Kembali
16
1
2023 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 7 · 1 ISSN 2580-3662

Manajemen Perpustakaan Masjid Al-Jihad dalam Meningkatkan Literasi Anak-Anak di Wilayah Rejang Lebong

Institut Agama Islam Negeri Curup

Abstrak

Perpustakaan Masjid Al-Jihad menjadi fokus penelitian ini. Manajemen dalam hal ini lebih menekankan pada peningkatan literasi anak di wilayah Rejang Lebong, kendala dan upaya peningkatan efektifitas penanganan masalah literasi pada anak di wilayah Rejang Lebong. Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif, untuk pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Proses analisis data diawali dengan reduksi data, dilanjutkan dengan polling, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Dengan menggunakan triangulasi teknis dan triangulasi sumber dilakukan validasi data. Kajian ini mengungkap bahwa perpustakaan Masjid Al-Jihad merupakan sumber informasi sekaligus fasilitator, mediator, dan motivator serta lembaga pendidikan non formal. Terdapat beberapa keterbatasan yang menjadi kendala dalam upaya peningkatan literasi bagi anak di Kabupaten Rejang Lebong antara lain kurangnya fasilitas, sumber daya manusia, serta perhatian dan minat masyarakat setempat. Solusi yang ditawarkan dalam mengurangi kendala tersebut antara lain perbaikan manajemen, kemudian sumber daya manusia, kemudian sarana prasarana, serta biaya yang dibutuhkan untuk keberlangsungan kegiatan perpustakaan masjid.

Abstract

The Al-Jihad Mosque library is the focus of this research. Management in this case places more emphasis on increasing children's literacy in the Rejang Lebong area, constraints and efforts to increase the effectiveness of handling literacy problems in children in the Rejang Lebong area. This research uses qualitative techniques, for data collection data, including observation, in-depth interviews, and documentation. The process of data analysis begins with data reduction, followed by polling, presentation, and drawing conclusions. By using technical triangulation and source triangulation, data validation was carried out. This study reveals that the Al-Jihad Mosque library is a source of information as well as a facilitator, mediator, and motivator as well as a non-formal educational institution. There are several limitations that become obstacles in efforts to increase literacy for children in Rejang Lebong district, including the lack of facilities, human resources, and the attention and interest of the local community. The solutions offered in reducing these obstacles include management improvements, then human resources, then infrastructure facilities, as well as the costs needed for the continuity of mosque library activities.
Keywords: Library Management · Children Literacy · Mosque Library

Introduction

A. Pendahuluan Literasi saat ini mendapat banyak perhatian dalam upaya untuk mendarah daging di masyarakat. Dengan program-program yang mendorong literasi, kualitas sumber daya manusia sangat bergantung pada literasi. Kesuksesan hidup seseorang dapat dipengaruhi oleh kemampuan literasinya, yang sangat penting untuk mendukung kompetensi tersebut. (Rima Semiarty et al., 2022) Keterampilan literasi dapat membantu individu dalam memahami dan memilah informasi untuk mendukung keberhasilan pencapaian hidup dan meningkatkan kualitas hidup. Selain sumber daya manusia yang berkualitas, Indonesia juga harus berdaya saing tinggi agar cita-cita menjadi negara maju lebih mudah diwujudkan. karena kata Latin "literatus", yang berarti "belajar", adalah akar kata "literasi". Berbicara tentang membaca dan menulis, literasi juga didefinisikan sebagai kapasitas seseorang untuk memaksimalkan kemampuannya dalam memproses dan memahami informasi. Akibatnya, kegiatan membaca menjadi fondasi literasi. Oleh karena itu, minat baca yang kuat harus menjadi landasan bagi pengembangan literasi. Menempati peringkat kedua terbawah dalam penilaian kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains. Dari 77 negara yang dinilai PISA, Indonesia menempati peringkat 72, atau Program Penilaian Pelajar Internasional. