasuk dalam kategori communication skill. Orang tua harus membantu anak-anak menguasai emosi mereka dan mendukung perkembangan sosial mereka baik dengan dan tanpa teknologi. TIK dapat menjadi sumber tekanan emosional bagi anak-anak. Misalnya, banyak remaja mengalami 'Fear of Missing out' (FOMO) dan terlalu bergantung pada pembaruan dari dan komunikasi dengan rekan-rekan mereka. Akibatnya, beberapa remaja menjadi terikat dengan jaringan sosial dan kelompok, sehingga mencoba untuk tetap online sepanjang waktu. Orang tua harus membantu anak-anak mengenali sindrom FOMO dan membantu mereka menjauhkan diri dari kebiasaan online sepanjang waktu. Orang tua juga harus membantu anak-anak mereka mengelola rumor dan komentar kasar dan untuk mencegah cyber bullying (Ybarra, & Mitchell, 2008). Kehadiran orang tua ketika anak-anak mengalami masa-masa sulit saat terkena imbas pergaulan di dunia maya adalah sangat penting. Kehadiran orang tua akan menguatkan mereka. Terkait cyber bullying orang tua harus meyakinkan anak bahwa dunia maya itu hampir sama dengan dunia nyata, dimana akan ada saja orang yang baik langsung ataupun tidak langsung membuat hati kita tidak nyaman, anak-anak harus kuat dan siap dengan kondisi seperti itu. Pengaruh Islamic Parenting pada Digital Parenting Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh signifikan dari kemampuan islamic parenting pada digital parenting. Hasil dari penghitungan dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment, menunjukan bahwa pengaruh itu sangat kuat. Dalam skala 0 1, pengaruh islamic parenting pada digital parenting mencapai angka 0,81344502. Dengan memperhatikan tabel tabel koefiensi korelasi di bawah ini: Tabel 3. koefiensi korelasi Interval Koefesien Tingkat Hubungan 0,00 -0,199 Sangat Rendah 0,20-0,399 Rendah 0,40-0,599 Cukup 0,60 -0,799 Kuat 0,80 - 1,000 Sangat Kuat Dalam analisis penulis pengaruh yang sangat kuat ini memang sangat dapat dipahami. Pada umumnya orang tua pasti merasa khawatir dengan kondisi zaman yang terus mengalami perubahan. Berita-berita tentang bagaimana kisah tragis yang dialami anak-anak di berbagai pelosok daerah dan belahan dunia lain, pasti akan mengiris hati orang tua dan membuatnya berpikir tentang bagaimana caranya agar dapat mendidik anak dengan baik. Kesadaran tentang perlunya mendidik anak dengan baik ini merupakan titik awal dari orang tua dalam islamic parenting. Suasana akan menjadi lebih kondusif, ketika orang tua tersebut aktif terlibat dalam berbagai pengajian. Dari materi-materi pengajian orang tua mengetahui bahwa salah satu kewajiban orang tua adalah menjadikan anak keturunannya menjadi anak yang beriman kepada Allah SWT dan memiliki akhlak yang baik. Bagi orang tua yang baik, menyadari kewajiban anak dan mengetahui bahwa tantangan di zaman ini begitu berat, akan membuat berpikir lebih keras dan kreatif untuk menjalankan fungsinya sebagai orang tua. Selain mengasuh, merawat dan mendidik anak di dalam rumah, orang tua juga tentu akan terus memantau perkembangan anak di luar rumah. Hal yang sama juga akan dilakukan oleh para orang tua, saat anak-anak mereka mulai akrab dengan dunia maya, dimana mereka dapat bermain game, menonton, membaca dan bahkan berinteraksi lewat jejaring sosial. Para orang tua tentu ingin mengetahui apa saja yang anak mereka baca, lihat dan lakukan di dunia maya. Keinginan untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh anak di dunia maya ini menyebabkan orang tua mau-tidak mau harus bisa mengoperasikan HP atau gadget lain yang terkoneksi dengan internet. Setelah bisa menggunakan HP dengan baik, orang tua dapat memahami pula apa yang dirasakan oleh anak ketika berselancara dan bergaul dengan banyak orang di dunia maya. Hal ini dapat membuat mereka memiliki bekal yang cukup untuk memberika nasihat-nasihat yang baik kepada anak-anaknya. Tidak cukup itu saja, orang tua juga harus bisa memberikan contoh pada anaknya bagaimana menggunakan HP dan gadget lain secara bijaksana. Orang tua harus mengajak anak-anak bagaimana caranya menggunakan dan memanfaatkan hal-hal yang positif dari keberadaan HP dan internet.

Conclusion

D. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka penulis dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Kemampuan islamic parenting orang orang tua dapat dikatakan sangat tinggi. Hal ini karena hasil skor yang diraih mencapai nilai 3,34. Indikator dengan skor raihan tertinggi pada variabel islamic parenting ini adalah pada pernyataan bahwa orang tua selalu mendampingi anaknya bila ada masalah dan pada pernyataan bahwa orang tua berkenan memberi sanksi pada anak bila berbuat kesalahan. Sementara itu skor terendah pada ada pada indikator role mode, tepatnya pada pernyataan beribadah tepat waktu di depan anak-anak. Pernyataan ini hanya mencapai skor 2,9. 2. Kemampuan digital parenting orang tua berada pada level tinggi. Hal ini karena skor yang diraih mencapai 3,1. Indikator dengan raihan skor tertinggi pada varibel digital parenting ini adalah pada pernyataan bahwa semua orang tua dapat mengoperasikan HP terkoneksi internet untuk mengakses informasi yang diperlukan. Skor ini mencapai nilai 3,5. Selanjutnya skor terendah adalah pada pernyataan bahwa orang tua sudah mengajarkan anak cara menghadapi bullying. Pernyataan ini hanya mencapai skor 2,6. 3. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh signifikan dari kemampuan islamic parenting pada digital parenting. Hasil dari penghitungan dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment, menunjukan bahwa pengaruh itu sangat kuat. Dalam skala 0 1, pengaruh islamic parenting pada digital parenting mencapai angka 0,81344502. Berdasarkan data-data di lapangan dan rumusan hasil penelitian yang telah disampaikan pada bab sebelumnya, maka penulis menyampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Kebiasaan orang tua dalam mendampingi anak ketika menghadapi masalah harus selalu dipertahankan. Perkembangan teknologi dan informasi saat ini sangat memungkinkan anak-anak menghadapi aneka masalah baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. 2. Dalam hal akhlak dan kegiatan beribadah orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Begitu juga dalam mencari ilmu, orang tua harus bisa memberikan contoh yang baik di hadapan anak-anaknya. 3. Keterampilan orang tua dalam menggunakan Handphone atau gadget lainnya harus diarahkan kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya untuk mengakses informasi- informasi yang lebih mendalam tentang tata cara membimbing dan mendidik anak 4. Anak-anak sangat rentan mengalami bullying ataupun cyber bullying baik di dunia nyata dan di dunia maya. Oleh karena itu, orang tua harus sangat sadar dengan hal itu dengan cara memberikan motivasi kepada anak dan mengabaikan komentar-komentar negatif yang ditujukan kepadanya.