Kembali
16
1
2025 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 9 · 2 ISSN 2580-3662

Assertivitas Mahasiswa Berkebutuhan Khusus Dalam Mengakses Layanan Perpustakaan

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat assertivitas mahasiswa berkebutuhan khusus dalam mengakses layanan informasi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa difabel memperlihatkan karakteristik assertivitas melalui keberanian menyampaikan kebutuhan informasi, kemampuan menjaga penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan menolak secara tepat dalam situasi yang tidak sesuai dengan kenyamanan mereka. Selain itu, pustakawan menerapkan sejumlah strategi layanan seperti pelatihan layanan inklusif, penyediaan fasilitas aksesibilitas, dukungan manajemen, dan peningkatan kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya layanan ramah difabel. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa assertivitas mahasiswa difabel berkembang seiring dengan ketersediaan layanan yang responsif, lingkungan yang mendukung, serta interaksi yang positif antara pemustaka dan pustakawan. Adapun implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya penguatan kebijakan layanan inklusif berbasis aksesibilitas digital, peningkatan kompetensi pustakawan dalam melayani pemustaka difabel, serta evaluasi rutin terhadap fasilitas dan sistem layanan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan informasi semua pemustaka tanpa terkecuali.

Abstract

This study aims to identify the level of assertiveness among students with special needs in accessing information services at the Library of UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. This research employed a descriptive qualitative method, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that students with disabilities demonstrate assertive behaviors through their ability to express information needs clearly, maintain self-respect while respecting others, and assertively decline requests that do not align with their comfort or capacity. Additionally, librarians implement several service strategies, including inclusive service training, the provision of accessibility facilities, managerial support, and the promotion of awareness among the academic community regarding disability-inclusive services. The study concludes that the assertiveness of students with disabilities grows alongside responsive services, supportive environments, and positive interactions between users and librarians. The implication of this research highlights the need to strengthen inclusive service policies, particularly in digital accessibility, enhance librarians’ competencies in serving users with disabilities, and conduct regular evaluations to ensure that information needs of all users are equitably met.
Keywords: Assertive · Special Needs · Services · Library