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi kelima terbawah. Dari total rata-rata 487 negara, Indonesia mendapatkan skor 371 yang juga di bawah rata-rata. Kesimpulan yang sama diperoleh pada tahun 2016, yang menunjukkan bahwa angka melek huruf di Indonesia masih sangat rendah. Data UNESCO menunjukkan bahwa hanya 0,001 persen penduduk Indonesia yang gemar membaca, penduduk Indonesia hanya satu yang gemar membaca.(Rima Semiarty et al., 2022) Membaca membantu orang memahami informasi, sehingga minat membaca terkait erat dengan keterampilan literasi. Ketika dipahami, informasi menjadi pengetahuan yang dapat diterapkan pada masalah sehari-hari.(Rachmatin, 2019) Pengetahuan seseorang berkembang semakin sering mereka membaca. Oleh karena itu, mengembangkan minat baca menjadi sangat penting jika ingin literasi sudah mendarah daging di masyarakat. Namun, sulit untuk menanamkan kegemaran membaca di masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Hal ini karena masyarakat Indonesia secara alami cenderung lebih menyukai budaya lisan daripada tulisan. (Anawati, 2019) Tanpa sumber daya manusia, infrastruktur, dan fasilitas yang memadai, kegiatan literasi tidak mungkin dilakukan, selain kondisi tersebut. Oleh karena itu, untuk menyelenggarakan kegiatan literasi yang berkelanjutan, diperlukan perpustakaan sebagai sarana prasarananya.(Lukman Solihin et al., 2019) Perpustakaan merupakan salah satu infrastruktur yang mendukung kegiatan literasi. Ini juga memiliki fasilitas dan staf untuk membantu kegiatan ini. Karena bertugas mengumpulkan,digunakan informasi, maka perpustakaan sering disebut sebagai "pusat informasi bagi masyarakat". (Rahmat Fadhli et.all., 2011) layanan yang dapat memenuhi kebutuhan untuk membantu masyarakat menjadi lebih melek huruf.(Saleha Rodiah, Agung Budiono, 2018) Sebagai sarana informasi dan pembelajaran bagi masyarakat, perpustakaan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemajuan literasi masyarakat. Muhammadiyah membangun Perpustakaan Masjid Al Jihad, sebuah perpustakaan umum di Daerah Rejang Lebong. Lembaga Muhammadiyah menginisiasi berdirinya Perpustakaan Masjid Al-Jihad yang awalnya merupakan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Temuan Muhammadiyah Daerah yang menyatakan masih sangat sedikit dan di bawah rata-rata lokasi penyelenggaraan kegiatan bantuan literasi, diperparah dengan inisiatif ini. Pengurus masjid Al-jihad menyadari bahwa perpustakaan mutlak diperlukan bagi masyarakat guna meningkatkan pengetahuan dan minat baca serta literasi. Pada tahun 2010 telah dilakukan penelitian tentang peran pengelolaan perpustakaan dalam kegiatan literasi dengan tujuan mendukung kegiatan literasi warga. Penelitian Turnadi, misalnya, berbic

Method

B. Metode Penelitian Metode penelitian ilmu sosial penelitian kualitatif tidak menganalisis angka-angka karena tidak berusaha mengkuantifikasi atau mengukur data kualitatif yang telah diperoleh. Sebaliknya, tindakan orang dan kata-kata yang diucapkan dan ditulis digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Dalam penelitian kualitatif, kata-kata dan tindakan orang-orang nyata digunakan untuk menganalisis data (Yanto, M., & Fathurrochman, 2019).

Discussion

C. Pembahasan Manajemen Perpustakaan Masjid Manajemen perpustakaan masjid adalah proses mengatur dan mengelola segala kegiatan yang terkait dengan perpustakaan yang ada di dalam masjid. Tujuan dari manajemen perpustakaan masjid adalah untuk memastikan perpustakaan berfungsi dengan baik, menyediakan akses yang mudah bagi jamaah masjid untuk mendapatkan bahan bacaan berkualitas, serta mempromosikan minat baca dan pengetahuan di kalangan umat Islam. masjid: Berikut ini adalah beberapa aspek penting dalam manajemen perpustakaan 1. Pengelolaan koleksi: Perpustakaan masjid harus memiliki koleksi buku dan bahan bacaan yang relevan dengan kebutuhan dan minat jamaah masjid. Koleksi tersebut dapat meliputi Al-Qur'an, buku-buku agama, buku-buku tentang sejarah Islam, tafsir, hadis, serta buku-buku inspiratif dan motivasi. Pengelola perpustakaan perlu merencanakan dan mengatur proses pengadaan, penataan, dan pemeliharaan koleksi tersebut. 