Kembali
16
1
2019 IJAL (Indonesian Journal of Academic Librarianship) Vol 2 · 2 ISSN 2597-9957

Kemampuan Literasi Informasi Generasi Milenial pada Pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel; Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Abstrak

Penerapan literasi informasi di UIN Sunan Ampel Surabaya sudah dilaksanakan sejak 2001 sampai sekarang. Dalam perjalanan penerapan Literasi Informasi tersebut , maka dipandang penting oleh peneliti untuk melakukan penelitian tentang penguasaan keterampilan literasi dengan menggunakan model empowering eight. Hasil penelitian menunjukkan tidak semua komponen penguasaan ketrampilan literasi dengan menggunakan mode l Empowering Eight dikuasai oleh pemustaka generasi milenial. Komponen empowering eight yang belum dikuasai oleh pemustaka adalah identifikasi topik, yaitu dalam penguasaan ketrampilan pada strategi penelusuran dengan menggunakan strategi penelusuran opera tor Boolean, trunscuation dan pemotongan. Sedangkan komponen Empowering Eight yang paling dikuasai oleh pemustaka adalah komponen eksplorasi sumber informasi, mengorganisasi, penciptaan informasi, presentasi, penilaian output maupun penerapan masukan sudah dapat dikategorikan baik. Dalam menggiatkan program Literasi Informasi Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya juga mengoptimalkan kegiatan literasi dengan media audiovisual, melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak dan menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan literasi informasi, seperti program-program literasi informasi, dan berbagai promosi.

Abstract

The application of information literacy at Sunan Ampel Surabaya UIN has been carried out since 2001 until now. In the course of implementing Information Literacy, it was deemed important by researchers to conduct research on mastery of literacy sk ills using an empowering eight model. The results of the study show that not all components of literacy skills mastery using the Empowering Eight model are controlled by millennial generation users. The eight empowering component that has not been mastered by the user is the identification of topics, namely in mastering skills in the search strategy by using Boolean operator tracking strategies, trunscuation and deduction. While the Empowering Eight component that is most controlled by the user is a compone nt of exploration of information sources, organizing, creating information, presentations, evaluating outputs and applying inputs can be categorized as good. In activating the Information Literacy program the Library of UIN Sunan Ampel Surabaya also optimi zes literacy activities with audiovisual media, collaborates with various parties and provides facilities and infrastructure that support information literacy activities, such as information literacy programs, and various promotions
Keywords: Information Literacy · Literacy Skills · Library Orientation · Millennial Generation · Empowering Eight

Introduction

Keberagaman dan kelimpahruahan informasi yang diikuti dengan perkembangan teknologi yang pesat, membuat informasi sangat mudah di dapat, proses yang cepat dengan waktu realtime. Menurut InternetLiveStats, jumlah pengguna internet sampai dengan pukul 4.56 PM pada tanggal 2 Mei 2017, kurang lebih 4 Miliar pengguna internet melalui hampir 2 Miliar website, diikuti dengan pencarian google mencapai 4,2 Miliar (“Internet Live Stats.,” n.d.). Hal tersebut menunjukkan bahwa ledakan informasi tidak dapat terhentikan dan tersebar luas sehingga membuat informasi menjadi beragam dan kompleks. Kebutuhan sebuah informasi membuat setiap orang berlomba-lomba dalam menemukan informasi yang mereka cari sebanyak-banyaknya, selengkap mungkin dan sesuai kebutuhan yang diinginkan. Internet merupakan sumber instan dalam memperoleh informasi, karena dengan informasi tersebut dapat memecahkan masalah, mengambil tindakan dan mengambil keputusan yang diharapkan setiap orang. Media grafik, video, film rekaman, proseding, baik berbentuk tulisan, lisan maupun objek gambar merupakan ragam pilihan informasi yang tersedia (Ranganathan, C, and D Durga, 2016). Berbagai sarana memperoleh informasi semakin berkembang, teknologi web, media online dengan ragam aplikasi jejaring sosial seperti Instagram, Tweeter, Myspace, Linkedin, Path Facebook dengan perangkat selular IPad, Android, Scrabbook, PC Tablet dan banyak lagi, membuat komunikasi dan informasi berjalan sangat mudah (Hariyati, 2015). Interaksi tehadap informasi dengan berbagai cara, kapan saja dan dilokasi manapun mulai membaca, menonton vidio, mengobrol, menulis blog, foto dan tweet, bahkan menginterogasi dan mengasimilasi data dengan beragam format (Hawthorne, 2015). Kegiatan ini menurut generasi muda sudah menjadi gaya hidup dan kegiatan utama yang wajib dijalankan. Gadget mindset pada era digital sudah menjadi standard bagi generasi milenial. Sebuah generasi yang menggunakan teknologi untuk berkreativitas dalam melakukan