Introduction

Perpustakaan merupakan lembaga yang menyediakan akses informasi bagi seluruh lapisan masyarakat dan berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya di bidang pendidikan (Endarti, 2022). Sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 Pasal 38, setiap penyelenggara perpustakaan wajib menyediakan sarana dan prasarana sesuai standar nasional serta mengembangkan pemanfaatannya mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang beragam, baik dari sisi budaya, ras, maupun kondisi fisik, perpustakaan dituntut untuk memberikan layanan yang inklusif dan menghargai keberagaman. Berdasarkan data BPS Tahun 2020, terdapat sekitar 22,5 juta penduduk penyandang disabilitas di Indonesia, sedangkan pada tahun 2022 sebanyak 17 juta berada pada usia produktif. Bahkan dalam lingkup ASEAN, Indonesia tercatat memiliki jumlah penyandang disabilitas terbesar, yakni mencapai 45% dari total penyandang disabilitas di kawasan (Kemlu RI, 2019b). Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam penyediaan layanan publik yang inklusif, termasuk dalam menjamin hak atas akses informasi di perpustakaan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas, termasuk mahasiswa berkebutuhan khusus, masih menghadapi hambatan dalam mengakses informasi dan layanan perpustakaan. Kastari (2020) menemukan bahwa pemustaka tunanetra di Perpustakaan SABDA Yogyakarta mengalami keterbatasan koleksi aksesibel, bahan pustaka yang belum terscan untuk screen reader, serta minimnya fasilitas pendukung. Pratama et al. (2024) juga menunjukkan hambatan berupa keterbatasan fasilitas, kurangnya pelatihan pustakawan, serta stigma dan rendahnya kesadaran lingkungan kampus mengenai kebutuhan mahasiswa difabel. Di sisi lain, beberapa penelitian menyoroti peran perilaku interpersonal dalam kualitas layanan perpustakaan. Penelitian oleh Darmayanti, Barubara, & Purwaningtyas (2024) mengungkapkan bahwa perilaku asertif staf perpustakaan berpengaruh signifikan terhadap kualitas pelayanan. Asertivitas pustakawan terbukti mampu meningkatkan kejelasan komunikasi, ketegasan dalam batas kewenangan, dan kepuasan pemustaka. Temuan serupa ditunjukkan oleh Santoso (2018) yang menyatakan bahwa pustakawan dengan perilaku asertif mampu memberikan layanan yang lebih efektif dan responsif. Selain itu, Husna (2018) menegaskan bahwa asertivitas staf perpustakaan berperan penting dalam keberhasilan program liaison librarian karena keterlibatan staf dalam komunikasi aktif dengan pemustaka sangat bergantung pada kemampuan interpersonal mereka. Meskipun demikian, penelitian mengenai asertivitas di perpustakaan selama ini lebih banyak berfokus pada pustakawan atau staf perpustakaan, bukan pada pemustaka, terutama mahasiswa berkebutuhan khusus. Padahal, kemampuan asertif mahasiswa difabel dalam mengakses layanan, misalnya kemampuan meminta bantuan, mengutarakan kebutuhan informasi, atau berkomunikasi dengan pustakawan merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan mereka dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dengan demikian, masih terdapat research gap dalam kajian terkait perilaku asertif mahasiswa berkebutuhan khusus sebagai pengguna layanan perpustakaan. Urgensi penelitian ini semakin kuat mengingat mahasiswa penyandang disabilitas sering menghadapi hambatan ganda: keterbatasan fisik atau indrawi dan hambatan psikososial seperti rasa enggan, takut mengganggu, atau kurang percaya diri ketika berinteraksi dengan pustakawan. Aspek-aspek tersebut belum banyak dieksplorasi dalam penelitian sebelumnya yang cenderung fokus pada aspek aksesibilitas fisik dan teknologi. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana tingkat assertivitas mahasiswa berkebutuhan khusus memengaruhi kemampuan mereka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan secara optimal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Assertivitas Mahasiswa Berkebutuhan Khusus dalam Mengakses Layanan Perpustakaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan layanan perpustakaan yang lebih inklusif, berkeadilan, serta mampu merespons kebutuhan seluruh pemustaka tanpa terkecuali. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penguatan kebijakan, pelatihan pustakawan, serta peningkatan fasilitas dan prosedur layanan yang ramah disabilitas di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai assertivitas mahasiswa berkebutuhan khusus dalam mengakses layanan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian mencakup seluruh mahasiswa difabel yang menjadi pemustaka aktif, dengan lima informan dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria: terdaftar sebagai mahasiswa difabel, pernah menggunakan layanan perpustakaan minimal dua kali dalam satu semester, mewakili kategori difabel seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, maupun hambatan belajar ringan, serta bersedia menjadi partisipan. Pemilihan lima informan dianggap memadai untuk mencapai kedalaman data sesuai karakteristik penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi terhadap kebijakan layanan inklusif serta fasilitas perpustakaan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, meliputi pengekodan awal terhadap transkrip wawancara dan catatan observasi, pengelompokan kode menjadi tema-tema utama, serta penafsiran tema untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai pola assertivitas dan hambatan yang dihadapi informan. Keabsahan data dijaga dengan meminta kembali konfirmasi dari para informan atas hasil sementara, membandingkan temuan dari berbagai teknik dan sumber, serta melakukan proses saling memberi masukan dengan rekan peneliti agar pemaknaan data lebih tepat. Penelitian ini juga mematuhi prinsip etika, yaitu meminta kesediaan informan secara sadar sebelum mengikuti penelitian, menjaga kerahasiaan identitas mereka, serta memastikan bahwa seluruh informasi yang diberikan hanya digunakan untuk keperluan ilmiah.