2. Sistem katalogisasi: Penting untuk memiliki sistem katalogisasi yang baik agar jamaah dapat dengan mudah mencari dan menemukan buku yang mereka butuhkan. Sistem ini dapat berupa kartu katalog, komputerisasi, atau menggunakan aplikasi perpustakaan. Setiap buku perlu diberi nomor panggilan dan ditandai dengan label yang jelas. 3. Peminjaman dan pengembalian: Perpustakaan masjid perlu memiliki prosedur yang jelas mengenai peminjaman dan pengembalian bahan bacaan. Hal ini meliputi waktu peminjaman, batas waktu pengembalian, dan aturan terkait denda keterlambatan. Pelayanan peminjaman dapat dilakukan melalui mekanisme manual atau dengan menggunakan sistem otomatisasi. 4. Perawatan dan pemeliharaan: Kondisi fisik perpustakaan harus dijaga agar buku-buku tetap dalam kondisi baik. Ini melibatkan pengaturan ruang perpustakaan yang nyaman, suhu dan kelembaban yang sesuai, serta langkah-langkah perlindungan dari kelembapan, debu, dan serangga. 5. Promosi minat baca: Perpustakaan masjid juga dapat melakukan kegiatan promosi dan program-program untuk meningkatkan minat baca di kalangan jamaah masjid. Ini bisa berupa penyelenggaraan diskusi buku, seminar, ceramah, atau kegiatan membaca bersama. Tujuan utamanya adalah menginspirasi dan mendorong jamaah untuk membaca lebih banyak tentang Islam. 6. Pelatihan dan pengembangan: Pengelola perpustakaan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam manajemen perpustakaan. Pelatihan dan pengembangan diri secara berkala perlu dilakukan untuk memperbarui pengetahuan tentang koleksi, teknologi, dan tren terkini dalam bidang perpustakaan. 7. Evaluasi dan umpan balik: Penting untuk melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja perpustakaan dan menerima umpan balik dari jamaah masjid. Hal ini membantu mengidentifikasi kekurangan dan perbaikan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan dan kepuasan pengguna. Semua aspek di atas perlu dikelola dengan baik agar perpustakaan masjid dapat berfungsi sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi bagi jamaah masjid serta mendorong perkembangan ilmu dan minat baca di kalangan umat Islam. Berpijak pada teori Sutarno bahwa perpustakaan Masjid Al-Jihad telah memudahkan anak-anak di wilayah Pontianak Selatan untuk membaca dan menulis. (NS, 2006) tentang fungsi perpustakaan dan upaya yang dilakukan untuk meningkatkannya. Perpustakaan masjid adalah sebuah tempat di dalam masjid yang menyediakan buku-buku dan literatur Islam untuk dipinjam dan dibaca oleh jamaah masjid dan masyarakat umum. Perpustakaan masjid biasanya dilengkapi dengan berbagai jenis buku seperti Al-Quran, Hadits, sejarah Islam, biografi tokoh-tokoh Islam, dan buku-buku tentang agama dan kehidupan Islam secara umum. Perpustakaan masjid bertujuan untuk meningkatkan pemahaman umat Islam tentang ajaran Islam, serta memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk membaca dan memperoleh pengetahuan tentang agama secara mudah dan terjangkau. Selain itu, perpustakaan masjid juga dapat menjadi tempat yang nyaman dan tenang bagi para jamaah masjid dan masyarakat untuk membaca dan belajar tentang agama. Di beberapa masjid, perpustakaan dapat diakses oleh siapa saja, baik anggota masjid maupun masyarakat umum. Namun, di beberapa tempat, perpustakaan masjid hanya diperuntukkan bagi anggota masjid atau jamaah masjid yang telah terdaftar. Untuk meminjam buku dari perpustakaan masjid, biasanya para peminjam harus mengisi formulir peminjaman dan mematuhi aturan yang berlaku di perpustakaan tersebut, seperti jangka waktu peminjaman dan denda keterlambatan. Perpustakaan masjid memiliki peran yang penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya dalam hal membaca buku-buku dan literatur Islam. Berikut adalah beberapa alasan mengapa perpustakaan masjid sangat penting dalam meningkatkan minat baca: 1. Memberikan akses mudah dan terjangkau untuk buku-buku Islam: Perpustakaan masjid menyediakan akses mudah dan terjangkau bagi masyarakat untuk membaca buku-buku dan literatur Islam. Hal ini dapat membantu meningkatkan minat baca masyarakat terhadap buku-buku Islam, terutama bagi mereka yang sulit mengakses buku-buku tersebut di tempat lain. 2. Memberikan lingkungan yang kondusif untuk membaca: Perpustakaan masjid dapat memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi para pembaca untuk membaca dan belajar tentang Islam. Lingkungan yang kondusif ini dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan minat baca masyarakat terhadap buku-buku Islam. 