sesuatu, seperti menciptakan vidio digital, bermain vidio game, menjalin komunikasi dengan email, whatsapp dan jejaring sosial. Mereka menggunakan teknologi untuk menciptakan jaringan sosial dengan faktor kesamaan minat (Emanuel, 2011). Google merupakan search engine yang paling sering digunakan dalam pencarian informasi, kemudahan dan kecepatan pencarian membuat informasi apapun dapat diperoleh. Permasalahan pokok bukan saja pada kredibilitas dan relevansi akses informasi yang diperoleh, karena pada saat informasi teruji keakuratannya, akan dapat membantu dalam pengambilan keputusan. Sumber informasi dari google tidak semuanya ilmiah dan kredibel untuk digunakan sebagai sumber informasi oleh pemustaka akademik, mahasiswa khususnya (Mardiana, 2011). Sehingga dibutuhkan kemampuan untuk mendapatkan informasi mendapat porsi lebih besar daripada kemampuan untuk mendapatkan akses terhadap informasi yang dibutuhkan (Pattah, 2014). Menurut Ranganathan, keragaman informasi dapat menyebabkan pencari informasi mendapatkan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan mengakses dan menemukan informasi. Kemudahan akses yang tersedia dalam menemukan informasi dapat menyebabkan keraguan apakah informasi yang diperoleh akurat dan valid. Meningkatnya kebutuhan informasi dan adanya ledakan informasi menyebabkan adanya kebutuhan untuk dapat mengukur kredibilitas dan relevansi informasi tersebut (Mirazita, Yanuarizka & Rohmiyati, 2015). Peran perpustakaan dan pustakawan harus dapat menangkap tantangan dari generasi milenial untuk dapat memenuhi sebagai garda depan dalam pengelolaan informasi, harus mendukung proses pembelajaran. Peralihan bentuk koleksi dari konvensional ke bentuk digital seperti e-book, ejournal, koleksi institusi yang berbentuk repository karya ilmiah semakin memberi kemudahan dan efisiensi waktu pada pemustaka milenial. Koleksi digital dan layanan berbasis digital akan berdampak kepada kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memanfaatkan akses informasi tersebut. Hal ini menuntut kemampuan literasi yang harus dipenuhi, untuk dapat berinteraksi dengan informasi tersebut. Kemampuan yang berbentuk ketrampilan dalam mencari informasi, mengevaluasi, mensintesis dan mengintegrasikan ide dan penggunaan informasi dengan etis (Wulandari, 2011). Untuk mengukur kemampuan literasi informasi, terdapat alat ukur model literasi informasi untuk standart perguruan tinggi. Empowering Eight meruapakan salah satu alat ukur yang menggunakan pendekatan penyelesaian masalah yang berbasis pembelajaran sehingga cocok untuk perguruan tinggi (Sulistyo-Basuki., 2013). Pemustaka Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya sebagian besar adalah generasi milenial yang aktif mengutamakan kesehariannya yang melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan informasi dengan menggunakan gadget, selalu terhubung dengan menggunakan layanan internet, baik dalam hal memilah, mengolah, mengevaluasi informasi dapat sesuai dan tepat sasaran. Objek dalam penelitian ini adalah mahasiwa baik program Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3). Pemilihan tiga kelompok pemustaka dengan latar belakang yang berbeda, diharapkan dapat mewakili generasi milenial yang literate. Sehingga dapat membantu lembaga induk perpustakaan khususnya dalam mengembangkan maupun mendukung kegiatan literasi informasi dan lebih memahami keinginan serta kebutuhan generasi milenial dalam mengakses informasi. Mengetahui kemampuan literasi informasi dengan model Empowering Eight dengan pemustaka generasi milenial akan memberikan manfaat untuk Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya dalam upaya meningkatkan perpustakaan, pengembangan layanan dan fasilitas untuk pemustaka generasi milenial dalam memperoleh informasi. Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan UIN Sunan Ampel, Jalan A.Yani 117, Surabaya, Jawa Timur. Penelitian ini mengkaji dan meneliti keterampilan literasi informasi pemustaka generasi milenial dengan menggunakan model Empowering Eight di Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian deskriptif kualitatif dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran seutuhnya mengenai aktivitas literasi, kemampuan literasi pemustaka generasi milenial serta upaya mengoptimalkan literasi informasi untuk pemustaka digital. Metode studi kasus dalam penelitian ini digunakan peneliti untuk mengenali bagaimana kemampuan literasi informasi pemustaka generasi milenial dengan menggunakan model Empowering Eight pada Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya. Kegiatan orientasi awal dalam penelitian ini dimulai dari mencari informasi mengenai perpustakaan yang sudah menerapkan Digital Library. Berdasarkan orientasi awal, diperoleh informasi bahwa Perpustakaan UIN Sunan Ampel merupakan Perpustakaan yang telah menerapkan Digital Library dan telah mendapatkan Akreditasi “A” dari Perpustakaan Nasional RI (PNRI). Perpustakaan UIN Sunan Ampel juga telah mencapai peringkat Webomatrics Repository ke3 di lingkungan PTKI (Kemenag), dan pada posisi ke-15 sesama Perguruan Tinggi di Indonesia. Setelah mendapatkan informasi tentang perpustakaan yang telah menerapkan Digital Library maka peneliti memutuskan untuk memilih Perpustakaan UIN Sunan Ampel. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan bahwa Perpustakaan UIN Sunan Ampel sudah menerapkan digital library dalam layanannya. Dimulai dari pendaftaran, peminjaman, hingga layanan administrasi sudah berbasis online. Menindaklanjuti Perpustakaan UIN Sunan Ampel memperoleh Akreditasi “A”, maka peneliti memutuskan untuk mewawancarai pemustaka generasi milenial mengenai kemampuan literasi informasi dengan menggunakan model Empowering Eight. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling (mengambil sampel dengan bertujuan) berdasarkan kriteria tertentu. Purposive sampling adalah sampel yang dipilih karena informan kaya dengan informasi tentang fenomena yang ingin diteliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Teknik Observasi kualitatif merupakan observasi yang di dalamnya peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian (John W, 2010). Observasi dilakukan dalam berbagai peristiwa terhadap keterampilan pemustaka digital native dengan menggunakan model Empowering Eight. Kemudian melakukan wawancara, pada tahap ini peneliti melakukan wawancara terstruktur, wawancara terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu: wawancara terstruktur (berencana), wawancara terstruktur ini menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Rancangan dari wawancara ini sama dengan kuisioner, tetapi pertanyaan yang dilakukan secara lisan. Peneliti tidak boleh mengubah kalimat dan urutan pertanyaan, karena dapat menimbulkan tanggapan yang berbeda. Keuntungan dari wawancara ini adalah mampu memperoleh jawaban yang berkualifikasi. Wawancara semi terstruktur, jenis wawancara ini memungkinkan mencakup ruang lingkup yang lebih besar. Wawancara jenis ini digunakan untuk memperoleh informasi kualitatif. Selanjutnya wawancara mendalam (in-depth interview. Wawancara ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang beragam. Wawancara mendalam memungkinkan membawa responden mengupas secara mendalam pada sebuah subyek wawancara dalam suatu survey (Sulistyo-Basuki, 2010). Dalam penelitian ini yang digunakan adalah wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara bebas terpimpin. Wawancara bebas terpimpin yaitu cara mengajukan pertanyaan yang dikemukakan secara bebas, artinya pertanyaan tidak terpaku pada pedoman wawancara dalam penelitian, pertanyaan kemudian dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi di lapangan. Dalam melakukan wawancara ini, pewawancara akan meminta informan untuk menjelasan secara mendalam berdasarkan pedoman yang hanya berisi garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan (Sulistyo-Basuki, 2010). Wawancara mendalam dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang kompleks, sebagian besar berisi pendapat, sikap, dan pengalaman pribadi. Pertanyaan bisa berkembang sesuai dengan proses yang berlangsung selama wawancara kepada informan tanpa meninggalkan landasan teori yang telah ditetapkan dalam penelitian, dengan cara peneliti membuat daftar wawancara dengan pertanyaan terbuka dan tidak bersifat kaku. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan proses penggalian data menggunakan model triangulasi (Bungin, 2012). Data penelitian direkam dan dicatat melalui teknik pengamatan langsung dan wawancara mendalam tak berstruktur. Dokumentasi juga digunakan sebagai teknik pengumpulan data penunjang. Menurut Schatzman dan Strauss (1973) yang dikutip oleh Cresswell menyatakan bahwa analisis data kualitatif utamanya melibatkan pengklasifikasian benda-benda, orang-orang, dan peristiwa-peristiwa serta properti-properti lain yang mencirikan ketiganya (John W, 2010). Data yang diperoleh melalui wawancara diklasifikasikan untuk selanjutnya dianalisis. Dalam penelitian pendekatan kualitatif, peneliti secara intensif melakukan wawancara sekaligus pengamatan yang mendalam untuk mendapatkan pemahaman sebenarnya dari apa-apa yang menjadi fokus kajian. LITERASI INFORMASI Konsep dari literasi informasi diperkenalkan pertama kali oleh presiden dari Asosiasi Industri Informasi, Paul Zurkowski pada tahun 1974 yang ditujukan kepada National Commission on Libraries and Information Science (NILIS). Zurkowski berpendapat, literasi informasi adalah seseorang yang sudah terlatih menerapkan sumber daya informasi, mempelajari teknik dan ketrampilan dalam memanfaatkan alat informasi sebagai unsur utama dalam memecahkan masalah informasi untuk pekerjaan mereka (Eisenberg, 2004). Dengan kemajuan teknologi informasi khususnya internet, berdampak pada information flooding yang tidak terbendung. Hal ini mengakibatkan tanpa seseorang literate akan mengalami kendala dan persoalan dalam menemukan informasi yang reliable dan tepat