Discussion

Assertivitas dipahami sebagai kemampuan individu untuk menyampaikan pikiran, perasaan, serta kebutuhannya secara langsung dan jujur, namun tetap menghargai hak orang lain (Husna, 2018). Irwan & Novianty (2019) mengemukakan tiga ciri utama perilaku asertif, yaitu keberanian berbicara, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan menolak secara tepat. Ketiga aspek ini ditemukan pada informan penelitian, dengan variasi pengalaman sesuai kondisi personal dan jenis disabilitas. Keberanian Untuk Berbicara Hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh informan telah menunjukkan keberanian dalam menyampaikan pendapat terkait layanan perpustakaan. Misalnya, Informan 1 menyatakan bahwa ia "berani menyampaikan kebutuhan seperti meminta buku digital atau bantuan pencarian koleksi". Hal ini sejalan dengan konsep assertivitas yang menekankan kemampuan individu untuk mengungkapkan pikiran tanpa rasa takut atau cemas. Informan 3 mengungkapkan bahwa keberanian berbicara sangat membantunya dalam menjalin komunikasi dengan pustakawan, terutama ketika membutuhkan bantuan menerjemahkan informasi tertulis. Temuan ini sesuai dengan Irwan & Novianty (2019) bahwa keberanian menyampaikan kebutuhan dapat memperkuat hubungan interpersonal. Informan juga menunjukkan kemampuan mempertahankan hak, misalnya Informan 2 menyatakan bahwa ia selalu "mengadvokasi hak untuk mendapatkan layanan yang setara dan tidak dibeda-bedakan". Temuan ini mengindikasikan bahwa pemustaka difabel di UIN Sunan Kalijaga telah menerapkan assertivitas dalam keberanian menyampaikan kebutuhan, dengan tetap menjaga penghormatan kepada pustakawan. Data ini sejalan dengan penelitian Darmayanti et al. (2024) yang menyebutkan bahwa interaksi interpersonal yang baik dapat meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Penghargaan Terhadap Diri Sendiri Dan Orang Lain Aspek kedua assertivitas terlihat dari kemampuan informan untuk menghargai diri sendiri (self-esteem) serta menghormati orang lain. Informan 4 menyampaikan bahwa "percaya diri itu penting, karena kalau tidak percaya diri, kita sulit bicara apa yang kita butuhkan". Informan 1 menegaskan bahwa ia merasa dihargai ketika pustakawan merespon kebutuhannya dengan baik, dan hal tersebut meningkatkan rasa percaya diri untuk terus aktif menggunakan layanan perpustakaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Irwan & Novianty (2019) bahwa penghargaan terhadap diri sendiri merupakan fondasi perilaku asertif. Penghargaan terhadap orang lain juga tampak ketika informan menyampaikan kebutuhan mereka tanpa menuntut secara berlebihan. Mereka tetap menjaga kesopanan, tidak menyudutkan pustakawan, dan memahami keterbatasan layanan. Temuan ini memperlihatkan bahwa assertivitas tidak bersifat agresif, tetapi menempatkan hak diri dan hak orang lain secara seimbang sebagaimana ditegaskan dalam teori Husna (2018). Kemampuan Menolak Aspek ketiga assertivitas adalah kemampuan untuk menolak permintaan atau situasi yang tidak sesuai, yang ditemukan pada hampir semua informan. Informan 5 mengungkapkan bahwa ia "pernah menolak permintaan teman untuk membacakan buku dalam waktu lama karena merasa tidak sanggup". Ia menyampaikan penolakan secara sopan, memberikan alasan singkat, serta menawarkan solusi lain. Kemampuan menolak secara asertif mendukung kesehatan psikologis dan hubungan sosial pemustaka difabel. Untuk memperjelas makna kalimat yang sebelumnya dianggap tidak jelas oleh editor, maka bagian berikut telah diperbaiki. Pemustaka difabel yang mampu menyatakan penolakannya dengan jelas dan tanpa nada agresif cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat. Ketika mereka dapat mengekspresikan ketidaksetujuan secara terbuka namun tetap menghormati orang lain, hal ini menciptakan pola komunikasi yang lebih jujur, nyaman, dan saling menghargai. Strategi menolak yang ditemukan di lapangan mencakup: menyampaikan kata "tidak" secara jelas, memberi alasan singkat bila diperlukan, menawarkan alternatif waktu lain, serta menjaga bahasa tubuh tetap positif. Strategi ini sejalan dengan Irwan & Novianty (2019) yang menekankan bahwa kemampuan berkata "tidak" merupakan bagian penting dari assertivitas yang sehat. Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga melalui Difabel Corner (DC) dan koordinasi dengan Pusat Layanan Difabel (PLD) menyediakan layanan pendukung seperti relawan pembaca, konversi teks ke audio, dan pendampingan akses koleksi. Informan 1 dan 5 menyampaikan bahwa keberadaan relawan membuat mereka merasa lebih leluasa dalam mengungkapkan kebutuhan, karena relawan membantu menerjemahkan situasi layanan yang mungkin sulit diakses secara mandiri. Temuan ini menunjukkan bahwa assertivitas mahasiswa berkebutuhan khusus didukung oleh lingkungan layanan yang inklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian Kastari (2020) dan Pratama et al. (2024) yang menegaskan bahwa fasilitas aksesibel dan komunikasi responsif dari pustakawan berpengaruh besar terhadap keberanian pemustaka difabel dalam menyatakan kebutuhan. Beberapa hal kegiatan pelaksanaan yang dilakukan oleh pustakawan yaitu: Pelatihan Pustakawan Seorang pustakawan sangat penting dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk melayani pemustaka berkebutuhan khusus. Beberapa aspek pelatihan yang telah dilakukan ialah: 1. Kesadaran tentang disabilitas, seorang pustakawan yang bertugas di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah memahami berbagai jenis disabilitas dan cara berinteraksi dengan individu yang memiliki kebutuhan khusus. Hal ini dikatakan oleh pihak pustakawan yang telah mengikuti pelatihan mencakup pemahaman tentang disabilitas fisik, sensorik, kognitif, dan psikologis seperti pelatihan Bahasa isyarat. Sehingga dalam hal ini pemustaka dapat dilayani dengan baik oleh pustakawan yang ahli dalam bidangnya. 2. Komunikasi efektif, pustakawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah menerapkan teknik komunikasi yang tepat kepada pemustaka penyandang disabilitas, termasuk penggunaan bahasa yang inklusif dan cara menjelaskan informasi dengan jelas dan mudah dipahami. Sehingga dalam hal ini pemustaka yang menyandang tuna rungu atau tuna wicara dapat dilayani dengan baik sehingga pemustaka telah terpenuhi kebutuhan informasi yang diharapkan Penyediaan Fasilitas Aksesibilitas Perpustakaan harus memastikan bahwa fasilitas yang ada mendukung aksesibilitas bagi semua pemustaka. Hal ini mencakup kepada fasilitas fisik, penyediaan jalur akses seperti guiding blocks dan ramp untuk memudahkan mobilitas penyandang disabilitas, maupun teknologi asistif yaitu menyediakan perangkat lunak dan perangkat keras yang membantu penyandang disabilitas dalam mengakses informasi, seperti pembaca layar dan buku dalam format Braille. Penyediaan fasilitas yang diberikan pada Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta telah memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan oleh pemustaka disabilitas, salah satu ketersediaan fasilitas yang diberikan ialah buku-buku braille serta e-book yang disediakan oleh pihak perpustakaan terkhususnya penyandang tuna netra. Akan tetapi dalam hal ini adapun kendala yang dihadapi pemustaka tuna netra yaitu banyaknya e-book yang tersedia masih belum bisa dibuka secara open akses dan ringkasan bacaan yang sulit ditemukan oleh pemustaka yang mengalami tuna netra. Akan tetapi fasilitas yang disediakan dalam bentuk fisik hampir menyeluruh pemustaka difabel merasa puas dengan fasilitas yang telah diberikan oleh Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain fasilitas yang disediakan oleh pihak Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarya, adapun aksesibilitas yang diberikan kepada pemustaka difabel untuk mempermudah pemustaka dalam mengakses informasi yang ada diperpustakaan yaitu salabh satunya telah dibuat jalan akses bagi mahasiswa difabel, ruangan Difabel Corner (DC) yang telah disediakan oleh pihak perpustakaan dan bekerja sama dengan pihak Pusat Layanan Difabel (PLD). Oleh karena itu pemustaka penyandang disabilitas telah mengalami asertifitas pemustaka dalam mengungkapkan kebutuhan informasi yang dibutuhan kepada pihak perpustakaan dalam penggunaan dan memanfaatkan perpustakaan secara inklusif sosial. Dukungan Manajemen Dukungan manajemen perpustakaan berperan penting dalam menciptakan layanan yang inklusif, terutama bagi pemustaka difabel. Secara teori, manajemen perpustakaan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian untuk memastikan seluruh layanan berjalan efektif (Alimi et al., 2019). Namun, dukungan tersebut baru bermakna jika tercermin dalam pengalaman pengguna di lapangan. Berdasarkan wawancara dengan Informan 1, dukungan manajemen di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga terasa melalui ketersediaan ruang Difabel Corner (DC) dan layanan-layanan pendukung. Informan menyampaikan bahwa ruang khusus tersebut mempermudah proses belajar dan interaksi dengan relawan. Ia menuturkan: "Di Difabel Corner saya bisa belajar dan diskusi dengan nyaman. Kalau butuh bantuan membaca atau mencari buku, relawan juga selalu siap membantu." Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebijakan manajemen tidak hanya berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi juga memastikan keberlanjutan layanan melalui pendampingan. Selain fasilitas fisik, dukungan manajemen juga tampak melalui penyediaan mekanisme umpan balik. Informan mengetahui adanya kotak saran dan kanal pengaduan online melalui platform MAMAKE, meskipun ia belum pernah menggunakannya. Keberadaan sistem ini menunjukkan bahwa manajemen menyediakan ruang komunikasi dua arah agar kebutuhan pemustaka, termasuk difabel, dapat tersampaikan dan ditindaklanjuti. Namun demikian, Informan 1 juga menyebutkan beberapa kendala yang menunjukkan bahwa dukungan manajemen masih perlu diperkuat, terutama terkait aksesibilitas koleksi digital. Ia menjelaskan bahwa sebagian e-book sulit dibuka menggunakan pembaca layar, dan beberapa ringkasan bacaan yang dibutuhkan tidak tersedia secara mudah. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan manajemen dalam pengadaan dan seleksi koleksi digital perlu mempertimbangkan kompatibilitas dengan teknologi asistif. Dengan demikian, dukungan manajemen di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga sudah terlihat melalui penyediaan fasilitas, pendampingan relawan, hingga kanal pengaduan. Namun, hasil wawancara menunjukkan bahwa peningkatan pada aspek aksesibilitas digital dan penyediaan koleksi ramah difabel masih menjadi kebutuhan penting. Temuan ini sejalan dengan konsep manajemen perpustakaan modern yang menekankan pemanfaatan sumber daya secara optimal untuk memenuhi kebutuhan semua pemustaka tanpa terkecuali. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Penting meningkatkan kesadaran masyarakat tentang inklusi dan aksesibilitas di perpustakaan melalui kegiatan pendidikan pengguna perpustakaan (user education). Hal ini juga dilakukan oleh pihak Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah melakukan pengedukasian kepada pemustaka tentang layanan yang tersedia bagi penyandang disabilitas, dimana kegiatan ini dilakukan sesuai dengan jadwal yang dibuatkan oleh kebijkan perpustakaan yang dimana dibedakannya jadwal pengguna pemustaka umum dengan mahasiswa khusus yang penyandang disabilitas. Dengan adanya pendidikan pengguna ini mahasiswa penyandang disabilitas lebih memahami penggunaan dan pemanfaatan perpustakaan terkhususnya lebih lagi akses fasilitas yang diberikan seperti penggunaan dan pengembalian buku secara mandiri. Meskipun dalam hal ini banyak keterlambatan dalam proses, lebih kurangnya pihak pemustaka yang menyandang sebagai penyandang disabilitas dapat mengikuti perkembangan dan layanan yang diberikan oleh pihak perpustakaan serta layanan yang diberikan oleh pemustaka.

Conclusion

Hasil penelitian menunjukkan bahwa assertivitas mahasiswa berkebutuhan khusus dalam mengakses layanan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tercermin melalui kemampuan menyampaikan kebutuhan secara jelas, menjaga penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, serta menyatakan penolakan secara tepat. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa dukungan fasilitas seperti Difabel Corner, layanan pendampingan relawan, dan responsivitas pustakawan berkontribusi pada tumbuhnya perilaku asertif tersebut. Meski demikian, hambatan masih ditemukan pada aspek aksesibilitas koleksi digital yang belum sepenuhnya kompatibel dengan teknologi pembaca layar. Dengan demikian, penguatan kebijakan manajemen terkait pengadaan koleksi digital dan evaluasi layanan inklusif secara berkala diperlukan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pemustaka difabel secara menyeluruh.