3. Menyediakan berbagai jenis buku dan literatur Islam: Perpustakaan masjid menyediakan berbagai jenis buku dan literatur Islam, seperti Al-Quran, Hadits, sejarah Islam, biografi tokoh-tokoh Islam, dan buku-buku tentang agama dan kehidupan Islam secara umum. Hal ini dapat membantu meningkatkan minat baca masyarakat terhadap berbagai jenis buku dan literatur Islam. 4. Mendorong kebiasaan membaca di kalangan masyarakat: Perpustakaan masjid dapat mendorong kebiasaan membaca di kalangan masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Kebiasaan membaca yang baik dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang Islam, serta membantu mengembangkan keterampilan membaca dan menulis. 5. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang Islam: Perpustakaan masjid dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang Islam di kalangan masyarakat. Dengan membaca buku-buku dan literatur Islam, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang agama, serta dapat membantu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka. Dengan demikian, perpustakaan masjid memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya dalam hal membaca buku-buku dan literatur Islam. Melalui perpustakaan masjid, masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai jenis buku dan literatur Islam, serta membantu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang agama secara umum. Implementasi Fungsi Manajemen dalam Pengelolaan Perpustakaan Masjid Manajemen perpustakaan masjid dapat memainkan peran yang penting dalam meningkatkan literasi anak-anak. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil dalam manajemen perpustakaan masjid untuk meningkatkan literasi anak-anak: 1. Pemilihan koleksi buku yang sesuai: Perpustakaan masjid harus memiliki koleksi buku yang menarik dan relevan untuk anak-anak. Pilihlah buku-buku cerita bergambar, dongeng Islami, fiksi dan nonfiksi yang sesuai dengan usia dan minat anak-anak. Pastikan koleksi mencakup berbagai topik dan tingkat kesulitan yang berbeda agar dapat memenuhi kebutuhan semua anak. 2. Penataan dan tata letak yang menarik: Susun buku-buku dengan sistematis dan menarik di rak perpustakaan. Buatlah area yang nyaman dan menarik bagi anak-anak untuk membaca. Anda juga dapat menggunakan meja dan kursi khusus untuk anak-anak agar mereka merasa lebih nyaman saat membaca atau mempelajari buku-buku di perpustakaan masjid. 3. Program literasi khusus anak-anak: Sediakan program-program literasi yang ditujukan khusus untuk anak-anak, seperti ceramah pendidikan, bacaan bersama, klub buku, dan lokakarya menulis. Program-program ini dapat membantu anak-anak mengembangkan minat baca, pemahaman bahasa, dan keterampilan menulis mereka. Libatkan pustakawan atau sukarelawan yang memiliki pengalaman dalam bekerja dengan anak-anak untuk memimpin program ini. 4. Kolaborasi dengan lembaga pendidikan: Kerjasama dengan lembaga pendidikan seperti sekolah atau taman kanak-kanak dapat membantu meningkatkan literasi anak-anak. Bekerjasama dengan mereka untuk mengadakan kunjungan ke perpustakaan masjid, atau memberikan rekomendasi buku untuk dibaca oleh siswa. Anda juga dapat menyelenggarakan acara literasi bersama dengan lembaga pendidikan setempat, seperti kontes membaca atau kegiatan bercerita. 5. Penyuluhan kepada orang tua: Selain melibatkan anak-anak, perpustakaan masjid juga dapat menyediakan penyuluhan atau pelatihan kepada orang tua tentang pentingnya literasi dan bagaimana mereka dapat mendukung perkembangan literasi anak-anak di rumah. Berikan informasi tentang cara memilih buku yang sesuai, membacakan buku kepada anak, dan mengembangkan kebiasaan membaca di rumah. 