guna sesuai dengan kebutuhan. Literasi informasi menurut The Alexandria Proclamation (UNESCO IFLA, 2005) terletak pada inti pembelajaran sepanjang hayat. Dengan memberdayakan orang-orang pada lapisan masyarakat untuk melihat, mengevaluasi, menggunakan dan menciptakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan pribadi, sosial, pekerjaan dan pendidikan mereka. Ini adalah hak asasi manusia dasar di dunia digital dan mempromosikan inklusi sosial semua bangsa (Bhimani, 2015). MODEL LITERASI EMPOWERING EIGHT Model literasi Empowering Eight adalah salah satu model literasi yang di prakarsai pada saat International Workshop on Information Skill for Learning International Workshop on Information Skills for Learning yang dihadiri oleh 10 negara yaitu, Srilanka, Muangthai, Maldiva, Bangladesh, Nepal, Vietnam, Singapore, Indonesia, Malaysia dan Pakistan di Colombo. Tujuan dari penyelenggaraan workshop ini merupakan lanjutan pengembangan model literasi informasi bagi negara Asia. Model Empowering Eight ditujukan untuk pendekatan problem solving untuk pembelajaran berbasis sumber-sumber informasi (Sulistyo-Basuki, 2018). Model literasi Empowering Eight terdiri dari delapan komponen yaitu: Identify, yang meliputi menentukan topik / subjek, memahami audiens, memilih format yang relevan untuk produk jadi; identifikasi kata-kata kunci; merencanakan strategi pencarian; dan identifikasi berbagai jenis sumber daya di mana informasi dapat ditemukan. Explore yang meliputi mencari sumber daya yang sesuai dengan topik yang dipilih, menemukan informasi yang sesuai dengan topik yang dipilih; melakukan wawancara, kunjungan lapangan atau penelitian luar lainnya. Select yang meliputi memilih informasi yang relevan; tentukan sumber mana yang terlalu mudah, terlalu keras, atau tepat; catat informasi yang relevan melalui pencatatan atau pembuatan, organizer visual seperti bagan, grafik, atau garis besar; dan identifikasi tahapan dalam proses; kumpulkan kutipan yang tepat. Organise yang meliputi mengurutkan informasi; membedakan antara fakta, opini, dan fiksi; periksa bias dalam sumber; mengurutkan informasi dalam urutan logis; menggunakan organisator visual untuk membandingkan atau membedakan informasi. Create meliputi menyiapkan informasi dengan kata-kata mereka sendiri dengan cara yang berarti; merevisi dan mengedit, sendiri atau dengan rekan; menyelesaikan format bibliografi. Present yang meliputi berlatih untuk kegiatan presentasi; bagikan informasi dengan audiens yang tepat; menampilkan informasi dalam format yang sesuai untuk disesuaikan dengan audiens; siapkan dan gunakan peralatan dengan benar. Assess yang meliputi menerima umpan balik dari siswa lain; menilai sendiri kinerja seseorang sebagai respons terhadap penilaian guru atas pekerjaan; merenungkan seberapa baik yang telah dilakukan; tentukan apakah keterampilan baru dipelajari; mempertimbangkan apa yang bisa dilakukan lebih baik di lain waktu. Apply yang meliputi meninjau umpan balik dan penilaian yang diberikan; menggunakan umpan balik dan penilaian untuk kegiatan / tugas pembelajaran selanjutnya; menggunakan pengetahuan yang diperoleh dalam berbagai situasi baru; menentukan dalam subjek lain apa keterampilan ini sekarang dapat digunakan; menambahkan produk ke portofolio produksi pribadi PEMUSTAKA GENERASI MILENIAL Sebuah transisi sejarah memasuki periode besar abad 12, dimana sebuah perubahan telah mempengaruhi masyarakat yang tidak terbatas di satu wilayah, namun menjangkau semua aspek dimana perubahan teknologi informasi bersifat konvergensi, dimana teknologi pengolahan, penyimpanan dan penyebaran informasi terkait dalam telekomunikasi (Giddens, 2001). Tidak hanya perubahan pada aspek TI, perubahan dalam generasi terus berkembang dari tahun ke tahun. Menurut Mannheim, generasi adalah mereka yang mempunyai persamaan tahun kelahiran yang mempunyai rentang waktu 20 tahun yang berada dalam dimensi sosialdan sejarah yang sama (Mannheim, 1952). Pengembang teori tentang perbedaan generasi adalah Neil Howe dan William Strauss. Mereka membagi generasi menurut kesamaan kejadian sejarah dan waktu kelahiran (Howe & Strauss, 2000) . Generasi milenial dikelompokkan pada generasi yang lahir tahun 1980 – 2000. Menurut Howe, mereka lebih banyak, lebih sejahtera berpendidikan lebih baik dan lebih beragam secara etnis, dan mewujudkan beragam kebiasaan social positif, focus pada kerja tim, pencapaian, kerendahan hati dan mempunyai kepribadian yang baik (Howe & Strauss, 2000). LITERASI INFORMASI BAGI GENERASI MILENIAL Literasi informasi di perguruan tinggi di era informasi ini menjadi sesuatu hal yang sangat penting bagi civitas akademika dalam rangka menghadapi munculnya beragam pilihan informasi baik tercetak, elektronik, image, spasial, suara, visual, maupun yang bersifat numerik. Untuk itu setiap tahun ajaran baru, selama masa orientasi pihak perpustakaan dan penyelenggara pendidikan memberikan program literasi informasi kepada mahasiswa baru agar memiliki bekal berinteraksi dengan informasi yaitu keterampilan teknis seperti mencari, menemukan, dan menggunakan informasi. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut terdapat beberapa kriteria dalam literasi informasi. Keterampilan yang dibutuhkan dalam era digital meliputi tool literacy yaitu kemampuan memahami dan menggunakan teknologi informasi secara konseptual dan praktikal, termasuk di dalamnya kemampuan menggunakan perangkat lunak, keras, multimedia yang relevan dengan bidang kerja atau studi (Pendit, 2013). Selanjutnya keterampulan resources literacy, yaitu kemampuan memahami bentuk, format, lokasi, dan cara mendapatkan sumber daya informasi terutama jaringan informasi yang terus berkembang. Keterampilan social structural literacy yakni, pemahaman tentang bagaimana informasi dihasilkan oleh berbagai pihak di dalam sebuah masyarakat. Di samping itu keterampilan di era digital di dalamnya termasuk research literacy yaitu kemampuan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset. Publishing literacy yaitu kemampuan untuk menyusun dan menerbitkan publikasi dan ide ilmiah ke kalangan masyarakat dengan memanfaatkan komputer dan internet. Keterampilan Emerging technology literacy yaitu kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk terus menerus menyesuaikan diri dan mengikuti perkembangan tekhnologi dan bersama-sama dengan komunitasnya ikut menentukan arah pemanfaatan tekhnologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu. Critical literacy yaitu kemampuan melakukan evaluasi secara kritis terhadap untung rugi menggunakan teknologi telematika dalam kegiatan ilmiah. STANDARD LITERASI INFOMASI DI PERGURUAN TINGGI Rumusan tentang standar kompetensi literasi informasi untuk pendidikan tinggi telah dibuat oleh TheAssociation of College and Research Libraries Standards Committee pada suatu pertemuan yang diselenggarakan oleh The American Library Association di San Antonio, Texas. ACRL meminta pengesahan pengumuman standar ini dari para profesional dan asosiasi akreditasi di perguruan tinggi. Standar kompetensi literasi informasi untuk pendidikan tinggi menyediakan kerangka kerja dalam mengidentifikasi individu yang memiliki kompetensi literasi informasi. Dalam standar kompetensi ini terdapat lima standar dan dua puluh indicator performance. Standar ini berfokus pada kebutuhan mahasiswa di pendidikan tinggi dan menampilkan daftar hasil untuk menilai perkembangan kompetensi literasi informasi mahasiswa. Dalam standar kompetensi literasi informasi ACRL, seseorang disebut information literate jika mempunyai kemampuan (Association of College and Research Libraries, 2000): Kemampuan-kemampuan tersebut adalah menentukan sifat dan cakupan informasi yang dibutuhkan meliputi mendefinisikan kebutuhan informasi; mengidentifikasi beragam jenis dan format dari sumber-sumber informasi yang potensial; mempertimbangkan biaya dan manfaat dari pencarian informasi yang dibutuhkan; mengevaluasi kembali sifat dan cakupan informasi yang dibutuhkan Mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien, meliputi menyeleksi metode pencarian atau sistem temu kembali informasi yang paling tepat untuk mencari informasi yang dibutuhkan; membangun dan menerapkan strategi penelusuran yang efektif; menemukan kembali informasi secara on-line atau secara pribadi menggunakan beragam metode;mengubah strategi penelusuran jika perlu;mengutip, mencatat, dan mengolah informasi dan sumber-sumbernya Mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya secara kritis, meliputi meringkas ide utama yang dapat dikutip dari informasi yang telah terhimpun; mengeluarkan dan menggunakan kriteria awal untuk mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya; membandingkan pengetahuan baru dengan pengetahuan terdahulu untuk menentukan nilai tambahnya, kontradiksi, atau karakteristik unik lainnya dari informasi; menentukan apakah pengetahuan baru memiliki dampak terhadap sistem nilai seseorang dan menentukan cara untuk menyatukan perbedaan-perbedaan; Menentukan apakah query (pertanyaan) awal perlu direvisi Menggunakan informasi untuk menyelesaikan tujuan tertentu, yaitu menggunakan informasi baru dan yang terdahulu untuk perencanaan dan penciptaan hasil yang istimewa atau performa; merevisi proses pengembangan untuk hasil atau performa; mengkomunikasikan hasil atau performa secara efektif kepada orang lain Memahami aspek ekonomi, hukum, dan sosial yang berkaitan dengan penggunaan informasi, yaitu memahami isu-isu ekonomi, hukum, dan aspek sosial ekonomi seputar informasi dan teknologi informasi; mengikuti peraturan atau hukum serta kebijakan institusi dan etika yang berhubungan dengan akses dan penggunaan sumber-sumber informasi; menghargai penggunaan sumber-sumber informasi dalam mengkomunikasikan produk atau performa. KETERAMPILAN LITERASI INFORMASI PEMUSTAKA GENERASI MILENIAL Keterampilan literasi informasi pemustaka generasi milenial dengan menggunakan model Empowering Eight di perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya dapat dipaparkan sebagai berikut: 1. Identify Adanya beragam sumber informasi yang bermunculan saat ini menyebabkan permasalahan tersendiri karena tidak semua orang dapat menggunakan sumber informasi tersebut dengan mudah. Pemustaka harus dapat memilih sumber informasi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi mereka. Untuk itu, dibutuhkan banyak waktu untuk memilihnya agar pemustaka bisa mendapatkan sumber informasi yang terbaik sesuai dengan kebutuhan informasi mereka (Apriyanti, 2010). Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada 6 orang informan mengenai identify atau mengidentifikasi diperoleh hasil yang sama bahwa sangat perlu melakukan pengidentifikasian terhadap suatu topik permasalahan saat kegiatan perkuliahan berlangsung, hal ini bertujuan agar informasi yang diperoleh nantinya tepat sasaran dan tepat guna untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Mengacu pada hal tersebut, peneliti dapat menggambarkan bahwa dalam menyelesaikan suatu topik / permasalahan yang ada tahap awal yang sangat diperlukan adalah pengidentifikasian atau yang disebut sebagai “identify”. Hal ini dianggap penting karena apabila pengidentifikasin ini tidak dilakukan maka akan sulit memahami dan menemukan poin-poin penting yang dibutuhkan sebagai kata kunci dalam mencari batasan masalah dan pemecahan suatu masalah 2. Explore Mengekloprasi suatu informasi merupakan tahap menggali atau mencari sumber informasi yang telah diidentifikasi sebelumnya. Sumber informasi saat ini bukan hanya berasal dari perpustakaan saja, melainkan juga dari internet. Untuk itu, diperlukan alat bantu pencarian dalam mengakses sumber-sumber informasi tersebut dan pemustaka harus memiliki kemampuan dalam menggunakan alat bantu apa pun yang dapat menunjang mereka untuk mencari sumber-sumber informasi (Apriyanti, 2010). Mengacu pada keseluruhan hasil wawancara kepada seluruh informan dapat dipaparkan bahwa pengekplorasian sumber informasi merupakan tahap lanjutan yang dilakukan setelah melakukan pengidentifikasian masalah. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara juga diperoleh informasi bahwa sumber informasi yang paling pertama digunakan oleh seluruh informan saat melakukan pengeksplorasian informasi adalah dengan menggunakan fasilitas internet melalui google, setelah itu mencari sumber informasi lainnya baik melalui media cetak, buku, jurnal maupun majalah. Berdasarkan jawaban informan tampak bahwa mereka sudah cukup mampu untuk melakukan strategi penelusuran informasi. Informan menetapkan terlebih dulu istilah yang akan digunakan untuk mewakili kebutuhan informasi, setelah itu mereka menggunakan tanda khusus seperti tanda petik (“) dan tanda tambah (+). Hal ini sesuai dengan indikator kinerja 2.2 ACRL Information Literacy Competency Standard for Higher Education, yaitu menggunakan strategi penelusuran yang sesuai seperti operator Boolean (Neely, 2006). 3. Select Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap informan dalam penelitian ini, diperoleh informasi bahwa memilih informasi yang relevan merupakan hal yang fundamental dalam pencarian informasi yang dibutuhkan. Informan juga memaparkan bahwa pada saat pemilihan informasi sangat diperlukan pengetahuan untuk mensitasi tulisan atau informasi yang telah diperoleh. Secara garis besar, informan yang diwawancarai oleh peneliti melakukan sitasi dengan cara Turabian style. 4. Organise Organise merupakan cara untuk memilah informasi, membedakan antara fakta, pendapat dan khayalan, mengecek ada tidaknya bias dalam sumber, mengatur informasi yang diperoleh dalam urutan yang logis serta menggunakan pengorganisasi visual untuk membandingkan atau membuat kontras informasi yang diperoleh. Mengacu pada hasil wawancara tersebut dapat dilihat bahwa untuk dapat mengelompokkan informasi yang telah diperoleh dapat dilakukan dengan memilah informasi tersebut dan melakukan pengecekan atau menilai kembali dengan keadaan / fakta yang terjadi saat ini kemudian dipisahkan berdasarkan rumusan masalah. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada informan penelitian ini dapat diketahui bahwa informan mengolah informasi dengan cara mengumpulkan informasi yang sudah mereka dapatkan dari berbagai sumber dan membandingkannya dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Hal ini sesuai dengan indikator kinerja 3.4 ACRL Information Literacy Competency Standard for Higher Education, yaitu membandingkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya untuk menentukan nilai tambah, pertentangan, atau karakteristik lain dari informasi (Neely, 2006). Jadi, berdasarkan hasil wawancara tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa untuk menciptakan suatu informasi sangat dibutuhkan daya penalaran dan analisis untuk mereview terlebih dahulu apakah informasi tersebut valid dan mempunyai referensi untuk menghindari plagiarism. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara kepada seluruh informan penelitian ini bahwa dalam menciptakan suatu informasi sangat penting untuk mencantumkan sumber informasi tersebut untuk menghindari plagiarism. 5. Create Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada 6 informan, maka secara garis besar untuk menyusun informasi sesuai dengan pendapat dalam cara yang bermakna, merevisi dan menyunting sendiri atau bersama-sama pembimbing serta finalisasi format bibliografis 6. Present Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada 6 orang informan mengenai present atau penyajian informasi secara garis besar diperoleh informasi yang sama bahwa penyajian informasi ini merupakan pemaparan informasi dalam format yang tepat agar orang lain dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan. Peneliti menyimpulkan bahwa penyajian kembali informasi yang dihasilkan adalah poin penting dalam proses literasi informasi. Penyajian yang tepat dengan teknik yang menarik dapat membantu informasi yang tercipta dapat tersampaikan dengan maksimal kepada yang membutuhkan. 7. Assess Menurut ACRL Information Literacy Competency Standard for Higher Education untuk indikator kinerja 4.3, seseorang yang dikatakan information literate adalah seseorang yang mampu mengkomunikasikan informasi dan pemahaman yang baru secara efektif (Neely dan Sullivan dalam Neely, 2006, p. 109). Hal ini dilakukan agar dapat mengetahui kekurangan atau manfaat dari informasi tersebut. 8. Apply Apply merupakan suatu bentuk peninjauan masukan serta asesmen yang masuk, selanjutnya menggunakan masukan serta asesmen untuk keperluan pembelajaran. Ketika seseorang sudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, kadang- kadang orang itu menemukan informasi yang relatif sama antara yang satu dengan yang lain, baik itu dari segi bahasa maupun isi dari informasi itu sendiri. Masukan dari orang lain merupakan hal yang penting karena seseorang akan mendapatkan timbal balik dari hasil mengkomunikasikan informasinya. Mereka menjadi tahu dimana letak kekurangan atau manfaat dari hasil pencariannya itu. Berdasarkan hasil wawancara peneliti kepada 6 informan mengenai merefleksikan atau mengkonsultasikan informasi yang telah diperoleh UPAYA PERPUSTAKAAN UIN SUNAN AMPEL SURABAYA DALAM MENGOPTIMALKAN LITERASI INFORMASI Berdasarkan hasil wawancara Pustakawan di UIN Sunan Ampel bahwa upaya untuk mengoptimalkan literasi informasi Perpustakaan UIN Sunan Ampel adalah : Program Literasi Informasi Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting diselenggarakan oleh perpustakaan. Karena dengan adanya orientasi (bimbingan), maka perpustakaan mengenalkan mahasiswa tentang pelayanan perpustakaan, seperti: jenis-jenis layanan, cara mendapatkan layanan, cara mencari informasi/ilmu pengetahuan dengan cepat, tepat dan mudah sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya membiasakan mahasiswa dengan buku-buku referensi dan penunjang pada mata kuliah yang ada di IAIN Sunan Ampel serta memberikan instruksi cara penggunaannya. Memberikan bantuan dalam metode penelusuran sumber-sumber informasi/ilmu pengetahuan melalui OPAC, CD-ROM, INTERNET dan alat-alat lainnya yang ada di perpustakaan. Dan melakukan bimbingan pemakai diberikan kepada calon anggota perpustakaan (mahasiswa baru) pada saat Orientasi Perpustakaan. Program Layanan Mandiri (Self service) Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya telah menerapkan layanan secara online kepada mahasiswa UIN Sunan Ampel sebagai pemustakanya. Layanan itu bersifat menyeluruh dimulai dari pendaftaran anggota perpustakaan, peminjaman, perpanjangan, serta pengembalian. Di samping itu, proses bebas pinjam tanggungan dalam rangka prasyarat pelaksanaan wisuda, pemustaka sudah bisa melakukan secara online. Begitu pula dengan proses unggah mandiri yang menjadi prasyarat wisuda, juga sudah dapat dilakukan secara mandiri oleh pemustaka. Dengan layanan ini, tidak perplu mengalami adaptasi yang terlalu sulit, karena pemustaka yang sebagian besar adalah generasi milenial sudah sangat terbiasa dengan peralatan berbasis elektronik dan yang berkoneksi ke jaringan internet. Begitu pula dengan OPAC yang sudah terkoneksi secara online, memungkinkan pemustaka dapat menulusur kebutuhan refeensinya meskipun mereka berada di luar perpustakaan. Hal ini sesuai dengan hasil survey bahwa pemustaka yang merupakan generasi milenial lebih senang menelusur secara online. Dan mereka memperoleh referensi yang dibutuhkan melalui OPAC. Sistem Akses Informasi Perpustakaan yang Dapat Ditemukan dengan Mudah di Search Engine Seperti kita ketahui bahwa sebanyak 89 persen mahasiswa di seluruh beberapa wilayah negara bagian di Amerika memulai penelusuran informasi dari search engine. Dan hanya 2% dari mahasiswa memulai penelitian mereka dengan menggunakan website perpustakaan (Jia & Nesta, 2006). Maka perpustakaan perlu menemukan sebuah cara agar akses ke sistem informasi dapat lebih sering dikunjungi oleh siswa dengan mengingkatkan kemunculan situs web perpustakaan pada search engine internet seperti Google. Perpustakaan harus dapat mengintegrasikan sistem informasi perpustakaan ke dalam Google atau search engine lainnya. Web UIN Sunan Ampel sudah dapat ditemukan di search engine internet seperti Google. Ketika kita menuliskan kata perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya, banyak pilihan laman yang dapat kita telusur. Seperti contohnya yaitu web perpustakaan UIN Sunan Ampel, opac perpustakaan UIN Sunan Ampel, keanggotaan, layanan koleksi dan sebagainya. 