6. Penggunaan teknologi: Manfaatkan teknologi dalam meningkatkan literasi anak-anak di perpustakaan masjid. Sediakan komputer atau perangkat elektronik yang dilengkapi dengan aplikasi pembelajaran atau e-book untuk anak-anak. Juga, manfaatkan media sosial atau situs web perpustakaan masjid untuk membagikan rekomendasi buku, cerita pendek, atau kegiatan literasi interaktif kepada anak-anak. 7. Evaluasi dan umpan balik: Lakukan evaluasi secara berkala terhadap program dan kegiatan literasi yang dilakukan di perpustakaan masjid. Terima umpan balik dari anak-anak, orang tua, dan anggota jamaah masjid untuk mengetahui apa yang berhasil dan dapat ditingkatkan. Hal ini membantu dalam pengembangan dan peningkatan program literasi anak-anak di masa mendatang. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, manajemen perpustakaan masjid dapat secara efektif meningkatkan literasi anak-anak dan membangun minat baca yang kuat dalam kalangan generasi muda umat Islam. Implementasi POAC (Plan, Organize, Act, Control) dalam manajemen perpustakaan masjid dapat membantu meningkatkan literasi anak-anak secara efektif. Berikut adalah penerapan POAC dalam manajemen perpustakaan masjid untuk meningkatkan literasi anak-anak: 1. Plan (Perencanaan): a. Identifikasi tujuan literasi anak-anak yang ingin dicapai dalam perpustakaan masjid. b. Rencanakan program-program literasi yang akan diimplementasikan, seperti bacaan bersama, klub buku, atau lokakarya menulis. c. Tetapkan jadwal pelaksanaan program literasi dan pilih buku-buku yang akan disertakan dalam koleksi perpustakaan. 2. Organize (Pengorganisasian): a. Bentuk tim atau komite literasi yang bertanggung jawab atas perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan program-program literasi anak-anak. b. Tentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota tim dalam mempersiapkan dan melaksanakan program-program literasi. c. Koordinasikan dengan staf perpustakaan masjid untuk mengatur penataan koleksi buku anak-anak dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak-anak. 3. Act (Pelaksanaan): a. Mulailah melaksanakan program-program literasi yang telah direncanakan, seperti bacaan bersama secara rutin, klub buku, atau lokakarya menulis. b. Libatkan anak-anak secara aktif dalam kegiatan literasi, dorong mereka untuk membaca, berinteraksi dengan buku-buku, dan berbagi pengalaman membaca mereka. c. Pastikan program-program literasi diikuti dengan baik dan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. 4. Control (Pengendalian): a. Evaluasi program-program literasi yang telah dilaksanakan secara berkala untuk mengevaluasi keberhasilan dan efektivitasnya. b. Terima umpan balik dari anak-anak, orang tua, dan anggota jamaah masjid tentang program-program literasi yang telah dilaksanakan. c. Analisis data dan umpan balik yang diterima untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan peluang perbaikan dalam program-program literasi di masa mendatang. d. Sesuaikan program-program literasi berdasarkan hasil evaluasi dan umpan balik untuk meningkatkan keberhasilan dan dampaknya pada literasi anak-anak. Dengan menerapkan pendekatan POAC dalam manajemen perpustakaan masjid, program-program literasi anak-anak dapat direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara efektif. Hal ini membantu meningkatkan minat baca, keterampilan literasi, dan pengetahuan anak-anak dalam lingkungan perpustakaan masjid. Perpustakaan Masjid Al-Jihad dalam Menyediakan Sumber Informasi Perpustakaan memainkan peran penting dalam menyediakan masyarakat dengan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Dengan menawarkan koleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, kebutuhan informasi dapat terpenuhi. Agar koleksi dapat digunakan secara efektif dan efisien, pengadaan perpustakaan biasanya mempertimbangkan kebutuhan pengguna yang dapat mengakses perpustakaan. (Suliyati, 2019) Misalnya, jika perpustakaan umum berada di kawasan pesisir yang Karena nelayan merupakan mayoritas populasi, koleksi yang harus Anda miliki terkait dengan industri tersebut. Koleksi semacam ini dapat membantu penduduk setempat dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Karena koleksi yang disediakan sesuai dengan kondisi pengguna, yang merupakan anggota komunitas di sekitar koleksi tersebut, pemanfaatan koleksi tersebut pada akhirnya akan dimaksimalkan. Salah satu sarana yang dirancang untuk mendorong minat baca masyarakat, khususnya di wilayah kecamatan Rejang Lebong, perpustakaan masjid Al-Jihad adalah taman bacaan masyarakat yang bermula sebagai perpustakaan umum. Namun, Institut juga menggunakan perpustakaan sebagai Mengingat keadaan ini, mungkin untuk menegaskan bahwa perpustakaan sudah berperan dalam menyediakan anak-anak dengan sumber informasi yang berguna untuk membantu mereka menjadi lebih terpelajar, dan bahwa peran ini juga telah dimanfaatkan. Perpustakaan masjid memiliki peran yang penting dalam menyediakan sumber informasi tentang agama Islam. Berikut adalah beberapa alasan mengapa perpustakaan masjid dapat menjadi sumber informasi yang penting: 1. Menyediakan akses ke berbagai jenis buku dan literatur Islam: Perpustakaan masjid menyediakan akses mudah dan terjangkau ke berbagai jenis buku dan literatur Islam, seperti Al-Quran, Hadits, sejarah Islam, biografi tokoh-tokoh Islam, dan buku-buku tentang agama dan kehidupan Islam secara umum. Hal ini dapat membantu masyarakat untuk memperoleh sumber informasi tentang agama Islam yang akurat dan terpercaya. 2. Menyediakan literatur untuk studi dan penelitian: Perpustakaan masjid juga menyediakan berbagai jenis literatur untuk studi dan penelitian tentang agama Islam. Buku-buku dan literatur ini dapat membantu masyarakat untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Islam dan menyelesaikan studi dan penelitian mereka. 3. Menyediakan sumber informasi untuk kegiatan dakwah: Perpustakaan masjid juga dapat menjadi sumber informasi penting untuk kegiatan dakwah. Buku-buku dan literatur Islam dapat digunakan oleh para dai atau pengajar agama Islam sebagai referensi dalam menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat. 4. Menyediakan akses ke buku-buku dan literatur Islam yang langka atau sulit didapat: Perpustakaan masjid dapat menjadi tempat yang menyediakan buku-buku dan literatur Islam yang langka atau sulit didapat di tempat lain. Hal ini sangat bermanfaat bagi para peneliti atau pecinta buku yang ingin mencari informasi tentang topik yang khusus atau spesifik. 5. Mendorong pengetahuan dan pemahaman tentang agama Islam: Dengan menyediakan sumber informasi yang akurat dan terpercaya tentang agama Islam, perpustakaan masjid dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang agama Islam. Hal ini dapat membantu memperkuat keimanan dan ketaqwaan mereka serta meningkatkan kepedulian mereka terhadap agama dan umat Islam. Dengan demikian, perpustakaan masjid memiliki peran yang sangat penting dalam menyediakan sumber informasi tentang agama Islam. Dengan menyediakan akses ke berbagai jenis buku dan literatur Islam, perpustakaan masjid dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang agama Islam serta mendorong pengembangan keilmuan dan penelitian tentang agama Islam. Perpustakaan Masjid Al-Jihad sebagai Lembaga Pendidikan Non Formal Mungkin hanya siswa dan mahasiswa dari institusi yang secara eksklusif membuatnya tersedia untuk perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi yang dapat menggunakannya. Hal ini karena sebagian orang memiliki kepentingan tertentu, seperti memelihara koleksi dalam kondisi baik atau membatasi koleksi pada mata pelajaran tertentu sehingga hanya anggota institusi dalam hal ini mahasiswa dan mahasiswa yang dapat mengaksesnya, yang dapat menggunakannya. Perpustakaan umum tidak harus memenuhi persyaratan ini karena terbuka untuk semua orang, tingkat pendidikan, dan sebagainya. (Noor, 2019) Karena beragam, koleksi yang tersedia dimanfaatkan oleh lebih banyak pengguna. Sebagai lembaga pendidikan nonformal, perpustakaan ini dapat memenuhi fungsinya. Perpustakaan ditujukan untuk penggunaan masyarakat maupun untuk individu dengan pendidikan formal secara keseluruhan merupakan landasan perpustakaan sebagai lembaga pendidikan nonformal. (Rohmiyati, 2013). Program yang ada saat ini menunjukkan fungsi perpustakaan masjid Al-Jihad sebagai lembaga pendidikan nontradisional. Program bank sampah merupakan salah satu program yang digunakan perpustakaan untuk mendukung perannya sebagai lembaga pendidikan non formal. Penggabungan pengelolaan sampah menjadi kerajinan sering dilakukan dengan para