1. Aksesibilitas dan Kemudahan Penggunaan Kemudahan akses serta kemudahan penggunaan search engine ternyata benar-benar telah menjadi salah satu penyebab tingginya frekuensi penggunaan search engine oleh generasi milenial. Sebuah penelitian tentang pencarian informasi profesional dikutip temuan dari studi 1968 dari ditemukan bahwa aksesibilitas dan kemudahan penggunaan merupakan kunci pada frekuensi penggunaan, bahkan mungkin dengan mengabaikan kualitas (Peter & Thomas, 1968). Perpustakaan harus dapat membuat sistem informasi yang dapat diakses secara mudah, cepat dan user friendly dalam penggunaannya. Kemudahan akses disini termasuk bahwa perpustakaan harus memberikan sebuah jalan m

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik simpulan sebagai berikut, keterampilan literasi informan pada penelitian ini khususnya pemustaka generasi milenial di Perpustakaan UIN Sunan Ampel dengan menggunakan model empowering eight telah diterapkan dengan baik sesuai dengan ACRL Information Literacy Competency Standard for Higher Education, hal ini dapat dipaparkan sebagai berikut: a. Identify: Hal ini dianggap penting oleh informan karena apabila pengidentifikasin ini tidak dilakukan maka akan sulit memahami dan menemukan poin-poin penting untuk pemecahan suatu masalah. b. Explore: Informan nampak sudah cukup mampu untuk melakukan strategi penelusuran informasi. Informan menetapkan terlebih dulu istilah yang akan digunakan untuk mewakili kebutuhan informasi. c. Select: informan telah mengevaluasi untuk memilih sumber-sumber informasi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. Pengevaluasian yang dilakukan dengan menggunakan beberapa kriteria, yaitu pengarang yang berkompeten, tahun terbitan terbaru, bahasa yang digunakan, dan akses terhadap sumber informasi tersebut. d. Organise: informan telah melakukan pengolahan informasi dengan cara mengumpulkan informasi yang sudah mereka dapatkan dari berbagai sumber dan membandingkannya dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki. e. Create: Informan memaparkan bahwa untuk menciptakan suatu informasi sangat penting untuk mencantumkan sumber informasi tersebut untuk menghindari plagiarism. f. Present: Seluruh informan menyampaikan bahwa penyajian informasi ini sangat penting, karena hal ini merupakan bentuk penyampaian informasi agar orang lain dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan. g. Assess: Sebagian informan merasa perlu untuk mengkomunikasikan informasi dengan orang lain agar mengetahui manfaat bahkan kekurangan dari informasi itu. h. Apply: informan telah memahami bahwa informasi yang diperoleh itu tidak serta merta dijadikan acuan untuk dijadikan sebagai sumber informasi, perlu ditilik lebih jauh lagi apakah informasi yang telah diperoleh tersebut telah diuji kebenaran atau validitasnya agar dapat dipertanggungjawabkan apabila ada audience yang ingin menanyakan keabsahan dari informasi yang telah diperoleh. Upaya Perpustakaan untuk mengoptimalkan keterampilan literasi informasi generasi milenial di Perpustakaan UIN Sunan Ampel dengan cara, mengadakan program literasi informasi bagi mahasiswa maupun dosen berupa dasar-dasar pengenalan perpustakaan (untuk mahasiswa baru), penelusuran informasi online, plagiarisme dan kejujuran akademik, penulisan citation style dan reference style, tata cara penulisan ilmiah, yang bisa dipesan secara berkelompok maupun melalui program studi masing-masing. Optimalisasi peningkatan literasi informasi di Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya juga didukung dengan berbagai layanan serta penyediaan sarana dan prasarana berupa: One stop searching, Single sign on, sistem akses informasi perpustakaan yang dapat ditemukan dengan mudah di Search Engine, aksesibilitas dan kemudahan penggunaan, Website dan sistem informasi perpustakaan yang interaktif, memberi efek-efek visual pada website dan sistem informasi perpustakaan. Model Empowering Eight sebaiknya di masukkan dalam modul literasi informasi di Perpustakaan UIN Sunan Ampel agar pustakawan dapat mengetahui dengan baik step by step metode yang seharusnya dilakukan pada saat mencari informasi yang dibutuhkan. Seyogyanya seluruh Universitas yang ada di Indonesia memasukkan mata kuliah literasi informasi dalam kurikulum pendidikannya agar mahasiswa dapat mempunyai kompetensi literate dalam kegiatan belajar mengajar maupun di luar kegiatan belajar mengajar.