pengunjung perpustakaan anak dengan maksud untuk meningkatkan kreativitas anak dan menunjukkan kepada mereka bahwa perpustakaan lebih dari sekedar tempat membaca buku; selain itu, ini adalah tempat yang menyenangkan untuk bermain, belajar, dan menerapkan informasi. Perpustakaan masjid dapat menjadi lembaga pendidikan non formal yang sangat penting bagi masyarakat. Berikut adalah beberapa alasan mengapa perpustakaan masjid dapat dijadikan sebagai lembaga pendidikan non formal: 1. Menyediakan akses ke pengetahuan tentang agama Islam: Perpustakaan masjid menyediakan akses mudah dan terjangkau ke berbagai jenis buku dan literatur tentang agama Islam. Hal ini dapat membantu masyarakat untuk memperoleh pengetahuan tentang ajaran Islam, sejarah Islam, kehidupan Rasulullah, dan lain-lain. Dengan memiliki akses ke sumber-sumber ini, masyarakat dapat memperdalam pemahaman mereka tentang agama Islam. 2. Meningkatkan keterampilan membaca dan menulis: Perpustakaan masjid dapat membantu meningkatkan keterampilan membaca dan menulis masyarakat. Dengan membaca buku-buku dan literatur Islam, masyarakat dapat meningkatkan kemampuan membaca mereka. Selain itu, mereka juga dapat menulis esai, artikel, atau tulisan-tulisan lain yang berkaitan dengan agama Islam. 3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis: Buku-buku dan literatur Islam yang terdapat di perpustakaan masjid dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis masyarakat. Dengan membaca buku-buku dan literatur ini, masyarakat akan memperoleh informasi yang dapat mereka tinjau dengan cara yang kritis dan dapat mengembangkan sudut pandang yang lebih luas tentang berbagai topik agama Islam. 4. Menyediakan pelatihan kegiatan dakwah: Perpustakaan masjid dapat menyediakan pelatihan kegiatan dakwah bagi para jamaah dan pengajar. Hal ini dapat membantu para dai atau pengajar agama Islam dalam menyampaikan pesan-pesan Islam secara lebih efektif dan tepat sasaran. 5. Mengembangkan keterampilan sosial: Perpustakaan masjid juga dapat membantu mengembangkan keterampilan sosial masyarakat. Dengan datang ke perpustakaan masjid, masyarakat dapat berinteraksi dengan orang lain dan berdiskusi tentang topik-topik agama Islam. Hal ini dapat membantu meningkatkan keterampilan sosial mereka dan membangun hubungan sosial yang positif. Dengan demikian, perpustakaan masjid dapat dijadikan sebagai lembaga pendidikan non formal yang sangat penting bagi masyarakat. Dengan menyediakan akses ke pengetahuan tentang agama Islam, meningkatkan keterampilan membaca dan menulis, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menyediakan pelatihan kegiatan dakwah, dan mengembangkan keterampilan sosial, perpustakaan masjid dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan masyarakat. Perpustakaan Masjid Al-Jihad sebagai Fasilitator, Mediator dan Motivator Ungkapan "fasilitator" mengacu pada peran yang dimainkan perpustakaan dalam memfasilitasi akses pengguna ke sumber daya perpustakaan. Peran perpustakaan sebagai penghubung antara sumber informasi dan pengguna akan dipenuhi oleh posisi ini.(Astuti, 2015) Tujuan mendirikan perpustakaan dengan segala fasilitas yang ada telah tercapai. Namun, tidak dapat disangkal bahwa aplikasi perpustakaan masih memiliki banyak kekurangan yang harus diperbaiki untuk memastikan kelangsungannya dalam jangka panjang. Perpustakaan dapat berfungsi sebagai mediator dengan menghubungkan pengguna ke sumber informasi yang memenuhi kebutuhan mereka dan diharapkan dapat dimanfaatkan. Selain itu, perpustakaan memiliki tanggung jawab sebagai mediator dan memfasilitasi komunikasi antara pemangku kepentingan dan pengguna mengenai harapan mereka terhadap masa depan perpustakaan. Perpustakaan masjid Al-Jihad telah berkembang menjadi mediator antara sumber informasi dan pengguna. Selain itu, perpustakaan berkomunikasi dengan Institut apabila ingin menyampaikan harapan-harapan terhadap kondisi perpustakaan di masa mendatang. Melalui program-program inovatifnya, perpustakaan berperan dalam memotivasi pengguna untuk menggunakan perpustakaan sebagai infrastruktur kegiatan literasi. Perpustakaan dapat menjadwalkan kegiatan sosialisasi atau publikasi agar masyarakat tertarik menggunakan koleksi perpustakaan untuk meningkatkan minat bacanya, hal ini menunjukkan peran perpustakaan sebagai motivator. Sayangnya, tidak ada program di Perpustakaan Masjid Al-Jihad yang dirancang khusus untuk mendorong pembaca anak-anak meningkatkan kemampuan literasinya. Masalah Perpustakaan Al-Jihad dalam Meningkatkan Literasi Anak-anak Selalu ada permasalahan yang tidak dapat dihindari dalam pengelolaan perpustakaan, baik dari dalam perpustakaan maupun dari sumber luar yang terkait dengan penggunanya. Masalah yang sama juga terjadi pada perpustakaan umum yang saat ini sedang dibangun di masjid Al-Jihad. Perpustakaan umum ini memiliki masalah sarana dan prasarana yang cukup signifikan karena dibangun oleh sekelompok orang. Meskipun koleksinya cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan anak dalam hal membiasakan membaca dan belajar membaca, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Perpustakaan Genematic hanya memiliki sekitar 866 buku dalam koleksinya, semuanya tersedia dalam bentuk cetak dan terbagi dalam beberapa kategori. Perpustakaan Genetik masih sangat minim sarana dan prasarana untuk perpustakaan umum setingkat desa atau kelurahan, selain masalah koleksi. Menurut Standar Perpustakaan, sebuah gedung perpustakaan umum desa atau kelurahan harus memiliki sekurang-kurangnya luas Nasional ialah 56m2. Padahal, kebutuhan minimal Perpustakaan Nasional untuk perpustakaan umum setingkat desa/kelurahan adalah katalog koleksi. Kendala lain adalah kurangnya sumber daya manusia pengelola perpustakaan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dinyatakan bahwa manajemen program perpustakaan masjid Al-Jihad melakukan sedikit upaya untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dan menyediakan sarana dan prasarana. Meskipun demikian, perpustakaan masjid Al-Jihad,Selain mempromosikan perpustakaan masjid Al-Jihad melalui berbagai kegiatan Institut, upaya telah dilakukan untuk membuat anak-anak pengguna perpustakaan merasa nyaman dengan menyediakan layanan berkualitas tinggi yang memudahkan mereka menemukan informasi yang mereka butuhkan. digunakan untuk menyebarkan berita tentang perpustakaan. Karena dianggap lebih meyakinkan dibandingkan kegiatan pemasaran komersial, maka word of mouth dianggap memiliki pengaruh yang lebih dibandingkan kegiatan.(Lupiyoadi, 2013) Karena perpustakaan menyediakan layanan dan produknya dalam bentuk koleksi tanpa tujuan komersial, sudah selayaknya untuk mempromosikan perpustakaan. Selain itu, karena komunikasi tidak memerlukan biaya, sangat ideal untuk perpustakaan perintis seperti Perpustakaan Masjid Al-Jihad.

Conclusion

D. Kesimpulan Perpustakaan Masjid Al-Jihad di Jl. Kartini, Pasar Sentral Desa di Rejang Lebong. Penelitian ini berfokus pada manajemen perpustakaan untuk anak-anak dan masyarakat umum. Pengelolaan Perpustakaan Masjid Al-Jihad dalam Meningkatkan Literasi Anak: Pertama, Perpustakaan Masjid Al-Jihad menyediakan koleksi-koleksi yang sering digunakan oleh anak-anak, yang merupakan salah satu fungsi perpustakaan dalam menyediakan sumber informasi. Sebagai lembaga pendidikan informal, kedua perpustakaan Dalam hal ini, program bank sampah dibantu dan disulap menjadi kerajinan oleh program perpustakaan. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada anak-anak bahwa perpustakaan dapat menjadi lokasi alternatif bagi sekolah mereka; Dengan menghubungkan pengguna dengan sumber informasi, perpustakaan masjid Al-Jihad telah memenuhi perannya sebagai fasilitator dan mediator. Namun untuk mendukung peran ketiga perpustakaan tersebut sebagai motivator, perpustakaan masjid Al-Jihad kekurangan program-program yang dapat menggugah pemustakanya untuk meningkatkan literasinya. Minimnya dana menjadi penyebab perpustakaan kesulitan menyediakan sarana dan prasarana. Personel sumber daya manusia yang kurang memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk bekerja sebagai pustakawan, kurangnya antusiasme, dan dukungan masyarakat menjadi masalah tambahan. Perpustakaan berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin guna meningkatkan kenyamanan anak-anak yang menggunakan fasilitas tersebut.